BAITUSSALAM: Hari Raya
Tampilkan postingan dengan label Hari Raya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hari Raya. Tampilkan semua postingan

Hukum Shalat Jumat Jika Hari Raya Jatuh Pada Hari Jum'at Menurut Ulama Fiqih 4 Madzhab

Bagaimana hukum menunaikan kewajiban shalat jum'at jika hari raya jatuh pada hari jumat? Tetap wajib #untuk_saya muqallid madzhab syafi'i. Karena saya termasuk ahli balad (orang kota, pemukiman atau perumahan) tidak termasuk ahli quro (orang yang tinggal di pelosok atau pedalaman) bukan pula termasuk ahli bawadi (orang yang tinggal jauh di pegunungan atau pulau terpencil seperti tarzan) sehingga saya tidak memiliki kendala (sebut saja madharat dan masyaqat) untuk mengakses masjid tempat ditunaikannya shalat jum'at. 

#untuk_anda orang yang tinggal di pelosok / pedalaman / pegunungan / pulau terpencil seperti tarzan sekalipun, jangan lebay lah.... di zaman ini masjid sudah dibangun dimana-mana, bahkan jalan modal akses dan alat bantu akses menuju ke masjid shalat jum'at juga umumnya sudah anda miliki.

Jika anda sukses memahami latarbelakang masalahnya, anda bahkan tidak akan membutuhkan penjelasan selanjutnya. Semoga keteguhan iman kita ikut mendorong otak kita untuk senantiasa berpikir lebih baik.

Berikut ini penjelasan ulama perihal hukum menunaikan shalat jumat jika hari raya jatuh pada hari jumat :

غاية التلخيص المراد من فتاوي ابن زياد للسيد عبد الرحمن باعلوى ص ١٠٥
مسألة مذهبنا فيما إذا اجتمع عيد وجمعة سقوط الجمعة عمن حضر العيد من أهل القرى ولا تسقط عن أهل البلد وبه قال جمهور العلماء وقال أحمد تسقط حتى عن أهل البلد ونقل عن علي كرم الله وجهه وابن الزبير وعطاء سقوط الجمعة والظهر ولا تجب إلا العصر ذلك اليوم وقال أبو حنيفة تجب الجمعة على الكل وإن حضر العيد
Suatu Masalah :
Madzhab kita perihal jika berkumpulnya id dan jum'ah adalah gugurnya shalat jum'ah dari ahli qoryah yang telah menghadiri shalat id dan tidak gugur dari ahli balad. Dan dengannya telah berkata Jumhur Ulama.
Dan telah berkata Imam Ahmad : gugur bahkan dari ahli balad.
Dan dinuqil dari Ali KRW, Ibnu Zubair dan Atha : gugurnya shalat jum'at dan shalat dzuhur, dan tidak wajib kecuali shalat ashar hari tersebut.
Dan berkata Imam Abu Hanifah : Wajib shalat jum'ah kepada semuanya sekalipun telah menghadiri shalat id. 
[Ghayah Talkhish Al-Murad Min Fatawi Ibnu Ziyad Hamisy Bughiyah Al-Mustarsyidin Hal 105 - Diterjemahkan oleh : Cucu Anwar Mubarok]

بغية المسترشدين في تلخيص فتاوي بعد الأئمة من العلماء المتأخرين مع ضمّ فوائد همة من كتب شتّى للعلماء المجتهدين ص ٩٠
مسألة فيما إذا وافق يوم الجمعة يوم العيد ففي الجمعة أربعة مذاهب فمذهبنا أنه إذا حضر أهل القرى والبوادى العيد وخرجوا من البلاد قبل الزوال لم تلزمهم الجمعة وأما أهل البلد فتلزمهم ومذهب أحمد لا تلزمهم أهل البلد ولا أهل القرى فيصلون ظهرا ومذهب عطاء لا تلزم الجمعة ولا الظهر فيصلون العصر ومذهب أبي حنيفة تلزم الكل مطلقا انتهى من الميزان للشعراني
Suatu Masalah 
Perihal jika menepati hari jum'ah terhadap hari raya, maka perihal shalat jum'at ada 4 madzhab :
  • Madzhab kita (Madzhab Syafi'i) : bahwasanya jika ahli quro dan ahli bawadi telah menghadiri shalat id, dan mereka telah keluar dari bilad sebelum waktu dzuhur maka tidak wajib shalat jum'at kepada mereka. Adapun ahli balad maka wajib shalat jum'at kepada mereka.
  • Madzhab Ahmad : tidak wajib shalat jum'at kepada ahli balad dan tidak wajib kepada ahli quro. Maka mereka shalat dzuhur.
  • Madzhab 'Atho : tidak wajib shalat jum'ah dan tidak wajib shalat dzuhur. Maka mereka shalat ashar.
  • Madzhab Abu Hanifah : Wajib semuanya secara muthlaq.
Intaha, dari Al-Mizan Milik Imam Sya'roni. 
[Bughiyah Al-Mustarsyidin Halaman 90 - Diterjemahkan oleh : Cucu Anwar Mubarok]

Hukum Takbir Muqayyad Pada Hari Raya Idul Fithri

Salah satu pembeda nuansa idul fithri dari idul adha di indonesia adalah jarangnya imam shalat menuntun pengumandangan takbir muqayyad setelah pelaksanaan shalat fardhu, kenapa bisa begitu? Bagaimana hukum pengumandangannya? 

Masuk akal, karena mayoritas umat islam di Indonesia mengamalkan amaliyah fiqih madzhab Imam Syafi'i, dan berdasarkan pendapat al-ashahh (paling shahih dari antara 2 wajh shahih) dalam madzhab ini tentang hukum takbir muqayyad pada idul fithri adalah tidak disunatkan.

Berikut ini penjelasan para ulama Syafi'iyah :
ﻭﻫﻞ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻋﻘﺐ اﻟﺼﻠﻮاﺕ ﻓﻲ ﻋﻴﺪ اﻟﻔﻄﺮ ﻓﻴﻪ ﺧﻼﻑ ﻭاﻷﺻﺢ ﻓﻲ ﺃﺻﻞ اﻟﺮﻭﺿﺔ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻟﻌﺪﻡ ﻧﻘﻠﻪ ﻭﺻﺤﺢ اﻟﻨﻮﻭﻱ ﻓﻲ اﻷﺫﻛﺎﺭ ﺃﻧﻪ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻋﻘﺐ اﻟﺼﻠﻮاﺕ ﻛﺎﻷﺿﺤﻰ
Dan apakah takbir disunatkan setelah shalat-shalat pada idul fithri? Dalam hal ini terdapat khilaf : 
  • Qaul yang paling shahih dalam asal kitab Ar-Raudhah (milik Imam Nawawi) adalah bahwasanya takbir setelah shalat-shalat pada idul fithri tidak dimustahabkan karena ketiadaan tuqilannya.
  • Imam Nawawi menshahihkan dalam kitab Al-Adzkar bahwasanya takbir pada idul fithri dimustahabkan setelah shalat-shalat seperti idul adha.
(Imam Taqiyuddin Al-Hishni, Kifayah Al-Akhyar fi Hilli Ghayah Al-Ikhtishar Jilid 1 Hal 151 - Diterjemahkan oleh : Cucu Anwar Mubarok)

ويسن التكبير المطلق في عيد الفطر وهل يسن التكبير المقيد في ادبار الصلوات فيه وجهان - أحدهما - لا يسن لانه لم ينقل ذَلِكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - والثاني - انه يسن لانه عيد يسن له التكبير المطلق فيسن له التكبير المقيد كالاضحى
Disunatkan takbir muthlaq di hari raya idul fithri. Dan apakah disunatkan takbir muqayyad pada setelah shalat - shalat di hari raya idul fithri? Dalam hal ini ada 2 wajh :
  1. Tidak disunatkan karena tidak dinuqil takbir muqayyad setelah shalat - shalat di hari raya idul fithri dari Rasulullah SAW.
  2. Bahwasanya takbir muqayyad setelah shalat - shalat di hari raya idul fithri itu disunatkan. Karena sesungguhnya idul fithri adalah merupakan id yang disunatkan baginya takbir muthlaq/murshal, maka disunatkan baginya takbir muqayyad seperti idul adha.
(Imam Abi Ishaq Asy-Syairozi, Al-Muhaddab / Al-Majmu Syarah Al-Muhaddab Jilid 5 Hal 30 - Diterjemahkan oleh Cucu Anwar Mubarok)

وَأَمَّا التَّكْبِيرُ الْمُقَيَّدُ فَيُشْرَعُ فِي عِيدِ الْأَضْحَى بِلَا خِلَافٍ لِإِجْمَاعِ الْأُمَّةِ وَهَلْ يُشْرَعُ فِي عِيدِ الْفِطْرِ فِيهِ وَجْهَانِ مَشْهُورَانِ حَكَاهُمَا الْمُصَنِّفُ وَالْأَصْحَابُ وَحَكَاهُمَا صَاحِبُ التَّتِمَّةِ وَجَمَاعَةٌ قَوْلَيْنِ (أَصَحُّهُمَا) عِنْدَ الْجُمْهُورِ لَا يُشْرَعُ وَنَقَلُوهُ عَنْ نَصِّهِ فِي الْجَدِيدِ وَقَطَعَ بِهِ الْمَاوَرْدِيُّ وَالْجُرْجَانِيُّ وَالْبَغَوِيُّ وَغَيْرُهُمْ وَصَحَّحَهُ صَاحِبَا الشَّامِلِ وَالْمُعْتَمَدِ وَاسْتَدَلَّ لَهُ الْمُصَنِّفُ وَالْأَصْحَابُ بِأَنَّهُ لَمْ يُنْقَلْ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ كَانَ مَشْرُوعًا لَفَعَلَهُ وَلَنُقِلَ (وَالثَّانِي) يُسْتَحَبُّ وَرَجَّحَهُ الْمَحَامِلِيُّ وَالْبَنْدَنِيجِيّ وَالشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ * وَاحْتَجَّ لَهُ الْمُصَنِّفُ وَالْأَصْحَابُ بِأَنَّهُ عِيدٌ يُسَنُّ فِيهِ التَّكْبِيرُ الْمُرْسَلُ فَسُنَّ الْمُقَيَّدُ كَالْأَضْحَى فَعَلَى هَذَا قَالُوا يُكَبِّرُ خَلْفَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَالصُّبْحِ وَنَقَلَهُ الْمُتَوَلِّي عَنْ نَصِّهِ في القديم
Adapun takbir muqayyad, maka disyari'atkan pada idul adha dengan tidak ada khilaf berdasarkan ijma umat. Dan apakah disyari'atkan pada idul fithri? Dalam hal ini ada 2 wajh yang keduanya masyhur yang telah menghikayatkan terhadap keduanya : Mushannif Al-Muhaddab dan Ashab Imam Syafi'i. Dan telah menghikayatkan terhadap keduanya Pemilik kitab At-Tatimmah dan Jama'ah sebagai 2 qaul  :
  1. Yang paling shahih dari keduanya menurut jumhur ulama adalah takbir muqayyad tidak disyari'atkan. Mereka menuqilnya dari Nash Imam Syafi'i di dalam qaul al-jadid. Dan telah memastikan terhadapnya Imam Al-Mawardi, Imam Al-Jurjani, Imam Al-Baghawi dan selain mereka bertiga. Dan telah mentashhihnya 2 pemilik kitab Asy-Syamil. Adapun Al-Mu'tamad serta telah beristidlal baginya Mushannif dan Ashab adalah bahwasanya takbir muqayyad pada hari raya idul fithri tidak dinuqil dari Nabi SAW. Dan seandainya itu disyari'atkan maka beliau pasti telah melakukannya dan yakin dituqil.
  2. Takbir muqayyad pada idul fithri dimustahabkan. Telah mentarjihnya Imam Al-Mahamili, Imam Al-Bandaniji, dan Syaikhul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali. Dan telah berhujjah baginya Mushannif dan Ashab terhadap bahwasanya idul fithri adalah id yang disunatkan padanya takbir mursal. Maka disunatkan takbir muqayyad seperti idul adha. Maka berdasarkan hujjah ini, kemudian mereka berkata : seseorang bertakbir setelah shalat maghrib, isya dan shubuh. Dan telah menuqilnya Imam Al-Mutawali dari Nash Imam Syafi'i dalam qaul al-qadim.
(Imam Abi Zakariya Yahya An-Nawawi, Al-Majmu Syarah Al-Muhaddab Jilid 5 Hal 35 - Diterjemahkan oleh : Cucu Anwar Mubarok)

Biasanya hasil tashhih Imam Abi Zakariya Yahya bin Syarof An-Nawawi yang disampaikan dalam kitab Majmu Syarah Muhaddab dan Ar-Raudhah terhadap wajh-wajh yang telah diriwayatkan atau dihikayatkan ashabul wujuh dari Imam Syafi'i, itulah yang kemudian dijadikan pegangan para imam Madzhab Syafi'i generasi selanjutnya. Jadi jarang ada yang kembali mempermasalahkannya. Dalam hal takbir muqoyyad idul fithri ini, menurut beliau keduanya shahih, tapi yang paling shahih adalah tidak disunatkan. Oleh karenanya mayoritas ulama Indonesia tidak takbir muqayyad pada hari raya idul fithri.

Demikian, semoga bermanfaat.

Tata Cara Penyelesaian Shalat Id Pada Kasus Makmum Masbuq Tertinggal 1 Rokaat

Bagaimana tata cara penyelesaian shalat id pada kasus makmum masbuq yang tertinggal 1 rokaat ?

Contoh kasus : Gara-gara di rumahnya banyak seuseuheun geroheun dan gorengeun, Kabayan menjadi terlambat datang ke masjid. Nah, pas waktu datang ke masjid ternyata shalat id sedang berlangsung pada kondisi imam sedang bangkit dari ruku menuju i'tidal. Status tertinggal seperti itu = tertinggal 1 rakaat. Karena sekalipun Kabayan memaksakan diri untuk syuru', rokaat kesatu yang tertinggal 2 rukun fa'li secara tamm ini tetap masuk ke dalam kategori rokaat lam tuhsab alias rokaat yang tidak masuk hitungan secara kumulatif.

Pada kondisi seperti itu, solusi yang diajarkan Fuqoha adalah sepertihalnya pada kasus masbuq shalat biasa, yaitu : 
  • makmum langsung takbirotul ihrom saja
  • kemudian ikut i'tidal sebagaimana kondisi terbaru imam
  • kemudian ikuti imam sampai salam
  • kemudian berdiri sendiri untuk menebus rakaat yang tertinggal. 
Lampu hijau untuk berdiri terletak pada setelah salam pertama imam, tapi disunatkan berdiri setelah salam kedua (Lihat Al-Adzkar Hal 66) 

Nah setelah berdiri melanjutkan sendiri, ada 2 tata cara yang diajarkan Fuqoha Syafi'iyah. 2 tata cara ini bersifat opsional, sehingga anda dapat memilih salah satunya pada rakaat ini.
  1. Melakukan takbir 5 kali + 4 baqiyah ash-shalihah sebagai pemisah ---> membaca ta'udz ---> membaca surat fatihah ---> membaca surat lainnya ---> takbir intiqol ---> ruku dan seterusnya sampai salam akhir shalat. (tata cara ini diajarkan oleh : Imam Ibnu Hajar)
  2. Melakukan takbir 12 (7 + 5) kali + 11 baqiyah ash-shalihah sebagai pemisah ---> membaca ta'udz ---> membaca surat fatihah ---> membaca surat lainnya ---> takbir intiqol ---> ruku dan seterusnya sampai salam akhir shalat. (tata cara ini diajarkan oleh : Imam Ramli)

Sumber :

يسن للمأموم أن يؤخرها الى فراغ إمامه من تسلمتيه جميعا
disunatkan bagi makmum untuk mengakhirkannya sampai tuntas imamnya dari 2 salamnya semuanya. [Imam Abi Zakaria Yahya An-Nawawi, Al-Adzkar Halaman 66 - Diterjemahkan oleh : Cucu Anwar Mubarok]

مسألة لو أدرك إمامه في أول الثانية كبر معه خمسا فإذا سلم إمامه أتى بثانية نفسه وكبر لها خمس تكبيرات فقط ولا يتدارك ما فاته من تكبيرات الأولى في الثانية عند حج وجرى م ر على أنه يتدارك ذلك كما في السورة
Suatu Masalah : Jika seorang makmum masbuq berkesempatan mengidrok imam pada awal rakaat kedua, maka dia bertakbir bersama imam sebanyak 5 kali. Kemudian jika imam sudah salam maka dia mendatangkan rakaat kedua seutuhnya rakaat kedua, dan dia bertakbir untuk rakaat kedua tersebut sebanyak 5 takbir saja, tidak perlu mengganti apa yang telah luput darinya yaitu takbir-takbir rakaat kesatu pada rakaat kedua, menurut pendapat Imam Ibnu Hajar Al-Haitami. Dan Imam Ramli berpendapat bahwasanya seseorang yang masbuq tersebut mengganti apa yang telah luput darinya yaitu takbir-takbir rakaat kesatu pada rakaat kedua, sebagaimana hal itu berlaku pada permasalahan jika luput darinya bacaan surat setelah fatihah pada rakaat kesatu. [Syaikh Ali Bashabrain, Itsmad Al-Ainain Fi Ba'dhi Ikhtilaf Asy-Syaikhaini Ibn Hajar Al- Haitami wa Syams Ar-Ramli Hamisy Bughiyah Al-Mustarsyidin Halaman 41 - Diterjemahkan oleh : Cucu Anwar Mubarok]

ولا يتدارك في الثانية ان تركه في الأولى
dan tidak diidrok takbir (yang 7 kali + 6 baqiyah shalihah pemisahnya) pada rakaat kedua apabila mushalli meninggalkannya pada rakaat kesatu. [Syaikh Zainuddin Al-Malibari, Fath Al-Mu'in Halaman 33 - Diterjemahkan oleh : Cucu Anwar Mubarok]

قوله ولايتدارك في الثانية
الفعل مبني للمجهول ونائب فاعله ضمير يعود على التكبير أي لا يؤتى به مع تكبيرات الركعة الثانية وهذا معتمد ابن حجر وجرى الرملي على سنية تداركها في الثانية مع تكبيرها قياسا على قراءة الجمعة في الركعة الأولى من صلاة الجمعة فانه اذا تركها فيها سن له أن يقرأها في الثانية مع المنافقين
kalimat fi'il mabni majhul dan naibul fa'ilnya adalah dhamir yang kembali kepada التكبير maksud Syaikh Zainuddin adalah takbir yang tertinggal pada rokaat pertama shalat id tidak didatangkan (ditambahkan) beserta takbir-takbir rakaat kedua, dan ini adalah qoul mu'tamad Imam Ibnu Hajar. Adapun Imam Ramli memberlakukan hukum sunat mendatangkannya pada rakaat kedua beserta takbir-takbir rakaat kedua. Pendapat Imam Ramli ini diqiyaskan pada permasalahan bacaan Surat Al-Jum'ah rokaat kesatu pada pelaksanaan shalat jum'at, bahwasanya imam jika meninggalkan bacaan Surat Al-Jum'ah pada rakaat kesatu disunatkan kepadanya untuk membacanya pada rokaat kedua beserta Surat Al-Munafiqin. [Sayid Abu Bakar Al-Bakri, I'anah Ath-Thalibin Jilid 1 Halaman 262 - Diterjemahkan oleh : Cucu Anwar Mubarok]

Tata Cara Shalat Idul Fithri & Idul Adha Secara Berjamaah Maupun Sendiri di Rumah Menurut Ulama Fiqih Madzhab Imam Syafii

Secara umum tata cara shalat idul fithri & idul adha adalah sepertihalnya cara melaksanakan shalat pada umumnya baik ditinjau dari aspek rukun, syarat sah, hal-hal yang membatalkannya maupun sebagian besar sunat-sunat di dalamnya.

Perbedaannya dari aspek rukun hanya terdapat pada redaksi niat. Perbedaannya dari aspek syarat hanya terdapat pada waktu pelaksanaan. Tidak ada perbedaan dari aspek mubthilat. Namun dari aspek hal-hal yang disunatkan memang ada yang unik, keunikannya itu karena pada saat berdiri sebelum ta'udz disunatkan untuk takbir sebanyak 7 kali untuk rakaat kesatu (antara setiap takbir dipisah dengan bacaan Baqiyah Ash-shalihah) dan 5 kali untuk rakaat kedua (antara setiap takbir dipisah dengan bacaan Baqiyah Ash-shalihah). Adapun yang dimaksud dengan istilah baqiyah ash-shalihah adalah bacaan :

سُبْحَانَ اللّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ

Oleh karena fungsi baqiyah ash-shalihah ini hanya sebagai pemisah antara masing-masing takbir tersebut, maka jumlah bacaannya pada rakaat pertama menjadi hanya 6 bukan 7 dan pada rakaat kedua hanya 4 bukan 5

Penting juga difahami bahwa oleh karena kedudukan hukum 7 takbir + 6 baqiyah ash-shalihah pada rakaat kesatu dan 5 takbir + 4 baqiyah ash-shalihah pada rakaat kedua ini adalah sunat hai'at, maka jika lupa tidak dilakukan tidak menjadi sebab disunatkannya sujud sahwi, karena tidak termasuk sunat ab'adh. Bahkan jika sengaja tidak dilakukanpun shalat id tetap sah, karena tidak termasuk rukun. Tapi hukumnya makruh jika sengaja tidak dilakukan. 

Tata cara pelaksanaannya jika kita melakukan shalat id tanpa 7 takbir + 6 baqiyah ash-shalihah pada rakaat kesatu dan 5 takbir + 4 baqiyah ash-shalihah pada rakaat kedua adalah sepertihalnya ketika kita melakukan : shalat sunat wudhu, shalat sunat tahiyatul masjid atau shalat sunat rawatib 2 rakaat.

Berikut ini adalah step by step tata cara shalat sunat idul fithri & idul adha secara sempurna menurut para Ulama ahli fiqih madzhab Imam Syafi'i :

Tata Cara Shalat Id Berjamaah

  1. Imam mentalafudzkan niat shalat idul fithri atau niat shalat idul adha diikuti oleh makmum. Baca 12 redaksi niat shalat id untuk imam, makmum atau sendiri baik dilakukan pada waktunya maupun secara qadha
  2. Imam bertakbirotul-ihrom (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) disertai niat di dalam hati. Setelah imam selesai takbirotul ihrom, kemudian semua makmum bertakbirotul ihrom disertai niat di dalam hati. warning!!! : shalat makmum tidak sah jika makmum mencuri start dengan mulai bertakbirotul ihrom sebelum imam selesai takbirotul ihrom dengan mengakhiri pengucapan huruf ر lafadz أكبر
  3. Imam dan makmum membaca doa iftitah dengan suara pelan. Karena sunatnya pelan
  4. Imam melakukan takbir sunat ke-1 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan.
  5. Imam melakukan takbir sunat ke-2 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  6. Imam melakukan takbir sunat ke-3 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  7. Imam melakukan takbir sunat ke-4 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  8. Imam melakukan takbir sunat ke-5 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  9. Imam melakukan takbir sunat ke-6 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  10. Imam melakukan takbir sunat ke-7 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Warning!!! : Imam dan makmum tidak perlu membaca baqiyah ash-shalihah setelah takbir sunat ke-7, karena baqiyah ash-shalihah dalam hal ini difungsikan sebagai fashilah/pemisah antar takbir saja.
  11. Imam membaca Ta'udz dengan suara pelan, kemudian imam membaca Surat Alfatihah dengan suara nyaring. Sementara makmum diam saja khusyu' mendengarkan bacaan imam. Setelah imam selesai membaca Surat Al-Fatihah, kemudian makmum serentak mengucapkan "aamiiiin". Warning!!! : Basmalah menurut madzhab Imam Syafii termasuk salah satu ayat Surat Al-Fatihah. Jadi baik imam maupun makmum wajib membaca بسم الله الرحمن الرحيم sebelum membaca الحمد لله رب العالمين jika tidak dibaca maka bacaan fatihahnya tidak lengkap jika fatihah tidak dibaca selengkapnya maka bacaan fatihahnya tidak diakui sebagai suatu rukun yang utuh dari antara rukun-rukun shalat yang 17 jika salah satu rukun shalat sengaja tidak dipenuhi maka shalat tidak sah. Saran kami : "jika imam shalat bermadzhab hanafi, maliki atau hambali dan makmumnya bermadzhab syafii, tolong basmalahnya dibaca saja, toh bagi madzhab hanafi, maliki maupun hambali sekalipun basmalahnya dibaca sangat tidak berdampak pada sah atau tidaknya shalat, demi sahnya shalat makmum bermadzhab syafi'iyah. Silahkan baca hukum membaca basmalah setelah ta'udz sebelum hamdalah ketika shalat menurut ulama fiqih 4 madzhab jika belum tau
  12. Imam membaca surat lain selain surat Al-Fatihah (diutamakan surat ق atau سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى jika memungkinkan) dengan suara nyaring. Sedangkan makmum saat ini membaca Ta'udz --> Surat Al-Fatihah --> mengamini bacaan sendiri.
  13. Imam melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk ruku' diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca bacaan ruku seperti biasa.
  14. Imam melakukan tasmi' intiqol (mengucapkan سمع الله لمن حمده sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk ruku' diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca bacaan i'tidal seperti biasa. Warning!!! : Yang sunat dinyaringkan oleh makmum bukan tasmi سمع الله لمن حمده  melainkan ربنا لك الحمد tapi ini hukumnya sunat.
  15. Imam melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk sujud ke-1 diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca bacaan sujud ke-1 seperti biasa.
  16. Imam melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk duduk antara 2 sujud diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca bacaan duduk antara 2 sujud seperti biasa.
  17. Imam melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk sujud ke-2 diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca bacaan sujud ke-2 seperti biasa.
  18. Imam melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk berdiri ke rakaat kedua diikuti oleh makmum. Kemudian memulai rakaat kedua. Kemudian diam seukuran thumaninah yaitu sedurasi bacaan subhanallah.
  19. Imam melakukan takbir sunat ke-1 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan. Warning!!! : takbir sunat ke-1 pada rakaat kedua ini tidak didahului sebelumnya dengan doa iftitah, karena doa iftitah merupakan doa pembuka shalat bukan pembuka rokaat.
  20. Imam melakukan takbir sunat ke-2 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  21. Imam melakukan takbir sunat ke-3 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  22. Imam melakukan takbir sunat ke-4 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  23. Imam melakukan takbir sunat ke-5 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Warning!!! : Imam dan makmum tidak perlu membaca baqiyah ash-shalihah setelah takbir sunat ke-5 ini karena baqiyah ash-shalihah dalam hal ini difungsikan sebagai fashilah/pemisah antar takbir saja.
  24. Imam membaca Ta'udz dengan suara pelan, kemudian imam membaca Surat Alfatihah dengan suara nyaring. Sementara makmum diam saja khusyu' mendengarkan bacaan imam. Setelah imam selesai membaca Surat Al-Fatihah, kemudian makmum serentak mengucapkan "aamiiiin". Warning!!! : Basmalah menurut madzhab Imam Syafii termasuk salah satu ayat Surat Al-Fatihah. Jadi baik imam maupun makmum wajib membaca بسم الله الرحمن الرحيم sebelum membaca الحمد لله رب العالمين jika tidak dibaca maka bacaan fatihahnya tidak lengkap jika fatihah tidak dibaca selengkapnya maka bacaan fatihahnya tidak diakui sebagai suatu rukun yang utuh dari antara rukun-rukun shalat yang 17 jika salah satu rukun shalat sengaja tidak dipenuhi maka shalat tidak sah. Saran kami : "jika imam shalat bermadzhab hanafi, maliki atau hambali dan makmumnya bermadzhab syafii, tolong basmalahnya dibaca saja, toh bagi madzhab hanafi, maliki maupun hambali sekalipun basmalahnya dibaca sangat tidak berdampak pada sah atau tidaknya shalat, demi sahnya shalat makmum bermadzhab syafi'iyah."
  25. Imam membaca surat lain selain surat Al-Fatihah (diutamakan untuk rakaat kedua surat اِقْتَرَبَتِ atau surat اَلْغَاشِيَةُ jika memungkinkan) dengan suara nyaring. Sedangkan makmum membaca Ta'udz --> Surat Al-Fatihah --> mengamini bacaan sendiri.
  26. Imam melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk ruku' diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca bacaan ruku seperti biasa.
  27. Imam melakukan tasmi' intiqol (mengucapkan سمع الله لمن حمده sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk ruku' diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca bacaan i'tidal seperti biasa. Warning!!! : Yang sunat dinyaringkan oleh makmum bukan tasmi سمع الله لمن حمده  melainkan ربنا لك الحمد tapi ini hukumnya sunat jadi tidak perlu ribut gara-gara ini
  28. Imam melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk sujud ke-1 diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca bacaan sujud ke-1 seperti biasa.
  29. Imam melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk duduk antara 2 sujud diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca bacaan duduk antara 2 sujud
  30. Imam melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk sujud ke-2 diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca bacaan sujud ke-2 seperti biasa
  31. Imam melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk duduk tasyahhud akhir. Kemudian membaca bacaan tasyahhud akhir, shalawat kepada Nabi dalam rangkaian shalawat ibrohimiyah, doa memohon perlindungan dan doa memohon ketetapan iman seperti biasa.
  32. Imam membaca السلام عليكم ورحمة الله sambil menoleh ke sebelah kanan. Kemudian membaca السلام عليكم ورحمة الله sambil menoleh ke sebelah kiri. Kemudian makmum membaca السلام عليكم ورحمة الله sambil menoleh ke sebelah kanan. Kemudian membaca السلام عليكم ورحمة الله sambil menoleh ke sebelah kiri. Warning!!! : Batal shalat makmum jika membaca salam mendahului imam. Jika makmum membaca salam bersamaan dengan imam atau sebelum imam selesai mengucapkan salam pertama dengan mengakhiri pengucapan huruf م pada lafadz عليكم maka shalat makmum tidak batal akan tetapi hukumnya makruh dan berpotensi menghilangkan fadhilah berjamaah. Adapun sunatnya dalam hal ini adalah setelah imam selesai mengucapkan salam kedua dengan mengakhiri pengucapan huruf م lafadz عليكم yang kedua.
  33. Kemudian imam mengusap wajah sambil membaca أشهد أن لا إله إلا هو الرحمن الرحيم اللهم أذهب عني الهم والحزن begitupula makmum. Warning!!! : Akhir shalat adalah salam bukan doa ini. Amaliyah ini sering difahami secara keliru : banyak yang keliru menganggap ini bagian dari rangkaian shalat padahal akhir shalat adalah salam dan banyak juga yang keliru menganggap ini bid'ah padahal termasuk amaliyah sunnah yang berlandaskan Hadits Shahih. Untuk lebih jelasnya silahkan baca  hukum sunat amaliyah sunnah mengusap wajah setelah salam shalat menurut ulama ahli fiqih madzhab Imam Syafi'i
  34. Kemudian dilanjutkan dengan khutbah idul fithri atau khutbah idul adha
  35. Selesai

Tata Cara Shalat Id Sendiri

  1. Mentalafudzkan niat shalat idul fithri atau niat shalat idul adha
  2. Takbirotul-ihrom (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan dengan suara yang bisa didengar oleh diri sendiri) disertai niat di dalam hati. 
  3. Membaca doa iftitah dengan suara pelan.
  4. Melakukan takbir sunat ke-1 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) kemudian membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan.
  5. Melakukan takbir sunat ke-2 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) kemudian membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  6. Melakukan takbir sunat ke-3 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) kemudian membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  7. Melakukan takbir sunat ke-4 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) kemudian membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  8. Melakukan takbir sunat ke-5 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) kemudian membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  9. Melakukan takbir sunat ke-6 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) kemudian membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  10. Melakukan takbir sunat ke-7 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) Warning!!! : Tidak perlu membaca baqiyah ash-shalihah setelah takbir sunat ke-7, karena baqiyah ash-shalihah dalam hal ini difungsikan sebagai fashilah/pemisah antar takbir saja.
  11. Membaca Ta'udz dengan suara pelan, kemudian membaca Surat Alfatihah dengan suara pelan. Setelah selesai membaca Surat Al-Fatihah, kemudian mengucapkan "aamiiiin". Warning!!! : Basmalah menurut madzhab Imam Syafii termasuk salah satu ayat Surat Al-Fatihah. Jadi mushalli wajib membaca بسم الله الرحمن الرحيم sebelum membaca الحمد لله رب العالمين jika tidak dibaca maka bacaan fatihahnya tidak lengkap jika fatihah tidak dibaca selengkapnya maka bacaan fatihahnya tidak diakui sebagai suatu rukun yang utuh dari antara rukun-rukun shalat yang 17 jika salah satu rukun shalat sengaja tidak dipenuhi maka shalat tidak sah. 
  12. Membaca surat lain selain surat Al-Fatihah (diutamakan surat ق atau سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى jika memungkinkan) dengan suara pelan. 
  13. Melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) untuk ruku'. Kemudian membaca bacaan ruku seperti biasa.
  14. Melakukan tasmi' intiqol (mengucapkan سمع الله لمن حمده sambil mengangkat kedua tangan) untuk i'tidal. Kemudian membaca bacaan i'tidal seperti biasa
  15. Melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) untuk sujud ke-1. Kemudian membaca bacaan sujud ke-1 seperti biasa.
  16. Melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) untuk duduk antara 2 sujud. Kemudian membaca bacaan duduk antara 2 sujud seperti biasa.
  17. Melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) untuk sujud ke-2, Kemudian membaca bacaan sujud ke-2 seperti biasa.
  18. Melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) untuk berdiri ke rakaat kedua. Kemudian memulai rakaat kedua.
  19. Melakukan takbir sunat ke-1 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) Kemudian membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan. Warning!!! : takbir sunat ke-1 pada rakaat kedua ini tidak didahului sebelumnya dengan doa iftitah, karena doa iftitah merupakan doa pembuka shalat bukan pembuka rokaat.
  20. Melakukan takbir sunat ke-2 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) Kemudian membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  21. Melakukan takbir sunat ke-3 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) Kemudian membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  22. Melakukan takbir sunat ke-4 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) Kemudian membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  23. Melakukan takbir sunat ke-5 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) Warning!!! : tidak perlu membaca baqiyah ash-shalihah setelah takbir sunat ke-5 ini karena baqiyah ash-shalihah dalam hal ini difungsikan sebagai fashilah/pemisah antar takbir saja.
  24. Membaca Ta'udz dengan suara pelan, kemudian membaca Surat Alfatihah dengan suara pelan. Setelah selesai membaca Surat Al-Fatihah, kemudian mengucapkan "aamiiiin". Warning!!! : Basmalah menurut madzhab Imam Syafii termasuk salah satu ayat Surat Al-Fatihah. Jadi mushalli wajib membaca بسم الله الرحمن الرحيم sebelum membaca الحمد لله رب العالمين jika tidak dibaca maka bacaan fatihahnya tidak lengkap jika fatihah tidak dibaca selengkapnya maka bacaan fatihahnya tidak diakui sebagai suatu rukun yang utuh dari antara rukun-rukun shalat yang 17 jika salah satu rukun shalat sengaja tidak dipenuhi maka shalat tidak sah. 
  25. Membaca surat lain selain surat Al-Fatihah (diutamakan untuk rakaat kedua surat اِقْتَرَبَتِ atau surat اَلْغَاشِيَةُ jika memungkinkan) dengan suara pelan. 
  26. Melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) untuk ruku'. Kemudian membaca bacaan ruku seperti biasa.
  27. Melakukan tasmi' intiqol (mengucapkan سمع الله لمن حمده sambil mengangkat kedua tangan) untuk i'tidal. Kemudian membaca bacaan i'tidal seperti biasa
  28. Melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) untuk sujud ke-1 Kemudian membaca bacaan sujud ke-1 seperti biasa.
  29. Melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) untuk duduk antara 2 sujud. Kemudian membaca bacaan duduk antara 2 sujud seperti biasa.
  30. Melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) untuk sujud ke-2. Kemudian membaca bacaan sujud ke-2
  31. Melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) untuk duduk tasyahhud akhir. Kemudian membaca bacaan tasyahhud akhir. Kemudian membaca bacaan tasyahhud akhir, shalawat kepada Nabi dalam rangkaian shalawat ibrohimiyah, doa memohon perlindungan dan doa memohon ketetapan iman seperti biasa.
  32. Membaca السلام عليكم ورحمة الله sambil menoleh ke sebelah kanan. Kemudian membaca السلام عليكم ورحمة الله sambil menoleh ke sebelah kiri. Warning!!! : Bacaan takbirotul ihrom, bacaan Surat Al-fatihah, bacaan tasyahhud akhir, bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad, bacaan السلام عليكم wajib bisa didengar oleh diri sendiri (Lihat : Hasyiyah Al-Bajuri Juz 1 Hal 147 148 155 157, Fathul Muin Hal 16, Kasyifah As-Sajaa Hal 53 54 57 58)
  33. Kemudian imam mengusap wajah sambil membaca أشهد أن لا إله إلا هو الرحمن الرحيم اللهم أذهب عني الهم والحزن begitupula makmum. Warning!!! : Akhir shalat adalah salam bukan doa ini. Amaliyah ini sering difahami secara keliru : banyak yang keliru menganggap ini bagian dari rangkaian shalat padahal akhir shalat adalah salam dan banyak juga yang keliru menganggap ini bid'ah padahal termasuk amaliyah sunnah yang berlandaskan Hadits Shahih (Lihat Penjelasan Imam Nawawi dalam Al-Adzkar Hal 69, Sayid Abu Bakar dalam I'anah Ath-Thalibin Juz 1 Hal 184 & Syaikh Abdurrahman Ba'alawi dalam Bughiyah Al-Mustarsyidin Hal 49)
  34. Selesai

Hal ini sebagaimana penjelasan para ulama ahli fiqih madzhab Imam Syafii, antara lain : 

وهي كسائر الصلوات في الأركان والشروط والسنن فان أراد الأقل اقتصر على ما يسن في غيرها فأقلها ركعتان كسنة الوضوء وان أراد الإكمال أتى بالتكبير تالآتي

Shalat id adalah sepertihalnya shalat selainnya dalam hal rukun-rukunnya, syarat-syaratnya dan sunat-sunatnya. Maka jika seseorang bermaksud melaksanakan minimalnya, maka dia mengiqtisharnya terhadap sebagaimana tata cara yang disunatkan pada shalat sunat selainnya, dan minimalnya adalah 2 rakaat sebagaimana shalat sunat setelah wudhu. Dan jika seseorang bermaksud melaksanakan maksimalnya, maka dia mendatangkan takbir yang akan dijelaskan nanti... [Syaikhul Islam Ibrohim Al-Baijuri, Hasyiyah Al-Bajuri Jilid 1 Halaman 225 - Diterjemahkan oleh : Cucu Anwar Mubarok]


وهي كسائر الصلوات في الأركان والشروط والسنن وأقلها ركعتان كسنة الوضوء وأكمالها ركعتان بالتكبير الأتي ويجب في نيتها التعيين من كونها صلاة عيد الفطر أو صلاة أضحى في كل من أدائها وقضائها

Shalat id adalah sepertihalnya shalat selainnya dalam hal rukun-rukun, syarat-syarat dan sunat-sunat. Minimal praktek pelaksanaannya adalah 2 rakaat sebagaimana shalat sunat setelah wudhu, Maksimalnya adalah 2 rakaat dengan takbir yang akan dijelaskan nanti. Wajib pada niatnya dispesifikan identitas shalatnya bahwa yang diniatkan tersebut الْفِطْرِ atau الْأَضْحَى. Kemudian pada Masing-masingnya أَدَاءً atau قَضَاءً

أَدَاءً = dikerjakan pada waktunya yaitu pada hari raya idul fithri atau pada hari raya idul adha tersebut antara setelah terbit matahari sampai tergelincirnya matahari. قَضَاءً = dikerjakan setelah lewat waktu أَدَاءً

[Sayid Abu Bakar Al-Bakri, I'anah Ath-Thalibin Jilid 1 Halaman 261 - Diterjemahkan oleh Cucu Anwar Mubarok] 


وهي ركعتان يكبر في الأولى سبعا سوى تكبيرة الإحرام وفي الثانية خمسا سوى تكبيرة القيام ويخطب بعدها خطبتين
كفاية الأخيار ج ١ ص ١٥٣
Shalat idain itu 2 rakaat. Bertakbir pada rakaat kesatu 7 kali selain takbirotul ihrom, dan pada rakaat kedua 5 kali selain takbir berdiri, dan berkhutbah setelahnya 2 khutbah. [Imam Taqiyuddin Al-Hishni, Kifayah Al-Akhyar Jilid 1 Halaman 153 - Diterjemahkan oleh : Cucu Anwar Mubarok]


وهي ركعتان كغيرها في الأركان والشروط ، وأقلها أن يحرم بالركعتين بنية صلاة عيد الفطر أو الأضحى ، ويصليها كراتبة الظهر مثلا ، وأكمالها أن يكبر في الركعة الأولى سبع تكبيرات بعد تكبيرة الإحرام وبعد دعاء الإفتتاح وقبل التعوذ ، ويرفع يديه في كل تكبيرة كما في التحرم ، ويسن أن يفصل بين كل اثنين منها بقدر أية معتدلة يهلل ويكبر ويمجد ، ويحسن في ذلك أن يقول سبحان الله والحمد لله ولا اله الا الله والله أكبر لأنه لائق بالحال . ويسن أن يضع يمناه على يساره تحت صدره بين كل تكبيرتين ولو شك في عدد التكبيرات أخذ بالأقل ، وهي من الهيأٰت : كالتعوذ ودعاء الإفتتاح ، فلا يسجد لترك شيء منها وان كان الترك مكروها ، ولو نسي التكبيرات أو شيئا منها وشرع في القراءة لم يتداركها ولو لم يتم الفاتحة ، بخلاف ما لو نسيها وشرع في التعوذ ثم تذكرها فإنه يعود اليها ولا يفوت بها دعاء الإفتتاح ، ويفوت بالتعوذ ويفوت الكل بالقراءة ولو ناسيا ، ثم يتعوذ بعد التكبيرة الأخيرة ، ويقرأ الفاتحة كغيرها من الصلوات ، ويندب أن يقرأ بعد الفاتحة في الركعة الأولى : ق ، وفي الثانية : اقتربة الساعة ، أو سبح اسم ربك الأعلى في الأولى والغاشية في الثانية ، وهي صلاة جهرية ، ثم اذا قام للركعة الثانية يكبر خمسا بالصفة المتقدمة بعد تكبيرة القيام وقبل التعوذ

Shalat id itu 2 rokaat sepertihalnya shalat selainnya dalam hal rukun-rukun dan syarat-syarat. Aqollnya (minimalnya) adalah mushalli takbirotul ihrom dengan niat shalat idul fithri atau idul adha 2 rokaat, dan melaksanakan shalat seperti shalat rawatib dhuhur umpamanya. Akmalnya (Sempurnanya) adalah mushalli menambahkan takbir pada rokaat kesatu sebanyak 7 takbir setelah takbirotul ihrom + do'a iftitah sebelum ta'udz, dan mengangkat kedua tangan pada setiap kali takbir seperti takbirotul ihrom, Disunatkan untuk memisahkan antara setiap 2 takbir dengan durasi seukuran ayat mu'tadilah (panjang tidak pendek tidak) membaca tahlil, takbir dan tamjid, dan sebaiknya pada ketika itu mushalli membaca سبحان الله والحمد لله ولا اله الا الله والله أكبر karena bacaan tersebut adalah yang matching dari aspek situasinya. Disunatkan mushalli menempatkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di bawah dada antara setiap 2 takbir. Apabila ragu-ragu pada hitungan takbir, hendaknya mushalli mengambil kesimpulan dengan yang lebih sedikit saja. Takbir tersebut termasuk salah satu dari sunat-sunat hai'at sebagaimana ta'udz dan do'a iftitah, maka tidak disunatkan sujud sahwi dengan meninggalkan sesuatu dari takbir tersebut walaupun hukum sengaja meninggalkannya adalah makruh. Apabila lupa tidak melakukan takbir-takbir atau sesuatu darinya dan mushalli sudah syuru (on the track) pada bacaan surat Al-fatihah maka tidak boleh kembali mengidroknya sekalipun mushalli belum menyempurnakan bacaan surat Al-fatihah sampai tamat, permasalahan ini berbeda dengan apabila melupakan takbir-takbir dan syuru (on the track) pada bacaan ta'udz kemudian mengingatnya maka mushalli boleh kembali pada takbir-takbir dan tidak gugur dengan takbir-takbir kesunnahan membaca doa iftitah. Gugur kesunnahan membaca doa iftitah dengan syuru (on the track) pada ta'udz, dan gugur semuanya oleh sebab sudah syuru (on the track) pada bacaan surat Al-Fatihah sekalipun syurunya dikarenakan lupa. Kemudian mushalli membaca ta'udz setelah takbir terakhir (no 7) dan membaca surat Al-Fatihah sebagaimana shalat-shalat selain shalat id.  Disunatkan setelah membaca surat Al-Fatihah pada rakaat kesatu membaca surat ق dan pada rakaat kedua membaca surat اقتربة الساعة atau سبح اسم ربك الأعلى pada rakaat kesatu dan الغاشية pada rakaat kedua. Shalat id adalah shalat jahriyah (shalat yang disunatkan dikeraskan suara bacaan fatihah dan surat setelahnya) Kemudian jika telah berdiri untuk rakaat kedua, mushalli bertakbir sebanyak 5 kali dengan sifat seperti yang sudah dibahas tadi setelah takbir qiyam dan sebelum ta'udz. [Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Nihayah Az-Zain Halaman 108]

Wallaahu A'lam.


Daftar Pustaka

An-Nawawi, Imam Muhyiddin Abi Zakariya Yahya. Al-Adzkar. Syirkah An-Nur Asia.
Ad-Dimsaqi, Syaikh Taqiyuddin Abi Bakar. Kifayatul Akhyar (Jilid 1). Syirkah An-Nur Asia.
Ba'alawi, Syaikh Sayid Abdurrahman. Bughiyah Al-Mustarsyidin. Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah. 
Al-Malibari, Syekh Zainudin. Fathul Muin. Syirkah An-Nur Asia.
Al-Bakri, Syaikh Sayid Abu Bakar Ad-Dimyati. Ianah Ath-Thalibin (Jilid 1). Syirkah An-Nur Asia.
Al-Baijuri, Syaikh Ibrahim. Hasyiyah Al-Bajuri (Jilid 1). Toha Putra.
Al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Nihayah Az-Zain dan Kasyifah As-Sajaa. Toha Putra

12 Redaksi Niat Shalat Idul Fithri & Idul Adha Untuk Sendiri, Imam Serta Makmum Baik Dilaksanakan Secara Ada Maupun Qadha

Berikut ini adalah 12 contoh redaksi niat shalat idul fithri & idul adha untuk sendiri, imam serta makmum baik dilaksanakan secara ada maupun qadha :

1) Niat shalat idul fithri sendirian dan dilaksanakan pada waktunya. 

نَوَيْتُ أُصَلِّيْ سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلّٰهِ تَعَالَى

artinya : aku berniat untuk melaksanakan shalat sunat idul fithri 2 rakaat sambil menghadap qiblat secara ada (dilaksanakan pada waktunya) karena Allah Ta'ala.

2) Niat shalat idul fithri sebagai imam dan dilaksanakan pada waktunya

نَوَيْتُ أُصَلِّيْ سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى

artinya : aku berniat untuk melaksanakan shalat sunat idul fithri 2 rakaat sambil menghadap qiblat secara ada (dilaksanakan pada waktunya) karena Allah Ta'ala

3) Niat shalat idul fithri sebagai makmum dan dilaksanakan pada waktunya

 نَوَيْتُ أُصَلِّيْ سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَالَى

artinya : aku berniat untuk melaksanakan shalat sunat idul fithri 2 rakaat sambil menghadap qiblat secara ada (dilaksanakan pada waktunya) sebagai  karena Allah Ta'ala.

4) Niat shalat idul adha sendirian dan dilaksanakan pada waktunya

 نَوَيْتُ أُصَلِّيْ سُنَّةً لِعِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلّٰهِ تَعَالَى

artinya : aku berniat untuk melaksanakan shalat sunat idul adha 2 rakaat sambil menghadap qiblat secara ada (dilaksanakan pada waktunya) karena Allah Ta'ala.

5) Niat shalat idul adha sebagai imam dan dilaksanakan pada waktunya

نَوَيْتُ أُصَلِّيْ سُنَّةً لِعِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى

artinya : aku berniat untuk melaksanakan shalat sunat idul adha 2 rakaat sambil menghadap qiblat secara ada (dilaksanakan pada waktunya) sebagai imam karena Allah Ta'ala.

6) Niat shalat idul adha sebagai makmum dan dilaksanakan pada waktunya

نَوَيْتُ أُصَلِّيْ سُنَّةً لِعِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَالَى

artinya : aku berniat untuk melaksanakan shalat sunat idul adha 2 rakaat sambil menghadap qiblat secara ada (dilaksanakan pada waktunya) sebagai makmum karena Allah Ta'ala.

7) Niat shalat idul fithri sendirian dan dilaksanakan secara qodho

نَوَيْتُ أُصَلِّيْ سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ قَضَاءً لِلّٰهِ تَعَالَى

artinya : aku berniat untuk melaksanakan shalat sunat idul fithri 2 rakaat sambil menghadap qiblat secara qadha karena Allah Ta'ala.

8) Niat shalat idul fithri sebagai imam dan dilaksanakan secara qodho

نَوَيْتُ أُصَلِّيْ سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ قَضَاءً إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى

artinya : aku berniat untuk melaksanakan shalat sunat idul fithri 2 rakaat sambil menghadap qiblat secara qadha sebagai imam karena Allah Ta'ala.

9) Niat shalat idul fithri sebagai makmum dan dilaksanakan secara qodho

 نَوَيْتُ أُصَلِّيْ سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ قَضَاءً مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَالَى

artinya : aku berniat untuk melaksanakan shalat sunat idul fithri 2 rakaat sambil menghadap qiblat secara qadha sebagai makmum karena Allah Ta'ala.

10) Niat shalat idul adha sendirian dan dilaksanakan secara qodho

نَوَيْتُ أُصَلِّيْ سُنَّةً لِعِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ قَضَاءً لِلّٰهِ تَعَالَى

artinya : aku berniat untuk melaksanakan shalat sunat idul adha 2 rakaat sambil menghadap qiblat secara qadha karena Allah Ta'ala.

11) Niat shalat idul adha sebagai imam dan dilaksanakan secara qodho

 نَوَيْتُ أُصَلِّيْ سُنَّةً لِعِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ قَضَاءً إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى

artinya : aku berniat untuk melaksanakan shalat sunat idul adha 2 rakaat sambil menghadap qiblat secara qadha sebagai imam karena Allah Ta'ala.

12) Niat shalat idul adha sebagai makmum dan dilaksanakan secara qodho

نَوَيْتُ أُصَلِّيْ سُنَّةً لِعِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ قَضَاءً مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَالَى

artinya : aku berniat untuk melaksanakan shalat sunat idul adha 2 rakaat sambil menghadap qiblat secara qadha sebagai makmum karena Allah Ta'ala.

Hal itu sebagaimana penjelasan para Ulama ahli fiqih madzhab Imam Syafi'i, antara lain :

Penjelasan Syaikh Salim Al-Hadhrami dalam Kitab Safinah An-Naja Hal 55 :

النِّيَةُ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ
إِنْ كَانَتِ الصَّلَاةُ فَرْضًا وَجَبَ قَصْدُ الْفِعْلِ وَالتَّعْيِيْنِ وَالْفَرْضِيَّةُ وَإِنْ كَانَتْ نَافِلَةً مُؤَقَّتَةً كَرَاتِبَةٍ أَوْ ذَاتَ سَبَبٍ وَجَبَ قَصْدُ الْفِعْلِ وَالتَّعْيِيْنُ وَإِنْ كَانَتْ نَافِلَةً مُطْلَقًا وَجَبَ قَصْدُ الْفِعْلِ فَقَطْ قَصْدُ الْفِعْلِ أُصَلِّىْ وَالتَّعْيِيْنُ ظُهْرًا أَوْ عَصْرًا وَالْفَرْضِيَّةُ فَرْضًا

Niat shalat ada 3 tingkat 

  1. Jika shalatnya shalat fardhu, maka wajib terkumpul pada niat tersebut 3 hal : Maksud/menyengaja melaksanakan shalat, Menentukan nama shalat yang dilaksanakan dan Mengi’tiqadkan kefardhuan shalat.
  2. Jika shalatnya shalat sunat yang ditentukan waktunya, seperti shalat sunat rawatib atau shalat sunat yang memiliki sebab, maka wajib terkumpul pada niat tersebut 2 hal : Maksud/menyengaja melaksanakan dan Menentukan nama shalat yang dilaksanakan.
  3. Jika shalatnya shalat sunat muthlaq, maka wajib pada niat tersebut 1 hal  yaitu Maksud/menyengaja melaksanakan.

Maksud/Menyengaja Melaksanakan adalah أُصَلِّىْ Menentukan Shalat Yang Dilaksanakan adalah semisal ظُهْرًا atau عَصْرًا Mengi’tiqadkan kefardhuan adalah فَرْضًا

Syaikh Sayid Abu Bakar dalam kitab I'anah Ath-Thalibin Juz 1 Halaman 261 :

ويجب في نيتها التعيين من كونها صلاة عيد الفطر أو صلاة أضحى في كل من أدائها وقضائها

Wajib pada niat shalat id dispesifikan identitas shalatnya bahwa yang diniatkan tersebut الْفِطْرِ atau الْأَضْحَى. Kemudian pada Masing-masingnya أَدَاءً atau قَضَاءً

Masih banyak penjelasan para ulama fiqih madzhab imam syafii yang masih bisa dijadikan rujukan.

Daftar Pustaka
Al-Hadhrami, Syaikh Salim. Safinah An-Najaa. Al-Haramain.
Al-Bakri, Syaikh Sayid Abu Bakar. Ianah Ath-Thalibin. Toha Putra.