BAITUSSALAM: Fiqih Zakat
Tampilkan postingan dengan label Fiqih Zakat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiqih Zakat. Tampilkan semua postingan

17 Contoh Redaksi Niat Zakat Fitrah

Berikut ini 17 Contoh Redaksi Niat Zakat Fitrah :
  1. Zakat Fitrah Diri Sendiri
  2. Zakat Fitrah Istri Saya
  3. Zakat Fitrah Istri-Istri Saya : Hindun, Zulaikha, Fatimah, Icih
  4. Zakat Fitrah Suami Saya
  5. Zakat Fitrah Ayah Saya
  6. Zakat Fitrah Ibu Saya
  7. Zakat Fitrah Kakek Saya : Ibrohim
  8. Zakat Fitrah Nenek Saya : Siti Ruqoyah
  9. Zakat Fitrah Anak Cowok Saya
  10. Zakat Fitrah Anak Cewek Saya
  11. Zakat Fitrah Anak-Anak Saya : Asep, Aden, Ai
  12. Zakat Fitrah Cucu Cowok Saya
  13. Zakat Fitrah Cucu Cewek Saya
  14. Zakat Fitrah Keturunan Saya : Aep, Eman, Udin, Dini, Futri, Silfi, Kokom, Susi dan Susanti
  15. Zakat Fitrah Saudara Cowok Saya : Deden
  16. Zakat Fitrah Saudara Cewek Saya : Yeyen
  17. Zakat Fitrah Saudara-Saudara Saya : Deden, Yeyen, Dadan, Yuyun, Yayan

1). Zakat Fitrah Diri Sendiri.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ نَفْسِيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari diri saya".

Begini juga bisa :

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنِّيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari saya".

2). Zakat Fitrah Istri Saya.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ زَوْجَتِيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari istri saya".

3). Zakat Fitrah Istri-Istri Saya : Hindun, Zulaikha, Fatimah, Icih.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ زَوْجَاتِيْ هِنْدٌ وَزُلَيْخَا وَفَاطِمَةْ وَإِيْچِيهْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari istri-istri saya yaitu hindun, zulaikha, fatimah dan icih".

4). Zakat Fitrah Suami Saya.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ زَوْجِيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari suami saya".

5). Zakat Fitrah Ayah Saya.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ أَبِيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari ayah saya".

6). Zakat Fitrah Ibu Saya.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ أُمِّيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari ibu saya".

7). Zakat Fitrah Kakek Saya : Ibrohim.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ جَدِّيْ إِبْرَاهِيمْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari kakek saya yaitu ibrohim".

8). Zakat Fitrah Nenek Saya : Siti Ruqoyah.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ جَدَّتِيْ سِيْتِيْ رُقَيَةْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari nenek saya yaitu siti ruqoyah".

9). Zakat Fitrah Anak Cowok Saya.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ اِبْنِيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari anak cowok saya".

10). Zakat Fitrah Anak Cewek Saya.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ بِنْتِيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari anak cewek saya".

11). Zakat Fitrah Anak-Anak Saya : Asep, Aden, Ai.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ أَوْلَادِيْ أَسَيفْ وَأَدَينْ وَأَيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari anak-anak saya yaitu asep, aden, ai".

12). Zakat Fitrah Cucu Cowok Saya.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ حَفِيْدِيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari cucu cowok saya".

13). Zakat Fitrah Cucu Cewek Saya.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ حَفِيْدَتِيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari cucu cewek saya".

14). Zakat Fitrah Keturunan Saya : Aep, Eman, Udin, Dini, Futri, Silfi, Kokom, Susi dan Susanti.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ ذُرِّيَّتِيْ أَيفْ وَأَيْمَانْ وَأُوْدِينْ وَدِيْنِيْ وَفُتْرِيْ وَسِلْفِيْ وَكَوْكَومْ وَسُوْسِيْ وَسُوْسَنْتِيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari keturunan saya : aep, eman, udin, dini, futri, silfi, kokom, susi dan susanti".

15). Zakat Fitrah Saudara Cowok Saya : Deden.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ أَخِيْ دَيْدَينْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari saudara cowok saya yaitu deden".

16). Zakat Fitrah Saudara Cewek Saya : Yeyen.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ أُخْتِيْ يَيْيَينْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari saudara cewek saya yaitu yeyen".

17). Zakat Fitrah Saudara-Saudara Saya : Deden, Yeyen, Dadan, Yuyun, Yayan.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ إخْوَتِيْ دَيْدَينْ وَيَيْيَينْ وَدَادَانْ وَيُوْيُونْ وَيَايَانْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari saudara-saudara saya yaitu deden, yeyen, dadan, yuyun, yayan".

Waktu Niat Zakat Fitrah

Tahukah anda, waktu paling tepat untuk niat zakat fitrah adalah ketika momentum penyerahan kepada mustahiq. Jika itu sulit dilakukan, maka alternatifnya boleh diawalkan ketika : 

  • masih proses pemisahan beras 2.5 kg yang akan dizakatkan dari karungnya
  • proses penyerahan kepada panitia zakat
  • atau setelah berlalu kedua proses di atas, sebelum momentum penyerahan langsung secara mandiri atau momentum pembagian kepada mustahiq.

Yang tidak boleh adalah ketika :

  • sebelum proses pemisahan beras 2.5 kg yang akan dizakatkan dari karung
  • setelah zakat selesai diserahkan langsung secara mandiri kepada mustahiq atau selesai dibagikan oleh panitia kepada mustahiq

Berikut ini penjelasan ulama fiqih :

Kitab Fiqih Perbandingan Madzhab 4 :

الموسوعة الفقهية الكويتية للمجموعة من المؤلفين ج ٢٣ ص ٢٩٣
وَيَنْوِي عِنْدَ دَفْعِهَا إِلَى الإِْمَامِ أَوْ إِلَى مُسْتَحِقِّهَا، أَوْ قَبْل الدَّفْعِ بِقَلِيلٍ. فَإِنْ نَوَى بَعْدَ الدَّفْعِ لَمْ يُجْزِئْهُ عَلَى مَا صَرَّحَ بِهِ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ. أَمَّا عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ فَالشَّرْطُ مُقَارَنَةُ النِّيَّةِ لِلأَْدَاءِ وَلَوْ حُكْمًا، كَمَا لَوْ دَفَعَ بِلاَ نِيَّةٍ ثُمَّ نَوَى وَالْمَال لاَ يَزَال قَائِمًا فِي مِلْكِ الْفَقِيرِ بِخِلاَفِ مَا إِذَا نَوَى بَعْدَمَا اسْتَهْلَكَهُ الْفَقِيرُ أَوْ بَاعَهُ فَلاَ تُجْزِئُ عَنِ الزَّكَاةِ. وَقَال الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ: إِنْ عَزَل الزَّكَاةَ عَنْ مَالِهِ وَنَوَى عِنْدَ الْعَزْل أَنَّهَا زَكَاةٌ كَفَى ذَلِكَ، وَلَوْ لَمْ يَنْوِ عِنْدَ الدَّفْعِ

dan berniat muzakki :

  • ketika menyerahkan zakat kepada imam, atau
  • ketika menyerahkan zakat kepada mustahiq zakat, atau
  • sedikit waktu sebelum menyerahkannya

Jika muzakki berniat setelah selesai penyerahan, maka itu tidak mencukupkan baginya. Berdasarkan penjelasan yang telah mentashrih terhadapnya Malikiyah dan Syafi'iyah.

Adapun menurut Hanafiyah, maka syaratnya adalah niat membersamai proses penunaian sekalipun secara hukmiyah. Hukmiyah adalah seperti kasus : jika muzakki melakukan proses penyerahan tanpa niat, kemudian dia berniat pada situasi harta zakat yang diterima masih tetap berada dalam kepemilikan sang faqir. Membedai kasus : jika muzakki berniat setelah sang  faqir merusak harta yang diterima, atau setelah sang faqir menjualnya. Maka niat pada kasus seperti ini tidak mencukupkan dari zakat.

Telah berkata Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah : jika muzakki telah memisahkan harta yang akan dizakatkan dari hartanya yang lain, dan dia berniat ketika memisahkan bahwasanya harta yang dipisahkan tersebut adalah zakat, maka itu telah mencukupkan. Sekalipun dia tidak berniat ketika penyerahan. 

[Majmu'ah min Al-Mu'allifin, Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah Jilid 23 Halaman 293 - Diterjemahkan oleh : Cucu Anwar Mubarok]

Kitab Fiqih Mu'tabaroh Ulama Syafi'iyah :

فتح المعين بشرح قرة العين للشيخ زين الدين المليباري صحيفة ٥١
لا مقارنتها أي النية للدفع فلا يشترط ذلك بل تكفي النية قبل الأداء إن وجدت عند عزل قدر الزكاة عن المال أو إعطاء وكيل أو إمام والأفضل لهما أن ينويا أيضا عند التفرقة. أو وجدت بعد أحدهما أي بعد عزل قدر الزكاة أو التوكيل وقبل التفرقة لعسر اقترانها بأداء كل مستحق
Tidak muqoronahnya (niat) terhadap penyerahan. Jadi itu tidak disyaratkan. Bahkan cukup niat sebelum proses penunaian jika ditemukan waktunya :
  • ketika memisahkan seukuran zakat dari harta. atau
  • ketika menyerahkan kepada wakil atau imam. Yang paling utama bagi keduanya adalah keduanya meniatkan juga ketika proses pembagian kepada mustahiq. atau
  • ketika ditemukan waktu niat setelah terjadi salah satu dari keduanya (pemisahan seukuran zakat dari harta atau penyerahan kepada wakil / imam) dan sebelum pembagian kepada mustahiq.
Karena terdapat kesulitan membersamakan niat zakat dengan penunaian terhadap masing-masing mustahiq.
[Syaikh Zainudin Al-Malibari, Fathul Mu'in Hal 51 - Diterjemahkan oleh : Cucu Anwar Mubarok]

Semoga bermanfaat

Hukum Zakat Fitrah Faqir Yang Kaya Mendadak di Hari Raya Idul Fitri, Atau Sebaliknya.

Tidak mustahil anda yang awalnya faqir kemudian mendadak menjadi kaya raya di hari raya, atau sebaliknya anda yang awalnya kaya raya kemudian mendadak menjadi faqir di hari raya. Nah, bagaimana hukum membayar zakat fitrah jika anda belum sempat menunaikannya?

Kitab Perbandingan Madzhab 4 :
فمن مات بعد الغروب تجب عليه، أما من ولد أو أسلم بعد الغروب أو كان معسراً وقت الوجوب ثم أيسر بعده، فلا فطرة عليه عند الجمهور، لعدم وجود سبب الوجوب وعليه الفطرة عند الحنفية. ولا تسقط عند الجمهور بعد وجوبها بموت ولا غيره
Kemudian, barangsiapa mati setelah maghrib, maka wajib zakat kepadanya. Adapun orang yang dilahirkan atau masuk islam setelah maghrib, atau terbukti menjadi orang yang sulit (tidak mampu) pada waktu wajib kemudian dia menjadi mudah (mampu) setelah waktu wajib, maka :
  • Tidak ada kewajiban membayar zakat fitrah kepadanya menurut Jumhur Ulama, karena ketiadaan sebab wajib
  • Wajib kepadanya zakat fitrah menurut Hanafiyah
Dan tidak gugur kewajiban membayar zakat menurut Jumhur Ulama setelah diwajibkannya, baik sebab mati ataupun selainnya. [Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuh Jilid 3 Hal 2042]

Kitab Madzhab Imam Syafi'i :

ﺛﻢ اﻟﻴﺴﺎﺭ اﻧﻤﺎ ﻳﻌﺘﺒﺮ ﻭﻗﺖ اﻟﻮﺟﻮﺏ ﻓﻠﻮ ﻛﺎﻥ ﻣﻌﺴﺮا ﻋﻨﺪﻩ ﺛﻢ اﻳﺴﺮ ﻓﻼ ﺷﺊ ﻋﻠﻴﻪ ﻻﻥ ﻭﺟﻮﺩ اﻟﺸﺮﻁ ﺑﻌﺪ ﻓﻮاﺕ اﻟﻮﻗﺖ ﻻ ﻳﻐﻨﻰ

selanjutnya, kondisi mudah (mampu) pastinya diperhitungkan pada waktu wajib. Jadi jika terbukti sebagai orang yang sulit (faqir) pada waktu wajib, maka tidak ada sesuatupun yang wajib kepadanya. Karena sesungguhnya keberadaan syarat setelah luput waktu tidaklah menjadikannya berstatus ghany (mampu). [Imam Abdul Karim Ar-Rofi'i, Fathul Aziz bi Syarh Al-Wajiz / Asy-Syarh Kabir]

Berdasarkan penjelasan 2 kitab tersebut dapat difahami, bahwa :

  • Jika pada momentum maghrib malam hari raya idulfitri anda berstatus faqir, sehingga anda tidak membayar zakat fitrah karena tidak ada kewajiban membayar zakat fitrah bagi orang yang tidak mampu, kemudian anda berubah mendadak jadi kaya setelah itu, maka tetap tidak ada kewajiban kepada anda untuk membayar zakat fitrah sebab kekayaan dadakan tersebut.
  • Jika pada momentum maghrib malam hari raya idulfitri anda berstatus kaya, maka anda ada kewajiban membayar zakat fitrah, belum sempat anda tunaikan zakatnya kemudian anda berubah mendadak menjadi faqir, maka tetap ada kewajiban kepada anda untuk membayar zakat fitrah.
Karena yang dijadikan patokan perhitungan adalah kondisi anda pada وقت الوجوب yaitu momentum durasi akhir romadhon (sesaat sebelum maghrib) sampai awal syawal (dur maghrib). Adapun perubahan kondisi setelah maghrib, tidak lah berpengaruh terhadap perubahan hukum.

Itu adalah menurut Mayoritas Ulama, kecuali Madzhab Hanafi.
Semoga bermanfaat.

Zakat Fithrah Dengan Qimah (Uang Seharga Wajib Zakat) 4 Madzhab

Berikut ini penjelasan para ulama dalam kitab-kitab perbandingan madzhab 4 tentang zakat fithrah dengan qimah (uang seharga wajib zakat) :

دفع القيمة عندهم: لا يجزئ عند الجمهور إخراج القيمة عن هذه الأصناف، فمن أعطى القيمة لم تجزئه، لقول ابن عمر: «فرض رسول الله صلّى الله عليه وسلم صدقة الفطر صاعاً من تمر، وصاعاً من شعير» فإذا عدل عن ذلك فقد ترك المفروض
___________
وعند غير الحنفية: يتعين أداء المنصوص عليه، وقد بحث الموضوع في إخراج القيمة في الزكاة
Membayar zakat dengan qimah (uang seharga ukuran wajib zakat) menurut para Ulama : di kalangan jumhur, pengeluarkan qimah anil ashnaf ini tidak lah mencukupkan. Sehingga barangsiapa memberikan qimah, maka qimah tersebut tidak mencukupkan baginya, berdasarkan perkataan Ibnu Umar : "Rasulullah SAW telah memfardhukan shadaqoh fithri 1 sha dari kurma dan 1 sha dari sya'ir". Maka barangsiapa mengeluarkan pengganti darinya, maka dia telah meninggalkan perkara yang difardhukan.
______________________
Dan di kalangan madzhab selain Hanafiyah, ditentukan membayarkan perkara yang telah di-nash terhadapnya. Dan telah dibahas tempat pembahasan yang diperuntukan perihal mengeluarkan qimah pada zakat. [Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh Jilid 3 Hal 1956-1957]

أَدَاءُ الْقِيمَةِ: ذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ دَفْعُ الْقِيمَةِ، لأَِنَّهُ لَمْ يَرِدْ نَصٌّ بِذَلِكَ، وَلأَِنَّ الْقِيمَةَ فِي حُقُوقِ النَّاسِ لاَ تَجُوزُ إِلاَّ عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمْ، وَلَيْسَ لِصَدَقَةِ الْفِطْرِ مَالِكٌ مُعَيَّنٌ حَتَّى يَجُوزَ رِضَاهُ أَوْ إبْرَاؤُهُ.
وَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى أَنَّهُ يَجُوزُ دَفْعُ الْقِيمَةِ فِي صَدَقَةِ الْفِطْرِ، بَل هُوَ أَوْلَى لِيَتَيَسَّرَ لِلْفَقِيرِ أَنْ يَشْتَرِيَ أَيَّ شَيْءٍ يُرِيدُهُ فِي يَوْمِ الْعِيدِ؛ لأَِنَّهُ قَدْ لاَ يَكُونُ مُحْتَاجًا إِلَى الْحُبُوبِ بَل هُوَ مُحْتَاجٌ إِلَى مَلاَبِسَ، أَوْ لَحْمٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ، فَإِعْطَاؤُهُ الْحُبُوبَ، يَضْطَرُّهُ إِلَى أَنْ يَطُوفَ بِالشَّوَارِعِ لِيَجِدَ مَنْ يَشْتَرِي مِنْهُ الْحُبُوبَ، وَقَدْ يَبِيعُهَا بِثَمَنٍ بَخْسٍ أَقَل مِنْ قِيمَتِهَا الْحَقِيقِيَّةِ، هَذَا كُلُّهُ فِي حَالَةِ الْيُسْرِ، وَوُجُودِ الْحُبُوبِ بِكَثْرَةٍ فِي الأَْسْوَاقِ، أَمَّا فِي حَالَةِ الشِّدَّةِ وَقِلَّةِ الْحُبُوبِ فِي الأَْسْوَاقِ، فَدَفْعُ الْعَيْنِ أَوْلَى مِنَ الْقِيمَةِ مُرَاعَاةً لِمَصْلَحَةِ الْفَقِيرِ، وَيُنْظَرُ التَّفْصِيل فِي الزَّكَاةِ
Membayarkan qimah (uang seharga ukuran wajib zakat) :
  • Berangkat Malikiyah, Syafi'iyah dan Hanabilah terhadap bahwasanya tidak boleh memberikan qimah Karena sesungguhnya tidak datang nash dengan qimah. Dan karena sesungguhnya qimah pada hak-hak manusia tidak boleh kecuali dari saling ridha antar mereka. Dan tidak ada untuk shadaqah fithri pemilik yang meluluskan ridhanya dan melepaskan kepemilikannya.
  • Berangkat Hanafiyah terhadap bahwasanya boleh memberikan qimah pada shadaqoh fithri. Bahkan itu yang lebih utama. Untuk mempermudah bagi orang faqir membeli perkara apapun yang dia inginkan di hari idul fithri. Karena sesungguhnya orang faqir terkadang tidak membutuhkan terhadap biji-bijian, tapi membutuhkan terhadap pakaian atau daging atau selain itu. Maka memberikannya biji-bijian memadharatkannya untuk berkeliling di jalan-jalan untuk menemukan orang yang membeli biji-bijian darinya. Dan terkadang mereka menjualnya dengan harga murah di bawah harga yang sebenarnya. Semua ini pada situasi serba mudah, dan banyaknya ketersedian biji-bijian di pasar-pasar. Adapun pada situasi paceklik, dan sedikitnya ketersediaan biji-bijian di pasar, maka memberikan dzat lebih utama daripada qimah, dalam rangka memelihara terhadap kemashlahatan bagi orang faqir. Dan perlu ditinjau detailnya pada zakat.
[Majmu'ah Min Al-Mu'allifin, Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah Jilid 23 Hal 344]

الحنفية قالوا : ويجوز له أن يخرج قيمة الزكاة الواجبة من النقود، بل هذا أفضل؛ لأنه أكثر نفعاً للفقراء الخ
Hanafiyah berkata : ............. dan boleh baginya mengeluarkan qimah zakat yang wajib dari uang, bahkan ini lebih utama, karena sesungguhnya itu lebih banyak manfaatnya bagi fuqoro .........dst........ [Syaikh Abdurrahman Jabir Al-Jazairi, Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba'ah Jilid 1 Hal 567]

Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di 3 kitab perbandingan madzhab yang paling populer tersebut, hanya Madzhab Hanafi yang menyatakan kebolehan zakat fitrah dengan qimah (uang seharga wajib zakat). Sedangkan 3 madzhab lainnya, yaitu : 
  • Madzhab Maliki
  • Madzhab Syafi'i
  • Madzhab Hanbali
menyatakan tidak boleh, wajib tetap menggunakan hub min quut al-balad.

Zakat Fitrah Dengan Uang - Madzhab Syafi'i

Dewasa ini membayar zakat fitrah dengan uang dianggap sebagai alternatif yang paling efektif, bahkan MUI-pun memfatwakan kebolehannya. Tapi apakah itu diperbolehkan dalam madzhab Syafi'i? Mari kita telusuri hukum zakat fitrah dengan uang - perspektif Madzhab Syafi'i. ❤️ Fokus ke Madzhab Syafi'i ❤️
Sebegitu pentingkah mengetahui status hukum zakat fitrah dengan uang? Tentu saja, karena mempraktekan suatu ibadah yang status hukumnya diikhtilafkan itu harus jelas sandaran hukumnya agar kita tidak harus mengulangi penunaiannya, atau setidaknya kita berpegang pada qaul ulama yang jelas kredibilitasnya.

Sebenarnya menurut kaidah transliterasi, yang benar adalah "fithrah" bukan "fitrah". Namun dikarenakan penggunaannya sudah lumrah, maka penulis menulisnya "fitrah" saja ✌️😎

Berikut ini kutipan-kutipan penjelasan para ulama ahli fiqih madzhab Imam Asy-Syafi'i tentang Zakat Fitrah Dengan Uang (Qimah) :

Imam Muhammad Asy-Syafi'i

ﻭﻻ ﻳﺆﺩﻱ ﻣﻦ اﻟﺤﺐ ﻏﻴﺮ اﻟﺤﺐ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﻻ ﻳﺆﺩﻱ ﺩﻗﻴﻘﺎ ﻭﻻ ﺳﻮﻳﻘﺎ ﻭﻻ ﻗﻴﻤﺘﻪ
dan dia tidak boleh membayarkan dari biji-bijian selain nafs-nya : dia tidak boleh membayarkan dalam wujud biji-bijian دقيقyangbubuk, tidak dalam wujud سويقtepung dan tidak dalam wujud uang seharga al-hubb.[1]

Imam Abdul Karim Ar-Rofi'i

ﻻ ﻳﺠﺰﺉ اﻟﺪﻗﻴﻖ ﻭﻻ اﻟﺴﻮﻳﻖ ﻭﻻ اﻟﺨﺒﺰ ﻻﻥ اﻟﻨﺺ ﻭﺭﺩ ﺑﺎﻟﺤﺐ ﻭاﻧﻪ ﻳﺼﻠﺢ ﻟﻤﺎ ﻻ ﺗﺼﻠﺢ ﻟﻪ ﻫﺬﻩ اﻻﺷﻴﺎء ﻓﻮﺟﺐ اﺗﺒﺎﻉ ﻣﻮﺭﺩ اﻟﻨﺺ ﻭﻟﻬﺬا ﻣﻨﻌﻨﺎ ﺇﺧﺮاﺝ اﻟﻘﻴﻤﺔ
tidak mencukupkan biji-bijian دقيقyangbubuk, tidak mencukupkan biji-bijian dalam wujud سويقtepung dan tidak mencukupkan dalam wujud roti, karena nash telah datang dengan biji-bijian, dan sesungguhnya biji-bijian sesuai tatkala tidak sesuai perkara-perkara ini terhadap nash. Maka wajib mengikuti yang mendatangkan nash. Dan karena ini, kami telah mencegah pengeluaran uang seharganya.[2]

Imam Abu Ishaq Asy-Syairozi & Imam Abi Zakaria Yahya An-Nawawi

قال الشافعي والأصحاب لا يجزئ إخراج القيمة وبه قال الجمهور وجوزها أبو حنيفة وسبقت دلائل المسألة في آخر باب صدقة الغنم
Telah berkata Imam Syafi'I dan Ashab : tidak mencukupkan pengeluaran uang seharganya (qimah) dan dengannya telah berkata Jumhur. Dan Imam Abu Hanifah telah memperbolehkannya. Dan telah berlalu dalil-dalil masalah pada akhir bab shadaqoh al-ghanam.[3]

ﻗﺎﻝ اﻟﻤﺼﻨﻒ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ : ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﺧﺬ اﻟﻘﻴﻤﺔ ﻓﻲ ﺷﺊ ﻣﻦ اﻟﺰﻛﺎﺓ ﻷﻥ اﻟﺤﻖ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﻗﺪ ﻋﻠﻘﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻧﺺ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﻧﻘﻞ ﺫﻟﻚ ﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮﻩ الخ
اﻟﺸﺮﺡ : اﺗﻔﻘﺖ ﻧﺼﻮﺹ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﺧﺮاﺝ اﻟﻘﻴﻤﺔ ﻓﻲ اﻟﺰﻛﺎﺓ ﻭﺑﻪ ﻛﺬا ﻓﻲ اﻻﺻﻞ ﻭاﻟﺼﻮاﺏ ﻋﻠﻴﻬﻦ ﻗﻄﻊ اﻟﻤﺼﻨﻒ ﻭﺟﻤﺎﻫﻴﺮ اﻻﺻﺤﺎﺏ ﻭﻓﻴﻪ ﻭﺟﻪ ﺃﻥ اﻟﻘﻴﻤﺔ ﺗﺠﺰﺉ ﺣﻜﺎﻩ ﻭﻫﻮ ﺷﺎﺫ ﺑﺎﻃﻞ ﻭﺩﻟﻴﻞ اﻟﻤﺬﻫﺐ ﻣﺎ ﺫﻛﺮﻩ اﻟﻤﺼﻨﻒ
Telah berkata Mushannif Al-Muhaddab (Imam Abu Ishaq Asy-Syairozi) Rahimahullah : Dan tidak boleh mengambil al-qimah pada sesuatupun dari zakat. Karena sesungguhnya Al-haqq adalah milik Allah Ta'ala, dan Allah telah menta'liqnya terhadap perkara yang Allah telah me-nash terhadapnya. Maka tidak boleh memindahkan itu terhadap selainnya dst.. Al-Majmu Syarah Al-Muhaddab : Ittifaq nash-nash Imam Asy-Syafi'i Rodhiyallahu Anhu bahwasanya tidak boleh mengeluarkan al-qimah pada zakat dan dengannya seperti itu pada kitab asal. Dan yang benar atas semua itu adalah telah memastikan Mushanif dan Jamahirul Ashhab. Dan padanya terdapat sebuah wajh bahwasanya al-qimah mencukupkan, dia menghikayatkan terhadap itu, dan itu adalah wajh syadz bathil. Dan dalil madzhab Imam Syafi'i adalah dalil yang Mushanif telah menuturkannya.[4]

Imam Syamsuddin Ar-Romli & Syaikh Ali Asy-Syibromilsi

قَوْلُهُ: فَلَا تُجْزِئُ الْقِيمَةُ بِالِاتِّفَاقِ أَيْ مِنْ مَذْهَبِنَا
Redaksi Mushannif Nihayah Al-Muhtaj (Imam Syamsuddin Ar-Ramli) :  maka al-qimah tidak mencukupkan berdasarkan kesepakatan para ulama, maksudnya adalah para ulama dari madzhab kita.[5]

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, Syaikh Ali Asy-Syibromilsi & Syaikh Asy-Syirwani

ﻗﻮﻟﻪ ﻓﻼ ﺗﺠﺰﺉ ﻗﻴﻤﺔ ﺃﻱ اﺗﻔﺎﻗﺎ ﻧﻬﺎﻳﺔ ﻭﻣﻐﻨﻲ ﺃﻱ ﻣﻦ ﻣﺬﻫﺒﻨﺎ ﻋ ﺷ
Redaksi Mushannif At-Tuhfah Al-Muhtaj (Imam Ibnu Hajar Al-Haitami) : Maka tidak mencukupkan qimah
Ittifaq تحفة المحتاج Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dengan نهاية المحتاج Imam Ramli dan مغني المحتاج Imam Khatib Syarbaini dari madzhab kita, telah berkata Syaikh Ali Asy-Syibromilsi.[6]

Imam Khatib Asy-Syarbaini

فلا تجزئ القيمة اتفاقا
Maka tidak mencukupkan al-qimah secara sepakat.[7]

Imam Taqiyuddin Al-Hishni

وشرط المخرج أن يكون حبا فلا تجزىء القيمة بلا خلاف
Dan syarat yang dikeluarkan adalah keadaannya hubb/biji-bijian. Maka tidak mencukupkan al-qimah dengan tanpa ada khilaf di dalam madzhab Syafi'i.[8]

Syaikh Zainuddin Al-Malibari & Sayid Abu Bakar Ad-Dimyathi

قوله لا تجزئ قيمة أى لصاع الفطرة بالإتفاق عندنا فيتعين اخراج الصاع من الحب أو غيره من القوت الغالب
Redaksi Mushannif Fath Al-Mu'in (Syaikh Zainudin Al-Malibari) : Tidak mencukupkan qimah
Maksudnya qimah untuk 1 sha zakat fitrah berdasarkan ittifaq pendapat madzhab kita. Maka menjadi tentu mengeluarkan 1 sha dari hub/biji-bijian atau selainnya dari quut al-balad.[9]

Syaikhah Daryah Al-Aithah

ﻭﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﻮﺳﺮ ﺑﺼﺎﻉ ﺑﻞ ﺑﺒﻌﻀﻪ ﻟﺰﻣﻪ ﺫﻟﻚ اﻟﺒﻌﺾ ﻣﺤﺎﻓﻈﺔ ﻋﻠﻰ اﻟﻮاﺟﺐ، ﻟﻤﺎ ﺭﻭاﻩ ﺃﺑﻮ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻋﻦ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: (ﻭﺇﺫا ﺃﻣﺮﺗﻜﻢ ﺑﺄﻣﺮ ﻓﺄﺗﻮا ﻣﻨﻪ ﻣﺎ اﺳﺘﻄﻌﺘﻢ) (3) ، ﻭﻟﻤﺘﺎ ﻫﻮ ﻣﻌﺮﻭﻑ ﻓﻲ ﻗﻮاﻋﺪ اﻟﻔﻘﻪ ﻣﻦ ﺃﻥ: "اﻟﻤﻴﺴﻮﺭ ﻻ ﻳﺴﻘﻂ ﺑﺎﻟﻤﻌﺴﻮﺭ" ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﻄﻊ ﺇﻻ ﻧﺼﻒ ﺻﺎﻉ ﺃﻭ ﺭﺑﻌﻪ ﺃﺧﺮﺟﻪ (4) 
__________________
(3) البخاري ج ٦ كتاب اعتصام بالكتاب والسنة باب ٣ / ٦٨٥٨
(4) ٤.ﻭﻳﺠﻮﺯ ﻋﻨﺪ اﻟﺴﺎﺩﺓ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﺇﺧﺮاﺝ ﻗﻴﻤﺔ اﻟﺼﺎﻉ ﻧﻘﺪا، ﻭﻫﺬا ﺃﻧﻔﻊ ﻟﻠﻔﻘﻴﺮ، ﻟﺬا ﺑﺈﻣﻜﺎﻧﻨﺎ ﺗﻘﻠﻴﺪﻩ

Dan barangsiapa tidak mampu memiliki 1 sha melainkan hanya mampu sebagiannya, maka wajib kepadanya yang sebagian tersebut, karena muhafadzoh terhadap penunaian kewajiban. Karena ada Hadits yang telah meriwayatkannya Abu Hurairah RA dari Nabi SAW : 
ﻭﺇﺫا ﺃﻣﺮﺗﻜﻢ ﺑﺄﻣﺮ ﻓﺄﺗﻮا ﻣﻨﻪ ﻣﺎ اﺳﺘﻄﻌﺘﻢ
"Dan jika aku telah memerintahkan kepada kalian mengenai suatu perkara, maka kalian harus mendatangkan darinya seukuran perkara yang kalian istitha'ah terhadapnya" (HR.Imam Bukhari, kitab اعتصام بالكتاب والسنة bab 3 nomor 6858)
Dan tatkala itu dikenal di dalam qawaid al-fiqh dari bahwasanya :
الميسر لا يسقط بالمعسور
Maka jika anda tidak istitha'ah kecuali dengan ½ sha atau ¼nya maka dia wajib mengeluarkannya.
_________________________
3). Al-Bukhari Kitab Al-I'tisham bi Al-Kitab wa As-Sunnah Bab 3 Nomor 6858
4). Dan boleh menurut para pembesar Hanafiyah mengeluarkan qimah 1 sha berupa نقداuang, ini lebih bermanfaat bagi orang faqir. Berdasarkan ini, menjadi sebab yang memungkinkan bagi kita untuk mentaqlidinya.[10]

Kumpulan Mu'allif Kuwait

ومذهب الإمام الشافعي أنه لا تجزئ القيمة، بل لا بدّ من إخراجها قوتاً من غالب أقوات ذلك البلد. إلا أنه لا بأس باتباع مذهب الإمام أبي حنيفة رحمه الله تعالى في هذه المسألة في هذا العصر، وهو جواز دفع القيمة، ذلك لأن القيمة أنفع للفقير اليوم من الفقير نفسه، واقرب إلى تحقيق الغاية المرجوة
Madzhab Imam Asy-Syafi'i adalah sesungguhnya qimah tidaklah mencukupkan, melainkan tidak boleh tidak harus mengeluarkan zakat dalam keadaan quut dari keghaliban quut-quut sebuah negeri. Hanya saja, sesungguhnya tidak apa-apa mengikuti madzhab Imam Abi Hanifah Rahimahullahu Ta'ala pada masalah ini di zaman ini, yaitu kebolehan memberikan qimah. Yang demikian itu, karena sesungguhnya qimah lebih manfaat bagi orang faqir dewasa ini daripada orang faqir pada zamannya dan lebih mendekati terhadap tercapainya penghabisan yang diharapkan.[11]

Imam Syafi'i tegas menyatakan tidak cukup alias tidak mencapai level sah mengeluarkan zakat fitrah berbentuk uang seharganya dalam Al-Umm yang merupakan kitab induk rujukan Syafi'iyah. Imam Rofi'i menguatkan hujjah Imam Syafi'i dengan menegaskan status kesesuaian hub sebagaimana yang di-nash dalam Al-Hadits, bahkan beliau juga menegaskan sikap save to hubb & say no to qimah dengan redaksi منعنا bagi kita muqallid madzhab Syafi'i.

Terkait adanya jalur periwayatan lain dalam madzhab Syafi'i yang menyatakan kebolehan menunaikan zakat fitrah dengan uang, maka itu juga sudah dibahas oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmu sebagai salah satu wajh objek yang ditinjau dalam upaya tashhih dan tarjihnya. Imam Nawawi tidak menyebutkan shahibulwajh-nya secara jelas (sepertinya yang dimaksud Imam Ar-Rauyani), namun beliau tegas menyatakan bahwa itu wajh syadzun bathilun. Imam Nawawi yang dianggap fuqoha Syafi'iyah sebagai Ulama yang paling kompeten dalam hal mentashhih dan mentarjih pendapat-pendapat Imam Syafi'i yang diriwayatkan Ashhabul Wujuh, menyimpulkan bahwa nash-nash Imam Syafi'i yang diriwayatkan Ashhab ittifaq  menyatakan tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah dengan qimah. Pernyataannya juga menjadi pegangan para ulama ahli tarjih Syafi'iyah generasi berikutnya seperti Imam Ramli dalam Nihayah Al-Muhtaj dan Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Tuhfah Al-Muhtaj. Al-Muhtajnya Imam Khatib Asy-Syarbaini yang biasanya dijadikan Al-Muhtaj alternatif juga ittifaq sebagaimana dijelaskan Syaikh Ali Asy-Syibromilsi dan Syaikh Asy-Syirwani.

Jika imla kitab Induk Al-Umm Imam Syafi'i, Imam Rofi'i, Imam Nawawi, Imam Romli dan Imam Ibnu Hajar pernyataannya tidak berbeda, maka biasanya semua fuqoha Syafi'iyah periode muta'akhkhirin menyatakan bahwa itulah pendapat resmi madzhab Syafi'i. Tidak heran jika Imam Taqiyuddin Al-Hishni menyatakan tidak ada ikhtilaf. Sayid Abu Bakar bahkan menyatakan فيتعين saking tidak ada opsi lain dalam lingkungan madzhab Syafi'i selain hubb alias biji-bijian atau katakanlah beras jika di indonesia.

Seandainya ada wajh yang bisa dijadikan alternatif dalam lingkungan madzhab Syafi'i, tentu banyak fuqaha Syafi'iyah yang mengulas dan merekomendasikannya sebagai alternatif, serta kecil kemungkinan mereka mengiklankan pendapat luar madzhab Syafi'i seperti Hanafiyah sebagaimana direkomendasikan dalam kitab Syaikhah Daryah Al-Aithah. Qaul atau wajh dha'if-pun sangat lumayan jika ada, karena masih bisa dijadikan alternatif selama kedhaifannya tidak terlalu, sebagaimana metode yang dijelaskan Imam Ibnu Hajar dan Imam Al-Kurdi sehingga kita tidak perlu taqlid ke madzhab lain. Namun sayangnya wajh tersebut sudah dicap شاذ باطل oleh Al-Muharrir Madzhab Syafi'i periode awal yaitu Imam Abi Zakaria Yahya An-Nawawi. Sehingga alternatifnya jika kita bermaksud untuk menunaikan zakat fitrah dengan uang seharganya, ada 2 cara yang bisa ditempuh :
  1. Taqlid ke Madzhab lain (Madzhab Hanafi satu-satunya dari Madzahib Al-Arba'ah yang tegas menyatakan kebolehan zakat fitrah dengan uang) secara langsung dengan memenuhi ketentuan taqlid ke madzhab di luar yang sudah dita'yin dan diiltizami. Sayangnya ini tidak mudah dipenuhi, terutama oleh umat awam seperti kita.
  2. Merujuk kepada fatwa MUI atau BAZNAS tentang kebolehan zakat fitrah dengan uang. Ini yang lebih baik, karena dengan merujuk ke fatwa MUI atau BAZNAS umat awam seperti kita tidak dituntut untuk mengetahui secara mendalam tentang kaifiyat taqlid lintas madzhab. Hanya saja kaum penuntut ilmu tetap penting menelusuri asal usul fatwa tersebut, dan metode apa yang mereka gunakan sehingga mereka lebih memilih fatwa ulama kontemporer Syaikh Yusuf Al-Qardhawi sebagai rujukan [12] bukan merujuk kepada Wajh yang di-SyadzBathil-kan Imam Nawawi beberapa ratus tahun silam dan bukan juga taqlid secara langsung ke madzhab Hanafi. Ada keunikan dalam hal tersebut yang sangat mempesona untuk dijadikan bahan studi para pecinta ilmu. 
Semoga bermanfaat, selamat menunaikan ibadah puasa, selamat menunaikan ibadah zakat fitrah, selamat hari raya idul fithri, selamat mengkaji lebih dalam dan terima kasih.

Sumber :
[1] Al-Umm Jilid 2 Hal 72
[2] Fath Al-Aziz bi Syarh Al-Wajiz - Syarh Al-Kabir Jilid 6 Hal 266
[3] Al-Majmu Syarah Al-Muhaddab Jilid 6 Hal 132
[4] Al-Majmu Syarah Al-Muhaddab Jilid 5 Hal 428-429
[5] Hasyiyah Abi Adh-Dhiya Nuruddin Ali Asy-Syibromilsi Ala Nihayah Al-Muhtaj Jilid 3 Hal 123
[6] Hawasyi Asy-Syirwani wa Al-Ubbadi Ala Tuhfah Al-Muhtaj Jilid 3 Hal 324
[7] Mughni Al-Muhtaj Ila Ma'rifati Ma'ani Alfadz Al-Minhaj Jilid 2 Hal 119
[8] Kifayah Al-Akhyar Ala Hilli Ghayah Al-Ikhtishar Jilid 1 Hal 195
[9] I'anah Ath-Thalibin Ala Hilli Alfadz Fath Al-Mu'in Jilid 2 Hal 174
[10] Fiqh Al-Ibadah Ala Madzhab Asy-Syafi'i Jilid 2 Hal 140
[11] Al-Fiqh Al-Manhaji Ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i Jilid 1 Hal 230
[12] https://baznas.go.id/zakatfitrah 

Mustahiq Zakat - Amilin

8 Mustahiq Zakat - Amilin| Faqir | Miskin | Gharim | Riqab ('Abid Mukatab) | Mu'allaf | Ibnu Sabil | Sabilillah

Mustahiq Zakat - Syafi'iyah

الأم للإمام محمد الشافعي ج ٢ ص ٧٧
ﻗﺎﻝ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ  ﻗﺎﻝ اﻟﻠﻪ ﺗﺒﺎﺭﻙ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ : ﺇﻧﻤﺎ اﻟﺼﺪﻗﺎﺕ ﻟﻠﻔﻘﺮاء ﻭاﻟﻤﺴﺎﻛﻴﻦ ﻭاﻟﻌﺎﻣﻠﻴﻦ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭاﻟﻤﺆﻟﻔﺔ ﻗﻠﻮﺑﻬﻢ ﻭﻓﻲ اﻟﺮﻗﺎﺏ ﻭاﻟﻐﺎﺭﻣﻴﻦ ﻭﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ ﻭاﺑﻦ اﻟﺴﺒﻴﻞ - اﻟﺘﻮﺑﺔ ٦٠ - ﻓﺄﺣﻜﻢ اﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻓﺮﺽ اﻟﺼﺪﻗﺎﺕ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ ﺛﻢ ﺃﻛﺪﻫﺎ ﻓﻘﺎﻝ : ﻓﺮﻳﻀﺔ ﻣﻦ اﻟﻠﻪ - اﻟﺘﻮﺑﺔ: ٦٠ - ﻗﺎﻝ ﻭﻟﻴﺲ ﻷﺣﺪ ﺃﻥ ﻳﻘﺴﻤﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮ ﻣﺎ ﻗﺴﻤﻬﺎ اﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﺫﻟﻚ ﻣﺎ ﻛﺎﻧﺖ اﻷﺻﻨﺎﻑ ﻣﻮﺟﻮﺩﺓ
Telah berkata Imam Syafi'i telah berfirman Allah Tabaroka Wa Ta'ala : "Sesungguhnya shadaqoh zakat adalah hanya untuk orang-orang faqir, orang-orang miskin, amilin terhadap zakat, mu'allafah hatinya, fi ar-riqob ('abid mukatab), orang-orang gharim, fi sabilillah, ibnu sabil." - At-Taubah Ayat 60 - Maka Allah telah menghukumi kefardhuan shadaqoh di dalam KitabNya, kemudian Allah menguatkannya. Kemudian berfirman : "suatu kefardhuan dari Allah". - At-Taubah Ayat 60 - Telah berkata Imam Syafi'i : "dan tidaklah bagi seseorang membagikannya kepada selain perkara yang Allah Azza wa Jalla telah membagikannya terhadapnya. Itu semua selagi keberadaan ashnaf tersebut adalah maujudah.[1]

فتح القريب المجيب للإمام ابن قاسم الغازي
ﻭﺗﺪﻓﻊ اﻟﺰﻛﺎﺓ ﺇﻟﻰ اﻷﺻﻨﺎﻑ اﻟﺜﻤﺎﻧﻴﺔ اﻟﺬﻳﻦ ﺫﻛﺮﻫﻢ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ اﻟﻌﺰﻳﺰ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﺇﻧﻤﺎ اﻟﺼﺪﻗﺎﺕ ﻟﻠﻔﻘﺮاء ﻭاﻟﻤﺴﺎﻛﻴﻦ ﻭاﻟﻌﺎﻣﻠﻴﻦ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭاﻟﻤﺆﻟﻔﺔ ﻗﻠﻮﺑﻬﻢ ﻭﻓﻲ اﻟﺮﻗﺎﺏ ﻭاﻟﻐﺎﺭﻣﻴﻦ ﻭﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ اﻟﻠﻪ ﻭاﺑﻦ اﻟﺴﺒﻴل - اﻟﺘﻮﺑﺔ ٦٠ - ﻫﻮ ﻇﺎﻫﺮ ﻏﻨﻲ ﻋﻦ اﻟﺸﺮﺡ ﺇﻻ ﻣﻌﺮﻓﺔ اﻷﺻﻨﺎﻑ اﻟﻤﺬﻛﻮﺭﺓ
Zakat diberikan kepada ashnaf yang 8 yaitu orang-orang yang Allah telah menuturkannya di dalam Kitabihi Al-Aziz pada Firmannya : "Sesungguhnya shadaqoh zakat adalah hanya untuk orang-orang faqir, orang-orang miskin, amilin terhadap zakat, mu'allafah hatinya, fi ar-riqob ('abid mukatab), orang-orang gharim, fi sabilillah, ibnu sabil. - At-Taubah Ayat 60 - Itu adalah dzohir yang tidak butuh penjelasan, kecuali penjelasan pengenalan ashnaf  yang telah dituturkan.[2]

Amilin - Syafi'iyah

فتح المعين للشيخ زين الدين المليباري ص ٥٣
ﻭاﻟﻌﺎﻣﻞ ﻛﺴﺎﻉ: ﻭﻫﻮ ﻣﻦ ﻳﺒﻌﺜﻪ اﻹﻣﺎﻡ ﻷﺧﺬ اﻟﺰﻛﺎﺓ ﻭﻗﺎﺳﻢ ﻭﺣﺎﺷﺮ ﻻ ﻗﺎﺽ
Dan Amil adalah seperti :
  • Sa'in : Orang yang imam mengutusnya untuk mengambil zakat.
  • Qasim
  • Hasyir
Tidak termasuk Qadhi.[3]

إعانة الطالبين للسيد أبي بكر الدمياطي ج ٢ ص ١٩٠
ﻗﻮﻟﻪ ﻭاﻟﻌﺎﻣﻞ ﺃﻱ ﻭﻟﻮ ﻏﻨﻴﺎ. ﻭﻭﻣﺤﻞ اﺳﺘﺤﻘﺎﻗﻪ ﻣﻦ اﻟﺰﻛﺎﺓ ﺇﺫا ﺃﺧﺮﺟﻬﺎ اﻹﻣﺎﻡ ﻭﻟﻢ ﻳﺠﻌﻞ ﻟﻪ ﺟﻌﻼ ﻣﻦ ﺑﻴﺖ اﻟﻤﺎﻝ، ﻓﺈﻥ ﻓﺮﻗﻬﺎ اﻟﻤﺎﻟﻚ ﺃﻭ ﺟﻌﻞ اﻹﻣﺎﻡ ﻟﻪ ﺫﻟﻚ ﺳﻘﻂ ﺳﻬﻤﻪ. ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ اﻟﻜﺮﺩﻱ: اﻟﻌﺎﻣﻞ ﻣﻦ ﻧﺼﺒﻪ اﻹﻣﺎﻡ ﻓﻲ ﺃﺧﺬ اﻟﻌﻤﺎﻟﺔ ﻣﻦ اﻟﺼﺪﻗﺎﺕ، ﻓﻠﻮ اﺳﺘﺄﺟﺮﻩ ﻣﻦ ﺑﻴﺖ اﻟﻤﺎﻝ ﺃﻭ ﺟﻌﻞ ﻟﻪ ﺟﻌﻼ ﻟﻢ ﻳﺄﺧﺬ ﻣﻦ اﻟﺰﻛﺎﺓ. اﻩ. ﻗﻮﻟﻪ ﻛﺴﺎﻉ ﺗﻤﺜﻴﻞ ﻟﻠﻌﺎﻣﻞ، ﻭﻛﺎﻥ اﻟﻤﻼﺋﻢ ﻟﻤﺎ ﻗﺒﻠﻪ ﻭاﻷﺧﺼﺮ ﺃﻥ ﻳﺆﺧﺮ ﻫﺬا ﻋﻦ اﻟﺘﻌﺮﻳﻒ، ﻛﺄﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻭاﻟﻌﺎﻣﻞ ﻫﻮ ﻣﻦ ﻳﺒﻌﺜﻪ اﻟﺦ. ﺛﻢ ﻳﻘﻮﻝ ﻛﺴﺎﻉ، ﻭﻗﺎﺳﻢ، ﻭﺣﺎﺷﺮ، ﻭﺃﺷﺎﺭ ﺑﺎﻟﻜﺎﻑ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ اﻟﻌﺎﻣﻞ ﻻ ﻳﻨﺤﺼﺮ ﻓﻴﻤﺎ ﺫﻛﺮﻩ، ﺇﺫ ﻣﻨﻪ اﻟﻜﺎﺗﺐ، ﻭاﻟﺤﺎﺳﺐ، ﻭاﻟﺤﺎﻓﻆ، ﻭاﻟﺠﻨﺪﻱ ﺇﻥ اﺣﺘﻴﺞ ﺇﻟﻴﻪ. ﻗﻮﻟﻪ ﻭﻫﻮ ﻣﻦ ﻳﺒﻌﺜﻪ اﻹﻣﺎﻡ ﺇﻟﺦ ﻫﺬا اﻟﺒﻌﺚ ﻭاﺟﺐ. ﻭﻳﺸﺘﺮﻁ ﻓﻲ ﻫﺬا ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻘﻴﻬﺎ ﺑﻤﺎ ﻓﻮﺽ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻨﻬﺎ، ﻭﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺴﻠﻤﺎ، ﻣﻜﻠﻔﺎ، ﺣﺮا، ﻋﺪﻻ، ﺳﻤﻴﻌﺎ، ﺑﺼﻴﺮا، ﺫﻛﺮا، ﻷﻧﻪ ﻧﻮﻉ ﻭﻻﻳﺔ. ﻗﻮﻟﻪ ﻭﻗﺎﺳﻢ ﻣﻌﻄﻮﻑ ﻋﻠﻰ ﺳﺎﻉ، ﻭﻫﻮ اﻟﺬﻱ ﻳﻘﺴﻤﻬﺎ ﻋلى اﻟﻤﺴﺘﺤﻘﻴﻦ. ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻭﺣﺎﺷﺮ ﻣﻌﻄﻮﻑ ﻋﻠﻰ ﺳﺎﻉ، ﻭﻫﻮ اﻟﺬﻱ ﻳﺠﻤﻊ ﺫﻭﻱ اﻷﻣﻮاﻝ ﺃﻭ ﻭاﻟﻤﺴﺘﺤﻘﻴﻦ. ﻗﻮﻟﻪ ﻻ ﻗﺎﺽ ﻣﻌﻄﻮﻑ ﻋﻠﻰ ﺳﺎﻉ ﺃﻳﻀﺎ، ﺃﻱ ﻻ ﻛﻘﺎﺽ - ﺃﻱ ﻭﻭاﻝ - ﻓﻼ ﻳﻌﻄﻴﺎﻥ ﻣﻦ اﻟﺰﻛﺎﺓ ﻷﻧﻬﻤﺎ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺎ ﻣﻦ اﻟﻌﻤﺎﻝ ﻟﻜﻦ ﻋﻤﻠﻬﻤﺎ ﻋﺎﻡ، ﺑﻞ ﻳﻌﻄﻴﺎﻥ ﻣﻦ ﺧﻤﺲ اﻟﺨﻤﺲ اﻟﻤﺮﺻﺪ ﻟﻠﻤﺼﺎﻟﺢ اﻟﻌﺎﻣﺔ، ﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺘﻄﻮﻋﺎ ﺑﺎﻟﻌﻤﻞ
Redaksinya والعامل 
Sekalipun keadaannya kaya. Tempat istihqaq amil dari zakat adalah jika imam mengeluarkan zakat dan dia tidak menjadikan bagi amil tempat dari baitul mal. Jika pemilik zakat telah memisahkannya atau imam telah menjadikan bagi amil tempat dari baitul mal maka jatuhlah saham zakatnya. Redaksi Al-Kurdi : Amil adalah orang yang telah mengangkatnya seorang imam pada pengambilan pekerjaan dari shadaqoh-shadaqoh. Jika imam memberinya upah dari baitul mal atau menjadikan baginya tempat dari baitul mal maka tidak boleh mengambil dari zakat.
Redaksinya كساع
Adalah tamtsil bagi عامل. Dan yang tepat bagi kalimat yang ada sebelumnya dan lebih ringkas adalah mengakhirkan كساع ini dari ta'rif. Seumpama mushannif berkata : 
والعامل هو من يبعثه الخ
kemudian dia berkata :
كساع وقاسم وحاشر 
Mushannif berisyarah dengan ك terhadap bahwasanya عامل tidak bisa diringkas hanya pada perkara yang mushannif sebutkan, karena darinya : 
  • الكاتب penulis
  • الحاسب penghitung
  • الحافظ penghapal
  • الجندي tentara jika dibutuhkan
Redaksinya وهو من يبعثه الإمام الخ
Pengutusan ini wajib, dan disyaratkan pada orang yang diutus :
  • فقيها بما فوض اليه منها mengerti mengenai saham yang dia membagikan terhadapnya dari zakat
  • أن يكون مسلما keadaan dia beragama islam
  • مكلفا mukallaf / baligh dan berakal sehat
  • حرا merdeka 
  • عدلا adil
  • سميعا salim pendengaran
  • بصيرا salim penglihatan
  • ذكرا laki-laki
Karena itu merupakan sejenis ولاية perwalian.
Redaksinya كقاسم
قاسم diعطفkan kepada ساع yaitu orang yang membagikan zakat kepada mustahiq-mustahiq zakat.
Redaksinya وحاشر
حاشر diعطفkan kepada ساع yaitu orang yang mengumpulkan pemilik harta atau mustahiq-mustahiq zakat.
Redaksinya لا قاض
لا قاض juga diعطفkan kepada ساع maksudnya ولا كقاض maksudnya والي maka keduanya tidak boleh diberi dari zakat, karena sesungguhnya keduanya sekalipun keadaan keduanya bekerja akan tetapi pekerjaannya bersifat umum, melainkan keduanya diberi dari ⅕/⅕ yang memantau kemashlahatan umat. Jika tidak sebagai relawan dengan kerjanya.[4]

حاشية الباجوري للشيخ الإسلام إبراهيم البيجوري ج ١ ص ٢٨٣
قوله والعامل من استعمله الإمام الخ
أى كساع يجبيها وكاتب يكتب ما أعطاه أرباب الأموال وقاسم يقسمها على المستحقين وحاشر يجمعهم لا قاض ووال فلا حق لهما في الزكاة بل حقهما في خمس الخمس والمرصد للمصالح
Redaksinya والعامل من استعمله الإمام الخ
Maksudnya adalah seperti :
  • ساع Orang yang berjalan menarik zakat dari orang yang wajib zakat
  • كاتب Orang yang menuliskan perkara yang memberikannya para pemilik harta 
  • قاسم Orang yang membagikan zakat kepada mustahiq-mustahiq zakat
  • حاشر Orang yang mengumpulkan mereka
Tidak termasuk Qadhi dan Wali. Maka tidak ada hak bagi keduanya pada harta zakat, melainkan hak keduanya ada di dalam ⅕ dari ⅕ dan pemantauan untuk kemashlahatan umat.[5]

Amilin - Perbandingan Madzhab : Syafi'iyah, Hanafiyah, Hanabilah, Malikiyah.
 
الموسوعة الفقهية الكويتيةللمجموعة من المؤلفين
الْعَامِلُونَ عَلَى الزَّكَاةِ: يَجُوزُ إِعْطَاءُ الْعَامِلِينَ عَلَى الزَّكَاةِ مِنْهَا. وَيُشْتَرَطُ فِي الْعَامِل الَّذِي يُعْطَى مِنَ الزَّكَاةِ شُرُوطٌ تَقَدَّمَ بَيَانُهَا. وَلاَ يُشْتَرَطُ فِيمَنْ يَأْخُذُ مِنَ الْعَامِلِينَ مِنَ الزَّكَاةِ الْفَقْرُ؛ لأَِنَّهُ يَأْخُذُ بِعَمَلِهِ لاَ لِفَقْرِهِ. وَقَدْ قَال النَّبِيُّ: لاَ تَحِل الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ إِلاَّ
لِخَمْسَةٍ. . فَذَكَرَ مِنْهُمُ الْعَامِل عَلَيْهَا. قَال الْحَنَفِيَّةُ: يَدْفَعُ إِلَى الْعَامِل بِقَدْرِ عَمَلِهِ فَيُعْطِيهِ مَا يَسَعُهُ وَيَسَعُ أَعْوَانَهُ غَيْرَ مُقَدَّرٍ بِالثَّمَنِ، وَلاَ يُزَادُ عَلَى نِصْفِ الزَّكَاةِ الَّتِي يَجْمَعُهَا وَإِنْ كَانَ عَمَلُهُ أَكْثَرَ. وَقَال الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ: لِلإِْمَامِ أَنْ يَسْتَأْجِرَ الْعَامِل إجَارَةً صَحِيحَةً بِأَجْرٍ مَعْلُومٍ، إِمَّا عَلَى مُدَّةٍ مَعْلُومَةٍ، أَوْ عَمَلٍ مَعْلُومٍ. ثُمَّ قَال الشَّافِعِيَّةُ: لاَ يُعْطَى الْعَامِل مِنَ الزَّكَاةِ أَكْثَرَ مِنْ ثَمَنِ الزَّكَاةِ، فَإِنْ زَادَ أَجْرُهُ عَلَى الثَّمَنِ أَتَمَّ لَهُ مِنْ بَيْتِ الْمَال. وَقِيل مِنْ بَاقِي السِّهَامِ. وَيَجُوزُ لِلإِْمَامِ أَنْ يُعْطِيَهُ أَجْرَهُ مِنْ بَيْتِ الْمَال. وَلَهُ أَنْ يَبْعَثَهُ بِغَيْرِ إجَارَةٍ ثُمَّ يُعْطِيَهُ أَجْرَ الْمِثْل. وَإِنْ تَوَلَّى الإِْمَامُ، أَوْ وَالِي الإِْقْلِيمِ أَوِ الْقَاضِي مِنْ قِبَل الإِْمَامِ أَوْ نَحْوِهِمْ أَخْذَ الزَّكَاةِ وَقِسْمَتَهَا لَمْ يَجُزْ أَنْ يَأْخُذَ مِنَ الزَّكَاةِ شَيْئًا؛ لأَِنَّهُ يَأْخُذُ رِزْقَهُ مِنْ بَيْتِ الْمَال وَعَمَلُهُ عَامٌّ
Amilin Zakat : Boleh memberi amilin zakat dari zakat. Dan disyaratkan pada amil yang diberi dari zakat syarat-syarat yang telah lalu penjelasannya. Dan tidak disyaratkan faqir pada orang yang termasuk amilin yang mengambil dari zakat, karena dia mengambil melalui slot amalnya bukan karena kefaqirannya
Dan telah bersabda Nabi SAW : "tidak halal shadaqoh zakat bagi orang kaya kecuali karena 5 perkara........" kemudian beliau menyebutkan dari sebagian yang 5 tersebut terhadap عامل عليها
Telah berkata Syafi'iyah dan Hanabilah : kepada Imam, hendaknya memberi upah terhadap amil dengan upah yang shahih menggunakan standar upah yang maklum. Apakah berdasarkan waktu yang maklum /kontrak atau kinerja yang maklum / borongan.
Kemudian berkata Syafi'iyah : tidak boleh diberi seorang amil dari zakat melebihi harga zakat. Jika upahnya melebihi di atas harga maka imam menyempurnakan baginya dari baitul mal. Menurut qaul qiil : dari saham-saham yang tersisa.
Boleh bagi imam memberi amil upahnya dari baitul mal. Dan baginya boleh mengutus amil tanpa upah, kemudian dia memberinya upah setimpal. Jika seorang imam mengurusi atau gubernur wilayah atau hakim mewakili pihak imam atau yang seperti mereka untuk mengambil zakat dan membagikannya, maka tidak boleh mengambil saham dari zakat sedikitpun karena sesungguhnya imam mengambil rizqinya dari baitul mal dan pekerjaannya umum.[6]

Sumber :
[1] Imam Muhammad Asy-Syafi'i. Al-Umm Jilid 2 Hal 77
[2] Imam Ibnu Qasim Al-Ghazi. Fath Al-Qarib Al-Mujib ala At-Taqrib Hal 25
[3] Syaikh Zainuddin Al-Malibari. Fath Al-Muin bi Syarh Qurroh Al-Ain Hal 53
[4] Sayid Abu Bakar Ad-Dimyathi. I'anah Ath-Thalibin Ala Hilli Alfadz Fath Al-Mu'in Jilid 2 Hal 190
[5] Syaikhul Islam Ibrohim Al-Bajuri. Hasyiyah Al-Bajuri Ala Ibni Qasim Al-Ghazi Jilid 1 Hal 283
[6] Majmu'ah Min Al-Mu'allifin. Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah Jilid 23 Hal 328 - 329