Mustahiq Zakat - Sabilillah - BAITUSSALAM

Selasa, 19 April 2022

Mustahiq Zakat - Sabilillah

8 Mustahiq Zakat - Sabilillah | Amil Zakat | Faqir | Miskin | Gharim | Riqab ('Abid Mukatab) | Mu'allaf | Ibnu Sabil

Mustahiq Zakat - Syafi'iyah

الأم للإمام محمد الشافعي ج ٢ ص ٧٧
ﻗﺎﻝ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ  ﻗﺎﻝ اﻟﻠﻪ ﺗﺒﺎﺭﻙ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ : ﺇﻧﻤﺎ اﻟﺼﺪﻗﺎﺕ ﻟﻠﻔﻘﺮاء ﻭاﻟﻤﺴﺎﻛﻴﻦ ﻭاﻟﻌﺎﻣﻠﻴﻦ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭاﻟﻤﺆﻟﻔﺔ ﻗﻠﻮﺑﻬﻢ ﻭﻓﻲ اﻟﺮﻗﺎﺏ ﻭاﻟﻐﺎﺭﻣﻴﻦ ﻭﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ ﻭاﺑﻦ اﻟﺴﺒﻴﻞ - اﻟﺘﻮﺑﺔ ٦٠ - ﻓﺄﺣﻜﻢ اﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻓﺮﺽ اﻟﺼﺪﻗﺎﺕ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ ﺛﻢ ﺃﻛﺪﻫﺎ ﻓﻘﺎﻝ : ﻓﺮﻳﻀﺔ ﻣﻦ اﻟﻠﻪ - اﻟﺘﻮﺑﺔ: ٦٠ - ﻗﺎﻝ ﻭﻟﻴﺲ ﻷﺣﺪ ﺃﻥ ﻳﻘﺴﻤﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮ ﻣﺎ ﻗﺴﻤﻬﺎ اﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﺫﻟﻚ ﻣﺎ ﻛﺎﻧﺖ اﻷﺻﻨﺎﻑ ﻣﻮﺟﻮﺩﺓ
Telah berkata Imam Syafi'i telah berfirman Allah Tabaroka Wa Ta'ala : "Sesungguhnya shadaqoh zakat adalah hanya untuk orang-orang faqir, orang-orang miskin, amilin terhadap zakat, mu'allafah hatinya, fi ar-riqob ('abid mukatab), orang-orang gharim, fi sabilillah, ibnu sabil." - At-Taubah Ayat 60 - Maka Allah telah menghukumi kefardhuan shadaqoh di dalam KitabNya, kemudian Allah menguatkannya. Kemudian berfirman : "suatu kefardhuan dari Allah". - At-Taubah Ayat 60 - Telah berkata Imam Syafi'i : "dan tidaklah bagi seseorang membagikannya kepada selain perkara yang Allah Azza wa Jalla telah membagikannya terhadapnya. Itu semua selagi keberadaan ashnaf tersebut itu ada.[1]

فتح القريب المجيب للإمام ابن قاسم الغازي
ﻭﺗﺪﻓﻊ اﻟﺰﻛﺎﺓ ﺇﻟﻰ اﻷﺻﻨﺎﻑ اﻟﺜﻤﺎﻧﻴﺔ اﻟﺬﻳﻦ ﺫﻛﺮﻫﻢ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ اﻟﻌﺰﻳﺰ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﺇﻧﻤﺎ اﻟﺼﺪﻗﺎﺕ ﻟﻠﻔﻘﺮاء ﻭاﻟﻤﺴﺎﻛﻴﻦ ﻭاﻟﻌﺎﻣﻠﻴﻦ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭاﻟﻤﺆﻟﻔﺔ ﻗﻠﻮﺑﻬﻢ ﻭﻓﻲ اﻟﺮﻗﺎﺏ ﻭاﻟﻐﺎﺭﻣﻴﻦ ﻭﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ ﻭاﺑﻦ اﻟﺴﺒﻴل - اﻟﺘﻮﺑﺔ ٦٠ - ﻫﻮ ﻇﺎﻫﺮ ﻏﻨﻲ ﻋﻦ اﻟﺸﺮﺡ ﺇﻻ ﻣﻌﺮﻓﺔ اﻷﺻﻨﺎﻑ اﻟﻤﺬﻛﻮﺭﺓ
Zakat diberikan kepada ashnaf yang 8 yaitu orang-orang yang Allah telah menuturkannya di dalam Kitabihi Al-Aziz pada Firmannya : "Sesungguhnya shadaqoh zakat adalah hanya untuk orang-orang faqir, orang-orang miskin, amilin terhadap zakat, mu'allafah hatinya, fi ar-riqob ('abid mukatab), orang-orang gharim, fi sabilillah, ibnu sabil. - At-Taubah Ayat 60 - Itu dzohir tidak butuh penjelasan, kecuali penjelasan pengenalan ashnaf  yang telah dituturkan.[2]

Sabilillah - Syafi'iyah

فتح المعين للشيخ زين الدين المليباري ص ٥٣
وسبيل الله وهو القائم بالجهاد متطوعا ولو غنيا ويعطى المجاهد النفقة والكسوة له ولعياله ذهابا وإيابا وثمن آلة الحرب
Sabilillah adalah orang yang berdiri dengan berjihad secara karena Allah, sekalipun dia kaya. Dan boleh amilin memberi terhadap mujahid nafkahnya, dan pakaiannya, baginya dan bagi keluarganya, untuk bekal selama berangkat dan pulangnya, dan dana untuk pembelian alat jihad.[3]

كاشفة السجا للشيخ محمد نووي الجاوي ص ٧
والسابع سبيل الله وهم الغزاة المتطوعون بالجهاد أي الذين لا رزق لهم في الفيء فيعطون ولو أغنياء إعانة لهم على الغزو
Ketujuh adalah Sabilillah. Mereka adalah balatentara karena Allah dengan berjihad, maksudnya adalah orang-orang yang tidak ada rizqi bagi mereka pada dana fai'. Maka mereka boleh diberi sekalipun kaya sebagai bantuan bagi mereka terhadap perangnya.[4]

Sabilillah - Perbandingan Madzhab : Syafi'iyah, Hanafiyah, Hanabilah, Malikiyah.
تفسير الخازين للشيخ علاء الدين علي الخازن الشافعي ج ٢ ص ٣٧٥
ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﻭﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ ﻳﻌﻨﻲ ﻭﻓﻲ اﻟﻨﻔﻘﺔ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ ﻭﺃﺭاﺩ ﺑﻪ اﻟﻐﺰاﺓ ﻓﻠﻬﻢ ﺳﻬﻢ ﻣﻦ ﻣﺎﻝ اﻟﺼﺪﻗﺎﺕ ﻓﻴﻌﻄﻮﻥ ﺇﺫا ﺃﺭاﺩﻭا اﻟﺨﺮﻭﺝ ﺇﻟﻰ اﻟﻐﺰﻭ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻌﻴﻨﻮﻥ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﻣﺮ اﻟﺠﻬﺎﺩ ﻣﻦ اﻟﻨﻔﻘﺔ ﻭاﻟﻜﺴﻮﺓ ﻭاﻟﺴﻼﺡ ﻭاﻟﺤﻤﻮﻟﺔ ﻓﻴﻌﻄﻮﻥ ﺫﻟﻚ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﻮا ﺃﻏﻨﻴﺎء ﻟﻤﺎ ﺗﻘﺪﻡ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﻄﺎء ﻭﺃﺑﻲ ﺳﻌﻴﺪ اﻟﺨﺪﺭﻱ ﻭﻻ ﻳﻌﻄﻰ ﻣﻦ ﺳﻬﻢ اﻟﻠﻪ ﻟﻤﻦ ﺃﺭاﺩ اﻟﺤﺞ ﻋﻨﺪ ﺃﻛﺜﺮ ﺃﻫﻞ اﻟﻌﻠﻢ ﻭﻗﺎﻝ ﻗﻮﻡ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﺼﺮﻑ ﺳﻬﻢ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ ﺇﻟﻰ اﻟﺤﺞ ﻳﺮﻭﻯ ﺫﻟﻚ ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻭﻫﻮ ﻗﻮﻝ اﻟﺤﺴﻦ ﻭﺇﻟﻴﻪ ﺫﻫﺐ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﻭﺇﺳﺤﺎﻕ ﺑﻦ ﺭاﻫﻮﻳﻪ ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ: ﺇﻥ اﻟﻠﻔﻆ ﻋﺎﻡ ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﻗﺼﺮﻩ ﻋﻠﻰ اﻟﻐﺰاﺓ ﻓﻘﻂ ﻭﻟﻬﺬا ﺃﺟﺎﺯ ﺑﻌﺾ اﻟﻔﻘﻬﺎء ﺻﺮﻑ ﺳﻬﻢ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ ﺇﻟﻰ ﺟﻤﻴﻊ ﻭﺟﻮﻩ اﻟﺨﻴﺮ ﻣﻦ ﺗﻜﻔﻴﻦ اﻟﻤﻮﺗﻰ ﻭﺑﻨﺎء اﻟﺠﺴﻮﺭ ﻭاﻟﺤﺼﻮﻥ ﻭﻋﻤﺎﺭﺓ اﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻭﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻗﺎﻝ ﻷﻥ ﻗﻮﻟﻪ ﻭﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ ﻋﺎﻡ ﻓﻲ اﻟﻜﻞ ﻓﻼ ﻳﺨﺘﺺ ﺑﺼﻨﻒ ﺩﻭﻥ ﻏﻴﺮﻩ ﻭاﻟﻘﻮﻝ اﻷﻭﻝ ﻫﻮ اﻟﺼﺤﻴﺢ ﻹﺟﻤﺎﻉ اﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ﻋﻠﻴﻪ
Firman Allah Ta'ala :
 وفي سبيل الله
maksudnya adalah :
وفي النفقة في سبيل الله
dan Allah berkehendak dengan itu terhadap الغزاةbalatentara. Maka bagi mereka ada saham dari harta shadaqoh. Maka mereka diberi jika mereka hendak keluar menuju peperangan seukuran perkara yang dapat membantu mereka terhadap urusan jihad, yaitu : nafkahnya, pakaiannya, senjatanya dan barang bawaannya. Mereka diberi semua itu sekalipun mereka para orang kaya. Berdasarkan keterangan yang telah lalu dari Hadits Atha dan Abi Said Al-Khudhri. Dan tidak boleh diberikan dari saham Allah bagi orang yang hendak pergi haji menurut mayoritas ahli ilmu. Dan berkata suatu kaum : boleh disalurkan saham sabilillah kepada haji, diriwayatkan itu dari Ibnu Abbas yaitu pendapat Hasan dan kepadanya bermadzhab Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Ishaq bin Rohawaih. Dan berkata sebagian ulama : sesungguhnya lafadz سبيل الله pada Al-Qur'an Surat At-Taubah Ayat 60 itu lafadz yang umum, maka tidak boleh meringkasnya hanya kepada الغزاة saja. Dan karena inilah sebagian fuqoha memperbolehkan menyalurkan saham Sabilillah kepada semua jalur kebaikan, seperti : pemulasaraan mayit, pembangunan jembatan, pembangunan benteng, kemakmuran masjid dan sebagainya. Sebagian fuqoha berkata : oleh karena Firman Allah وفي سبيل الله lafadznya عام في الكل maka tidak dikhususkan pada satu golongan tidak yang lainnya. Qaul yang pertama adalah qaul yang shahih karena didukung ijma jumhur terhadapnya.[5]

حاشية الصاوي على تفسير الجلالين للشيخ أحمد الصاوي المالكي ج ٢ ص ١٥٤
قوله أى القائمين بالجهاد الخ : أى ويشتري منها آلته من سلاح ودرع وفرس ومذهب مالك أن طلبة العلم المنهمكين فيه لهم الأخذ من الزكاة ولو أغنياء اذا انقطع حقهم من بيت المال لأنهم مجاهدون
Redaksi penafsiran Imam Jalaluddin Al-Mahalli القائمين بالجهاد dst : maksudnya adalah boleh membeli dari zakat terhadap alat jihad, yaitu antara lain : senjata, baju besi, kuda. Madzhab Maliki berpendapat sesungguhnya penuntut ilmu yang serius menghabiskan waktu pada penuntutan ilmu bagi mereka boleh mengambil dari zakat sekalipun statusnya aghniya jika terputus hak mereka dari baitul mal karena sesungguhnya mereka adalah para mujahid.[6]

تفسير المنير للشيخ وهبه الزهيلي
ﻭﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ ﺃﻱ اﻟﻘﺎﺋﻤﻴﻦ ﺑﺎﻟﺠﻬﺎﺩ ﻭﻟﻮ ﺃﻏﻨﻴﺎء، ﺃﻭ ﻟﻠﺼﺮﻑ ﻓﻲ ﻣﺼﺎﻟﺢ اﻟﺠﻬﺎﺩ ﺑﺎﻹﻧﻔﺎﻕ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﺘﻄﻮﻋﺔ ﻭﺷﺮاء اﻟﺴﻼﺡ. ﻭﻗﻴﻞ: ﻭﻓﻲ ﺑﻨﺎء اﻟﻘﻨﺎﻃﺮ ﻭاﻟﻤﺼﺎﻧﻊ
____________________________
ﻭﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ: ﻭﻫﻢ ﻓﻲ ﺭﺃﻱ اﻟﺠﻤﻬﻮﺭ اﻟﻐﺰاﺓ اﻟﻤﺠﺎﻫﺪﻭﻥ اﻟﺬﻳﻦ ﻻ ﺣﻖ ﻟﻬﻢ ﻓﻲ ﺩﻳﻮاﻥ اﻟﺠﻨﺪ، ﻳﻌﻄﻮﻥ ﻣﺎ ﻳﻨﻔﻘﻮﻥ ﻓﻲ ﻏﺰﻭﻫﻢ، ﻛﺎﻧﻮا ﺃﻏﻨﻴﺎء ﺃﻭ ﻓﻘﺮاء ﻷﻥ اﻟﺴﺒﻴﻞ ﻋﻨﺪ اﻹﻃﻼﻕ ﻫﻮ اﻟﻐﺰﻭ، ﻭﻫﻮ اﻟﻤﺴﺘﻌﻤﻞ ﻓﻲ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭاﻟﺴﻨﺔ. ﻭﺃﻣﺎ ﻣﻦ ﻟﻪ ﺷﻲء ﻣﻘﺪﺭ ﻓﻲ اﻟﺪﻳﻮاﻥ ﻓﻼ ﻳﻌﻄﻰ ﻷﻥ ﻣﻦ ﻟﻪ ﺭﺯﻕ ﺭاﺗﺐ ﻳﻜﻔﻴﻪ، ﻓﻬﻮ ﻣﺴﺘﻐﻦ ﺑﻪ. ﻭﻻ ﻳﺤﺞ ﺃﺣﺪ ﺑﺰﻛﺎﺓ ﻣﺎﻟﻪ، ﻭﻻ ﻳﻐﺰﻭ ﺑﺰﻛﺎﺓ ﻣﺎﻟﻪ، ﻭﻻ ﻳﺤﺞ ﺑﻬﺎ ﻋﻨﻪ، ﻭﻻ ﻳﻐﺰﻯ ﺑﻬﺎ ﻋﻨﻪ، ﻟﻌﺪﻡ اﻹﻳﺘﺎء اﻟﻤﺄﻣﻮﺭ ﺑﻪ. ﻭﻋﻠﻰ ﻫﺬا اﻟﺮﺃﻱ: ﻻ ﻳﻌﻄﻰ اﻟﺠﻴﺶ اﻟﺤﺎﻟﻲ ﻣﻦ اﻟﺰﻛﺎﺓ ﻷﻥ اﻟﺠﻨﻮﺩ ﻭاﻟﻀﺒﺎﻁ ﺗﺼﺮﻑ ﻟﻬﻢ اﻟﻴﻮﻡ ﺭﻭاﺗﺐ ﺷﻬﺮﻳﺔ ﺩاﺋﻤﺔ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﻤﻜﻦ اﻟﻤﺴﺎﻫﻤﺔ ﻋﻨﺪ اﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﺃﻭ اﻟﺤﺎﺟﺔ اﻟﻌﺎﻣﺔ ﻓﻲ ﺷﺮاء اﻟﺴﻼﺡ، ﺃﻭ ﺇﻋﻄﺎء اﻟﻤﺘﻄﻮﻋﺔ ﻓﻲ اﻟﺠﻬﺎﺩ.
ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺣﻨﻴﻔﺔ: ﻻ ﻳﻌﻄﻰ اﻟﻐﺎﺯﻱ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ ﺇﻻ ﺇﺫا ﻛﺎﻥ ﻓﻘﻴﺮا.
ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ ﻓﻲ ﺃﺻﺢ اﻟﺮﻭاﻳﺘﻴﻦ ﻋﻨﻪ: اﻟﺤﺞ ﻣﻦ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ، ﻓﻴﻌﻄﻰ ﻣﺮﻳﺪ اﻟﺤﺞ ﻣﻦ اﻟﺰﻛﺎﺓ
ﻟﻤﺎ ﺭﻭﻯ ﺃﺑﻮ ﺩاﻭﺩ ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ: ﺃﻥ ﺭﺟﻼ ﺟﻌﻞ ﻧﺎﻗﺔ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ، ﻓﺄﺭاﺩﺕ اﻣﺮﺃﺗﻪ اﻟﺤﺞ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻬﺎ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ: اﺭﻛﺒﻴﻬﺎ، ﻓﺈﻥ اﻟﺤﺞ ﻣﻦ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ
ﻭﺃﺟﺎﺏ اﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ﺑﺄﻥ اﻟﺤﺞ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ، ﻭﻟﻜﻦ اﻵﻳﺔ ﻣﺤﻤﻮﻟﺔ ﻋﻠﻰ اﻟﺠﻬﺎﺩ. ﻗﺎﻝ ﻣﺎﻟﻚ: ﺳﺒﻞ اﻟﻠﻪ ﻛﺜﻴﺮﺓ، ﻭﻗﺎﻝ اﺑﻦ اﻟﻌﺮﺑﻲ: ﻭﻟﻜﻨﻲ ﻻ ﺃﻋﻠﻢ ﺧﻼﻓﺎ ﻓﻲ ﺃﻥ اﻟﻤﺮاﺩ ﺑﺴﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ ﻫﺎﻫﻨﺎ اﻟﻐﺰﻭ، ﻭﻣﻦ ﺟﻤﻠﺔ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ، ﺇﻻ ﻣﺎ ﻳﺆﺛﺮ ﻋﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺇﺳﺤﺎﻕ ﻓﺈﻧﻬﻤﺎ ﻗﺎﻻ: ﺇﻧﻪ اﻟﺤﺞ. ﻭﻓﺴﺮ ﺑﻌﺾ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ ﺑﻄﻠﺐ اﻟﻌﻠﻢ، ﻭﻓﺴﺮﻩ اﻟﻜﺎﺳﺎﻧﻲ ﺑﺠﻤﻴﻊ اﻟﻘﺮﺏ، ﻓﻴﺪﺧﻞ ﻓﻴﻪ ﺟﻤﻴﻊ ﻭﺟﻮﻩ اﻟﺨﻴﺮ ﻣﺜﻞ ﺗﻜﻔﻴﻦ اﻟﻤﻮﺗﻰ ﻭﺑﻨﺎء اﻟﻘﻨﺎﻃﺮ ﻭاﻟﺤﺼﻮﻥ ﻭﻋﻤﺎﺭﺓ اﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻷﻥ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﻭﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ ﻋﺎﻡ ﻓﻲ اﻟﻜﻞ.
ﻭاﻟﺨﻼﺻﺔ: اﻟﻤﺮاﺩ ﺑﺴﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ: ﺇﻋﻄﺎء اﻟﻤﺠﺎﻫﺪﻳﻦ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﻮا ﺃﻏﻨﻴﺎء ﻋﻨﺪ اﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ، ﻭﺑﺸﺮﻁ ﻛﻮﻧﻬﻢ ﻓﻘﺮاء ﻋﻨﺪ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ، ﻭاﻟﺤﺞ ﻣﻦ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﺪ ﺃﺣﻤﺪ ﻭاﻟﺤﺴﻦ ﻭﺇﺳﺤﺎﻕ. ﻭاﺗﻔﻖ اﻟﻌﻠﻤﺎء ﺇﻻ ﻣﺎ ﻳﺮﻭﻯ ﻋﻦ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺻﺮﻑ اﻟﺰﻛﺎﺓ ﻟﺒﻨﺎء اﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻭاﻟﺠﺴﻮﺭ ﻭاﻟﻘﻨﺎﻃﺮ ﻭﺇﺻﻼﺡ اﻟﻄﺮﻗﺎﺕ، ﻭﺗﻜﻔﻴﻦ اﻟﻤﻮﺗﻰ، ﻭﻗﻀﺎء اﻟﺪﻳﻦ، ﻭﺷﺮاء اﻷﺳﻠﺤﺔ ﻭﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ اﻟﻘﺮﺏ اﻟﺘﻲ ﻟﻢ ﺗﺬﻛﺮ ﻓﻲ اﻵﻳﺔ، ﻣﻤﺎ ﻻ ﺗﻤﻠﻴﻚ ﻓﻴﻪ
وفي سبيل الله Maksudnya adalah القائمين بالجهاد Sekalipun aghniya. Atau untuk disalurkan pada kemashlahatan jihad dengan menginfaqkannya kepada relawan jihad dan membeli persenjataan. Menurut qaul qiil : dan pada pembangunan jembatan dan al-mashani'
____________________
وفي سبيل الله : Mereka pada pendapat jumhur adalah al-ghuzzat al-mujahidun yang tidak ada hak bagi mereka pada di kantor tentara. Mereka diberi seukuran perkara yang mereka infaqkan pada perang mereka baik mereka itu kaya ataupun faqir. Karena sesungguhnya سبيل ketika di-ithlaq-kan adalah الغزو dan itulah yang dipergunakan pada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dan bagi orang yang baginya ada syai'un muqoddar di kantor ghuzzaat, tidak boleh diberi, karena sesungguhnya orang yang baginya ada rizqi rutin yang mencukupinya maka dia statusnya mustaghnan bih / orang yang disugihkan dengannya.
  • Tidak boleh berhaji seseorang menggunakan zakatmal-nya
  • Tidak boleh berjihadperang seseorang menggunakan zakatmal-nya
  • Tidak boleh berhaji seseorang menggunakan zakatfithrah-nya
  • Tidak boleh berjihadperang seseorang menggunakan zakatfithrah-nya
karena ketiadaan unsur membayarkan zakat sesuai yang diperintahkan terhadapnya. Maka berdasarkan pendapat ini maka tidak boleh diberi al-jaisy zaman ini dari zakat, karena tentara dan perwira di zaman ini diberi gaji bulanan rutin, sehingga kontribusi dari saham zakat hanyalah mungkin ketika : 
  • Dalam keadaan darurat, atau 
  • Ada kebutuhan yang bersifat umum, atau
  • Untuk pembelian senjata, atau
  • Pemberian terhadap relawan jihad.
Berkata Imam Abu Hanifah : Tidak diberi dari zakat seorang al-ghazi fi sabilillah kecuali jika dia keadaannya faqir.
Berkata Imam Ahmad bin Hanbal pada salah satu dari dua riwayat al-ashahhnya : Berhaji adalah termasuk sabilillah, maka orang yang hendak berhaji boleh diberi dari zakat. Karena telah meriwayatkan Abu Dawud dari Ibnu Abbas terhadap Hadits : 
ﺃﻥ ﺭﺟﻼ ﺟﻌﻞ ﻧﺎﻗﺔ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ، ﻓﺄﺭاﺩﺕ اﻣﺮﺃﺗﻪ اﻟﺤﺞ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻬﺎ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ: اﺭﻛﺒﻴﻬﺎ، ﻓﺈﻥ اﻟﺤﺞ ﻣﻦ ﺳﺒﻴﻞ الله
Sesungguhnya seorang pria sejati telah mempersiapkan unta untuk berperang fi sabilillah, kemudian istrinya hendak berhaji,  kemudian kepadanya Nabi SAW bersabda : "tunggangi unta itu wahai imro'at! karena sesungguhnya berhaji adalah termasuk sabilillah".
Dan kemudian Jumhur Ulama menjawab perihal bahwasanya berhaji merupakan termasuk sabilillah : akan tetapi mahmul Ayat adalah terhadap jihad.
Telah berkata Imam Malik : Sabilillah itu banyak. Telah berkata Imam Ibnu Arobi : dan akan tetapi aku tidak tau terhadap perbedaan perihal bahwasanya yang dimaksud dengan سبيل الله pada Ayat ini adalah الغزو dan dari globalnya makna سبيل الله, kecuali perkara yang dipilih dari Imam Ahmad dan Imam Ishaq bahwasanya keduanya berkata : bahwasanya yang dimaksud adalah berhaji.
Telah menafsirkan sebagian Hanafiyah terhadap سبيل الله dengan طلب العلم / menuntut ilmu. Dan telah menafsirkan Imam Al-Kasani dengan جميع القرب / semua pendekatan kepada Allah. Maka termasuk di dalamnya semua jalur-jalur kebaikan, seperti :
  • Pembungkusan mayit
  • Membangun jembatan
  • Membangun benteng
  • Memmakmurkan masjid
karena firman Allah وفي سبيل الله umum pada semuanya.
Kesimpulan : Yang dimaksud dengan سبيل الله adalah 
  • Memberi mujahidin sekalipun mereka orang-orang kaya menurut Syafi'iyah, dan dengan syarat mereka faqir menurut Hanafiyah.
  • Berhaji termasuk سبيل الله menurut Imam Ahmad, Imam Hasan dan Imam Ishaq.
  • Ittifaq Ulama kecuali terhadap perkara yang diriwayatkan dari sebagiannya bahwasanya tidak boleh menyalurkan zakat untuk pembangunan masjid, benteng, jembatan, perbaikan jalan-jalan, pengkafanan mayit-mayit, pelunasan hutang, pembelian senjata, dan sejenisnya dari antara perkara-perkara yang tidak disebutkan dalam ayat, yaitu dari yang tidak ada pelimpahan kepemilikan di dalamnya.[7]

الموسوعة الفقهية الكويتيةللمجموعة من المؤلفين
جِهَاتُ الْخَيْرِ مِنْ غَيْرِ الأَْصْنَافِ الثَّمَانِيَةِ: ذَهَبَ الْفُقَهَاءُ إِلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ صَرْفُ الزَّكَاةِ فِي جِهَاتِ الْخَيْرِ غَيْرِ مَا تَقَدَّمَ بَيَانُهُ، فَلاَ تُنْشَأُ بِهَا طَرِيقٌ، وَلاَ يُبْنَى بِهَا مَسْجِدٌ وَلاَ قَنْطَرَةٌ، وَلاَ تُشَقُّ بِهَا تُرْعَةٌ، وَلاَ يُعْمَل بِهَا سِقَايَةٌ، وَلاَ يُوَسَّعُ بِهَا عَلَى الأَْصْنَافِ، وَلَمْ يَصِحَّ فِيهِ نَقْل خِلاَفٍ عَنْ مُعَيَّنٍ يُعْتَدُّ بِهِ، وَظَاهِرُ كَلاَمِ الرَّمْلِيِّ أَنَّهُ إِجْمَاعٌ، وَاحْتَجُّوا لِذَلِكَ بِأَمْرَيْنِ: الأَْوَّل: أَنَّهُ لاَ تَمْلِيكَ فِيهَا؛ لأَِنَّ الْمَسْجِدَ وَنَحْوَهُ لاَ يُمْلَكُ، وَهَذَا عِنْدَ مَنْ يَشْتَرِطُ فِي الزَّكَاةِ التَّمْلِيكَ. وَالثَّانِي: الْحَصْرُ الَّذِي فِي الآْيَةِ، فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ وَنَحْوَهَا لَيْسَتْ مِنَ الأَْصْنَافِ الثَّمَانِيَةِ، وَفِي الْحَدِيثِ الْمُتَقَدِّمِ الَّذِي فِيهِ: إِنَّ اللَّهَ جَعَل الزَّكَاةَ ثَمَانِيَةَ أَجْزَاء وَلاَ يَثْبُتُ مِمَّا نُقِل عَنْ أَنَسٍ وَابْنِ سِيرِينَ خِلاَفُ ذَلِك
Berangkat fuqoha terhadap bahwasanya tidak boleh menyalurkan zakat ke dalam arah kebaikan selain perkara yang telah lalu penjelasannya. Maka :
  • Tidak boleh dibangun jalan baru dengan zakat
  • Tidak boleh dibangun dengannya masjid
  • Tidak boleh dibangun dengannya jembatan
  • Tidak boleh dibuat dengannya saluran air
  • Tidak boleh dikerjakan dengannya irigasi
Tidak boleh diperluas ashnaf dengan semua itu. Tidak boleh menuqil perbedaan dari yang sudah ditentukan dan diadatkan dengannya. 
Dzahir perkataan Imam Ramli adalah bahwasanya itu Ijma' dan para ulama berhujjah untuk semua itu dengan 2 perkara :
  1. Bahwasanya tidak ada unsur pelimpahan kepemilikan di dalamnya. Karena masjid dan yang sepertinya tidaklah dimiliki. Dan ini berdasarkan pendapat yang mensyaratkan adanya "tamlik" pada zakat.
  2. Meringkas yang terdapat di dalam Ayat. Karena sesungguhnya masjid-masjid dan sebagainya bukanlah termasuk ashnaf yang delapan. Dan pada Hadits yang telah lalu yang terdapat di dalamnya : sesungguhnya Allah menjadikan zakat 8 bagian. Dan tidak menjadi ketetapan dari yang diriwayatkan Anas dan Ibnu Sirin menyelisihi itu. [8]
8 Mustahiq Zakat - Sabilillah | Amil Zakat | Faqir | Miskin | Gharim | Riqab ('Abid Mukatab) | Mu'allaf | Ibnu Sabil

Sumber :
[1] Imam Muhammad Asy-Syafi'i. Al-Umm Jilid 2 Hal 77
[2] Imam Ibnu Qasim Al-Ghazi. Fath Al-Qarib Al-Mujib ala At-Taqrib Hal 25
[3] Syaikh Zainuddin Al-Malibari. Fath Al-Muin bi Syarh Qurroh Al-Ain Hal 53
[4] Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi. Kasyifah As-Saja fi Syarh Safinah An-Naja Hal 7
[5] Syaikh Alauddin Ali Al-Khazin. Tafsir Al-Khazin Jilid 2 Hal 375
[6] Syaikh Ahmad Ash-Shawi. Hasyiyah Ash-Shawi Ala Tafsir Al-Jalalain Jilid 2 Hal 154
[7] Syaikh Wahbah Az-Zuhaili. Tafsir Munir Jilid 10 Hal 259, 273 - 274
[8] Majmu'ah Min Al-Mu'allifin. Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah Jilid 23 Hal 328 - 329

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah ikut berpartisifasi
Komentar anda akan segera kami balas