BAITUSSALAM: Niat
Tampilkan postingan dengan label Niat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Niat. Tampilkan semua postingan

17 Contoh Redaksi Niat Zakat Fitrah

Berikut ini 17 Contoh Redaksi Niat Zakat Fitrah :
  1. Zakat Fitrah Diri Sendiri
  2. Zakat Fitrah Istri Saya
  3. Zakat Fitrah Istri-Istri Saya : Hindun, Zulaikha, Fatimah, Icih
  4. Zakat Fitrah Suami Saya
  5. Zakat Fitrah Ayah Saya
  6. Zakat Fitrah Ibu Saya
  7. Zakat Fitrah Kakek Saya : Ibrohim
  8. Zakat Fitrah Nenek Saya : Siti Ruqoyah
  9. Zakat Fitrah Anak Cowok Saya
  10. Zakat Fitrah Anak Cewek Saya
  11. Zakat Fitrah Anak-Anak Saya : Asep, Aden, Ai
  12. Zakat Fitrah Cucu Cowok Saya
  13. Zakat Fitrah Cucu Cewek Saya
  14. Zakat Fitrah Keturunan Saya : Aep, Eman, Udin, Dini, Futri, Silfi, Kokom, Susi dan Susanti
  15. Zakat Fitrah Saudara Cowok Saya : Deden
  16. Zakat Fitrah Saudara Cewek Saya : Yeyen
  17. Zakat Fitrah Saudara-Saudara Saya : Deden, Yeyen, Dadan, Yuyun, Yayan

1). Zakat Fitrah Diri Sendiri.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ نَفْسِيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari diri saya".

Begini juga bisa :

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنِّيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari saya".

2). Zakat Fitrah Istri Saya.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ زَوْجَتِيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari istri saya".

3). Zakat Fitrah Istri-Istri Saya : Hindun, Zulaikha, Fatimah, Icih.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ زَوْجَاتِيْ هِنْدٌ وَزُلَيْخَا وَفَاطِمَةْ وَإِيْچِيهْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari istri-istri saya yaitu hindun, zulaikha, fatimah dan icih".

4). Zakat Fitrah Suami Saya.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ زَوْجِيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari suami saya".

5). Zakat Fitrah Ayah Saya.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ أَبِيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari ayah saya".

6). Zakat Fitrah Ibu Saya.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ أُمِّيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari ibu saya".

7). Zakat Fitrah Kakek Saya : Ibrohim.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ جَدِّيْ إِبْرَاهِيمْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari kakek saya yaitu ibrohim".

8). Zakat Fitrah Nenek Saya : Siti Ruqoyah.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ جَدَّتِيْ سِيْتِيْ رُقَيَةْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari nenek saya yaitu siti ruqoyah".

9). Zakat Fitrah Anak Cowok Saya.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ اِبْنِيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari anak cowok saya".

10). Zakat Fitrah Anak Cewek Saya.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ بِنْتِيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari anak cewek saya".

11). Zakat Fitrah Anak-Anak Saya : Asep, Aden, Ai.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ أَوْلَادِيْ أَسَيفْ وَأَدَينْ وَأَيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari anak-anak saya yaitu asep, aden, ai".

12). Zakat Fitrah Cucu Cowok Saya.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ حَفِيْدِيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari cucu cowok saya".

13). Zakat Fitrah Cucu Cewek Saya.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ حَفِيْدَتِيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari cucu cewek saya".

14). Zakat Fitrah Keturunan Saya : Aep, Eman, Udin, Dini, Futri, Silfi, Kokom, Susi dan Susanti.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ ذُرِّيَّتِيْ أَيفْ وَأَيْمَانْ وَأُوْدِينْ وَدِيْنِيْ وَفُتْرِيْ وَسِلْفِيْ وَكَوْكَومْ وَسُوْسِيْ وَسُوْسَنْتِيْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari keturunan saya : aep, eman, udin, dini, futri, silfi, kokom, susi dan susanti".

15). Zakat Fitrah Saudara Cowok Saya : Deden.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ أَخِيْ دَيْدَينْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari saudara cowok saya yaitu deden".

16). Zakat Fitrah Saudara Cewek Saya : Yeyen.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ أُخْتِيْ يَيْيَينْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari saudara cewek saya yaitu yeyen".

17). Zakat Fitrah Saudara-Saudara Saya : Deden, Yeyen, Dadan, Yuyun, Yayan.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ إخْوَتِيْ دَيْدَينْ وَيَيْيَينْ وَدَادَانْ وَيُوْيُونْ وَيَايَانْ

artinya :"saya berniat untuk mengeluarkan zakat fitrah dari saudara-saudara saya yaitu deden, yeyen, dadan, yuyun, yayan".

Waktu Niat Zakat Fitrah

Tahukah anda, waktu paling tepat untuk niat zakat fitrah adalah ketika momentum penyerahan kepada mustahiq. Jika itu sulit dilakukan, maka alternatifnya boleh diawalkan ketika : 

  • masih proses pemisahan beras 2.5 kg yang akan dizakatkan dari karungnya
  • proses penyerahan kepada panitia zakat
  • atau setelah berlalu kedua proses di atas, sebelum momentum penyerahan langsung secara mandiri atau momentum pembagian kepada mustahiq.

Yang tidak boleh adalah ketika :

  • sebelum proses pemisahan beras 2.5 kg yang akan dizakatkan dari karung
  • setelah zakat selesai diserahkan langsung secara mandiri kepada mustahiq atau selesai dibagikan oleh panitia kepada mustahiq

Berikut ini penjelasan ulama fiqih :

Kitab Fiqih Perbandingan Madzhab 4 :

الموسوعة الفقهية الكويتية للمجموعة من المؤلفين ج ٢٣ ص ٢٩٣
وَيَنْوِي عِنْدَ دَفْعِهَا إِلَى الإِْمَامِ أَوْ إِلَى مُسْتَحِقِّهَا، أَوْ قَبْل الدَّفْعِ بِقَلِيلٍ. فَإِنْ نَوَى بَعْدَ الدَّفْعِ لَمْ يُجْزِئْهُ عَلَى مَا صَرَّحَ بِهِ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ. أَمَّا عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ فَالشَّرْطُ مُقَارَنَةُ النِّيَّةِ لِلأَْدَاءِ وَلَوْ حُكْمًا، كَمَا لَوْ دَفَعَ بِلاَ نِيَّةٍ ثُمَّ نَوَى وَالْمَال لاَ يَزَال قَائِمًا فِي مِلْكِ الْفَقِيرِ بِخِلاَفِ مَا إِذَا نَوَى بَعْدَمَا اسْتَهْلَكَهُ الْفَقِيرُ أَوْ بَاعَهُ فَلاَ تُجْزِئُ عَنِ الزَّكَاةِ. وَقَال الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ: إِنْ عَزَل الزَّكَاةَ عَنْ مَالِهِ وَنَوَى عِنْدَ الْعَزْل أَنَّهَا زَكَاةٌ كَفَى ذَلِكَ، وَلَوْ لَمْ يَنْوِ عِنْدَ الدَّفْعِ

dan berniat muzakki :

  • ketika menyerahkan zakat kepada imam, atau
  • ketika menyerahkan zakat kepada mustahiq zakat, atau
  • sedikit waktu sebelum menyerahkannya

Jika muzakki berniat setelah selesai penyerahan, maka itu tidak mencukupkan baginya. Berdasarkan penjelasan yang telah mentashrih terhadapnya Malikiyah dan Syafi'iyah.

Adapun menurut Hanafiyah, maka syaratnya adalah niat membersamai proses penunaian sekalipun secara hukmiyah. Hukmiyah adalah seperti kasus : jika muzakki melakukan proses penyerahan tanpa niat, kemudian dia berniat pada situasi harta zakat yang diterima masih tetap berada dalam kepemilikan sang faqir. Membedai kasus : jika muzakki berniat setelah sang  faqir merusak harta yang diterima, atau setelah sang faqir menjualnya. Maka niat pada kasus seperti ini tidak mencukupkan dari zakat.

Telah berkata Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah : jika muzakki telah memisahkan harta yang akan dizakatkan dari hartanya yang lain, dan dia berniat ketika memisahkan bahwasanya harta yang dipisahkan tersebut adalah zakat, maka itu telah mencukupkan. Sekalipun dia tidak berniat ketika penyerahan. 

[Majmu'ah min Al-Mu'allifin, Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah Jilid 23 Halaman 293 - Diterjemahkan oleh : Cucu Anwar Mubarok]

Kitab Fiqih Mu'tabaroh Ulama Syafi'iyah :

فتح المعين بشرح قرة العين للشيخ زين الدين المليباري صحيفة ٥١
لا مقارنتها أي النية للدفع فلا يشترط ذلك بل تكفي النية قبل الأداء إن وجدت عند عزل قدر الزكاة عن المال أو إعطاء وكيل أو إمام والأفضل لهما أن ينويا أيضا عند التفرقة. أو وجدت بعد أحدهما أي بعد عزل قدر الزكاة أو التوكيل وقبل التفرقة لعسر اقترانها بأداء كل مستحق
Tidak muqoronahnya (niat) terhadap penyerahan. Jadi itu tidak disyaratkan. Bahkan cukup niat sebelum proses penunaian jika ditemukan waktunya :
  • ketika memisahkan seukuran zakat dari harta. atau
  • ketika menyerahkan kepada wakil atau imam. Yang paling utama bagi keduanya adalah keduanya meniatkan juga ketika proses pembagian kepada mustahiq. atau
  • ketika ditemukan waktu niat setelah terjadi salah satu dari keduanya (pemisahan seukuran zakat dari harta atau penyerahan kepada wakil / imam) dan sebelum pembagian kepada mustahiq.
Karena terdapat kesulitan membersamakan niat zakat dengan penunaian terhadap masing-masing mustahiq.
[Syaikh Zainudin Al-Malibari, Fathul Mu'in Hal 51 - Diterjemahkan oleh : Cucu Anwar Mubarok]

Semoga bermanfaat

Sunatkah Melisankan Niat Sebelum Takbirotul Ihrom? - 4 Madzhab : Syafi'i, Hanbali, Maliki, Hanafi.

Fiqih 4 Madzhab : Sunatkah Melisankan Niat Sebelum Takbirotul Ihrom? Ya, Sunat Menurut Madzhab Syafi’i. Bagaimana menurut Madzhab Hanafi, Maliki & Hanbali?

Madzhab Syafi’I & Hanbali

Tidak ada ikhtilaf di kalangan Ulama Syafi’iyah, semuanya mengatakan bahwa pengucapan niat sebelum takbirotul ihrom hukumnya sunat. Berikut ini penjelasan 4 Muharrir Madzhab Syafi'i :
  1. “Sesungguhnya niat yang diperhitungkan berhubungan dengan hati, dan adapun mengucapkannya dengan lisan sebelum takbirotul Ihrom hukumnya adalah mahbub.” [Imam Rafi’I, Al-Muharror Hal 31]
  2. “Niat itu dengan hati. Mengucapkan sebelum takbirotul ihrom, yundabu/mandub.” [Imam Nawawi, Minhaj Ath-Thalibin Hal 96]
  3. “Hati adalah tempatnya, maka tidak wajib mengucapkannya.” [Imam Ramli, Nihayah Al-Muhtaj Juz 1 Hal 450]
  4. “Niat itu dengan hati berdasarkan ijma pada bab shalat dan pada bab lain yang niat disyari’atkan di dalamnya. Karena niat adalah qasdhu/maksud, dan maksud itu tidak ada kecuali dengan hati, maka tidak cukup pengucapan dengan lisan disertai ghaflah/tidakhadirhati dan tidak jadi madharat jika yang diucapkan oleh lisan mukhalafah dengan maksud yang ada di dalam hati. Dan yundabu/mandub mengucapkan terhadap perkara yang diniatkan sebelum takbirotul ihrom, supaya lisan menopang hati dan dalam rangka khuruj min khilaf terhadap pendapat ulama yang mewajibkannya sekalipun pendapat mewajibkan pengucapan niat adalah Syadz.” [Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfah Al-Muhtaj Juz 2 Hal 12]
Hanabilah ittifaq dengan Syafi'iyah perihal hukum melisankan niat sebelum takbirotul ihrom, yaitu sunat. Sekalipun perbedaan tetap ada pada aspek lainnya, yaitu pada momentum meniatkannya di dalam hati, dimana Hanabilah tidak mewajibkan membersamakan peniatannya dengan takbirotul ihrom. Berikut ini penjelasan yang kami nuqil dari kitab perbandingan madzhab :
يسن أن يتلفظ بلسانه بالنية، كأن يقول بلسانه أصلي فرض الظهر مثلاً، لأن في ذلك تنبيهاً للقلب، فلو نوى بقلبه صلاة الظهر، ولكن سبق لسانه فقال: نويت أصلي العصر فإنه لا يضر، لأنك قد عرفت أن المعتبر في النية إنما هو القلب، النطق باللسان ليس بنية، وإنما هو مساعد على تنبيه القلب، فخطأ اللسان لا يضر ما دامت نية القلب صحيحة، وهذا الحكم متفق عليه عند الشافعية والحنابلة
"Disunatkan mushalli mentalafudzkan dengan lisannya terhadap niat, seperti dia mengucapkan dengan lisannya أُصَلِّيْ فَرْضَ الظُّهْرِ misalnya. Karena sesungguhnya pada itu terdapat tanbih/pengingat bagi hati. Jika dia berniat dengan hatinya terhadap shalat dzuhur, tetapi lisannya keceplosan kemudian dia mengucapkan نَوَيْتُ أُصَلِّي فَرْضَ الْعَصْرِ maka sesungguhnya itu tidak menjadi madharat, karena sesungguhnya anda sudah tahu dari penjelasan sebelumnya bahwasanya yang dijadikan perhitungan pada niat hanyalah hati. Mengucapkan dengan lisan bukanlah niat, hanya saja pengucapan tersebut menjadi pembantu untuk mengingatkan hati. Sehingga kesalahan lisan tidaklah memadharatkan selagi niat di hatinya benar. Hukum ini statusnya muttafaq alaih di kalangan ulama Syafi'iyah dan Hanabilah." [Syaikh Abdurrohman Jabir Al-Jaza'iri, Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba'ah Jilid 1 Halaman 195]

Kesimpulan Syafi'iyah & Hanabilah : Mentalafudzkan / Melisankan niat hukumnya sunat, ittifaq dengan Madzhab Syafi’i. karena itu bisa menjadi tanbihan lil qalbi/pengingat bagi hati.

Loh katanya ittifaq, tidak ada ikhtilaf, tapi kok sebagian mengatakan mahbub, sebagian mengatakan mandub, sebagian mengatakan masnun, sebagian mengatakan tidak wajib. Ini yang benar yang mana sih? Itu semuanya benar, karena dalam Madzhab Syafi’I dan Madzhab Hanbali : sunatmandub dan mustahab merupakan lafadz-lafadz yang berbeda akan tetapi memiliki makna yang sama yaitu "sunat (sebagaimana yang sudah kami bahas sebelumnya)

Madzhab Maliki & Hanafi

المالكية، والحنفية قالوا: إن التلفظ بالنية ليس مشروعاً في الصلاة، الا إذا كان المصلي موسوساً، على أن المالكية قالوا: إن التلفظ بالنية خلاف الأولى لغير الموسوس، ويندب للموسوس. الحنفية قالوا: إن التلفظ بالنية بدعة، ويستحسن لدفع الوسوسة
"Malikiyah dan Hanafiyah berkata : sesungguhnya talaffudz terhadap niat bukanlah yang disyari'atkan pada shalat, kecuali jika keadaan mushalli adalah orang yang was-was. Berdasarkan bahwasanya Malikiyah berkata : sesungguhnya talaffudz terhadap niat adalah khilaful aula bagi selain orang yang was-was, dan dimandubkan bagi orang yang was-was. Hanafiyah berkata : sesungguhnya talaffudz terhadap niat adalah bid'ah dan yustahsan karena dapat menolak was-was." [Syaikh Abdurrohman Jabir Al-Jaza'iri, Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba'ah Jilid 1 Halaman 195]

Kesimpulan Malikiyah : Mentalafudzkan / Melisankan niat tidak disyari’atkan pada shalat, hukum asalnya khilaful aula. Kecuali jika kondisi mushalli adalah orang yang was-was. Jika mushalli orang yang berpenyakit was-was maka hukumnya mandub.

Kesimpulan Hanafiyah : Mentalafudzkan / Melisankan niat tidak disyari’atkan pada shalat, hukum asalnya bid’ah. Kecuali jika kondisi mushalli adalah orang yang was-was. Jika mushalli orang was-was maka hukumnya yustahsan.

Ragu Setelah Shalat Atau Ketika Shalat Perihal Tidak Niat & Tidak Takbirotul Ihrom di Awal Shalat

Berikut ini konsekuensi jika ragu setelah shalat atau ketika shalat perihal tidak niat & tidak takbirotul ihrom di awal shalat
كاشفة السجا للشيخ محمد نووي الجاوي ص ٦٧
لو شك بعد سلامه في ترك فرض غير نية وتكبيرة الإحرام لم يؤثر لأن الظاهر وقوع الصلاة عن تمام
Jika seseorang ragu setelah salamnya perihal meninggalkan salah satu fardh/rukn selain niat dan takbirotul ihrom, maka keraguan tersebut tidak mempengaruhi ke-sah-an shalat, karena sesungguhnya yang dzohir adalah terjadinya shalat dari kesempurnaan syarat dan rukun. (Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kasyifah As-Saja Hal 67)
كاشفة السجا للشيخ محمد نووي الجاوي ص ٦٧
ولو ذكر في حال تشهده ترك ركن غير نية أو تكبيرة أتى بعد سلام إمامه بركعة
Jika seorang makmum ingat pada situasi tasyahhudnya terhadap peninggalan salah satu rukun shalat selain niat dan takbirotul ihrom, maka dia wajib mendatangkan setelah salam imamnya terhadap 1 rokaat. (Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kasyifah As-Saja Hal 67)
الثمار اليانعة للشيخ محمد نووي الجاوي ص٣٩
لو شك بعد سلام في فرض غير نية وتكبيرة تحرم لم يؤثر إن قصر الفصل لأن الظاهر وقوع السلام عن تمام فإن كان الفرض نية أو تكبيرة تحرم استأنف الصلاة لأنه شك في أصل الإنعقاد ما لم يتذكر أنه أتى بهما ولو بعد طول الزمان وموضوع المسألة أن الشك طرأ بعد السلام أما لو شك في النية أو تكبيرة الإحرام في أثناء الصلاة فإن تذكر عن قرب قبل مضي أقل الطمأنينة لا يضر وإلا ضر 
Jika seseorang ragu setelah salam perihal salah satu fardh selain niat dan takbirotul ihrom, maka keraguan tersebut tidak mempengaruhi ke-sah-an shalat, karena sesungguhnya yang dzohir adalah terjadinya salam dari kesempurnaan shalat. Jika fardh yang diragukan adalah niat atau takbirotul ihrom, maka dia wajib memulai lagi shalat. Karena dia telah ragu perihal pokok kejadian shalat, selama dia tidak berhasil mengingat bahwa dia telah mendatangkan terhadap keduanya, sekalipun jreng ingatannya setelah waktu yang lama. Tempat masalah adalah bahwasanya keraguan tiba-tiba datang setelah salam.  Adapun jika seseorang ragu perihal niat atau takbirotul ihrom pada pertengahan shalat, maka jika dia ingat beberapa waktu kemudian sebelum lewat ukuran minimal thumaninah, keraguannya tidak memadharatkan sahnya shalat. Jika tidak ingat dalam waktu dekat sebelum lewat ukuran minimal thumaninah, maka keraguannya memadharatkan sahnya shalat. (Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Ats-Tsimar Al-Yani'ah Syarh Ar-Riyadh Al-Badi'ah Hal 39)
إعانة الطالبين للشيخ السيد أبي بكر الدمياطي ج ١ ص ٢٠٦
قوله غير نية وتكبيرة أما هما فتذكره ترك أحدهما أو شكه فيه أو في شرط من شروطه اذا طال الشك أو مضى معه ركن يبطل الصلاة
Redaksi selain niat dan takbirotul ihrom : Adapun niat dan takbirotul ihrom, maka ingatnya mushalli terhadap peninggalan salah satu dari keduanya atau ragunya pada peninggalan salah satu dari keduanya atau pada peninggalan salah satu syarat dari antara syarat-syarat salah satu dari keduanya, jika panjang durasi keraguan atau berlalu sebuah rukun beserta keraguan tersebut, maka batal shalat. (Syaikh Sayid Abu Bakar Ad-Dimyati, I'anah Ath-Thalibin Jilid 1 Hal 206)

Kesimpulannya :
Jika keraguan datang setelah shalat, maka :
  • Jika mushalli berhasil mengingat bahwa dia telah melakukannya, maka tidak wajib isti'naf mengulangi shalatnya.
  • Jika mushalli tidak berhasil mengingat bahwa dia telah melakukannya, maka wajib isti'naf mengulangi shalatnya.
Jika keraguan datang ketika sedang shalat, maka : 
  • Jika mushalli berhasil mengingat bahwa dia telah melakukannya, pada durasi waktu yang kurang dari batas minimal thumaninah maka keraguannya tidak memadharatkan sahnya shalat / tidak membatalkan shalat.
  • Jika mushalli tidak berhasil mengingat bahwa dia telah melakukannya atau berhasil mengingatnya setelah melewati durasi batasan minimal thumaninah, maka keraguannya memadharatkan sahnya shalat / tidak membatalkan shalat.
Karena niat dan takbirotul ihrom statusnya dalam shalat adalah Ashlul In'iqod (pokok jadinya shalat), maka konsekuensinya berbeda dengan ketika yang diragukan adalah rukun shalat selainnya.
Daftar Pustaka
Al-Jawi, Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi. Kasyifah As-Saja., Ast-Tsimar Al-Yani'ah. Al-Haromain.
Ad-Dimyathi, Syaikh Sayid Abu Bakar. I'anah Ath-Thalibin. Syirkah Nur Asia.

Unyil Yakin Niatnya Pas Waktu Subuh, Ucrit Ragu Sudah Subuh Atau Belum Ketika Niat, Usro Sudah Niat Kemudian Ragu Niatnya Kesubuhan Atau Tidak

Ragu kesubuhan atau tidak pada niat puasa ramadhan : 
  • Unyil yakin niatnya pas waktu subuh, 
  • Ucrit ragu sudah subuh atau belum ketika niat, 
  • Usro sudah niat kemudian ragu niatnya kesubuhan atau tidak.
Pada kasus unyil : dia tidak ragu, niatnya memang diniatkan bertepatan dengan mulai terbitnya fajar yaitu pas adzan subuh. Bagaimana hukum niat puasa unyil? Sah atau tidak? Tidak sah, sekalipun tidak ada keraguan pada proses niatnya. Sebab ketidaksahan pada kasus ini adalah karena jelas niatnya bukan pada waktunya. Rentang waktu niat puasa adalah dari setelah masuk waktu maghrib sampai dengan sesaat sebelum subuh. Unyil berniat pas waktu subuh, jadi niatnya tidak sah. 
حاشية الباجوري للشيخ الإسلام إبراهيم البيجوري ج ١ ص ٢٨٩ : قوله فلابد من إيقاع النية ليلا أى لقوله صلى الله عليه وسلم من لم يبيت النية قبل الفجر فلا صيام له والتبييت إيقاع النية ليلا في أي جزء منه من غروب الشمس الى طلوع الفجر فلا يشترط فيه النصف الأخير من الليل و علم من ذلك أنه لو قارنت النية الفجر لم يصح صومه لعدم التبييت
Maka tidak boleh tidak dari menjatuhkan niat pada waktu malam karena ada sabda Nabi SAW : "barangsiapa tidak menتبييتkan niat sebelum fajar maka tidak ada shaum baginya". تبييت adalah menjatuhkan niat pada waktu malam pada bagian apapun dari malam tersebut dari mulai tenggelamnya matahari sampai terbit fajar shadiq, maka tidak disyaratkan padanya setengah malam terakhir. Dan dapat diketahui dari itu bahwasanya jika niat membersamai fajar maka tidak sah puasanya karena ketiadaan تبييت (Syaikhul Islam Ibrohim Al-Baijuri, Hasyiyah Al-Bajuri Jilid 2 Hal 289)

Pada kasus ucrit : ketika dia niat, ada keraguan di dalam hatinya perihal momentum waktu yang sedang dia pergunakan sebagai waktu niat, inih teh sudah subuh atau belum inih teh? Bagaimana hukum niat puasa ucrit? Niat ucrit tidak sah, karena :
  • Dikembalikan ke status asal sebelumnya yaitu status tidaknya ucrit melakukan tabyit terhadap niat. (Menurut Syaikh Zainuddin Al-Malibari, pengarang Fathul Muin, murid Imam Ibnu Hajar Al-Haitami)
  • Keraguan pada masalah kesatu adalah jatuh pada situasi niat, keraguan pada situasi niat mencegah keteguhan hati yang diperhitungkan pada niat. (Menurut سم Imam Ibnu Qasim Al-Ubbadi, pensyarah At-Tuhfah Imam Ibnu Hajar Al-Haitami)

Pada kasus usro : setelah dia selesai berniat, kemudian muncul keraguan di dalam hatinya perihal momentum waktu yang tadi/barusaja dia pergunakan sebagai waktu niat, tadi teh sudah subuh atau belum tadi teh? Bagaimana hukum niat puasa usro? Niat usro sah, karena :
  • Dikembalikan ke status asal sebelumnya yaitu status fajar belum diterbitkan (Menurut Syaikh Zainuddin Al-Malibari, pengarang Fathul Muin, murid Imam Ibnu Hajar Al-Haitami)
  • Sesungguhnya dia telah niat, kemudian dia ragu. Keraguan tersebut tidak mencegah keteguhan hati yang diperhitungkan pada situasi niat. (Menurut سم Imam Ibnu Qasim Al-Ubbadi, pensyarah At-Tuhfah Imam Ibnu Hajar Al-Haitami)
Berikut ini penjelasan Fuqoha Syafi'iyah :
فتح المعين للشيخ زين الدين المليباري ص ٥٥ : ولو شك هل وقعت نيته قبل الفجر أو بعده لم تصح لأن الأصل عدم وقوعها ليلا اذ الأصل في كل حادث تقديره بأقرب زمان بخلاف ما لو نوى ثم شك هل طلع الفجر أو لا لأن الأصل عدم طلوعه للأصل المذكور أيضا إنتهى
Jika seseorang ragu apakah jatuh niatnya sebelum fajar atau setelahnya? Maka niatnya tidak sah. Karena sesungguhnya yang menjadi asal adalah tidaknya terdapat "menjatuhkan niat pada waktu malam". Karena sesungguhnya yang menjadi asal pada setiap perkara baru adalah mentaqdirkannya terhadap yang lebih dekat zamannya. Membedai kasus : Jika seseorang telah niat, kemudian dia ragu apakah telah terbit fajar atau tidak? Karena yang menjadi asal adalah ketiadaan terbit fajar. Karena sesungguhnya yang menjadi asal pada setiap perkara baru adalah mentaqdirkannya terhadap yang lebih dekat zamannya. (Syaikh Zainuddin Al-Malibari, Fath Al-Mu'in bi Syarh Qurroh Al-Ain Hal 55)
إعانة الطالبين للشيخ السيد أبي بكر الدمياطي ج ٢ ص ٢٢٢ : قوله ﻭﻟﻮ ﺷﻚ ﺇﻟﺦ ﻫﺬا ﻣﺄﺧﻮﺫ ﻣﻦ اﺷﺘﺮاﻁ اﻟﺘﺒﻴﻴﺖ، ﺇﺫ ﻫﻮ ﻳﻔﻬﻢ ﺃﻧﻪ ﻻ ﺑﺪ ﻣﻦ اﻟﻴﻘﻴﻦ ﻓﻴﻪ، ﻓﻠﻮ ﺷﻚ ﻟﻢ ﺗﺼﺢ ﻭاﻋﻠﻢ ﺇﻥ اﻟﺸﺎﺭﺡ ﺫﻛﺮ ﻣﺴﺄﻟﺘﻴﻦ ﻣﺘﻐﺎﻳﺮﺗﻴﻦ ﻓﻲ اﻟﺤﻜﻢ، اﻷﻭﻟﻰ: ﺃﻧﻪ ﻟﻮ ﺷﻚ ﻫﻞ ﻭﻗﻌﺖ ﻧﻴﺘﻪ ﻗﺒﻞ اﻟﻔﺠﺮ ﺃﻭ ﺑﻌﺪﻩ؟ ﻟﻢ ﺗﺼﺢ - ﺃﻱ اﻟﻨﻴﺔ - ﻭاﻟﺜﺎﻧﻴﺔ: ﺃﻧﻪ ﻟﻮ ﻧﻮﻯ ﺛﻢ ﺷﻚ: ﻫﻞ ﻃﻠﻊ اﻟﻔﺠﺮ ﺃﻭ ﻻ؟ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﺗﺼﺢ. ﻭﻓﺮﻕ ﺳﻢ ﺑﻴﻦ اﻟﻤﺴﺄﻟﺘﻴﻦ: ﺑﺄﻥ اﻟﺸﻚ ﻓﻲ اﻷﻭﻟﻰ ﻭاﻗﻊ ﺣﺎﻝ اﻟﻨﻴﺔ، ﻭﻓﻲ اﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﺑﻌﺪﻫﺎ. ﻗﺎﻝ: ﻭاﻟﺘﺮﺩﺩ ﺣﺎﻝ اﻟﻨﻴﺔ ﻳﻤﻨﻊ اﻟﺠﺰﻡ اﻟﻤﻌﺘﺒﺮ ﻓﻴﻬﺎ، ﻓﻠﺬﻟﻚ ﻟﻢ ﺗﺼﺢ، ﺑﺨﻼﻓﻪ ﻓﻲ اﻟﺜﺎﻧﻴﺔ، ﻓﺈﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﻤﻨﻊ اﻟﺠﺰﻡ اﻟﻤﻌﺘﺒﺮ ﺣﺎﻟﺘﻬﺎ، ﻓﻠﺬﻟﻚ ﺻﺤﺖ
Jika ragu dst : Ini difaham dari disyaratkannya تبييت. Tatkala dia memahami bahwasanya dia mesti yakin pada itu, maka jika dia ragu, niatnya menjadi tidak sah. Ketahuilah, bahwasanya Syaikh Zainuddin Al-Malibari menjelaskan 2 masalah yang menjadi berubah keduanya secara hukum : Masalah kesatu - Jika dia ragu : apakah jatuh niatnya sebelum fajar/subuh atau setelah fajar?" Maka niatnya tidak sah. Masalah kedua - Sesungguhnya dia telah niat, kemudian dia ragu : "apakah sudah terbit fajar/subuh atau belum?" Maka niatnya sah. Imam Ibnu Qasim Al-Ubbadi memilah antara kedua masalah tersebut : "sebab sesungguhnya keraguan pada masalah kesatu adalah jatuh pada situasi niat, dan masalah kedua jatuh pada setelah niat". Dan dia berkata : "dan keraguan pada situasi niat mencegah keteguhan hati yang diperhitungkan pada niat, oleh karena itu niat menjadi tidak sah. Beda dengan keraguan pada masalah kedua, karena sesungguhnya keraguan tersebut tidak mencegah keteguhan hati yang diperhitungkan pada situasi niat, oleh karena itu niatnya sah." (Sayid Abu Bakar Ad-Dimyathi, I'anah Ath-Thalibin Jilid 2 Hal 222)

Daftar Pustaka
Al-Baijuri, Syaikhul Islam Ibrohim. Hasyiyah Al-Bajuri. Toha Putra
Al-Malibari, Syaikh Zainuddin. Fath Al-Mu'in bi Syarh Qurroh Al-Ain. Al-Haromain.
Ad-Dimyathi, Syaikh Sayid Abu Bakar. I'anah Ath-Thalibin 'Ala Hilli Alfadzi Fath Al-Mu'in. Toha Putra

Niat Puasa Pas Adzan Subuh

Tidak sah niat puasa pas adzan subuh berdasarkan penjelasan para ulama :
المنهاج القويم للإمام ابن حجر الهيتامي ص ٢٤٤
ولا تجزئ مقارنتها للفجر ولا إن شك عندهما في أنها متقدمة على الفجر أو لا خلاف ما لو نوى ثم شك أطلع الفجر أم لا
Tidak mencukupkan menyertainya terhadap fajar shadiq, dan tidak mencukupkan juga jika dia ragu ketika niat dan ketika fajar perihal bahwasanya niat mendahului terhadap fajar atau tidak membedai kasus jika dia telah niat kemudian dia ragu apakah telah terbit fajar atau tidak (Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, Minhaj Al-Qawim 244)
حاشية الباجوري للشيخ الإسلام إبراهيم البيجوري ج ١ ص ٢٨٩
قوله فلابد من إيقاع النية ليلا أى لقوله صلى الله عليه وسلم من لم يبيت النية قبل الفجر فلا صيام له والتبييت إيقاع النية ليلا في أي جزء منه من غروب الشمس الى طلوع الفجر فلا يشترط فيه النصف الأخير من الليل و علم من ذلك أنه لو قارنت النية الفجر لم يصح صومه لعدم التبييت
Redaksinya Maka tidak boleh tidak dari menjatuhkan niat pada waktu malam karena ada sabda Nabi SAW : "barangsiapa tidak menتبييتkan niat sebelum fajar maka tidak ada shaum baginya". تبييت adalah menjatuhkan niat pada waktu malam pada bagian apapun dari malam tersebut dari mulai tenggelamnya matahari sampai terbit fajar shadiq, maka tidak disyaratkan padanya setengah malam terakhir. Dan dapat diketahui dari itu bahwasanya jika niat membersamai fajar maka tidak sah puasanya karena ketiadaan تبييت (Syaikhul Islam Ibrohim Al-Baijuri, Hasyiyah Al-Bajuri Jilid 2 Hal 289)
كاشفة السجا للشيخ محمد نووي الجاوي ص ١١٢
فيجب عليه الإمساك ويجب عليه بعد ذلك القضاء
Maka wajib imsak terhadap orang yang meninggalkan niat dan wajib terhadapnya setelah itu qadha (Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kasyifah As-Saja Hal 112)

Kesimpulan :
  • Niatnya tidak sah, karena pas adzan subuh sudah lewat waktunya berniat puasa wajib. 
  • Puasanya batal, karena dihukumi tidak berniat gara-gara tidak memenuhi salah satu syarat niat yaitu tabyit.
  • Siang harinya wajib imsak seperti orang yang berpuasa sampai maghrib.
  • Wajib mengqodho puasa hari tersebut setelah lebaran.
Daftar Pustaka
Al-Haitami, Imam Ibnu Hajar. Minhaj Al-Qawim.
Al-Baijuri, Syaikhul Islam Ibrohim. Hasyiyah Al-Bajuri. Toha Putra.
Al-Jawi, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah As-Saja. Al-Haromain.