Mustahiq Zakat - Faqir - BAITUSSALAM

Rabu, 13 April 2022

Mustahiq Zakat - Faqir

8 Mustahiq Zakat - Faqir | Miskin | Gharim | Riqab ('Abid Mukatab) | Mu'allaf | Ibnu Sabil | Sabilillah | Amil Zakat

Mustahiq Zakat - Syafi'iyah

الأم للإمام محمد الشافعي ج ٢ ص ٧٧
ﻗﺎﻝ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ  ﻗﺎﻝ اﻟﻠﻪ ﺗﺒﺎﺭﻙ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ : ﺇﻧﻤﺎ اﻟﺼﺪﻗﺎﺕ ﻟﻠﻔﻘﺮاء ﻭاﻟﻤﺴﺎﻛﻴﻦ ﻭاﻟﻌﺎﻣﻠﻴﻦ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭاﻟﻤﺆﻟﻔﺔ ﻗﻠﻮﺑﻬﻢ ﻭﻓﻲ اﻟﺮﻗﺎﺏ ﻭاﻟﻐﺎﺭﻣﻴﻦ ﻭﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ ﻭاﺑﻦ اﻟﺴﺒﻴﻞ - اﻟﺘﻮﺑﺔ ٦٠ - ﻓﺄﺣﻜﻢ اﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻓﺮﺽ اﻟﺼﺪﻗﺎﺕ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ ﺛﻢ ﺃﻛﺪﻫﺎ ﻓﻘﺎﻝ : ﻓﺮﻳﻀﺔ ﻣﻦ اﻟﻠﻪ - اﻟﺘﻮﺑﺔ: ٦٠ - ﻗﺎﻝ ﻭﻟﻴﺲ ﻷﺣﺪ ﺃﻥ ﻳﻘﺴﻤﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮ ﻣﺎ ﻗﺴﻤﻬﺎ اﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﺫﻟﻚ ﻣﺎ ﻛﺎﻧﺖ اﻷﺻﻨﺎﻑ ﻣﻮﺟﻮﺩﺓ
Telah berkata Imam Syafi'i telah berfirman Allah Tabaroka Wa Ta'ala : "Sesungguhnya shadaqoh zakat adalah hanya untuk orang-orang faqir, orang-orang miskin, amilin terhadap zakat, mu'allafah hatinya, fi ar-riqob ('abid mukatab), orang-orang gharim, fi sabilillah, ibnu sabil." - At-Taubah Ayat 60 - Maka Allah telah menghukumi kefardhuan shadaqoh di dalam KitabNya, kemudian Allah menguatkannya. Kemudian berfirman : "suatu kefardhuan dari Allah". - At-Taubah Ayat 60 - Telah berkata Imam Syafi'i : "dan tidaklah bagi seseorang membagikannya kepada selain perkara yang Allah Azza wa Jalla telah membagikannya terhadapnya. Itu semua selagi keberadaan ashnaf tersebut itu ada.[1]
فتح القريب المجيب للإمام ابن قاسم الغازي ص ٢٥
ﻭﺗﺪﻓﻊ اﻟﺰﻛﺎﺓ ﺇﻟﻰ اﻷﺻﻨﺎﻑ اﻟﺜﻤﺎﻧﻴﺔ اﻟﺬﻳﻦ ﺫﻛﺮﻫﻢ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ اﻟﻌﺰﻳﺰ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﺇﻧﻤﺎ اﻟﺼﺪﻗﺎﺕ ﻟﻠﻔﻘﺮاء ﻭاﻟﻤﺴﺎﻛﻴﻦ ﻭاﻟﻌﺎﻣﻠﻴﻦ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭاﻟﻤﺆﻟﻔﺔ ﻗﻠﻮﺑﻬﻢ ﻭﻓﻲ اﻟﺮﻗﺎﺏ ﻭاﻟﻐﺎﺭﻣﻴﻦ ﻭﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ ﻭاﺑﻦ اﻟﺴﺒﻴل - اﻟﺘﻮﺑﺔ ٦٠ - ﻫﻮ ﻇﺎﻫﺮ ﻏﻨﻲ ﻋﻦ اﻟﺸﺮﺡ ﺇﻻ ﻣﻌﺮﻓﺔ اﻷﺻﻨﺎﻑ اﻟﻤﺬﻛﻮﺭﺓ
Zakat diberikan kepada ashnaf yang 8 yaitu orang-orang yang Allah telah menuturkannya di dalam Kitabihi Al-Aziz pada Firmannya : "Sesungguhnya shadaqoh zakat adalah hanya untuk orang-orang faqir, orang-orang miskin, amilin terhadap zakat, mu'allafah hatinya, fi ar-riqob ('abid mukatab), orang-orang gharim, fi sabilillah, ibnu sabil. - At-Taubah Ayat 60 - Itu dzohir tidak butuh penjelasan, kecuali penjelasan pengenalan ashnaf  yang telah dituturkan.[2] 

Faqir - Syafi'iyah


فتح المعين للشيخ زين الدين المليباري ص ٥٢
ﻭاﻟﻔﻘﻴﺮ: ﻣﻦ ﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﻣﺎﻝ ﻭﻻ ﻛﺴﺐ ﻻﺋﻖ ﻳﻘﻊ ﻣﻮﻗﻌﺎ ﻣﻦ ﻛﻔﺎﻳﺘﻪ ﻭﻛﻔﺎﻳﺔ ﻣﻤﻮﻧﻪ ﻭﻻ ﻳﻤﻨﻊ اﻟﻔﻘﺮ ﻣﺴﻜﻨﻪ ﻭﺛﻴﺎﺑﻪ ﻭﻟﻮ ﻟﻠﺘﺠﻤﻞ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺃﻳﺎﻡ اﻟﺴﻨﺔ ﻭﻛﺘﺐ ﻳﺤﺘﺎﺟﻬﺎ ﻭﻋﺒﺪﻩ اﻟﺬﻱ ﻳﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻴﻪ ﻟﻠﺨﺪﻣﺔ ﻭﻣﺎﻟﻪ اﻟﻐﺎﺋﺐ ﺑﻤﺮﺣﻠﺘﻴﻦ ﺃﻭ اﻟﺤﺎﺿﺮ ﻭﻗﺪ ﺣﻴﻞ ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻨﻪ ﻭاﻟﺪﻳﻦ اﻟﻤﺆﺟﻞ ﻭاﻟﻜﺴﺐ اﻟﺬﻱ ﻻ ﻳﻠﻴﻖ ﺑﻪ. ﻭﺃﻓﺘﻰ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺃﻥ ﺣﻠﻲ اﻟﻤﺮﺃﺓ اﻟﻻﺋﻖ ﺑﻬﺎ اﻟﻤﺤﺘﺎﺟﺔ ﻟﻠﺘﺰﻳﻦ ﺑﻪ ﻋﺎﺩﺓ ﻻ ﻳﻤﻨﻊ ﻓﻘﺮﻫﺎ ﻭﺻﻮﺑﻪ شيخنا
Faqir : Orang yang tidak memiliki harta dan tidak memiliki kasab yang pantas yang bisa menutupi kebutuhannya dan kebutuhan orang yang jadi tanggungannya. Tidak mencegah terhadap status kefaqiran : rumahnya, pakaiannya sekalipun untuk berhias pada sebagian hari dalam setahun, buku-buku yang dibutuhkannya, hamba sahaya yang dibutuhkannya untuk melayaninya, hartanya yang tidak hadir sejauh 2 marhalah, hartanya yang hadir tapi terhalang antara dia dan hartanya, piutangnya yang ditangguhkan pelunasannya, kasabnya yang tidak layak baginya. Telah berfatwa sebagian ulama bahwasanya perhiasan perempuan yang layak baginya perhiasan tersebut dibutuhkan untuk berhias menurut kebiasaan, tidaklah mencegah status kefaqiran. Dan membenarkannya Syaikhuna Imam Ibnu Hajar Al-Haitami.[3]

كاشفة السجا للشيخ محمد نووي الجاوي ص ٦
الأول فقير وحده هو الذي لا مال له أصلا ولا كسب كذلك حلالين والمراد بالكسب هنا طلب المعيشة أو له مال فقط حلال لا يسد من جوعته مسدا من كفاية العمر الغالب على المعتمد عند توزيعه عليه إن لم يتجر فيه بحيث لا يبلغ النصف كأن يحتاج الى عشرة دراهم ولو وزع المال الذي عنده على عمر الغالب لخص كل يوم أربعة أو أقل بخلاف من قدر على نصف كافيه فإنه مسكين وأما إن اتجر فالعبرة بكل يوم أو له كسب فقط حلال لائق به لا يسد مسدا من كفايته كل يوم كمن يحتاح الى عشرة ويكتسب كل يوم أربعة فأقل أو له كل منهما ولا يسد مجموعهما مسدا من كفايته
Nomor ke-1 adalah faqir. Ta'rif hadnya adalah : 
  • Orang yang tidak memiliki harta sama sekali dan tidak memiliki kasab yang halal keduanya. Yang dimaksud kasab dalam bab ini adalah mencari penghidupan. atau
  • Orang yang memiliki harta saja yang halal yang harta tersebut tidak dapat menutupi dari kelaparannya dengan standar menutupi kebutuhan umur ghalib menurut qaul al-mu'tamad ketika dia membagi hartanya terhadap kebutuhan umur ghalib. Jika harta tersebut tidak dipergunakan berdagang. Sekira tidak sampai harta tersebut terhadap setengah, seperti : dia butuh terhadap 10 dirham, dan jika dibagi harta yang ada padanya terhadap umur yang ghalib maka menjadi ditentukan pada setiap harinya 4 dst lebih sedikit. Berbeda dengan orang yang mampu terhadap setengah kebutuhannya, maka sesungguhnya dia adalah miskin. Adapun jika dipergunakan berdagang, maka yang jadi perhitungan adalah dengan setiap harinya.
  • Orang yang memiliki kasab saja yang halal yang layak baginya yang tidak dapat menutupi kasab tersebut dengan penutupan dari kebutuhannya setiap hari. Seperti : orang yang butuh terhadap 10 dan mampu mengkasab pada setiap harinya terhadap 4 dst lebih sedikit.
  • Orang yang memiliki masing-masing dari harta dan kasab, dan tidak menutupi kumpulan keduanya dengan penutupan terhadap kebutuhannya.[4] 

Faqir - Perbandingan Madzhab : Syafi'iyah, Hanabilah, Hanafiyah, Malikiyah.
الفقه الإسلام وأدلته للشيخ وهبه الزهيلي ج ٣ ص ١٩٥٢
فالفقير عند الشافعية والحنابلة: أسوأ حالاً من المسكين
_______
ودليلهم على أن الفقير أسوأ حالاً من المسكين : بداءة الله تعالى بذكر الفقراء، وإنما يبدأ عادة بالأهم فالأهم. وقال تعالى: أما السفنية فكانت لمساكين يعملون في البحر - الكهف : ٧٩ / ١٨ - فأخبر أن لهم سفينة يعملون فيها، وقد سأل النبي المسكنة واستعاذ من الفقر، فقال : اللهم أحيني مسكيناً، وأمتني مسكيناً، واحشرني في زمرة المساكين - رواه الترمذي - ولا يجوز أن يسأل شدة الحاجة، ويستعيذ من حالة أصلح منها. ولأن الفقير هو المفقور لغة : وهو الذي نزعت فقرة من فقار ظهره، فانقطع صلبه
وقال الحنفية والمالكية: المسكين أسوأ حالاً من الفقير، كما نقل عن بعض أئمة اللغة، ولقوله تعالى: أو مسكيناً ذا متربة - البلد : ١٦ / ٩٠ - أي ألصق جلده بالتراب ليواري به جسده، مما يدل على غاية الضرر والشدة، ولأن المسكين : هو الذي يسكن حيث يحل، لأنه لا مسكن له، مما يدل على شدة الضرر والبؤس
Maka faqir menurut Syafi'iyah dan Hanabilah adalah lebih buruk situasinya daripada miskin.
Dalil mereka terhadap bahwasanya faqir lebih buruk situasinya daripada miskin adalah 
  • Memulainya Allah Ta'ala dengan menuturkan fuqoro. Dan tentunya dimulai kebiasaan dengan yang lebih penting kemudian yang lebih penting berikutnya. 
  • Allah Ta'ala berfirman :
أما السفنية فكانت لمساكين يعملون في البحر - الكهف ١٧/٧٩
"Adapun perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut."
Maka Allah memberikan kabar bahwasanya bagi mereka ada perahu yang mereka bekerja padanya. 
  • Nabi SAW pernah bertanya kepada orang miskin dan dia memohon perlindungan kepada Allah dari kefaqiran :
اللهم أحيني مسكيناً، وأمتني مسكيناً، واحشرني في زمرة المساكين
"Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin dan kumpulkanlah aku di Yaumal Mahsyar di golongan orang-orang miskin"
Dan dia tidak boleh : meminta kemiskinan dalam keadaan sangat membutuhkan dan dia memohon perlindungan kepada Allah dari situasi yang lebih baik dari itu. 
  • Karena sesungguhnya فقير adalah :
هو المفقور لغة : وهو الذي نزعت فقرة من فقار ظهره، فانقطع صلبه
"فقير adalah المفقور secara bahasa, yaitu orang yang dicabut salah satu tulang punnggung dari tulang-tulang punggungnya maka putuslah tulang rusuknya."

Dan telah berkata Hanafiyah dan Malikiyah : miskin lebih buruk situasinya dari faqir : 
  • Sebagaimana telah dinuqil dari sebagian para imam ahli bahasa. 
  • Karena ada Firman Allah :
أو مسكيناً ذا متربة - البلد : ١٦ / ٩٠
"Atau orang miskin yang bertanah (menempelkan kulitnya pada tanah untuk menutupi dengannya terhadap jasadnya)"
adalah dari sebagian dalil yang menunjukan terhadap penghabisan kemadharatan dan kepayahan.

  •  Karena miskin adalah :

هو الذي يسكن حيث يحل، لأنه لا مسكن له
"miskin adalah orang yang يسكن / menetap dimanapun dia singgah karena dia tidak memiliki مسكن / tempat menetap."
Adalah dari sebagian dalil yang menunjukan terhadap sangatnya kemadharatan dan kesengsaraan.[5]

8 Mustahiq Zakat - Faqir | Miskin | Gharim | Riqab ('Abid Mukatab) | Mu'allaf | Ibnu Sabil | Sabilillah | Amil Zakat

Sumber :
[1] Imam Muhammad Asy-Syafi'i. Al-Umm Jilid 2 Hal 77
[2] Imam Ibnu Qasim Al-Ghazi. Fath Al-Qarib Al-Mujib ala At-Taqrib Hal 25
[3] Syaikh Zainuddin Al-Malibari. Fath Al-Muin bi Syarh Qurroh Al-Ain Hal 52
[4] Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi. Kasyifah As-Saja fi Syarh Safinah An-Naja Hal 6
[5] Syaikh Wahbah Az-Zuhaili. Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh Jilid 3 Hal 1952

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah ikut berpartisifasi
Komentar anda akan segera kami balas