Zakat Fithrah Dengan Uang - 4 Madzhab : Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, Hanabilah - BAITUSSALAM

Minggu, 24 April 2022

Zakat Fithrah Dengan Uang - 4 Madzhab : Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, Hanabilah

Zakat Fithrah Dengan Uang - 4 Madzhab : Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, Hanabilah. Berikut ini penjelasan para ulama dalam kitab-kitab perbandingan madzhab :

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili
دفع القيمة عندهم: لا يجزئ عند الجمهور إخراج القيمة عن هذه الأصناف، فمن أعطى القيمة لم تجزئه، لقول ابن عمر: «فرض رسول الله صلّى الله عليه وسلم صدقة الفطر صاعاً من تمر، وصاعاً من شعير» فإذا عدل عن ذلك فقد ترك المفروض
___________
وعند غير الحنفية: يتعين أداء المنصوص عليه، وقد بحث الموضوع في إخراج القيمة في الزكاة
Membayar zakat dengan qimah (uang seharga ukuran wajib zakat) menurut para Ulama : tidak mencukupkan menurut jumhur ulama mengeluarkan qimah anil ashnaf ini. Maka barangsiapa memberikan qimah, tidak mencukupkan terhadap orang tersebut. Berdasarkan perkataan Ibnu Umar : "Rasulullah SAW telah memfardhukan shadaqoh fithri 1 sha dari kurma dan 1 sha dari sya'ir". Maka barangsiapa mengeluarkan pengganti darinya, telah meninggalkan yang difardhukan. 
______________________
Dan di kalangan madzhab selain Hanafiyah, ditentukan membayarkan perkara yang telah di-nash terhadapnya. Dan telah dibahas tempat pembahasan yang diperuntukan perihal mengeluarkan qimah pada zakat.[1]

Majmu'ah Min Al-Muallafin
أَدَاءُ الْقِيمَةِ: ذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ دَفْعُ الْقِيمَةِ، لأَِنَّهُ لَمْ يَرِدْ نَصٌّ بِذَلِكَ، وَلأَِنَّ الْقِيمَةَ فِي حُقُوقِ النَّاسِ لاَ تَجُوزُ إِلاَّ عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمْ، وَلَيْسَ لِصَدَقَةِ الْفِطْرِ مَالِكٌ مُعَيَّنٌ حَتَّى يَجُوزَ رِضَاهُ أَوْ إبْرَاؤُهُ.
وَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى أَنَّهُ يَجُوزُ دَفْعُ الْقِيمَةِ فِي صَدَقَةِ الْفِطْرِ، بَل هُوَ أَوْلَى لِيَتَيَسَّرَ لِلْفَقِيرِ أَنْ يَشْتَرِيَ أَيَّ شَيْءٍ يُرِيدُهُ فِي يَوْمِ الْعِيدِ؛ لأَِنَّهُ قَدْ لاَ يَكُونُ مُحْتَاجًا إِلَى الْحُبُوبِ بَل هُوَ مُحْتَاجٌ إِلَى مَلاَبِسَ، أَوْ لَحْمٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ، فَإِعْطَاؤُهُ الْحُبُوبَ، يَضْطَرُّهُ إِلَى أَنْ يَطُوفَ بِالشَّوَارِعِ لِيَجِدَ مَنْ يَشْتَرِي مِنْهُ الْحُبُوبَ، وَقَدْ يَبِيعُهَا بِثَمَنٍ بَخْسٍ أَقَل مِنْ قِيمَتِهَا الْحَقِيقِيَّةِ، هَذَا كُلُّهُ فِي حَالَةِ الْيُسْرِ، وَوُجُودِ الْحُبُوبِ بِكَثْرَةٍ فِي الأَْسْوَاقِ، أَمَّا فِي حَالَةِ الشِّدَّةِ وَقِلَّةِ الْحُبُوبِ فِي الأَْسْوَاقِ، فَدَفْعُ الْعَيْنِ أَوْلَى مِنَ الْقِيمَةِ مُرَاعَاةً لِمَصْلَحَةِ الْفَقِيرِ، وَيُنْظَرُ التَّفْصِيل فِي الزَّكَاةِ
Membayarkan qimah (uang seharga ukuran wajib zakat) : 
  • Berangkat Malikiyah, Syafi'iyah dan Hanabilah terhadap bahwasanya tidak boleh memberikan qimah Karena sesungguhnya tidak datang nash dengan qimah. Dan karena sesungguhnya qimah pada hak-hak manusia tidak boleh kecuali dari saling ridha antar mereka. Dan tidak ada untuk shadaqah fithri pemilik yang meluluskan ridhanya dan melepaskan kepemilikannya.
  • Berangkat Hanafiyah terhadap bahwasanya boleh memberikan qimah pada shadaqoh fithri. Bahkan itu yang lebih utama. Untuk mempermudah bagi orang faqir membeli perkara apapun yang dia inginkan di hari idul fithri. Karena sesungguhnya orang faqir terkadang tidak membutuhkan terhadap biji-bijian, tapi membutuhkan terhadap pakaian atau daging atau selain itu. Maka memberikannya biji-bijian memadharatkannya untuk berkeliling di jalan-jalan untuk menemukan orang yang membeli biji-bijian darinya. Dan terkadang mereka menjualnya dengan harga murah di bawah harga yang sebenarnya. Semua ini pada situasi serba mudah, dan banyaknya ketersedian biji-bijian di pasar-pasar. Adapun pada situasi paceklik, dan sedikitnya ketersediaan biji-bijian di pasar, maka memberikan dzat lebih utama daripada qimah, dalam rangka memelihara terhadap kemashlahatan bagi orang faqir. Dan perlu ditinjau detailnya pada zakat.[2]
Syaikh Abdurrahman Jabir Al-Jazairi
الحنفية قالوا : ويجوز له أن يخرج قيمة الزكاة الواجبة من النقود، بل هذا أفضل؛ لأنه أكثر نفعاً للفقراء الخ
Hanafiyah berkata : ............. dan boleh baginya mengeluarkan qimah zakat yang wajib dari uang, bahkan ini lebih utama, karena sesungguhnya itu lebih banyak manfaatnya bagi fuqoro .........dst........[3]


Sumber :
[1] Lihat Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh Jilid 3 Hal 1956-1957
[2] Lihat Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah Jilid 23 Hal 344
[3] Lihat Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba'ah Jilid 1 Hal 567

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah ikut berpartisifasi
Komentar anda akan segera kami balas