Syarat Sah Takbiratul Ihram - BAITUSSALAM

Kamis, 18 Februari 2021

Syarat Sah Takbiratul Ihram

Berikut ini syarat sah takbiratul ihram menurut ulama ahli fiqih madzhab Imam Syafi'i :
سفينة النجا للشيخ سالم بن سمير الحضرمي ص ٥٧
شُرُوْطُ التَّكْبِيْرَةِ اْلِإحْرَامِ سِتَّةَ عَشَرَ أَنْ تَقَعَ حَالَةَ الْقِيَامِ فِي الْفَرْصِ وَأَنْ تَكُوْنَ بِالْعَرَبِيَّةِ وَأَنْ تَكُوْنَ بِلَفْظِ الْجَلَالَةِ وَبِلَفْظِ أَكْبَرَ وَالتَّرْتِيْبُ بَيْنَ اللَّفْظَيْنِ وَأَنْ لَايَمُدَّ هَمْزَةَ الْجَلَالَةِ وَعَدَمِ مَدِّ بَاءِ أَكْبَرَ وَأَنْ لَا يُشَدِّدَ اْلبَاءَ وَأَنْ لَا يَزِيْدَ وَاوًا سَاكِنَةً أَوْ مُتَحَرِّكَةً بَيْنَ الْكَلِمَتَيْنِ وَأَنْ لَا يَزِيْدَ وَاوًا قَبْلَ الْجَلَالَةِ وَأَنْ لَا يَقِفَّ بَيْنَ كَلِمَتَيِ التَّكْبِيْرِ وَقْفَةً طَوِيْلَةً وَلَا قَصِيْرَةً وَأَنْ يُسْمِعَ نَفْسَهُ جَمِيْعَ حُرُوْفِهَا وَدُخُوْلُ الْوَقْتِ فِي الْمُؤَقَّتِ وَإِيْقَاعُهَا حَالَ الْإِسْتِقْبَالِ وَأَنْ لَا يَخِلَّ بِحَرْفٍ مِنْ حُرُوْفِهَا وَتَأْخِيْرُ تَكْبِيْرَةِ الْمَأْمُوْمِ عَنْ تَكْبِيْرَةِ الْإِمَامِ
Syarat Sah Takbiratul Ihram ada 16 : 
  1. Harus dalam keadaan berdiri, pada shalat fardhu - setelah tegak dan sampai kepada tempat yang mencukupkan padanya membaca Surat Al-Fatihah. (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  2. Harus dengan bahasa arab. Bagi orang yang mampu berbahasa arab (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  3. Harus dengan Lafadz الله. Tidak sah dengan seumpama rangkaian kalimat الرحمن أكبر karena tidak terdapat lafadz الله pada rangkaian kalimat tersebut  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57) 
  4. Harus dengan Lafadz أكبر. Tidak cukup dengan rangkaian kalimat الله كبير karena luputnya "kemahaagungan"  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  5. Harus tertib antara Lafadz الله dan Lafadz أكبر. Tidak cukup dengan rangkaian kalimat اكبر الله karena itu merusak rangkaian kalimat takbir. Jika dia mendatangkan lafadz اكبر untuk kedua kalinya umpamanya dia mengucapkan أكبر الله أكبر kemudian memaksudkan lafadz الله nya sebagai mubtada maka sah, jika tidak dimaksudkan begitu tidak sah.  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  6. Tidak boleh memanjangkan أ Lafadz الله. Jika dia memanjangkan أnya maka tidak sah shalatnya, karena dia mengganti lafadz khabar insya'iyah kepada istifham alias istikhbar. Boleh menjatuhkan bacaan أnya jika diwashalkan dengan kalimat sebelumnya misalnya إماما الله أكبر atau مأموما الله أكبر akan tetapi itu hukumnya khilaful aula. Berbeda dengan أ lafadz أكبر jika mewashalkannya, maka itu tidak boleh menjatuhkannya karena أ lafadz أكبر adalah hamzah qatha.  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  7. Tidak boleh memanjangkan ب Lafadz أكبر. Jika dia mengucapkan الله أكبار maka tidak jadi shalatnya baik dia mengharkatinya dengan harkat fatah maupun mengkasrohkannya. Karena lafadz أكبار dengan fatah hamzah adalah versi jama taktsir lafadz گبَرٍ seperti سَبَبٍ dan أَسْبَابٍ. Dan كَبَرٍ adalah nama bedug. Jika dia menyengaja memanjangkan ب maka dia kufur والعياد بالله  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  8. Tidak boleh mentasydidkan ب Lafadz أكبر. Jika dia mentasydidnya dengan mengucapkan ألله أَكَبَّرُ maka tidak jadi shalatnya  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  9. Antara Lafadz الله dan Lafadz أكبر tidak boleh ditambah dengan و baik yang sukun maupun yang berharokat. Jika dia menambahnya seumpama dia berkata اللهوْ أكبر atau اللهوَ أكبر maka tidak jadi shalatnya. (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  10. Tidak boleh menambahkan و sebelum Lafadz الله. Jika dia menambahnya dengan mengucapkan والله أكبر maka tidak jadi shalatnya karena tidak didahului معطوف  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  11. Antara Lafadz الله Dan Lafadz أكبر tidak boleh berhenti baik lama maupun sebentar. Tidak madharat memisah antara keduanya dengan أداة التعريف seperti الله الأكبر atau sifat yang tidak panjang seperti الله الجليل أكبر atau الله الرحمن الرحيم أكبر. Berbeda jika sifat pemisahnya panjang dengan tiga sifat atau lebih banyak seumpama الله الجليل العظيم الحليم أكبر atau الله الذي لا إله إلا هو الملك القدوس أكبر dan berbeda dengan yang bukan sifat seperti dhamir pada perkataannya الله هو أكبر dan dengan نداء pada perkataan الله يا رحمن أكبر  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  12. Orang yang membaca takbiratul ihram harus memperdengarkan setiap huruf yang terdapat pada Lafadz الله Lafadz أكبر kepada dirinya sendiri. Jika terbukti pendengarannya sehat dan tidak ada yang perkara yang mencegah pendengaran seperti kebisingan dll. Jika pendengarannya tidak sehat, maka naikan volume suaranya seukuran volume yang bisa didengar jika dia tidak tuna rungu. Dan wajib kepada orang yang tiba-tiba menjadi tuna wicara bertakbir dengan menggerakan lisannya, dua bibirnya, dan tenggorokannya sepertihalnya pada tasyahhud akhir, salam, dan dzikir lain. Adapun jika tuna wicaranya asli sejak lahir maka yang tadi tidak wajib terhadapnya.  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  13. Harus sudah masuk waktu shalat pada shalat yang ditentukan waktunya. Baik pada shalat fardhu, shalat sunat, maupun shalat sunat yang memiliki sebab (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  14. Harus sambil menghadap qiblat. Sebagaimana para ulama ahli fiqih madzhab Syafi'i menjadikan menghadap qiblat sebagai salah satu syarat sah shalat.  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  15. Tidak boleh merusak/merubah salah satu huruf dari huruf-hurufnya takbiratul ihram.  Dimaapkan dalam hal ini bagi seorang awam mengganti pengucapan أ lafadz أكبر dengan و. Syaikh Syarqawi memفائدةkan penjelasan tentang ini, begitu juga Syaikhul Islam Ibrohim Al-Bajuri. Dimaapkan juga jika tidak menjazmkan ر lafadz أكبر. Syaikhul Islam Ibrohim Al-Bajuri memفائدةkan penjelasan tersebut. (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)
  16. Harus mengakhirkan takbiratul ihramnya makmum dari takbiratul ihramnya imam. Maka jika makmum membarengi imam pada satu bagian dari takbirotul ihrom imam, tidak sah bermakmumnya dan tidak jadi shalatnya  (Lihat : Kasyifah As-Saja Syarah Safinah An-Naja Hal 57)

Daftar Pustaka

al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā. Al-Haromain

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah ikut berpartisifasi
Komentar anda akan segera kami balas