BAITUSSALAM: Takbir
Tampilkan postingan dengan label Takbir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Takbir. Tampilkan semua postingan

Hukum Takbir Muqayyad Pada Hari Raya Idul Fithri

Salah satu pembeda nuansa idul fithri dari idul adha di indonesia adalah jarangnya imam shalat menuntun pengumandangan takbir muqayyad setelah pelaksanaan shalat fardhu, kenapa bisa begitu? Bagaimana hukum pengumandangannya? 

Masuk akal, karena mayoritas umat islam di Indonesia mengamalkan amaliyah fiqih madzhab Imam Syafi'i, dan berdasarkan pendapat al-ashahh (paling shahih dari antara 2 wajh shahih) dalam madzhab ini tentang hukum takbir muqayyad pada idul fithri adalah tidak disunatkan.

Berikut ini penjelasan para ulama Syafi'iyah :
ﻭﻫﻞ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻋﻘﺐ اﻟﺼﻠﻮاﺕ ﻓﻲ ﻋﻴﺪ اﻟﻔﻄﺮ ﻓﻴﻪ ﺧﻼﻑ ﻭاﻷﺻﺢ ﻓﻲ ﺃﺻﻞ اﻟﺮﻭﺿﺔ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻟﻌﺪﻡ ﻧﻘﻠﻪ ﻭﺻﺤﺢ اﻟﻨﻮﻭﻱ ﻓﻲ اﻷﺫﻛﺎﺭ ﺃﻧﻪ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻋﻘﺐ اﻟﺼﻠﻮاﺕ ﻛﺎﻷﺿﺤﻰ
Dan apakah takbir disunatkan setelah shalat-shalat pada idul fithri? Dalam hal ini terdapat khilaf : 
  • Qaul yang paling shahih dalam asal kitab Ar-Raudhah (milik Imam Nawawi) adalah bahwasanya takbir setelah shalat-shalat pada idul fithri tidak dimustahabkan karena ketiadaan tuqilannya.
  • Imam Nawawi menshahihkan dalam kitab Al-Adzkar bahwasanya takbir pada idul fithri dimustahabkan setelah shalat-shalat seperti idul adha.
(Imam Taqiyuddin Al-Hishni, Kifayah Al-Akhyar fi Hilli Ghayah Al-Ikhtishar Jilid 1 Hal 151 - Diterjemahkan oleh : Cucu Anwar Mubarok)

ويسن التكبير المطلق في عيد الفطر وهل يسن التكبير المقيد في ادبار الصلوات فيه وجهان - أحدهما - لا يسن لانه لم ينقل ذَلِكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - والثاني - انه يسن لانه عيد يسن له التكبير المطلق فيسن له التكبير المقيد كالاضحى
Disunatkan takbir muthlaq di hari raya idul fithri. Dan apakah disunatkan takbir muqayyad pada setelah shalat - shalat di hari raya idul fithri? Dalam hal ini ada 2 wajh :
  1. Tidak disunatkan karena tidak dinuqil takbir muqayyad setelah shalat - shalat di hari raya idul fithri dari Rasulullah SAW.
  2. Bahwasanya takbir muqayyad setelah shalat - shalat di hari raya idul fithri itu disunatkan. Karena sesungguhnya idul fithri adalah merupakan id yang disunatkan baginya takbir muthlaq/murshal, maka disunatkan baginya takbir muqayyad seperti idul adha.
(Imam Abi Ishaq Asy-Syairozi, Al-Muhaddab / Al-Majmu Syarah Al-Muhaddab Jilid 5 Hal 30 - Diterjemahkan oleh Cucu Anwar Mubarok)

وَأَمَّا التَّكْبِيرُ الْمُقَيَّدُ فَيُشْرَعُ فِي عِيدِ الْأَضْحَى بِلَا خِلَافٍ لِإِجْمَاعِ الْأُمَّةِ وَهَلْ يُشْرَعُ فِي عِيدِ الْفِطْرِ فِيهِ وَجْهَانِ مَشْهُورَانِ حَكَاهُمَا الْمُصَنِّفُ وَالْأَصْحَابُ وَحَكَاهُمَا صَاحِبُ التَّتِمَّةِ وَجَمَاعَةٌ قَوْلَيْنِ (أَصَحُّهُمَا) عِنْدَ الْجُمْهُورِ لَا يُشْرَعُ وَنَقَلُوهُ عَنْ نَصِّهِ فِي الْجَدِيدِ وَقَطَعَ بِهِ الْمَاوَرْدِيُّ وَالْجُرْجَانِيُّ وَالْبَغَوِيُّ وَغَيْرُهُمْ وَصَحَّحَهُ صَاحِبَا الشَّامِلِ وَالْمُعْتَمَدِ وَاسْتَدَلَّ لَهُ الْمُصَنِّفُ وَالْأَصْحَابُ بِأَنَّهُ لَمْ يُنْقَلْ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ كَانَ مَشْرُوعًا لَفَعَلَهُ وَلَنُقِلَ (وَالثَّانِي) يُسْتَحَبُّ وَرَجَّحَهُ الْمَحَامِلِيُّ وَالْبَنْدَنِيجِيّ وَالشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ * وَاحْتَجَّ لَهُ الْمُصَنِّفُ وَالْأَصْحَابُ بِأَنَّهُ عِيدٌ يُسَنُّ فِيهِ التَّكْبِيرُ الْمُرْسَلُ فَسُنَّ الْمُقَيَّدُ كَالْأَضْحَى فَعَلَى هَذَا قَالُوا يُكَبِّرُ خَلْفَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَالصُّبْحِ وَنَقَلَهُ الْمُتَوَلِّي عَنْ نَصِّهِ في القديم
Adapun takbir muqayyad, maka disyari'atkan pada idul adha dengan tidak ada khilaf berdasarkan ijma umat. Dan apakah disyari'atkan pada idul fithri? Dalam hal ini ada 2 wajh yang keduanya masyhur yang telah menghikayatkan terhadap keduanya : Mushannif Al-Muhaddab dan Ashab Imam Syafi'i. Dan telah menghikayatkan terhadap keduanya Pemilik kitab At-Tatimmah dan Jama'ah sebagai 2 qaul  :
  1. Yang paling shahih dari keduanya menurut jumhur ulama adalah takbir muqayyad tidak disyari'atkan. Mereka menuqilnya dari Nash Imam Syafi'i di dalam qaul al-jadid. Dan telah memastikan terhadapnya Imam Al-Mawardi, Imam Al-Jurjani, Imam Al-Baghawi dan selain mereka bertiga. Dan telah mentashhihnya 2 pemilik kitab Asy-Syamil. Adapun Al-Mu'tamad serta telah beristidlal baginya Mushannif dan Ashab adalah bahwasanya takbir muqayyad pada hari raya idul fithri tidak dinuqil dari Nabi SAW. Dan seandainya itu disyari'atkan maka beliau pasti telah melakukannya dan yakin dituqil.
  2. Takbir muqayyad pada idul fithri dimustahabkan. Telah mentarjihnya Imam Al-Mahamili, Imam Al-Bandaniji, dan Syaikhul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali. Dan telah berhujjah baginya Mushannif dan Ashab terhadap bahwasanya idul fithri adalah id yang disunatkan padanya takbir mursal. Maka disunatkan takbir muqayyad seperti idul adha. Maka berdasarkan hujjah ini, kemudian mereka berkata : seseorang bertakbir setelah shalat maghrib, isya dan shubuh. Dan telah menuqilnya Imam Al-Mutawali dari Nash Imam Syafi'i dalam qaul al-qadim.
(Imam Abi Zakariya Yahya An-Nawawi, Al-Majmu Syarah Al-Muhaddab Jilid 5 Hal 35 - Diterjemahkan oleh : Cucu Anwar Mubarok)

Biasanya hasil tashhih Imam Abi Zakariya Yahya bin Syarof An-Nawawi yang disampaikan dalam kitab Majmu Syarah Muhaddab dan Ar-Raudhah terhadap wajh-wajh yang telah diriwayatkan atau dihikayatkan ashabul wujuh dari Imam Syafi'i, itulah yang kemudian dijadikan pegangan para imam Madzhab Syafi'i generasi selanjutnya. Jadi jarang ada yang kembali mempermasalahkannya. Dalam hal takbir muqoyyad idul fithri ini, menurut beliau keduanya shahih, tapi yang paling shahih adalah tidak disunatkan. Oleh karenanya mayoritas ulama Indonesia tidak takbir muqayyad pada hari raya idul fithri.

Demikian, semoga bermanfaat.

Ragu Setelah Shalat Atau Ketika Shalat Perihal Tidak Niat & Tidak Takbirotul Ihrom di Awal Shalat

Berikut ini konsekuensi jika ragu setelah shalat atau ketika shalat perihal tidak niat & tidak takbirotul ihrom di awal shalat
كاشفة السجا للشيخ محمد نووي الجاوي ص ٦٧
لو شك بعد سلامه في ترك فرض غير نية وتكبيرة الإحرام لم يؤثر لأن الظاهر وقوع الصلاة عن تمام
Jika seseorang ragu setelah salamnya perihal meninggalkan salah satu fardh/rukn selain niat dan takbirotul ihrom, maka keraguan tersebut tidak mempengaruhi ke-sah-an shalat, karena sesungguhnya yang dzohir adalah terjadinya shalat dari kesempurnaan syarat dan rukun. (Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kasyifah As-Saja Hal 67)
كاشفة السجا للشيخ محمد نووي الجاوي ص ٦٧
ولو ذكر في حال تشهده ترك ركن غير نية أو تكبيرة أتى بعد سلام إمامه بركعة
Jika seorang makmum ingat pada situasi tasyahhudnya terhadap peninggalan salah satu rukun shalat selain niat dan takbirotul ihrom, maka dia wajib mendatangkan setelah salam imamnya terhadap 1 rokaat. (Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kasyifah As-Saja Hal 67)
الثمار اليانعة للشيخ محمد نووي الجاوي ص٣٩
لو شك بعد سلام في فرض غير نية وتكبيرة تحرم لم يؤثر إن قصر الفصل لأن الظاهر وقوع السلام عن تمام فإن كان الفرض نية أو تكبيرة تحرم استأنف الصلاة لأنه شك في أصل الإنعقاد ما لم يتذكر أنه أتى بهما ولو بعد طول الزمان وموضوع المسألة أن الشك طرأ بعد السلام أما لو شك في النية أو تكبيرة الإحرام في أثناء الصلاة فإن تذكر عن قرب قبل مضي أقل الطمأنينة لا يضر وإلا ضر 
Jika seseorang ragu setelah salam perihal salah satu fardh selain niat dan takbirotul ihrom, maka keraguan tersebut tidak mempengaruhi ke-sah-an shalat, karena sesungguhnya yang dzohir adalah terjadinya salam dari kesempurnaan shalat. Jika fardh yang diragukan adalah niat atau takbirotul ihrom, maka dia wajib memulai lagi shalat. Karena dia telah ragu perihal pokok kejadian shalat, selama dia tidak berhasil mengingat bahwa dia telah mendatangkan terhadap keduanya, sekalipun jreng ingatannya setelah waktu yang lama. Tempat masalah adalah bahwasanya keraguan tiba-tiba datang setelah salam.  Adapun jika seseorang ragu perihal niat atau takbirotul ihrom pada pertengahan shalat, maka jika dia ingat beberapa waktu kemudian sebelum lewat ukuran minimal thumaninah, keraguannya tidak memadharatkan sahnya shalat. Jika tidak ingat dalam waktu dekat sebelum lewat ukuran minimal thumaninah, maka keraguannya memadharatkan sahnya shalat. (Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Ats-Tsimar Al-Yani'ah Syarh Ar-Riyadh Al-Badi'ah Hal 39)
إعانة الطالبين للشيخ السيد أبي بكر الدمياطي ج ١ ص ٢٠٦
قوله غير نية وتكبيرة أما هما فتذكره ترك أحدهما أو شكه فيه أو في شرط من شروطه اذا طال الشك أو مضى معه ركن يبطل الصلاة
Redaksi selain niat dan takbirotul ihrom : Adapun niat dan takbirotul ihrom, maka ingatnya mushalli terhadap peninggalan salah satu dari keduanya atau ragunya pada peninggalan salah satu dari keduanya atau pada peninggalan salah satu syarat dari antara syarat-syarat salah satu dari keduanya, jika panjang durasi keraguan atau berlalu sebuah rukun beserta keraguan tersebut, maka batal shalat. (Syaikh Sayid Abu Bakar Ad-Dimyati, I'anah Ath-Thalibin Jilid 1 Hal 206)

Kesimpulannya :
Jika keraguan datang setelah shalat, maka :
  • Jika mushalli berhasil mengingat bahwa dia telah melakukannya, maka tidak wajib isti'naf mengulangi shalatnya.
  • Jika mushalli tidak berhasil mengingat bahwa dia telah melakukannya, maka wajib isti'naf mengulangi shalatnya.
Jika keraguan datang ketika sedang shalat, maka : 
  • Jika mushalli berhasil mengingat bahwa dia telah melakukannya, pada durasi waktu yang kurang dari batas minimal thumaninah maka keraguannya tidak memadharatkan sahnya shalat / tidak membatalkan shalat.
  • Jika mushalli tidak berhasil mengingat bahwa dia telah melakukannya atau berhasil mengingatnya setelah melewati durasi batasan minimal thumaninah, maka keraguannya memadharatkan sahnya shalat / tidak membatalkan shalat.
Karena niat dan takbirotul ihrom statusnya dalam shalat adalah Ashlul In'iqod (pokok jadinya shalat), maka konsekuensinya berbeda dengan ketika yang diragukan adalah rukun shalat selainnya.
Daftar Pustaka
Al-Jawi, Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi. Kasyifah As-Saja., Ast-Tsimar Al-Yani'ah. Al-Haromain.
Ad-Dimyathi, Syaikh Sayid Abu Bakar. I'anah Ath-Thalibin. Syirkah Nur Asia.

7 Alif = 14 Harkat Batas Maksimal Durasi Mad Pada ل Lafadz اَللّٰهُ Menurut Pendapat Lain 6 Alif = 12 Harkat

Umumnya orang butuh memanjangkan durasi pengucapan ل Lafadz اَللّٰهُ lebih dari 2 harkat adalah hanya pada : takbirotul ihrom dan takbir intiqol.

Pada takbirotul ihrom dilatarbelakangi kewajiban praktek muqoronah pengucapan lisan terhadap redaksi الله أكبر serta peniatan hati terhadap seumpama redaksi :
نويت أصلي فرض العشاء أربع ركعات مستقبل القبلة أداء مأموما لله تعالى
Sehubungan dengan panjangnya redaksi niat tersebut yang dimuqoronahkan pada takbir.

Pada takbir intiqol biasanya hanya dibutuhkan pada : 
  • takbir intiqol dari sujud kedua rokaat kesatu atau ketiga menuju berdiri rokaat kedua atau berdiri rokaat keempat. 
  • takbir intiqol dari tasyahhud awal rokaat kedua menuju berdiri rokaat ketiga. 
Sehubungan dengan panjangnya jarak tempuh perpindahan.

7 alif = 14 harkat adalah batas maksimal durasi mad pada ل lafadz اَللّٰهُ menurut pendapat lain 6 alif = 12 harkat. Dengan konversi 1 alif = 2 harkat.

Ulama fiqih yang menyebutkan "7 alif" antara lain :
  • Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi mengutip pendapat Imam Asy-Syibromilsi (Kasyifah As-Saja Hal 58)
  • Syaikh Sayid Abu Bakar Ad-Dimyathi mengutip pendapat Imam Asy-Syibromilsi dan Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (I'anah Ath-Thalibin Jilid 1 Hal 133)
  • Syaikh Sa'id Ba'asyan (Busyrol Karim Hal 199)
Ulama fiqih yang menyebutkan "6 alif" antara lain :
  • Imam Syihabuddin Al-Qalyubi mengutip fatwa Imam Az-Zayadi. (Hasyiyah Al-Qalyubi Jilid 1 Hal 142)
Lebih jelasnya, berikut ini penjelasan mereka tentang batas maksimalnya :

كاشفة السجا للشيخ محمد نووي الجاوي ص ٥٨
قال الباجوري ويسن أن لا يقصر التكبير بحيث لا يفهم ولا يمططه بأن يبالغ في مده بل يتوسطو قال الشبراملسي ويستحب أن يمد التكبير ويسترط أن لا يمد فوق سبع ألفات وإلا بطلت إن علم وتعمد وتقدر كل ألف بحركتين وهو على التقريب ويعتبر ذلك بتحريك الأصابع متوالية مقارنة للنطق بالمد في التحرم
Telah berkata Al-Bajuri : "dan disunatkan tidak memendekan pengucapan takbir dengan menjadi tidak dapat difahami, dan tidak melama-lamakannya dengan keterlaluan pada mad-nya melainkan bertawassuth/pertengahan.". Telah berkata Asy-Syibromilsi : "dan disunatkan memanjangkan takbir. Dan disyaratkan tidak memanjangkan di atas 7 alif. Jika tidak begitu maka batal shalatnya jika dia mengetahui dan menyengaja. Dan diukurkan setiap 1 alif dengan 2 harkat, dan itu secara perkiraan. Dan dihitung 7 alif × 2 harkat dengan menggerakan jari-jari secara kontinyu dan dibersamakan pada pengucapan terhadap mad pada takbirotul ihrom.". (Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kasyifah As-Saja Hal 58)
إعانة الطالبين للشيخ السيد أبي بكر الدمياطي ج ١ ص١٣٣
قال ع ش وغاية مقدار ما نقل عنهم على ما نقله ابن حجر سبع ألفات وتقدر كل ألف بحركتين وهو على التقريب اه
Telah berkata Asy-Syibromilsi : Dan maksimal ukuran panjang yang dikutip dari mereka terhadap yang Imam Ibnu Hajar menuqilnya adalah 7 alif. Dan diukurkan setiap 1 alif dengan 2 harkat dan itu secara perkiraan (Syaikh Sayid Abu Bakar Ad-Dimyathi, I'anah Ath-Thalibin Jilid 1 Hal 133)
بشرى الكريم للشيخ سعيد باعشن ص ١٩٩
وعدم مد ألف الجلالة زيادة على سبع ألفات
Dan tidak memanjangkan alif lafdzul jalalah melebihi di atas 7 alif (Syaikh Said Ba'asyan, Busyro Al-Karim Hal 199)
حاشية القليوبي للإمام شهاب الدين القليوبي ج ١ ص١٤٢
وقدر الطول ست ألفات واعتمده شيخنا الزيادي
Ukuran panjang adalah 6 alif. Me-mu'tamad-kannya Syaikhuna Az-Zayadi (Imam Syihabuddin Al-Qalyubi, Hasyiyah Al-Qalyubi Ala Syarh Al-Mahalli Ala Al-Minhaj Ath-Thalibin Jilid 1 Hal 142)

Daftar Pustaka
Al-Jawi, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah As-Saja. Al-Haromain
Ad-Dimyathi, Sayid Abu Bakar. I'anah Ath-Thalibin. Syirkah Nur Asia.
Al-Qalyubi, Imam Syihabuddin. Hasyiyah Al-Qalyubi wa Umairoh. Dar Al-Fikr.
Ba'asyan, Syaikh Sa'id. Busyro Al-Karim. Maktabah Syamilah.

Hikmah & Tata Cara Mengangkat Kedua Tangan Ketika Takbrotul Ihrom

Mengangkat kedua tangan ketika takbirotul ihrom termasuk salah satu dari sekian banyak sunat hai’at dalam shalat. Amaliyah sunat ini bahkan merupakan amaliyah sunat pertama yang kita lakukan pada saat shalat, karena momentum shalat berdasarkan tata cara yang diajarkan oleh para ulama ahli fiqih madzhab imam syafi’I adalah dimulai dengan sejak takbiratul ihrom.

Takbirotul ihromnya sendiri adalah termasuk rukun fa’li yang pada pelaksanaannya dilakukan secara bersamaan dengan rukun pengucapan niat shalat di dalam hati serta sunat pengangkatan kedua tangan mushalli.

Jadi pada momentum takbirotul ihrom, 3 organ paling inti dan paling sibuk yang ada di dalam diri kita berkolaborasi menggabungkan potensi :
  1. Mulut sebagai alat komunikasi utama mewakili panca indera mengucapkan “Allaahu Akbar”,
  2. Hati sebagai alat komunikasi utama jiwa kita mengucapkan “Ushalli Fardha Ash-Shubhi”
  3. Tangan sebagai organ alat bantu komunikasi paling aktif diangkat dalam rangka isyarat mengagungkan Allah “ta’dzimuhu Ta’ala”.
Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al-Muhammad Nawawi Al-Jawi :
وحكمة رفع اليدين في الصلاة كما قاله الشافعي تعظيمه تعالى حيث جمع بين إعتقاد القلب ونطق اللسان المترجم عنه وعمل الأركان وقيل الإشارة الى طرح ما سواه تعالى والإقبال بكليته على صلاته وقيل الإشارة الى رفع الحجاب بين العبد وبين ربه وقيل غير ذلك
Hikmahnya mengangkat kedua tangan dalam shalat adalah :
  • sebagaimana yang telah dikatakan Imam Syafi'i Rohimahullah : mengagungkan Allah Ta'ala sekira pengangkatan kedua tangan tersebut mengumpulkan antara i'tiqad hati, pengucapan lisan yang diterjemahkan darinya dan perbuatan anggota badan.
  • Menurut 1 qaul قيل : suatu isyarah terhadap pembuangan selain Allah dan menghadap dengan seluruh jiwa raga pada shalatnya.
  • Menurut 1 qaul قيل : sebuah isyarah terhadap penyingkapan hijab antara seorang hamba dan Rabb-nya
  • Menurut 1 qaul قيل : bukan demikian.
(Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 59)

Berikut ini adalah tata caranya : 
فيبتدئ الرفع فيها مع ابتداء التكبير وينهيه مع انتهائه وقال المحلى ويكبر مع حط يديه وقال الباجوري فابتداؤهما كذلك فما يقع الآن من الرفع قبل التكبير خلاف السنة وإن فعله كثير من أهل العلم انتهى والسنة تحصل بأي رفع كان وأكمله أن يرفع كفيه مقابل منكبيه ولا تبطل الصلاة به وإن ضم إليه فعلا ثالثا مع التوالي لأن ذلك مطلوب أفاده الشرقاوي
Maka Orang shalat mengangkat tangan pada takbirotul ihrom bersamaan dengan dimulai pengucapan takbir dan mengakhiri pengangkatannya bersamaan dengan akhir pengucapannya.
Telah berkata Syaikh Jalaluddin Al-Mahalli : dan mengucapkan takbir mushalli bersamaan dengan turun kedua tangannya.
Telah berkata Syaikhul Islam Ibrohim Al-Bajuri : Permulaan keduanya adalah seperti itu. Adapun yang terjadi dewasa ini yaitu mengangkat tangan sebelum pengucapan takbir adalah khilafussunnah, sekalipun banyak dari ahli ilmu yang telah melakukannya.
Kesunnahan bisa dihasilkan dengan apapun cara mengangkatnya, cara yang paling sempurna adalah mushalli mengangkat 2 telapak tangannya setentang 2 pundaknya dan tidak jadi sebab batal shalat dengan mengangkatnya sekalipun terakumulasi 3 gerakan mutawaaliyat karena mengangkat tangan pada saat takbiratul ihrom statusnya mathlub. Syaikh Asy-Syarqawi memفائدةkannya.
Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kasyifah As-Saja Hal 59)

Daftar Pustaka
Al-Jawi, Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi. Kasyifah As-Saja. Al-Haromain.

3 Shighat Takbir Hari Raya Idul Fithri & Idul Adha

Istilah yang lebih banyak dipergunakan dalam kitab-kitab fiqih mu'tabar madzhab imam Syafi'i adalah "shighat" bukan "kalimat", tapi maksudnya sama yaitu merujuk pada serangkaian kalimat takbir yang ma'rufah (populer) dipergunakan oleh kaum muslimin sedunia pada hari raya id baik idul fithri maupun idul adha.
shighat-takbir-hari-raya-id


Ditinjau dari aspek redaksi, shighat takbir hari raya id ada 3 Jenis :
  1. Shighat Takbir Pendek
  2. Shighat Takbir Panjang
  3. Shighat Takbir Panjang + Shalawat
Shighat Takbir Hari Raya Pendek
Bilal/Pemandu takbir mengumandangkan shighat ini :
الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله الا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد
kemudian diikuti oleh hadirin yang ada di masjid dan pemirsa kaum muslimin yang ada di luar masjid (mushalla, madrasah, rumah, kamar, jalan, terminal, pangkalan ojeg, stasiun, bandara, dsb) dengan mengumandangkan shighat yang sama, yaitu :
الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله الا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Shighat Takbir Hari Raya Panjang
Kitab fuqoha yang dijadikan sumber rujukan utama oleh penulis perihal shighat takbir panjang ini adalah Kitab Hasyiyatani ala Syarhi Al-Mahalli ala Minhaj Ath-Thalibin (Hasyiyatani : Hasyiyah Al-Qalyubi dan Hasyiyah Al-Burlusi/Umairoh) Juz 1 Hal 309. Aspek yang paling menarik dari kitab ini perihal shighat takbir adalah karena detailnya kitab ini membahas penempatan ziyadah pada shighat ma'rufahnya. 
Menjadi penting menelusuri penempatan ziyadah (redaksi tambahan) pada shighat takbir yang panjang, sehubungan dengan banyaknya redaksi shighat yang ditulis para penjual buku dan kemudian tersebar di tengah masyarakat muslim. Sementara itu, tidak semua kitab fiqih membahas penempatan ziyadahnya. Fokus kami adalah agar semua praktek ibadah yang kita lakukan memiliki dasar dan sumber referensi yang jelas.
Biasanya shighat takbir yang panjang hanya dikumandangkan sesekali oleh bilal/muraqqi/pemandu takbiran, tapi tetap penting untuk diketahui. Karena selain ziyadahnya mustahab, kombinasi keduanya bisa menambah nilai seni terutama jika bilal memiliki suara yang merdu. Berikut ini adalah shighatnya :
الله أكبر الله أكبر الله أكبر 
الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا 
لا إله الا الله ولا نعبد الا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون
لا إله الا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده
لا إله الا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Atau bisa juga shighat ini :
الله أكبر الله أكبر الله أكبر 
الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا
لا إله الا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده
لا إله الا الله ولا نعبد الا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون
لا إله الا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد
kemudian diikuti oleh hadirin yang ada di masjid dan pemirsa kaum muslimin yang ada di luar masjid (mushalla, madrasah, rumah, kamar, jalan, terminal, pangkalan ojeg, stasiun, bandara, dsb) dengan mengumandangkan shighat takbir pendek :
الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله الا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Shighat Takbir Hari Raya Panjang + Shalawat
Kitab yang dijadikan sumber rujukan utama oleh penulis perihal redaksi shalawatnya adalah Kitab Nihayah Az-Zain (Milik Syekh Nawawi Al-Jawi) Hal 109
Shighat takbir panjang + shalawat ini sangat jarang sekali dilantunkan oleh bilal/muraqqi/pemandu takbiran. Berikut ini adalah shighat shalawat yang ditambahkan :
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أل سيدنا محمد وعلى أصحاب سيدنا محمد وعلى أزواج سيدنا محمد وعلى ذرية سيدنا محمد وسلم تسليما كثيرا
Kombinasi pengumandangan ketiga shigat takbir ini oleh bilal takbiran biasanya hanya terjadi pada takbir mursal (maghrib malam hari raya s/d Takbiratul ihrom Imam untuk shalat id) Adapun pada takbir muqayyad hampir di semua wilayah di indonesia para imam shalat fardhu menggunakan shigat takbir pendek.
Sumber :
Imam An-Nawawi, Al Adzkar 156 :
قال اصحابنا لفظ التكبير الله أكبر ألله أكبر الله أكبر هكذا ثلاثا متواليات ويكرر هذا على حسب إرادته قال الشافعي والأصحاب فإن زاد فقال الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا إله الا الله ولا نعبد الا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون لا إله الا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وهزم الأحزاب وحده لا إله الا الله والله أكبر الله أكبر كان حسنا
Syaikhul Islam Abi Yahya Zakariya Al-Anshori, Fathul Wahab Juz 1 Hal 84 :
وصيغة المحبوبة معروفة وهي كما في الأصل الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله الا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد واستحسن في الأم أن يزيد بعد التكبيرة الثالثة الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا إله الا الله ولا نعبد الا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون لا إله الا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده لا إله الا الله والله أكبر الله أكبر
Syaikh Ibnu Qasim Al-Ghazzi, Fathul Qarib 
وصيغة التكبير الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله الا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا إله الا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده
Syaikh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Al-Bajuri Juz 1 Hal 228 :
قوله وأعز جنده
قيل انها لم ترد هذه الكلمة في شيء من الروايات لكنها زيادة لابأس بها لكنها صرح العلقمي على الجامع الصغير بأنها وردت
Syaikh Sayid Abu Bakar, Ianah Ath-Thalibin Juz 1 Hal 262 
وصيغة التكبير المحبوبة الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد واستحسن في الأم أن يزيد بعد التكبيرة الثالثة الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا إله الا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده لا إله الا الله والله أكبر الله أكبر
Syaikh Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli, Syarh Al-Mahalli ala Minhaj Ath-Thalibin :
وصيغة المحبوبة الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله الا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد ويستحب ان يزيد بعد التكبيرة الثالثة كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا وفي الروضة وأصلها قبل كبيرا الله أكبروبعد أصيلا لا إله الا الله ولا نعبد الا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون لا إله الا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وهزم الأحزاب وحده
Syaikh Syihabuddin Al-Qalyubi, Hasyiyah Qalyubi ala Syarh Al-Mahalli ala Al-Minhaj Ath-Thalibin Hal 309 :
قوله بعد التكبيرة الثالثة
أى وما بعدها الى بعد ولله الحمد كما قال المصنف ويزيد الله أكبر قبل كبيرا ويقدم لا اله الا الله وحده على ما قبله وبذلك علم أنه ينتظم التكبير المعروف
قوله وهزم الأحزاب وحده
وبعده كما في الروضة لا إله الا الله والله أكبر ولله الحمد وهذه على التأويل السابق مذكورة في محلها وعلى ما ذكره الشارح في كلام المصنف مقدمة على تأخير لموافقة ما عليه العمل في الإمصار فقد قال في الأذكار انه لابأس به ولم يرد وأعز جنده ويندب الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم وأله وصحبه بعد التكبير كما عليه العمل أيضا
Syaikh Syihabuddin Ahmad Al-Burlusi/Umairoh, Hasyiyah Umairoh Juz 1 Hal 309 :
قول المتن ويستحب أن يزيد
وجه اختيار هذه الزيادة الإقتداء بالنبي صلى الله عليه وسلم حيث قالها على الصفا يوم فتح مكة
قوله بعد التكبير الثالثة
اقتضى هذا الصنيع من المتن والشرح انه يزيد هذا ثم يختم بلا إله الا الله الخ والذي في المحرر كما قال الأسنوي بعد الذكر التكبيرات ويستحب أن يزيد فيه أحد شيئين اما المذكور أولا وهو لا إله الا الله والله أكبر ولله الحمد واما كبيرا الى أصيلا ولم يذكر الجمع بينهما انتهى ثم راجعت الروضة فرأيت فيها بعد الذي حكاه الشارح عنها لا إله الا الله والله أكبر وكأن وجه اسقاط الشارح لذلك دخوله في قول المنهاج ولا إله الا الله الخ وقوله أيضا بعد التكبيرة الثالثة يرشد لهذا النظر للمعنى
Syaikh Nawawi Al-Jawi, Nihayah Az-Zain Hal 109 :
وصيغة التكبير المحبوبة الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله الا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا إله الا الله ولا نعبد الا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون لا إله الا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وهزم الأحزاب وحده لا إله الا الله والله أكبر الله أكبر ويستحب بعد ذلك الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم لقوله تعالى ورفعنا لك ذكرك أى لا أذكر إلا وتذكر معي والمعتاد في ذلك أن يقول اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أل سيدنا محمد وعلى أصحاب سيدنا محمد وعلى أزواج سيدنا محمد وعلى ذرية سيدنا محمد وسلم تسليما كثيرا

Daftar Pustaka
An-Nawawi, Imam Muhyiddin Abi Zakariya Yahya. Al-Adzkar. Syirkah An-Nur Asia. Tanpa Tahun.
Al-Qalyubi, Syaikh Syihabuddin Ahmad dan Umairoh, Syaikh Syihabuddin Ahmad. Hasyiyah Al-Qalyubi Wa Umairoh Ala Syarh Al-Mahalli Ala Al-Minhaj (Jilid 1). Dar Al-Fikr. Tanpa Tahun.
Al-Anshari, Syaikh Abi Yahya Zakariya. Fath Al-Wahab (Jilid 1). Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah. Tanpa Tahun.
Al-Bakri, Syaikh Sayid Abu Bakar Ad-Dimyati. Ianah Ath-Thalibin (Jilid 1). Syirkah An-Nur Asia. Tanpa Tahun
Al-Ghazzi, Syaikh Ibnu Qasim. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Syirkah An-Nur Asia. Tanpa Tahun
Al-Baijuri, Syaikh Ibrahim. Hasyiyah Al-Bajuri (Jilid 1). Toha Putra. Tanpa Tahun.
Al-Bantani, Syekh Nawawi. Nihayah Az-Zain. Toha Putra. Tanpa Tahun

Syarat Sah Takbiratul Ihram

Berikut ini syarat sah takbiratul ihram menurut ulama ahli fiqih madzhab Imam Syafi'i :
سفينة النجا للشيخ سالم بن سمير الحضرمي ص ٥٧
شُرُوْطُ التَّكْبِيْرَةِ اْلِإحْرَامِ سِتَّةَ عَشَرَ أَنْ تَقَعَ حَالَةَ الْقِيَامِ فِي الْفَرْصِ وَأَنْ تَكُوْنَ بِالْعَرَبِيَّةِ وَأَنْ تَكُوْنَ بِلَفْظِ الْجَلَالَةِ وَبِلَفْظِ أَكْبَرَ وَالتَّرْتِيْبُ بَيْنَ اللَّفْظَيْنِ وَأَنْ لَايَمُدَّ هَمْزَةَ الْجَلَالَةِ وَعَدَمِ مَدِّ بَاءِ أَكْبَرَ وَأَنْ لَا يُشَدِّدَ اْلبَاءَ وَأَنْ لَا يَزِيْدَ وَاوًا سَاكِنَةً أَوْ مُتَحَرِّكَةً بَيْنَ الْكَلِمَتَيْنِ وَأَنْ لَا يَزِيْدَ وَاوًا قَبْلَ الْجَلَالَةِ وَأَنْ لَا يَقِفَّ بَيْنَ كَلِمَتَيِ التَّكْبِيْرِ وَقْفَةً طَوِيْلَةً وَلَا قَصِيْرَةً وَأَنْ يُسْمِعَ نَفْسَهُ جَمِيْعَ حُرُوْفِهَا وَدُخُوْلُ الْوَقْتِ فِي الْمُؤَقَّتِ وَإِيْقَاعُهَا حَالَ الْإِسْتِقْبَالِ وَأَنْ لَا يَخِلَّ بِحَرْفٍ مِنْ حُرُوْفِهَا وَتَأْخِيْرُ تَكْبِيْرَةِ الْمَأْمُوْمِ عَنْ تَكْبِيْرَةِ الْإِمَامِ
Syarat Sah Takbiratul Ihram ada 16 : 
  1. Harus dalam keadaan berdiri, pada shalat fardhu - setelah tegak dan sampai kepada tempat yang mencukupkan padanya membaca Surat Al-Fatihah. (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  2. Harus dengan bahasa arab. Bagi orang yang mampu berbahasa arab (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  3. Harus dengan Lafadz الله. Tidak sah dengan seumpama rangkaian kalimat الرحمن أكبر karena tidak terdapat lafadz الله pada rangkaian kalimat tersebut  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57) 
  4. Harus dengan Lafadz أكبر. Tidak cukup dengan rangkaian kalimat الله كبير karena luputnya "kemahaagungan"  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  5. Harus tertib antara Lafadz الله dan Lafadz أكبر. Tidak cukup dengan rangkaian kalimat اكبر الله karena itu merusak rangkaian kalimat takbir. Jika dia mendatangkan lafadz اكبر untuk kedua kalinya umpamanya dia mengucapkan أكبر الله أكبر kemudian memaksudkan lafadz الله nya sebagai mubtada maka sah, jika tidak dimaksudkan begitu tidak sah.  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  6. Tidak boleh memanjangkan أ Lafadz الله. Jika dia memanjangkan أnya maka tidak sah shalatnya, karena dia mengganti lafadz khabar insya'iyah kepada istifham alias istikhbar. Boleh menjatuhkan bacaan أnya jika diwashalkan dengan kalimat sebelumnya misalnya إماما الله أكبر atau مأموما الله أكبر akan tetapi itu hukumnya khilaful aula. Berbeda dengan أ lafadz أكبر jika mewashalkannya, maka itu tidak boleh menjatuhkannya karena أ lafadz أكبر adalah hamzah qatha.  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  7. Tidak boleh memanjangkan ب Lafadz أكبر. Jika dia mengucapkan الله أكبار maka tidak jadi shalatnya baik dia mengharkatinya dengan harkat fatah maupun mengkasrohkannya. Karena lafadz أكبار dengan fatah hamzah adalah versi jama taktsir lafadz گبَرٍ seperti سَبَبٍ dan أَسْبَابٍ. Dan كَبَرٍ adalah nama bedug. Jika dia menyengaja memanjangkan ب maka dia kufur والعياد بالله  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  8. Tidak boleh mentasydidkan ب Lafadz أكبر. Jika dia mentasydidnya dengan mengucapkan ألله أَكَبَّرُ maka tidak jadi shalatnya  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  9. Antara Lafadz الله dan Lafadz أكبر tidak boleh ditambah dengan و baik yang sukun maupun yang berharokat. Jika dia menambahnya seumpama dia berkata اللهوْ أكبر atau اللهوَ أكبر maka tidak jadi shalatnya. (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  10. Tidak boleh menambahkan و sebelum Lafadz الله. Jika dia menambahnya dengan mengucapkan والله أكبر maka tidak jadi shalatnya karena tidak didahului معطوف  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  11. Antara Lafadz الله Dan Lafadz أكبر tidak boleh berhenti baik lama maupun sebentar. Tidak madharat memisah antara keduanya dengan أداة التعريف seperti الله الأكبر atau sifat yang tidak panjang seperti الله الجليل أكبر atau الله الرحمن الرحيم أكبر. Berbeda jika sifat pemisahnya panjang dengan tiga sifat atau lebih banyak seumpama الله الجليل العظيم الحليم أكبر atau الله الذي لا إله إلا هو الملك القدوس أكبر dan berbeda dengan yang bukan sifat seperti dhamir pada perkataannya الله هو أكبر dan dengan نداء pada perkataan الله يا رحمن أكبر  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  12. Orang yang membaca takbiratul ihram harus memperdengarkan setiap huruf yang terdapat pada Lafadz الله Lafadz أكبر kepada dirinya sendiri. Jika terbukti pendengarannya sehat dan tidak ada yang perkara yang mencegah pendengaran seperti kebisingan dll. Jika pendengarannya tidak sehat, maka naikan volume suaranya seukuran volume yang bisa didengar jika dia tidak tuna rungu. Dan wajib kepada orang yang tiba-tiba menjadi tuna wicara bertakbir dengan menggerakan lisannya, dua bibirnya, dan tenggorokannya sepertihalnya pada tasyahhud akhir, salam, dan dzikir lain. Adapun jika tuna wicaranya asli sejak lahir maka yang tadi tidak wajib terhadapnya.  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  13. Harus sudah masuk waktu shalat pada shalat yang ditentukan waktunya. Baik pada shalat fardhu, shalat sunat, maupun shalat sunat yang memiliki sebab (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  14. Harus sambil menghadap qiblat. Sebagaimana para ulama ahli fiqih madzhab Syafi'i menjadikan menghadap qiblat sebagai salah satu syarat sah shalat.  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  15. Tidak boleh merusak/merubah salah satu huruf dari huruf-hurufnya takbiratul ihram.  Dimaapkan dalam hal ini bagi seorang awam mengganti pengucapan أ lafadz أكبر dengan و. Syaikh Syarqawi memفائدةkan penjelasan tentang ini, begitu juga Syaikhul Islam Ibrohim Al-Bajuri. Dimaapkan juga jika tidak menjazmkan ر lafadz أكبر. Syaikhul Islam Ibrohim Al-Bajuri memفائدةkan penjelasan tersebut. (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  16. Harus mengakhirkan takbiratul ihramnya makmum dari takbiratul ihramnya imam. Maka jika makmum membarengi imam pada satu bagian dari takbirotul ihrom imam, tidak sah bermakmumnya dan tidak jadi shalatnya  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)

Daftar Pustaka

al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā. Al-Haromain