BAITUSSALAM

Kamis, 14 Juli 2022

Rukun Shalat : 13 14 15 17 18 19 23

Ada perbedaan pendapat di kalangan Ulama Syafi'iyah perihal jumlah rukun shalat : 13 14 15 17 18 19 23 Angka-angka unik tersebut adalah merujuk pada penjelasan Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi : 
فصل في بيان أركان الصلاة أركان الصلاة سبعة عشر وهذه طريقة من جعل الطمأنينات في محالها الأربع أركاناً مستقلة كما في الروضة، وعدها بعضهم ثمانية عشر بزيادة نية الخروج من الصلاة كأبي شجاع والصحيح أنها سنة، وعدها بعضهم كذلك أيضاً لكن لا بما ذكر بل بزيادة الموالاة كما في الستين، والمعتمد أنها شرط للركن، وعدها بعضهم أربعة عشر بجعل الطمأنينات في محالها الأربع ركناً واحداً لاتحاد جنسها، وبعضهم خمسة عشر بزيادة قرن النية بالتكبير كما في التحرير والمعتمد أنها هيئة للنية، ومنهم من جعلها تسعة عشر بجعل الخشوع ركناً كالغزالي، ومنهم من جعلها عشرين بزيادة ذات المصلى، والصواب أنه لا يعد من الأركان في الصلاة لأن لها صورة في الخارج يمكن تعقلها وتصورها بدون تعقل مصلَ وفارقت نحو الصوم حيث عدوا الصائم ركناً بعدم وجود صورة محسوسة في الخارج فيه، وعد بعضهم فقد الصارف من الأركان، وعلى عد هذه الزوائد أركاناً تكون جملتها ثلاثة وعشرين، والمعتمد ما في المنهاج وغيره من جعلها ثلاثة عشر بجعل الطمأنينة هيئة تابعة للركن
“Rukun shalat ada 17. Ini adalah thariqah dengan menjadikan thumaninah-thumaninah pada tempatnya yang 4 sebagai 4 rukun yang independent, sebagaimana bilangan dalam kitab Ar-Raudhah. Sebagian Ulama Madzhab Syafi’I menjadikan bilangannya 18 dengan menambahkan Niat Al-Khuruj Min Ash-Shalat (niat keluar dari shalat), sebagaimana Imam Abi Suja Al-Ashfahani. Menurut Qaul Ash-Shahih Niat Al-Khuruj Min Ash-Shalat adalah sunat. Sebagian Ulama Madzhab Syafi’I menjadikan bilangannya seperti itu (18) juga tapi bukan dengan menambahkan Niat Al-Khuruj Min Ash-Shalat (niat keluar dari shalat) melainkan dengan menambahkan Al-Muwalah, sebagaimana bilangan dalam kitab As-Sittiin. Menurut Qaul Al-Mu’tamad sesungguhnya Al-Muwalah adalah Syarat terhadap Rukun. Sebagian Ulama Madzhab Syafi’I menjadikan bilangannya 14 dengan menjadikan thumaninah-thumaninah pada tempatnya yang 4 sebagai 1 rukun dikarenakan 1 jenisnya. Sebagian Ulama Madzhab Syafi’I menjadikan bilangannya 15 dengan menambahkan Qarn An-niyat bi At-takbir (Muqaranah niat dengan takbir), sebagaimana pada kitab At-Tahrir. Menurut Qaul Al-Mu’tamad sesungguhnya Qarn An-niyat bi At-takbir adalah hai’at untuk rukun niat. Sebagian Ulama Madzhab Syafi’I ada Ulama menjadikan bilangannya 19 dengan menjadikan Al-Khusyu’ sebagai 1 rikun, seperti Imam Al-Ghazali. Sebagian Ulama Madzhab Syafi’I ada Ulama yang menjadikan bilangannya 20 dengan menambahkan dzat Al-Mushalli (orang yang shalat). Menurut Qaul Ash-Shawwab sesungguhnya dzat Al-Mushalli adalah tidak dihitung sebagai rukun dalam shalat, karena untuk shalat ada Shurah fi Al-Kharij yang memungkinkan ta’aqqulnya dan tashawwurnya dengan tanpa menta’aqqulkan keberadaan dzat Al-Mushalli. Perihal shalat ini tidak menyamai perihal seumpama Shaum dalam hal para ulama menghitung Ash-Sha’im sebagai 1 rukun dengan ketiadaan wujud shurah al-mahsusah fi Al-Kharij dalam permasalan shaum. Sebagian Ulama Madzhab Syafi’I menghitung Faqd Ash-Sharif termasuk Rukun Shalat. Dengan menghitung semua tambahan sebagai rukun-rukun, maka jumlahnya menjadi 23. Qaul Al-Mu’tamad tentang jumlah rukun shalat adalah bilangan yang terdapat dalam kitab Al-Minhaj Ath-Thalibin dan lainnya yaitu menjadikan bilangannya 13 dengan menjadikan thumaninah sebagai hai’at tabi’at li ar-rukn.” [1]
Dari penjelasan Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi ini dapat difahami bahwa selain 17 rukun yang dicantumkan oleh Syaikh Salim Al-Hadhromi, ada 6 lagi yang statusnya diikhtilafkan oleh sesama Ulama Syafi'iyah, yaitu :
  1. Khusyu’ (Kitab Imam Ghazali)
  2. Qarn An-Niyat Bi At-takbiri (Kitab At-Tahrir) Menurut Qaul Al-Mu’tamad yang ini bukanlah rukun, melainkan Hai’at Li An-Niyat / perilaku bagi niat.
  3. Niat khuruj dari shalat (Kitab Matn Abu Suja) Menurut Qaul Ash-Shahih yang ini bukanlah rukun melainkan sunat
  4. Muwalah (Kitab As-Sittiin) Menurut Qaul Mu’tamad yang ini bukanlah rukun melainkan syart li ar-rukn / syarat bagi rukun.
  5. Mushalli. Menurut Qaul Ash-Shawab yang ini bukanlah rukun pada shalat, karena shalat memiliki shurah fil kharij yang memungkinkan kita dapat memikirkannya dan mentashawwurkannya tanpa memikirkan keberadaan mushalli di dalamnya
  6. Faqda Ash-Sharif an al-arkan (tidak adanya yang membelokan dari rukun-rukun)
Berdasarkan penjelasan Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi tersebut juga dapat difahami bahwa perbedaan angka yang terdapat dalam madzhab Imam Asy-Syafi’I mengerucut ke angka 13, 14 dan 17. Dengan perbedaan sebagai berikut :
  • Jika menyebutnya 13 rukun. Semua thumaninah diposisikan sebagai hai’at li ar-rukn (perilaku rukun) yang 4 yaitu : ruku’, I’tidal, sujud 2 dan duduk antara sujud 2. Tapi sekalipun tidak diposisikan sebagai rukun-rukun yang independent, thumaninah-thumaninah tersebut tetap wajib dilakukan sebagai hai’at penyempurna rukun-rukun tersebut. Jadi tidak ada yang namanya rukun thumaninah. Kitab fiqih syafi’iyah yang menghitungnya menjadi 13 rukun antara lain : Minhaj Ath-Thalibin milik Imam Muhyiddin Abi Zakaria Yahya An-Nawawi dan Al-Muharror milik Imam Abu Al-Qasim Abd Al-Karim Ar’Rafi’I.
  • Jika menyebutnya 14 rukun. Semua thumaninah pada 4 rukun dimerger menjadi 1 rukun gabungan yang independent karena jenisnya sama sekalipun tempatnya berbeda, yaitu pada masing-masing dari 4 rukun tersebut. Jadi thumaninah ruku + thumaninah I’tidal + thumaninah sujud 2 + thumaninah duduk antara sujud 2 = rukun thumaninah pada ruku, I’tidal, sujud 2 dan duduk antara sujud 2. Salah satu kitab fiqih syafi’iyah popular yang menghitungnya menjadi 14 rukun adalah kitab Qurrah Al-‘Ain milik Syaikh Zainuddin Al-Malibari.
  • Jika menyebutnya 17 rukun. Semua thumaninah pada 4 rukun dijadikan rukun yang independent pada tempatnya masing-masing, bahkan diposisikan sebagai jati diri yang terpisah dari tempatnya masing-masing tersebut : Rukunya 1 rukun, thumaninah rukunya 1 rukun. I’tidalnya 1 rukun, thumaninah I’tidalnya 1 rukun. Sujud 2 dihitung 1 rukun, thumaninah sujud 2 nya dihitung 1 rukun. Duduk antara sujud 2 nya 1 rukun, thumaninah duduknya dihitung 1 rukun. Kitab fiqih syafi’iyah yang menghitungnya 17 rukun antara lain : Ar-Raudhah milik Imam Muhyiddin Abi Zakaria An-Nawawi dan Safinah An-Naja milik Syaikh Salim Al-Hadhrami.
Dari 3 jalan cara menghitung rukun shalat tersebut, yang paling popular adalah yang 13 dan 17. Tapi baik 13 maupun 17 keduanya merujuk pada 2 kitab rujukan utama dalam Madzhab Imam Syafi’I dengan pengarang yang sama, yaitu :
  • 17 merujuk ke Kitab Ar-Raudhah Milik Imam Muhyiddin Abi Zakariya Yahya An-Nawawi : 
فَالْأَرْكَانُ الْمُتَّفَقُ عَلَيْهَا، سَبْعَةَ عَشَرَ : النِّيَّةُ، وَالتَّكْبِيرُ، وَالْقِيَامُ، وَالْقِرَاءَةُ، وَالرُّكُوعُ، وَالطُّمَأْنِينَةُ فِيهِ، وَالِاعْتِدَالُ، وَالطُّمَأْنِينَةُ فِيهِ، وَالسُّجُودُ، وَالطَّمَأْنِينَةُ فِيهِ، وَالْجُلُوسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ وَالطُّمَأْنِينَةُ فِيهِ، وَالْقُعُودُ فِي آخِرِ الصَّلَاةِ، وَالتَّشَهُّدُ فِيهِ، وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ وَالسَّلَامُ، وَتَرْتِيبُهَا هَكَذَا
“Maka adapun rukun-rukun yang disepakati adalah 17 : Niat, takbir (ihrom), berdiri (bagi yang mampu), qiro'at (Al-Fatihah), ruku, thumaninah pada ruku, i'tidal, thumaninah pada i'tidal, sujud, thumaninah pada sujud, duduk antara 2 sujud, thumaninah pada duduk antara 2 sujud, duduk pada akhir shalat, tasyahhud pada duduk akhir shalat, shalawat kepada Nabi SAW pada duduk akhir shalat, salam, tertib seperti ini” [2]
  • 13 merujuk ke Kitab Minhaj Ath-Thalibin Wa Umdah Al-Muftin Milik Imam Muhyiddin Abi Zakariya Yahya An-Nawawi : 

 ﺃﺭﻛﺎﻧﻬﺎ ﺛﻼﺛﺔ ﻋﺸﺮ: اﻟﻨﻴﺔ الخ اﻟﺜﺎﻧﻲ: ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ اﻹﺣﺮاﻡ الخ اﻟﺜﺎﻟﺚ: اﻟﻘﻴﺎﻡ ﻓﻲ ﻓﺮﺽ اﻟﻘﺎﺩﺭ الخ اﻟﺮاﺑﻊ: اﻟﻘﺮاءﺓ الخ اﻟﺨﺎﻣﺲ: اﻟﺮﻛﻮﻉ ﻭﺃﻗﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﻨﺤﻨﻲ ﻗﺪﺭ ﺑﻠﻮﻍ ﺭاﺣﺘﻴﻪ ﺭﻛﺒﺘﻴﻪ ﺑﻄﻤﺄﻧﻴﻨﺔ الخ اﻟﺴﺎﺩﺱ: اﻻﻋﺘﺪاﻝ ﻗﺎﺋﻤﺎ ﻣﻄﻤﺌﻨﺎ الخ اﻟﺴﺎﺑﻊ: اﻟﺴﺠﻮﺩ الخ ﻭﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﻳﻄﻤﺌﻦ الخ اﻟﺜﺎﻣﻦ: اﻟﺠﻠﻮﺱ ﺑﻴﻦ ﺳﺠﺪﺗﻴﻪ ﻣﻄﻤﺌﻨﺎ الخ اﻟﺘﺎﺳﻊ ﻭاﻟﻌﺎﺷﺮ ﻭاﻟﺤﺎﺩﻱ ﻋﺸﺮ: اﻟﺘﺸﻬﺪ ﻭﻗﻌﻮﺩﻩ ﻭاﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ الخ اﻟﺜﺎﻧﻲ ﻋﺸﺮ: اﻟﺴﻼﻡ الخ اﻟﺜﺎﻟﺚ ﻋﺸﺮ: ﺗﺮﺗﻴﺐ اﻷﺭﻛﺎﻥ ﻛﻤﺎ ﺫﻛﺮﻧﺎ الخ

“Rukun shalat adalah 13 : Niat dst.., 2) Takbirotul ihrom dst..., 3) Berdiri pada shalat fardhu bagi yang mampu dst..., 4) Qiro'at Fatihah dst..., 5) Ruku. Minimalnya dia membungkuk seukuran sampainya dua telapak tangannya terhadap 2 lututnya dengan thumaninah dst..., 6) I'tidal dalam keadaan berdiri dan berthumaninah dst..., 7) Sujud dst..., dan dia wajib berthumaninah dst..., 8) Duduk antara dua sujudnya dalam keadaan berthumaninah dst..., 9) 10) 11) Tasyahud akhir, Duduk tasyahud akhir dan Shalawat kepada Nabi SAW dst..., 12) Salam pertama dst..., 13) Menertibkan rukun-rukun sebagaiman yang telah kami sebutkan dst...,” [3]
Kok bisa begitu yah? Usut punya usut, ternyata maksudnya secara hukum sama saja, hanya beda cara penyampaiannya. Sehingga mempengaruhi jumlah hitungan kumulatif. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami : 

أَرْكَانُهَا ثَلَاثَةَ عَشَرَ بِنَاءً عَلَى أَنَّ الطُّمَأْنِينَةَ فِي مَحَالِّهَا الْأَرْبَعَةِ صِفَةٌ تَابِعَةٌ لِلرُّكْنِ وَيُؤَيِّدُهُ مَا يَأْتِي فِي بَحْثِ التَّقَدُّمِ وَالتَّأَخُّرِ عَلَى الْإِمَامِ وَفِي الرَّوْضَةِ سَبْعَةَ عَشَرَ بِنَاءً عَلَى أَنَّهَا رُكْنٌ مُسْتَقِلٌّ أَيْ بِالنِّسْبَةِ لِلْعَدِّ لَا لِلْحُكْمِ فِي نَحْوِ التَّقَدُّمِ الْمَذْكُورِ

“Rukun shalat adalah 13 dengan memposisikan berdasarkan bahwasanya thumaninah pada tempatnya yang 4 sebagai sifat tabi’at lil ar-rukn, dan menguatkan pada penempatan posisi ini hukum yang datang pada permasalahan taqaddum & ta’akhkhur terhadap imam. Dan dalam kitab Ar-Raudhah adalah 17 dengan memposisikan bahwasanya thumaninah adalah rukun yang mustaqil, maksudnya dengan dinisbatkan pada hitungan bukan dinisbatkan terhadap hukum pada seumpama permasalahan taqaddum yang telah disebutkan [4]
Sebagaimana juga penjelasan Syaikh Jalaluddin Al-Mahalli : 

أَرْكَانُهَا ثَلَاثَةَ عَشَرَ وَفِي الرَّوْضَةِ سَبْعَةَ عَشَرَ عُدَّ مِنْهَا الطُّمَأْنِينَةُ فِي مَحَالِّهَا الْأَرْبَعَةِ مِنْ الرُّكُوعِ وَمَا بَعْدَهُ أَرْكَانًا وَجَعَلَهَا هُنَا كَالْجُزْءِ مِنْ ذَلِكَ، وَهُوَ اخْتِلَافٌ فِي اللَّفْظِ دُونَ الْمَعْنَى

"Rukun Shalat jumlahnya adalah 13. Dan dalam kitab Ar-Raudhah jumlahnya adalah 17, thumaninah pada tempatnya yang 4 yaitu ruku dsb dihitung sebagai rukun-rukun. Dan Imam Muhyiddin An-Nawawi menjadikan thumaninah pada kitab Minhaj ini bagaikan sebuah juz dari rukun. Dan itu merupakan ikhtilaf pada lafadz bukan pada makna.” [5] 
Imam Syihabuddin Al-Qalyubi mempertegas penjelasan Syaikh Jalaluddin Al-Mahalli tentang redaksi "bagaikan 1 juz" : 

قَوْلُهُ: (كَالْجُزْءِ) أَيْ بِدَلِيلِ عَدَمِ اعْتِبَارِهَا رُكْنًا فِي التَّقَدُّمِ وَالتَّأَخُّرِ

"Redaksi Syaikh Jalaluddin Al-Mahalli bagaikan satu juz : dengan dalil tidak dihitungnya thumaninah sebagai rukun pada permasalahan taqaddum & ta’akhkhur.” [6] 
Tapi yang menjadi Qaul Mu’tamad dalam Madzhab Syafi’I adalah yang 13, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi : 
والمعتمد ما في المنهاج وغيره من جعلها ثلاثة عشر بجعل الطمأنينة هيئة تابعة للركن
“Qaul Al-Mu’tamad tentang jumlah rukun shalat adalah bilangan yang terdapat dalam kitab Al-Minhaj Ath-Thalibin dan lainnya yaitu menjadikan bilangannya 13 dengan menjadikan thumaninah sebagai hai’at tabi’at li ar-rukn.”[1] 
Sumber
[1] Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kasyifah As-Saja fi Syarh Safinah An-Naja Halaman 50 [2] Imam Muhyiddin Abi Zakaria Yahya An-Nawawi, Ar-Raudhah Jilid 1 Halaman 223 [3] Imam Muhyiddin Abi Zakariya Yahya An-Nawawi, Minhaj Ath-Thalibin Halaman 25-29 [4] Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfah Al-Muhtaj fi Syarh Minhaj Ath-Thalibin Juz 2 Hal 3 [5] Syaikh Jalaluddin Al-Mahalli, Syarh Al-Mahalli Ala Al-Minhaj / Hasyiyah Al-Qalyubi wa Umairah Ala Syarh Al-Mahalli Ala Al-Minhaj Juz 1 Hal 139. [6] Imam Syihabuddin Al-Qalyubi, Hasyiyah Al-Qalyubi wa Umairah Juz 1 Hal 140

Rabu, 13 Juli 2022

Wajibkah Niat Dibersamakan Dengan Takbirotul Ihrom - 4 Madzhab : Syafi'i, Hanafi, Maliki, Hanbali

Fiqih 4 Madzhab : Wajibkah niat dibersamakan dengan takbirotul ihrom? Ya, Wajib Menurut Madzhab Syafi’i. Adapun Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki dan Madzhab Hanbali berpendapat bahwa niat tidak wajib dibersamakan dengan takbirotul ihrom dan sah diawalkan beberapa saat sebelum takbirotul ihrom. Akan tetapi :
  • Hanafiyah dan Hanabilah kompak menyatakan bahwa yang afdhal adalah niat dibersamakan dengan takbirotul ihrom. 
  • Sebagian Malikiyah (pendapat kedua) menyatakan tidak sah niat didahulukan dari takbirotul ihrom secara muthlaq.

اتفق ثلاثة من الأئمة، وهم المالكية، والحنفية؛ والحنابلة: على أن يصح أن تتقدم النية على تكبيرة الإحرام بزمن يسير، وخالف الشافعية، فقالوا: لا بد من أن تكون النية مقارنة لتكبيرة الإحرام، بحيث لو فرغ من تكبيرة الإحرام بدون نية بطلت
"Ittifaq 3 dari 4 imam, yaitu : Malikiyah, Hanafiyah dan Hanabilah pada bahwasanya sah niat mendahului terhadap takbirotul ihrom dengan durasi yang pendek. Syafi'iyah mengkhilafi, kemudian mereka berkata : tidak boleh tidak keadaan niat dibersamakan terhadap takbirotul ihrom. Sekira jika beres dari takbirotul ihrom tanpa niat, maka batal niatnya." [Syaikh Abdurrohman Jabir Al-Jaza'iri, Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba’ah Juz 1 Hal 196-197]

Kok bisa beda yah? Akar masalah khilafiyah pada permasalahan ini adalah karena niat dalam Madzhab Syafi’i termasuk fardh min fara’idh ash-shalat atau istilah lainnya rukn min arkan ash-shalat, sedangkan dalam 3 madzhab lain niat termasuk syarth min syara’ith ash-shalat. Nah, oleh karena dalam madzhab Syafi’i termasuk rukun maka niat tersebut merupakan bagian dari hakikat shalat. Oleh karena merupakan bagian dari hakikat shalat, maka waktu pelaksanaannya harus ada pada momentum shalat. Momentum shalat berdasarkan definisi shalat ada semenjak memulai takbirotul ihrom, karena shalat itu " مُفْتَتَحَةٌ بِالتَّكْبِيْرِ / muftatahatun bittakbiiri / dibuka dengan takbir"  sampai  salam pertama karena shalat itu "مُخْتَتَمَةٌ بِالتَّسْلِيْمِ / mukhtatamatun bittasliimi / ditutup dengan salam". Sudah faham belum? Untuk lebih jelasnya, silahkan dibaca sampai tuntas!

Madzhab Syafi’I

Berikut ini adalah penjelasan para Ulama Fiqih Syafi’iyah :

الأمّ للإمام محمد بن إدريس الشافعي ج ١ ص ١٢١ (قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَالنِّيَّةُ لَا تَقُومُ مَقَامَ التَّكْبِيرِ وَلَا تَجْزِيهِ النِّيَّةُ إلَّا أَنْ تَكُونَ مَعَ التَّكْبِيرِ لَا تَتَقَدَّمُ التَّكْبِيرَ وَلَا تَكُونُ بَعْدَهُ

المحرر للإمام أبي القاسم عبد الكريم الرفعي ص ٣١ ويجب أن تكون النية مقارنة للتكبير فلو نوى وغفل عنها قبل التكبير لم يجز وكذلك لو اقترنت بأول التكبير ولم يدمها الى تمام التكبير في أظهر الوجهين ويتبين بهذا أن النية المعتبرة تتعلق بالقلب والنطق باللسان قبيل التكبير محبوب

المنهاج الطالبين وعمدة المفتين ص ٩٦ ﻭﻳﺠﺐ ﻗﺮﻥ اﻟﻨﻴﺔ ﺑﺎﻟﺘﻜﺒﻴﺮﺓ ﻭﻗﻴﻞ: ﻳﻜﻔﻲ ﺑﺄﻭﻟﻪ

نهاية المحتاج الى شرح المنهاج ج ١ ص ٤٦٤-٤٦٥ (وَيَجِبُ قَرْنُ النِّيَّةِ بِالتَّكْبِيرِ) أَيْ بِجَمِيعِ تَكْبِيرِ التَّحَرُّمِ لِأَنَّهُ أَوَّلُ أَفْعَالِ الصَّلَاةِ فَوَجَبَ مُقَارَنَتُهَا بِذَلِكَ كَالْحَجِّ وَغَيْرِهِ، إلَّا الصَّوْمُ لِمَا مَرَّ بِأَنْ يَسْتَحْضِرَ فِي ذِهْنِهِ ذَاتَ الصَّلَاةِ وَمَا يَجِبُ التَّعَرُّضُ بِهِ مِنْ صِفَاتِهَا، ثُمَّ يَقْصِدَ فِعْلَ ذَلِكَ الْمَعْلُومِ وَيَجْعَلُ قَصْدَهُ هَذَا مُقَارِنًا لِأَوَّلِ التَّكْبِيرِ وَلَا يَغْفُلُ عَنْ تَذَكُّرِهِ حَتَّى يُتِمَّ تَكْبِيرَهُ وَلَا يُجْزِيهِ تَوْزِيعُهُ عَلَيْهِ، فَلَوْ عَزَبَتْ قَبْلَ تَمَامِهِ لَمْ تَصِحَّ صَلَاتُهُ لِأَنَّ النِّيَّةَ مُعْتَبَرَةٌ فِي الِانْعِقَادِ، وَلَا يَحْصُلُ إلَّا بِتَمَامِ التَّكْبِيرَةِ، وَظَاهِرُ كَلَامِهِمْ أَنَّهُ يُشْتَرَطُ مُقَارَنَةُ النِّيَّةِ لِلْجَلِيلِ مَثَلًا لَوْ قَالَ اللَّهُ الْجَلِيلُ أَكْبَرُ وَهُوَ مَا بَحَثَهُ صَالِحُ الْبُلْقِينِيُّ قَالَ: وَإِلَّا لَصَدَقَ أَنَّهُ تَخَلَّلَ فِي التَّكْبِيرِ عَدَمُ الْمُقَارَنَةِ، لَكِنَّ الْمُعْتَمَدَ كَمَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ - رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى - خِلَافُهُ، وَأَنَّ كَلَامَهُمْ خَرَجَ مَخْرَجَ الْغَالِبِ مِنْ عَدَمِ زِيَادَةِ شَيْءٍ بَيْنَ لَفْظَيْ التَّكْبِيرِ، فَلَا دَلَالَةَ لَهُ عَلَى اشْتِرَاطِ الْمُقَارَنَةِ فِيمَا عَدَا لَفْظَيْ التَّكْبِيرِ نَظَرًا لِلْمَعْنَى، إذْ الْمُعْتَبَرُ اقْتِرَانُهَا بِاللَّفْظِ الَّذِي يَتَوَقَّفُ الِانْعِقَادُ عَلَيْهِ وَهُوَ اللَّهُ أَكْبَرُ فَلَا يُشْتَرَطُ اقْتِرَانُهَا بِمَا تَخَلَّلَ بَيْنَهُمَا، وَلَمَّا كَانَ الزَّمَنُ يَسِيرًا لَمْ يَقْدَحْ عُزُوبُهَا بَيْنَهُمَا لِشَبَهِهِ بِسَكْتَةِ التَّنَفُّسِ وَالْعِيِّ، وَلَا يَجِبُ اسْتِصْحَابُهَا بَعْدَ التَّكْبِيرِ لِلْعُسْرِ لَكِنَّهُ يُسَنُّ (وَقِيلَ يَكْفِي) قَرْنُهَا (بِأَوَّلِهِ) وَلَا يَجِبُ اسْتِصْحَابُهَا إلَى آخِرِهِ وَقِيلَ يَجِبُ بَسْطُهَا عَلَيْهِ

المنهاج القويم شرح المقدمة الحضرمية للإمام إبن حجر الهيتامي ص ٨٧ "ويجب قرن النية" المشتملة على جميع ما يعتبر فيها من قصد الفعل أو والتعيين أو والفرضية أو والقصر في حق المسافر أو والإمامة أو والمأمومية في الجمعة "بالتكبيرة" التي للإحرام وذلك بأن يستحضر في ذهنه ذلك ثم يقصد إلى فعل هذا المعلوم، ويجعل قصده هذا مقارنًا لأول التكبير، ولا يغفل عن تذكره حتى يتم التكبير، ولا يكفي توزيعه عليه بأن يبتدئه من ابتدائه وينهيه مع انتهائه لما يلزم عليه من خلو معظم التكبير الذي هو أول أفعال الصلاة عن تمام النية، واختار النووي وغيره كابن الرفعة والسبكي تبعًا للغزالي وإمامه أنه يكفي المقارنة العرفية عن العوام بحيث يعد مستحضرًا للصلاة

  • "Niat tidak menempati posisi takbirotul Ihrom. Niat tidak menjadikan takbiratul ihram tercukupi, kecuali niat keberadaannya menyertai takbirotul ihrom. Niat tidak mendahului takbiratul ihrom. Niat juga tidak berada setelah takbirotul ihrom" [Imam Syafi’I, Al-Umm Juz 1 Hal 121]
  • "Dan wajib keberadaan niat dibersamakan dengan takbirotul ihrom. Maka jika mushalli berniat dan ghaflah perihal niat sebelum takbirotul ihrom, tidak cukup. Begitu juga tidak cukup jika niat dibersamakan dengan takbir dan tidak dikontinyukan sampai sempurnanya takbirotul ihrom menurut jalan madzhab yang paling dzahir" [Imam Ar-Rafi’I, Al-Muharror Hal 31]
  • "Dan wajib membersamakan niat dengan takbirotul ihrom. Dan Qiila/Dikatakan : Cukup dibersamakan dengan awal takbirotul ihrom." [Imam Muhyiddin An-Nawawi, Minhaj Ath-Thalibin Hal 96]
  • "Wajib membersamakan niat dengan takbirotul ihrom. Maksudnya : dengan seluruh takbirotul ihrom, karena takbirotul ihrom merupakan awal af’al shalat. Maka wajib membersamakan niat dengannya sepertihalnya ibadah haji dan selainnya kecuali shaum, dengan cara : mushalli menghadirkan dzatiyah shalat dan perkara yang wajib dita’arudhkan dari antara sifat-sifat shalat di dalam hatinya, kemudian bermaksud mengerjakan yang sudah dimaklum tersebut dan menjadikan maksudnya ini dibersamakan pada awal takbirotul ihrom, dan tidak boleh ghaflah dari mengingat maksud tersebut sampai sempurna takbirotul ihromnya, dan tidak cukup kepada mushalli pembagiannya atas maksud tersebut, maka apabila terjadi kekosongan niat sebelum sempurna takbirotul ihrom, maka tidak sah shalatnya, karena niat diperhitungkan dalam hal in’iqad/jadinya, dan itu tidak akan dapat dihasilkan kecuali dengan sempurna takbirotul ihrom…….. yang dijadikan perhitungan adalah iqtironnya dengan lafadz takbirotul ihrom yang in’iqod takbirotul ihrom tawaquf kepada lafadz tersebut, yaitu lafadz Allahu Akbar. Maka tidak disyaratkan iqtiron pada lafadz yang takhallul antara lafadz Allah dan lafadz Akbar. Dan Qiila/Dikatakan : cukup membersamakan dengan awal takbirotul ihrom dan tidak wajib menyertakannya sampai akhir takbirotul ihrom, dan qiila/dikatakan : wajib mengkaretkannya sampai akhir." [Imam Ramli, Nihayah Al-Muhtaj Ila Syarh Minhaj Ath-Thalibin Juz 1 Hal 464-465]
  • "Wajib membersamakan niat (yang meliputi terhadap seluruh perkara yang mu'tabar pada niat yaitu : qashdul fi'li, ta'yin, fardhiyah, qashar di hak seorang musafir, imamah dan ma'mumiyah pada shalat jum'at) terhadap takbirotul ihrom. Dan itu caranya adalah dengan : mushalli menghadirkan di dalam hatinya perkara yang mu'tabar pada niat -> kemudian bermaksud untuk melakukan semua yang sudah dima'lum tersebut dan menjadikan maksudnya ini dibersamakan terhadap awal takbirotul ihrom serta tidak boleh ghaflah dari mengingatnya sampai sempura takbirotul ihrom. Tidak mencukupkan kepadanya membagi-bagi komponen redaksi al-maqshud (alias perkara yang mu'tabar pada niat), dengan cara : dia mulai mengungkapkan al-maqshud dari permulaan takbir dan mengakhiri pengungkapannya beserta akhir takbirotul ihrom, karena dengan cara itu mesti kepadanya dari terdapat kekosongan pada sebagian besar durasi takbir yang itu adalah merupakan awal perbuatan-perbuatan shalat (kosong) dari kesempurnaan niat. Imam Muhyiddin An-Nawawi dan yang lainnya seperti : Imam Ibnu Rif'ah dan Imam As-Subki secara itba' kepada Imam Al-Ghazali dan Gurunya menjadikan Qaul Al-Mukhtar terhadap bahwasanya cukup al-muqoronah al-urfiyah (praktek pembersamaan secara kebiasaan) dari orang-orang awam sekira itu diperhitungkan sebagai mustahdhiron lishshalat (menghadirkan hati untuk shalat)." [Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, Minhaj Al-Qawim Hal 87]

Madzhab Hanafi

الحنفية قالوا: يصح أن تتقدم النية على تكبيرة الإحرام بشرط أن لا يفصل بينهما فاصل أجنبي عن الصلاة، كالأكل والشرب والكلام الذي تبطل به الصلاة؛ أما الفاصل المتعلق بالصلاة، كالمشي لها؛ والوضوء، فإنه لا يضر، فلو نوى صلاة الظهر مثلاً، ثم شرع في الوضوء، وبعد الفراغ منه مشى إلى المسجد، وشرع في الصلاة ولم تحضره النية؛ فإن صلاته تصح، وقد عرفت مما تقدم أن النية هي إرادة الصلاة لله تعالى وحده؛ بدون أن يشرك معه في ذلك أمراً من الأمور الدنيوية مطلقاً، فمتى نوى هذا، وشرع في الصلاة بدون أن يفصل بين نيته وبينه بعمل أجنبي، فإنه يكون قد أتى بالمطلوب منه، فإذا شرع في الصلاة بهذه النية الصحيحة، ثم دخل عليه شخص، فأطال الصلاة لميدح عنده، فإن ذلك لا يبطل الصلاة ولكن ليس له ثواب هذه الإطالة وإنما له ثواب أصل الصلاة، وذلك لأن نيته كانت خالصة الله تعالى وهذا معنى قول بعض الحنفية؛ إن الصلاة لا يدخلها رياء؛ فإنهم يريدون به أن النية الخالصة تكفي في صحة الصلاة؛ ولا يضر الرياء العارض، على أنه شر لا فائدة منه باتفاق. وهل تصح نية الصلاة قبل وقتها، كأن ينوي الصلاة، ويتوضأ قبل دخول الوقت بزمن يسير، ثم يمشي إلى المسجد بدون أن يتكلم بكلام أجنبي، ويجلس فيه إلى أن يدخل الوقت فيصلي؟ والجواب: أن المنقول عن أبي حنيفة أن النية لا تصح قبل دخول الوقت، وبعضهم يقول: بل تصح لأن النية شرط والشرط يتقدم على المشروط، فتقدم النية طبيعي. هذا، وقد اتفق علماء الحنفية على أن الأفضل أن تكون النية مقارنة لتكبيرة الإحرام بدون فاصل، فعلى مقلدي الحنفية أن يراعوا ذلك، ولا يفصلوا بين التكبيرة وبين النية، لأنه أفضل، ويرفع الخلف
"Hanafiyah berpendapat : Sah Mushalli mendahulukan niat terhadap takbirotul ihrom dengan syarat tidak ada fashilah ajnabiy antara keduanya yang tidak ada kaitannya dengan shalat, seperti : makan, minum dan perkataan yang dengannya dapat membatalkan shalat. Adapun fashilah yang ada kaitannya dengan shalat, seperti : berjalan ke tempat shalat, dan wudhu maka itu laa yadhurru alias tidak menjadi madharat. Contoh kasus :

  • jika mushali berniat untuk shalat dzuhur misalnya
  • kemudian dia syuru’/take on pada pelaksanaan wudhu
  • Setelah selesai wudhu kemudian berjalan ke masjid
  • Kemudian syuru’/take on pada pelaksanaan shalat tanpa mengistihdharkan niat.

Maka shalatnya sah menurut Hanafiyah. Dan anda telah mengetahui dari penjelasan yang telah lalu, bahwasanya niat dalam pandangan Hanafiyah adalah kehendak shalat karena Allah Ta'ala saja, tanpa menyekutukan beserta Allah pada niat shalat terhadap perkara dari urusan-urusan duniawi secara muthlaq. Maka tatkala : 

  • mushalli meniatkannya begini
  • kemudian syuru' pada shalat tanpa adanya fashilah antara niat mushalli dan Allah Ta'ala dengan amaliyah ajnabiy 

maka sesungguhnya mushalli telah mendatangkan terhadap yang diperintahkan dari Allah Ta'ala. Dan jika :

  • Jika dia telah syuru' pada shalat dengan niat yang shahih ini
  • kemudian masuk kepadanya seseorang
  • kemudian dia menunda shalat untuk bercakap dengan seseorang tersebut

Maka sesungguhnya itu tidaklah membatalkan shalat. Akan tetapi tidak ada baginya pahala penundaan ini, dan yang ada baginya hanyalah pahala shalat aslinya (minus penundaan, sekalipun praktek penundaan berada pada durasi pasca niat yang diawalkan). Itu karena sesungguhnya niatnya murni kepada Allah (tidak diniatkan kepada selain Allah, termasuk selain Allah : percakapan yang dadakan tersebut dan orang yang bercakap-cakap dengannya tersebut). Dan ini adalah makna dari klaim sebagian Hanafiyah : sesungguhnya shalat tidak dapat masuk ke dalamnya riya. sesungguhnya maksud mereka dengan itu tadi, bahwasanya niat yang murni mencukupi pada sahnya shalat, dan riya yang baru datang setelah niat yang murni tersebut tidaklah memadharatkan. Berdasarkan bahwasanya riya adalah merupakan satu keburukan yang tidak ada faedah darinya, secara ittifaq.

Dan apakah sah jika niat yang didahulukan sebelum takbirotul ihrom tersebut diniatkan sebelum masuk waktu shalat? Contoh kasus :

  • Seseorang berniat untuk shalat dan bahkan berwudhu beberapa saat sebelum masuk waktu shalat.
  • kemudian dia berjalan menuju masjid tanpa bercakap-cakap mengeluarkan kalam ajnabiy dari mulutnya.
  • kemudian dia duduk di masjid sampai tiba masuknya waktu shalat.
  • kemudian dia shalat.

Nah, dalam hal ini ada 2 pendapat di kalangan Ulama Hanafiyah sebagai jawabannya :

  • Bahwasanya pendapat yang dinuqil dari Imam Abu Hanifah adalah "sesungguhnya niat tidak sah sebelum masuk waktu shalat."
  • Sah menurut sebagian pendapat Ulama Hanafiyah, karena status niat dalam shalat adalah syarat bukan rukun والشرط يتقدم على المشروط / wa asy-syarthu yataqaddamu ala al-masyruuth / dan syarat mendahului terhadap masyruth, maka mendahuluinya niat adalah merupakan tabi'at.

Pada permasalahan ini, Ulama Hanafiyah telah ittifaq terhadap bahwasanya yang lebih utama adalah niat dibersamakan terhadap takbiratul ihram tanpa fashilah. Maka mesti kepada pengikut Hanafiyah untuk waro' terhadap itu, dan jangan membuat fashilah antara niat dan takbirotul ihrom!, karena itulah yang lebih utama dan menghilangkan khilafiyah." [Syaikh Abdurrohman Jabir Al-Jaza'iri, Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba’ah Juz 1 Hal 196-197]

Kesimpulan Hanafiyah : sah niat didahulukan beberapa saat sebelum takbirotul ihrom, akan tetapi yang afdhal adalah dibersamakan. 


Madzhab Hanbali

الحنابلة قالوا: إن النية يصح تقديمها على تكبيرة الإحرام بزمن يسير، بشرط أن ينوي بعد دخول الوقت، كما نقل عن أبي حنيفة، فإذا نوى الصلاة قبل دخول وقتها فإن نيته لا تصح، وذلك لأن النية شرط، فلا يضر أن تتقدم على الصلاة، كما يقول الحنفية، ولكن الحنابلة يقولون: إن الكلام الأجنبي لا يقطع النية، فلو نوى الصلاة، ثم تكلم بكلام خارج عن الصلاة، ثم كبر، فإن صلاته تكون صحيحة، وإنما اشترطوا اللنية دخول الوقت، مراعات لخلاف من يقول: إنها ركن. هذا، والأفضل عندهم أن تكون النية مقارنة لتكبيرة الإحرام، كما يقول الحنفية
"Hanabilah berpendapat : Sesungguhnya niat sah didahulukan beberapa saat sebelum takbiratul ihrom, dengan syarat dia berniat sesudah masuk waktu shalat. Ini sebagaimana juga dinuqil dari sebagian besar pendapat Hanafiyah terutama Imam Abu Hanifah. Oleh karena itu, jika muqallid Madzhab Hanbali berniat untuk shalat sebelum masuk waktu shalat, maka niatnya tidak sah. Itu karena dalam madzhab Hanbali niat adalah syarat bukan rukun. Maka tidak apa-apa didahulukan sebelum shalat, sebagaimana juga pendapat mayoritas Hanafiyah. Akan tetapi Hanbaliyah berpendapat : bahwasanya kalam ajnabiy/perkataan yang tidak ada kaitannya dengan shalat jika diucapkan pada durasi waktu antara niat dan takbirotul ihrom tidak jadi sebab putusnya niat dari shalat. Contoh kasus :

  • Pengikut madzhab Hanbali berniat untuk shalat
  • Sebelum takbirotul ihrom dia mengeluarkan kata-kata yang tidak ada hubungannya dengan shalat
  • Kemudian dia bertakbirotul ihrom

Maka sah shalatnya, menurut Ulama Hanabilah. Adapun yang menjadi sebab bahwa niat disyaratkan harus sudah masuk waktu shalat adalah muroo’atan li khilaafi man yaqulu innaha ruknun = menjaga dari berbeda dengan pendapat madzhab yang mengatakan bahwa niat termasuk rukun (yang dimaksud adalah Syafi’iyah). 

Yang lebih utama di kalangan Hanabilah adalah keberadaan niat dibersamakan terhadap takbirotul ihrom, sepertihalnya pendapat Hanafiyah." [Syaikh Abdurrohman Jabir Al-Jaza'iri, Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba’ah Juz 1 Hal 196-197]

Kesimpulan Hanabilah : sah niat didahulukan beberapa saat sebelum takbirotul ihrom, akan tetapi yang afdhal adalah dibersamakan.

Madzhab Maliki

المالكية قالوا: إن النية يصح أن تتقدم على تكبيرة الإحرام بزمن يسير عرفاً، كما إذا نوى في محل قريب من المسجد، ثم كبر في المسجد ناسياً للنية، وبعض المالكية يقول: إن النية لا يصح تقديمها على تكبيرة الإحرام مطلقاً، فإن تقدمت بطلت الصلاة، ولكن الظاهر عندهم هو القول الأول

"Malikiyah berpendapat : niat sah didahulukan beberapa saat sebelum takbiratul ihrom. Durasi yang disebut sebentar/beberapa saat tersebut mengikuti ukuran sebentar kebiasaaan/uruf. Contoh kasus :

  • Jika pengikut Madzhab Maliki berniat untuk shalat pada tempat yang tidak jauh dari masjid.
  • Kemudian dia langsung takbir ketika sampai di masjid dalam keadaan lupa tidak niat seketika itu.

Maka sah shalatnya menurut sebagian Ulama Malikiyah. 

Sebagian pendapat lagi mengatakan : sesungguhnya niat, tidak sah mendahuluinya terhadap takbirotul ihrom secara muthlaq. Maka jika niat mendahului takbirotul ihrom, batalah shalatnya. Akan tetapi yang dhahir di kalangan Malikiyah adalah pendapat yang pertama." [Syaikh Abdurrohman Jabir Al-Jaza'iri, Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba’ah Juz 1 Hal 196-197]

Kesimpulan Malikiyah : Mendahulukan niat beberapa saat sebelum takbirotul ihrom menurut sebagian ulama Malikiyah itu tidak sah, akan tetapi menurut pendapat yang paling dzohir di kalangan Malikiyah itu sah.

Sunatkah Melisankan Niat Sebelum Takbirotul Ihrom? - 4 Madzhab : Syafi'i, Hanbali, Maliki, Hanafi.

Fiqih 4 Madzhab : Sunatkah Melisankan Niat Sebelum Takbirotul Ihrom? Ya, Sunat Menurut Madzhab Syafi’i. Bagaimana menurut Madzhab Hanafi, Maliki & Hanbali?

Madzhab Syafi’I & Hanbali

Tidak ada ikhtilaf di kalangan Ulama Syafi’iyah, semuanya mengatakan bahwa pengucapan niat sebelum takbirotul ihrom hukumnya sunat. Berikut ini penjelasan 4 Muharrir Madzhab Syafi'i :
  1. “Sesungguhnya niat yang diperhitungkan berhubungan dengan hati, dan adapun mengucapkannya dengan lisan sebelum takbirotul Ihrom hukumnya adalah mahbub.” [Imam Rafi’I, Al-Muharror Hal 31]
  2. “Niat itu dengan hati. Mengucapkan sebelum takbirotul ihrom, yundabu/mandub.” [Imam Nawawi, Minhaj Ath-Thalibin Hal 96]
  3. “Hati adalah tempatnya, maka tidak wajib mengucapkannya.” [Imam Ramli, Nihayah Al-Muhtaj Juz 1 Hal 450]
  4. “Niat itu dengan hati berdasarkan ijma pada bab shalat dan pada bab lain yang niat disyari’atkan di dalamnya. Karena niat adalah qasdhu/maksud, dan maksud itu tidak ada kecuali dengan hati, maka tidak cukup pengucapan dengan lisan disertai ghaflah/tidakhadirhati dan tidak jadi madharat jika yang diucapkan oleh lisan mukhalafah dengan maksud yang ada di dalam hati. Dan yundabu/mandub mengucapkan terhadap perkara yang diniatkan sebelum takbirotul ihrom, supaya lisan menopang hati dan dalam rangka khuruj min khilaf terhadap pendapat ulama yang mewajibkannya sekalipun pendapat mewajibkan pengucapan niat adalah Syadz.” [Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfah Al-Muhtaj Juz 2 Hal 12]
Hanabilah ittifaq dengan Syafi'iyah perihal hukum melisankan niat sebelum takbirotul ihrom, yaitu sunat. Sekalipun perbedaan tetap ada pada aspek lainnya, yaitu pada momentum meniatkannya di dalam hati, dimana Hanabilah tidak mewajibkan membersamakan peniatannya dengan takbirotul ihrom. Berikut ini penjelasan yang kami nuqil dari kitab perbandingan madzhab :
يسن أن يتلفظ بلسانه بالنية، كأن يقول بلسانه أصلي فرض الظهر مثلاً، لأن في ذلك تنبيهاً للقلب، فلو نوى بقلبه صلاة الظهر، ولكن سبق لسانه فقال: نويت أصلي العصر فإنه لا يضر، لأنك قد عرفت أن المعتبر في النية إنما هو القلب، النطق باللسان ليس بنية، وإنما هو مساعد على تنبيه القلب، فخطأ اللسان لا يضر ما دامت نية القلب صحيحة، وهذا الحكم متفق عليه عند الشافعية والحنابلة
"Disunatkan mushalli mentalafudzkan dengan lisannya terhadap niat, seperti dia mengucapkan dengan lisannya أُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ misalnya. Karena sesungguhnya pada itu terdapat tanbih/pengingat bagi hati. Jika dia berniat dengan hatinya terhadap shalat dzuhur, tetapi lisannya keceplosan kemudian dia mengucapkan نَوَيْتُ أُصَلِّي فَرْضَ الْعَصْرِ maka sesungguhnya itu tidak menjadi madharat, karena sesungguhnya anda sudah tahu dari penjelasan sebelumnya bahwasanya yang dijadikan perhitungan pada niat hanyalah hati. Mengucapkan dengan lisan bukanlah niat, hanya saja pengucapan tersebut menjadi pembantu untuk mengingatkan hati. Sehingga kesalahan lisan tidaklah memadharatkan selagi niat di hatinya benar. Hukum ini statusnya muttafaq alaih di kalangan ulama Syafi'iyah dan Hanabilah." [Syaikh Abdurrohman Jabir Al-Jaza'iri, Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba'ah Jilid 1 Halaman 195]

Kesimpulan Syafi'iyah & Hanabilah : Mentalafudzkan / Melisankan niat hukumnya sunat, ittifaq dengan Madzhab Syafi’i. karena itu bisa menjadi tanbihan lil qalbi/pengingat bagi hati.

Loh katanya ittifaq, tidak ada ikhtilaf, tapi kok sebagian mengatakan mahbub, sebagian mengatakan mandub, sebagian mengatakan masnun, sebagian mengatakan tidak wajib. Ini yang benar yang mana sih? Itu semuanya benar, karena dalam Madzhab Syafi’I dan Madzhab Hanbali : sunatmandub dan mustahab merupakan lafadz-lafadz yang berbeda akan tetapi memiliki makna yang sama yaitu "sunat (sebagaimana yang sudah kami bahas sebelumnya)

Madzhab Maliki & Hanafi

المالكية، والحنفية قالوا: إن التلفظ بالنية ليس مشروعاً في الصلاة، الا إذا كان المصلي موسوساً، على أن المالكية قالوا: إن التلفظ بالنية خلاف الأولى لغير الموسوس، ويندب للموسوس. الحنفية قالوا: إن التلفظ بالنية بدعة، ويستحسن لدفع الوسوسة
"Malikiyah dan Hanafiyah berkata : sesungguhnya talaffudz terhadap niat bukanlah yang disyari'atkan pada shalat, kecuali jika keadaan mushalli adalah orang yang was-was. Berdasarkan bahwasanya Malikiyah berkata : sesungguhnya talaffudz terhadap niat adalah khilaful aula bagi selain orang yang was-was, dan dimandubkan bagi orang yang was-was. Hanafiyah berkata : sesungguhnya talaffudz terhadap niat adalah bid'ah dan yustahsan karena dapat menolak was-was." [Syaikh Abdurrohman Jabir Al-Jaza'iri, Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba'ah Jilid 1 Halaman 195]

Kesimpulan Malikiyah : Mentalafudzkan / Melisankan niat tidak disyari’atkan pada shalat, hukum asalnya khilaful aula. Kecuali jika kondisi mushalli adalah orang yang was-was. Jika mushalli orang yang berpenyakit was-was maka hukumnya mandub.

Kesimpulan Hanafiyah : Mentalafudzkan / Melisankan niat tidak disyari’atkan pada shalat, hukum asalnya bid’ah. Kecuali jika kondisi mushalli adalah orang yang was-was. Jika mushalli orang was-was maka hukumnya yustahsan.

Selasa, 12 Juli 2022

Telunjuk Tasyahhud 4 Madzhab

Berikut ini perilaku telunjuk pada saat tasyahhud menurut Ulama Fiqih 4 Madzhab : Syafi'i, Hanafi, Maliki, Hanbali. 

Telunjuk Madzhab Hanafi

الحنفية قالوا: يشير بالسبابة من يده اليمنى فقط، بحيث لو كانت مقطوعة أو عليلة لم يشر بغيرها من أصابع اليمنى، ولا اليسرى عند انتهائه من التشهد، بحيث يرفع سبابته عند نفي الألوهية عما سوى الله تعالى بقوله: لا إله إلا الله، ويضعها عند إثبات الألوهية لله وحده بقوله: إلا الله، فيكون الرفع إشارة إلى النفي، والوضع إلى الإثبات
Hanafiyah berkata : mushalli berisyarat dengan telunjuk dari tangannya yang kanan saja, dengan sekira jika terbukti telunjuknya diputus atau sakit maka dia tidak berisyarat dengan selainnya dari jari-jari tangan kanan dan tidak juga tangan kiri ketika selesai dari tasyahhud, dengan sekira dia mengangkat telunjuknya ketika menafikan ketuhanan dari selain الله تعالى dengan ucapannya لا إله إلا الله, dan meletakannya ketika menetapkan ketuhanan kepada ألله saja dengan ucapannya إلا الله, maka status pengangkatan adalah isyarat terhadap penafian dan peletakan terhadap penetapan. [Syaikh Abdurrohman Jabir Al-Jaza'iri, Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba'ah Jilid 1 Halaman 239]

Telunjuk Madzhab Maliki

المالكية قالوا: يندب في حالة الجلوس للتشهد أن يعقد ما عدا السبابة والإبهام تحت الإبهام من يده اليمنى؛ وأن يمد السبابة والإبهام، وأن يحرك السبابة دائماً يميناً وشمالاً تحريكاً وسطاً
Malikiyah berkata : di-mandub-kan pada haliyah duduk tasyahhud mushalli mengikat jari selain telunjuk dan ibu jari di bawah ibu jari dari tangannya yang kanan, dan memanjangkan telunjuk dan ibu jari, dan menggerak-gerakan telunjuk selamanya ke kanan dan ke kiri dengan gerakan pertengahan. [Syaikh Abdurrohman Jabir Al-Jaza'iri, Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba'ah Jilid 1 Halaman 239]

Telunjuk Madzhab Hanbali

الحنابلة قالوا: يعقد الخنصر والبنصر من يده، ويحلق بإبهامه مع الوسطى، ويشير بسبابته في تشهد ودعائه عند ذكر لفظ الجلالة، ولا يحركها
Hanabilah berkata : mushalli mengikat jari kelingking dan jari manis dari tangannya, dan melingkarkan terhadap ibu jarinya beserta jari tengahnya, dan berisyarat dengan telunjuknya pada tasyahhud dan doanya ketika menyebutkan lafadz الله, dan tidak menggerak-gerakannya. [Syaikh Abdurrohman Jabir Al-Jaza'iri, Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba'ah Jilid 1 Halaman 240]

Telunjuk Madzhab Syafi'i

الشافعية قالوا: يقبض جميع أصابع يده اليمنى في تشهده إلا السبابة، وهي التي تلي الإبهام، ويشير بها عند قوله إلا الله، ويديم رفعها بلا تحريك إلى القيام في التشهد الأول، والسلام في الشهد الأخير، ناظراً إلى السبابة في جميع ذلك، والأفضل قبض الإبهام بجنبها، وأن يضعها على طرف راحته
Syafi'iyah berkata : mushalli mengepalkan seluruh jari-jari tangannya yang kanan pada tasyahhudnya kecuali telunjuk, telunjuk yaitu yang menyandingi ibu jari, dan mushalli berisyarat dengannya ketika ucapannya إلا الله, dan mendawamkan pengangkatannya dengan tidak menggerak-gerakannya sampai berdiri pada tasyahhud awal dan sampai salam pada tasyahhud akhir, sambil memperhatikan terhadap telunjuk pada seluruh proses itu. Dan yang lebih utama adalah ibu jari menggenggam dengan sisinya, dan meletakan ibu jari pada ujung telapak tangannya. [Syaikh Abdurrohman Jabir Al-Jaza'iri, Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba'ah Jilid 1 Halaman 240]
و سنّ (وضع يَدَيْهِ) أَي كفيه (فِي تشهديه) وَمَا مَعَهُمَا (على طرف رُكْبَتَيْهِ) بِحَيْثُ تسامت رؤوسهما الرّكْبَة مَعَ ضم الْأَصَابِع كلهَا حَتَّى الْإِبْهَام فَلَا يفرجها خلافًا للرافعي وَالْمَاوَرْدِيّ وَمَعَ نشرها فِي جِهَة الْقبْلَة فَلَا يقبضهَا وَهَذِه الْهَيْئَة فِي جَمِيع الجلسات غير جُلُوس التَّشَهُّد الأول والأخير فَإِن الْمُصَلِّي يطْلب أَن يكون فيهمَا (ناشرا أَصَابِع يسراه) فَقَط (وقابضا يمناه) بعد وَضعهَا منشورة الْأَصَابِع على فَخذه الْيُمْنى (إِلَّا المسبحة) فَإِنَّهُ يُشِير بهَا. و سنّ (رَفعهَا) مَعَ إمالتها لجِهَة الْقبْلَة قَلِيلا فِي حَالَة الرافع (عِنْد) قَوْله (إِلَّا الله) بِأَن يبتدىء بِالرَّفْع عِنْد همزَة إِلَّا الله. و سنّ (إدامته) أَي الرّفْع إِلَى الْقيام من التَّشَهُّد الأول وَإِلَى تَمام التسليمتين فِي الْأَخير كَمَا مَال إِلَيْهِ الشبراملسي ويقصد بذلك الرّفْع أَن المعبود وَاحِد فَيجمع فِي توحيده بَين اعْتِقَاده وَقَوله وَفعله. وَعلم من عد وضع الْكَفَّيْنِ على الْفَخْذ من السّنَن فِي جَمِيع جلسات الصَّلَاة أَنه لَو لم يضعهما على الفخذين فِي الْجُلُوس بَين السَّجْدَتَيْنِ بل أدام وضعهما على الأَرْض إِلَى السُّجُود الثَّانِي لَا يضر خلافًا لمن وهم فِي ذَلِك. و سنّ (نظر إِلَيْهَا) أَي المسبحة وَلَو مستورة ويديم النّظر إِلَيْهَا مَا دَامَت مُرْتَفعَة وَإِلَّا ندب نظر مَحل السُّجُود وَلَو قطعت سبابته لَا ينظر إِلَى موضعهَا بل إِلَى مَوضِع سُجُوده
Dan disunatkan meletakan kedua telapak tangan mushalli pada kedua tasyahhud mushalli dan perkara yang menyertai kedua tasyahhud di atas ujung kedua lutut mushalli sekira menyamai ujung kedua telapak tangan mushalli terhadap lutut beserta mengumpulkan jari-jari semuanya hingga ibu jari, maka mushalli tidak melonggarkannya, khilaf terhadap Imam Rafi'i dan Imam Al-Mawardi. Dan beserta menggelarkan jari-jari pada arah qiblat, maka mushalli tidak mengepalkan jari-jari tersebut. Perilaku ini berlaku pada seluruh duduk yang selain duduk tasyahhud awal dan duduk tasyahhud akhir. Maka sesungguhnya mushalli dianjurkan berkeadaan pada duduk tasyahhud awal dan duduk tasyahhud akhir menggelarkan jari-jari tangan kirinya saja dan mengepalkan tangan kanannya setelah meletakan jari-jari tersebut dalam keadaan jari-jari tersebut digelarkan di atas paha mushalli yang sebelah kanan kecuali jari telunjuk. Maka sesungguhnya mushalli berisyarat dengan jari telunjuk. Dan disunatkan mengangkat jari telunjuk serta menyondongkan jari telunjuk tersebut ke arah qiblat sedikit pada haliyah pengangkatan ketika ucapan mushalli إلا الله dengan memulainya mushalli dengan pengangkatan ketika hamzah إلا الله. Dan disunatkan dawamnya pengangkatan sampai berdiri dari tasyahhud awal dan sampai sempurna 2 salam pada tasyahhud akhir sebagaimana pendapat yang condong terhadapnya Imam Syibromilsi. Dan bermaksud mushalli dengan pengangkatan tersebut bahwasanya yang diibadahan adalah satu. Maka terkumpul pada tauhid mushalli antara i'tiqadnya dan ucapannya dan perbuatannya. Dan diketahui dari dihitungnya peletakan kedua telapak tangan di atas paha dari sunat-sunat shalat pada seluruh duduk shalat, bahwasanya mushalli jika tidak meletakan kedua telapak tangannya di atas paha pada duduk antara sujud dua, bahkan dia mendawamkan peletakan kedua telapak tangan tersebut di atas bumi sebagai persiapan untuk menuju sujud kedua, maka itu tidak menjadi madharat. Khilaf terhadap ulama yang berprasangka perihal itu menjadi madharat. Dan disunatkan melihat terhadap jari telunjuk walaupun jari telunjuknya dalam keadaan ditutup dan mendawamkan penglihatan terhadapnya selagi telunjuk terebut dalam keadaan terangkat. Dan jika tidak melihat terhadap jari telunjuk, disunatkan mushalli melihat terhadap tempat sujud. Dan jika dipotong jari telunjuknya, maka dia tidak disunatkan melihat tempat jari telunjuk yang dipotong tersebut, melainkan terhadap tempat sujudnya. [Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Nihayah Az-Zain Halaman 72-73]

Semoga bermanfaat.

Senin, 11 Juli 2022

Lupa Rukun Shalat, Ingat Ketika : Masih Shalat / Setelahnya

Anda lupa meninggalkan 1 rukun shalat, kemudian anda ingat ketika :
  • masih shalat (sebelum salam), atau 
  • setelahnya (setelah salam) 
Jelas ya kali ini anda (mushalli) ingat, tidak ragu, memang diyakini ada rukun yang terlewat tidak tertunaikan. Nah bagaimana solusinya? Menjawabnya adalah domain fuqoha karena termasuk masalah ilmu fiqih.

Referensi utama artikel ini adalah : 
  • At-Taqrib/Ghayah Al-Ikhtishar
  • Fathul Qarib
  • Quut Al-Habib
  • Kifayah Al-Akhyar
  • Kasyifah As-Saja
Alasan penulis menjadikan kitab-kitab tersebut sebagai referensi utama adalah karena di dalam kitab-kitab tersebut (kecuali Kasyifah As-Saja) terdapat fasal khusus yang fokus membahas "المتروك من الصلاة artinya Perkara Yang Ditinggalkan Dari Shalat". Berikut ini penjelasan Fuqoha Safi'iyah :
التقريب/غاية الإختصار للإمام أحمد الأصفهاني الشهير  أبي شجاع ص ١٦
فصل والمتروك من الصلاة ثلاثة فرض وسنة وهيئة فالفرض لا ينوب عنه سجود السهو بل إن ذكره والزمان قريب أتى به وبنى عليه وسجد للسهو الخ
Al-Matruk / Perkara yang ditinggalkan bagian dari shalat ada 3 : 
  1. Fardhu.
  2. Sunat.
  3. Hai'at.
Adapun matruk fardhu, maka sujud sahwi tidak dapat menjadi pengganti darinya. Bahkan jika dia mengingatnya serta waktu masih dekat, maka dia wajib : mendatangkan terhadap matruk fardhu tersebut -> melanjutkan rangkaian berdasarkan matruk tersebut -> dia sujud karena sahwun/lupa ....dst... [1]
فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب للإمام ابن قاسم الغازي ص ١٦
والمتروك من الصلاة ثلاثة أشياء فرض ويسمى بركن أيضا وسنة وهيئة وهما ما عدا الفرض وبين المصنف الثلاثة فى قوله فالفرض لا ينوب عنه سجود السهو بل ان ذكره أى الفرض وهو فى الصلاة أتى به وتمت صلاته أو ذكره بعد السلام والزمان قريب أتى به وبنى عليه ما بقي من الصلاة وسجد للسهو وهو سنة كما سيأتي لكن عند ترك مأمور به فى الصلاة أو فعل منهي عنه فيها الخ
Al-Matruk / Perkara yang ditinggalkan bagian dari shalat ada 3 : 
  1. Fardhu (Dinamai juga "rukun")
  2. Sunat
  3. Hai'at
(Sunat dan Hai'at adalah selain fardhu) Mushanif menjelaskan ketiganya pada redaksi Adapun matruk fardhu, maka sujud sahwi tidak dapat menjadi pengganti darinya (bahkan jika dia mengingat matruk fardhu dan dia sedang di dalam shalat, maka dia wajib mendatangkan terhadap matruk fardhu tersebut dan menjadi sempurnalah shalatnya. Atau dia mengingatnya setelah salam) serta waktu masih dekat, maka dia wajib : mendatangkan terhadap matruk fardhu tersebut -> melanjutkan rangkaian berdasarkan matruk tersebut (terhadap rangkaian yang masih tersisa dari shalat) -> dia sujud karena sahwun/lupa (dan sujud sahwi tersebut hukumnya sunat seperti penjelasan yang akan datang nanti, tapi sunat tersebut adalah ketika meninggalkan perkara yang statusnya al-ma'mur bih atau perbuatan al-manhy anh dalam shalat ....dst...) [2]
قوت الحبيب الغريب توشيح على فتح القريب المجيب للشيخ محمد نووي الجاوي ص ١١٠
والمتروك عمدا أو سهوا من الصلاة ثلاثة  أشياء واحترز بقوله من الصلاة عن سجدة التلاوة وقنوت النازلة فلا سجود لتركهما لأنها في الصلاة لا منها فرض ويسمى بركن أيضا وسنة أى بعض وهيئة وهما ما عدا الفرض لكن الأول ما يجبر بالسجود وبين المصنف الثلاثة أى أحكامها فى قوله فالفرض إذا تركه سهوا لا ينوب عنه سجود السهو بل ان ذكره أى الفرض وهو فى الصلاة أتى به إن لم يكن مأموما ولم يفعل مثل الركن المتروك فإن فعله مثله قام مقامه وتدارك الباقي وتمت صلاته وما بعد المتروك إلى المثل المفعول لغو أما المأموم فيتدارك بعد سلام إمامه بركعة أو ذكره أى الركن المتروك بعد السلام والزمان الذي بين سلامه وعلمه بالمتروك قريب أتى به أى المتروك وجوبا فورا بمجرد التذكر وإلا استأنف الصلاة وبعد اتيان الركن المتروك أولا بنى عليه أى الركن المأتي ما بقي من الصلاة وان مشى قليلا وتحول عن القبلة وتكلم قليلا وسجد للسهو لأنه فعل ما يبطل عمده الصلاة وهو السلام قبل تمام الصلاة بخلاف ما اذا كان المتروك السلام فانه يأتي به اذا ذكره ولم يأت بمبطل وكذا ان شك فيه ولو بعد طول الفصل ولا سجود للسهو لفوات محله بالسلام المأتي به أما إذا طال الفصل أو وطىء نجاسة غير معفو عنها أو أتى بكثير كلام أو فعل إستأنف الصلاة والمرجع في الطول والقصر العرف وقيل يعتبر القصر بالقدر الذي نقل عن النبي صلى الله عليه وسلم في قصة ذي اليدين واسمه الخرباق وهي أنه صلى الله عليه وسلم لما صلى الظهر سلم بعد ركعتين منه ثم مشى الى جانب المسجد واستند الى خشبة في جانبه كالغضبان فقال له ذو اليدين يا رسول الله أقصرت أم نسيت؟ فقال له كل ذلك لم يكن فقال ذو اليدين بل بعض ذلك قد كان فالتفت صلى الله عليه وسلم الى الصحابة أحق ما يقول ذو اليدين؟ قالوا نعم فتذكر صلى الله عليه وسلم حاله فقام مستقبلا وصلى الركعتين الباقيتين وسجد للسهو وسلم وهو أى سجود السهو سنة كما سيأتي في قول المصنف لكن في مواضع مخصوصة إما عند ترك مأمور به من الأبعاض ما عدا صلاة الجنازة فى الصلاة أو عند فعل شيء منهي عنه فيها أى الصلاة مما يبطل عمده فقط كزيادة ركوع أو سجود
Al-Matruk / Perkara yang ditinggalkan (baik secara sengaja maupun secara lupa) bagian dari shalat ada 3. (Imam Abu Syuja mengikhtiroz dengan redaksi bagian dari shalat dari sujud tilawah dan qunut nazilah, maka tidak ada sunat sujud sahwi sebab meninggalkan keduanya, karena sesungguhnya keduanya terdapat dalam shalat tapi bukan bagian dari shalat)
  1. Fardhu. Dinamai juga "rukun".
  2. Sunat (sunat ab'adh)
  3. Hai'at.
Sunat dan Hai'at adalah selain fardhu (Akan tetapi yang pertama/sunat ab'ad merupakan perkara yang sunat diplester dengan sujud sahwi). Mushanif menjelaskan ketiganya (hukum-hukumnya) pada redaksi :
Adapun fardhu (jika mushalli meninggalkannya) maka sujud sahwi tidak dapat menjadi pengganti darinya. Bahkan jika dia mengingatnya (fardhu) dan dia sedang di dalam shalat, maka dia wajib mendatangkan terhadap matruk fardhu tersebut (jika status dia bukan makmum dan tidak mengerjakan rukun seperti rukun yang ditinggalkan, jika dia telah mengerjakan rukun seperti rukun yang ditinggalkan maka rukun seperti rukun yang ditinggalkan tersebut statusnya menghuni pada tempat hunian rukun yang ditinggalkan dan kemudian dia menyusul terhadap sisanya) dan menjadi sempurnalah shalatnya. (adapun perkara setelah rukun yang ditinggalkan sampai rukun seperti rukun yang ditinggalkan yang dikerjakan statusnya laghw/pasif/lamyuhsab. Adapun jika dia statusnya makmum maka dia wajib menyusul setelah salam imam dengan 1 rokaat) atau dia mengingatnya setelah salam serta waktu masih dekat, maka dia wajib mendatangkan terhadap matruk fardhu tersebut dan melanjutkan rangkaian berdasarkan matruk tersebut terhadap rangkaian yang masih tersisa dari shalat dan dia sujud karena sahwun/lupa dan sujud sahwi tersebut hukumnya sunat seperti penjelasan yang akan datang nanti, tapi ketika meninggalkan perkara yang statusnya al-ma'mur bih atau perbuatan al-manhy anh dalam shalat ....dst... [3]

كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار للإمام تقي الدين الحصني ج ١ ص ١٢٦-١٢٧
ﺑﺎﺏ ﻣﺎ ﻳﺘﺮﻙ ﺳﻬﻮا ﻣﻦ اﻟﺼﻼﺓ
ﻓﺼﻞ ﻭاﻟﻤﺘﺮﻭﻙ ﻣﻦ اﻟﺼﻼﺓ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﺷﻴﺎء ﻓﺮﺽ ﻭﺳﻨﺔ ﻭﻫﻴﺌﺔ ﻓﺎﻟﻔﺮﺽ ﻻ ﻳﻨﻮﺏ ﻋﻨﻪ ﺳﺠﻮﺩ اﻟﺴﻬﻮ ﺑﻞ ﺇﻥ ﺫﻛﺮﻩ ﻭاﻟﺰﻣﺎﻥ ﻗﺮﻳﺐ ﺃﺗﻰ ﺑﻪ ﻭﺑﻨﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﺠﺪ ﻟﻠﺴﻬﻮ. ﺳﺠﻮﺩ اﻟﺴﻬﻮ ﻣﺸﺮﻭﻉ ﻟﻠﺨﻠﻞ اﻟﺤﺎﺻﻞ ﻓﻲ اﻟﺼﻼﺓ ﺳﻮاء ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺻﻼﺓ اﻟﻔﺮﺽ ﺃﻭ اﻟﻨﻔﻞ ﻭﻓﻲ ﻗﻮﻝ ﻻ ﻳﺸﺮﻉ ﻓﻲ اﻟﻨﻔﻞ ﺛﻢ ﺿﺎﺑﻂ ﺳﺠﻮﺩ اﻟﺴﻬﻮ ﺇﻣﺎ ﺑﺎﺭﺗﻜﺎﺏ ﺷﻲء ﻣﻨﻬﻲ ﻋﻨﻪ ﻓﻲ اﻟﺼﻼﺓ ﻛﺰﻳﺎﺩﺓ ﻗﻴﺎﻡ ﺃﻭ ﺭﻛﻮﻉ ﺃﻭ ﺳﺠﻮﺩ ﺃﻭ ﻗﻌﻮﺩ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻣﺤﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ اﻟﺴﻬﻮ ﺃﻭ ﺗﺮﻙ ﻣﺄﻣﻮﺭ ﺑﻪ ﻛﺘﺮﻙ ﺭﻛﻮﻉ ﺃﻭ ﺳﺠﻮﺩ ﺃﻭ ﻗﻴﺎﻡ ﺃﻭ ﻗﻌﻮﺩ ﻭاﺟﺐ ﺃﻭ ﺗﺮﻙ ﻗﺮاءﺓ ﻭاﺟﺒﺔ ﺃﻭ ﺗﺸﻬﺪ ﻭاﺟﺐ ﻭﻗﺪ ﻓﺎﺕ ﻣﺤﻠﻪ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺴﺠﺪ ﻟﻠﺴﻬﻮ ﺑﻌﺪ ﺗﺪاﺭﻙ ﻣﺎ ﺗﺮﻛﻪ ﺛﻢ ﺇﻥ ﺗﺬﻛﺮ ﺫﻟﻚ ﻭﻫﻮ ﻓﻲ اﻟﺼﻼﺓ ﺃﺗﻰ ﺑﻪ ﻭﺗﻤﺖ ﺻﻼﺗﻪ ﻭﺇﻥ ﺗﺬﻛﺮﻩ ﺑﻌﺪ اﻟﺴﻼﻡ ﻧﻈﺮ ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻄﻞ اﻟﺰﻣﺎﻥ ﺗﺪاﺭﻙ ﻣﺎ ﻓﺎﺗﻪ ﻭﺳﺠﺪ ﻟﻠﺴﻬﻮ ﻭﺇﻥ ﻃﺎﻝ اﺳﺘﺄﻧﻒ اﻟﺼﻼﺓ ﻣﻦ ﺃﻭﻟﻬﺎ ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ اﻟﺒﻨﺎء ﻟﺘﻐﻴﺮ ﻧﻈﻢ اﻟﺼﻼﺓ ﺑﻄﻮﻝ اﻟﻔﺼﻞ. ﻭﻓﻲ ﺿﺒﻂ ﻃﻮﻝ اﻟﻔﺼﻞ ﻗﻮﻻﻥ ﻟﻠﺸﺎﻓﻌﻲ اﻷﻇﻬﺮ ﻭﻧﺺ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ اﻷﻡ ﺃﻧﻪ ﻳﺮﺟﻊ ﻓﻴﻪ ﺇﻟﻰ اﻟﻌﺮﻑ ﻭاﻟﻘﻮﻝ اﻵﺧﺮ ﻭﻧﺺ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ اﻟﺒﻮﻳﻄﻲ ﺃﻥ اﻟﻄﻮﻳﻞ ﻣﺎ ﻳﺰﻳﺪ ﻋﻠﻰ ﻗﺪﺭ ﺭﻛﻌﺔ ﺛﻢ ﺣﻴﺚ ﺟﺎﺯ اﻟﺒﻨﺎء ﻓﻼ ﻓﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﺃﻥ ﻳﺘﻜﻠﻢ ﺑﻌﺪ اﻟﺴﻼﻡ ﻭﻳﺨﺮﺝ ﻣﻦ اﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭﻳﺴﺘﺪﺑﺮ اﻟﻘﺒﻠﺔ ﻭﺑﻴﻦ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻔﻌﻞ ﺫﻟﻚ ﻫﺬا ﻫﻮ اﻟﺼﺤﻴﺢ ﺛﻢ ﻫﺬا ﻋﻨﺪ ﺗﻴﻘﻦ اﻟﻤﺘﺮﻭﻙ ﺃﻣﺎ ﺇﺫا ﺳﻠﻢ ﻣﻦ اﻟﺼﻼﺓ ﻭﺷﻚ ﻫﻞ ﺗﺮﻙ ﺭﻛﻨﺎ ﺃﻭ ﺭﻛﻌﺔ ﻓﺎﻟﻤﺬﻫﺐ اﻟﺼﺤﻴﺢ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﻠﺰﻣﻪ ﺷﻲء ﻭﺻﻼﺗﻪ ﻣﺎﺿﻴﺔ ﻋﻠﻰ اﻟﺼﺤﺔ ﻷﻥ اﻟﻈﺎﻫﺮ ﺃﻧﻪ ﺃﺗﻰ ﺑﻬﺎ ﺑﻜﻤﺎﻟﻬﺎ ﻭﻋﺮﻭﺽ اﻟﺸﻚ ﻛﺜﻴﺮ ﻻ ﺳﻴﻤﺎ ﻋﻨﺪ ﻃﻮﻝ اﻟﺰﻣﺎﻥ ﻓﻠﻮ ﻗﻠﻨﺎ ﺑﺘﺄﺛﻴﺮ اﻟﺸﻚ ﻷﺩﻯ ﺇﻟﻰ ﺣﺮﺝ ﻭﻣﺸﻘﺔ ﻭﻻ ﺣﺮﺝ ﻓﻲ اﻟﺪﻳﻦ ﻭﻫﺬا ﺑﺨﻼﻑ ﻋﺮﻭﺽ اﻟﺸﻚ ﻓﻲ اﻟﺼﻼﺓ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺒﻨﻲ ﻋﻠﻰ اﻟﻴﻘﻴﻦ ﻭﻳﻌﻤﻞ ﺑﺎﻷﺻﻞ ﻛﻤﺎ ﺫﻛﺮﻩ اﻟﺸﻴﺦ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ ﻓﺈﺫا ﺷﻚ ﻓﻲ ﺃﺛﻨﺎء اﻟﺼﻼﺓ ﻫﻞ ﺻﻠﻰ ﺛﻼﺛﺎ ﺃﻭ ﺃﺭﺑﻌﺎ ﺃﺧﺬ ﺑﺎﻟﻴﻘﻴﻦ ﻭﺃﺗﻰ ﺑﺮﻛﻌﺔ ﻭﻻ ﻳﻨﻔﻌﻪ ﻏﻠﺒﺔ اﻟﻈﻦ ﺃﻧﻪ ﺻﻠﻰ ﺃﺭﺑﻌﺎ ﻭﻻ ﺃﺛﺮ ﻟﻹﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﻫﺬا اﻟﺒﺎﺏ ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ اﻟﻌﻤﻞ ﻓﻴﻪ ﺑﻘﻮﻝ اﻟﻐﻴﺮ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ اﻟﻤﺨﺒﺮﻭﻥ ﻛﺜﻴﺮﻳﻦ ﻭﺛﻘﺎﺕ ﺑﻞ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﺄﺗﻲ ﺑﻤﺎ ﺷﻚ ﻓﻴﻪ ﺣﺘﻰ ﻟﻮ ﻗﺎﻟﻮا ﻟﻪ ﺻﻠﻴﺖ ﺃﺭﺑﻌﺎ ﻳﻘﻴﻨﺎ ﻭﻫﻮ ﺷﺎﻙ ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻪ ﻻ ﻳﺮﺟﻊ ﺇﻟﻴﻬﻢ. ﻭاﻷﺻﻞ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻗﻮﻝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ وسلم : ﺇﺫا ﺷﻚ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻓﻲ ﺻﻼﺗﻪ ﻓﻠﻢ ﻳﺪﺭ ﻛﻢ ﺻﻠﻰ ﺃﺛﻼﺛﺎ ﺃﻡ ﺃﺭﺑﻌﺎ ﻓﻠﻴﻄﺮﺡ اﻟﺸﻚ ﻭﻟﻴﺒﻦ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ اﺳﺘﻴﻘﻦ ﺛﻢ ﻳﺴﺠﺪ ﺳﺠﺪﺗﻴﻦ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﺴﻠﻢ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺻﻠﻰ ﺧﻤﺴﺎ ﺷﻔﻌﻦ ﻟﻪ ﺻﻼﺗﻪ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺻﻠﻰ ﺗﻤﺎﻡ اﻷﺭﺑﻊ ﻛﺎﻧﺘﺎ ﺗﺮﻏﻴﻤﺎ ﻟﻠﺸﻴﻄﺎن. ﺛﻢ ﻫﺬا ﻓﻲ ﺣﻖ اﻻﻣﺎﻡ ﻭاﻟﻤﻨﻔﺮﺩ ﺃﻣﺎ اﻟﻤﺄﻣﻮﻡ ﻓﻼ ﻳﺴﺠﺪ ﺇﺫا ﺳﻬﺎ ﺧﻠﻒ اﻣﺎﻣﻪ ﻭﻳﺘﺤﻤﻞ اﻻﻣﺎﻡ ﺳﻬﻮﻩ ﺣﺘﻰ ﻟﻮ ﻇﻦ ﺃﻥ اﻻﻣﺎﻡ ﺳﻠﻢ ﻓﺴﻠﻢ ﺛﻢ ﺑﺎﻥ ﻟﻪ ﺃﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﺴﻠﻢ ﻓﺴﻠﻢ ﻣﻌﻪ ﻓﻼ ﺳﺠﻮﺩ ﻋﻠﻴﻪ ﻷﻧﻪ ﺳﻬﺎ ﻓﻲ ﺣﺎﻝ اﻗﺘﺪاﺋﻪ ﻭﻟﻮ ﺗﻴﻘﻦ اﻟﻤﺄﻣﻮﻡ ﻓﻲ ﺗﺸﻬﺪﻩ ﺃﻧﻪ ﺗﺮﻙ اﻟﺮﻛﻮﻉ ﺃﻭ اﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﻣﺜﻼ ﻣﻦ ﺭﻛﻌﺔ ﻧﺎﺳﻴﺎ ﺃﻭ ﺷﻚ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻓﺈﺫا ﺳﻠﻢ اﻹﻣﺎﻡ ﻟﺰﻣﻪ ﺃﻥ ﻳﺄﺗﻲ ﺑﺮﻛﻌﺔ ﻭﻻ ﻳﺴﺠﺪ ﻟﻠﺴﻬﻮ ﻷﻧﻪ ﺷﻚ ﻓﻲ ﺣﺎﻝ اﻻﻗﺘﺪاء ﻭﻟﻮ ﺳﻤﻊ اﻟﻤﺄﻣﻮﻡ اﻟﻤﺴﺒﻮﻕ ﺻﻮﺗﺎ ﻓﻈﻨﻪ ﺳﻼﻡ اﻹﻣﺎﻡ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻴﺘﺪاﺭﻙ ﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﺭﻛﻌﺔ ﻣﺜﻼ ﻓﺄﺗﻰ ﺑﻬﺎ ﻭﺟﻠﺲ ﺛﻢ ﻋﻠﻢ ﺃﻥ اﻻﻣﺎﻡ ﻟﻢ ﻳﺴﻠﻢ ﻭﺗﺒﻴﻦ ﺧﻄﺄ ﻧﻔﺴﻪ ﻟﻢ ﻳﻌﺘﺪ ﺑﺘﻠﻚ اﻟﺮﻛﻌﺔ ﻷﻧﻬﺎ ﻣﻔﻌﻮﻟﺔ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻣﺤﻠﻬﺎ ﻷﻥ ﻭﻗﺖ اﻟﺘﺪاﺭﻙ ﺑﻌﺪ اﻧﻘﻄﺎﻉ اﻟﻘﺪﻭﺓ ﻓﺈﺫا ﺳﻠﻢ اﻻﻣﺎﻡ ﻗﺎﻡ ﻭﺃﺗﻰ ﺑﺎﻟﺮﻛﻌﺔ ﻭﻻ ﻳﺴﺠﺪ ﻟﻠﺴﻬﻮ ﻟﺒﻘﺎء ﺣﻜﻢ اﻟﻘﺪﻭﺓ ﻭﻟﻮ ﺳﻠﻢ اﻹﻣﺎﻡ ﺑﻌﺪ ﻣﺎ ﻗﺎﻡ ﻓﻬﻞ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﻌﻮﺩ ﺇﻟﻰ اﻟﻘﻌﻮﺩ ﻷﻥ ﻗﻴﺎﻣﻪ ﻏﻴﺮ ﻣﺄﺫﻭﻥ ﻓﻴﻪ ﺃﻡ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﻤﻀﻲ ﻓﻲ ﺻﻼﺗﻪ ﻭﺟﻬﺎﻥ ﺃﺻﺤﻬﻤﺎ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ اﻟﻤﻬﺬﺏ ﻭاﻟﺘﺤﻘﻴﻖ ﻭﺟﻮﺏ اﻟﻌﻮﺩ ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ

Fasal - Al-Matruk / Perkara yang ditinggalkan bagian dari shalat ada 3 :
  1. Fardhu.
  2. Sunat.
  3. Hai'at.
Adapun matruk fardhu, maka tidak dapat mengganti darinya sujud sahwi. Bahkan jika dia mengingatnya serta waktu masih dekat, maka dia wajib mendatangkan terhadap matruk fardhu tersebut dan melanjutkan rangkaian berdasarkan matruk tersebut dan dia sujud karena sahwun/lupa.
Sujud sahwi disyari'atkan untuk kecacatan yang hasil pada shalat. Baik perihal kecacatan pada shalat fardhu maupun shalat sunat. Menurut satu qaul : sujud sahwi tidak disyari'atkan pada shalat sunat. Kemudian dhabith sujud sahwi adalah bisa jadi sebab melanggar sesuatu yang dilarang pada shalat seperti menambah rukun qiyam atau menambah rukun ruku' atau menambah rukun sujud atau menambah rukun duduk bukan pada tempatnya berdasarkan kronologi lupa. Atau bisa jadi sebab meninggalkan sesuatu yang diperintahkan seperti meninggalkan rukun ruku' atau meninggalkan rukun sujud atau meninggalkan rukun qiyam atau meninggalkan duduk yang wajib atau meninggalkan bacaan yang wajib atau meninggalkan tasyahhud yang wajib dan telah luput tempat penunaian rukunnya, maka dia sunat sujud sahwi setelah mengidrok matruknya. Kemudian jika dia mengingat terhadap matruk fardhu tersebut pada situasi sedang di dalam shalat, maka dia wajib mendatangkan matruk tersebut dan sempurnalah shalatnya. Jika dia mengingat terhadap matruk fardhu tersebut setelah salam maka ditinjau :
  • Jika tidak panjang zaman, maka dia wajib mengidrok terhadap matruk/mafata tersebut kemudian sunat sujud sahwi
  • Jika panjang zaman, maka wajib isti'naf memulai melakukan shalat lagi dari awal shalat. Tidak boleh melanjutkan dari rukun matruk, karena berubahnya nidzom/rangkaian shalat sebab panjangnya zaman pemisah.
Perihal dhabith panjangnya fashil/pemisah, terdapat 2 qaul milik Imam Syafi'i :
  • Qaul yang Al-Adzhar dan yang Imam Syafi'i telah me-nash-nya dalam Al-Umm adalah bahwasanya dikembalikan perihal ukuran panjang fashil/pemisah kepada uruf/adat/kebiasaan.
  • Qaul lainnya yang Imam Syafi'i telah me-nashnya dalam Al-Buwaithi adalah bahwasanya panjang tidak melebihi di atas ukuran 1 rokaat.
Kemudian sekira boleh melanjutkan, maka tidak ada perbedaan antara berkata-kata setelah salam, keluar dari masjid, membelakangi qiblat dan tidaknya melakukan semua itu. Ini adalah qaul ash-shahih. by the way, ini ketika diyakininya al-matruk.
Adapun jika dia telah salam dari shalat dan dia ragu : "apakah dia/aku telah meninggalkan suatu rukun?" atau "apakah dia/aku telah meninggalkan rokaat?", Maka menurut qaul ash-shahih madzhab Syafi'i adalah sesungguhnya tidak mesti kepadanya sesuatupun dan shalatnya berlalu dalam keadaan sah. Karena dzohirnya sesungguhnya dia telah mendatangkan terhadap shalat dengan sempurnanya shalat. Adapun baru datangnya keraguan, adalah banyak terutama ketika panjangnya zaman. Oleh karena itu jika kami mengatakan terhadap berpengaruhnya keraguan, maka pasti akan mendorong terhadap haroj dan masyaqah, padahal tidak ada haroj dalam urusan agama. Dan ini berbeda dengan baru datangnya keraguan ketika masih di dalam shalat, maka sesungguhnya dia wajib melanjutkan pada yang yakin dan mengamalkan berdasarkan asal. Sebagaimana Syaikh Ibnu Syuja menjelaskan setelahnya. Maka jika dia ragu pada pertengahan shalat "apakah dia/aku telah shalat 3 rokaat atau 4 rokaat?" Maka dia wajib mengambil terhadap yang yakin dan wajib mendatangkan terhadap 1 rakaat. Dan tidak manfaat baginya dominan prasangka bahwasanya dia telah shalat 4 rokaat dan tidak ada jejak untuk berijtihad pada bab ini. Dan tidak boleh mengamalkan dalam masalah ini terhadap perkataan orang lain sekalipun yang memberitahu jumlahnya banyak dan terpercaya, melainkan wajib kepadanya mendatangkan terhadap perkara yang dia ragu padanya, sehingga jika mereka berkata kepadanya "anda telah shalat 4 rokaat" secara meyakinkan dalam keadaan dia ragu, tidak boleh merujuk terhadap perkataan mereka.
Asal hukum dalam masalah tersebut adalah Sabda Rasulullah SAW :
إذا شك أحدكم في صلاته فلم يدري كم صلى أثلاثا أم أربعا فليطرح الشك وليبن على ما استيقن ثم يسجد سجدتين قبل أن يسلم فإن كان صلى خمسا شفعن له صلاته وإن كان صلى تمام الأربع كانتا ترغيما للشياطين رواه مسلم
"Jika seseorang dari kalian ragu pada shalatnya kemudian tidak tahu berapa rokaat dia telah shalat apakah 3 atau 4 maka hendaklah dia membuang terhadap keraguan dan melanjutkan terhadap perkara yang membuat dia yakin, kemudian dia sujud sahwi dua kali sujud sebelum dia melakukan salam. Maka jika dia terbukti telah shalat 5 rokaat, menggenapkan sajdatain baginya terhadap shalatnya. Jika dia terbukti telah shalat 4 rokaat, maka keberadaan sajdatain menghinakan terhadap syaithan." (HR.Imam Muslim)
by the way, ini di hak imam dan munfarid.
Adapun makmum, maka tidak boleh sujud sahwi jika dia lupa di belakang imamnya dan imam memikul beban lupanya, sehingga jika dia berprasangka bahwasanya imam salam kemudian dia salam kemudian nyata baginya bahwasanya imam tidak salam maka dia comeback dan salam bersama imam, maka tidak sunat sujud sahwi kepadanya karena sesungguhnya dia lupa pada haliyah qudwahnya. Dan jika makmum meyakini pada saat tasyahhud akhirnya bahwasanya dia telah meninggalkan rukun ruku atau rukun fatihah umpamanya dari suatu rokaat dalam keadaan lupa, atau ragu perihal itu, maka jika imam telah salam wajib kepadanya mendatangkan 1 rokaat dan dia tidak sunat sujud sahwi karena sesungguhnya dia telah ragu pada haliyah iqtida. Dan jika makmum masbuq mendengar suara kemudian dia menyangka itu salam imam kemudian dia berdiri untuk mengidrok rakaat yang wajib kepadanya dan bukti wajib kepada 1 rokaat umpamanya kemudian dia mendatangkan terhadap rokaat tersebut dan kemudian dia duduk. Kemudian dia tau bahwasanya imam tidak salam dan menjadi jelas kesalahan dirinya, maka tidak dihitung rokaat tersebut karena sesungguhnya rokaat tersebut diperbuat pada bukan tempatnya karena waktu tadaruk adalah setelah terputusnya qudwah. Maka jika imam salam dia wajib berdiri dan mendatangkan 1 rokaat dan tidak sunat sujud sahwi karena tetapnya hukum qudwah. Dan jika imam salam setelah dia berdiri, maka apakah wajib kepadanya kembali duduk karena bahwasanya berdirinya ghoir ma'dzun fih atau boleh baginya berlalu pada shalatnya? Ada 2 wajh, wajh al-ashahh dalam syarh al-muhaddab dan at-tahqiq adalah wajibnya kembali. Wallaahu A'lam. [4]

كاشفة السجا للشيخ محمد نووي الجاوي ص ٦٧
ولو ذكر في حال تشهده ترك ركن غير نية أو تكبيرة أتى بعد سلام إمامه بركعة
Jika seorang makmum ingat pada situasi tasyahhudnya terhadap peninggalan salah satu rukun shalat selain niat dan takbirotul ihrom, maka dia wajib mendatangkan setelah salam imamnya terhadap 1 rokaat. [5]

Contoh kasus : Anwar sedang bermakmum kepada Ustadz Aded -kemudian- Anwar lupa meninggalkan rukun membaca Fatihah -kemudian- Anwar dapat mengingat rukun yang ditinggalkan tersebut pada saat Anwar sedang ruku atau sedang i'tidal atau sedang sujud kesatu atau sedang duduk antara sujud kesatu and kedua atau sedang sujud kedua atau sedang tasyahhud. 
Maka solusi kasus ini adalah : Anwar wajib kontinyu mengikuti rangkaian shalat imam sampai imam salam -kemudian- setelah imam salam Anwar wajib menambah 1 rokaat lagi dengan menunaikan semua rukun secara sempurna termasuk membaca fatihah pada rokaat tebusan tersebut. 
كاشفة السجا للشيخ محمد نووي الجاوي ص ٥٥
فإن تذكره قبل بلوغ مثله من ركعة أخرى فعله فورا وجوبا فإن أخر بطلت صلاته
وإن لم يتذكر حتى بلغ مثله تمت به ركعته لوقوعه عن متروكه وتدارك الباقي
Jika dia berhasil mengingatnya sebelum sampai pada yang sepertinya dari rokaat lain, maka dia wajib melakukannya seketika itu juga, jika kemudian dia menunda-nunda tidak melakukannya seketika itu juga maka batal shalatnya.
Jika dia tidak berhasil mengingatnya sehingga dia sampai pada rukun sepertinya, maka sempurna rokaat yang tertinggal salah satu rukunnya dengan melakukan rukun sepertinya ini, karena wuqu'nya rukun sepertinya ini dari rukun yang ditinggalkan sebelumnya. Dan dia wajib mengidrok sisanya. [6]

Bisa difahami? Sebenarnya jika anda langsung membuka kitabnya, penjelasan ini menyisip pada penjelasan setelah Syaikh menjelaskan matruk rukun qauli, akan tetapi dapat dimafhum juga kasusnya pada rukun fa'li. Contoh kasus kedua : Mubarok lupa meninggalkan i'tidal. Perhatikan ini :
ولو سجد ثم شك هل تم إعتداله أو لا اعتدل ثم اطمأن وجوبا ثم سجد
Jika mubarok telah sujud, kemudian dia ragu : "apakah sempurna i'tidalku atau tidak?" Maka mubarok wajib beri'tidal kemudian berthumaninah kemudian sujud lagi. [7]
Padahal itu cuma ragu, apalagi jika yakin. Maka tata caranya sama jika yakin : 
Wajib kembali pada rukun yang ditinggalkan tersebut -> menunaikan rukun yang ditinggalkan tersebut secara sempurna (pada contoh i'tidal bukti kesempurnaan dilakukan dengan thumaninahnya) -> lanjutkan rangkaian shalat dari titik rukun yang ditinggalkan tersebut sampai pada titik rukun yang dia tadi jreng eng ing eng dapat mengingat rukun yang tertinggal -> lanjutkan sebagaimana normalnya rangkaian shalat -> kemudian sebelum salam disunatkan bersujud sahwi.
Itulah solusinya menurut Fuqoha Syafi'iyah. Semoga bermanfaat.

Referensi
[1] Imam Abu Syuja Al-Asfahani, At-Taqrib/Ghayah Al-Ikhtishar Hal 16 [2] Imam Ibnu Qasim Al-Ghazi, Fathul Qarib Al-Mujib fi Syarh Alfadz At-Taqrib Hal 16 [3] Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Tausyikh Ala Fath Al-Qarib Al-Mujib fi Syarh Alfadz At-Taqrib Hal 110 [4] Imam Taqiyuddin Al-Hishni, Kifayah Al-Akhyar fi Hilli Ghayah Al-Ikhtishar Hal 16 [5] Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kasyifah As-Saja Hal 67 [6] Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kasyifah As-Saja Hal 55 [7] Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kasyifah As-Saja Hal 52

Minggu, 10 Juli 2022

20 Kondisi Makruh Melakukan Shalat

20 kondisi makruh melakukan shalat bagi seseorang yang bersifat (mengalami) salah satunya  :
  1. حَاقِبٌ Haqib artinya orang yang pada kondisi sedang menahan ingin buang air besar
  2. حَاقِنٌ Haqin artinya orang yang pada kondisi sedang menahan ingin buang air kecil
  3. حَاقِمٌ Haqim artinya orang yang pada kondisi sedang menahan ingin buang air besar serta buang air kecil
  4. صَافِنٌ Shafin artinya orang yang pada kondisi sedang berdiri dengan satu kaki
  5. صَافِدٌ Shafid artinya orang yang pada kondisi sedang merapatkan kedua kakinya seolah-olah keduanya berada dalam satu ikatan
  6. خَازِقٌ Khaziq artinya orang yang pada kondisi sedang kesempitan khufnya. Telah berkata Imam Asy-Syarqowi : "telah menafsirkannya sebagian ulama dengan menahan kentut, dan adapun orang yang pada kondisi sedang kesempitan khuf dikatakan baginya حَافِز, keduanya benar".
  7. جَائِعٌ Ja'i artinya orang yang pada kondisi sedang lapar ketika telah hadir makanan dan minuman atau sudah dekat kehadiran keduanya.
  8. عَطْشَانٌ Athsyan artinya orang yang pada kondisi sedang kehausan.
  9. حَافِزٌ Hafiz artinya orang yang pada kondosi sedang menahan kentut.
  10. Orang yang pada kondisi sedang telah hadir kepadanya suatu makanan yang sangat terpikat hatinya terhadap makanan tersebut sekalipun dia tidak lapar. Dan sepertihalnya telah hadir, sudah dekat kehadirannya. Dan sepertihalnya sangat terpikat hatinya terhadap makanan, sangat terpikat hatinya untuk berjima disertai kehadiran istrinya.
  11. Orang yang pada kondisi sedang sangat ingin tidur.
  12. Orang yang pada kondisi sedang berada di مقبرة (tempat mengubur mayat) yang keadaannya tidak digali. Dan sepertihalnya di مقبرة (tempat mengubur mayat) yang keadaannya tidak digali, jika dibantalkan. Dan jika tidak dibantalkan maka tidak sah shalat di sana.
  13. Orang yang pada kondisi sedang berada di مَزْبَلَةْ (tempat pembuangan sampah)
  14. Orang yang pada kondosi sedang berada di مَجْزَرَةٌ (tempat penyembelihan hewan)
  15. Orang yang pada kondisi sedang berada di حَمَامٌ (toilet) walaupun pada tempat menanggalkan pakaiannya.
  16. Orang yang pada kondisi sedang berada di عَطْنِ الإٌبِلِ (tempat menderum unta) sekalipun suci. عَطْنِ الإٌبِلِ yaitu tempat yang dihalau ke tempat tersebut unta yang yang sedang minum agar yang selainnya minum, dan jika sudah berkumpul kemudian digiring ke tempat penggembalaan.
  17. Orang yang pada kondisi sedang berada di قَارِعَةُ الطَّرِيْقِ (punggung jalan) yaitu di atasnya. Dan makruh tersebut jika keadaan jalannya pada suatu bangunan bukan di daratan.
  18. Orang yang pada kondisi sedang berada di punggung Ka'bah.
  19. Orang yang pada kondisi sedang berada di dalam كَنِيْسَةٌ dan بِيْعَةٌ dan tempat domisili syaithan selain keduanya seperti tempat - tempat minum khamr dan tempat pemalakan. Telah berkata Syaikhuna Ahmad An-Nahrawi : "كَنِيْسَةٌ jika diperhitungkan pada zaman dulu adalah tempat ibadah orang yahudi, dan بِيْعَةٌ adalah tempat ibadah orang nashrani. Adapun dengan memperhitungkannys pada zaman ini maka adalah dengan kebalikannya.". Telah berkata Imam Asy-Syarqowi : "Tempat hukum makruh pada tempat-tempat tersebut adalah sekira dia tidak mengkhawatirkan berlalunya waktu shalat yang difardhukan, dan jika mengkhawatirkan berlalunya waktu shalat yang difardhukan maka tidak makruh.
  20. مُنْفَرِدٌ Artinya shalat secara sendirian pada kondisi shalat berjamaah sedang berlangsung. Sama saja dalam hal ini menyendirinya dari shalat berjamaah dan menyendirinya dari shaf : Dengan cara dia bertakbirotul ihrom terhadap shalatnya secara sendirian,atau dari shaf saja dengan bertakbirotul ihromnya dia terhadap shalat berjamaah dan menyendiri dari shaf yang sejenisnya. Maka menyendirinya adalah makruh yang dapat menggugurkan terhadap fadhilah berjamaah sebagaimana penjelasan telah menuturkan terhadapnya Imam Ramli, bukan terhadap fadhilah shaf saja sebagaimana penjelasan yang telah menuturkannya sebagian ulama.
Sumber :
Kasyifah As-Saja li Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi) fi Syarh Safinah An-Naja li Syaikh Salim Al-Hadhrami Halaman 49

Sabtu, 09 Juli 2022

5 Strategi Fiqih Syafi'iyah Agar Qurban أُضْحِيَّةٌ (Udhhiyah) Tidak Berubah Dari Hukum Asal Sunat Mu'akkad Menjadi Wajib Sehingga Pemilik Sekeluarga Boleh Memakan Sebagian Dagingnya

Setidaknya penulis yang faqir ilmu ini menemukan 5 strategi dalam fiqih Syafi'iyah agar qurban أُضْحِيَّةٌ (udhhiyah) tidak berubah hukumnya dari hukum asal sunat mu'akkad ke hukum baru menjadi wajib sehingga pemilik sekeluarga boleh memakan sebagian dagingnya, dan ingin membagikannya kepada netizen sedunia - Semua strategi bersifat antisipatif, sehingga penting difahami bahwa penerapannya akan menjadi oke jika dilakukan sejak dini sebelum masuk ke tahapan pengumpulan dana untuk pembelian hewan qurban - Jika anda seseorang yang memiliki peranan penting dalam kepanitiaan qurban, pengetahuan tentang ini mutlak anda butuhkan. Semoga bermanfaat!

Secara asal hukum qurban udhhiyah adalah sunat muakkad, tapi dari hukum asal tersebut udhhiyah bisa berubah menjadi wajib jika mudhahhi menadzarkannya, baik nadzar haqiqi maupun nadzar hukmi :  ta'yin & ju'alah - Masalah ini cukup rumit apalagi jika kita mencoba memahaminya sebelum mengenali apa itu nadzar, apa itu ta'yin, apa itu ju'alah serta apa saja kosakata yang cenderung mengarah kepada salah satu dari ketiganya jika dirangkai pada suatu kalimat - Nah, strategi yang akan dijelaskan ini adalah sebagai langkah antisipatif agar qurban udhhiyah kita tidak menjadi masuk ke dalam kategori qurban udhhiyah al-mandzuroh yang hasil sembelihannya menjadi eksklusif 100% tidak ada yang boleh dimakan oleh mudhahhi, sedangkan di sisi lain mudhahhi juga diyakini berkeinginan ikut menikmati hasil sembelihannya. Oleh karena itu strategi sebagai solusi menjadi sangat dibutuhkan, agar semua pihak bisa sama-sama bahagia bdengan bisa menikmati menu makanan special hari raya idul adha tersebut.

Secara umum, potensi masalah dimungkinkan ada pada 2 momentum :
  1. Saat melafalkan / melisankan / mentalaffudzkan / menyuarakan suara hati terhadap niat bertadhhiyah dengan suara mulut menjadi perkataan layaknya kita meنويتkan niat shalat sebelum takbirotul ihrom. Strategi yang digunakan penulis merujuk pada penjelasan Syaikh Sayid Abu Bakar dalam Kitab I'anah Ath-Thalibin Jilid 2 Halaman 331. Strategi ini akan diurutkan pada artikel ini sebagai strategi kesatu.
  2. Saat menyatakan suatu redaksi kalimat baik kalimat خبارية (pemberitahuan) maupun انشائية (serupa pernyataan) dan lain sebagainya yang merupakan pengeluaran kata-kata dari mulut. Dalam hal ini, termasuk bahasa isyarat jika dia merupakan orang yang tuna wicara. Strategi ada 4 dan merujuk pada penjelasan : Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi dalam Kitab Tsimar Al-Yani'ah fi Ar-Riyadh Al-Badi'ah & Syaikh Ali Bashabrain dalam Kitab Itsmad Al-Ainain fi Ba'dhi Ikhtilaf Asy-Syaikhain Halaman 77 untuk strategi kedua. Syaikh Abdurrohman Ba'alawi dalam Kitab Bughiyah Al-Mustarsyidin Halaman 258 untuk strategi ketiga, Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Kitab Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh Jilid 4 Halaman 2707 untuk strategi keempat, dan Syaikhul Islam Ibrohim Al-Bajuri dalam Kitab Hasyiyah Al-Bajuri Jilid 2 Halaman 296 untuk strategi kelima.
Alasan pengurutan strategi :
  • Strategi kedua, strategi ketiga dan strategi keempat ada benang merah dengan strategi kesatu. Keywordnya adalah "أُضْحِيَّةً". Suatu kata yang secara terminologi fiqih mengandung makna : "perkara yang disembelih dari yang termasuk binatang ternak dalam rangka qurban/taqorrub kepada Allah pada hari raya idul adha dan hari-hari tasyriq". Jadi kata ini merupakan kata khusus yang bahkan lebih spesifik daripada kata "قُرْبَانٌ Qurban" maupun kata "ذَبِيْحَةٌ Sembelihan".
  • Strategi kelima ada benang merah dengan strategi kedua, strategi ketiga dan strategi keempatKeywordnya adalah "خَبَرِيَّةٌ" dan "إِنْشَائِيَّةٌ". Kedua istilah ini merupakan objek pembahasan ilmu ma'ani, dan ilmu ma'ani merupakan suatu ilmu tentang makna perkataan. خَبَرِيَّةٌ merupakan suatu jenis kalimat pemberitahuan, sedangkan إِنْشَائِيَّةٌ merupakan suatu jenis kalimat yang bukan pemberitahuan dan lebih mendekati suatu pernyataan. Sederhananya begitu.
Itulah alasan penulis mengurutkan strateginya, dengan tujuan agar lebih memudahkan pembaca untuk memahami karakteristik kelimanya. 

Terus terang saja, tidak mudah memahami semua ini. Keberadaan segelas susu atau secangkir kopi mungkin akan anda butuhkan. Jika anda merasa butuh untuk mendiskusikannya lebih jauh, kolom komentar bisa anda manfaatkan.

Strategi Kesatu - Jika niat أُضْحِيَّةً  dilisankan sebelum awal proses penyembelihan, sertakan qayid مَسْنُوْنَة atau سُنَّة pada redaksi niatnya.
قوله بنية أضحية إلخ : متعلق بتضحية، أي يسن تضحية بنية أضحية، أي يشترط فيها النية عند الذبح أو قبله عند التعيين لما يضحي به. ومعلوم أنها بالقلب، وتسن باللسان، فيقول: نويت الأضحية المسنونة، أو أداء سنة التضحية. فإن اقتصر على نحو الأضحية صارت واجبة يحرم الأكل منها. وحينئذ فما يقع في ألسنة العوام كثيرا من شرائهم ما يريدون التضحية به. من أوائل السنة، وكل من سألهم عنها يقولون له هذه أضحية من جهلهم بما يترتب على ذلك من الأحكام يصير به أضحية واجبة يمتنع عليه أكله منها
Redaksi Mushannif (Syaikh Zainuddin Al-Malibari) بنية أضحية إلخ : Jar dan majrur بنية nglink ke تضحية -> disunatkan تضحية dengan niat أضحية -> disyaratkan niat pada تضحية ketika momentum penyembelihan atau sebelumnya ketika ta'yin terhadap perkara yang diتضحيةkan, dan sudah maklum bahwasanya niat adalah dengan menggunakan hati, dan disunatkan dengan pengucapan lisan, maka mudhahhi mengucapkan redaksi : 
نَوَيْتُ الْأُضْحِيَّةَ الْمَسْنُوْنَةَ
"aku telah meniatkan terhadap qurban udhhiyah yang disunatkan" atau 
نَوَيْتُ أَدَاءَ سُنَّةِ التَّضْحِيَّةِ 
"aku telah meniatkan terhadap penunaian sunat berqurban udhhiyah".
Jika dia mengiqtishar (meringkaskan penyertaan kosakata hanya) terhadap seumpama kata الْأُضْحِيَّةَ (atau التَّضْحِيَّةِ) maka أضحية menjadi wajibah yang haram memakan sebagian darinya.

Dan tatkala begitu (jika dia mengiqtishar terhadap seumpama kata الْأُضْحِيَّةَ maka أضحية menjadi wajibah), maka yang terjadi pada lisan-lisan orang awam yang banyak terjadi dari pembelian mereka terhadap perkara yang mereka kehendaki sebab perkara tersebut dari awal-awal tahun,  dan kepada setiap orang yang bertanya kepada mereka perihal hewan tersebut mereka menjawab :  
هٰذِهِ أُضْحِيَّةً
"ini (kata isyarat ini ditujukan terhadap sakadang domba garut misalnya) adalah أُضْحِيَّةً"
dari kebodohan mereka perihal perkara yang ditertibkan terhadap itu yaitu hukum-hukum, maka jadilah sebab perkataan tersebut udhhiyah wajibah yang terlarang kepadanya untuk memakan sebagian darinya.  [Syaikh Sayid Abu Bakar - I'anah Ath-Thalibin Jilid 2 Halaman 331 - Kitab Syafi'iyah]

Mafhum Penulis
Syaikh Sayid Abu Bakar menjelaskan bahwa niat termasuk salah satu syarat sah أضحية, dan waktu meniatkannya 
  • bisa sebelum proses penyembelihan (diawalkan)
  • bisa pada momentum proses penyembelihan (dibersamakan)
Sebagaimana sudah diketahui bersama, tempatnya niat adalah hati, jadi yang wajib adalah hanya pengucapan menggunakan suara hati, tidak wajib diucapkan dengan suara lisan. Tapi Syaikh Sayid Abu Bakar juga menjelaskan bahwa hukum melisankannya itu disunatkan. Oleh karena disunatkan melisankannya maka tentu dimungkinkan terjadi pengucapan secara lisan oleh mudhahhi. Yang mengkhawatirkan adalah ketika itu dilisankan sebelum proses penyembelihan dengan menggunakan redaksi yang cenderung mengarah kepada menadzarkan, sehingga menyebabkan perubahan hukum udhhiyah menjadi wajib. Jadi di sinilah potensi masalahnya.

Strategi antisipatifnya adalah selalu sertakan pada redaksi niat tersebut suatu kosakata yang secara fungsi bisa menjadi qayid penjelas bahwa yang diqurbankan adalah qurban udhhiyah sunat, alias tidak mengiqtishar / mencukupkan penyertaan الْأُضْحِيَّةَ atau التَّضْحِيَّةِ saja tanpa qayid penjelas. Sayid Abu Bakar merekomendasikan contoh rangkaian kalimat niat :
  1. "نَوَيْتُ الْأُضْحِيَّةَ الْمَسْنُوْنَةَ / Aku meniatkan terhadap qurban udhhiyah yang disunatkan"
  2. "نَوَيْتُ أَدَاءَ سُنَّةِ التَّضْحِيَّةِ / Aku meniatkan terhadap penunaian sunat berqurban udhhiyah".
Perhatikan kedua redaksi niat tersebut!
  • rangkaian redaksi niat kesatu menyertakan kosakata الْمَسْنُوْنَةَ (yang disunatkan)
  • rangkaian redaksi niat kedua menyertakan kosakata سُنَّةِ (sunat)
Keduanya memiliki fungsi sebagai qayid penjelas bahwa jenis udhhiyah yang akan ditaqorrubkan adalah udhhiyah sunat. Penjelasan yang agak mirip juga terdapat dalam Bughiyah Al-Mustarsyidin Halaman 258 yaitu penyertaan kata تَطَوُّعًا (Lihat strategi ketiga) dimana kosakata ini sangat mungkin bisa dijadikan alternatif dari kata الْمَسْنُوْنَةَ dan kata سُنَّةِ sebagai qayid penjelas pada niat.

Strategi Kedua - Maksudkan ucapan berupa rangkaian kalimat yang berisi konten أُضْحِيَّة sebagai kalimat pemberitahuan saja.
مسئلة
ما يقع من العوام من قولهم هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ جاهلين بما يترتب على ذلك وإن قصدوا الإخبار تصير به منذورة كما في حج و م ر لكن قال السيد عمر البصري محله ما لم يقصدوا الإخبار وإلا لم تتعين
perkara yang terjadi dari orang-orang awam yaitu ucapan mereka :
هٰذِهِ أُضْحِيَّة
"ini (kata isyarat ditujukan terhadap sakadang domba garut misalnya) adalah udhhiyyah"
dalam keadaan bodoh terhadap perkara yang ditertibkan atas semua itu sekalipun mereka memaksudkannya sebagai pemberitahuan maka jadilah udhhiyah sebab ucapan itu menjadi udhhiyah yang dinadzarkan sebagaimana pada penjelasan Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dan Imam Ramli. Akan tetapi telah berkata Sayid Umar Al-Bashri : "Tempat jatuhnya ucapan seseorang هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ menjadi nadzar adalah selagi mereka tidak memaksudkannya sebagai kalimat pemberitahuan, dan jika tidak begitu maka udhhiyah menjadi tidak terta'yin. [Syaikh Ali Bashabrain, Itsmad Al-Ainain fi Ba'dhi Ikhtilaf Asy-Syaikhain Halaman 77]
ولا تجب إلا بالنذر كقوله عَلَيَّ أَنْ أُضَحِيَ بِهٰذِهِ أو بِشَاةٍ أو إِنْ مَلَكْتُ شَاةً فَعَلَيَّ أَن أُضَحِيَ بِهَا وكقوله هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ ولا يحتاج في هذه القول الى نية بل لا عبرة بنية خلافه لأنه صريح ويلغو نية ذلك بلا لفظ. قال السيد عمر البصري ومحل وقوع قوله هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ نذرا ما لم يقصد الإخبار وإلا لم تتعين خلافا لابن حجر والرملي حيث قالا تصير الضحية بهذا القول منذورة وإن قصدوا الإخبار بخلاف قوله إِنْ مَلَكْتُ هٰذِهِ فَعَلَيَّ أَنْ أُضَحِيَ بِهَا فلا تصير منذورة لأن المعين لا يثبت في الذمة
Udhhiyah tidak menjadi wajib kecuali sebab nadzar, seperti ucapan seseorang :
عَلَيَّ أَنْ أُضَحِيَ بِهٰذِهِ
"mesti kepadaku تضحية dengan ini (kata isyarat ini ditujukan terhadap sakadang domba garut misalnya)"
atau
عَلَيَّ أَنْ أُضَحِيَ بِشَاةٍ
"mesti kepadaku تضحية dengan seekor domba"
atau
إِنْ مَلَكْتُ شَاةً فَعَلَيَّ أَن أُضَحِيَ بِهَا
"jika aku telah memiliki seekor domba maka mesti kepadaku تضحية dengannya"
atau seperti ucapannya :
هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ
"ini (kata isyarat ini ditujukan terhadap sakadang domba garut misalnya) adalah أُضْحِيَّةٌ"
Dan tidak dibutuhkan pada ucapan ini terhadap suatu niat, bahkan tidak ada perhitungan terhadap berbedanya niat dengan yang diucapkan, karena ucapan tersebut bersifat sharih. Dan niat yang berbeda dengan ucapan tersebut tidak berlaku niat dengan tanpa ditalaffudzkan.

Telah berkata Sayid Umar Al-Bashri : "Tempat jatuhnya ucapan seseorang هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ menjadi nadzar adalah selagi dia tidak memaksudkannya sebagai pemberitahuan, dan jika tidak memaksudkannya sebagai pemberitahuan maka udhhiyah tidak menjadi terta'yin". Perkataan Sayid Umar Al-Bashri khilaf terhadap Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dan Imam Ramli tentang keduanya telah berkata : "udhhiyah menjadi mandzurah sebab ucapan ini sekalipun dia memaksudkannya sebagai pemberitahuan, berbeda dengan ucapan seseorang : 
إِنْ مَلَكْتُ هٰذِهِ فَعَلَيَّ أَنْ أُضَحِيَ بِهَا
jika aku telah memiliki ini (kata isyarat ini ditujukan terhadap sakadang domba saudi arabia misalnya) maka mesti kepadaku bertadhhiyah dengannya
maka udhhiyah tidak menjadi mandzuroh karena yang dita'yin tidak tetap dalam tanggungan". [Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Tsimar Al-Ya'inah fi Ar-Riyadh Al-Badi'ah Halaman 80]

مسئلة ب
ظاهر كلامهم أن من قال هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ أو هِيَ أُضْحِيَّةٌ أو هَدْيٌ تعينت وزال ملكه عنها ولا يتصرف إلا بذبحها فى الوقت وتفرقتها ولا عبرة بنيته خلاف ذلك لأنه صريح قال الأذرعي كلامهم ظاهر فى أنه إنشاء وهو بالإقرار أشبه
Dzohir perkataan para ulama adalah bahwasanya orang yang berkata :
هٰذِهِ أُضْحِيَّة 
"ini (kata isyarat ini ditujukan terhadap sakadang domba saudi arabia misalnya) adalah أُضْحِيَّة"
atau 
هِيَ أُضْحِيَّةٌ
"dia (kata ganti dia perempuan tunggal ditujukan terhadap sakadang domba saudi arabia misalnya) adalah أُضْحِيَّة" 

atau  

هٰذِهِ هَدْيٌ 
"ini (kata isyarat ini ditujukan terhadap sakadang domba saudi arabia misalnya) adalah هَدْيٌ"
atau 
هِيَ هَدْيٌ
"dia (kata ganti dia perempuan tunggal ditujukan terhadap sakadang domba saudi arabia misalnya) adalah هَدْيٌ" 
maka domba itu menjadi terta'yin, dan menjadi hilang kepemilikannya atas domba tersebut, dan tidak boleh ditasharrufkan kecuali dengan menyembelih domba tersebut pada waktunya dan memisahkan bagian-bagian tubuhnya. Dan tidak ada perhitungan terhadap niatnya yang menolakbelakangi perkataannya karena perkataannya itu bersifat sharih. Telah berkata Imam Al-Adzra'i : perkataan para ulama adalah dzohir pada bahwasanya perkataan orang tersebut adalah إنشائية dan إنشائية itu terhadap إقرار lebih menyerupai. [Sayid Abdurrohman Ba'alawi mengutip redaksi Mushannif Al-Qala'id - Bughiyah Al-Mustarsyidin Halaman 257 - Kitab Syafi'iyah]

Mafhum Penulis
Sebenarnya strategi kedua ini diikhtilafkan, dan merindingnya yang dikhilafi pendapatnya adalah pendapat 2 Guru Besar Ulama Syafi'iyah sedunia yaitu : Imam Ramli dan Imam Ibnu Hajar Al-Haitami. Sejauh yang penulis ketahui, biasanya semua pendapat ulama Syafi'iyah muta'akhkhirin akan mengerucut merujuk kepada hasil tarjih kedua atau salah satu dari kedua Imam Besar ini. Bahwa perkataan orang-orang :
هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ
"ini (kata isyarat ditujukan terhadap seekor domba saudi arabia misalnya) adalah أُضْحِيَّةٌ"
  1. Ittifaq Imam Ar-Ramli dan Imam Ibnu Hajar Al-Haitami bahwa sekalipun mereka memaksudkan perkataan itu sebagai kalam khabari (pemberitahuan) tetap saja menyebabkan objek menjadi al-mandzuroh. Jadi dalam pandangan Syaikhoni Syafi'iyah : #Jika dimaksudkan kalam khabari, ucapan هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ menghasilkan al-mandzuroh. #Jika tidak dimaksudkan kalam khabari ucapan هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ menghasilkan al-mandzurah. 
  2. Syaikh Sayid Umar Al-Bashri mengatakan : "menjadi al-mandzuroh itu adalah selagi mereka tidak memaksudkannya sebagai kalam khabari (pemberitahuan), dan jika tidak memaksudkannya sebagai pemberitahuan maka udhhiyah tidak menjadi terta'yin". Jadi dalam pandangan Syaikh Sayid Umar Al-Bashri : #Jika dimaksudkan kalam khabari, ucapan هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ tidak menghasilkan al-mandzuroh. #Jika tidak dimaksudkan kalam khabaripun ucapan هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ tidak menghasilkan al-mu'ayyanah. 
  3. Imam Al-Adzro'i mengatakan bahwa perkataan para ulama adalah dzohir pada bahwasanya perkataan orang tersebut adalah إنشائية, dan انشائية itu terhadap إقرار. Jadi dalam pandangan Imam Al-Adzro'i : #Jika dimaksudkan kalam khabari, ucapan هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ tidak menghasilkan al-mu'ayyanah. #Jika dimaksudkan kalam insya'i ucapan هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ menghasilkan al-mu'ayyanah.
Perhatikan perbedaan hasil ketiganya! Penulis tidak sedang membandingkan pendapat mana yang lebih kuat dari 3 pendapat ini, karena jelas dalam kitab-kitab fiqih madzhab Syafi'i muta'akhkhirin sering disebutkan bahwa pendapat yang paling kuat dan mewakili sikap madzhab syafi'i adalah pendapat yang disepakati Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dan Imam Ramli. Akan tetapi pendapat Syaikh Sayid Umar Al-Bishri yang ditampilkan dalam karya tulis Syaikh Muhammad Nawawi dan Syaikh Ali Bashabrain, serta penjelasan Imam Al-Adzro'i yang ditampilkan dalam karya tulis Syaikh Muhammad Ba'asyan yakin mereka maksudkan sebagai pendapat alternatif yang bisa diikuti. 

Penulis tidak menyertakan pendapat Imam Ali Asy-Syibromilsi yang لا يبعد اغتفار ذلك للعوام tentang ucapan هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ karena itu bukan pilihan, melainkan harapan terakhir alias mudah-mudahan 😁

Strategi Ketiga - Sertakan anak kalimat yang berisi murod تطوعا pada rangkaian kalimat, baik itu kalimat yang dimaksudkan sebagai kalam khabari maupun sebagai kalam insya'i.
مسئلة ب
ظاهر كلامهم أن من قال هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ أو هِيَ أُضْحِيَّةٌ أو هَدْيٌ تعينت وزال ملكه عنها ولا يتصرف إلا بذبحها فى الوقت وتفرقتها ولا عبرة بنيته خلاف ذلك لأنه صريح
قال الأذرعي كلامهم ظاهر فى أنه إنشاء وهو بالإقرار أشبه
واستحسنه فى القلائد قال ومنه يؤخذ أنه إن أراد أَنِّيْ أُرِيْدُ التَّضْحِيَةَ بِهَا تَطَوُّعًا كما هو عرف الناس المطرد فيما يأخذونه لذلك حمل على ما أراد
Dzohirnya perkataan para ulama adalah bahwasanya orang yang berkata :
هٰذِهِ أُضْحِيَّة 
"ini (kata isyarat ini ditujukan terhadap sakadang domba mina misalnya) adalah udhhiyyah"
atau 
هِيَ أُضْحِيَّةٌ
"dia (kata ganti dia perempuan tunggal ditujukan terhadap sakadang domba mina misalnya) adalah udhhiyah" 

atau  

هٰذِهِ هَدْيٌ 
"ini (kata isyarat ini ditujukan terhadap sakadang domba mina misalnya) adalah hadyu"
atau 
هِيَ هَدْيٌ
"dia (kata ganti dia perempuan tunggal ditujukan terhadap sakadang domba mina misalnya) adalah hadyu" 
maka domba itu menjadi terta'yin, dan menjadi hilang kepemilikannya atas domba tersebut, dan tidak boleh ditasharrufkan kecuali dengan menyembelih domba tersebut pada waktunya dan memisahkan bagian-bagian tubuhnya. Dan tidak ada perhitungan terhadap niatnya yang menolakbelakangi perkataannya karena perkataannya itu sharih.

Telah berkata Imam Al-Adzra'i : perkataan para ulama adalah dzohir pada bahwasanya perkataan orang tersebut adalah إنشائية dan إنشائية itu terhadap إقرار lebih menyerupai, dan mengistihsannya kitab Al-Qalaid, dia berkata : dan dapat diambil pemahaman dari itu bahwasanya jika mudhahhi memiliki murod :
أَنِّيْ أُرِيْدُ التَّضْحِيَةَ بِهَا تَطَوُّعًا
sesungguhnya aku bermaksud التَّضْحِيَةَ dengan أُضْحِيَّةَ tersebut secara تَطَوُّع
sebagaimana itu adalah kebiasaan orang-orang yang dikontinyukan pernyataan murodnya pada perkara yang mereka take on terhadap perkara tersebut, maka mu'ayyan diihtimalkan terhadap perkara yang jadi murod mudhahhi. [Sayid Abdurrohman Ba'alawi mengutip redaksi Mushannif Al-Qala'id - Bughiyah Al-Mustarsyidin Halaman 257-258 - Kitab Syafi'iyah]

Mafhum Penulis  
Ini secara kosakata, mirip dengan strategi kesatu yang menganjurkan penyertaan kata الْمَسْنُوْنَةَ atau سُنَّةِ pada serangkaian kalimat niat. Akan tetapi yang ini konteksnya bukan pada redaksi kalimat niat, melainkan adalah pada redaksi kalimat إنشائية yang terhadap الإقرار lebih menyerupai seperti dikatakan Imam Al-Adzro'i. Jadi ketika mudhahhi menyatakan :
هٰذِهِ أُضْحِيَّة
"ini (kata isyarat ini ditujukan terhadap sakadang domba garut misalnya) adalah udhhiyyah"
atau 
هِيَ أُضْحِيَّةٌ
"dia (kata ganti dia perempuan tunggal ditujukan kepada sakadang domba garut misalnya) adalah udhhiyah" 
kemudian melanjutkannya dengan rangkaian kalimat yang menyatakan murod dari أُضْحِيَّةٌnya yang diهٰذِهِkan atau diهِيَkan tersebut seperti dengan rangkaian kalimat :
أَنِّيْ أُرِيْدُ التَّضْحِيَةَ بِهَا تَطَوُّعًا
"sesungguhnya aku bermaksud التَّضْحِيَةَ dengan أُضْحِيَّةَ tersebut secara تَطَوُّع"
menjadi satu kesatuan kalimat (klausa dengan dependent clause berisi murod sebagai anak kalimatnya) :
هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ أَنِّيْ أُرِيْدُ التَّضْحِيَةَ بِهَا تَطَوُّعًا
ini (kata isyarat ini ditujukan terhadap sakadang domba garut misalnya) adalah udhhiyah, sesungguhnya aku bermaksud التَّضْحِيَةَ dengan أُضْحِيَّةَ tersebut secara تَطَوُّع"
atau
هِيَ أُضْحِيَّةٌ أَنِّيْ أُرِيْدُ التَّضْحِيَةَ بِهَا تَطَوُّعًا
"ini (kata ganti dia perempuan tunggal ditujukan kepada sakadang unta misalnya) adalah udhhiyah, sesungguhnya aku bermaksud التَّضْحِيَةَ dengan أُضْحِيَّةَ tersebut secara تَطَوُّع"
maka ta'yinnya pada udhhiyah diihtimalkan pada murodnya tersebut. Sehingga hukum udhhiyah tetap sunat karena ter-tathawwu-kan kalimat murod setelahnya. 

Strategi serupa bisa diterapkan pada kalam خبرية, meskipun : 
  • Syaikh Sayid Umar Al-Bashri mengatakan bahwa menjadi al-mandzuroh itu adalah selagi mereka tidak memaksudkannya sebagai kalam khabari (pemberitahuan). 
  • Imam Al-Adzro'i bahkan menyimpulkan bahwa perkataan para ulama adalah dzohir pada bahwasanya perkataan orang tersebut adalah إنشائية dan إنشائية itu terhadap إقرار lebih menyerupai.
Karena tentu saja jika strategi ini diterapkan juga pada kalam khabari, akan menjadikannya lebih aman.

Strategi ketiga dan strategi keempat hampir sama dengan strategi kesatu dalam hal tidak membiarkan kata أضحية tanpa qayid penjelas.

Strategi Keempat - Sertakan kalimat إن شاء الله pada rangkaian kalimat, baik itu kalimat yang dimaksudkan sebagai kalam khabari maupun sebagai kalam insya'i.
وقال الشافعية في الصحيح والحنابلة: إن نوى الشراء للأضحية ولم يتلفظ بذلك لاتصير به أضحية؛ لأن إزالة الملك على سبيل القربة لاتحصل بذلك، وإنما تجب الأضحية إما بالنذر، مثل لله علي، أو علي أن أضحي بهذه الشاة، أو بالتعيين بأن يقول: هذه أضحية أو جعلتها أضحية، لزوال ملكه عنها بذلك. والجعل بمعنى النذر، فتصير واجبة، ويحرم حينئذ الأكل منها، ولايقبل القول بإرادة التطوع بها. فإن قال: أضحية إن شاء الله لم تتعين ولم تجب
Telah mengatakan Syafi'iyah dalam qaul shahihnya dan Hanabilah : Jika seseorang meniatkan pembelian untuk أضحية dan dia tidak melafadzkan terhadap yang diniatkannya maka dengan itu tidak menjadikan hasil pembeliannya sebagai أضحية karena menghilangkan kepemilikan dalam rangka bertaqorrub tidaklah hasil dengan cara demikian. Hanyalah wajib أضحية dengan : 
  • sebab nadzar, seperti : "لله علي karena Allah mesti kepadaku, atau علي أن أضاحي بهذه الشاة mesti kepadaku berqurban أضحية dengan kambing ini". atau
  • sebab ta'yin (menentukan - menspesifikan), dengan mengatakan : "ini adalah أضحية". atau 
  • "aku telah menjadikannya أضحية" (sebab ju'alah)
Karena hilangnya kepemilikan dia terhadap itu.

"جعل / جعالة / menjadikan" adalah mengandung makna nadzar, maka أضحية menjadi wajib dan haram tatkala demikian memakan dari bagian أضحية. Dan tidak diterima perkataan tentang murod tathawwu dengannya. by the way,  jika seseorang mengatakan "أضحية insya Allah" maka أضحية tidak menjadi terta'yin dan tidak menjadi wajib. [Dr. Syaikh Wahbah Az-Zuhaili -  Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh Jilid 4 Hal 2707 - Kitab Perbandingan Madzhab]

Mafhum Penulis
Yang dijelaskan Syaikh Wahbah Az-Zuhaili ini berkaitan dengan perubahan hukum udhhiyah dari hukum asal ke hukum baru menurut perspektif Ulama Fiqih 2 madzhab, yaitu :
  • Madzhab Syafi'i yang beliau telusuri dari kitab-kitab para ulama Syafi'iyah (Mughni Al-Muhtaj Imam Khatib Syarbaini, Al-Muhaddab Imam Abu Ishaq Asy-Syairozy, Hasyiyah Al-Bajuri Syaikhul Islam Ibrohim Al-Baijuri)
  • Madhab Hanbali yang beliau telusuri dari kitab-kitab para ulama Hanabilah (Al-Mughni Imam Ibnu Qudamah, Kasyaf Al-Qina Ala Matn Al-Iqna Imam Manshur Al-Buhuti)
Berikut ini point-point penting dari penjelasan tersebut :
  • Pembelian terhadap hewan udhhiyah tidaklah menyebabkan perubahan dari hukum asal sunat mu'akkad menjadi wajib, ini berbeda dengan pendapat Hanafiyah.
  • Sebab perubahan hukum ada 3 : pernyataan nadzar, pernyataan ta'yin (menentukan jenis qurban terhadap qurban أضحية atau menspesifikan jenis hewan yang akan diqurbanأضحيةkan), pernyataan ju'alah (menjadikan). Ketiganya merupakan bentuk pernyataan alias suatu pengungkapan maksud yang dinyatakan secara lisan baik dibuktikan dengan adanya kata-kata maupun isyarat. Tidak seperti niat, yang ruang pengungkapannya adalah hati.
  • Jika pernyataan yang dilisankan berbeda dengan maksud hati yang sebenarnya, maka yang dijadikan objek hukum adalah apa yang terbukti dinyatakan secara lisan sekalipun tidak sesuai dengan maksud hati. Kacaletot, misalnya. Oleh karena itu beliau menjelaskan bahwa "tidak diterima perkataan tentang murod tathawwu dengannya". Kecuali jika serangkaian kalimat yang jadi murodnya tersebut disebutkan juga secara paralel mengikuti pernyataan sebelumnya sebagai dependent clause sebagaimana dijelaskan sebelumnya pada strategi ketiga.
  • Jika setelah kalimat pernyataan ta'yin (menspesifikan jenis qurban terhadap qurban أضحية) kemudian diikuti secara paralel dengan kalimat انشاء الله maka statusnya menjadi tidak terta'yin dan qurban أضحية menjadi tidak wajib
Jadi jika dalam percakapan sehari-hari seorang calon mudhahhi perlu melisankan suara hatinya perihal qurban udhhiyah sebelum proses pelaksanaan dengan ingin tetap mempertahankan pelafalan redaksi أضحية hukum tidak berubah menjadi wajib dengan penerapan strategi ketiga atau keempat ini.

Menurut hemat penulis, dalam percakapan sehari-hari yang lebih aman adalah strategi kelima yaitu penggunaan istilah yang lebih luas dari kata أضحية

Strategi Kelima - Gunakan kosakata yang maknanya lebih umum tapi mudah difahami sebagai pengganti kata ضَحِيَةٌ dhahiyah / kata أَنْ نُضَحِّيَ" dengan seumpama kata ذَبِيْحَة hewan sembelihan / kata أَنْ نَذْبَحَهَا"
قوله ولا تجب الأضحية الا بالنذر : أى حقيقة أو حكما فالأول كقوله لِلّٰهِ عَلَيَّ أَنْ أُضَحِّيَ بِهٰذِهِ والثاني كقوله جَعَلْتُ هٰذِهِ أُضْحِيَّةً فالجعل بمنزلة النذر بل متى قال هٰذِهِ أُضْحِيَّةً صارت واجبة وان جهل بذلك. فما يقع من العوام عند سؤالهم عما يريدون التضحية به من قولهم هٰذِهِ أُضْحِيَّةً تصير به واجبة ويحرم عليهم الأكل منها. ولا يقبل قولهم اَرَدْنَا التَّطَوُّعَ بِهَا خلافا لبعضهم. وقال الشبراملسي لا يبعد اغتفار ذلك للعوام، وهو قريب، لكن ضعفه مشايخنا. فالجواب المخلص من ذلك أن يقول المسئول نُرِيْدُ أَنْ نَذْبَحَهَا يَوْمَ الْعِيْدِ. نعم، لا تجب بقوله وقت ذبحها أَللّٰهُمَّ هٰذِهِ أُضْحِيَّتِيْ فَتَقَبَّلْ مِنِّي يَا كَرِيْمُ ونحو ذلك
Redaksi Imam Ibnu Qasim Al-Ghazi ولا تجب الأضحية الا بالنذر dan tidak wajib udhhiyah kecuali sebab nadzar :
Baik nadzar haqiqi ataupun nadzar hukmi.
  • Adapun yang pertama (nadzar haqiqi) adalah seperti perkataan mudhahhi : "لِلّٰهِ عَلَيَّ أَنْ أُضَحِّيَ بِهٰذِهِ karena Allah mesti kepadaku berأضحية dengan hewan ini".
  • Dan yang kedua (nadzar hukmi) adalah seperti perkataan mudhahhi : جَعَلْتُ هٰذِهِ أُضْحِيَّةً aku telah menjadikan hewan ini sebagai أُضْحِيَّةً. Maka penjadian tersebut adalah ada pada manzilah nadzar. Bahkan ketika dia berkata :  هٰذِهِ أُضْحِيَّةً ini adalah أُضْحِيَّةً", maka jadi أُضْحِيَّةً tersebut berketetapan wajibah sekalipun mudhahhi tidak tahu terhadap bahwa itu menjadi sebab berubah jadi wajib.
Selanjutnya, apa yang terjadi dari orang-orang awam ketika dipertanyakan kepada mereka perihal murod (tujuan) yang mereka berتضحية sebab itu, yaitu dari seumpama jawaban mereka "هٰذِهِ أُضْحِيَّةً ini adalah hewan أُضْحِيَّةً" maka jadilah أُضْحِيَّةً gara-gara jawaban tersebut menjadi wajib dan haram kepada mereka memakan sebagian darinya. Dan tidak diterima penjelasan mereka "اَرَدْنَا التَّطَوُّعَ بِهَا kami bertujuan untuk tathawwu dengan hewan tersebut", menyelisihi pendapat sebagian ulama. Dan telah berkata Imam Asy-Syibromilsi : "tidak jauh dimaafkannya perihal itu dari orang-orang awam", dan perkataan Imam Asy-Syibromilsi itu mendekati, akan tetapi guru-guru kita mendhaifkannya. And than, adapun jawaban yang المخلص (murni, netral) dari masalah itu (ketika dipertanyakan kepada mereka perihal tujuan yang mereka berتضحية sebab itu) adalah perkataan orang yang ditanya :
نُرِيْدُ أَنْ نَذْبَحَهَا يَوْمَ الْعِيْدِ
kami berkehendak untuk menyembelihnya pada hari raya
Yes, tidak menjadi wajib sebab perkataan mudhahhi pada waktu menyembelihnya :
أَللّٰهُمَّ هٰذِهِ أُضْحِيَّتِيْ فَتَقَبَّلْ مِنِّي يَا كَرِيْمُ
Yaa Allah, ini adalah أُضْحِيَّةًku, maka terimalah dariku, Yaa Allah Al-Kariim.
atau seumpama perkataan tersebut. [Syaikhul Islam Ibrohim Al-Bajuri Jilid 2 Halaman 296 - Kitab Syafi'iyah]

Mafhum Penulis
Awalnya temuan dalam kitab Hasyiyah Al-Bajuri ini akan penulis tempatkan diawal, mengingat strategi inilah yang menurut penulis paling aman.

Syaikhul Islam Ibrohim Al-Bajuri merekomendasikannya suatu redaksi jawaban yang aman untuk dilisankan, yaitu dengan kalimat :
نُرِيْدُ أَنْ نَذْبَحَهَا يَوْمَ الْعِيْدِ
"kami berkehendak untuk menyembelihnya pada hari raya"
Pada redaksi kalimat ini keyword penetralisir dimaksud adalah kata "أَنْ نَذْبَحَهَا". Dengan kata lain, gunakan kata أَنْ نَذْبَحَهَا atau أَنْ أَذْبَحَهَا sebagai pengganti kata أَنْ نُضَحِّيَ atau أَنْ أُضَحِّيَ. Karena secara makna, kata "أَنْ نَذْبَحَهَا" ini lebih luas ruang lingkupnya daripada kata أَنْ نُضَحِّيَ sehingga binatang ternak yang jadi objek pembahasan (ذَبِيْحَة) menjadi tidak terta'yin karena ذبيحة termasuk juga didalamnya : ضَحِيَةٌ Dhahiyah هَدْيٌ Hadyu عَقِيْقَةٌ Aqiqah فَرَعٌ Fara عَتِيْرَةٌ Atirah رَجِيْبَةٌ Rajibah.  Sekalipun dalam rangkaian kalimatnya disebutkan juga waktu penyembelihannya yaitu يوم العيد hari idul adha.

Bagaimana dengan kata "قُرْبَانٌ Qurban" ? Menurut penelusuran penulis kata "قُرْبَانٌ Qurban" bahkan lebih luas cakupan maknanya daripada kata "ذَبِيْحَة Sembelihan" [Lihat Tafsir Al-Khazin Jilid 1 Hal 327] Akan tetapi tidak dipungkiri bahwa jika kata  "قُرْبَانٌ Qurban" ini ditarik ke wilayah ذبائح, maka dari sekian banyak jenis ذبيحة yang paling kuat علاقةnya dengan "قُرْبَانٌ Qurban" adalah ذبيحة أضحية [Lihat Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah Jilid 5 Hal 74] Jadi secara makna memang lebih umum tapi secara penggunaan lebih identik. 

Semoga bermanfaat, dan Selamat Hari Raya Idul Adha!

Sumber
Tafsir Al-Khazin Jilid 1 Hal 327 (Syaikh Alauddin Ali Al-Khazin), I'anah Ath-Thalibin Jilid 2 Halaman 331 (Syaikh Sayid Abu Bakar), Itsmad Al-Ainain fi Ba'dhi Ikhtilaf Asy-Syaikhain Hal 77 (Syaikh Ali Bashabrain), Ats-Tsimar Al-Yani'ah fi Ar-Riyadh Al-Badi'ah Hal 80 (Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi), Bughiyah Al-Mustarsyidin Halaman 257-258 (Syaikh Sayid Abdurrohman Ba'alawi), Hasyiyah Al-Bajuri ala Ibni Qasim Al-Ghazi Jilid 2 Halaman 296 (Syaikhul Islam Ibrohim Al-Bajuri), Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh Jilid 4 Hal 2707 (Dr.Syaikh Wahbah Az-Zuhaili), Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah Jilid 5 Hal 74 (Majmu'ah Al-Mu'allifin Kuwait)