BAITUSSALAM: Shalat
Tampilkan postingan dengan label Shalat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shalat. Tampilkan semua postingan

Fatihah 4 Madzhab : Wajibkah Makmum Membaca Surat Fatihah di Belakang Imam? Bukankah Imam Menanggung Bacaan Makmum?

Fatihah 4 Madzhab : Syafi'iyah, Malikiyah, Hanabilah & Hanafiyah.
  • Wajibkah Fatihah Dibaca Ketika Shalat?
  • Wajibkah Fatihah Dibaca Pada Setiap Rokaat?
  • Wajibkah Makmum Membaca Surat Fatihah di Belakang Imam?
  • Bukankah Imam Menanggung Bacaan Makmum? 

Khilafiyah ditelusuri tujuannya agar kita mengetahui jalan semua madzhab. Jalan madzhab penting diketahui agar kita tahu diri, di jalan mana kita sah berlalu lintas. 

Basmalah 4 Madzhab : Hukum Membaca Basmalah Setelah Ta'udz Sebelum Hamdalah Ketika Shalat

Wajibkah Fatihah Dibaca Ketika Shalat?

Ittifaq (sependapat) 4 Madzhab bahwa Surat Al-Fatihah harus dibaca ketika shalat, baik shalat fardhu maupun shalat sunat, sekalipun 3 Madzhab ittifaq 1 Madzhab ikhtilaf tentang kategori kedudukannya dalam shalat :
  • Madzhab Syafi'i : Membaca Fatihah pada shalat termasuk salah satu fardhu dari antara kategori fara'idh ash-shalat. 
  • Madzhab Maliki : Membaca Fatihah pada shalat termasuk salah satu fardhu dari antara kategori fara'idh ash-shalat. 
  • Madzhab Hanbali : Membaca Fatihah pada shalat termasuk salah satu fardhu dari antara kategori fara'idh ash-shalat. 
  • Madzhab Hanafi : Membaca Fatihah pada shalat termasuk salah satu wajibah dari antara kategori wajibat ash-shalat. Adapun yang termasuk kategori fara'idh ash-shalat di Madzhab Hanafi adalah Qiro'at-nya secara muthlaq bukan Qiro'at Fatihah-nya secara khusus.
Dalil madzhab Syafi'i, Maliki & Hanbali adalah Hadits : 
لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ [حديث متفق عليه]
"Shalat tidak sempurna bagi orang yang tidak membaca Surat Fatihah Kitab Al-Qur'an" (Muttafaq Alaih)
Dalil madzhab Hanafi adalah QS :
فاقرؤوا ما تيسرمن القرآن
"maka bacakanlah ayat yang mudah dari Al-Qur'an"
Menurut madzhab Hanafi qiroat yang dimaksud dalam ayat ini adalah qiro'at pada shalat, karena shalatlah yang statusnya al-mukallaf bi al-qiro'ah.
dan Hadits :
قوله صلى الله عليه وسلم : إذا قمت إلى الصلاة فأسبغ الوضوء ثم استقبل القبلة ثم اقرأ ما تيسر من القرآن.
"jika kamu sudah waktunya akan mendirikan shalat maka sempurnakanlah wudhu kemudian menghadap qiblatlah kemudian bacalah ayat yang mudah dari Al-Qur'an"
 ولقوله صلى الله عليه وسلم : لا صلاة الا بقراءة
"tidak sempurna shalat kecuali dengan qiro'at"
Oleh karena 2 Hadits ini madzhab Hanafi memasukan qiroat secara muthlaq ke dalam faraidh ash-shalat. Adapun qiro'at fatihah merupakan sub dari qiro'at. Selanjutnya penetapan dalam madzhab Hanafi tentang status fatihah ini berpengaruh juga pada khilafnya dengan 3 madzhab lainnya perihal hukum membacanya pada setiap rokaat karena statusnya disederajatkan dengan qiro'at surat setelahnya.

Wajibkah Fatihah Dibaca Pada Setiap Rokaat?

3 Madzhab ittifaq, 1 Madzhab ikhtilaf. Pada masalah ini Madzhab Hanafi berbeda :
  • Madzhab Syafi'i : Fatihah wajib dibaca pada setiap rakaat, karena termasuk fardhu dari antara fara'idh ash-shalat. Jika sengaja tidak dibaca shalat menjadi batal. Jika tidak dibaca karena lupa, maka rakaat tanpa fatihah tersebut lam yuhsab, sehingga mushalli harus menambah satu rakaat sebagai gantinya.
  • Madzhab Maliki : Fatihah wajib dibaca pada setiap rakaat, karena termasuk fardhu dari antara fara'idh ash-shalat. Jika sengaja tidak dibaca shalat menjadi batal. Jika tidak dibaca karena lupa, maka rakaat tanpa fatihah tersebut lam yuhsab, sehingga mushalli harus menambah satu rakaat sebagai gantinya.
  • Madzhab Hanbali : Fatihah wajib dibaca pada setiap rakaat, karena termasuk fardhu dari antara fara'idh ash-shalat. Jika sengaja tidak dibaca shalat menjadi batal. Jika tidak dibaca karena lupa, maka rakaat tanpa fatihah tersebut lam yuhsab, sehingga mushalli harus menambah satu rakaat sebagai gantinya.
  • Madzhab Hanafi : Qiroat diwajibkan pada 2 rakaat awal dari shalat yang difardhukan. Sebagaimana wajib qiroat fatihah pada 2 rakaat awal dengan kekhususannya fatihah. maka jika mushalli tidak membacanya pada 2 rokaat awal shalat 4 rakaat, maka dia jadi wajib membacanya pada 2 rakaat setelahnya, dan sah shalatnya. Jika dia meninggalkannya karena lupa, maka wajib kepadanya sujud syahwi. Kemudian jika dia tidak sujud sahwi, maka wajib kepadanya mengulangi shalat sebagaimana wajib mengulangi shalat jika dia meninggalkan wajib min wajibah ash-shalat secara sengaja. Kemudian jika dia tidak mengulangi shalatnya maka shalatnya yang tidak diulangi tersebut tetap sah disertai berdosa. Adapun rokaat-rokaat sisanya pada shalat fardhu, maka qiroat fatihah di dalamnya dihukumi sunat. Adapun shalat sunat, maka qiroat fatihah wajib pada setiap rokaatnya. Karena setiap 2 rokaat dari shalat sunat adalah shalat yang mustaqilah/independent sekalipun pada kasus mushalli menyambungkannya dengan shalat sunat lain seperti : mushalli melakukan shalat 4 rokaat dengan 1 kali salam pada kasus menggabungkan witir dengan shalat sunat lain. Maka pada kasus ini fatihah wajib dibaca pada semua rokaatnya.

Wajibkah Makmum Membaca Surat Fatihah di Belakang Imam? Bukankah Imam Menanggung Bacaan Makmum?

3 Madzhab ittifaq, 1 Madzhab ikhtilaf. Kali ini Madzhab Syafi'i yang berbeda :
  • Madzhab Syafi'i : Bacaan fatihah makmum di belakang imam hukumnya difardhukan, kecuali jika makmum statusnya makmum masbuq terhadap seluruh bacaan fatihah atau sebagiannya. maka sesungguhnya imam memikul dari tanggungan kewajiban masbuq yang telah didahului jika imamnya ahli memikul tanggung jawab. Sekira tidak dhahir diketahui oleh makmum bahwa imam hadats atau bahwasanya makmum mendapati imam pada rakaat berlebih dari rakaat yang fardhu.
  • Madzhab Maliki : Bacaan fatihah makmum di belakang imam hukumnya mandubah dalam shalat sirriyyah. Bacaan fatihah makmum di belakang imam hukumnya makruh dalam shalat jahriyah, kecuali mushalli bermaksud dalam rangka menjaga diri dari ikhtilaf. Maka jika dalam rangka muro'atan anil khilafi hukumnya menjadi mandubah.
  • Madzhab Hanbali : Bacaan fatihah makmum di belakang imam hukumnya mustahab dalam shalat sirriyah dan pada tempat pemberhentian bacaan imam dalam shalat jahriyah. Bacaan fatihah makmum di belakang imam hukumnya makruh pada situasi imam membaca fatihah dalam shalat jahriyah.
  • Madzhab Hanafi : Bacaan fatihah makmum di belakang imam hukumnya makruh tahrim pada shalat sirriyyah dan jahriyah. Karena ada Hadits yang diriwayatkan dari sebagian Sabda Nabi SAW : Barangsiapa ada baginya imam maka bacaan fatihah imam baginya adalah bacaan. Hadits ini diriwayatkan dari sejumlah jalur.
Berikut ini kami kutipkan penjelasan dari kitab-kitab rujukan utama dalam Madzhab Imam Syafi'i : 
  • Imam Syafi'i dalam Al-Umm Juz 2 Hal 243
  • Imam Rafi'i dalam Al-Muharror Hal 32
  • Imam Nawawi dalam Raudhah Ath-Thalibin Juz 1 Hal 242
  • Imam Ramli dalam Nihayah Al-Muhtaj Juz 1 Hal 477
  • Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Tuhfah Al-Muhtaj Juz 2 Hal 35.

Imam Syafi'i dalam Al-Umm Juz 2 Hal 243 mengemukakan salah satu Hadits yang dijadikan dasar hukum masalah ini :
لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ [حديث متفق عليه]
"Shalat tidak sempurna bagi orang yang tidak membaca Surat Fatihah Kitab Al-Qur'an" (Muttafaq Alaih)

Imam Rafi'i dalam Al-Muharror Hal 32 :
ثُمَّ الْفَاتِحَةُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ مُتَعَيِّنَةٍ إِلَّا رَكْعَةَ مَسْبُوْقٍ
"Kemudian membaca fatihah pada rakaat yang tentu kecuali rokaat masbuq"

Imam Nawawi dalam Raudhah Ath-Thalibin Juz 1 Hal 242 :
وَاعْلَمْ أَنَّ الْفَاتِحَةَ وَاجِبَةٌ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ إِلَّا فِي رَكْعَةِ الْمَسْبُوقِ إِذَا أَدْرَكَ الْإِمَامَ رَاكِعًا فَإِنَّهُ لَا يَقْرَأُ فِي رَكْعَتِهِ وَتَصِحُّ، وَهَلْ يُقَالُ يَحْمِلُهَا عَنْهُ الْإِمَامُ أَمْ لَمْ تَجِبْ أَصْلًا؟ وَجْهَانِ، قُلْتُ أَصَحُّهُمَا الْأَوَّلُ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

[النووي، روضة الطالبين وعمدة المفتين، ٢٤٢/١]

"Ketahuilah bahwasanya membaca fatihah adalah wajib pada setiap rakaat, kecuali pada rakaat makmum masbuq jika dia menemukan imam dalam keadaan ruku. Maka sesungguhnya dia tidak wajib membaca fatihah pada rakaatnya tersebut dan sah rakaatnya. Dan apakah dikatakan imam memikul bacaan fatihah darinya atau memang tidak wajib sama sekali? Ada 2 pendapat. Menurutku yang pendapat yang paling shahih adalah yang awal. Wallaahu A'lam."

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Tuhfah Al-Muhtaj Juz 2 Hal 35 menjelaskan :
 فَالدَّلِيلُ عَلَى اسْتِعْمَالِهِ فِي الْوَاجِبِ الْخَبَرُ الصَّحِيحُ أَيْضًا «أَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ لِلْمُسِيءِ فِي صَلَاتِهِ إذَا اسْتَقْبَلْت الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ بِأُمِّ الْقُرْآنِ ثُمَّ اصْنَعْ ذَلِكَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ» وَصَحَّ أَيْضًا «أَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كَانَ يَقْرَؤُهَا فِي كُلِّ رَكْعَةٍ» وَمَرَّ خَبَرُ «صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي» وَصَحَّ أَنَّهُ نَهَى الْمُؤْتَمِّينَ بِهِ عَنْ الْقِرَاءَةِ خَلْفَهُ إلَّا بِأُمِّ الْقُرْآنِ حَيْثُ قَالَ «لَعَلَّكُمْ تَقْرَءُونَ خَلْفِي قُلْنَا نَعَمْ قَالَ لَا تَفْعَلُوا إلَّا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَإِنَّهُ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِهَا» (إلَّا رَكْعَةَ مَسْبُوقٍ) فَلَا تَتَعَيَّنُ فِيهَا لِأَنَّهَا وَإِنْ وَجَبَتْ عَلَيْهِ يَتَحَمَّلُهَا الْإِمَامُ عَنْهُ بِشَرْطِهِ كَمَا يَأْتِي فَلَا اعْتِرَاضَ عَلَى عِبَارَتِهِ خِلَافًا لِمَنْ ظَنَّهُ زَاعِمًا أَنَّ ظَاهِرَهَا عَدَمُ وُجُوبِهَا عَلَيْهِ بِالْكُلِّيَّةِ 
Adapun dalil atas penggunaannya pada hukum wajib adalah Hadits yang juga shahih :"Bahwasanya Nabi Muhammad SAW bersabda kepada pelaku shalat, apabila kamu telah menghadap qiblat maka bertakbirlah kemudian bacalah ummul Qur'an dan berbuatlah demikian pada setiap rakaat". Dan shahih juga sebuah hadits : "bahwasanya Nabi Muhammad SAW adalah membacanya pada setiap rakaat". Dan telah berlalu sebuah Hadits : "bershalatlah kalian sebagaimana kaifiyat yang kalian telah melihat kepadaku ketika aku sedang shalat". Dan shahih sebuah hadits tentang bahwasanya Nabi Muhammad SAW telah melarang kepada orang-orang yang terimami dari membaca sesuatu di belakangnya kecuali terhadap ummul Qur'an, sekira beliau bersabda : "mudah-mudahan kalian membaca qiro'at di belakangku. Kami berkata : ya. Beliau bersabda : kalian jangan melakukannya kecuali terhadap fatihah al-kitab, karena sesungguhnya tidak diakui rakaat shalat bagi orang yang tidak membaca fatihah alkitab". Kecuali rakaat makmum masbuq. Maka tidak ditentukan pada rakaat tersebut. Karena sesungguhnya sekalipun fatihah itu wajib kepadanya, imam memikul tanggung jawab membaca fatihah tersebut darinya dengan syarat-syarat tahammulnya sebagaimana akan datang penjelasannya nanti. Dengan demikian tidak ada kontradiktif pada redaksinya. Berbeda dengan ulama yang dzonnya berprasangka bahwa dzahirnya adalah tidak adanya kewajiban membaca fatihah terhadap makmum masbuk secara utuh.

Sementara Imam Asy-Syirwani sebagai pensyarah kitab Tuhfah Al-Muhtaj Imam Ibnu Hajar mengutip penjelasan Imam Ramli dalam Nihayah Al-Muhtaj Juz 1 Hal 477 :
وَأَمَّا خَبَرُ مَنْ صَلَّى خَلْفَ إِمَامٍ فَقِرَاءَةُ الإِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ فَضَعِيْفٌ عِنْدَ الْحُفَّاظِ كَمَا بَيَنَهُ الدَّارُقُطْنِيُ وَغَيْرُهُ نِهَايَةَ

Adapun Hadits : "Barangsiapa shalat di belakang imam maka qira'at imam baginya adalah qira'at" maka itu adalah dha'if menurut para penghapal Hadits sebagaimana penjelasan Imam Ad-Daruqutni dan selainnya. Nihayah Al-Muhtaj Juz 1 Hal 477 (Hawasyi Tuhfah Al-Muhtaj bi Syarh Al-Minhaj Juz 2 Hal 35)

Jadi bagi mushalli madzhab Syafii baik shalat fardhu maupun shalat sunat, baik munfarid maupun berjamaah, baik sebagai imam maupun sebagai makmum, tetap wajib membaca surat Al-Fatihah seutuhnya sampai tuntas pada setiap rokaat shalat. Namun ada pengecualian pada kasus makmum yang status rakaatnya masbuq. Namun itupun bukan berarti tidak wajib, melainkan kewajibannya membaca fatihah terpikul tanggung jawabnya oleh imam. Namun itupun jika imamnya ahlan li at-tahammul, alias memenuhi syarat/kualifikasi menjadi penanggung. 

Apa saja syaratnya? Antara lain sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Nawawi Al-Bantani dalam Nihayah Az-Zain :
ويتحمل عَنهُ إِمَامه الْفَاتِحَة كلهَا بِشَرْط أَن يكون أَهلا للتحمل بِأَن لَا يكون مُحدثا وَلَا فِي رَكْعَة زَائِدَة وَلَا فِي الرُّكُوع الثَّانِي من صَلَاة الْكُسُوف
Dan imamnya memikul bacaan fatihah dari makmum masbuq seutuhnya dengan syarat imam tersebut ahlan li at-tahammul 
  • Dia tidak terbukti berhadats
  • Dia tidak pada rokaat plus
  • Dia tidak pada ruku kedua shalat kusuf.
Begini maksudnya :
  • Rakaat imam saat dimasbuqi oleh makmum masbuq merupakan rokaat yang diyakini oleh makmum masbuq sebagai rokaat imam yang sah. Bukan rokaat imam yang batal dari sudut pandang keyakinan si makmum masbuq, dan bukan pula rokaat imam yang lam yuhsab dari sudut pandang keyakinan si makmum masbuq. 
  • Rakaat Imam pada saat dimasbuqi makmum masbuq merupakan rakaat yang sah masuk hitungan kumulatif rakaat imam secara pribadinya, bukan rakaat yang statusnya lam yuhsab. Contoh rokaat lam yuhsab bagi imam : rokaat ke-3 Imam pada shalat shubuh, rakaat ke-5 imam pada shalat dhuhur, rakaat ke-5 imam pada shalat ashar, rakaat ke-4 imam pada shalat maghrib, rakaat ke-5 imam pada shalat isya, rokaat yang imam lupa telah meninggalkan salah satu rukun shalat di dalamnya.
  • Ruku kedua shalat kusuf? Karena pada saat imam berada di posisi itu berarti makmum sudah tertinggal 5 rukun perbuatan.

Mengenai 3 madzhab lain, penjelasan pada artikel ini merujuk pada 2 kitab perbandingan madzhab : 
  • Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu Juz 1 Hal 645
  • Syaikh Abdurrahman Jabir Al-Jazaairi dalam Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba'ah Juz 2 Hal 207

Daftar Pustaka

Asy-Syafi'i, Imam Muhammad. Al-Umm. Dar Al-Wifa.
Ar-Rafi'i, Imam Abu Al-Qasim. Al-Muharror. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.
An-Nawawi, Imam Muhyiddin. Raudhah Ath-Thalibin. Maktabah Asy-Syamilah.
Al-Haitami, Imam Ibnu Hajar. Tuhfah Al-Muhtaj bi Syarh Al-Minhaj. Matba'ah Mustofa Muhammad.
Ar-Ramli, Imam Syihabuddin. Nihayah Al-Muhtaj ila Syarh Al-Minhaj. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.
Al-Bantani, Syaikh Nawawi. Nihayah Az-Zain. Maktabah Toha Putra.
Az-Zuhaili, Syaikh Wahbah. Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu. Dar Al-Fikr
Al-Jazairi, Syaikh Abdurrohman Jabir. Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba'ahihayah. Maktabah Toha Putra.

14 Kasus Makmum Wajib Mengakhirkan Diri Dari Imam Sekalipun Jadi Tertinggal Sebanyak 3 Rukun Perbuatan Demi Menyelesaikan Bacaan Fatihah

Fatihah Madzhab Syafi'i : Secara kategori kedudukannya dalam shalat, Membaca Surat Al-Fatihah termasuk fardh min fara'idh ash-shalat (salah satu fardhu dari antara fardhu-fardhu shalat) atau istilahnya yang lebih populer rukn min arkan ash-shalat (salah satu rukun dari antara rukun-rukun shalat) Lebih jelasnya membaca fatihah adalah rukun nomor 4 dari antara 17 rukun shalat dan rukun nomor 2 dari antara 5 rukun qouly. 
Surat Al-Fatihah (termasuk basmalah) wajib dibaca dalam setiap rokaat shalat, baik shalat fardhu maupun shalat sunat, baik pada shalat sendiri maupun shalat berjamaah, baik sebagai imam maupun sebagai makmum. 
Makmum wajib membacanya di belakang imam baik pada berjamaah shalat sirriyah (dzuhur, ashar, jenazah, dll.) maupun jahriyah (maghrib, 'isya, shubuh, id, kusuf, khusuf, tarawih, dll.). Namun ada pengecualin pada permasalahan makmum masbuq, dimana bacaan fatihahnya yang tidak tercover menjadi tanggungan imam.

Jadi makmum yang wajib menunaikan kefardhuan membaca fatihah seutuhnya sebagai salah satu rukn min arkan ash-shalat adalah makmum muwaffiq.

Bagaimana jika makmum muwaffiq tidak berhasil membacanya sampai tuntas bersama imam?  Nah, pada "14 Kasus Makmum Wajib Mengakhirkan Diri Dari Imam Sekalipun Tertinggal Sebanyak 3 Rukun Perbuatan Demi Menyelesaikan Bacaan Fatihah" ini kami akan menjelaskan satu per satu kasus lengkap beserta cara penyelesaian step by stepnya.

Pembahasan 14 kasus (masalah) ini beserta tata cara penyelesaiannya merujuk pada penjelasan Syaikh Nawawi Al-Bantani dalam Kasyifah As-Saja ala Safinah An-Naja Hal 75-76 & Nihayah Az-Zain ala Qurrah Al-Ain Hal 124-126 : 
وَالْحَاصِلُ أَنَّهُ قَدْ يُعْرَضُ لِلْمَأْمُوْمِ أَعْذَارٌ تُجَوِّزُ لَهُ أَنْ يَتَخَلَّفَ عَنْ إِمَامِهِ بِثَلَاثَةِ أَرْكَانٍ طَوِيْلَةٍ وَذٰلِكَ فِي أَرْبَعَ عَشَرَةَ مَسْأَلَةً : ألْأُوْلى ...................................إلخ
وَفِي هٰذِهِ جَمِيْعِ الْمَسْائِلِ يُغْتَفَرُ لَهُ التَّخَلُّفُ بِثَلَاثَةِ أَرْكَانٍ طَوِيْلةٍ، وَهٰذَا كُلُّهُ فِي الْمَأْمُوْمِ الْمُوَفِّقِ
"Hasilnya adalah bahwasanya terkadang disuguhkan kepada makmum udzur-udzur yang menjadikan boleh bagi makmum bertakhalluf dari imamnya dengan 3 rukun perbuatan panjang. Dan udzur-udzur itu terdapat pada 14 masalah : 1)...........dst.
Pada semua kasus ini diampuni bagi makmum bertakhalluf dengan 3 rukun perbuatan panjang, dan semuanya berlaku pada makmum muwaffiq." (Syaikh Nawawi Al-Bantani, Nihayah Az-Zain Hal 125-126)
Penting : Makmum muwaffiq maksudnya adalah makmum yang start berjamaah sejak awal bersama imam. Takhalluf maksudnya adalah mengakhirkan diri dari imam. Udzur maksudnya adalah alasan yang dapat diterima oleh syara.

Kasus ke-1

Makmum memiliki keterlambatan dalam membaca surat Al-fatihah, baik karena bawaan sejak lahir maupun dikarenakan ketartilan bacaannya, bukan karena was-was. Di lain pihak, imam membacanya dengan kecepatan normal (mu’tadil). Pada kasus ini imam berhasil menyempurnakan bacaan fatihah, kemudian imam ruku sebelum makmum berhasil menyempurnakan bacaan fatihahnya. Nah, pada kasus ini makmum wajib : takhalluf (takhalluf = mengakhirkan diri dari imam) untuk menyempurnakan bacaan surat Al-fatihahnya dikarenakan kemuwaffiqannya. Dia pada kondisi ini dimaapkan tertinggal dari imam sebanyak 3 rukun perbuatan yang panjang, yaitu : berdiri, ruku dan sujud dua. Tidak dihitung dalam hal ini : I’tidal dan duduk antara sujud dua karena keduanya termasuk kategori rukun perbuatan pendek. Pada tahap berikutnya :
a).Jika makmum
Berhasil menyelesaikan bacaan surat Al-fatihah sebelum imam talabbus / on the way pada rukun keempat yaitu : berdiri atau tasyahhud maka makmum wajib tetap on the track pada rangkaian shalatnya dan secara step by step mengejar rangkaian shalat imam : ruku --> I’tidal --> sujud kesatu --> duduk antara 2 sujud --> sujud kedua --> Berdiri.
  • Jika pada saat berdiri rakaat ke-2 menemukan imam pada posisi ruku, maka dia harus langsung ikut ruku dan gugur darinya kewajiban membaca surat Al-Fatihah. #Jika makmum berhasil thumaninah pada ruku rokaat kedua tersebut sebelum imam bangkit dari ukuran ruku minimum, maka makmum dihitung mendapatkan rakaat kedua bersama imam. #Jika makmum tidak berhasil thumaninah, maka dia tidak mendapatkan rakaat kedua. Maka nanti setelah salam imam, makmum wajib berdiri menambah 1 rakaat lagi.
  • Jika pada saat berdiri rakaat ke-2 menemukan imam pada posisi berdiri sebelum ruku, maka ikuti imam pada posisi itu. #Jika makmum memiliki waktu yang cukup saat itu untuk menyelesaikan bacaan surat Al-fatihah dengan ukuran model bacaan normal, maka dia termasuk kategori muwaffiq rakaat ke-2. Pada kondisi itu yang wajib kepadanya adalah menyempurnakan bacaan surat Alfatihah, selesaikan sampai tuntas sekalipun menjadikannya tertinggal dari imam sebanyak 3 rukun perbuatan panjang sebagaimana praktek sebelumnya pada rokaat ke-1 #Jika makmum tidak memiliki waktu yang cukup saat itu untuk menyelesaikan bacaan surat Al-Fatihah dengan ukuran model bacaan normal, maka dia termasuk kategori masbuq rakaat ke-2. Pada kondisi itu yang wajib kepadanya adalah membaca surat Al-fatihah sesempatnya. Ketika kemudian imam ruku, maka dia wajib mengikutinya ruku dan seterusnya. Perihal fatihah makmum yang belum tuntas ditanggung kekurangannnya oleh imam, karena status makmum pada rakaat ke-2 ini termasuk kategori masbuq.
  • Jika pada saat berdiri rakaat ke-2 menemukan imam pada posisi rukun setelah ruku yaitu bangkit on the way to I’tidal, maka pada kondisi itu yang wajib kepada makmum adalah menyesuaikan dengan imam di posisi imam. Nanti setelah imam mengakhiri shalatnya dengan salam, dia wajib berdiri untuk 1 rakaat lagi, karena rakaat ke-2 ini lam yuhsab/ sah tapi tidak masuk hitungan rakaat kumulatif shalat.
b).Jika makmum
Tidak berhasil menyelesaikan bacaan surat Al-fatihah sebelum imam talabbus / on the track pada rukun keempat, yaitu : berdiri maka makmum selanjutnya wajib tetap di posisi berdiri rokaat ke-1 sebagaimana imam juga berdiri, bedanya kali ini adalah imam di posisi berdiri rakaat ke-2, tapi bacaan fatihah makmum adalah continuous pada bacaan sendiri yang belum selesai tadi. Adapun setelah selesai fatihah, dia harus mengikuti rangkaian shalat imam. Jadi pada gambaran ini, imam mengover lap shalat makmum, makmum kemudian mengikuti. Jangan menjalankan rangkaian shalat sendiri pada kondisi ini, dan jika malah menjalankan rakaat sendiri secara sengaja serta dalam keadaan mengerti tata cara ini, maka batal shalatnya. Tapi jika karena lupa atau tidak mengerti tentang tata cara ini, maka tidak batal shalatnya, hanya saja rakaat yang sudah dia lalui lam yuhsab/tidak dihitung semuanya.
c).Jika makmum
Tidak berhasil menyelesaikan bacaan surat Al-fatihah sebelum imam talabbus / on the track pada rukun keempat, yaitu : berdiri, dan bahkan selesainya tepat pada saat imam bermaksud ruku rakaat kedua, maka yang wajib pada kondisi tersebut adalah ruku bersama imam. Dan dihitung untuk makmum rakaat sambungan : berdirinya rakaat ke-1 --> fatihahnya rakaat ke-1 --> rukunya rakaat ke-2 --> I’tidalnya rakaat ke-2 --> sujud kesatunya rakaat ke-2 --> duduk antara dua sujudnya rakaat ke-2 --> sujud keduanya rakaat ke-2, tapi jumlahnya = 1 rakaat.
d).Jika makmum
Juga tidak berhasil menyelesaikan bacaan fatihahnya pada saat imam bermaksud akan ruku, maka wajib baginya niat mufaroqoh/ memisahkan diri. Jika dia takhalluf pada kondisi ini tanpa berniat mufarroqoh secara sengaja dan dalam keadaan memiliki pengetahuan tentang ini, maka batal shalatnya.

Semua ini jika takhalluf terjadi pada rakaat ke-1 atau ke-3 dari shalat 4 rakaat. 

Jika takhallufnya terjadi pada rakaat ke-2 dari shalat 3 rakaat atau shalat 4 rakaat atau rakaat ke-3 dari shalat 3 rakaat dan imam sudah pada posisi duduk tasyahhud awal atau tasyahhud akhir sedangkan makmum masih pada posisi berdiri membaca surat al-fatihah, maka wajib kepada makmum tersebut untuk meng-cut rukun berdiri dan men-stop bacaan fatihah serta langsung move on tasyahhud bersama imam. Kemudian, nanti setelah berdiri dari tasyahhud makmum wajib isti’naf/memperbaharui lagi bacaan surat Al-fatihah serta tidak boleh melanjutkan bacaan fatihah yang tadi yang belum tamat. Selanjutnya ikuti imam jika rokaat berjamaah bersama imam masih ada.

Kasus ke-2

Makmum memiliki keraguan “apakah saya sudah membaca fatihah atau belum?” 
a).Makmum ragu sebelum ruku dan di lain pihak imam sudah di posisi ruku. Maka pada kondisi ini, makmum wajib : takhalluf dari imam dengan membaca surat al-fatihah sekalipun dengan itu makmum jadi tertinggal sebanyak 3 rukun perbuatan dari imam. Ini baru hanya sebatas ragu, bagaimana jika memang tau? Misalnya ada yang memberitahu bahwa dia belum membaca surat al-Fatihah, maka konsekuensinya sama saja. 
a).Makmum ragu ketika sedang ruku bersama imam. Nah, pada kondisi ini makmum wajib : tetap bersama imam tidak boleh kembali ke posisi berdiri. Ikuti imam sampai akhir shalat imam, kemudian makmum berdiri menambah satu rakaat karena rakaat yang diragukan fatihahnya tadi termasuk rokaat lam yuhsab/tidak dihitung/tidak masuk rokaat kumulatif.

Kasus ke-3

Makmum lupa bahwasanya dia sedang shalat dan menyebabkan dia tidak membaca surat Al-fatihah karena kelupaannya tersebut, dan tersadarkan sebelum turun ke posisi ruku serta imam sudah di posisi ruku. Nah, pada kasus ini makmum wajib : takhalluf untuk membaca dan menuntaskan bacaan surat Al-fatihah sekalipun dengan itu dia menjadi tertinggal sebanyak 3 rukun perbuatan dari imam sepertihalnya pada nomor sebelumnya.

Kasus ke-4

Makmum kacau pikirannya ketika sedang membaca surat Al-fatihah. kemudian pikirannya jreng alias sadar.
a)sadar sewaktu imam belum ruku. Nah, pada kasus ini makmum wajib : membaca fatihah dan menyelesaikannya sekalipun mengakibatkan tertinggal dari imam sebanyak 3 rukun perbuatan. Ini jika dia sadar sebelum imam ruku.
b)sadar setelah dia ruku bersama imam. Nah, pada kasus ini makmum wajib : mengikuti rangkaian shalat imam sampai imam mengakhiri shalatnya dengan assalamu alaikum. Setelah itu dia wajib berdiri menambah 1 rakaat karena rokaat bermasalah tadi menjadi rokaat lam yuhsab/tidak dihitung/tidak masuk hitungan rokaat kumulatif.

Kasus ke-5

Makmum memiliki kemampuan untuk membaca surat Al-Fatihah secara normal. Kemudian sebelum membaca fatihah dia membaca bacaan sunat, seperti : doa iftitah dan ta'awwudz.
a).Dengan bermodal prasangka
"Akan berhasil menyelesaikan fatihah sebelum imam ruku". Sayangnya ternyata prasangkanya salah. Ketika dia belum menyelesaikan bacaan surat Al-fatihah, imam ternyata turun untuk ruku. Nah, pada kasus ini makmum wajib : menyelesaikan bacaan surat Al-Fatihah sekalipun dengan menyelesaikannya menjadi tertinggal dari imam sebanyak 3 rukun perbuatan. 
b).Dengan bermodal keyakinan
"Tidak akan berhasil menyelesaikan fatihah sebelum imam ruku". Kemudian dia tetap keukeuh peuteukeuh memaksakan diri untuk membaca doa iftitah dan ta'awwudz, Sayangnya ternyata keyakinannya terbukti benar terjadi. Ketika dia belum menyelesaikan bacaan surat Al-fatihah, imam ternyata turun untuk ruku. Nah, pada kasus ini makmum wajib : menyelesaikan bacaan fatihah, tapi tidak ada udzur/kompensasi syara baginya tertinggal 3 rukun dari imam. Pada penyelesaian masalah ini jika makmum tertinggal dari imam sebanyak 2 rukun perbuatan secara tam/sempurna, maka batal shalatnya. Jika dia tidak mau batal, sebelum tertinggal 2 rukun dari imam bersegeralah melakukan salah satu dari 2 opsi alternatif ini : 
  1. Langsung menyesuaikan dengan imam di posisi ruku saat itu (karena secara hitungan 2 rukun tam/sempurna, maka batas akhirnya adalah otewe bangkitnya imam dari ruku ke i'tidal) Nah, kemudian nanti setelah imam mengakhiri shalatnya dengan Assalamu Alaikum makmum pikasebeleun ini wajib : berdiri menambah 1 rokaat karena rokaat yang tadi yang tidak sempat menyelesaikan bacaan fatihah menjadi rakaat lam yuhsab/tidak diakui.
  2. Mufaroqoh/memisahkan diri dari imam. Nah, untuk opsi alternatif ini makmum wajib : Berniat mufaroqoh di dalam hati sebelum melanjutkan shalat secara munfarid. Tidak perlu diucapkan, cukup di dalam hati saja. kemudian shalatlah secara munfarid dengan melanjutkan hanca. Jika makmum mufaroqoh dari imam tanpa meniatkan mufaroqoh maka shalatnya batal, karena menempuh rangkaian shalat sendiri sementara hubungan kewajiban mengikuti imam masih melekat pada shalatnya.

Kasus ke-6

Makmum menunggu imam menyelesaikan bacaan surat Al-fatihah dengan maksud dia akan membaca surat Al-fatihah tersebut setelah imam menyelesaikan bacaannya. Ternyata setelah menyelesaikan bacaan surat Al-Fatihah, imam malah langsung ruku tidak membaca surat lain. Sehingga makmum tidak ada kesempatan sama sekali untuk membaca surat Al-FatihahNah, pada kasus ini : walaupun akar masalahnya bukan kesalahan makmum, makmum tetap wajib menyelesaikan bacaan surat al-fatihah sekalipun berakibat tertinggal dari imam sebanyak 3 rukun perbuatan.

Kasus ke-7

Makmum kalah cepat bacaan dari imam saat bertasyahhud awal. Dalam keadaan kalah cepat tersebut, makmum tetap berinisiatif untuk menyelesaikan bacaan tasyahhud awal. Sehingga setelah berdiri pada rakaat ke-3 dia tidak memiliki waktu yang cukup untuk menyelesaikan bacaan surat al-fatihah bersamaan dengan imamNah, pada rakaat ke-3 ini makmum wajib : menyelesaikan bacaan surat al-fatihah sekalipun berakibat pada tertinggalnya dia dari imam sebanyak 3 rukun perbuatan.

Kasus ke-8

Makmum ketiduran ketika sedang bertasyahhud awal dengan posisi pantat tidak goyah / tidak goyang / tidak eundeuk-eundeukan tetap menempel pada bumi. Ketika dia sadar, kemudian berdiri untuk menyesuaikan dengan posisi imam yang sudah berdiri rakaat ke-3, tapi sayangnya dia tidak bisa mengejar bacaan surat Al-Fatihah ImamNah, pada rakaat ke-3 ini makmum wajib : menyelesaikan bacaan surat Al-fatihah rakaat ke-3 sekalipun berakibat pada tertinggalnya dia dari imam sebanyak 3 rukun perbuatan.

Kasus ke-9

Makmum ketika sedang pada posisi sujud kedua rokaat ke-2 mendengar imam bertakbir, kemudian makmum bangkit dari sujud dan bertasyahhud awal karena dia kira imam bertasyahhud awal, padahal imam berdiri untuk rokaat ke-3 tanpa tasyahud awal. Beberapa waktu kemudian makmum tau, ternyata imam sudah berdiri pada rakaat ke-3 tanpa tasyahhud awal. Kemudian makmumpun berdiri, dan tentu saja Missed Comunication tadi menyebabkan dia terlambat start membaca surat Al-fatihah. Nah, pada rakaat ke-3 ini makmum wajib :  menyelesaikan bacaan surat Al-Fatihah sampai tuntas, sekalipun pada rakaat ke-3 ini makmum jadi tertinggal dari imam sebanyak 3 rukun perbuatan.

Kasus ke-10

Makmum sedang pada pertengahan membaca surat Al-Fatihah, kemudian dia mendengar takbir. Dia tertipu, dikiranya itu takbir intiqal imam dari berdiri ke ruku. Kemudian dia ruku dan meninggalkan setengah bacaan Surat Al-Fatihah. Setelah dalam posisi ruku, kemudian dia sadar bahwa dia sudah tertipu dan Imam masih berdiriNah, pada kasus ini makmum wajib :  kembali kepada posisi berdiri dan wajib melanjutkan setengah bacaan surat Al-Fatihah yang tadi belum dibaca sampai tuntas. jika pada saat menyelesaikan setengah bacaan surat Al-Fatihah ini sang imam ruku, makmum wajib tetap berdiri menuntaskan bacaan surat Al-Fatihah sekalipun mengakibatkan tertinggal dari imam sebanyak 3 rukun perbuatan.

Kasus ke-11

Makmum yang dalam keadaan di posisi sujud kedua kemudian dia lupa bahwa dia itu sedang bermakmum. Dia tetap anteng dalam kelupaannya sampai kemudian imam sudah berpindah ke posisi ruku rokaat selanjutnya. Misalnya : Karena dia lupa, saat sujud tersebut dia santai saja membaca bacaan tasbih sebanyak 11 kali. Kemudian makmum tersebut ingat, kemudian berdiri. Sayangnya ketika dia berdiri, imam sudah ruku. Nah, pada kasus ini makmum wajib : menuntaskan Surat Al-Fatihah rakaat selanjutnya tersebut, sekalipun pada rokaat selanjutnya tersebut makmum menjadi tertinggal dari imam sebanyak 3 rukun perbuatan.

Kasus ke-12

Makmum yang ragu tentang durasi waktu yang dapat dia idrok bersama imam setelah takbirotul ihrom, “apakah durasi tersebut cukup untuk membaca surat Al-Fatihah atau tidak?” Nah, pada kasus ini makmum wajib : mengatasi keraguan tersebut dengan menuntaskan bacaan surat Al-Fatihah. Baca sampai tuntas, sekalipun dengan membacanya dapat mengakibatkan tertinggalnya makmum tersebut dari imam sebanyak 3 rukun perbuatan.

Kasus ke-13

Makmum yang bernadzar sebelum shalat untuk membaca surat tertentu pada shalat setelah surat Al-fatihah. Kemudian Imam turun melakukan ruku’ sebelum makmum menyelesaikan bacaan surat tertentu yang dinadzarkan tersebutNah, pada kasus ini makmum wajib : melanjutkan bacaan surat tertentu yang dinadzarkan tersebut. Sekalipun dengan menuntaskannya menyebabkan tertinggal dari imam sebanyak 3 rukun, shalatnya tidak batal karena udzur ini.

Kasus ke-14

Makmum yang ragu-ragu sebelum rukunya, sedangkan imam baru saja ruku. Dia ragu tentang huruf-huruf surat Al-Fatihah, “apakah dia mendatangkan semuanya atau ada salah satunya yang terlewat?” Nah, pada kasus ini makmum wajib : membaca 1 ayat yang hurufnya diragukan tersebut. Sekalipun dengan membaca ayat ini akibatnya makmum menjadi tertinggal 3 rukun perbuatan dari imam.

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa melimpahkan rahmat dan ridhaNya kepada Asy-Syaikh Al-Imam Al-'Alim Al-'Alamah Al-Fadhil Abu Abd Al-Mu'thi Muhammad Nawawi Ibn Umar Al-Jawi dan semoga semua ilmunya senantiasa bermanfaat bagi kita semua, aamiin. Penjelasan beliau sangat sering dijadikan referensi kami, baik untuk penulisan artikel baitussalam.web.id terlebih untuk amaliyah sehari-hari.

Daftar Pustaka

Al-Bantani, Syaikh Nawawi. Nihayah Az-Zain dan Kasyifah As-Saja. Maktabah Toha Putra.

Tata Cara Shalat Idul Fithri & Idul Adha Secara Berjamaah Maupun Sendiri di Rumah Menurut Ulama Fiqih Madzhab Imam Syafii

Secara umum tata cara shalat idul fithri & idul adha adalah sepertihalnya cara melaksanakan shalat pada umumnya baik ditinjau dari aspek rukun, syarat sah, hal-hal yang membatalkannya maupun sebagian besar sunat-sunat di dalamnya.

Perbedaannya dari aspek rukun hanya terdapat pada redaksi niat. Perbedaannya dari aspek syarat hanya terdapat pada waktu pelaksanaan. Tidak ada perbedaan dari aspek mubthilat. Namun dari aspek hal-hal yang disunatkan memang ada yang unik, keunikannya itu karena pada saat berdiri sebelum ta'udz disunatkan untuk takbir sebanyak 7 kali untuk rakaat kesatu (antara setiap takbir dipisah dengan bacaan Baqiyah Ash-shalihah) dan 5 kali untuk rakaat kedua (antara setiap takbir dipisah dengan bacaan Baqiyah Ash-shalihah). Adapun yang dimaksud dengan istilah baqiyah ash-shalihah adalah bacaan :

سُبْحَانَ اللّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ

Oleh karena fungsi baqiyah ash-shalihah ini hanya sebagai pemisah antara masing-masing takbir tersebut, maka jumlah bacaannya pada rakaat pertama menjadi hanya 6 bukan 7 dan pada rakaat kedua hanya 4 bukan 5

Penting juga difahami bahwa oleh karena kedudukan hukum 7 takbir + 6 baqiyah ash-shalihah pada rakaat kesatu dan 5 takbir + 4 baqiyah ash-shalihah pada rakaat kedua ini adalah sunat hai'at, maka jika lupa tidak dilakukan tidak menjadi sebab disunatkannya sujud sahwi, karena tidak termasuk sunat ab'adh. Bahkan jika sengaja tidak dilakukanpun shalat id tetap sah, karena tidak termasuk rukun. Tapi hukumnya makruh jika sengaja tidak dilakukan. 

Tata cara pelaksanaannya jika kita melakukan shalat id tanpa 7 takbir + 6 baqiyah ash-shalihah pada rakaat kesatu dan 5 takbir + 4 baqiyah ash-shalihah pada rakaat kedua adalah sepertihalnya ketika kita melakukan : shalat sunat wudhu, shalat sunat tahiyatul masjid atau shalat sunat rawatib 2 rakaat.

Berikut ini adalah step by step tata cara shalat sunat idul fithri & idul adha secara sempurna menurut para Ulama ahli fiqih madzhab Imam Syafi'i :

Tata Cara Shalat Id Berjamaah

  1. Imam mentalafudzkan niat shalat idul fithri atau niat shalat idul adha diikuti oleh makmum. Baca 12 redaksi niat shalat id untuk imam, makmum atau sendiri baik dilakukan pada waktunya maupun secara qadha
  2. Imam bertakbirotul-ihrom (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) disertai niat di dalam hati. Setelah imam selesai takbirotul ihrom, kemudian semua makmum bertakbirotul ihrom disertai niat di dalam hati. warning!!! : shalat makmum tidak sah jika makmum mencuri start dengan mulai bertakbirotul ihrom sebelum imam selesai takbirotul ihrom dengan mengakhiri pengucapan huruf ر lafadz أكبر
  3. Imam dan makmum membaca doa iftitah dengan suara pelan. Karena sunatnya pelan
  4. Imam melakukan takbir sunat ke-1 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan.
  5. Imam melakukan takbir sunat ke-2 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  6. Imam melakukan takbir sunat ke-3 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  7. Imam melakukan takbir sunat ke-4 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  8. Imam melakukan takbir sunat ke-5 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  9. Imam melakukan takbir sunat ke-6 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  10. Imam melakukan takbir sunat ke-7 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Warning!!! : Imam dan makmum tidak perlu membaca baqiyah ash-shalihah setelah takbir sunat ke-7, karena baqiyah ash-shalihah dalam hal ini difungsikan sebagai fashilah/pemisah antar takbir saja.
  11. Imam membaca Ta'udz dengan suara pelan, kemudian imam membaca Surat Alfatihah dengan suara nyaring. Sementara makmum diam saja khusyu' mendengarkan bacaan imam. Setelah imam selesai membaca Surat Al-Fatihah, kemudian makmum serentak mengucapkan "aamiiiin". Warning!!! : Basmalah menurut madzhab Imam Syafii termasuk salah satu ayat Surat Al-Fatihah. Jadi baik imam maupun makmum wajib membaca بسم الله الرحمن الرحيم sebelum membaca الحمد لله رب العالمين jika tidak dibaca maka bacaan fatihahnya tidak lengkap jika fatihah tidak dibaca selengkapnya maka bacaan fatihahnya tidak diakui sebagai suatu rukun yang utuh dari antara rukun-rukun shalat yang 17 jika salah satu rukun shalat sengaja tidak dipenuhi maka shalat tidak sah. Saran kami : "jika imam shalat bermadzhab hanafi, maliki atau hambali dan makmumnya bermadzhab syafii, tolong basmalahnya dibaca saja, toh bagi madzhab hanafi, maliki maupun hambali sekalipun basmalahnya dibaca sangat tidak berdampak pada sah atau tidaknya shalat, demi sahnya shalat makmum bermadzhab syafi'iyah. Silahkan baca hukum membaca basmalah setelah ta'udz sebelum hamdalah ketika shalat menurut ulama fiqih 4 madzhab jika belum tau
  12. Imam membaca surat lain selain surat Al-Fatihah (diutamakan surat ق atau سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى jika memungkinkan) dengan suara nyaring. Sedangkan makmum saat ini membaca Ta'udz --> Surat Al-Fatihah --> mengamini bacaan sendiri.
  13. Imam melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk ruku' diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca bacaan ruku seperti biasa.
  14. Imam melakukan tasmi' intiqol (mengucapkan سمع الله لمن حمده sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk ruku' diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca bacaan i'tidal seperti biasa. Warning!!! : Yang sunat dinyaringkan oleh makmum bukan tasmi سمع الله لمن حمده  melainkan ربنا لك الحمد tapi ini hukumnya sunat.
  15. Imam melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk sujud ke-1 diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca bacaan sujud ke-1 seperti biasa.
  16. Imam melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk duduk antara 2 sujud diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca bacaan duduk antara 2 sujud seperti biasa.
  17. Imam melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk sujud ke-2 diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca bacaan sujud ke-2 seperti biasa.
  18. Imam melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk berdiri ke rakaat kedua diikuti oleh makmum. Kemudian memulai rakaat kedua. Kemudian diam seukuran thumaninah yaitu sedurasi bacaan subhanallah.
  19. Imam melakukan takbir sunat ke-1 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan. Warning!!! : takbir sunat ke-1 pada rakaat kedua ini tidak didahului sebelumnya dengan doa iftitah, karena doa iftitah merupakan doa pembuka shalat bukan pembuka rokaat.
  20. Imam melakukan takbir sunat ke-2 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  21. Imam melakukan takbir sunat ke-3 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  22. Imam melakukan takbir sunat ke-4 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  23. Imam melakukan takbir sunat ke-5 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring diikuti oleh makmum. Warning!!! : Imam dan makmum tidak perlu membaca baqiyah ash-shalihah setelah takbir sunat ke-5 ini karena baqiyah ash-shalihah dalam hal ini difungsikan sebagai fashilah/pemisah antar takbir saja.
  24. Imam membaca Ta'udz dengan suara pelan, kemudian imam membaca Surat Alfatihah dengan suara nyaring. Sementara makmum diam saja khusyu' mendengarkan bacaan imam. Setelah imam selesai membaca Surat Al-Fatihah, kemudian makmum serentak mengucapkan "aamiiiin". Warning!!! : Basmalah menurut madzhab Imam Syafii termasuk salah satu ayat Surat Al-Fatihah. Jadi baik imam maupun makmum wajib membaca بسم الله الرحمن الرحيم sebelum membaca الحمد لله رب العالمين jika tidak dibaca maka bacaan fatihahnya tidak lengkap jika fatihah tidak dibaca selengkapnya maka bacaan fatihahnya tidak diakui sebagai suatu rukun yang utuh dari antara rukun-rukun shalat yang 17 jika salah satu rukun shalat sengaja tidak dipenuhi maka shalat tidak sah. Saran kami : "jika imam shalat bermadzhab hanafi, maliki atau hambali dan makmumnya bermadzhab syafii, tolong basmalahnya dibaca saja, toh bagi madzhab hanafi, maliki maupun hambali sekalipun basmalahnya dibaca sangat tidak berdampak pada sah atau tidaknya shalat, demi sahnya shalat makmum bermadzhab syafi'iyah."
  25. Imam membaca surat lain selain surat Al-Fatihah (diutamakan untuk rakaat kedua surat اِقْتَرَبَتِ atau surat اَلْغَاشِيَةُ jika memungkinkan) dengan suara nyaring. Sedangkan makmum membaca Ta'udz --> Surat Al-Fatihah --> mengamini bacaan sendiri.
  26. Imam melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk ruku' diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca bacaan ruku seperti biasa.
  27. Imam melakukan tasmi' intiqol (mengucapkan سمع الله لمن حمده sambil mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk ruku' diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca bacaan i'tidal seperti biasa. Warning!!! : Yang sunat dinyaringkan oleh makmum bukan tasmi سمع الله لمن حمده  melainkan ربنا لك الحمد tapi ini hukumnya sunat jadi tidak perlu ribut gara-gara ini
  28. Imam melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk sujud ke-1 diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca bacaan sujud ke-1 seperti biasa.
  29. Imam melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk duduk antara 2 sujud diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca bacaan duduk antara 2 sujud
  30. Imam melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk sujud ke-2 diikuti oleh makmum. Kemudian imam dan makmum membaca bacaan sujud ke-2 seperti biasa
  31. Imam melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) dengan suara nyaring untuk duduk tasyahhud akhir. Kemudian membaca bacaan tasyahhud akhir, shalawat kepada Nabi dalam rangkaian shalawat ibrohimiyah, doa memohon perlindungan dan doa memohon ketetapan iman seperti biasa.
  32. Imam membaca السلام عليكم ورحمة الله sambil menoleh ke sebelah kanan. Kemudian membaca السلام عليكم ورحمة الله sambil menoleh ke sebelah kiri. Kemudian makmum membaca السلام عليكم ورحمة الله sambil menoleh ke sebelah kanan. Kemudian membaca السلام عليكم ورحمة الله sambil menoleh ke sebelah kiri. Warning!!! : Batal shalat makmum jika membaca salam mendahului imam. Jika makmum membaca salam bersamaan dengan imam atau sebelum imam selesai mengucapkan salam pertama dengan mengakhiri pengucapan huruf م pada lafadz عليكم maka shalat makmum tidak batal akan tetapi hukumnya makruh dan berpotensi menghilangkan fadhilah berjamaah. Adapun sunatnya dalam hal ini adalah setelah imam selesai mengucapkan salam kedua dengan mengakhiri pengucapan huruf م lafadz عليكم yang kedua.
  33. Kemudian imam mengusap wajah sambil membaca أشهد أن لا إله إلا هو الرحمن الرحيم اللهم أذهب عني الهم والحزن begitupula makmum. Warning!!! : Akhir shalat adalah salam bukan doa ini. Amaliyah ini sering difahami secara keliru : banyak yang keliru menganggap ini bagian dari rangkaian shalat padahal akhir shalat adalah salam dan banyak juga yang keliru menganggap ini bid'ah padahal termasuk amaliyah sunnah yang berlandaskan Hadits Shahih. Untuk lebih jelasnya silahkan baca  hukum sunat amaliyah sunnah mengusap wajah setelah salam shalat menurut ulama ahli fiqih madzhab Imam Syafi'i
  34. Kemudian dilanjutkan dengan khutbah idul fithri atau khutbah idul adha
  35. Selesai

Tata Cara Shalat Id Sendiri

  1. Mentalafudzkan niat shalat idul fithri atau niat shalat idul adha
  2. Takbirotul-ihrom (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan dengan suara yang bisa didengar oleh diri sendiri) disertai niat di dalam hati. 
  3. Membaca doa iftitah dengan suara pelan.
  4. Melakukan takbir sunat ke-1 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) kemudian membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan.
  5. Melakukan takbir sunat ke-2 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) kemudian membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  6. Melakukan takbir sunat ke-3 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) kemudian membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  7. Melakukan takbir sunat ke-4 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) kemudian membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  8. Melakukan takbir sunat ke-5 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) kemudian membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  9. Melakukan takbir sunat ke-6 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) kemudian membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  10. Melakukan takbir sunat ke-7 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) Warning!!! : Tidak perlu membaca baqiyah ash-shalihah setelah takbir sunat ke-7, karena baqiyah ash-shalihah dalam hal ini difungsikan sebagai fashilah/pemisah antar takbir saja.
  11. Membaca Ta'udz dengan suara pelan, kemudian membaca Surat Alfatihah dengan suara pelan. Setelah selesai membaca Surat Al-Fatihah, kemudian mengucapkan "aamiiiin". Warning!!! : Basmalah menurut madzhab Imam Syafii termasuk salah satu ayat Surat Al-Fatihah. Jadi mushalli wajib membaca بسم الله الرحمن الرحيم sebelum membaca الحمد لله رب العالمين jika tidak dibaca maka bacaan fatihahnya tidak lengkap jika fatihah tidak dibaca selengkapnya maka bacaan fatihahnya tidak diakui sebagai suatu rukun yang utuh dari antara rukun-rukun shalat yang 17 jika salah satu rukun shalat sengaja tidak dipenuhi maka shalat tidak sah. 
  12. Membaca surat lain selain surat Al-Fatihah (diutamakan surat ق atau سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى jika memungkinkan) dengan suara pelan. 
  13. Melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) untuk ruku'. Kemudian membaca bacaan ruku seperti biasa.
  14. Melakukan tasmi' intiqol (mengucapkan سمع الله لمن حمده sambil mengangkat kedua tangan) untuk i'tidal. Kemudian membaca bacaan i'tidal seperti biasa
  15. Melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) untuk sujud ke-1. Kemudian membaca bacaan sujud ke-1 seperti biasa.
  16. Melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) untuk duduk antara 2 sujud. Kemudian membaca bacaan duduk antara 2 sujud seperti biasa.
  17. Melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) untuk sujud ke-2, Kemudian membaca bacaan sujud ke-2 seperti biasa.
  18. Melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) untuk berdiri ke rakaat kedua. Kemudian memulai rakaat kedua.
  19. Melakukan takbir sunat ke-1 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) Kemudian membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan. Warning!!! : takbir sunat ke-1 pada rakaat kedua ini tidak didahului sebelumnya dengan doa iftitah, karena doa iftitah merupakan doa pembuka shalat bukan pembuka rokaat.
  20. Melakukan takbir sunat ke-2 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) Kemudian membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  21. Melakukan takbir sunat ke-3 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) Kemudian membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  22. Melakukan takbir sunat ke-4 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) Kemudian membaca baqiyah ash-shalihah satu kali dengan suara pelan
  23. Melakukan takbir sunat ke-5 (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) Warning!!! : tidak perlu membaca baqiyah ash-shalihah setelah takbir sunat ke-5 ini karena baqiyah ash-shalihah dalam hal ini difungsikan sebagai fashilah/pemisah antar takbir saja.
  24. Membaca Ta'udz dengan suara pelan, kemudian membaca Surat Alfatihah dengan suara pelan. Setelah selesai membaca Surat Al-Fatihah, kemudian mengucapkan "aamiiiin". Warning!!! : Basmalah menurut madzhab Imam Syafii termasuk salah satu ayat Surat Al-Fatihah. Jadi mushalli wajib membaca بسم الله الرحمن الرحيم sebelum membaca الحمد لله رب العالمين jika tidak dibaca maka bacaan fatihahnya tidak lengkap jika fatihah tidak dibaca selengkapnya maka bacaan fatihahnya tidak diakui sebagai suatu rukun yang utuh dari antara rukun-rukun shalat yang 17 jika salah satu rukun shalat sengaja tidak dipenuhi maka shalat tidak sah. 
  25. Membaca surat lain selain surat Al-Fatihah (diutamakan untuk rakaat kedua surat اِقْتَرَبَتِ atau surat اَلْغَاشِيَةُ jika memungkinkan) dengan suara pelan. 
  26. Melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر sambil mengangkat kedua tangan) untuk ruku'. Kemudian membaca bacaan ruku seperti biasa.
  27. Melakukan tasmi' intiqol (mengucapkan سمع الله لمن حمده sambil mengangkat kedua tangan) untuk i'tidal. Kemudian membaca bacaan i'tidal seperti biasa
  28. Melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) untuk sujud ke-1 Kemudian membaca bacaan sujud ke-1 seperti biasa.
  29. Melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) untuk duduk antara 2 sujud. Kemudian membaca bacaan duduk antara 2 sujud seperti biasa.
  30. Melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) untuk sujud ke-2. Kemudian membaca bacaan sujud ke-2
  31. Melakukan takbir intiqol/perpindahan (mengucapkan الله أكبر tanpa mengangkat kedua tangan) untuk duduk tasyahhud akhir. Kemudian membaca bacaan tasyahhud akhir. Kemudian membaca bacaan tasyahhud akhir, shalawat kepada Nabi dalam rangkaian shalawat ibrohimiyah, doa memohon perlindungan dan doa memohon ketetapan iman seperti biasa.
  32. Membaca السلام عليكم ورحمة الله sambil menoleh ke sebelah kanan. Kemudian membaca السلام عليكم ورحمة الله sambil menoleh ke sebelah kiri. Warning!!! : Bacaan takbirotul ihrom, bacaan Surat Al-fatihah, bacaan tasyahhud akhir, bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad, bacaan السلام عليكم wajib bisa didengar oleh diri sendiri (Lihat : Hasyiyah Al-Bajuri Juz 1 Hal 147 148 155 157, Fathul Muin Hal 16, Kasyifah As-Sajaa Hal 53 54 57 58)
  33. Kemudian imam mengusap wajah sambil membaca أشهد أن لا إله إلا هو الرحمن الرحيم اللهم أذهب عني الهم والحزن begitupula makmum. Warning!!! : Akhir shalat adalah salam bukan doa ini. Amaliyah ini sering difahami secara keliru : banyak yang keliru menganggap ini bagian dari rangkaian shalat padahal akhir shalat adalah salam dan banyak juga yang keliru menganggap ini bid'ah padahal termasuk amaliyah sunnah yang berlandaskan Hadits Shahih (Lihat Penjelasan Imam Nawawi dalam Al-Adzkar Hal 69, Sayid Abu Bakar dalam I'anah Ath-Thalibin Juz 1 Hal 184 & Syaikh Abdurrahman Ba'alawi dalam Bughiyah Al-Mustarsyidin Hal 49)
  34. Selesai

Hal ini sebagaimana penjelasan para ulama ahli fiqih madzhab Imam Syafii, antara lain : 

وهي كسائر الصلوات في الأركان والشروط والسنن فان أراد الأقل اقتصر على ما يسن في غيرها فأقلها ركعتان كسنة الوضوء وان أراد الإكمال أتى بالتكبير تالآتي

Shalat id adalah sepertihalnya shalat selainnya dalam hal rukun-rukunnya, syarat-syaratnya dan sunat-sunatnya. Maka jika seseorang bermaksud melaksanakan minimalnya, maka dia mengiqtisharnya terhadap sebagaimana tata cara yang disunatkan pada shalat sunat selainnya, dan minimalnya adalah 2 rakaat sebagaimana shalat sunat setelah wudhu. Dan jika seseorang bermaksud melaksanakan maksimalnya, maka dia mendatangkan takbir yang akan dijelaskan nanti... [Syaikhul Islam Ibrohim Al-Baijuri, Hasyiyah Al-Bajuri Jilid 1 Halaman 225 - Diterjemahkan oleh : Cucu Anwar Mubarok]


وهي كسائر الصلوات في الأركان والشروط والسنن وأقلها ركعتان كسنة الوضوء وأكمالها ركعتان بالتكبير الأتي ويجب في نيتها التعيين من كونها صلاة عيد الفطر أو صلاة أضحى في كل من أدائها وقضائها

Shalat id adalah sepertihalnya shalat selainnya dalam hal rukun-rukun, syarat-syarat dan sunat-sunat. Minimal praktek pelaksanaannya adalah 2 rakaat sebagaimana shalat sunat setelah wudhu, Maksimalnya adalah 2 rakaat dengan takbir yang akan dijelaskan nanti. Wajib pada niatnya dispesifikan identitas shalatnya bahwa yang diniatkan tersebut الْفِطْرِ atau الْأَضْحَى. Kemudian pada Masing-masingnya أَدَاءً atau قَضَاءً

أَدَاءً = dikerjakan pada waktunya yaitu pada hari raya idul fithri atau pada hari raya idul adha tersebut antara setelah terbit matahari sampai tergelincirnya matahari. قَضَاءً = dikerjakan setelah lewat waktu أَدَاءً

[Sayid Abu Bakar Al-Bakri, I'anah Ath-Thalibin Jilid 1 Halaman 261 - Diterjemahkan oleh Cucu Anwar Mubarok] 


وهي ركعتان يكبر في الأولى سبعا سوى تكبيرة الإحرام وفي الثانية خمسا سوى تكبيرة القيام ويخطب بعدها خطبتين
كفاية الأخيار ج ١ ص ١٥٣
Shalat idain itu 2 rakaat. Bertakbir pada rakaat kesatu 7 kali selain takbirotul ihrom, dan pada rakaat kedua 5 kali selain takbir berdiri, dan berkhutbah setelahnya 2 khutbah. [Imam Taqiyuddin Al-Hishni, Kifayah Al-Akhyar Jilid 1 Halaman 153 - Diterjemahkan oleh : Cucu Anwar Mubarok]


وهي ركعتان كغيرها في الأركان والشروط ، وأقلها أن يحرم بالركعتين بنية صلاة عيد الفطر أو الأضحى ، ويصليها كراتبة الظهر مثلا ، وأكمالها أن يكبر في الركعة الأولى سبع تكبيرات بعد تكبيرة الإحرام وبعد دعاء الإفتتاح وقبل التعوذ ، ويرفع يديه في كل تكبيرة كما في التحرم ، ويسن أن يفصل بين كل اثنين منها بقدر أية معتدلة يهلل ويكبر ويمجد ، ويحسن في ذلك أن يقول سبحان الله والحمد لله ولا اله الا الله والله أكبر لأنه لائق بالحال . ويسن أن يضع يمناه على يساره تحت صدره بين كل تكبيرتين ولو شك في عدد التكبيرات أخذ بالأقل ، وهي من الهيأٰت : كالتعوذ ودعاء الإفتتاح ، فلا يسجد لترك شيء منها وان كان الترك مكروها ، ولو نسي التكبيرات أو شيئا منها وشرع في القراءة لم يتداركها ولو لم يتم الفاتحة ، بخلاف ما لو نسيها وشرع في التعوذ ثم تذكرها فإنه يعود اليها ولا يفوت بها دعاء الإفتتاح ، ويفوت بالتعوذ ويفوت الكل بالقراءة ولو ناسيا ، ثم يتعوذ بعد التكبيرة الأخيرة ، ويقرأ الفاتحة كغيرها من الصلوات ، ويندب أن يقرأ بعد الفاتحة في الركعة الأولى : ق ، وفي الثانية : اقتربة الساعة ، أو سبح اسم ربك الأعلى في الأولى والغاشية في الثانية ، وهي صلاة جهرية ، ثم اذا قام للركعة الثانية يكبر خمسا بالصفة المتقدمة بعد تكبيرة القيام وقبل التعوذ

Shalat id itu 2 rokaat sepertihalnya shalat selainnya dalam hal rukun-rukun dan syarat-syarat. Aqollnya (minimalnya) adalah mushalli takbirotul ihrom dengan niat shalat idul fithri atau idul adha 2 rokaat, dan melaksanakan shalat seperti shalat rawatib dhuhur umpamanya. Akmalnya (Sempurnanya) adalah mushalli menambahkan takbir pada rokaat kesatu sebanyak 7 takbir setelah takbirotul ihrom + do'a iftitah sebelum ta'udz, dan mengangkat kedua tangan pada setiap kali takbir seperti takbirotul ihrom, Disunatkan untuk memisahkan antara setiap 2 takbir dengan durasi seukuran ayat mu'tadilah (panjang tidak pendek tidak) membaca tahlil, takbir dan tamjid, dan sebaiknya pada ketika itu mushalli membaca سبحان الله والحمد لله ولا اله الا الله والله أكبر karena bacaan tersebut adalah yang matching dari aspek situasinya. Disunatkan mushalli menempatkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di bawah dada antara setiap 2 takbir. Apabila ragu-ragu pada hitungan takbir, hendaknya mushalli mengambil kesimpulan dengan yang lebih sedikit saja. Takbir tersebut termasuk salah satu dari sunat-sunat hai'at sebagaimana ta'udz dan do'a iftitah, maka tidak disunatkan sujud sahwi dengan meninggalkan sesuatu dari takbir tersebut walaupun hukum sengaja meninggalkannya adalah makruh. Apabila lupa tidak melakukan takbir-takbir atau sesuatu darinya dan mushalli sudah syuru (on the track) pada bacaan surat Al-fatihah maka tidak boleh kembali mengidroknya sekalipun mushalli belum menyempurnakan bacaan surat Al-fatihah sampai tamat, permasalahan ini berbeda dengan apabila melupakan takbir-takbir dan syuru (on the track) pada bacaan ta'udz kemudian mengingatnya maka mushalli boleh kembali pada takbir-takbir dan tidak gugur dengan takbir-takbir kesunnahan membaca doa iftitah. Gugur kesunnahan membaca doa iftitah dengan syuru (on the track) pada ta'udz, dan gugur semuanya oleh sebab sudah syuru (on the track) pada bacaan surat Al-Fatihah sekalipun syurunya dikarenakan lupa. Kemudian mushalli membaca ta'udz setelah takbir terakhir (no 7) dan membaca surat Al-Fatihah sebagaimana shalat-shalat selain shalat id.  Disunatkan setelah membaca surat Al-Fatihah pada rakaat kesatu membaca surat ق dan pada rakaat kedua membaca surat اقتربة الساعة atau سبح اسم ربك الأعلى pada rakaat kesatu dan الغاشية pada rakaat kedua. Shalat id adalah shalat jahriyah (shalat yang disunatkan dikeraskan suara bacaan fatihah dan surat setelahnya) Kemudian jika telah berdiri untuk rakaat kedua, mushalli bertakbir sebanyak 5 kali dengan sifat seperti yang sudah dibahas tadi setelah takbir qiyam dan sebelum ta'udz. [Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Nihayah Az-Zain Halaman 108]

Wallaahu A'lam.


Daftar Pustaka

An-Nawawi, Imam Muhyiddin Abi Zakariya Yahya. Al-Adzkar. Syirkah An-Nur Asia.
Ad-Dimsaqi, Syaikh Taqiyuddin Abi Bakar. Kifayatul Akhyar (Jilid 1). Syirkah An-Nur Asia.
Ba'alawi, Syaikh Sayid Abdurrahman. Bughiyah Al-Mustarsyidin. Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah. 
Al-Malibari, Syekh Zainudin. Fathul Muin. Syirkah An-Nur Asia.
Al-Bakri, Syaikh Sayid Abu Bakar Ad-Dimyati. Ianah Ath-Thalibin (Jilid 1). Syirkah An-Nur Asia.
Al-Baijuri, Syaikh Ibrahim. Hasyiyah Al-Bajuri (Jilid 1). Toha Putra.
Al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Nihayah Az-Zain dan Kasyifah As-Sajaa. Toha Putra

Mengusap Wajah Setelah Salam Shalat

Hukum mengusap wajah setelah salam shalat sambil membaca asyhadu an laa ilaaha illaa huwa ar-rahmaanu ar-rahiimu allaahumma adzhib anniya al-hamma wa al-hazana ini sering difahami secara keliru : 
  • Banyak orang yang keliru menganggap ini bid'ah padahal hukumnya sunat dan termasuk sunnah Rasul.
  • Banyak orang yang keliru menganggap ini bagian dari rangkaian shalat padahal akhir shalat adalah salam.
Baca sampai tuntas agar tidak gagal faham !

Mengusap Wajah Setelah Salam Shalat Termasuk Sunnah Bukan Bid'ah

Mengusap wajah setelah salam shalat itu tidak bid'ah sekalipun anda memaknai bid'ah sebagai suatu amaliyah ibadah yang belum ada sewaktu Nabi masih ada baik sesuatu itu diamalkan oleh Nabi sendiri maupun oleh sahabat sepengetahuan Nabi. Mengusap wajah setelah salam shalat yang biasa diamalkan oleh pengikut madzhab Imam Syafi'i merupakan perilaku Nabi sebagaimana dijelaskan oleh para Ulama Syafi'iyah, antara lain : 
1). Imam Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar Hal 69 pada Bab Dzikir-Dzikir Ba'da Shalat Hadits No 13
باب الأذكار بعد الصلاة
أجمع العلماء على استحباب الذكر بعد الصلاة وجاءت فيه أحاديث كثيرة صحيحة في أنواع منه متعددة فنذكر أطراقا من أهمها
١٣. وروينا في كتاب ابن السنى عن أنس رضي الله عنه قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قضى صلاته مسح جبهته بيده اليمنى ، ثم قال : أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ، أَللّٰهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّيَ الْهَمَّ وَالْحَزَنَ
الأذكار المنتخبة من كلام سيد الأبرار صلى الله عليه وسلم . ص ٦٩
Telah Ijma Ulama atas disunatkannya dzikir setelah shalat dan telah datang dalam hal ini banyak hadits yang shahih pada berbagai jenisnya kemudian kami mencantumkan thuruq yang paling pentingnya ................... Hadits No 13). Dan telah ada riwayat kepada kami di dalam kitab Ibnu Sunni dari Anas RA telah berkata : Ada Rasulullah SAW jika beliau telah menyelesaikan shalatnya beliau mengusap dahinya dengan tangannya yang kanan, kemudian mengucapkan : 
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ، أَللّٰهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّيَ الْهَمَّ وَالْحَزَنَ
(Kitab Al-Adzkar Hal 69)

2). Sayid Abu Bakar Ad-Dimyati dalam Kitab I'anah Ath-Thalibin Juz 1 Hal 184 pada Pembahasan Disunatkan Dzikir & Doa Setelah Shalat
قوله وسن ذكر ودعاء سرا عقبها
فائدة
قال النووى في الأذكار وروينا في كتاب ابن السنى عن أنس رضي الله عنه قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قضى صلاته مسح وجهه بيده اليمنى ، ثم قال : أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ، أَللّٰهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّيَ الْهَمَّ وَالْحَزَنَ انتهى وفي رواية بِسْمِ اللّٰهِ الَّذِيْ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ، أَللّٰهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّيَ الْهَمَّ وَالْحَزَنَ
إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين . جزء الأول ص ١٨٤-١٨٥
[Sebuah Faedah] Telah berkata Imam Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar dan telah ada riwayat kepada kami di dalam kitab Ibnu Sunni dari Anas RA telah berkata : Ada Rasulullah SAW jika beliau telah menyelesaikan shalatnya beliau mengusap dahinya dengan tangannya yang kanan, kemudian mengucapkan :
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ، أَللّٰهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّيَ الْهَمَّ وَالْحَزَنَ
dan pada riwayat lain :
 اللّٰهِ الَّذِيْ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ، أَللّٰهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّيَ الْهَمَّ وَالْحَزَن
(Kitab I'anah Ath-Thalibin Juz 1 Hal 184-185)

3). Sayid Abdurrohman Ba’alawi Al-Hadhrami dalam Kitab Bughiyah Al-Mustarsyidin Hal 49 Bab Dzikir-Dzikir & Doa-Doa Yang Dianjurkan Setelah Selesai Shalat Serta Waridah Mutlaq
الأذكار والدعوات المطلوبة خلف الصلوات والواردة مطلقا
فائدة
روى ابن منصور أنه صلى الله عليه وسلم كان إذا قضى صلاته مسح جبهته بكفه اليمنى ثم أمرها على وجهه حتى يأتي بها على لحيته الشريفة وقال بِسْمِ اللّٰهِ الَّذِيْ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ أَللّٰهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّيَ الْهَمَّ وَالْحَزَنَ وَالْغَمَّ أَللّٰهُمَّ بِحَمْدِكَ انْصَرَفْتُ وَبِذَنْبِيْ اعْتَرَفْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اقْتَرَفْتُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ جُهْدِ بَلَاءِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الأٰخِرَةِ
بغية المسترشدين في تلخيص فتاوي بعض الأئمة من العلماء المتأخرين مع ضم فوائد مهمة من كتب شتى للعلماء المجتهدين ص ٤٩
[Sebuah Faedah] Ibnu Mansur telah meriwayatkan bahwasanya ada Rasulullah SAW jika beliau telah menyelesaikan shalatnya beliau mengusap dahinya dengan telapak tangannya yang kanan kemudian melalukan usapannya pada wajah beliau sehingga sampai dengan usapan tersebut ke jenggotnya yang mulia, sambil mengucapkan :
بِسْمِ اللّٰهِ الَّذِيْ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ أَللّٰهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّيَ الْهَمَّ وَالْحَزَنَ وَالْغَمَّ أَللّٰهُمَّ بِحَمْدِكَ انْصَرَفْتُ وَبِذَنْبِيْ اعْتَرَفْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اقْتَرَفْتُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ جُهْدِ بَلَاءِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الأٰخِرَةِ
(Kitab Bughiyah Al-Mustarsyidin Hal 49)

Imam Nawawi dalam Al-Adzkar mengklaim bahwa yang dicantumkan dalam kitabnya terutama pada bab tersebut merupakan hadits-hadits shahih, dan hadits yang dikemukakannya tentang kesunnahan mengusap wajah ini terdapat dalam kitab Ibnu Sunni yang merupakan salah satu murid Imam Nasa'i (Ahli Hadits) dan Imam Ath-Thabari (Ahli Tafsir). Syaikh Abu Bakar pada pembahasan disunatkannya dzikir dan doa setelah shalat mengutip hadits yang dimuat oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar sebagai yang direkomendasikan (sekalipun ada sedikit perbedaan redaksi lafadz هو dengan lafadz الله yang terdapat di kitab sumber rujukannya yaitu Al-Adzkar) dan riwayat lain yang tidak disebutkan sumbernya sebagai redaksi doa alternatif. Sedangkan Sayid Abdurrohman Ba'alawi pada pembahasan dzikir-dzikir & doa-doa yang dianjurkan setelah shalat mengemukakan kesunnahan mengusap wajah setelah shalat ini dengan merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Mansur dengan redaksi kaifiyat mengusap yang lebih detail dan redaksi doa yang lebih panjang.

Yang jelas, itu sunnah bukan bid'ah, dan termasuk amaliyah sunnah yang sunat dipraktekan sesaat setelah menyelesaikan shalat. Tapi kita juga jangan keliru, itu bukan akhir dari rangkaian shalat karena akhir dari rangkaian shalat adalah salam.

Mengusap Wajah Setelah Salam Shalat Bukan Bagian Dari Rangkaian Shalat

Jangan keliru menganggap mengusap wajah sebagai bagian dari rangkaian shalat, karena akhir shalat yang sebenarnya adalah salam bukan mengusap wajah. Berikut ini adalah Sabda Rasulullah SAW & penjelasan para ulama mengenai definisi shalat serta kedudukan salam sebagai akhir shalat :

مِفْتَحُ الصَّلَاةِ الوُضُوْءُ وَتَحرِيْمُهَا التَّكْبِيْرُ وَتَحْلِيْلُهَا التَّسْلِيْمُ رواه أبو داود والترمذي وغيرهما بإسناد صحيح
كفاية الأخيار ج ١ ص ١٠٤
Sabda Rasulullah SAW : "Pembukanya shalat adalah wudhu, pengharamnya dari perilaku sebelum shalat adalah takbirotul ihrom dan penghalalnya untuk perilaku di luar shalat adalah salam" (HR. Imam Abu Dawud, Imam Turmudzi dan yang lainnya dengan sanad yang shahih) - (Kitab Kifayatul Akhyar Juz 1 Hal 104)

 امام تقي الدين الدمشقي : وَمِن أَرْكَانِ الصَلَاة التَّسْلِيمُ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحرِيْمُهَا التَّكْبِيْرُ وَتَحْلِيْلُهَا التَّسْلِيْمُ
كفاية الأخيار ج ١ ص ١١٢
Imam Taqiyuddin Ad-Dimsyaqi : "Dan dari sebagian rukun shalat adalah mengucapkan salam karena Rasulullah SAW : Pengharamnya dari perilaku sebelum shalat adalah takbirotul ihrom dan penghalalnya untuk perilaku di luar shalat adalah salam" (Kifayatul Akhyar Juz 1 Hal 112)

شيخ إبراهيم البيجوري : قوله التسليمة الأولى أي لخبر مسلم تحريمها التكبير وتحليلها التسليم
حاشية الباجوري على فتح القريب المجيب ج ١ ص ١٥٧
Syaikh  Ibrohim Al-Baijuri : "Perkataan mushanif mengucapkan salam pertama, maksudnya karena ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim : Pengharamnya dari perilaku sebelum shalat adalah takbirotul ihrom dan penghalalnya untuk perilaku di luar shalat adalah salam" (Kitab Hasyiyah Al-Bajuri Juz 1 Hal 157)

شيخ زين الدين المليباري : هِيَ شَرْعًا أَقْوَالٌ وَأَفْعَالٌ مَخْصُوْصَةٌ مُفْتَتَحَةٌ بِالتَّكْبِيْرِ مُخْتَتَمَةٌ بِالتَّسْلِيْمِ
فتح المعين ص ٣
Syaikh Zainuddin Al-Malibari : "Definisi shalat menurut syara' adalah perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan yang dikhususkan yang dibuka dengan takbir dan diakhiri dengan membaca salam" (Kitab Fathul Mu'in Hal 3)

شيخ ابن قاسم الغزي : وَشرْعًا كَمَا قَالَ الرَّافِعِي أَقْوَالٌ وَأفْعَالٌ مُفْتَتَحَةٌ بِالتَّكْبِيْرِ مُخْتَتَمَةٌ بِالتَّسْلِيْمِ
فتح القريب المجيب ص ١١
Syaikh Ibnu Qasim Al-Ghazi : "Definisi shalat menurut syara' adalah sebagaimana menurut Imam Rafi'i yaitu perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan yang dibuka dengan takbir dan diakhiri dengan membaca salam" (Kitab Fathul Qarib Al-Mujib Hal 11)

 شيخ نووي الجاوي حَقِيْقَتُهَا شَرْعًا أَقْوَالٌ غَالِبًا وَأَفْعَالٌ وَلَوْ قَلْبِيًّا مُفْتَتَحَةٌ بِالتَّكْبِيْرِ الْمُقْتَرَنِ بِالنِّيَةِ مُخْتَتَمَةٌ بِالتَّسْلِيْمِ عَلَى وَجْهٍ مَخْصُوْصٍ
نِهَايَةُ الزَّيْنِ ص ٨
Syaikh Nawawi Al-Jawi : "Hakikat shalat menurut syara' adalah perkataan-perkataan yang ghalib dan perbuatan-perbuatan sekalipun perbuatan hati yang dibuka dengan takbir yang dibersamakan dengan niat yang diakhiri dengan membaca salam dengan tata cara yang dikhususkan" (Kitab Nihayah Az-Zain Hal 8)

امام نووى : وتنقضى القدوة بسلام الإمام
Imam Nawawi : "dan selesai bermakmum sebab salamnya imam" (Kitab Minhaj Ath-Thalibin)

شيخ جلال الدين المحلي : وتنقضى القدوة بسلام الإمام التسليمة الأولى
Syaikh Jalaluddin Al-Mahalli : "dan selesai bermakmum sebab salamnya imam" (Kitab Syarh Al-Mahalli Ala Al-Minhaj Ath-Thalibin)

امام قليوبي : وتنقضى القدوة بسلام الإمام أى بفراغه من الميم من عَلَيْكُمْ في التسليمة الأولى ......... ولذلك لو أحرم شخص خلف الإمام حينئذ لم تنعقد صلاته عند شيخنا الرملي وأتباعه خلافا لابن حجر والخطيب كما سيأتي
حاشيتان على شرح المحلى على المنهاج الطالبين ج ١ ص ١٧٥
Imam Qolyubi : "dan selesai bermakmum sebab salamnya imam, maksudnya adalah dengan selesainya imam dari pengucapan م dari lafadz عَلَيْكُمْ pada pengucapan salam pertama ........................ oleh karena itu apabila seseorang masbuq baru bertakbiratul ihram pada saat itu maka shalat makmum masbuq tersebut tidak jadi/tidak sah menurut pendapat Guru kita Imam Ramli" (Kitab Hasyiyatani Ala Syarhi Al-Mahalli Ala Al-Minhaj Ath-Thalibin Juz 1 Hal 175)

شيخ الإسلام أبي يحيى زكري الأنصاري : وتنقضى قدوة بسلام إمام التسليمة الأولى لخروجه من الصلاة بها ................... ولو اقتصر إمامه على تسليمة سلم ثنتين احرازا لفضيلة الثانية ولخروجه عن متابعته بالأولى بخلاف التشهد الأول لو تركه إمامه لا يأتي به لوجوب متابعته قبل السلام
فتح الوهاب بشرح منهاج الطلاب ج ١ ص ٤٨
Syaikhul Islam Abi Yahya Zakaria Al-Anshari : "dan selesai bermakmum dengan salamnya imam terhadap salam yang pertama karena keluarnya imam dari shalat dengan salam pertama ................... dan apabila imam mencukupkan dengan satu kali salam maka makmum sunat melakukan salam kedua dalam rangka memelihara fadhilah salam kedua dan karena keluarnya makmum dari kewajiban mengikuti imam sebab salamnya imam yang pertama. permasalahan ini berbeda dengan permasalahan tasyahhud awal, jika imamnya meninggalkan tasyahhud awal maka makmum jangan mendatangkannya karena wajibnya makmum mengikuti imam sebelum salam pertama" (Kitab Fathul Wahhab Bi Syarh Al-Minhaj Ath-Thullab Juz 1 Hal 48)

إمام تقي الدين الدمشقى : والسلام ترك والله أعلم
كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار ج ١ ص ١١٢

Imam Taqiyuddin Ad-Dimsyaqi : "dan sedangkan salam adalah meninggalkan shalat. Wallaahu A'lam" (Kitab Kifayah Al-Akhyar Juz 1 Hal 112)

Kitab-kitab yang dijadikan referensi semuanya kitab karya tulis ulama fiqih madzhab imam syafii, dan dari semua yang mereka sampaikan dapat diambil kesimpulan bahwa akhir rangkaian yang masuk lingkup shalat sebagaimana definisi shalat adalah salam. 

Ini penting ditegaskan, karena salah satu syarat sah shalat adalah bahwasanya mushalli harus dapat membedakan yang mana termasuk rukun yang mana termasuk sunat dan mana rangkaian yang tidak termasuk shalat.

Adapun mengusap wajah sambil membaca :
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ، أَللّٰهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّيَ الْهَمَّ وَالْحَزَنَ
merupakan amaliyah sunnah yang hukumnya sunat dilakukan setelah salam shalat sebagaimana diperagakan oleh Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam semasa beliau masih hidup.
Wallaahu A'lam.
 Daftar Pustaka
An-Nawawi, Imam Muhyiddin Abi Zakariya Yahya. Al-Adzkar. Syirkah An-Nur Asia.
Al-Malibari, Syekh Zainudin. Fathul Muin. Syirkah An-Nur Asia.
Ad-Dimsaqi, Syaikh Taqiyuddin Abi Bakar. Kifayatul Akhyar (Jilid 1). Syirkah An-Nur Asia.
Ba'alawi, Syaikh Sayid Abdurrahman. Bughiyah Al-Mustarsyidin. Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah. 
Al-Qalyubi, Syaikh Syihabuddin Ahmad dan Umairoh, Syaikh Syihabuddin Ahmad. Hasyiyah Al-Qalyubi Wa Umairoh Ala Syarh Al-Mahalli Ala Al-Minhaj (Jilid 1). Dar Al-Fikr. 
Al-Anshari, Syaikh Abi Yahya Zakariya. Fath Al-Wahab (Jilid 1). Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah.
Al-Bakri, Syaikh Sayid Abu Bakar Ad-Dimyati. Ianah Ath-Thalibin (Jilid 1). Syirkah An-Nur Asia.
Al-Ghazzi, Syaikh Ibnu Qasim. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Syirkah An-Nur Asia. 
Al-Baijuri, Syaikh Ibrahim. Hasyiyah Al-Bajuri (Jilid 1). Toha Putra.
Al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Nihayah Az-Zain. Toha Putra.

Hukum Membaca Basmalah Setelah Ta'udz Sebelum Hamdalah Ketika Shalat Menurut Ulama Fiqih 4 Madzhab

Hukum membaca basmalah setelah ta'udz sebelum hamdalah ketika shalat menurut ulama fiqih 4 madzhab adalah : wajib menurut syafi'iyah, sunat menurut hanafiyah dan hanabilah, makruh menurut malikiyah jika motivasinya khuruj anil khilaf hukum makruh berubah jadi sunat. Berikut ini adalah penjelasan para ulama tentang perbedaan pendapat imam madzhab mengenai status basmalah :

1) Al-Alamah Asy-Syaikh Ahmad Ash-Shawi Al-Maliki dalam Kitab Hasyiyah Ash-Shawi (yang dikenal dengan sebutan Tafsir Shawi) Hal 5 :
اختلف الأئمة في كون البسملة من الفاتحة وغيرها من السور سوى سورة براءة فذهب الشافعي وجماعة من العلماء الى أنها آية من الفاتحة ومن كل سورة ذكرت في أولها سوى سورة براءة وقال به جماعة من الصحابة وذهب الأوزعي ومالك وأبو حنيفة إلى أن البسملة ليست آية من الفاتحة وزاد أبو داود ولا من غيرها من السور وإنما هي بعض آية في سورة النمل وإنما كتبت للفصل والتبرك قال مالك ويكره استفتاح الصلاة الفرض بها واختلفت الرواية عن أحمد في كونها من الفاتحة أو لا
telah terjadi perbedaan pendapat para imam pada status basmalah termasuk الفاتحة dan selainnya dari surat-surat selain surat براءة Imam Syafii dan segolongan dari para Ulama memberlakukan bahwa sesungguhnya basmalah adalah satu ayat dari الفاتحة dan dari setiap surat dibacakan diawalnya kecuali surat براءة dan segolongan dari shahabat mengatakan itu. Imam Auza'i, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah memberlakukan bahwa seungguhnya basmalah bukan satu ayat dari الفاتحة dan Abu Dawud menambahkan dan bukan ayat dari selain الفاتحة dan tentunya basmalah bagian dari salah satu ayat surat النمل dan dituliskan di awal surat sekedar sebagai pemisah surat dan tabarruk. Imam Malik berpendapat dan dimakruhkan membuka shalat fardhu dengan basmalah. Dan berbeda-beda riwayat dari Imam Ahmad tentang status basmalah termasuk الفاتحة atau tidak." (Lihat : Hasyiyah Ash-Shawi Juz 1 Hal 5)

2) Syaikh Abdurrohman Jabir Al-Jazairi dalam Kitab Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba'ah Jilid 1 Hal 232 :

التسمية في الصلاة
ومنها التسمية في كل ركعة قبل الفاتحة ، بأن يقول : بسم الله الرحمن الرحيم . وهي سنة عند الحنفية والحنابلة . أما الشافعية فيقولون : إنها فرض . والمالكية يقولون : إنها مكروهة وفي كل ذلك تفصيل ذكرناه تحت الخط
.........................
الحنفية قالوا: يسمي الإمام والمنفرد سرا في أول كل ركعة، سواء كانت الصلاة سرية أو جهرية. أما المأموم فإنه لا يسمي طبعا، لأنه لا تجوز له القراءة ما دام مأموما، ويأتي بالتسمية بعد دعاء الافتتاح، وبعد التعوذ، فإذا نسي التعوذ، وسمي قبله، فإنه يعيده ثانيا، ثم يسمي، أما إذا نسي التسمية، وشرع في قراءة الفاتحة، فإنه يستمر، ولا يعيد التسمية على الصحيح أما التسمية بين الفاتحة والسورة، فإن الإتيان بها غير مكروه، ولكن الأولى أن لا يسمي، سواء كانت الصلاة سرية أو جهرية، وليست التسمية من الفاتحة، ولا من كل سورة في الأصح، وإن كانت من القرآن.
المالكية قالوا: يكره الإتيان بالتسمية في الصلاة المفروضة، سواء كانت سرية أو جهرية، الا إذا نوى المصلي الخروج من الخلاف، فيكون الإتيان بها أول الفاتحة سرا مندوبا؛ والجهر بها مكروه في هذه الحالة أما في صلاة النافلة، فإنه يجوز للمصلي أن يأتي بالتسمية عند قراءة الفاتحة.
الشافعية قالوا: البسملة آية من الفاتحة، فالإتيان بها فرض لا سنة، فحكمها حكم الفاتحة في الصلاة السرية أو الجهرية، فعلى المصلي أن يأتي بالتسمية جهرا في الصلاة الجهرية، كما يأتي بالفاتحة جهرا، وإن لم يأت بها بطلت صلاته.
الحنابلة قالوا: التسمية سنة، والمصلي يأتي بها في كل ركعة سرا، وليست آية من الفاتحة، وإذا سمى قبل التعوذ سقط التعوذ، فلا يعود إليه، وكذلك إذا ترك التسمية، وشرع في قراءة الفاتحة، فإنها تسقط، ولا يعود إليها، كما يقول الحنفية
Pembahasan Tasmiyah Dalam Shalat
Dan dari sebagian yang disunatkan adalah tasmiyah pada setiap rakaat sebelum fatihah dengan mushalli mengucapkan : بسم الله الرحمن الرحيم Tasmiyah hukumnya sunat menurut Ulama hanafiyah dan hanabilah. Adapun Syafi’iyah maka mereka berkata : bahwasanya tasmiyah fardhu. Malikiyah mereka berkata : bahwasanya tasmiyah makruh. Dan pada semua itu tafshil. Kami membahasnya di bawah khat.
..............................
Para Ulama Madzhab Hanafi berpendapat : Imam shalat dan munfarid sunat bertasmiyah secara sir (pelan) pada awal setiap raka’at, sama saja status shalatnya shalat sirriyah atau jahriyah. Adapun makmum tidak boleh dia bertasmiyah karena tidak boleh baginya membaca fatihah selama dalam keadaannya sebagai makmum. Dan sunat mendatangkan tasmiyah setelah membaca doa iftitah dan ta’awwudz, jika lupa ta’awwudz dan bertasmiyah sebelumnya maka sesungguhnya dia boleh kembali mengulangi ta’awwudz untuk kedua kalinya, kemudian bertasmiyah. Adapun jika lupa tasmiyah dan sudah syuru’ pada bacaan fatihah maka sesungguhnya dia harus istimror dan jangan kembali ke tasmiyah menurut qaol shahih. Adapun bertasmiyah antara fatihah dan surat setelahnya maka mendatangkannya tidak makruh, akan tetapi yang lebih utama adalah tidak bertasmiyah, sama saja status shalatnya shalat sirriyah atau jahriyah, dan tasmiyah bukan termasuk surat fatihah. Dan tidak termasuk dari setiap surat menurut qaol yang lebih shahih. Sekalipun fakta tasmiyah termasuk dari Al-Qur’an.
Para Ulama Madzhab Maliki berpendapat : Dimakruhkan mendatangkan tasmiyah dalam shalat fardhiyah, sama saja status shalat tersebut siriyah atau jahriyah, kecuali jika mushalli berniat khuruj minal khilaf, maka mendatangkan tasmiyah di awal surat fatihah secara sir menjadi disunatkan. Menjahrkan bacaan tasmiyah hukumnya makruh pada situasi ini. Adapun pada shalat sunat maka itu boleh bagi mushalli mendatangkan tasmiyah ketika membaca fatihah.
Para Ulama Madzhab Syafii berpendapat : basmalah adalah salah satu ayat dari surat Alfatihah, maka mendatangkannya fardhu bukan sunat, maka hukumnya sebagaimana hokum mendatangkan fatihah pada shalat baik sirriyah maupun jahriyah. Maka mesti kepada mushalli untuk mendatangkan tasmiyah secara jahr pada shalat jahr sebagaimana mesti mendatangkan fatihah secara jahr pada shalat jahriyah. Apabila tidak mendatangkan tasmiyah maka batal shalatnya.
Para Ulama madzhab Imam Ahmad berpendapat : tasmiyah hukumnya sunat, dan mushalli sunat mendatangkannya pada setiap rakaat secara sir. Dan bukan termasuk salah satu ayat dari surat fatihah. Apabila bertasmiyah sebelum ta’awwudz maka gugurlah kesunnatan membaca ta’awwudz, maka tidak boleh kembali untuk membaca ta’awwudz, begitu juga apabila meninggalkan tasmiyah dan syuru’ pada bacaan fatihah maka sesungguhnya kesunatan membaca tasmiyah gugur, maka tidak boleh kembali untuk membaca tasmiyah sebagaimana pendapat para ulama hanafiyah. (Lihat : Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba'ah Jilid 1 Hal 232)

3) Syaikh Nawawi Al Jawi dalam kitab Nihayah Al-Zain Hal 60 :
وتجب الفاتحة مع قراءة بسملة فانها آية والحمد لله رب العالمين إلى آخرها ست آيات فالجملة سبع آيات
Dan wajib membaca Surat Al-Fatihah beserta bacaan بسم الله الرحمن الرحيم karena sesungguhnya بسم الله الرحمن الرحيم adalah satu ayat dan الحمد لله رب العالمين s/d akhir Surat Al-Fatihah adalah 6 ayat. Maka jumlah menjadi 7 ayat. (Lihat : Nihayah Al-Zain Hal 60)

4) Syaikh Abi Suja' Ahmad bin Hasan al-Ashfahani dalam Kitab Taqrib Hal 13 :
وبسم الله الرحمن الرحيم آية منها
dan بسم الله الرحمن الرحيم adalah satu ayat dari surat alfatihah (Lihat : At-Taqrib Hal 13)

5) Syaikh Muhammad bin Qasim al-Ghazi dalam kitab Fath al-Qarib al-Mujib Hal 13 :
كاملة
1 ayat yang sempurna dari surat al-Fatihah (Lihat : Fath al-Qarib al-Mujib Hal 13)

Pembahasan fiqih 4 madzhab ini hanya sebatas kajian yang diarsipkan saja, karena semuanya benar.  Namun sekalipun produk ijtihad 4 madzhab tersebut semuanya benar, dalam hal pengamalannya kita diajarkan untuk tetap konsisten berafiliasi ke satu madzhab (istilah yang lebih ilmiah : iltizam & ta'yin) sebagaimana ditegaskan oleh para ulama, antara lain oleh Sayid 'Alawi ibn Ahmad As-Saqofi dalam kitab Majmū'ah Sab‛ah Kutubin Mufīdah :
وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَابد لِلْمُكَلَّفِ غَيْرِ الْمُجْتَهِدِ الْمُطْلَقِ مِنْ اِلْتِزَامِ التَّقْلِيْدِ لِمَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ مِنْ مَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ
"ketahuilah! bahwasanya tidak boleh tidak kepada mukallaf selain mujtahid muthlaq untuk iltizam taqlid terhadap madzhab yang dita'yin dari salah satu madzhab yang 4 : Madzhab Imam Hanafi, Madzhab Imam Maliki, Madzhab Imam Syafi'i, Madzhab Imam Hanbali" (Lihat : Majmu'ah Sab'ah Kutubin Mufidah Hal 59)

Wallaahu A'lam.

Daftar Pustaka
al-Shāwi, Syaikh Ahmad. Hasyiyah al-‛Alāmah al-Shāwi ‛alā Tafsīr al-Jalālain. Toha Putra
Al-Jazairi, Syaikh Abdurrahman Jabir. Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba'ah. Maktabah Syamilah.
Al-Ghazzi, Syaikh Ibnu Qasim. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Syirkah An-Nur Asia. 
al-Saqāfi, Sayid 'Alawi ibn Ahmad. Majmū'ah Sab‛ah Kutubin Mufīdah. Haromain.
Al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Nihayah Az-Zain. Toha Putra