بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Ilmu Fiqih
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Menurut Ilmu Fiqih
baitussalam.web.id - Karena ilmu fiqih adalah ilmu tentang hukum syar'iyah yang bersifat amaliyah, maka ketika ilmu ini difokuskan pada pembahasan basmalah, yang dibahas adalah hukum syara mengamalkannya (basmalah).
Pembahasan ulama tentang basmalah dari perspektif ilmu fiqih merupakan pembahasan yang sangat panjang, karena pembahasan hukum fiqih itu sendiri sangat kompleks dan tertaut dengan ilmu ushul fiqih sebagai salah satu ilmu yang membahas metode istinbathnya.
Akan tetapi secara umum pada penjelasan di dalam kitab-kitab fiqih, pembahasan basmalah dari perspektif ilmu fiqih ini sangat sering dikaitkan dengan Hadits :
Salah satu contohnya adalah sebagaimana yang dikatakan Syaikh Abu Bakar Syatha al-Dimyati, seorang pakar ilmu fiqih dalam kitabnya yang sangat populer yaitu I'anah al-Thalibin :
والأن الشروع في فن الفقه الباحث عن الأحكام الشرعية فيقال البسملة مطلوبة في كل أمر ذي بال أي حال يهتم به شرعا الخ
"Sekarang adalah jurusan bidang ilmu fiqih yang membahas tentang hukum-hukum syar'iyah. Maka dikatakan : Basmalah dianjurkan pada setiap urusan yang dinilai baik oleh syara.....dst" (I'anah al-Thalibin Juz 1 Hal 3)
Hukum Membaca Basmalah
- Membaca basmalah surat Al-Fatihah dalam shalat bagi muqallid fiqih madzhab imam syafi'i (Lihat : I'anah al-Thalibin Juz 1 Hal 3, Hasyiyah al-Bajuri Juz 1 Hal 2)
- dan lain sebagainya
- Membaca basmalah sebelum wudhu sekalipun air yang digunakan hasil ghashab (Lihat : I'anah al-Thalibin Juz 1 Hal 3, Hasyiyah al-Bajuri Juz 1 Hal 2)
- Membaca basmalah sebelum makan. Jika makannya bersama, sunatnya bersifat kifayah. Sekalipun yang dimakan bawang (Lihat : I'anah al-Thalibin Juz 1 Hal 3, Hasyiyah al-Bajuri Juz 1 Hal 2)
- Membaca basmalah sebelum memulai hubungan intim suami dan isteri (Lihat : I'anah al-Thalibin Hal 3) Cukup oleh salah satunya, dibaca oleh suami saja atau oleh istri saja.
- dan lain sebagainya
- Membaca basmalah untuk memindahkan benda dari satu tempat ke tempat lain (Lihat : I'anah al-Thalibin Juz 1 Hal 3, Hasyiyah al-Bajuri Juz 1 Hal 2)
- dan lain sebagainya
- Membaca basmalah untuk melihat farj istri (Lihat : I'anah al-Thalibin Juz 1 Hal 3, Hasyiyah al-Bajuri Juz 1 Hal 2)
- dan lain sebagainya
- Membaca basmalah sebelum zina (lihat : I'anah al-Thalibin Juz Hal 3
- Membaca basmalah sebelum minum khamr (Lihat : Hasyiyah al-Bajuri Juz 1 Hal 2)
- dan lain sebagainya
- Membaca basmalah sebelum membaca sesuatu yang semakna dengan dzikr mahdh/dzikir murni seperti : tahlil (lihat : Kasyifah al-Saja Hal 3, Is'ad al-Rafiq wa Bughiyah al-Shadiq Hal 5)
- Membaca basmalah sebelum membersihkan tempat menjijikan (Lihat : I'anah al-Thalibin Juz 1 Hal 3, Kasyifah al-Saja Hal 2, Is'ad al-Rafiq wa Bughiyah al-Shadiq Hal 5)
- Membaca basmalah sebelum melakukan perkara ibadah yang syara sudah menentukan bahwa awal praktek ibadah tersebut tidak diawali dengan membaca basmalah, seperti : shalat (Lihat : Is'ad al-Rafiq wa Bughiyah al-Shadiq Hal 5)
- dan lain sebagainya
Daftar Pustaka
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Ilmu Sharaf
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Menurut Ilmu Sharaf
baitussalam.web.id - Pembahasan Basmalah Menurut Ilmu Sharaf Materinya Lebih Didominasi Oleh Penelusuran Asal-Usul Kalimat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Hal itu sesuai dengan ruang lingkup yang menjadi domain ilmu sharaf. Fokus pembahasannya adalah pada asal-usul kalimat (atau lafadz, karena kalimat-kalimat ini ternyata sepertinya lebih ngtrend disebut lafadz) :
- Huruf بِ
- Lafadz اِسْمُ
- Lafadz اللّٰهِ
- Lafadz الرَّحْمٰنِ
- Lafadz الرَّحِيْمِ
1.Huruf ب mirif ل
Sebenarnya terhadap ب lafadz بسم ilmu sharaf tidak menjadikannya prioritas pembahasan, karena itu adalah domain pembahasan ilmu nahwu. Sebagaimana pernyataan Imam Ibn Malik dalam Nadzm al-Khulashah Alfiyah Ibn al-Malik Bab التصريف Bait 915 :
2.Lafadz اسم
Lafadz اسم shighatnya adalah masdar. Tapi lafadz ini menurut ilmu sharaf bukan asli. Terus asalnya apa? dalam hal ini ada 2 pendapat : pendapat perkumpulan ulama bashrah dan pendapat perkumpulan ulama kuffah.
Untuk mengetahui perubahan kosakata dari 2 pendapat ini, penulis mencoba meninjau penjelasan 4 ulama dalam kitab ilmu sharaf populer.
1). Menurut penjelasan Syaikh Muhammad Ulaisy al-Maliki :
فالإسم عند البصريين ناقص واوي من الأسماء المحذوفة الإعجاز كيد ودم اذ أصله سُِمْوٌ بضم السين او كسرها ولما كثرت استعماله أريد تخفيفه في طرفيه فعمدوا الى آخره فوجدوه واوا متعاقبة عليه الحركات الإعرابية مع ثقلها فحذفوه ونقلوا حركته الى الميم ثم عمدوا الى أوله فحذفوا حركته دونه لئلا يجحفوا بالكلمة ثم اجتلبوا همزة الوصل للساكن الخ
وعند الكوفيين لفظ اسم مثال واوي اذ أصله وِسْمٌ حذفت واوه اذ كثيرا ما تحذف الواو في أوائل الكلمات كزِنَةٍ وَدِيَةٍ وَعِدَةٍ فهو من الأسماء المحذوفة الأوائل ثم أتى بهمزة الوصل عوضا عنها وقيل ليست بعوض بل لمجرد التوصل ولعله الحق لأنها لو كانت عوضا لما حذفت الخ
ورجحوا مذهب البصريين بتصريف الإسم تصغيرا وجمع تكسير ومجىء فعل منه يقال أَسمَاءٌ وأُسَامِيٌ وسُمَيٌّ وسَمَيْتُ والكل يرد الأشياء الى أصولها ولوكانت من الوَسْمِ لقيل أَوْسَامٌ وأََوَاسِمٌ ووُسَيْمٌ ووَسَمْتُ الخ
Lafadz اسم menurut pendapat perkumpulan ulama bashrah adalah بنا ناقص واو termasuk salah satu اسماء المحذوفة الإعجاز (isim-isim yang dibuang ujungnya) sebagaimana lafadz يَدٌ dan دَمٌ karena asal lafadz اِسمٌ adalah سُمْوٌ dengan dhamah س atau سِمْوٌ dengan kasrah س
Konon karena sangat sering dipergunakannya jadi dikehendaki untuk mentakhfifnya pada 2 ujung lafadznya. Kemudian mereka berfokus pada akhir lafadznya, eh ternyata mereka menemukan ada و yang diakhirkan dan di atasnya ada harkat i'robiyah (sebangsa alamat isim mu'rab) serta dalam kondisi beratnya beban و memikul harkat i'rabiyah tersebut.
- Dalam kondisi menanggung beban ثقل (berat) kemudian mereka membuang و tersebut, dan memindahkan harkatnya pada م
- Selanjutnya mereka mengalihkan fokus pada huruf awal lafadznya kemudian membuang harkatnya tapi tidak membuang hurufnya supaya mereka tidak mengupas habis kalimat (lafadz)
- Kemudian menarik kehadiran hamzah washal karena huruf awalnya dalam kondisi sukun, Berubahlah lafadz سُمْوٌ menjadi اِسْمٌ
Menurut perkumpulan ulama kufah, lafadz اِسْمٌ ini adalah termasuk بنا مثال واو (bina mitsal adalah merupakan istilah pengkategorian kata yang fa fi'ilnya huruf ilat) karena asalnya adalah وِسْمٌ
- Kemudian dibuang و fa Fi'ilny karena banyak/seringnya praktek pembuangan و yang terdapat di awal kata seperti : زِنَةٌ دِيَةٌ dan عِدَةٌ maka lafadz ini menjadi termasuk اسماء المحذوفة الأوائل (isim-isim yang dibuang awalnya)
- Kemudian datang hamzah washal sebagai penggantinya. Menurut pendapat yang tidak disebutkan orangnya : bukan sebagai penggganti melainkan sekedar sebagai penyambung dan mudah-mudahan itulah yang sebenarnya, karena andaikata datangnya sebagai pengganti maka pada tahap berikutnya tidak akan dibuang, sedangkan faktanya dibuang juga.
Para ulama mengunggulkan pendapat madzhab bashrah dengan argumentasi :
- tashrif shighat اسم ketika dalam status tashghir,
- ketika dalam status jama taksir, dan
- shighat orang yang melahirkan kata kerja
2).Menurut penjelasan al-Imam Abu Hanifah Rahimahullah)
Penjelasan al-Imam Abu Hanifah ini hanya difokuskan pada pendapat ulama bashrah, tapi dengan tutorial perubahan yang lebih jelas alasannya :
وهو في الأصل سُمْوْ نقلت حركة الواو الى الميم لكونها حرف علة متحركا وما قبلها حرف صحيح ساكن ولاستثقال الضمة عليها ثم حذفت الواو لسكونها وسكون التنوين فاعطى التنوين لما قبلها فصار سم ثم أدخلت الألف في أوله الخ
ثم حركت الألف بالكسر لتعذر الإبتداء بالساكن وانما حرك الساكن بالكسر لان الساكن اذا حرك حرك بالكسر فصار اسم ثم زيدت الباء في أوله لتدل على البقاء فصار باسم ثم حذفت الهمزة طلبا للتخفيف فعوض مد الباء منها لكثرة استعماله وحذفت الهمزة لكثرة الإستعمال عند العرب عند القيام والقعود والأكل والشرب فصار بسم ثم أضيف الى لفظ الجلالة فسقط التنوين لان بين التنوين والإضافة تضادا فان التنوين يقتضي الإنفصال والإضافة تقتضي الإتصال وجمعهما في حالة واحدة متعذر فصار بسم الله
Lafadz اسم adalnya سُموٌ
- kemudian dipindahkan harkatnya و pada م alasannya karena kondisi و adalah huruf illat yang berharkat sedangkan huruf sebelumnya adalah huruf shahih yang sukun dan karena alasan beratnya dhamah di atas و
- kemudian و dibuang karena alasan sukunnya و dan ن tanwin ciri isim (maksudnya karena terjadi peristiwa التقاء الساكنين antara ْو dan نْ yang mengharuskan membuang salah satunya. kenapa yang dibuangnya وْ lam fi'il bukan نْ tanwin? karena tanwin adalah ciri isim, ada kaidah dalam ilmu nahwu dan sharaf yang tidak disebutkan di sini yaitu العلامة لا تحذف ابدا ciri tidak bisa dibuang selamanya karena bisa berdampak pada merusak status kalimat, yaitu kalimat isim. Maka kebutuhan kalimat isim terhadap tanwin dalam hal ini lebih urgent daripada terhadap lam fi'il. Lam fi'il dalam kasus seperti ini kalah power, sehingga harus rela tereliminasi dari panggung tashrif)
- maka tanwin jadi bergeser kepada huruf sebelumnya yaitu م (karena sudah tidak ada و) maka jadilah سُِمٌ
- kemudian masukan ا di awalnya.
- kemudian beri harkat ا dengan harkat kasrah karena sulitnya ibtida dengan huruf sukun. Tentunya huruf sukun diharkati dengan harkat kasrah karena ada qaidah sharaf bahwasanya huruf sukun jika diberi harkat maka harus diharkati dengan harkat kasrah. maka jadilah اِسْمٌ
- kemudian datangkan ب di awalnya untuk menunjukan makna البقاء maka jadilah بِاسْمٍ
- kemudian buang ا dengan tujuan untuk meringankan bacaan,
- kemudian diganti dengan panjangnya ب di awalnya sebagai pengganti ا yang dibuang, hal itu karena banyak dipergunakannya dan dibuangnya ا karena cara itu sering dipergunakannya oleh orang arab dalam banyak aktivitas seperti ketika berdiri, duduk, makan dan minum. maka jadilah بِسْمٍ
- Kemudian diidhafatkan kepada lafadz الله maka jatuhlah tanwin (tanwin yang pernah menjatuhkan و pada episode sebelumnya) alasannya karena antara tanwin dan idhafat terdapat perlawanan, hal itu karena tanwin menekankan pada انفصال sedangkan idhafat menekankan اتصال menyatukan dua tekanan ini pada satu situasi adalah sulit. maka jadilah بِسْمِ اللّٰهِ (al-Mathlub bi Syarh al-Maqshud Hal 2-3)
3).Menurut penjelasan al-Syaikh 'Abdul Haq ibn Abdul Hannan al-Jawi
Jika memperbandingkan dengan penjelasan sebelumnya, penjelasan yang ini cukup simple dan padat.
والإسم عند البصريين مشتق من السمو وهو العلو فأصله سمو حذفت لامه وعوض عنها ألف الوصل وعند الكوفيون مشتق من الوسم والسمة هي العلامة والأول هو الأصح
قال ابن معطي في ألفيته
وَاشْتَقَ الْإِسْمَ مِنْ سَمَا الْبِصْرِيُّ # وَاشْتَقَّهُ مِنْ وَسْمَ الْكُفِيُّ
وَمَذْهَبُ الْمُقَدَّمُ الْجَلِيُّ # دَلِيْلُهُ الْأَسْمَاءُ وَالسُّمَيُّ
أي يستدل على صحة مذهب البصريين بأن جمع الإِسْم أَسْمَاءْ ولو كان من الوَسْمِ لكان أَوْسَامٌ وبأن تصغيره سُمَيّْ ولو كان من الوَسْمِ لكان وُسَيْمٌ
Lafadz اسم menurut pendapat ulama bashrah adalah di-isytaq dari lafadz سمو lafadz سمو tersebut mengandung makna العلو (tinggi) maka tatkala begitu asalnya adalah سمو
- kemudian dibuang lam fiilnya, dan
- alif washal dijadikan penggantinya.
Pendapat yang pertama adalah yang paling benar. Telah berkata Syaikh Abdul Mu'thi dalam Alfiyahnya (Kitab Alfiyah Ibn Mu'thi) :
- Ulama bashrah telah meng-isytaq lafadz اِسْمُ dari lafadz سَمًا
- Dan Ulama kufah telah meng-isytaq lafadz اِسْمُ dari lafadz وَسْمٌ
- Madzhab yang didahulukan adalah madzhab yang pendapatnya jelas
- Dalil kejelasannya adalah lafadz اَسْمَاءٌ dan سُمَيّْ
Maksudnya : menjadi dalil terhadap sahnya madzhab ulama bashrah, karena bahwasanya bentuk jama dari lafadz اسم adalah اسماء dan jika benar faktanya dari lafadz وسم maka yakin akan dikatakan bahwa bentuk jama taksirnya adalah أوسام (sedangkan berdasarkan fakta yang ada adalah اسماء ) dan karena bahwasanya shighat tashghir lafadz اسم adalah سمي dan jika benar faktanya dari lafadz وسم maka yakin akan dikatakan bahwa bentuk shighat tashghirnya adalah وسيم (padahal faktanya yang sering kita temukan adalah سمي ). (Tadrij al-Adani ila Qira'ah Syarh al-Taftazani ala Tashrif al-Zanjani Hal 3-4)
4.Menurut Syaikh Muhammad Byr Ali al-Barkawi.
Penjelasan ini terutama tentang tahapan perubahannya sangat lengkap, bahkan menjadi jawaban atas kebingungan anda mengenai kapan dan pada tahapan mana disukunkannya harkat huruf س ✌😊 saya tau anda bingung hehe
والإسم في الأصل سِمْوٌ على مذهب المنصور وبكسر السين على القول المشهور
حذفت الواو لاستثقالهم تعاقب الحركات الأعرابية عليها
ونقلت حركة الواو الى ما قبلها
ثم أسكن أوله تخفيفا وعدالة لأنه حرك أخره
فاجتلبت همزة الوصل لأن دأبهم ابتدء الساكن بها
ثم لما أدخلت الباء بها حذفت الهمزة لفظا وخطا لكثرة الإستعمال
ثم عوض عنها مد الباء
ثم أضيف الى لفظة الله فسقط التنوين لأنه لا يقتضي الإنفصال والإضافة تقتضي الإتصال فجمعهما متعذر
Dan adapun lafadz اِسْمٌ secara asal adalah lafadz سُمْوٌ menurut madzhab orang-orang yang mendapat pertolongan Allah, dan dengan kasrah س dibaca سِمْوْ menurut pendapat masyhur.
- Dibuang و alasannya karena mereka merasakan berat pengucapan diakhirkannya و dengan berharkat i'rabiyah yang ada di atasnya.
- Dipindahkan harkat و pada huruf sebelumnya yaitu م (Nah, berarti yang asalnya سُمْوٌ sekarang sudah berubah jadi سُمٌ)
- Kemudian disukunkan huruf awalnya karena alasan demi meringankan pengucapan dan menyeimbangkannya karena dhomah adalah juga harkat huruf akhirnya. (Nah, pada tahap ini سُمٌ dirubah jadi سْمٌ) Point mensukunkan م ini tidak dijelaskan pada penjelasan ulama pada 3 kitab sebelumnya.
- Maka ditarik kehadiran hamzah washal yaitu ا alasannya karena tradisi mereka adalah memulai penulisan dan pengucapan huruf sukun dengan hamzah washal. (Nah, pada tahap ini سْمٌ berubah jadi اِسْمٌ dengan diawali hamzah washal berharkat kasrah. (Kenapa hamzah washal dalam kondisi ini diberi harkat kasrah bukan fatah atau dhomah? karena ada aturan لان حرف الساكن اذا حرك حرك يالكسر karena huruf sukun jika diharkati harus diharkati dengan harkat kasrah dan kasrah merupakan harkat yang dianggap paling ringan dalam hal pengucapan)
- kemudian tatkala dimasukan ب huruf jar, dibuang hamzah washal baik secara pengucapannya maupun secara penulisannya alasannya adalah karena trend penggunaannya (Nah, pada tahap ini ada 2 perubahan yaitu dari اِسْمٌ berubah jadi بِاسْمٍ kemudian jadi بِسْمٍ ada sesuatu yang luar biasa di sini dimana hamzah washal bukan hanya dihilangkan pengucapannya melainkan juga dihilangkan tulisannya)
- Dan panjangnya penulisan ب menjadi seperti ل dijadikan tanda/kode/sinyal sebagai pengganti atau kompensasi atas hamzah washal yang dihilangkan. (Nah, tahap ini adalah tahapan perubahan dari بِسْمٍ menjadi لبِسْمٍ )
- Kemudian diidhofatkan lafadz لبِسْمٍ kepada lafadz اللّٰهِ maka jatuhlah tanwin yang ada pada huruf مٍ lafadz لبِسْمٍ gara-gara praktek idhofat. Alasan menjatuhkan tanwin adalah karena keberadaan tanwin cenderung mengharuskan terpisahnya kalimat sedangkan idhofat cenderung mengharuskan tertautnya kalimat. Mengumpulkan keduanya menjadi sulit. Tanwin kalah (Nah, akhirnya lafadz لبِسْمٍ berubah menjadi tanpa tanwin sebagaimana yang biasa kita baca لبِسْمِ اللّٰهِ )
(Lihat : Lihat Ruh al-Syuruh ala al-Maqshud Hal 2-3)
3.Lafadz اَللّٰهُ
Ada banyak penjelasan ulama tentang ini, akan tetapi penulis ingin membatasinya hanya pada pendapat yang penjelasannya lebih Ihtiyath dan lebih simple.Secara garis besar ada 2 pendapat tentang asal-usul Lafadz اللّٰهِ
Pendapat yang mengatakan غير مشتاق
Ulama yang berpendapat seperti ini antara lain :
- Imam Syafi'i
- Syaikh Muhammad bin Hasan
- Syaikh al-Khathabi
- Imam al-Haramain
- Imam al-Ghazali
Pendapat yang mengatakan مشتاق
Para ulama yang berpendapat bahwa Lafadzاَللّٰهُ bisa di-isytaq kemudian berbeda pendapat tentang asal lafadznya. Namun yang lebih mudah difahami adalah sebagaimana penjelasan yang disampaikan oleh Imam Abu Hanifah
- kemudian mereka membuang hamzah. Menurut sebuah pendapat qiil alasannya تخفيفا menurut qiil lainnya menjaga dari terserupakannya lafadz إِلٰهٌ haqiqah dengan yang bathilah, maka menjadi لَاهٌ
- kemudian dimasukan ال tanda ma'rifat maka jadi lafadz اَللّٰهُ
- kemudian dibuang hamzah kedua alasannya تخفيفا
- kemudian dipindahkan harkatnya kepada ل kesatu jadi الٌلٰهُ
- kemudian diidghamkan ل kesatu kepada ل kedua maka jadi الٌلٰهُ
4.Lafadz الرَّحْمٰنِ dan الرَّحِيْمِ
Awalnya penulis ingin menyertakan banyak penjelasan ulama di bagian ini, tapi pada dasarnya semua pendapat ulama tentang asal usul kedua lafadz ini sama, yaitu berasal dari lafadz رَحِمَ mengikuti wazan فَعِلَ dengan mauzun عَلِمَ namun kemudian :
- berpindah wazan mengikuti wazan فَعُلَ dengan mauzun حَسُنَ
- ditashrif ke shighat اسم فاعل versi مبالغة wazan فَعُلَ dengan mengikuti wazan فَعْلُانٌ untuk رَحْمٰنٌ dan wazan فَعِيْلٌ untuk رَحِيْمٌ
- didatangkan ال pada keduanya lafadz الرَّحْمٰنِ dan lafadz الرَّحِيْمِ
Memangnya wazan فَعِلَ diperuntukan untuk makna apa? muta'addi
Lazim itu apa? Muta'addi itu apa? Sifat Musyabbahat itu apa? Nanti dibahas di artikel pembahasan khusus tentang itu. Insya Allah.
Wallahu A'lam.
Daftar Pustaka
ibnu Malik, Syaikh Abu Abdillah Jamaluddin Muhammad al-Andalusi. Nadzm al-Khulashah Alfiyah Ibn Malik dan Syarh Ibn Aqil ala Alfiyah
al-Suyuthi, Syaikh Jalaluddin. al-Bahjah al-Mardhiyah fi Syarh al-Alfiyah Ibn Malik
al-Khudhari, Syaikh Muhammad. Hasyiyah al-Khudhari ala Ibn 'Aqil
al-Imam Abu Hanifah. al-Mathlub bi Syarh al-Maqshud
al-Barkawy, Syaikh Muhammad Byr Ali. Ruh al-Syuruh ala al-Maqshud
Ulaisy, Syaikh Muhammad. Hill al-Maqshud min Nadzm al-Maqshud
al-Jawi, Syaikh 'Abdul Haq. Tadrij al-Adani ila Qira'ah Syarh al-Taftazani ala Tashrif al-Zanjani.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Ilmu Nahwu
Sangat penting untuk anda memiliki pengetahuan tentang بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ menurut ilmu nahwu, sebelum anda mulai terjun mempelajari ilmu nahwu. Hal ini sangat sering ditegaskan oleh para ulama pada muqaddimah kitab-kitab mereka.
Nah, aspek apa yang dibahas oleh ilmu nahwu jika objek pembahasannya basmalah? Secara asal tujuan ilmu nahwu adalah untuk mengetahui i'rab (perubahan akhir kalimat), apakah nantinya diakhiri dengan i'rab rofa, nashab, khofadh atau jazm. Namun untuk itu perlu dipastikan terlebih dahulu susunan masing-masing kalimatnya. Oleh karena itu, pembahasannya juga menyangkut status kalimat.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ jika kalimatnya dipisah-pisah, terdiri dari 5 kalimat :
- Kalimat بِ
- Kalimat اِسْمِ
- Kalimat اللّٰهِ
- Kalimat الرَّحْمٰنِ
- Kalimat الرَّحِيْمِ
Bisa disebut kalimat bisa juga disebut lafadz. Tapi para ulama pada pembahasannya dalam kitab-kitab ilmu nahwu lebih sering menggunakan kata "lafadz" daripada "kalimat".
1.Lafadz بِ dan اسم
بِ bisa disebut lafadz bisa juga disebut kalimat, yaitu termasuk kalimat حرف. Oleh karena termasuk kalimat حرف, maka sebagaimana kalimat حرف pada umumnya secara asal tidaklah memiliki makna kecuali jika dirangkai dengan kalimat lain.
Dalam susunan kalimat ini ب sudah dirangkai dengan اسم menjadi بِسْمِ :
- ب berkedudukan sebagai حرف الجار atau حرف الخفض
- sedangkan اسم berkedudukan sebagai مجرور atau مخفوض
Selanjutnya terdapat 2 pembahasan mengenai ini :
- Mengi'tibarkan ب sebagai حرف جار زائدة
- Mengi'tibarkan ب sebagai حرف جار أصلية
حرف جار زائدة itu apa?
حرف جار أصلية itu apa?
هو الذي يفيد معنى في الكلام ويحتاج الى متعلق يتعلق به
Haraf Jar Ashliyah adalah haraf jar yang keberadaannya memberikan faedah makna dalam kalam dan membutuhkan muta'allaq untuk dijadikan tempatnya menautkan diri.
ب Sebagai Haraf Jar Zaidah
Dalam statusnya sebagai haraf jar zaidah, ب tidak memiliki makna sekalipun faktanya dirangkai dengan kalimat lain yang secara tulisan kalimat lain tersebut berharkat kasrah. Dalam kondisi ini, اسم bukan مجرور melainkan menjadi مبتدأ
- اسم jadi مبتدأ dengan membuang خبر جملة taqdirnya adalah اسْمُ اللّٰهِ بِجَلَائِلِ النِّعَمِ الْمُنْعِمِ بِدَقَائِقِهَا يُبْدَءُ بِهِ بَدَاءَةً قَوِيَّةً بِحُسْنِ نِيَةٍ وَإِخْلَاصٍ
- اسم jadi مبتدأ dengan membuang خبر مفرد taqdirnya adalah اسْمُ اللّٰهِ بِجَلَائِلِ النِّعَمِ الْمُنْعِمِ بِدَقَائِقِهَا مَبْدؤٌ بِهِ بَدَاءَةً قَوِيَّةً بِحُسْنِ نِيَةٍ وَإِخْلَاصٍ
ب Sebagai Haraf Jar Ashliyah
Dalam statusnya sebagai haraf jar ashliyah, ب yang dirangkai dengan kalimat lain tersebut menjadi memiliki makna dan membutuhkan muta'allaq.
Muta'allaq bisa berupa kalimat bermakna عام (umum) bisa juga خاص (khusus), baik عام maupun خاص bisa berupa kalimat فعل (kata kerja) bisa juga kalimat اسم (kata benda), baik dari kalimat فعل maupun اسم, bisa مقدم (didahulukan penempatannya) bisa juga penempatannya مؤخر (diakhirkan). Secara terperinci, inilah muta'allaq بسم :
- Muta'allaq khusus berupa kalimat isim yang didahulukan penempatannya : تَأْلِفِيْ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
- Muta'allaq khusus berupa kalimat isim yang diakhirkan penempatannya : بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ تَأْلِفِيْ
- Muta'allaq khusus berupa kalimat fi'il yang didahulukan penempatannya : أُؤَلِّفُ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
- Muta'allaq khusus berupa kalimat fi'il yang diakhirkan penempatannya : بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ أُؤَلِّفُ
- Muta'allaq umum berupa kalimat isim yang didahulukan penempatannya : اِبْتِدَائِيْ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
- Muta'allaq umum berupa kalimat isim yang diakhirkan penempatannya : بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اِبْتِدَائِيْ
- Muta'allaq umum berupa kalimat fi'il yang didahulukan penempatannya : أَبْتَدِأُ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
- Muta'allaq umum berupa kalimat fi'il yang diakhirkan penempatannya : بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ أَبْتَدِأُ
2.Lafadz اسم dan الله
- Jika pembaca dengan mengucapkan بسم الله bermaksud pada مدلول lafadz الله tidak memfokuskan pada اسم الذات المسمى بالله maka mungkin dia sedang mengitibarkan idhafat حقيقية لامية yang mengandung makna للإستغراق لكل اسم من اسمائه تعالى (makna yang menghabiskan semua cakupan terhadap setiap/semua اسماء الله) atau للجنس اسمائه تعالى (mencakup jenis اسماء الله) atau للعهد (mencakup makna tertentu yang dikhususkan)
- Jika pembaca dengan mengucapkan بسم الله bermaksud pada lafadz الله yaitu اسم الذات المسمى بالله maka dia sedang mengitibarkan idhafat bayaniyah, dimana idhafat bayaniyah jadi menghasilkan proses مضاف اليه memperjelas مضاف bahwa اسم yang dimaksud adalah اسم الذات المسمى بالله
3.Lafadz الله dan الرحمن الرحيم
- pada kondisi منعوت tidak butuh dijelaskan oleh نعت maka i'rob نعت boleh اتباع boleh juga قطع boleh qatha karena tidak dibutuhkan (Lihat : Syarh ibn Aqil Ala Alfiyah ibn Malik hal 129). Sedangkan kita sudah tau bahwa lafadz الله sekalipun tanpa disifati, status kema'rifatan secara lafdziyahnya dan status qiyamuhu binafsihi secara dzatiyahnya adalah sudah jelas.
- Lafadz الرحمن dan lafadz الرحيم mengandung makna مدح (pujian) sehingga bisa mentaqdirkan 'amil tersembunyi yaitu fi'il dan fa'il lafadz اَمْدَحُ yang melahirkan kedudukan yang berbeda pada lafadz الرحمن dan الرحيم menjadi sebagai مفعول به dari اَمْدَحُ yang menurut kaidah ilmu nahwu maf'ul bih haruslah beri'rab nashab.
- Lafadz الرحمن dan lafadz الرحيم juga bisa berkedudukan sebagai khabar dari mubtada mahdzuf yaitu lafadz هو yang menurut kaidah ilmu nahwu khabar harus beri'rob rofa.
- Pentaqdiran keberadaan امدح dan هو juga bisa dikombinasikan sehingga kedua 'amil tersembunyi ini bisa diperankan secara bersamaan pada sifat yang jumlahnya lebih dari 1
- بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
- بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنَ الرَّحِيْمَ
- بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ
- بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنَ الرَّحِيْمُ
- بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمَ
- بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمُ
- بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمَ
- بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنَ الرَّحِيْمِ
- بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمِ
- Boleh digunakan pada kitabah (praktek penulisan) redaksi basmalah, serta dita'yin (ditentukan sebagai satu-satunya pola / one and only) untuk digunakan pada qiro'at (bacaan Al-Qur'an, baik di luar shalat maupun di dalam shalat). Yang termasuk kategori ini adalah pola nomor 1 yaitu susunan kalimat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Alasannya adalah : karena pola ini sesuai dengan kaidah ilmu nahwu, serta sesuai dengan yang termaktub dalam Al-Qur'an.
- Boleh digunakan pada kitabah (praktek penulisan) redaksi basmalah, namun tidak diperbolehkan untuk digunakan pada qiro'at (bacaan Al-Qur'an, baik di luar shalat maupun di dalam shalat). Sehingga jika anda menggunakannya ketika tadarrus atau ketika shalat misalnya, maka bacaan anda tidak sah. Yang termasuk kategori ini adalah : pola nomor 2 yaitu susunan kalimat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنَ الرَّحِيْمَ nomor 3 yaitu susunan kalimat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ nomor 4 yaitu susunan kalimat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنَ الرَّحِيْمُ nomor 5 yaitu susunan kalimat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمَ nomor 6 yaitu susunan kalimat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمُ nomor 7 yaitu susunan kalimat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمَ Alasannya adalah : karena 6 pola ini sesuai dengan kaidah ilmu nahwu, namun tidak sesuai dengan yang termaktub dalam Al-Qur'an.
- Tidak boleh digunakan pada kitabah (praktek penulisan) redaksi basmalah, tidak boleh untuk digunakan pada qiro'at (bacaan Al-Qur'an, baik di luar shalat maupun di dalam shalat). Sehingga jika anda menggunakannya ketika menulis pada kitab, buku, board, surat, spanduk yang dimaksudkan bukan dalam konteks kajian, tadarrus Al-Qur'an atau ketika shalat misalnya, maka tulisan dan bacaan anda divonis salah serta tidak sah. Yang termasuk kategori ini adalah : pola nomor 8 yaitu susunan kalimat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنَ الرَّحِيْمِ nomor 9 yaitu susunan kalimat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمِ Alasannya adalah : karena 2 pola ini menurut mayoritas ulama tidak sesuai dengan kaidah ilmu nahwu (terdapat pelanggaran : اتباع بعد القطع / رجوع الى شيء بعد الإنصراف keikutsertaan setelah pemutusan hubungan keikutsertaan / comeback again terhadap sesuatu setelah aksi pembelotan), serta tidak sesuai dengan yang termaktub dalam Al-Qur'an.
Daftar Pustaka
al-Shinhaji, Syaikh Ibn Ajurum. Matn al-Ajurumiyyah.Cara Membaca Akhir Surat + Basmalah + Awal Surat
4 Cara Membaca Akhir Surat + Basmalah + Awal Surat
Ada 3 cara membaca akhir surat + basmalah + awal surat yang diperbolehkan menurut ilmu tajwid, dan ada 1 cara yang tidak diperbolehkan.
1 cara yang tidak diperbolehkan adalah akhir surat pertama (contoh : al-ikhlas) diwashalkan kepada basmalah, kemudian akhir basmalah diwaqofkan (berhenti dan mengambil nafas baru) kemudian ibtida membaca awal surat kedua (contoh : al-falaq). Kenapa cara ini tidak diperbolehkan? karena dengan ini jadi seolah memperlakukan basmalah sebagai salah satu ayat (ayat terakhir) dari surat yang pertama (contoh : al-ikhlas) padahal bukan. Berikut ini penjelasannya dalam kitab Hidayah al-Mustafidz
Adapun 3 cara yang diperbolehkan adalah sebagai berikut :
- قَطْعُ الْكُلِّ (mewaqofkan / memutuskan semuanya) : ini berarti anda jadi berhenti di akhir surat pertama (contoh : al-ikhlas) dan mengambil nafas baru, Kemudian membaca basmalah dan berhenti lagi untuk mengambil nafas baru lagi, kemudian mulai membaca awal surat yang kedua (contoh : al-falaq)
- وَصْلُ الْبَسْمَلَةِ فِي أَوَّلِ السُّوْرَةِ (mewashalkan basmalah terhadap awal surat yang kedua) ini berarti washal terjadi hanya untuk mewashalkan basmalah kepada awal surat kedua (contoh : al-falaq), sedangkan akhir surat pertama (contoh : al-ikhlas) diwaqofkan dan bacaan basmalah menggunakan nafas baru
- وَصْلُ الْكُلِّ (mewashalkan semuanya) Jika yang digunakan adalah cara yang ini berarti nafas yang diambil oleh anda sebelum membaca ayat terakhir surat pertama (contoh : al-ikhlas) tidak boleh diperbaharui sampai akhir ayat awal surat kedua (contoh : al-falaq)
Daftar Pustaka
Abu Rimah, Syaikh Muhammad al-Mahmud. Hidayah al-Mustafidz fi Ahkam al-Tajwid. Maktabah Roja Murah Pekalongan
4 Cara Membaca Isti'adzah + Basmalah + Awal Surat
- قَطْعُ الْجَمْعِ (memutuskan semuanya) : jika anda menggunakan cara ini maka anda jadi mewaqofkan (berhenti dan mengambil nafas baru) setelah membaca isti'adzah, kemudian memulai bacaan basmalah dengan bermodalkan nafas baru serta mewaqofkannya lagi, kemudian mulai membaca awal surat Al-Kahfi dengan bermodalkan nafas baru.
- وَصْلُ الْبَسْمَلَةِ بِالسُّوْرَةِ فَقَطْ (mewashalkan basmalah terhadap surat saja) : Jika anda menggunakan cara ini, maka anda membaca isti'adzah serta mewaqofkannya, kemudian anda mulai membaca basmalah bermodalkan nafas baru serta mewashalkannya dengan tidak mensukunkan harkat akhir lafadz الرَّحِيْمِ serta menyambungkan pengucapannya terhadap huruf awal surat Al-Kahfi yaitu ال lafadz الحمد kemudian melanjutkan membaca awal surat Al-Kahfi tersebut
- وَصْلُ الإِسْتِعَاذَةِ وَالْبَسْمَلَةِ فَقَطْ (mewashalkan isti'adzah + basmalah saja) : Jika menggunakan cara ini, anda jadi menyambungkan bacaan isti'adzah terhadap bacaan basmalah tanpa mensukunkan lafadz الرَّجِيْمِ dan langsung dilanjutkan dengan pengucapan huruf ب lafadz بِسْمِ kemudian membaca basmalah dan mensukunkan huruf م lafadz الرَّحِيْمِ kemudian berhenti dan mengambil nafas baru sebelum membaca awal surat Al-Kahfi
- وَصْلُ الْجَمْعِ (mewashalkan semuanya) : Jika melakukan cara ini, maka dengan satu kali pengambilan nafas anda jadi membaca isti'adzah + basmalah + awal surat Al-Kahfi tanpa berhenti terlebih dahulu.
Sumber :
Abu Rimah, Syaikh Muhammad al-Mahmud. Hidayah al-Mustafidz fi Ahkam at-Tajwid. Hal 5

