Zakat Fitrah Dengan Uang - Madzhab Syafi'i - BAITUSSALAM

Sabtu, 23 April 2022

Zakat Fitrah Dengan Uang - Madzhab Syafi'i

Dewasa ini membayar zakat fitrah dengan uang dianggap alternatif yang paling efektif, bahkan MUI-pun memfatwakan kebolehannya. Tapi apakah itu diperbolehkan dalam madzhab Syafi'i? Mari kita telusuri hukum zakat fitrah dengan uang - perspektif Madzhab Syafi'i. Fokus ke madzhab Syafi'i

Sebegitu pentingkah mengetahui status hukum zakat fitrah dengan uang? Tentu saja, karena melakukan ibadah yang diikhtilafkan harus jelas sandaran hukumnya agar kita tidak harus mengulangi penunaiannya.

Sebenarnya menurut kaidah transliterasi, yang benar adalah "fithrah" bukan "fitrah", tapi berhubung penggunaannya sudah lumrah penulis menulisnya "fitrah" saja. Hehe. Berikut ini kutipan-kutipan penjelasan para ulama ahli fiqih madzhab Imam Asy-Syafi'i perihal zakat fitrah dengan uang (qimah) :

Imam Muhammad Asy-Syafi'i

ﻭﻻ ﻳﺆﺩﻱ ﻣﻦ اﻟﺤﺐ ﻏﻴﺮ اﻟﺤﺐ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﻻ ﻳﺆﺩﻱ ﺩﻗﻴﻘﺎ ﻭﻻ ﺳﻮﻳﻘﺎ ﻭﻻ ﻗﻴﻤﺘﻪ
dan dia tidak boleh membayarkan dari biji-bijian selain nafs-nya : dia tidak boleh membayarkan dalam wujud biji-bijian دقيقyangbubuk, tidak dalam wujud سويقtepung dan tidak dalam wujud uang seharga al-hubb.[1]

Imam Abdul Karim Ar-Rofi'i

ﻻ ﻳﺠﺰﺉ اﻟﺪﻗﻴﻖ ﻭﻻ اﻟﺴﻮﻳﻖ ﻭﻻ اﻟﺨﺒﺰ ﻻﻥ اﻟﻨﺺ ﻭﺭﺩ ﺑﺎﻟﺤﺐ ﻭاﻧﻪ ﻳﺼﻠﺢ ﻟﻤﺎ ﻻ ﺗﺼﻠﺢ ﻟﻪ ﻫﺬﻩ اﻻﺷﻴﺎء ﻓﻮﺟﺐ اﺗﺒﺎﻉ ﻣﻮﺭﺩ اﻟﻨﺺ ﻭﻟﻬﺬا ﻣﻨﻌﻨﺎ ﺇﺧﺮاﺝ اﻟﻘﻴﻤﺔ
tidak mencukupkan biji-bijian دقيقyangbubuk, tidak mencukupkan biji-bijian dalam wujud سويقtepung dan tidak mencukupkan dalam wujud roti, karena nash telah datang dengan biji-bijian, dan sesungguhnya biji-bijian sesuai tatkala tidak sesuai perkara-perkara ini terhadap nash. Maka wajib mengikuti yang mendatangkan nash. Dan karena ini, kami telah mencegah pengeluaran uang seharganya.[2]

Imam Abu Ishaq Asy-Syairozi & Imam Abi Zakaria Yahya An-Nawawi

قال الشافعي والأصحاب لا يجزئ إخراج القيمة وبه قال الجمهور وجوزها أبو حنيفة وسبقت دلائل المسألة في آخر باب صدقة الغنم
Telah berkata Imam Syafi'I dan Ashab : tidak mencukupkan pengeluaran uang seharganya (qimah) dan dengannya telah berkata Jumhur. Dan Imam Abu Hanifah telah memperbolehkannya. Dan telah berlalu dalil-dalil masalah pada akhir bab shadaqoh al-ghanam.[3]

ﻗﺎﻝ اﻟﻤﺼﻨﻒ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ : ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﺧﺬ اﻟﻘﻴﻤﺔ ﻓﻲ ﺷﺊ ﻣﻦ اﻟﺰﻛﺎﺓ ﻷﻥ اﻟﺤﻖ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﻗﺪ ﻋﻠﻘﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻧﺺ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﻧﻘﻞ ﺫﻟﻚ ﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮﻩ الخ
اﻟﺸﺮﺡ : اﺗﻔﻘﺖ ﻧﺼﻮﺹ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﺧﺮاﺝ اﻟﻘﻴﻤﺔ ﻓﻲ اﻟﺰﻛﺎﺓ ﻭﺑﻪ ﻛﺬا ﻓﻲ اﻻﺻﻞ ﻭاﻟﺼﻮاﺏ ﻋﻠﻴﻬﻦ ﻗﻄﻊ اﻟﻤﺼﻨﻒ ﻭﺟﻤﺎﻫﻴﺮ اﻻﺻﺤﺎﺏ ﻭﻓﻴﻪ ﻭﺟﻪ ﺃﻥ اﻟﻘﻴﻤﺔ ﺗﺠﺰﺉ ﺣﻜﺎﻩ ﻭﻫﻮ ﺷﺎﺫ ﺑﺎﻃﻞ ﻭﺩﻟﻴﻞ اﻟﻤﺬﻫﺐ ﻣﺎ ﺫﻛﺮﻩ اﻟﻤﺼﻨﻒ
Telah berkata Mushannif Al-Muhaddab/ Imam Abu Ishaq Asy-Syairozi Rahimahullah : Dan tidak boleh mengambil al-qimah pada sesuatupun dari zakat. Karena sesungguhnya haq adalah milik Allah Ta'ala, dan Allah telah menta'liqnya terhadap perkara yang Allah telah me-nash terhadapnya. Maka tidak boleh memindahkan itu terhadap selainnya dst.. Al-Majmu Syarah Al-Muhaddab : Ittifaq nash-nash Imam Asy-Syafi'i Rodhiyallahu Anhu bahwasanya tidak boleh mengeluarkan al-qimah pada zakat dan dengannya seperti itu pada kitab asal. Dan yang benar atas semua itu adalah telah memastikan Mushanif dan Jamahirul Ashhab. Dan padanya terdapat sebuah wajh bahwasanya al-qimah mencukupkan, dia menghikayatkan terhadap itu, dan itu adalah wajh syadz bathil. Dan dalil madzhab Imam Syafi'i adalah dalil yang Mushanif telah menuturkannya.[4]

Imam Syamsuddin Ar-Romli & Imam Ali Asy-Syibromilsi

قَوْلُهُ: فَلَا تُجْزِئُ الْقِيمَةُ بِالِاتِّفَاقِ أَيْ مِنْ مَذْهَبِنَا
Redaksi Nihayah Al-Muhtaj (Imam Syamsuddin Ar-Ramli)  maka al-qimah tidak mencukupkan berdasarkan kesepakatan para ulama : Maksudnya para ulama dari madzhab kita.[5]

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, Imam Ali Asy-Syibromilsi & Syaikh Asy-Syirwani

ﻗﻮﻟﻪ ﻓﻼ ﺗﺠﺰﺉ ﻗﻴﻤﺔ ﺃﻱ اﺗﻔﺎﻗﺎ ﻧﻬﺎﻳﺔ ﻭﻣﻐﻨﻲ ﺃﻱ ﻣﻦ ﻣﺬﻫﺒﻨﺎ ﻋ ﺷ
Redaksi Tuhfah فلا تجزئ قيمة
Ittifaq تحفة المحتاج Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dengan نهاية المحتاج Imam Ramli dan مغني المحتاج Imam Khatib Syarbaini dari madzhab kita, telah berkata Syaikh Ali Asy-Syibromilsi.[6]

Imam Khatib Asy-Syarbaini

فلا تجزئ القيمة اتفاقا
Maka tidak mencukupkan al-qimah secara sepakat.[7]

Imam Taqiyuddin Al-Hishni

وشرط المخرج أن يكون حبا فلا تجزىء القيمة بلا خلاف
Dan syarat yang dikeluarkan adalah keadaannya hubb/biji-bijian. Maka tidak mencukupkan al-qimah dengan tanpa ada khilaf di dalam madzhab Syafi'i.[8]

Syaikh Zainuddin Al-Malibari & Sayid Abu Bakar Ad-Dimyathi

قوله لا تجزئ قيمة أى لصاع الفطرة بالإتفاق عندنا فيتعين اخراج الصاع من الحب أو غيره من القوت الغالب
Redaksi Syaikh Zainudin Al-Malibari : Tidak mencukupkan qimah. Maksudnya qimah untuk 1 sha zakat fitrah berdasarkan ittifaq pendapat madzhab kita. Maka menjadi tentu mengeluarkan 1 sha dari hub/biji-bijian atau selainnya dari quut al-balad.[9]

Syaikhah Daryah Al-Aithah

ﻭﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﻮﺳﺮ ﺑﺼﺎﻉ ﺑﻞ ﺑﺒﻌﻀﻪ ﻟﺰﻣﻪ ﺫﻟﻚ اﻟﺒﻌﺾ ﻣﺤﺎﻓﻈﺔ ﻋﻠﻰ اﻟﻮاﺟﺐ، ﻟﻤﺎ ﺭﻭاﻩ ﺃﺑﻮ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻋﻦ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: (ﻭﺇﺫا ﺃﻣﺮﺗﻜﻢ ﺑﺄﻣﺮ ﻓﺄﺗﻮا ﻣﻨﻪ ﻣﺎ اﺳﺘﻄﻌﺘﻢ) (3) ، ﻭﻟﻤﺘﺎ ﻫﻮ ﻣﻌﺮﻭﻑ ﻓﻲ ﻗﻮاﻋﺪ اﻟﻔﻘﻪ ﻣﻦ ﺃﻥ: "اﻟﻤﻴﺴﻮﺭ ﻻ ﻳﺴﻘﻂ ﺑﺎﻟﻤﻌﺴﻮﺭ" ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺴﺘﻄﻊ ﺇﻻ ﻧﺼﻒ ﺻﺎﻉ ﺃﻭ ﺭﺑﻌﻪ ﺃﺧﺮﺟﻪ (4) 
__________________
(3) البخاري ج ٦ كتاب اعتصام بالكتاب والسنة باب ٣ / ٦٨٥٨
(4) ٤.ﻭﻳﺠﻮﺯ ﻋﻨﺪ اﻟﺴﺎﺩﺓ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﺇﺧﺮاﺝ ﻗﻴﻤﺔ اﻟﺼﺎﻉ ﻧﻘﺪا، ﻭﻫﺬا ﺃﻧﻔﻊ ﻟﻠﻔﻘﻴﺮ، ﻟﺬا ﺑﺈﻣﻜﺎﻧﻨﺎ ﺗﻘﻠﻴﺪﻩ

Dan barangsiapa tidak mampu memiliki 1 sha melainkan hanya mampu sebagiannya, maka wajib kepadanya yang sebagian tersebut, karena muhafadzoh terhadap penunaian kewajiban. Karena ada Hadits yang telah meriwayatkannya Abu Hurairah RA dari Nabi SAW : 
ﻭﺇﺫا ﺃﻣﺮﺗﻜﻢ ﺑﺄﻣﺮ ﻓﺄﺗﻮا ﻣﻨﻪ ﻣﺎ اﺳﺘﻄﻌﺘﻢ
"Dan jika aku telah memerintahkan kepada kalian mengenai suatu perkara, maka kalian harus mendatangkan darinya seukuran perkara yang kalian istitha'ah terhadapnya" (HR.Imam Bukhari, kitab اعتصام بالكتاب والسنة bab 3 nomor 6858)
Dan tatkala itu dikenal di dalam qawaid al-fiqh dari bahwasanya :
الميسر لا يسقط بالمعسور
Maka jika anda tidak istitha'ah kecuali dengan ½ sha atau ¼nya maka dia wajib mengeluarkannya.
_________________________
3). Al-Bukhari Kitab Al-I'tisham bi Al-Kitab wa As-Sunnah Bab 3 Nomor 6858
4). Dan boleh menurut para pembesar Hanafiyah mengeluarkan qimah 1 sha berupa نقداuang. Dan ini lebih bermanfaat bagi orang faqir. Jadi memungkinkan bagi kita untuk mentaqlidinya.[10]

Kumpulan Mu'allif Kuwait

ومذهب الإمام الشافعي أنه لا تجزئ القيمة، بل لا بدّ من إخراجها قوتاً من غالب أقوات ذلك البلد. إلا أنه لا بأس باتباع مذهب الإمام أبي حنيفة رحمه الله تعالى في هذه المسألة في هذا العصر، وهو جواز دفع القيمة، ذلك لأن القيمة أنفع للفقير اليوم من الفقير نفسه، واقرب إلى تحقيق الغاية المرجوة
Madzhab Imam Asy-Syafi'i sesungguhnya qimah tidaklah mencukupkan, melainkan tidak boleh tidak mengeluarkan zakat dalam keadaan quut dari keghaliban quut-quut sebuah negeri. Hanya saja, sesungguhnya tidak apa-apa mengikuti madzhab Imam Abi Hanifah Rahimahullahu Ta'ala pada masalah ini di zaman ini, yaitu kebolehan memberikan qimah. Yang demikian itu, karena sesungguhnya qimah lebih manfaat bagi orang faqir hari ini daripada orang faqir pada zamannya dan lebih dekat terhadap tercapainya penghabisan yang diharapkan.[11]

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili

دفع القيمة عندهم: لا يجزئ عند الجمهور إخراج القيمة عن هذه الأصناف، فمن أعطى القيمة لم تجزئه، لقول ابن عمر: «فرض رسول الله صلّى الله عليه وسلم صدقة الفطر صاعاً من تمر، وصاعاً من شعير» فإذا عدل عن ذلك فقد ترك المفروض
___________
وعند غير الحنفية: يتعين أداء المنصوص عليه، وقد بحث الموضوع في إخراج القيمة في الزكاة
Membayar zakat dengan qimah (uang seharga ukuran wajib zakat) menurut para Ulama : tidak mencukupkan menurut jumhur ulama mengeluarkan qimah anil ashnaf ini. Maka barangsiapa memberikan qimah, tidak mencukupkan terhadap orang tersebut. Berdasarkan perkataan Ibnu Umar : "Rasulullah SAW telah memfardhukan shadaqoh fithri 1 sha dari kurma dan 1 sha dari sya'ir". Maka barangsiapa mengeluarkan pengganti darinya, telah meninggalkan yang difardhukan. 
______________________
Dan di kalangan madzhab selain Hanafiyah, ditentukan membayarkan perkara yang telah di-nash terhadapnya. Dan telah dibahas tempat pembahasan yang diperuntukan perihal mengeluarkan qimah pada zakat.[12]

Imam Syafi'i tegas menyatakan tidak cukup alias tidak mencapai predikat sah mengeluarkan zakat fitrah berbentuk uang seharganya dalam Al-Umm yang merupakan kitab induk rujukan Syafi'iyah. Imam Rofi'i menguatkan hujjah Imam Syafi'i dengan menegaskan status kesesuaian hub sebagaimana yang di-nash dalam Al-Hadits, bahkan beliau juga menegaskan sikap save to hubb & say no to qimah dengan redaksi منعنا bagi kita muqallid madzhab Syafi'i.

Terkait adanya jalur periwayatan lain dalam madzhab Syafi'i yang menyatakan kebolehan menunaikan zakat fitrah dengan uang, maka itu juga sudah dibahas oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmu sebagai salah satu wajh tinjauan dalam upaya tashhih dan tarjihnya. Imam Nawawi tidak menyebutkan shahibulwajh-nya secara jelas, namun beliau tegas menyatakan bahwa itu wajh "شاذ باطل / jalur periwayatan pendapat yang produknya tidak sesuai dengan kaidah ushul fiqih syafi'iyah sehingga tidak sah secara fiqih madzhab Syafi'i". Imam Nawawi yang dianggap fuqoha Syafi'iyah paling kompeten dalam hal mentashhih dan mentarjih pendapat-pendapat Imam Syafi'i yang diriwayatkan Ashhabul Wujuh menyimpulkan bahwa nash-nash Imam Syafi'i yang diriwayatkan Ashhab ittifaq  menyatakan tidak boleh mengeluarkan zakat fithrah dengan qimah. Pernyataannya juga menjadi pegangan para ulama ahli tarjih Syafi'iyah generasi berikutnya seperti Imam Ramli dalam Nihayah Al-Muhtaj dan Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Tuhfah Al-Muhtaj. Al-Muhtajnya Imam Khatib Asy-Syarbaini yang terkadang menjadi Al-Muhtaj alternatif juga ittifaq sebagaimana dijelaskan Imam Ali Asy-Syibromilsi dan Syaikh Asy-Syirwani.

Jika imla kitab Induk Al-Umm, Imam Rofi'i, Imam Nawawi, Imam Romli dan Imam Ibnu Hajar pernyataannya tidak berbeda, maka biasanya semua fuqoha Syafi'iyah menyatakan bahwa itulah pendapat resmi madzhab Syafi'i. Tidak heran jika Imam Taqiyuddin Al-Hishni menyatakan tidak ada ikhtilaf. Sayid Abu Bakar bahkan menyatakan فيتعين saking tidak ada opsi lain dalam lingkungan madzhab Syafi'i selain hubb alias biji-bijian atau katakanlah beras jika di indonesia.

Seandainya ada wajh yang bisa dijadikan alternatif amaliyah dalam lingkungan madzhab Syafi'iyah, tentu banyak fuqaha Syafi'iyah yang mengulas dan merekomendasikannya sebagai alternatif, serta kecil kemungkinan mereka mengiklankan pendapat luar madzhab Syafi'i seperti Hanafiyah sebagaimana direkomendasikan dalam kitab Syaikhah Daryah Al-Aithah dan Fiqh Al-Manhaji-nya Majmu'ah Min Mu'allifin. Qaul atau wajh dha'if-pun sangat lumayan jika ada, karena masih bisa dijadikan alternatif selama kedhaifannya tidak terlalu sebagaimana metode yang dijelaskan Imam Ibnu Hajar dan Imam Al-Kurdi sehingga kita tidak perlu taqlid ke madzhab lain. Namun sayangnya wajh tersebut sudah dicap شاذ باطل oleh Al-Muharrir Madzhab Syafi'i yaitu Imam Abi Zakaria Yahya An-Nawawi. Sehingga alternatifnya jika kita bermaksud untuk menunaikan zakat fitrah dengan uang seharganya, ada 2 cara yang bisa ditempuh :
  1. Taqlid ke Madzhab lain (Madzhab Hanafi satu-satunya dari Madzahib Al-Arba'ah yang menyatakan kebolehan zakat fitrah dengan uang) secara langsung dengan memenuhi ketentuan taqlid ke madzhab di luar yang sudah dita'yin dan diiltizami. Sayangnya ini tidak mudah dipenuhi, terutama oleh umat awam seperti kita.
  2. Merujuk pada fatwa MUI tentang kebolehan zakat fitrah dengan uang. Ini yang lebih recomended, karena dengan merujuk ke fatwa MUI umat awam seperti kita tidak dituntut untuk mengetahui secara mendalam tentang kaifiyat taqlid lintas madzhab. Hanya saja kaum penuntut ilmu tetap penting menelusuri asal usul fatwa tersebut, dan metode apa yang mereka gunakan sehingga memilih fatwa ulama kontemporer Syaikh Yusuf Al-Qardhawi sebagai rujukan bukan merujuk kepada Wajh yang di-SyadzBathil-kan Imam Nawawi beberapa ratus tahun silam dan bukan juga taqlid secara langsung ke madzhab Hanafi. Ada keunikan dalam hal tersebut yang sangat mempesona untuk dijadikan bahan studi para pecinta ilmu.
Semoga bermanfaat, selamat menunaikan ibadah puasa, selamat menunaikan ibadah zakat fithrah, selamat hari raya idul fithri, selamat belajar dan terima kasih telah berkenan mengunjungi baitussalam.web.id

Sumber :
[1] Al-Umm Jilid 2 Hal 72
[2] Fath Al-Aziz bi Syarh Al-Wajiz - Syarh Al-Kabir Jilid 6 Hal 266
[3] Al-Majmu Syarah Al-Muhaddab Jilid 6 Hal 132
[4] Al-Majmu Syarah Al-Muhaddab Jilid 5 Hal 428-429
[5] Hasyiyah Abi Adh-Dhiya Nuruddin Ali Asy-Syibromilsi Ala Nihayah Al-Muhtaj Jilid 3 Hal 123
[6] Hawasyi Asy-Syirwani wa Al-Ubbadi Ala Tuhfah Al-Muhtaj Jilid 3 Hal 324
[7] Mughni Al-Muhtaj Ila Ma'rifati Ma'ani Alfadz Al-Minhaj Jilid 2 Hal 119
[8] Kifayah Al-Akhyar Ala Hilli Ghayah Al-Ikhtishar Jilid 1 Hal 195
[9] I'anah Ath-Thalibin Ala Hilli Alfadz Fath Al-Mu'in Jilid 2 Hal 174
[10] Fiqh Al-Ibadah Ala Madzhab Asy-Syafi'i Jilid 2 Hal 140
[11] Al-Fiqh Al-Manhaji Ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i Jilid 1 Hal 230
[12] Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh Jilid 3 Hal 1956-1957

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah ikut berpartisifasi
Komentar anda akan segera kami balas