BAITUSSALAM: Ilmu Fiqh
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Fiqh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Fiqh. Tampilkan semua postingan

7 Alif = 14 Harkat Batas Maksimal Durasi Mad Pada ل Lafadz اَللّٰهُ Menurut Pendapat Lain 6 Alif = 12 Harkat

Umumnya orang butuh memanjangkan durasi pengucapan ل Lafadz اَللّٰهُ lebih dari 2 harkat adalah hanya pada : takbirotul ihrom dan takbir intiqol.

Pada takbirotul ihrom dilatarbelakangi kewajiban praktek muqoronah pengucapan lisan terhadap redaksi الله أكبر serta peniatan hati terhadap seumpama redaksi :
نويت أصلي فرض العشاء أربع ركعات مستقبل القبلة أداء مأموما لله تعالى
Sehubungan dengan panjangnya redaksi niat tersebut yang dimuqoronahkan pada takbir.

Pada takbir intiqol biasanya hanya dibutuhkan pada : 
  • takbir intiqol dari sujud kedua rokaat kesatu atau ketiga menuju berdiri rokaat kedua atau berdiri rokaat keempat. 
  • takbir intiqol dari tasyahhud awal rokaat kedua menuju berdiri rokaat ketiga. 
Sehubungan dengan panjangnya jarak tempuh perpindahan.

7 alif = 14 harkat adalah batas maksimal durasi mad pada ل lafadz اَللّٰهُ menurut pendapat lain 6 alif = 12 harkat. Dengan konversi 1 alif = 2 harkat.

Ulama fiqih yang menyebutkan "7 alif" antara lain :
  • Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi mengutip pendapat Imam Asy-Syibromilsi (Kasyifah As-Saja Hal 58)
  • Syaikh Sayid Abu Bakar Ad-Dimyathi mengutip pendapat Imam Asy-Syibromilsi dan Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (I'anah Ath-Thalibin Jilid 1 Hal 133)
  • Syaikh Sa'id Ba'asyan (Busyrol Karim Hal 199)
Ulama fiqih yang menyebutkan "6 alif" antara lain :
  • Imam Syihabuddin Al-Qalyubi mengutip fatwa Imam Az-Zayadi. (Hasyiyah Al-Qalyubi Jilid 1 Hal 142)
Lebih jelasnya, berikut ini penjelasan mereka tentang batas maksimalnya :

كاشفة السجا للشيخ محمد نووي الجاوي ص ٥٨
قال الباجوري ويسن أن لا يقصر التكبير بحيث لا يفهم ولا يمططه بأن يبالغ في مده بل يتوسطو قال الشبراملسي ويستحب أن يمد التكبير ويسترط أن لا يمد فوق سبع ألفات وإلا بطلت إن علم وتعمد وتقدر كل ألف بحركتين وهو على التقريب ويعتبر ذلك بتحريك الأصابع متوالية مقارنة للنطق بالمد في التحرم
Telah berkata Al-Bajuri : "dan disunatkan tidak memendekan pengucapan takbir dengan menjadi tidak dapat difahami, dan tidak melama-lamakannya dengan keterlaluan pada mad-nya melainkan bertawassuth/pertengahan.". Telah berkata Asy-Syibromilsi : "dan disunatkan memanjangkan takbir. Dan disyaratkan tidak memanjangkan di atas 7 alif. Jika tidak begitu maka batal shalatnya jika dia mengetahui dan menyengaja. Dan diukurkan setiap 1 alif dengan 2 harkat, dan itu secara perkiraan. Dan dihitung 7 alif × 2 harkat dengan menggerakan jari-jari secara kontinyu dan dibersamakan pada pengucapan terhadap mad pada takbirotul ihrom.". (Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kasyifah As-Saja Hal 58)
إعانة الطالبين للشيخ السيد أبي بكر الدمياطي ج ١ ص١٣٣
قال ع ش وغاية مقدار ما نقل عنهم على ما نقله ابن حجر سبع ألفات وتقدر كل ألف بحركتين وهو على التقريب اه
Telah berkata Asy-Syibromilsi : Dan maksimal ukuran panjang yang dikutip dari mereka terhadap yang Imam Ibnu Hajar menuqilnya adalah 7 alif. Dan diukurkan setiap 1 alif dengan 2 harkat dan itu secara perkiraan (Syaikh Sayid Abu Bakar Ad-Dimyathi, I'anah Ath-Thalibin Jilid 1 Hal 133)
بشرى الكريم للشيخ سعيد باعشن ص ١٩٩
وعدم مد ألف الجلالة زيادة على سبع ألفات
Dan tidak memanjangkan alif lafdzul jalalah melebihi di atas 7 alif (Syaikh Said Ba'asyan, Busyro Al-Karim Hal 199)
حاشية القليوبي للإمام شهاب الدين القليوبي ج ١ ص١٤٢
وقدر الطول ست ألفات واعتمده شيخنا الزيادي
Ukuran panjang adalah 6 alif. Me-mu'tamad-kannya Syaikhuna Az-Zayadi (Imam Syihabuddin Al-Qalyubi, Hasyiyah Al-Qalyubi Ala Syarh Al-Mahalli Ala Al-Minhaj Ath-Thalibin Jilid 1 Hal 142)

Daftar Pustaka
Al-Jawi, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah As-Saja. Al-Haromain
Ad-Dimyathi, Sayid Abu Bakar. I'anah Ath-Thalibin. Syirkah Nur Asia.
Al-Qalyubi, Imam Syihabuddin. Hasyiyah Al-Qalyubi wa Umairoh. Dar Al-Fikr.
Ba'asyan, Syaikh Sa'id. Busyro Al-Karim. Maktabah Syamilah.

Harta Yang Wajib Dizakati

Harta Yang Wajib Dizakati Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 101 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
اَلْأَمْوَالُ الَّتِي تَلْزَمُ فِيْهَا الزَّكَاةُ سِتَّةُ أَنْوَاعٍ النَّعَمُ وَالنَّقْدَانِ وَالْمُعَشَّرَاتِ وَأَموَالِ التِّجَارَةِ وَاجِبُهَا رُبْعُ عُشُرِ قِيْمَةِ عُرُوْضِ التِّجَارَةِ وَالرِّكَازِ وَالْمَعْدنِ
Fashl - Harta Yang Wajib Padanya Zakat (Dikeluarkan Zakatnya) Ada 6 :
  1. Binatang ternak
  2. Emas- perak
  3. Biji-bijian dan Buah-buahan
  4. Harta Perniagaan
  5. Harta Temuan Peninggalan Zaman Dahulu
  6. Harta Pertambangan

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 101
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Kewajiban Menggali Lagi Mayit Dari Dalam Kubur

Kewajiban Menggali Lagi Mayit Dari Dalam Kubur Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 100 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
يُنْبَشُ الْمَيِّتُ لِأَرْبَعِ خِصَالٍ
لِلْغُسْلِ إِذَا لَمْ يَتَغَيَّرْ وَلِتَوْجِيْهِهِ إِلَى الْقِبْلَةِ وَلِلْمَالِ إِذَا دُفِنَ مَعَهُ وَلِلْمَرْأَةِ إِذَا دُفِنَ جَنِيْنُهَا مَعَهَا وَأَمْكنَتْ حَيَاتُهُ
Wajib Menggali Lagi Mayit Dari Dalam Kubur Dikarenakan 4 Hal : 
  1. Karena akan dimandikan, jika jasad mayit belum berubah.
  2. Karena akan dihadapkan ke arah qiblat.
  3. Karena ada harta yang dikubur bersama mayit.
  4. Karena mayit perempuan yang dikubur, beserta janinnya. Serta dimungkinkan janinnya masih hidup.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 100
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Cara Mengubur Mayit

Cara Mengubur Mayit Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 99 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
أَقَلُّ الْدَّفْنِ حُفْرَةٌ تَكْتُمُ رَائِحَتَهُ وَتُحْرِسُهُ مِنَ السِّبَاعِ وَأَكْمَلُهُ قَامَةٌ وَبَسْطَةٌ وَيُوْضَعُ خَدُّهُ علَى التُّرَابِ وَيَجِبُ تَوْجِيْهُهُ إِلَى الْقِبْلَةِ
Minimal Cara Mengubur Mayit adalah dengan satu galian yang bisa menyembunyikan baunya mayit dan bisa menjaganya dari binatang buas.
Adapun sempurnanya Mengubur Mayit adalah sedalam ukuran tubuh manusia normal dan acungan tangannya keatas. Dan wajib pipi mayit diletakan di atas tanah dan badannya dihadapkan ke qiblat.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 99
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Rukun Shalat Jenazah

Rukun Shalat Jenazah Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 97 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
أَرْكَانُ صَلَاةِ الْجَنَازَةِ سَبْعَةٌ
اَلْأَوَّلُ النِّيَةُ اَلثَّانِي أَرْبَعُ تَكْبِيرَاتٍ اَلثَّالِثُ الْقِيَامُ عَلَى الْقَادِرِ اَلرَّابِعُ قِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ اَلْخَامِسُ الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الثَّانِيَةِ اَلسَّادِسُ الدُعَاءُ لِلْمَيِّتِ بَعْدَ الثَّالِثَةِ اَلسَّابِعُ السَّلَامُ
Fashl - Rukun Shalat Jenazah ada 7 :
  1. Niat
  2. Takbir 4 kali.
  3. Berdiri bagi yang mampu
  4. Membaca fatihah.
  5. Membaca sholawat kepada Nabi setelah takbir ke 2
  6. Berdoa untuk mayit setelah takbir ke 3
  7. Membaca salam setelah takbir ke 4

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 97
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Cara Memandikan Mayit

Cara Memandikan Mayit Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 95 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
أَقَلُّ الْغُسْلِ تَعْمِيْمُ بَدَنِهِ بِالْمَاءِ وَأَكْمَلُهُ أَنْ يُغْسِلَ سَوْأَتَيْهِ وَأَنْ يُزِيْلَ الْقَدْرَ مِنْ أَنْفِهِ وَأَنْ يُوَضِّئَهُ وَأَنْ يُدْلِكَ بَدَنَهُ بِالسِّدْرِ وَأَنْ يُصَبَّ المَاءُ عَلَيْهِ ثَلَاثًا
Minimalnya cara memandikan mayit adalah meratakan seluruh badannya dengan air. Sedangkan sempurnanya adalah : 
  1. Membasuh qubul dan duburnya.
  2. Membuang kotoran dari hidungnya.
  3. Mewudhukannya.
  4. Menggosok badannya dengan sidr.
  5. Menyiraminya dengan air sebanyak 3 kali.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 95
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Yang Wajib Dilakukan Terhadap Mayit

Yang Wajib Dilakukan Terhadap Mayit Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 93 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
اَلَّذِي يَلْزَمُ لِلْمَيِّتِ أَرْبَعُ خِصَالٍ
غُسْلُهُ وَتَكْفِيْنُهُ وَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ وَدَفْنُهُ
Fashl - Perkara Yang Wajib Dilakukan Orang Yang Masih Hidup Terhadap Mayit Ada 4
  1. Memandikannya.
  2. Mengkafaninya.
  3. Menshalatkannya.
  4. Menguburkannya.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 93
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Syarat Sah Khutbah Jum'at

Syarat Sah Khutbah Jum'at Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 91 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
شُرُوْطُ الْخُطْبَتَيْنِ عَشَرَةٌ
اَلطَّهَارَةُ عَنِ الْحَدَثَيْنِ الْأَصْغَرِ وَالْأَكْبَرِ والطَّهَارَةُ عَنِ النَجَاسَةِ فِي الثَّوْبِ وَالْبَدَنِ وَالْمَكَانِ وَسَتْرُ العَوْرَةِ وَالْقِيَامُ عَلَى الْقَادِرِ وَالْجُلُوْسُ بَيْنَهُمَا فَوْقَ طُمَأْنِيْنَةِ الصَّلَاةِ وَالْمُوَالَاةُ بَيْنَهُمَا وَالْمُوَالَاةُ بَيْنَهُمَا وَبَيْنَ الصَّلَاةِ وَأَنْ تَكُوْنَا بِالْعَرَبِيَّةِ وَأَنْ يُسْمِعَهُمَا أَرْبَعِيْنَ وَأَنْ تَكُوْنَ كُلُّهَا فِي وَقْتِ الظُّهْرِ

Fashl - Syarat Sah Khutbah Jum’at (Khutbatain) ada 10 : 
  1. Suci dari 2 hadats, yaitu hadats kecil dan hadats besar.
  2. Suci dari najis pada pakaiannya, badannya dan tempat khutbahnya.
  3. Menutup aurat.
  4. Berdiri bagi yang mampu.
  5. Duduk antara khutbah kesatu dan khutbah kedua seukuran waktu thumaninah dalam shalat.
  6. Muwalah antara khutbah kesatu dan khutbah kedua
  7. Muwalah antara khutbah jum'at (khutbatain) dan shalat jum’at.
  8. Khutbah jum’at (khutbatain) harus menggunakan bahasa arab.
  9. Memperdengarkan khutbah jum’at (khutbatain) kepada ahli jum’at yang 40 orang
  10. Seluruh rangkaian khutbah jum’at (khutbatain) harus dilaksanakan pada waktu dzuhur.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 91
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Rukun Khutbah Jum'at

Rukun Khutbah Jum'at Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 90 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ 
أَرْكَانُ الْخُطْبَتَيْنِ خَمْسَةٌ
حَمْدُ اللهِ فِيْهِمَا وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْهِمَا وَالْوَصِيَّةُ بِالتَّقْوَى فِيْهِمَا وَقِرَاءَةُ أٰيَةٍ مِنَ الْقُرْأٰنِ فِي إِحْدَهُمَا وَالدُّعَاءُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فِي الْأٰخِرَةِ
Fashl - Rukun Khutbah Jum’at (Khutbatain) ada 5 :
  1. Membaca Hamdalah pada khutbah kesatu dan khutbah kedua
  2. Membaca Sholawat Kepada Nabi pada khutbah kesatu dan khutbah kedua
  3. Menyampaikan Wasiat Taqwa pada khutbah kesatu dan khutbah kedua
  4. Membaca Ayat Al-Quran pada salah satu khutbah jum'at (khutbatain)
  5. Membaca Doa untuk muslimin muslimat pada khutbah kedua

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 90
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Hukum Minta Tolong Dalam Bersuci

Hukum Minta Tolong Dalam Bersuci Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 100 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
الْإِسْتِعَانَاتُ أَرْبَعُ خِصَالٍ
مُبَاحَةٌ وَخِلَافُ الْأَوْلى وَمَكْرُوْهَةٌ وَوَاجِبَةٌ فَالْمُبَاحَةُ هِيَ تَقْرِيْبُ الْمَاء وَخِلَافُ الْأَوْلَى هِيَ صُبُّ الْمَاءِ عَلَى نَحْوِ الْمُتَوَضِّءِ وَالمَكْرُوهَةُ هِيَ لِمَنْ يَغْسِلُ أَعْضَاءَهُ وَالوَاجِبَةُ هِيَ لِلْمَرِيْضِ عِنْدَ العَجْزِ
Fashl - Hukum Minta Tolong Dalam Bersuci ada 4 : 
  1. Mubah, yaitu : minta tolong mendekatkan air.
  2. Khilaful aula, yaitu : minta tolong menuangkan air kepada seumpama orang yang berwudhu.
  3. Makruh, yaitu : minta tolong menuangkan air bagi orang yang membasuh anggota-anggota wudhunya.
  4. Wajib, yaitu : minta tolong menuangkan air bagi orang yang sakit ketika ia tidak mampu untuk melakukannya sendiri.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 100
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Syarat Sah Shalat Jum'at

Syarat Sah Shalat Jum'at Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 88 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
شُرُوْطُ الْجُمْعَةِ سِتَّةٌ
أَنْ تَكُوْنَ كُلُّهَا فِي وَقْتِ الظُّهْرِ وَأَنْ تُقَامَ فِي خِطَّةِ الْبَلَدِ وَأَنْ تُصَلِّيَ جَمَاعَةً وَأَنْ يَكُوْنُوْا أَرْبَعِيْنَ أَحْرَارًا ذُكُوْرًا بَالِغِيْنَ مُسْتَوْطِنِيْنَ وَأَنْ لَا تَسْبِقَهَا وَلَا تُقَارِنَهَا جُمْعَةٌ فِي تِلْكَ الْبَلَدِ وَأَنْ يَتَقَدَّمَهَا خُطْبَتَانِ
Fashl - Syarat Sah Shalat Jum’at ada 6 :
  1. Seluruh rangkaian shalat jum’at harus didirikan pada waktu dzuhur.
  2. Shalat jum’at harus didirikan di tengah pemukiman.
  3. Shalat jum’at harus didirikan secara berjama’ah.
  4. Ahli jum’at harus terdiri dari 40 laki-laki merdeka, baligh dan berdomisili di pemukiman tersebut.
  5. Shalat jum’at tidak boleh didahului pelaksanaannya atau berbarengan dengan shalat jum’at lain yang juga didirikan di pemukiman tersebut.
  6. Shalat jum’at harus didahului dengan khutbatain (khutbah jum’at)

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 88
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Syarat Sah Shalat Qashar

Syarat Sah Shalat Qashar Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 85 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
شُرُوْطُ الْقَصْرِ سَبْعَةٌ أَنْ يَكُوْنَ سَفَرُهُ مَرْحَلَتَيْنِ وَأَنْ يَكُوْنَ مُبَاحًا
وَالْعِلْمُ بِجَوَازِ الْقَصْرِ وَنِيَةُ الْقْصْرِ عِنْدَ الْإِحْرَامِ وَأَنْ تَكُوْنَ الصَّلَاةُ رُبَاعِيَّةً وَدَوَامُ السَّفَرِ إِلىَ تَمَامِهَا وَأَنْ لَا يَقْتَدِي بِمُتِمٍّ فِي جُزْءٍ مِنْ صَلَاتِهِ
Fashl - Syarat Sah Shalat Qashar ada 7 :
  1. Jarak Tempuh Perjalanannya harus mencapai 2 marhalah.
  2. Perjalanannya harus perjalanan yang diperbolehkan syara’.
  3. Harus memiliki ilmu tentang diperbolehkannya shalat qashar.
  4. Harus berniat qashar ketika takbiratul ihram.
  5. Shalat yang diqasharnya harus shalat yang 4 rakaat.
  6. Harus masih tetap udzur perjalanannya sampai sempurna mendirikan shalatnya.
  7. Tidak boleh bermakmum mengikuti imam yang shalatnya sempurna pada salah satu rangkaian shalatnya.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 85
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Syarat Sah Shalat Jama Taqdim

Syarat Sah Shalat Jama Taqdim ada 4 : Dimulai dengan shalat yang kesatu, niat jama taqdim pada shalat yang kesatu, muwalah antara shalat yang kesatu dan shalat yang kedua, dawam udzurnya [Syaikh Salim bin Sumair Al-Hadhrami, Safinah An-Najaa Hal 85]
فصل : في شروط جواز جمع التقديم شروط جمع التقديم سفراً ومطراً أربعة أحدها : البداءة بالأولى لأن الوقت لها والثانية تبع فلو صلى العصر قبل الظهر أو العشاء قبل المغرب لم يصح لأن التابع لا يتقدم على متبوعه وله عادة الأولى بعد الثانية إن أراد الجمع. و ثانيها: نية الجمع فيها أي في الصلاة الأولى قبل التحلل منها ليتميز التقديم المشروع عن التقديم سهواً أو عبثاً كأن يقول: نويت أصلي فرض الظهر مجموعاً بالعصر. و ثالثها: الموالاة بينهما أي بين الصلاتين قال السيد يوسف الزبيدي في إرشاد الأنام: بأن لا يفصل بينهما طويلاً وذلك بقدر ركعتين بأقل مجزىء، فإن اختل شرط من هذه الثلاثة صلى الثانية في وقتها، وهذه الشروط الثلاثة سنن في جمع التأخير انتهى. و رابعها: دوام العذر أي بقاء السفر إلى الإحرام بالثانية فلو أقام في أثنائها لم يضر فلا يشترط دوامه إلى تمامها، فلو أقام قبل عقد الثانية فلا جمع وإن سافر عقب الإقامة لزوال السبب وهو السفر فيتعين تأخير الصلاة إلى وقتها، وإنما يشترط بقاء السفر ليقارن العذر الجمع وإن لم يقارن عقد الأولى كما لو شرع في الظهر مثلاً بالبلد وهو في سفينة فسارت السفينة فنوى الجمع في أثناء الصلاة الأولى فيصح، وكذا يشترط بقاء وقت الأولى إلى عقد الثانية وإن خرج في أثنائها، ويشترط أيضاً صحة الأولى يقيناً أو ظناً فيجمع فاقد الطهورين والمتيمم ولو بمحل يغلب فيه وجود الماء على المعتمد وكذا المستاحضة، وأما المتحيرة فلا تجمع تقديماً لانتفاء صحة الأولى يقيناً أو ظناً لاحتمال وقوعها في الحيض، وأما الجمع للمطر فيشترط وجود المطر في أول الصلاتين وبينهما وعند التحلل من الأولى ولا يضر انقطاعه في أثناء الأولى أو الثانية أو بعدهما

Fasal - Perihal Syarat-Syarat dibolehkannya jama taqdim. Syarat jama taqdim ada 4 :
  • Kesatu - Dimulai dengan shalat yang kesatu. Karena waktu adalah milik shalat yang kesatu, dan shalat yang kedua adalah pengikut. Sehingga jika Anwar telah ngerjakan shalat ashar sebelum shalat dhuhur atau shalat isya sebelum shalat maghrib, maka program jama taqdimnya tidak sah. Karena sesungguhnya pengikut tidak boleh diurutkan mendahului terhadap yang diikutinya. Dan boleh kepada Anwar mengerjakan i'adah terhadap shalat pertama yang salah antrian tersebut setelah selesai shalat yang kedua jika Anwar menghendaki jama'.
  • Kedua - Niat jama taqdim pada shalat yang kesatu sebelum tahallul dari shalat yang kesatu, agar menjadi berbeda pendahuluan yang disyari'atkan dari pendahuluan yang dalam kondisi lupa atau main-main. Seperti  contoh Anwar mengucapkan di dalam hati : 
نَوَيْتُ أُصَلِّي فَرْضَ الظُّهْرِ مَجْمُوْعًا بِالْعَصْرِ

"aku telah berniat untuk aku mengerjakan shalat terhadap dzuhur dijama dengan ashar"

  • Ketiga - Muwalah antara shalat yang kesatu dan shalat yang kedua. Telah berkata dalam kitab Irsyad Al-Anam : "dengan sekira dia tidak menjadikan fashilah thawil antara keduanya. Fashilah thawil itu adalah seukuran shalat 2 rakaat dengan standar minimal. Selanjutnya, jika ikhtal salah satu syarat dari ketiga syarat ini maka dia harus mengerjakan shalat yang kedua pada waktunya. Ketiga syarat ini adalah sunat-sunat pada program jama' ta'khir.intaha".
  • Keempat - Dawam udzurnya. Masih tetap safarnya sampai takbiratul ihram shalat yang kedua. Sehingga jika Anwar bermuqim pada pertengahan shalat kedua, maka itu tidaklah madharat. Maka tidak disyaratkan dawamnya udzur sampai sempurna shalat yang kedua. Kemudian jika dia bermuqim sebelum akad shalat kedua, maka tidak ada kebolehan program jama taqdim, sekalipun bersafar lagi setelah bermuqim, karena hilangnya sebab yakni bersafar, maka tentulah ketentuan mengakhirkan shalat kedua pada waktunya. Numatak numawi disyaratkan masih tetapnya udzur, supaya udzur menyertai terhadap program jama, dan sekalipun udzur tidak menyertai terhadap akad shalat yang kesatu, seperti kasus : jika dia syuru' pada shalat dzuhur umpamanya di negerinya dan dia dalam keadaan di atas kapal laut, kemudian kapal laut berjalan, kemudian dia meniatkan terhadap jama pada pertengahan shalat kesatu, maka itu sah.
Begitu juga : 
  • disyaratkan asih tetapnya waktu shalat kesatu sampai akad shalat kedua, sekalipun waktu keluar pada pertengahan shalat kedua.
  • disyaratkan juga sahnya shalat yang kesatu secara meyakinkan atau prasangka yang kuat. Oleh karena disini ada qayid "prasangka", maka faqid ath-thahurain dan al-mutayammim boleh menjama taqdim sekalipun pada tempat yang ghalib di tempat tersebut keberadaan air berdasarkan qaul al-mu'tamad madzhab Syafi'i. Begitu juga Al-mustahadhah. Adapun al-mutahayyirah maka tidak boleh menjama taqdim karena ketiadaan sahnya shalat kesatu secara meyakinkan ataupun dzonn, karena ihtimal terjadinya shalat kesatu pada saat haidh.
Adapun jama sebab hujan, maka disyaratkan :
  • adanya hujan pada awal kedua shalat, antara keduanya, dan ketika tahallul dari shalat kesatu. dan tidak madharat putusnya hujan pada pertengahan shalat kesatu atau pertengahan shalat kedua atau setelah keduanya.
[Syaikh Abi Abdil Mu'thi Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kasyifah As-Saja fi Syarhi Safinah An-Najaa Hal 85]

Gambaran Bermakmum

Gambaran Bermakmum Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 84 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
صُوْرَةُ الْقُدْوَةِ تِسْعٌ
تَصِحُّ فِي خَمْسٍ قُدْوَةُ رَجُلٍ بِرَجُلٍ وَقُدْوَةُ امْرَأَةٍ بِرَجُلٍ وَقُدْوَةُ خُنْثَى بِرَجُلٍ وَقُدْوَةُ امْرَأَةٍ بِخُنْثَى وَقُدْوَةُ امْرَأَةٍ بِامْرَأَةٍ
وَتَبْطُلُ فِي أَرْبَعٍ قُدْوَةُ رَجُلٍ بِامْرَأَةٍ وَقُدْوَةُ رَجُلٍ بِخُنْثَى وَقُدْوَةُ خُنْثَى بِامْرَأَةٍ وَقُدْوَةُ خُنْثَى بِخُنْثَى
Fashl - Gambaran Bermakmum Mengikuti Imam Ada 9 :
Sah Pada 5 Gambaran, yaitu :
  1. Laki-laki bermakmum mengikuti imam laki-laki.
  2. Perempuan bermakmum mengikuti imam laki-laki.
  3. Khuntsa bermakmum mengikuti imam laki-laki
  4. Perempuan bermakmum mengikuti imam khuntsa
  5. Perempuan bermakmum mengikuti imam perempuan
Batal Pada 4 Gambaran, yaitu : 
  1. Laki-laki bermakmum mengikuti imam perempuan
  2. Laki-laki bermakmum mengikuti imam khuntsa
  3. Khuntsa bermakmum mengikuti imam perempuan
  4. Khuntsa bermakmum mengikuti imam khuntsa

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 84
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Syarat Sah Bermakmum Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Syarat Sah Bermakmum Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

1). Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami, Safinah al-Najā Hal 79 :

فَصْلٌ
شُرُوْطُ الْقُدْوَةِ أَحَدَ عَشَرَ
أَنْ لَا يَعْلَمَ بُطْلَانَ صَلَاةِ إِمَامِهِ بِحَدَثٍ أَوْ غَيْرِهِ وَأَنْ لَا يَعْتَقِدَ وُجُوْبَ قَضَائِهَا عَلَيْهِ وَأَنْ لَا يَكُوْنَ مَأْمُوْمَا وَلَا أُمِّيًا وَأَنْ لَا يَتَقَدَّمَ عَلَيْهِ فِي الْمَوْقِفِ وَأَن يَعْلَمَ إِنْتِقَالَاتِ إِمَامِهِ وَأَنْ يَجْتَمِعَا فِي مَسْجِدٍ أَوْ فِي ثَلَاثِمِائَةِ ذِرَاعٍ تَقْرِيْبًا وَأَنْ يَنْوِيَ الْقُدْوَةَ أَوْ الْجَمَاعَةَ وَأَنْ يَتَوَافَقَ نَظْمُ صَلَاتِهِمَا وَأَنْ لَا يُخَالِفَهُ فِي سُنَّةٍ فَاحِشَةِ الْمُخَالَفَةِ وَأَنْ يُتَابِعَهُ
Fasal - Syarat Sah Bermakmum Mengikuti Imam Ada 11 :
  1. Makmum tidak boleh mengetahui status batal shalat imamnya, baik dengan sebab hadats ataupun sebab yang lainnya.
  2. Makmum tidak boleh beri’tiqad bahwa imamnya wajib mengqadha shalat tersebut.
  3. Imamnya tidak boleh bermakmum mengikuti imam yang lain.
  4. Imamnya tidak boleh ummi.
  5. Posisi makmum tidak boleh lebih depan dari posisi imamnya.
  6. Makmum harus mengetahui perpindahan pergerakan shalat imamnya.
  7. Imam dan makmum harus berkumpul di satu mesjid atau satu lingkungan seluas kurang lebih 300 hasta.
  8. Makmum harus berniat qudwah atau niat berjama’ah.
  9. Imam dan makmum harus muwafaqah rangkaian shalatnya.
  10. Makmum tidak boleh mukhalafah dari imamnya pada sesuatu sunat shalat yang buruk mukhalafahnya.
  11. Makmum harus mengikuti imamnya.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 79
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Shalat Yang Wajib Niat Jadi Imam

Shalat Yang Wajib Niat Jadi Imam Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 77 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
اَلَّذِي يَلْزَمُ فِيْهِ نِيَةُ الْإِمَامَةِ أَرْبَعٌ
اَلْجُمْعَةُ وَالْمُعَادَةُ وَالْمَنْذُوْرَةُ جَمَاعَةً وَالْمُتَقَدَّمَةُ فِي الْمَطَرِ
Fashl - Shalat Yang Wajib Niat Jadi Imam Atau Niat Jama’ah Bagi Seorang Imam ada 4 :
  1. Shalat jum’at. 
  2. Shalat mu’adah (mengulang) berjamaah.
  3. Shalat nadzar berjamaah.
  4. Shalat jama’ taqdim berjama’ah sebab hujan

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 77
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Hal-Hal Yang Membatalkan Shalat

Hal-Hal Yang Membatalkan Shalat Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 69 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
تَبْطُلُ الصَّلَاةُ بِأَرْبَعَ عَشَرَةَ خِصْلَةً
بِالْحَدَثِ وَبِوُقُوْعِ النَّجَاسَةِ إِنْ لَمْ تُلْقَ حَالًا مِنْ غَيْرِ حَمْلٍ وَانْكِشَافُ الْعَوْرَةِ إِنْ لَمْ تُسْتَرْ حَلًا وَالنُّطْقُ بِحَرْفَيْنِ أَوْ بِحَرْفٍ مُفْهِمٍ عَمْدًا وَبِالْمُفْطِرِ عَمْدًا وَالْأَكْلِ الْكَثِيْرِ نَاسِيًا وَثَلَاثِ حَرَكَاتٍ مُتَوَالِيَاتٍ وَلَوْ سَهْوًا وَالْوَثْبَةِ الْفَاحِشَةِ وَالضَّرْبَةِ الْمُفْرِطَةِ وَزِيَادَةِ رُكْنٍ فَعْلِيٍّ عَمْدًا وَالتَّقَدُّمِ عَلَى إِمَامِهِ بِرُكنَيْنِ فَعْلِيَيْنِ وَالتَّخَلُّفِ بِهِمَا بِغَيْرِ عُذْرٍ وَنِيَةِ قَطْعِ الصَّلَاةِ وَتَعْلِيْقِ قَطْعِهَا بِشَيْءٍ وَالتَّرَدُّدِ فِي قَطْعِهَا
Fashl - Batal Shalat Disebabkan 14 Hal :
  1. Hadats.
  2. Terkena najis jika tidak dibuang seketika itu juga tanpa dibawa. 
  3. Terbuka aurat jika tidak ditutup seketika itu juga.
  4. Mengeluarkan kata-kata selain bacaan shalat baik 2 huruf maupun 1 huruf yang artinya bisa dipahami, secara disengaja.
  5. Melakukan sesuatu yang dapat membatalkan puasa, secara disengaja.
  6. Makan yang banyak sekalipun dilakukan dalam keadaan lupa.
  7. Tiga kali bergerak secara berturut-turut sekalipun dilakukan dalam keadaan lupa.
  8. Melompat yang keras
  9. Memukul yang keras
  10. Menambah rukun fa’ly, secara disengaja.
  11. Mendahulukan diri atau mengakhirkan diri dari imam dengan dua rukun fa’ly, dalam kondisi tidak ada udzur sama sekali.
  12. Berniat membatalkan shalat.
  13. Menggantungkan niat membatalkan shalat karena sesuatu hal.
  14. Ragu-ragu untuk membatalkan shalat.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 69
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Sunat Ab'ad Shalat

Sunat Ab'ad Shalat Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 68 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
أَبْعَاضُ الصَّلَاةِ سَبْعَةٌ
اَلتَّشَهُّدُ الْأَوَّلُ وَقُعُوْدُهُ وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْهِ وَالصَّلَاةُ عَلَى الْأٰلِ فِي التَّشَهُّدِ الْأٰخِرِ وَالْقُنُوْتُ وَقِيَامُهُ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأٰلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْهِ
Sunat Ab’ad Shalat Ada 7 : 
  1. Tasyahud awal.
  2. Duduk pada saat tasyahud awal.
  3. Membaca Shalawat atas Nabi pada saat duduk tasyahud awal.
  4. Membaca Shalawat atas Keluarga Nabi pada saat duduk tasyahud akhir
  5. Qunut shubuh
  6. Berdiri pada saat qunut shubuh
  7. Membaca Shalawat dan Salam atas Nabi, Keluarga dan Sahabatnya pada qunut shubuh.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 68
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Sebab Sunat Wujud Syahwi

Sebab Sunat Sujud Syahwi Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 67 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
أَسْبَابُ سُجُوْدِ السَّهوِ أَرْبَعَةٌ
اَلْأَوَّلُ تَرْكُ بَعْضٍ مِنْ أَبْعَاضِ الصَّلَاةِ اَلثَّانِيْ فِعْلُ مَا يُبْطِلُ عَمْدُهُ وَلَا يُبْطِلُ سَهْوُهُ إِذَا فَعَلَهُ نَاسِيًا اَلثَّالِثُ نَقْلُ رُكْنٍ قَوْلِيٍّ إِلَى غَيْرِ مَحَلِهِ اَلرّابِعُ إِيْقَاعُ رُكْنِ فَعْلِيٍّ مَعَ احْتِمَالِ الزِّيَادَةِ
Fashl - Sebab Disunatkan Sujud Sahwi Ada 4 :
  1. Sebab lupa meninggalkan salah satu sunat ab’ad shalat, atau meninggalkan sebagian dari salah satu sunat ab’ad shalat.
  2. Sebab lupa mengerjakan satu hal yang jika hal tersebut dilakukan dengan sengaja maka dapat membatalkan shalat dan jika hal tersebut dilakukan sebab lupa maka tidak membatalkannya.
  3. Sebab lupa memindahkan salah satu rukun qouly bukan pada tempatnya.
  4. Sebab lupa mengerjakan salah satu rukun fa’ly, serta ihtimal berlebih. 

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 67
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Rukun Shalat Yang Wajib Thumaninah

Rukun Shalat Yang Wajib Thumaninah Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 66 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
اَلْأَرْكَانُ الَّتِي تَلْزَمُ فِيْهَا الطُّمَأْنِينَةُ أَرْبَعَةٌ
اَلرُّكُوْعُ وَالْإِعْتِدَالُ وَالسُّجُوْدُ وَالْجُلُوْسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ اَلطُّمَأْنِيْنَةُ هِيَ سُكُونٌ بَعْدَ حَرَكَةٍ بِحَيْثُ يَسْتَقِرُّ كُلُّ عُدْوٍ مَحَلَهُ بِقَدْرِ سُبْحَانَ اللهِ
Fashl - Rukun Shalat Yang Wajib Padanya Thumaninah Ada 4 :
  1. Ruku’.
  2. I’tidal.
  3. Sujud.
  4. Duduk antara Dua Sujud. 

Tumaninah adalah diam dengan tenang setelah bergerak, sehingga tetap seluruh anggota badan pada tempatnya, yang lamanya seukuran membaca “subhanallah”

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 66
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.