BAITUSSALAM: Jenazah
Tampilkan postingan dengan label Jenazah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jenazah. Tampilkan semua postingan

Memandikan Jenazah : Tim Teknis, Peralatan, Persiapan, Tata Cara, Setelah Dimandikan

Memandikan Jenazah : Tim Teknis, Peralatan, Persiapan, Tata Cara, Setelah Dimandikan, Pertanyaan.

Tim Teknis Memandikan Jenazah

Memandikan jenazah hukumnya fardhu kifayah, sehingga tidak apa-apa ditunaikan secara teknis pelaksanaannya oleh beberapa orang. Idealnya dibentuk tim teknis. Sebaiknya SDM juga diperhatikan, agar tidak salah pada proses pelaksanaannya. 
  • 1 Orang pelaku utama : Sebaiknya direkrut dari keluarga jenazah yang paling dekat dan paling menyayangi jenazah semasa hidupnya. Tujuannya agar memandikannya menggunakan perasaan sehingga meminimalisir terjadinya gegabah atau asal-asalan dalam menggosok atau memindahkan badan jenazah. Jenis kelaminnya juga penting disesuaikan. Tujuannya adalah untuk menjaga privasi aurat jenazah dan agar menjamin proses memandikannya tidak menggunakan syahwat, karena sekalipun sudah mati auratnya tetap haram dilihat.
  • 1 atau 2 Orang pembantu pelaku utama terutama dalam hal mempersiapkan logistik pada proses memandikan : mendekatkan air, membantu mengubah posisi jenazah, menahan tubuh jenazah, dsb. Secara latar belakang, orang ini sebaiknya juga dipilih dari antara keluarga terdekat dan yang berjenis kelamin sama. Kriterianya sama dengan pelaku utama.
  • 1 Orang pembimbing yang secara SDM memahami dan mampu memastikan bahwa cara memandikan sesuai dengan tuntunan agama islam. Biasanya ustadz/ustadzah/toko. Sebaiknya jenis kelamin juga disesuaikan untuk pembimbing : Jika jenazah laki-laki, sebaiknya ustadz yang dipilih. Jika jenazah perempuan, ya ustadzah yang mengatur.
Kriteria Tim Teknis
Orang yang berhak menjadi tim teknis memandikan jenazah menurut madzhab syafii : 
قَالَ أَصْحَابُنَا الْأَصْلُ فِي غُسْلِ الْمَيِّتِ أَنْ يُغَسِّلَ الرِّجَالُ الرِّجَالَ وَالنِّسَاءُ النِّسَاءَ
Menurut ashhab kami : "secara asal pada permasalahan memandikan jenazah adalah laki-laki memandikan jenazah laki-laki dan perempuan memandikan jenazah perempuan" (Lihat : Majmu Syarah Al-Muhaddab Jilid 5 Hal 113)

Istri boleh memandikan jenazah suami dengan syarat tidak melajur syahwat (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 151) begitu juga sebaliknya, dan sebagai langkah antisifatif penting ditunjang dengan peralatan yang memadai, penggunaan sarung tangan contohnya (Lihat : Fathul Muin Hal 45) tapi sekalipun tidak menggunakan sarung tanganpun hukum memandikannya tetap sah sekalipun wudhu orang yang memandikannya menjadi bathal versi pendapat Imam Qadhi Husain (Lihat : Majmu Syarah Muhaddab Jilid 5 Hal 117)

@Jenazah Laki-Laki

 فَإِنْ كَانَ الْمَيِّتُ رَجُلًا فَأَوْلَى النَّاسِ بِهِ أَوْلَاهُمْ بِالصَّلَاةِ عَلَيْهِ وَزَوْجَتُهُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ زَوْجَةٌ فَأَوْلَاهُمْ الْأَبُ ثُمَّ الْجَدُّ ثُمَّ الِابْنُ ثُمَّ ابْنُ الِابْنِ ثُمَّ الْأَخُ ثُمَّ ابْنُ الْأَخِ ثُمَّ الْعَمُّ ثُمَّ ابْنُ الْعَمِّ ثُمَّ عَمُّ الْأَبِ ثُمَّ ابْنُهُ ثُمَّ عَمُّ الْجَدِّ ثم ابنه ثم عم ابي الْجَدِّ ثُمَّ ابْنُهُ وَعَلَى هَذَا التَّرْتِيبِ وَإِنْ كَانَ لَهُ زَوْجَةٌ جَازَ لَهَا غُسْلُهُ بِلَا خِلَافٍ عِنْدَنَا وَبِهِ قَالَتْ الْأَئِمَّةُ كُلُّهَا إلَّا رِوَايَةً عَنْ أَحْمَدَ وَهَلْ تُقَدَّمُ عَلَى رِجَالِ الْعَصَبَاتِ فِيهِ الْوَجْهَانِ اللَّذَانِ ذَكَرَهُمَا الْمُصَنِّفُ وَهُمَا مَشْهُورَانِ (اصحهما) عند الاكثرين لا يقدم بَلْ يُقَدَّمُ رِجَالُ الْعَصَبَاتِ ثُمَّ الرِّجَالُ الْأَقَارِبُ ثُمَّ الْأَجَانِبُ ثُمَّ الزَّوْجَةُ ثُمَّ النِّسَاءُ الْمَحَارِمُ وَبِهَذَا قَطَعَ الْمُصَنِّفُ فِي التَّنْبِيهِ وَالْجُرْجَانِيُّ فِي التحرير (والثاني) تُقَدَّمُ الزَّوْجَةُ عَلَيْهِمْ وَصَحَّحَهُ الْبَنْدَنِيجِيُّ

Kemudian jika jenazah laki-laki, maka manusia yang lebih utama memandikannya adalah mereka yang lebih utama menshalatkannya di shaf depan dan istrinya. 
  • Jika jenazah tidak beristri maka yang lebih utama diantara mereka adalah : bapak >> kakek >> anak laki-laki >> cucu laki-laki dari anak laki-laki >> saudara laki-laki >> anak laki-laki dari saudara laki-laki >> paman >> anak laki-laki dari paman >> pamannya bapak >> anak laki-laki dari pamannya bapak >> pamannya kakek >> anak laki-laki dari pamannya kakek >> pamannya kakek buyut >> anak laki-laki dari pamannya kakek buyut. Dan mengikuti tertib antrian ini, 
  • jika jenazah laki-laki tersebut memiliki istri maka boleh istri tersebut memandikannya dengan tidak ada ikhtilaf di kalangan madzhab syafii. Dan demikian boleh para imam mujtahid semuanya berpendapat, kecuali satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal. 
Dan apakah secara tertib antrian keutamaan istri didahulukan terhadap rijalul ashabah? Pada masalah ini ada 2 wajah yang keduanya telah disebut oleh mushannif/Syaikh Asy-Syairazi dan keduanya masyhur : 
  1. wajah yang lebih shahih diantara keduanya di kalangan mayoritas ulama adalah tidak didahulukan, melainkan rijalul ashabah didahulukan >> rijalul aqarib >> rijalul ajanib >> istri >> perempuan-perempuan mahrom. Dan terhadap tertib antrian keutamaan tersebut mushannif juga telah memastikan penjelasannya dalam kitab At-Tanbih dan Imam Al-Jurjani dalam kitab At-Tahrir. 
  2. Wajah kedua adalah istri didahulukan secara antrian terhadap rijalul ashabah. Imam Al-Bandaniji telah menshahihkan wajah kedua ini. 
(Lihat : Majmu Syarah Al-Muhaddab Jilid 5 Hal 113)

@Jenazah Perempuan

إذَا مَاتَتْ امْرَأَةٌ لَيْسَ لَهَا زَوْجٌ غَسَّلَهَا النِّسَاءُ ذَوَاتُ الْأَرْحَامِ الْمَحَارِمِ كَالْأُمِّ وَالْبِنْتِ وَبِنْتِ الِابْنِ وَبِنْتِ الْبِنْتِ وَالْأُخْتِ وَالْعَمَّةِ وَالْخَالَةِ وَأَشْبَاهِهِنَّ ثُمَّ ذَوَاتُ الْأَرْحَامِ غَيْرِ الْمَحَارِمِ كَبِنْتِ الْعَمِّ وَبِنْتِ الْعَمَّةِ وَبِنْتِ الْخَالِ وَبِنْتِ الْخَالَةِ يُقَدَّمُ أَقْرَبُهُنَّ فَأَقْرَبُهُنَّ قَالَ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ وَغَيْرُهُ وَبَعْدَ هَؤُلَاءِ يُقَدَّمُ ذَوَاتُ الولاء
Jika mati seorang perempuan yang tidak memiliki suami, maka memandikannya dzawatul arham almaharim seperti : ibu >> anak perempuan >> cucu perempuan dari anak laki-laki >> cucu perempuan dari anak perempuan >> saudara perempuan >> bibi dari bapak >> bibi dari ibu >> dsb. Kemudian dzawatul arham ghairil maharim seperti : anak perempuan paman dari bapak >> anak perempuan bibi dari bapak >> anak perempuan paman dari ibu >> anak perempuan bibi dari ibu. Didahulukan yang paling dekat secara nasab dari antara mereka kemudian yang paling dekatnya lagi dst. Berkata Syaikh Abu Hamid dan lainnya : dan setelah mereka semua didahulukanlah dzawatul wila >> perempuan ajnabiyah
قَالَ الْبَغَوِيّ وَغَيْرُهُ فَإِنْ اجْتَمَعَ امْرَأَتَانِ كُلُّ وَاحِدَةٍ ذَاتُ رَحِمٍ مَحْرَمٍ فَأَوْلَاهُمَا مَنْ هِيَ فِي مَحَلِّ الْعُصُوبَةِ لَوْ كَانَتْ ذَكَرًا فَتُقَدَّمُ الْعَمَّةُ عَلَى الْخَالَة
Imam Al-Baghawi dan lainnya telah berkata : kemudian jika berkumpul 2 perempuan yang masing-masingnya masuk kategori dzatu rahmin mahrom, maka yang paling utama diantara keduanya adalah dia yang masuk level perempuan penerima ashabah jika dia diciptakan sebagai laki-laki, maka dengan demikian didahulukanlah bibi dari bapak terhadap bibi dari ibu.

@Jika Tidak Ada Calon Tim Teknis, Kecuali Ajnabi/Ajnabiyah
إذَا مَاتَ رَجُلٌ وَلَيْسَ هُنَاكَ إلَّا امْرَأَةٌ أَجْنَبِيَّةٌ أَوْ امْرَأَةٌ وَلَيْسَ هُنَاكَ إلَّا رَجُلٌ أَجْنَبِيٌّ فَفِيهِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ (أَصَحُّهَا) عِنْدَ الْجُمْهُورِ يُيَمَّمُ وَلَا يُغَسَّلُ وبهذا قطع المصلح فِي التَّنْبِيهِ وَالْمَحَامِلِيُّ فِي الْمُقْنِعِ وَالْبَغَوِيُّ فِي شرح السنة وغيرهم وصححه الرواياتي والرفعي وَآخَرُونَ وَنَقَلَهُ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ وَالْمَحَامِلِيُّ وَالْبَنْدَنِيجِيّ وَصَاحِبُ الْعُدَّةِ وَآخَرُونَ عَنْ أَكْثَرِ أَصْحَابِنَا أَصْحَابِ الْوُجُوهِ وَنَقَلَهُ الدَّارِمِيُّ عَنْ نَصِّ الشَّافِعِيِّ وَاخْتَارَهُ ابْنُ الْمُنْذِرِ لِأَنَّهُ تَعَذَّرَ غُسْلُهُ شَرْعًا بِسَبَبِ اللمس والنظر فييمم كما لو تعذرحسا (وَالثَّانِي) يَجِبُ غُسْلُهُ مِنْ فَوْقِ ثَوْبٍ وَيَلُفُّ الْغَاسِلُ عَلَى يَدِهِ خِرْقَةً وَيَغُضُّ طَرْفَهُ مَا امكنه فان اضطر الي النظر نظر قَدْرَ الضَّرُورَةِ صَرَّحَ بِهِ الْبَغَوِيّ وَالرَّافِعِيُّ وَغَيْرُهُمَا كَمَا يَجُوزُ النَّظَرُ إلَى عَوْرَتِهَا لِلْمُدَاوَاةِ وَبِهَذَا قَالَ الْقَفَّالُ وَنَقَلَهُ السَّرَخْسِيُّ عَنْ أَبِي طَاهِرٍ الزِّيَادِيِّ مِنْ أَصْحَابِنَا وَنَقَلَهُ صَاحِبُ الْحَاوِي عَنْ نَصِّ الشَّافِعِيِّ وَصَحَّحَهُ صَاحِبُ الْحَاوِي وَالدَّارِمِيُّ وَإِمَامُ الحرمين وَالْغَزَالِيُّ لِأَنَّ الْغُسْلَ وَاجِبٌ وَهُوَ مُمْكِنٌ بِمَا ذَكَرْنَاهُ فَلَا يُتْرَكُ (وَالثَّالِثُ) لَا يُغَسَّلُ وَلَا يُيَمَّمُ بَلْ يُدْفَنُ بِحَالِهِ حَكَاهُ صَاحِبُ الْبَيَانِ وَغَيْرُهُ وَهُوَ ضَعِيفٌ جِدًّا بَلْ بَاطِلٌ
Jika mati seorang laki-laki dan tidak ada disana kecuali perempuan ajnabiyah, atau jika mati seorang perempuan dan tidak ada disana kecuali laki-laki ajnabiy, maka dalam masalah ini ada 3 wajah : 
  1. wajah yang lebih shahih di kalangan jumhur ulama adalah ditayamumkan dan tidak dimandikan. Dan terhadap wajah ini telah memutuskan hukum : Imam Al-Mushlih dalam kitab At-Tanbih, Imam Al-Mahamili dalam kitab Al-Muqni, Imam Al-Baghawi dalam kitab Syarah As-Sunnah dsb. Telah menshahihkannya :  Imam Ar-Rauyani, Imam Ar-Rifa'i, dan banyak yang lainnya. Dan Syaikh Abu Hamid, Imam Al-Mahamili, Imam Al-Bandaniji, Shahibul Uddah dan banyak yang lainnya telah menuqil wajah ini dari mayoritas Ashhab Imam Syafii yang termasuk kategori ashhabul wujuh. Dan Imam Ad-Darimi telah menuqilnya dari nash Imam Syafii. Dan Ibnu Mundzir telah memilihnya, karena sesungguhnya sulit memandikan jenazah secara syara oleh sebab sentuhan dan penglihatan, maka ditayamumkan sepertihalnya jika ada kesulitan secara hissi.
  2. Wajib memandikannya dari atas kain penutup dan tim teknis memintalkan kain penyeka pada tangannya serta memejamkan pandangan sebisa mungkin. Maka jika darurat untuk melihat, boleh melihat seukuran darurat. Imam Al-Baghawi dan Imam Ar-Rafii dan selain mereka berdua menjelaskannya begitu, sepertihalnya dia boleh melihat aurat perempuan untuk keperluan pengobatan. Dan terhadap wajah ini telah berkata Imam Qafal. Imam As-Sarakhsi juga telah menuqil wajah ini dari Imam Abi Thahir Az-Zayadi dari antara Ashhab Imam Syafii. Pemilik kitab Al-Hawi juga telah menuqilnya dari nash Imam Syafii. Dan telah mentashhihnya pemilik kitab Al-Hawi, Imam Ad-Darimi, Imam Al-Haramain dan Imam Al-Ghazali. Hal ini karena sesungguhnya memandikan jenazah hukumnya wajib serta mungkin dapat dilakukan dengan cara yang sudah disebutkan, maka tidak boleh ditinggalkan.
  3. Tidak dimandikan dan tidak ditayamumkan, melainkan dikubur apa adanya pada kondisi tersebut. Pemilik kitab Al-Bayan dan yang lainnya telah menghikayatkan wajah ini. Wajah ini sangat dhaif dan bahkan bathil.
(Lihat : Al-Majmu Syarah Muhaddab Jilid 5 Hal 118-119)

Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar dalam Tuhfah Al-Muhtaj dan Imam Qalyubi dalam Hasyiyah Al-Qalyubi :

 فَإِنْ لَمْ يَحْضُرْ إلَّا أَجْنَبِيٌّ كَبِيرٌ وَاضِحٌ وَالْمَيِّتُ امْرَأَةٌ أَوْ أَجْنَبِيَّةٌ كَذَلِكَ وَالْمَيِّتُ رَجُلٌ يُمِّمَ الْمَيِّتُ فِي الْأَصَحِّ لِتَعَذُّرِ الْغُسْلِ شَرْعًا لِتَوَقُّفِهِ عَلَى النَّظَرِ وَالْمَسِّ الْمُحَرَّمِ

maka apabila tidak hadir kecuali laki-laki ajnabiy wadhih dan jenazahnya perempuan, atau ajnabiyah wadhihah dan jenazahnya laki-laki, maka jenazah ditayamumkan menurut qoul ashah, karena sulitnya proses memandikan secara syar'i karena tawaqqufnya proses tersebut pada sentuhan dan penglihatan yang diharamkan (Lihat : Tuhfah Al-Muhtaj Juz 3 Hal 109) 

فرع

لو أمكن من الأجنبي الغسل بلا مس ولا نظر وجب بناء على القول الأصح

Jika secara teknis pelaksanaan tim teknis yang semuanya terdiri dari ajnabiy tersebut dapat melakukan suatu proses pemandian tanpa sentuhan dan penglihatan, maka proses memandikan tanpa sentuhan dan penglihatan tersebut menjadi wajib dilakukan berdasarkan qaul yang ashah (Lihat : Hasyiyah Al-Qalyubi Ala Syarh Al-Mahalli Ala Al-Minhaj Juz 1 Hal 326)


فَإِنْ لَمْ يَكُنْ نِسَاءٌ أَصْلًا غَسَّلَهَا الْأَقْرَبُ فَالْأَقْرَبُ مِنْ رِجَالِ الْمَحَارِمِ عَلَى مَا سَبَقَ فِيمَا إذَا مَاتَ رَجُلٌ فَيُقَدَّمُ الْأَبُ ثُمَّ الْجَدُّ ثُمَّ الِابْنُ عَلَى التَّرْتِيبِ السَّابِقِ
Kemudian jika sama sekali tidak ada perempuan maka memandikannya laki-laki yang paling dekat secara nasab kemudian yang lebih dekatnya lagi dari antara para lelaki yang berstatus mahrom mengikutin urutan antrian yang lalu pada permasalahan jika mati seorang laki-laki, maka bapak >> kakek >> anak laki-laki dst mengikuti urutan tertib antrian yang telah lalu.

Kriteria-kriteria tersebut diatas dikenal dengan istilah "muqaddam bi ad-darjat". Jika ternyata mereka yang hadir dari para calon tim teknis tersebut sederajat, dan mereka berebut pamau-pamau, maka untuk seleksi selanjutnya menggunakan "muqaddam bi ash-shifat" yaitu 
  1. Al-Afqah : Orang yang paling memahami tatacara pelaksanaan memandikan jenazah menurut ilmu fiqih
  2. Al-Asann : Orang yang paling tua.
Alasan kriteria afqah lebih diprioritaskan dari pada asann adalah :
لِأَنَّ الْقَصْدَ هُنَا إحْسَانُ الْغُسْلِ وَالْأَفْقَهُ وَالْفَقِيهُ أَوْلَى بِهِ
Karena tujuannya pada bab memandikan ini adalah bagusnya memandikan. Dan untuk mencapai tujuan itu afqah dan faqih lebih diutamakan karena memahami tata caranya secara fiqih jenazah. (Lihat : Tuhfah Al-Muhtaj Juz 3 Hal 110)

Disyaratkan juga orangnya pada semua kriteria muqaddam di atas :
  • Islam. Jika jenazahnya beragama islam (Lihat : Majmu Syarah Muhaddab Jilid 5 Hal 117, Fathul Wahab Juz 1 Hal 92, Tuhfah Al Muhtaj Juz 3 Hal 112)
  • Bukan orang yang telah menghilangkan nyawa jenazah, sekalipun dengan haq (Lihat : Majmu Syarah Muhaddab Jilid 5 Hal 117,  Fathul Wahab Juz 1 Hal 92, Tuhfah Al Muhtaj Juz 3 Hal 112)
  • Merdeka (Tuhfah Al Muhtaj Juz 3 Hal 111)
  • Berakal (Tuhfah Al Muhtaj Juz 3 Hal 111)
Jika tidak ada orang yang memenuhi kriteria-kriteria tersebut, maka jenazah tidak boleh dimandikan, yang jadi wajib adalah menjadi mentayamumkannya (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 151)

Illat menjadi ditayamumkan menurut Imam Al-Bujairimi :
إلْحَاقًا لِفَقْدِ الْغَاسِلِ بِفَقْدِ الْمَاءِ
diilhaqkan masalah ketiadaan ghasil pada masalah ketiadaan air (Lihat : Hasyiyah Al-Bujairimi ala Syarh Al-Minhaj Juz 1 Hal 459)

Peralatan

Berikut ini adalah peralatan untuk memandikan jenazah :
  1. Sarung tangan untuk nantinya dipergunakan oleh tim teknis menyentuh badan jenazah. Karena sebagian ulama melarang menyentuh secara langsung tanpa kain lap (Lihat : Fathul Wahab Juz 1 Hal 91)  Tentu sarung tangan lebih cocok dipergunakan.
  2. Masker untuk tim teknis. Ini sangat penting sekalipun bukan pada masa pandemi corona. Karena fungsinya bukan hanya untuk mencegah penularan penyakit jenazah, melainkan juga menjaga perubahan mimik wajah orang yang memandikan pada situasi dimana dia menemukan sesuatu yang tidak enak dilihat atau dicium pada proses memandikan jenazah.
  3. Celemek untuk dipergunakan tim teknis, agar cipratan air tidak menjiprat secara langsung ke pakaian atau badan tim teknis.
  4. Tempat tertutup (bukan sunyi sepi) sehingga nantinya hanya tim teknis yang berada di ruangan. Ini untuk menjaga privasi jenazah. Bahkan yang lebih utama di tempat yang ada langit-langitnya (Lihat : Fathul Wahab Juz 1 Hal 90) 
  5. Kain carang untuk tutup badan jenazah, sekira tidak menghalangi sampainya air ke badan jenazah. Untuk hal ini baju qomis/gamis sangat disarankan oleh para ulama agar lebih mampu menutupi badan jenazah. qomis yang bukan baru lebih direkomendasikan, karena qomis baru dibeli biasanya menahan laju air, tidak menyerap. Point pentingnya dalam hal ini adalah kain penutup tidak menahan laju air, jadi sebenarnya kain baru juga tidak masalah jika tidak menyebabkan masalah pada laju air. Karena fungsi utama kain penutup adalah untuk menutup aurat, sementara air harus tetap lancar sampai ke badan jenazah (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150)
  6. Tempat pemandian yang tinggi seperti ranjang khusus agar jenazah mudah dimandikan dan tidak terkena cipratan (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150, Fathul Wahab Juz 1 Hal 90) dianjurkan tempat untuk kepala jenazah lebih tinggi (Lihat : Fathul Wahab Juz 1 Hal 90) 
  7. Tong sampah untuk nantinya dipergunakan oleh tim teknis untuk membuang kotoran atau kain kotor bekas membersihkan kotoran dari badan jenazah.
  8. 5 wadah air dingin : 1) tanpa campuran untuk menghilangkan najis dan kotoran dari badan jenazah, 2) tanpa campuran untuk mewudhukan jenazah, 3) dicampur sabun/sidr/bidara untuk memandikan jenazah, 4) tanpa campuran apapun untuk membersihkan air sebelumnya yang dicampur sabun, 5) dicampur kafur/kamper/wewangian untuk penutup mandi. Fungsi kafur/kamper salah satunya adalah bahwa aromanya bisa mengusir binatang melata, bahkan tidak menggunakannya dalam hal ini dihukumi makruh, tapi jangan terlalu banyak agar dzat pencampur kadarnya tidak mengubah status kemutlaqan air mutlaq tersebut sehingga mencabut status thahuriyahnya (Lihat : Fathul Wahab Juz 1 Hal 90, Kifayah Al-Akhyar Juz 1 Hal 166) Kenapa air dingin? karena air dingin lebih mengawetkan badan jenazah. Tapi air hangat juga boleh. Umumnya penggunaan air hangat dimaksudkan untuk menjaga suhu badan baik suhu badan orang yang memandikan maupun jenazah yang dimandikan, misalnya karena memandikannya di tengah malam yang sangat dingin. Tapi pada kasus yang berbeda penggunaan air hangat juga dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran pada badan jenazah yang sulit dihilangkan jika tidak menggunakan air hangat (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150) Penempatannya jangan terlalu dekat dari badan jenazah, agar nantinya tidak terkena cipratan bekas air yang diguyurkan ke badan jenazah (Lihat : Fathul Wahab Juz 1 Hal 90) Karena cipratan tersebut akan mempengaruhi status air terciprat menjadi air musta'mal bahkan bisa jadi mutanajis, sehingga air dalam 1 wadah jadi mubadzir karena tidak bisa dipergunakan untuk memandikan jenazah.

Persiapan

Berikut ini adalah hal-hal penting dalam rangka persiapan sebelum memandikan yang sebagian bahkan sering dilupakan.
  • Pastikan jenazah sudah mati
  • Pastikan tim teknis sudah siap
  • Pastikan peralatan sudah siap
Hal-hal lain yang perlu diperhatikan :
  • Tim teknis diharamkan melihat aurat jenazah (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150, Fathul Wahab Juz 1 Hal 91)
  • Tim teknis disunatkan tidak melihat badan yang tidak termasuk aurat jika tidak diperlukan (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150, Fathul Wahab Juz 1 Hal 91)
  • Wajah jenazah disunatkan ditutup sejak mulai ditempatkan di atas ranjang pemandian sampai akhir. (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150, Fathul Wahab Juz 1 Hal 91)
  • Tim teknis harus amanah : Jika melihat tanda-tanda baik, sunat diceritakan. Jika melihat tanda-tanda tidak baik, haram diceritakan. (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150)

Tata Cara Memandikan Jenazah

@ Tahapan Menghilangkan Kotoran & Mensucikan Najis Sebelum Dimandikan :
  1. Baringkan jenazah di ranjang khusus
  2. Tim teknis berada di sebelah kiri jenazah.
  3. Tim teknis mengubah posisi badan jenazah di atas pembaringan menjadi setengah duduk dengan sedikit dimiringkan ke arah belakang jenazah : Punggung jenazah ditunjang lutut kanan orang yang memandikan, sementara tangan kanannya diposisi antara dua "walikat" dan jempolnya menahan lekuk "kuduk" jenazah agar kepala jenazah tidak "ngulahek" ke belakang. (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150, Fathul Wahab Juz 1 Hal 90)
  4. Tangan kiri tim teknis mengurut perut mayit dengan laju dari atas ke bawah. Tujuannya untuk mengeluarkan kotoran yang ada di dalam perut jenazah. (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150) Sebaiknya pada momentum ini Tim teknis lain membantu tim teknis utama mengguyur air pada qubul-dubur jenazah agar tidak dzahir aroma yang dihasilkan proses ini (Lihat : Fathul Wahab Juz 1 Hal 90) 
  5. Memiringkan posisi badan jenazah ke sebelah kanan jenazah untuk dibersihkan kotoran qubul-duburnya oleh tim teknis dari sisi kiri badan jenazah (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150)
  6. Tim teknis mengambil kain khusus kemudian dipintalkan ke jari tangan kiri yang akan digunakan untuk mengorek/menyerbet kotoran yang ada di qubul-dubur jenazah. kemudian membuangnya ke tong sampah. (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150, Fathul Wahab Juz 1 Hal 90) Ulangi cara ini sejumlah yang dibutuhkan, bisa sampai 3-5 kali. Sambil diguyur air.
  7. Tim teknis membersihkan kotoran dari lubang hidung jenazah menggunakan jari kelingking. Sambil diguyur air
  8. Tim teknis membersihkan gigi jenazah menggunakan jari telunjuk. Sambil diguyur air. Pada saat ini dilakukan, sebaiknya mulut mayit tidak menganga, agar air tidak masuk ke dalam mulut --> perut mayit, karena air tersebut dapat berakibat mempercepat pembusukan badan jenazah. Jika pada giginya ada najis, kemudian tidak ada solusi untuk membersihkannya selain dengan membuatnya menganga, maka ngangakan saja sekalipun diketahui air berpotensi masuk ke dalam perutnya. Adapun pada kasus tidak ada cara lain dalam membersihkan najis pada giginya selain dengan menghancurkan giginya, maka solusi yang tepat adalah dibersihkan sebisanya tanpa menghancurkan giginya. (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150)
  9. Tim teknis membersihkan kotoran "tahi kuku" dari bawah kuku jenazah dengan menggunakan kayu/pentul korek/lidi bersih/tusuk gigi tanpa memotong kukunya. Ini sebenarnya bisa dilakukan pada saat mewudhukan (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150) tapi jika ini dilakukan sebelum mewudhukannya tentu lebih baik karena bisa jadi ada najis pada bagian tubuh tersebut.
@ Tahapan Mewudhukan Jenazah Sebelum Dimandikan :
  1. Tim teknis mengkumur mulut jenazah sambil memiringkan wajahnya agar air tidak masuk ke dalam perut jenazah melalui mulutnya saat dikumur.(Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150)
  2. Tim teknis menghisapkan air ke hidung jenazah dengan posisi wajah sedikit ditekuk ke bawah atau dimiringkan ke samping seperti saat mengkumurkan. Tujuannya sama, yaitu agar air tidak masuk ke perut jenazah melalui hidungnya saat diistinsaqkan.(Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150)
  3. Niat wudhu untuk mayit نويت الوضوء المسنون لهذا الميت Niat wudhu pada proses ini sekalipun hukum mewudhukannya sunat, niatnya tetap wajib dilakukan agar wudhu sunat ini sah. (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150) Karena pada prakteknya, baik wudhu sunat maupun wudhu wajib fardhu wudhunya sama ada 6 : salah satunya adalah niat yang pelaksanaannya di dalam hati ketika mulai mendatangkan air ke anggota wudhu pertama.
  4. Tim teknis membasuh wajah jenazah (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150) sambil melafalkan niat wudhu di dalam hati. Sunat 3 x basuhan sebagaimana wudhu biasa. Sunat juga membaca bacaan yang disunatkan sewaktu membasuh wajah pada wudhu biasa.
  5. Tim teknis membasuh tangan kanan jenazah. Sunat 3 x basuhan sebagaimana wudhu biasa. Sunat juga membaca bacaan yang disunatkan sewaktu membasuh tangan kanan pada wudhu biasa. kemudian membasuh tangan kiri jenazah 3 x beserta doa basuhannya.
  6. Tim teknis mengusapkan air pada rambut jenazah. Sunat 3 kali disertai doa basuhan.
  7. Tim teknis mengusapkan air ke telinga kanan jenazah 3 x disertai doa sebagaimana pada wudhu biasa. begitu juga telinga kirinya.
  8. Tim teknis membasuh kaki jenazah yang kanan dan kiri masing-masing 3 kali dengan doa basuhannya seperti biasa.
@ Tahapan Memandikan Jenazah :
Sunat melakukan tutorial 2 - 8 sebanyak 3 kali
  1. Niat memandikan jenazah. Lafadz niatnya adalah نويت الغسل لهذا الميت لله تعالى atau لهذه الميت.  terserah anda mau menggunakan lafadz الميت atau الميتة untuk jenazah perempuan, maknanya sama pada momentum ini. Sekalipun ada yang meyakini maknanya beda, pada momentum ini isim isyarah lafadz هذا atau هذه lebih menentukan ma'rifatnya objek daripada ribet mempermasalahkan penggunaan ت ciri mu'annats pada lafadz الميتة .Sebenarnya niat memandikan ini juga tidak wajib, hukumnya sunat, karena maksud memandikan jenazah adalah نظافة / membersihkan sehingga tidak tawaquf kepada niat. (Lihat : Fathul Wahab Juz 1 Hal 90) Niat wajib dibersamakan dengan mulai sampainya guyuran air mandi yang dicampur sabun/sidr/bidara ke badan jenazah. 
  2. Disertai niat memandikan, tim teknis mengguyurkan air yang dicampur sabun/sidr/daun bidara ke kepala jenazah dimulai dari kepala atas sampai dagu termasuk jenggotnya jika berjenggot. Sunat menyisir rambut jenazah dengan sisir yang carang jika rambutnya gimbal, jika rambutnya ada yang tercabut maka wajib menguburkannya bersama jenazah. Dalam hal menyertakannya, sunat rambut tersebut disertakan di dalam kain kafan bersama jenazah (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150) tidak digolerkan di dalam kubur. 
  3. Tim teknis mengguyurkan air yang dicampur sabun/sidr/daun bidara ke badan depan jenazah yang sebelah kanan dari mulai leher sampai ujung kaki.(Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150)
  4. Tim teknis mengguyurkan air yang dicampur sabun/sidr/daun bidara ke badan depan jenazah yang sebelah kiri dari mulai leher sampai ujung kaki.(Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150)
  5. Tim teknis mengubah badan jenazah  menjadi menyamping ke sebelah kiri, kemudian mengguyurkan air yang dicampur sabun/sidr/daun bidara ke sisi kanan badan mayit dari mulai leher sampai ujung kaki. Dengan guyuran ini, badan belakang jenazah sebelah kanan jadi ikut terguyur air mandi.
  6. Tim teknis mengubah badan jenazah  menjadi menyamping ke sebelah kanan. kemudian mengguyurkan air yang dicampur sabun/sidr/daun bidara ke sisi kiri badan mayit dari mulai leher sampai ujung kaki. Dengan guyuran ini, badan belakang jenazah sebelah kiri jadi ikut terguyur air mandi. Haram mengguyur badan belakang jenazah dalam keadaan tengkurap, karena itu perlakuan yang merendahkan martabat jenazah. (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150)
  7. Tim teknis mengguyurkan air yang bersih tanpa campuran sabun/sidr/bidara maupun kafur/kamper/wewangian ke seluruh badan jenazah dimulai dari kepala sampai ujung kaki. Guyuran ini disebut مزيل / guyuran air yang menghilangkan.
  8. Tim teknis mengguyurkan air yang bersih yang dicampur sedikit kafur/kamper/wewangian ke seluruh badan jenazah dimulai dari kepala sampai ujung kaki. 

Setelah Jenazah Dimandikan

  1. Sunat dilunakan sendi-sendinya seperti sewaktu baru saja mati sesaat sebelum dimandikan.  (Lihat : Fathul Wahab Juz 1 Hal 91)
  2. Sunat dilap/dikeringkan agar kain kafan nantinya tidak mudah rusak sehingga memperlambat pembusukan. (Lihat : Fathul Wahab Juz 1 Hal 91)
  3. Jika setelah dimandikan keluar najis dari qubul-dubur jenazah, maka wajib dibersihkan lagi (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 150, Fathul Wahab juz 1 Hal 91) tanpa mengulang proses memandikannya, karena keluarnya lagi najis tidak membatalkannya dan tidak mewajibkannya untuk dimandikan kembali.

Pertanyaan : Bagaimana Jika Jenazah Tidak Bisa Dimandikan?

Pada kondisi jenazah tidak bisa dimandikan  seperti : 
  • kemarau, 
  • mati terbakar, sekira jika dimandikan badannya akan melepuh berjatuhan/hancur (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 151)
  • Jika pada badannya ada najis yang tidak bisa dihilangkan seperti jenazah yang semasa hidupnya belum dikhitan, yang ditayamumkan hanya kulufnya, adapun anggota tubuh lainnya tetap dimandikan. Ini berdasarkan pendapat mu'tamad Imam Ibnu Hajar (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 151) 
  • Tidak ditemukan mahrom dan sesama jenis kelamin untuk dijadikan tim teknis(Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 151)
maka jenazah wajib ditayamumkan :
  • Ditayamumkan sebagaimana tayamum orang hidup
  • Menghilangkan najis pada dzohir badan jenazah sebelum ditayamumkan, hukumnya wajib dan termasuk syarat sah tayamum (Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 151) sebagaimana ketentuan pada tayamum orang hidup.
  • Niat tayamum hukumnya sunat bagi orang yang mentayamumkan jenazah, sebagaimana dalam hal memandikannya.(Lihat : Nihayah Az-Zain Hal 151)
Wallahu A'lam
cara-memandikan-jenazah-madzhab-syafii

Daftar Pustaka

An-Nawawi, Imam Muhyiddin Abi Zakariya Yahya. Al-Majmu Syarah Al-Muhaddab. Maktabah Al-Irsyad.
Al-Haitami, Imam Ibnu Hajar. Tuhfah Al-Muhtaj. Matba'ah Mustafa Muhammad.
Al-Bujairimi. Imam Sulaiman. Maktabah Asy-Syamilah.
Al-Malibari, Syekh Zainudin. Fathul Muin. Syirkah An-Nur Asia.
Ad-Dimsaqi, Imam Taqiyuddin Abi Bakar. Kifayatul Akhyar (Jilid 1). Syirkah An-Nur Asia.
Ba'alawi, Syaikh Sayid Abdurrahman. Bughiyah Al-Mustarsyidin. Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah.
Al-Qalyubi, Syaikh Syihabuddin Ahmad dan Umairoh, Syaikh Syihabuddin Ahmad. Hasyiyah Al-Qalyubi Wa Umairoh Ala Syarh Al-Mahalli Ala Al-Minhaj (Jilid 1). Dar Al-Fikr.
Al-Anshari, Syaikh Abi Yahya Zakariya. Fath Al-Wahab (Jilid 1). Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah.
Al-Bakri, Syaikh Sayid Abu Bakar Ad-Dimyati. Ianah Ath-Thalibin (Jilid 2). Syirkah An-Nur Asia.
Al-Ghazzi, Syaikh Ibnu Qasim. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Syirkah An-Nur Asia.
Al-Baijuri, Syaikh Ibrahim. Hasyiyah Al-Bajuri (Jilid 1). Toha Putra.
Al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Nihayah Az-Zain dan Kasyifah As-Saja. Toha Putra.
Asy-Sya'rani, Syaikh Abdul Wahab. Mukhtashar Tadzkirah Al-Qurtuby. Toha Putra.
Syaikh Muhammad bin Salim. Is'ad Ar-Rafiiq (Jilid 1) Syirkah An-Nur Asia

Talqin Mayit dan Talqin Sakaratul Maut

Pengertian Talqin, Tujuan & Hukumnya

Talqin maksudnya perbuatan mengajarkan/menuntun bacaan. Mulaqqin artinya orang yang mentalqin. Mulaqqon artinya orang yang ditalqin.
Ada 2 jenis talqin yang biasa dilakukan, yaitu : 
  1. Talqin terhadap orang yang sedang menghadapi sakaratul maut (mulaqqon belum mati, sesaat sebelum yugharghir)
  2. Talqin terhadap mayit yang baru saja diquburkan (mulaqqon sudah mati, sesaat sebelum su'alul malakain)
Tujuan utamanya sama, yaitu "tadzkir" dan "tatsbit" : 
  1. Membantunya mengingat kalimat tauhid dan membantunya menetapkan hatinya agar tauhidnya جازم sehingga orang sekarat tersebut mati dalam keadaan bertauhid (iman islam) dan berhasil mengakhiri perkataan semasa hidupnya dengan kalimat tauhid.
  2. Membantunya mengingat komitmen dia semasa hidupnya sebagai mu'min terutama tentang ridha dituhani Tuhan Allah ridha islam sebagai agama ridha dirasuli Rasul Muhammad ridha AlQur'an sebagai Imam dan membantunya menetapkan hatinya agar tidak ada keraguan dalam menjawab pertanyaan malaikat munkar dan malaikat nakir. 
Penting dibantu mengingat dan dibantu menetapkan hatinya, karena :
  1. Pada saat sakaratul maut, godaan syaithan sangat kuat. Sementara sakaratul maut itu sendiri sangat menyakitkan, sehingga potensi tergoda sangat mungkin bisa terjadi.
  2. Pada saat mayit baru saja diquburkan, dia masih dalam keadaan kaget dengan semua yang terjadi, termasuk karena alam barzah ini alam baru bagi dia. Sementara menjawab pertanyaan dengan benar menjadi keharusan dalam kondisi ini.
Hukum keduanya adalah sunat sebagaimana dijelaskan oleh para ulama ahli fiqih, terutama kalangan ulama fiqih madzhab imam syafii.

Secara urutan teknis pelaksanaan, talqin orang yang sedang menghadapi sakaratul maut tentu lebih awal dilaksanakan sebelum talqin mayit yang baru saja dikubur. Oleh karena itu pembahasannya pada artikel ini menjadi didahulukan.

1) Talqin Sakaratul Maut (من حضره الموت)
Menurut Syekh Umairah dalam Hasyiyah Umairah/Hasyiyatani Juz 1 Hal 321 : 
قوله من حضره الموت
أى أخذا من قوله تعالى حتى اذا حضر أحدكم الموت
Artinya : "Perihal istilah من حضره الموت adalah diambil dari Firman Allah :  حتى اذا حضر أحدكم الموت ".

Sebelum membahas tentang tatacaranya, penting juga membahas landasan hukumnya. Berikut ini adalah Ayat Al-Qur'an, Hadits dan pendapat para ulama berkaitan dengan talqin orang yang sedang menghadapi sakaratul maut :
وذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين
Latin : Wadzakkir fa innadzdzikroo tanfa'ul mu'miniina. Artinya : Dan ingatkanlah karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mu'min (QS Adz-Dzariyat : 55)

 عن أ بي سعيد الخدري يقول قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لقنوا موتاكم لا اله الا الله
Latin : "an abi sa'iid alkhudriy yaquulu qoola Rosuulullaoohi Shollalloohu Alaihi Wasallam Laqqinuu mautaakum Laa Ilaaha Illallooh". Artinya : "Dari Abi Said Al-Khudriy, dia berkata Rasulullah SAW telah bersabda : Talqinkanlah orang yang akan mati kalimat Laa Ilaaha Illallooh" (HR Imam Muslim - Syarah Muslim Juz 6 Hal 219)

Imam Nawawi dalam kitab Syarah Muslim Juz 6 Hal 219 menjelaskan makna hadits tersebut :
معناه من حضره الموت والمراد ذكروه لا اله الا الله لتكون أخر كلامه كما في الحديث من كان آخر كلامه لا اله الا الله دخل الجنة
Artinya : Makna موتاكم adalah orang yang sedang sekarat maut. Maksudnya adalah ingatkanlah/ajarkanlah kepadanya kalimat لا اله الا الله supaya akhir perkataannya di dunia seperti yang ada dalam hadits من آخر كلامه لا اله الا الله دخل الجنة barangsiapa akhir perkataannya di dunia kalimat لا اله الا الله maka pasti akan masuk surga.

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari dalam kitab Fathul Muin Hal 47 menjelaskan :
ويندب أن يلقن محتضرا ولو مميزا على الأوجه الشهادة أي لا اله الا الله فقط لخبر مسلم لقنوا موتاكم أي من حضره الموت لا اله الا الله مع الخبر الصحيح من كان آخر كلامه لا اله الا الله دخل الجنة أي مع الفائزين والا فكل مسلم ولو فاسقا يدخلها ولو بعد عذاب وان طال وقول جمع يلقن محمد رسول الله أيضا لأن القصد موته على الإسلام ولا يسمى مسلما الا بهما مردود بأنه مسلم وانما القصد ختم كلامه بلا اله الا الله ليحصل له ذلك الثواب وبحث تلقينه الرفيق الأعلى لأنه آخر ما تكلم به رسول الله صلى الله عليه وسلم مردود بأن ذلك لسبب لم يوجد في غيره وهو أن الله خيره فاختاره  وأمالكافر فيلقنهما قطعا مع لفظ أشهد لوجوبه أيضا على ما سيأتي فيه اذ لا يصير مسلما الا بهما
Artinya : "disunatkan untuk orang yang sedang sakaratul maut sekalipun dia mumayyiz berdasarkan pendapat yang lebih unggul, ditalqini kalimat syahadat, maksudnya لا اله الا الله saja. Karena ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim : talqinkanlah kepada orang yang maut diantara kalian (maksudnya adalah orang yang hadir kepadanya maut/sakaratul maut) لا اله الا الله serta hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud : Barangsiapa akhir kalimat hidupnya لا اله الا الله maka pasti akan masuk surga (maksudnya adalah bersama faa'iziin). Jika yang dimaksud bukanlah masuk surga bersama faa'iziin maka tidak sah, karena setiap muslim walaupun fasiq akan masuk surga sekalipun setelah diadzab bahkan sekalipun diadzabnya dalam jangka waktu yang lama. Adapun pendapat golongan yang mengatakan : ditalqinkan juga kalimat محمد رسول الله nya dengan argumentasi bahwa sesungguhnya yang dimaksud adalah agar mautnya orang yang sedang sakarat di atas agama islam dan tidak disebut muslim tanpa kedua kalimat tersebut" adalah mardud, karena sebenarnya dia tetap muslim. karena tujuannya adalah menutup perkataannya dengan لا اله الا الله supaya hasil untuknya pahala masuk surga bersama faa'iziin. Adapun perihal ditalqinkannya kalimat الرفيق الأعلى karena kalimat tersebut merupakan akhir perkataan Rasulullah SAW, maka itu juga mardud. Karena kalimat tersebut sebagai sebab tidak ditemukannnya sebab pada selain Rasulullah dan karena Allah memilih Rasulullah dan Rasulullah memilih kalimat tersebut. Adapun orang kafir yang sedang sekarat maka pasti ditalqinkan juga kedua kalimatnya beserta lafadz اشهد karena wajibnya menyertakan lafadz اشهد berdasarkan argumentasi yang akan di jelaskan pada penjelasan khusus tentang itu, karena kafir tidak menjadi muslim tanpa kedua kalimat itu." 

Sayid Abu Bakar Ad-Dimyati memperjelas penjelasan Syekh Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari dalam kitab I'anah Ath-Thalibin Juz 2 Hal 139 :
من غير زيادة محمد رسول الله
tanpa ditambah dengan kalimat محمد رسول الله
فلو أتى به لم يحصل سنة التلقين ويظهر أنه لا كراهة فيه
maka jika mulaqqin mendatangkan (menambahkan) kalimat محمد رسول الله maka tidak hasil sunat talqin, dan dzahir bahwasanya itu tidak makruh dalam hal talqin.
Berikut ini adalah tata cara mentalqini orang yang sedang menghadapi sakaratul maut :
  1. Badannya dihadapkan ke arah qiblat : dengan posisi menyamping (idhtija) ke sisi kanan badan jika memungkinkan. Jika itu sulit, boleh idhtija ke sisi kiri. Jika itu juga sulit, boleh istilqo/telentang dengan wajah dan kedua telapak kaki menghadap kiblat.
  2. Bacakan surat yasin di sekelilingnya secara jahr (bisa terdengar, bukan kencang). Hikmah dibacakannya surat yasin disampingnya selain karena itu sunah adalah karena bahwasanya ahwal qiyamah dan ba'ats dijelaskan di dalamnya, harapannya dengan itu dapat merefresh ingatannya tentang ahwal qiyamah.
  3. Jika menurut pengamatan orang yang sekarat tersebut berharap ingin segera melalui tahapan sakaratnya, bacakan disampingnya surat Al-Ra'du. Karena surat al-ra'du ini salah satu berkahnya adalah mempercepat sakaratul maut.
  4. Jika mampu tanpa diajari, orang yang sedang sekarat dianjurkan memperbanyak perkataan لا اله الا الله dan jika mampu sadar mintalah untuk diingatkan terus oleh yang hadir di sekelilingnya untuk ditalqin (kondisi tangguh seperti ini jarang terjadi)
  5. Jika orang yang sekarat sulit mengucapkan لا اله الا الله disunatkan kepada salah seorang yang hadir di sekelilingnya untuk melakukan "talqin". Sebaiknya mulaqqin (orang yang mentalqin) bukan bukan orang yang berpotensi menambah beban pikiran orang yang sedang sekarat misalnya : ahli waris yang mata duitan/warisan, musuhnya semasa hidupnya, orang yang membencinya atau orang yang dibencinya. Jika ada, mudah-mudahan stoknya selalu ada, sebaiknya mulaqqin (orang yang melakukan talqin) adalah keluarga yang semasa hidupnya dianggap yang paling menyayanginya, hal ini karena : orang yang sedang sekarat butuh dituntun/diajari pengucapan لا اله الا الله dengan penuh rasa kasih sayang dan sebagai tandingan dari kemunculan syaithan terhadap orang yang sedang sekarat dengan wujud menyerupai orang penting yang sudah terlebih dahulu mati misalnya : ayah almarhum, ibu alm, kakek alm, nenek alm, kakak alm, istri alm, kekasih alm dsb sebagai penggoda iman.
  6. Dalam proses talqin, sebaiknya mulaqqin suaranya lembut, pelan tapi pasti, dan penuh kasih sayang. Bukan membentak-bentak atau menggebu-gebu.
  7. Pada alurnya, mulaqqin mengucapkan لا اله الا الله terlebih dahulu kata per kata kemudian diikuti orang yang sedang sekarat tersebut kata perkata, mirip seorang ibu yang sedang mengajari anak balita mengucapkan لا اله الا الله (Kesalahan yang fatal adalah mulaqqin menyuruh mengucapkan, bukan mengajari)
  8. Jika orang yang sedang sekarat tersebut telah berhasil mengucapkan لا اله الا الله mulaqqin tidak perlu mengulangi mengajarinya lagi, kecuali orang yang sedang sekarat tersebut mengucapkan perkataan lain selain لا اله الا الله yang tadi sudah ditalqinkan. Karena tujuan akhir talqin adalah agar dia mati dalam kondisi akhir perkataan hidupnya لا اله الا الله
  9. Pada kondisi setelah ditalqin orang yang sedang sekarat tersebut hanya mampu penggerakan bibir tanpa suara, maka mulaqqin tidak perlu memaksanya mengeluarkan suara. Karena gerakan bibir merupakan dilalah bahwa hatinya telah mengucapkan dan karena yang paling mendasar dalam hal ini adalah ليس في قلبه الا الله tidak ada di dalam hatinya apapun kecuali الله dan karena itu termasuk amaliyah hati.
  10. Orang yang hadir di sekeliling orang yang sedang sekarat sebaiknya tidak mengucapkan kata-kata yang tidak baik terkait hal apapun terutama terkait orang yang sedang sekarat, terlebih lagi jika itu merupakan kata-kata yang mengandung doa atau semakna dengan doa.
  11. Sediakan air minum, ini hukumnya sunat. Khususnya untuk orang sekarat yang dideteksi ada tanda-tanda bahwa dia sangat membutuhkan air minum. Hal ini juga berkaitan dengan bahwa pada saat itu syaithan biasa datang membawa segelas air kepada orang yang sedang sekarat dan berkata bahwa syetan tersebut bersedia memberikannya minum dengan syarat orang yang sedang sekarat mengakui syetan sebagai tuhan.
  12. Buatlah suasana ruangan sakinah, tidak gaduh.
Tata cara tersebut disarikan dari penjelasan dalam kitab : 
  • Nihayah al-Zain Hal 147-148 (Syekh Nawawi al-Bantani)
  • Mukhtashar Tadzkirah al-Qurtuby Hal 11 (Syekh Abdul Wahab al-Sya'rani)
  • Fathul Wahab Juz 1 Hal 89 (Syekh Abi Yahya Zakariya Al-Anshari)
  • Hasyiyatani al-Qalyubi - Umairah Ala Syarh al-Minhaj al-Thalibin Juz 1 Hal 321 (Imam Qalyubi, Imam Umairah, Syekh Jalaludin al-Mahalli)

2) Talqin Mayit Baru

Berikut ini adalah Ayat Al-Qur'an, Hadits dan pendapat para ulama berkaitan dengan talqin mayit yang baru dikubur :

وذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين

Latin : Wadzakkir fa innadzdzikroo tanfa'ul mu'miniina. Artinya : Dan ingatkanlah karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mu'min (QS Adz-Dzariyat : 55)

عن عثمان ابن عفان قال كان النبي صلى الله عليه وسلم اذا فرغ من دفن الميت وقف عليه فقال استغفروا لأخيكم وسلوا له بالتثبيت فإنه الآن يسأل

Latin : "'an 'utsmani ibni 'affaani qoola kaana al-nabiyyu shollalloohu alaihi wa sallama idzaa farogho min dafnil mayyiti waqofa 'alaihi, faqoola istaghfiruu liakhiikum wa saluu lahu bi al-tatsbiiti fainnahu al-aana yus‛alu". Artinya : "Dari Utsman bin Affan RA, beliau berkata "telah ada Rasulullah SAW apabila telah selesai dari mengubur mayit beliau berhenti beberapa saat dan bersabda : istighfarlah kalian semua untuk saudara kalian dan sarankanlah untuknya agar tatsbiit karena dia saat ini akan ditanyai". (HR. Imam Abu Daud : Sunan Abu Daud Juz 3 Hal 215)

عن أبي أمامة رضي الله عنه قال اذا أنا مت فاصنعوا بي كما أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال اذا مات أحد من إخوانكم فسويتم التراب على قبره فليقم أحدكم على رأس قبره ثم ليقل يا فلان ابن فلانة فإنه يسمعه ولا يجيب ثم يقول يا فلان ابن فلانة فإنه يقول أرشدنا يرحمك الله ولكن لا تشعرون فليقل أذكر ما خرجت عليه من الدنيا شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده وزسوله وأنك رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد نبيا وبالقرآن إماما فإن منكارا ونكيرا يأخذ كل واحد منهما بيد صاحبه ويقول انطلق بنا ما يقعدنا عند من قد لقن حجته قال فقال رجل يا رسول الله فإن لم يعرف أمه قال ينسبه إلى أمه حواء يا فلان ابن حواء

Latin : "an abii umaamah radhiyalloohu anhu qoola : idzaa ana muttu fashna'uu bii kamaa amaronaa rasuulullah shallallahu alaihi wasallama faqoola : idzaa maata ahadun min ikhwaanikum fasawwaitum at-turooba alaa qobrihii fal yaqum ahadukum alaa ra'si qobrihi tsumma liyaqul : yaa fulan ibnu fulanah fainnahu yasma'uhu walaa yujiibu tsumma yaquulu : yaa fulan ibnu fulanah! fainnahu yaquulu : arsyidnaa yarhamukalloohu! walakin laa tasy'uruuna. falyaqul : udzkur maa kharajta alaihi minad-dunyaa syahaadata an laa ilaaha illalloohu wa anna muhammadan abduhu warasuuluhu wa annaka rodiita billaahi robban wa bil islaami diinan wa bi muhammadin nabiyyan wa bil qur'aani imaaman. fainna munkaaron wa nakiiron ya'khudzu kullu waahidin minhumaa biyaddi shoohibihi wa yaquulu intholiq binaa maa yuq'idunaa inda man qod luqqina hujjatuhu qoola rojulun yaa rosuulalloohi fain lam ya'rif ummahu? qoola : yunsibuhu ilaa ummihi hawaa'a. yaa fulan ibnu hawa'a". Artinya : "Dari Abu Umamah RA beliau berkata : jika saya sudah mati maka berbuatlah kepada saya sebagaimana Rasulullah SAW telah memerintahkannya kepada kita, Rasulullah bersabda : Jika salah seorang dari antara ikhwan kalian telah mati dan kalian telah meratakan tanah di atas quburnya maka hendaklah salah seorang di antara kalian berhenti setentang kepala mayit, kemudian hendaklah dia/mulaqqin berkata : يا فلان ابن فلانة maka mayit dapat mendengar tapi dia tidak bisa menjawab, kemudian dia/mulaqqin berkata lagi : يا فلان ابن فلانة maka mayit menjawab :  أرشدنا يرحمك الله  Namun kalian tidak bisa mendengar jawabannya. Kemudian hendaklah dia/mulaqqin berkata lagi : أذكر ما خرجت عليه من الدنيا شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده وزسوله وأنك رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد نبيا وبالقرآن إماما maka kemudian malaikat munkar dan malaikat nakir saling memegang tangan sahabatnya dan berkata : kita kembali saja, apa gunanya kita duduk di hadapan mayit yang telah ditalqinkan jawabannya. Abu Umamah berkata : seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah : Ya Rasulalloh, jika mulaqqin tidak mengetahui nama ibunya mayit bagaimana? Rasulullah menjawab : mulaqqin menisbatkan mayit kepada ibunya, Siti Hawa. يا فلان ابن حواء (HR.Imam Thabrani, Mu'jam Kabir)

Imam Nawawi menjelaskan dalam kitab Al-Adzkar Hal 148 :

Adzkar-Nawawi-148-Talqin-Mayit-Setelah-Dikubur

وأما التلقين الميت بعد الدفن فقد قال جماعة كثير من أصحابنا باستحبابه وممن نص على استحبابه القاضي حسين في تعليقه وصاحبه أبو سعيد المتولي في كتابه التتمة والشيخ الإمام الزاهد أبو الفتح نصر ابن إبراهيم المقدسي والإمام أبو القاسم الرافعي وغيرهم ونقله القاضي حسين عن الأصحاب وأما لفظه فقال الشيخ نصر اذا فرغ من دفنه يقف عند رأسه ويقول يا فلان بن فلان اذكر العهد الذي خرجت عليه من الدنيا شهادة أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأن محمدا عبده ورسوله وأن الساعة آتية لا ريب فيها وأن الله يبعث من في القبور قل ضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا وبالكعبة قبلة وبالقرآن إماما وبالمسلمين إخوانا ربي الله لا إله إلا هو وهو رب العرش العظيم هذا لفظ الشيخ نصر المقدسي في كتابه التهذيب ولفظ الباقين بنحوه وفي لفظ بعضهم نقص عنه ثم منهم من يقول يا عبد الله ابن أمة الله ومنهم من يقول يا عبد الله بن حواء ومنهم من يقول يافلان باسمه ابن أمة الله أو يا فلان بن حواء وكله بمعنى 

وسئل الشيخ الإمام أبو عمرو بن الصلاح رحمه الله عن هذا التلقين فقال في فتاويه التلقين هو الذي نختاره ونعمل به وذكره جماعة من أصحابنا الخراسانيين قال وقد روينا فيه حديثا من حديث أبي أمامه ليس بالقائم اسناده ولكن اعتضد بشواهد وبعمل أهل الشام به قديما قال وأما التلقين الطفل الرضيع فما له مستند يعتمد ولا نراه والله أعلم قلت الصواب أنه لا يلقن الصغير مطلقا سواء كان رضيعا أو أكبر منه ما لم يبلغ ويصير مكلفا والله أعلم

Artinya :"Adapun terkait talqin mayit setelah diqubur, maka telah berfatwa golongan ulama yang banyak dari ashab madzhab syafii tentang kesunatannya. Di antara ulama-ulama yang menash tentang kesunatannya adalah Qadhi Husein dalam kitab Ta'liqnya, Sahabatnya yaitu Imam Abu Said Mutawalli dalam kitabnya yaitu Tatimmah, Syekh dan Imam yang zuhud Abul Fatah Nashar bin Ibrohim bin Nashor al Maqdisi, Imam Abu Qasim Ar-Rafi'i dan lainnya. Qadhi Husein menuqilnya dari Ashab Imam Syafii. Adapun perihal lafadz talqinnya, Imam Nashor berkata : jika telah selesai penguburannya selanjutnya berdiam seseorang dekat kepala mayit dan mengucapkan :

 يا فلان بن فلان اذكر العهد الذي خرجت عليه من الدنيا شهادة أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأن محمدا عبده ورسوله وأن الساعة آتية لا ريب فيها وأن الله يبعث من في القبور قل ضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا وبالكعبة قبلة وبالقرآن إماما وبالمسلمين إخوانا ربي الله لا إله إلا هو وهو رب العرش العظيم

Ini adalah lafadz talqin Syekh Nashor Al-Muqaddasi yang disampaikan dalam kitabnya yaitu kitab At-Tahdzib. Adapun lafadz ulama yang selainnya mirip-mirip seperti itu. Pada lafadz sebagian ulama kurang panjang dari itu. Kemudian sebagian dari mereka ada yang menggunakan redaksi يا عبد الله ابن أمة الله dan dari sebagian mereka ada yang menggunakan redaksi يا عبد الله بن حواء  dan dari sebagian mereka ada yang menggunakan redaksi يافلان dengan menyebutkan nama mayit  ابن أمة الله atau يا فلان بن حواء dan semuanya semakna.

Dan pernah dipertanyakan tentang talqin ini kepada Al-Syaikh Al-Imam Abu Umar bin Al-Sholah Rahimahullah, kemudian beliau memengatakan dalam kitab Fatawi-nya : Talqin adalah sesuatu yang kami memilihnya dan mengamalkannya. Telah menceritakan tentang qaul tersebut sekumpulan ulama dari ashab imam syafii yang ada di wilayah khurasan. Beliau berkata : telah meriwayatkan kepada kami dalam hal itu sebuah hadits yaitu hadits Abu Umamah bahwa hadits tersebut sanadnya tidak kukuh, tapi telah ditunjang dengan beberapa hadits lain dan dibantu juga dengan mengamalkannya penduduk syam terhadap hadits tersebut pada waktu dulu. Beliau juga berkata: adapun talqin terhadap mayit anak kecil yang masih disusui maka untuk masalah itu tidak ada mustanad yang i'timad dan kami tidak melihatnya. Wallahu A'lam. Komentarku (Imam Nawawi) : pendapat yang benar adalah bahwasanya anak kecil secara mutlaq tidak sunat ditalqin, baik masih disusui atau lebih tua dari itu selama belum mencapai baligh dan menjadi mukallaf. Wallahu A'lam (Lihat : Kitab Al-Adzkar Nawawi Hal 147)

Syekh Ibrohim Al-Baijuri dalam Hasyiyah Al-Bajuri Syarh Fathul Qarib Juz 1 Hal 255 mengatakan :

ويسن أن يقف جماعة بعد دفنه يسألون له التثبيت لأنه صلى الله عليه وسلم اذا فرغ من دفن الميت وقف على قبره وقال استغفروا لأخيكم واسألوا له التثبيت فانه الآن يسئل ويسن تلقينه ويغني عنه الدعاء بالتثبيت ولا يلقن الطفل ونحوه ممن لا يتقدمه تكليف لأنه لا يفتن في قبره وكذلك النبي وشهيد المعركة فلا يلقنان لأنهما لا يسئلان 

Artinya : "Disunatkan jemaah pengantar jenazah berdiam sesaat dan meminta kepada mayit untuk tatsbit karena dia sekarang akan ditanya. Karena sesungguhnya Rasulullah SAW ketika telah selesai dari kegiatan mengubur mayit beliau berdiam sebentar dan bersabda : beristighfarlah kalian untuk saudara kalian dan sarankanlah kepadanya tatsbit karena dia sekarang akan ditanya.". Dan disunatkan juga talqin, dan menjadi tercover darinya doa dengan tatsbit. Dan tidak ditalqin anak kecil dan sejenisnya dari antara mayit yang tidak terkena taklif sebelumnya semasa hidupnya karena dia tidak difitnah di dalam quburnya, begitu juga Nabi dan mayit orang yang mati syahid perang maka keduanya tidak ditalqin karena keduanya tidak akan ditanya malaikat munkar dan malaikat nakir". (Hasyiyah Al-Bajuri Syarh Fathul Qarib Juz 1 Hal 255)

Syekh Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari menjelaskan dalam kitab Fathul Muin :

وأن يقف جماعة بعد الدفن عند القبر ساعة يسألون له التثبيت ويستغفرون له ويندب تلقين بالغ ولو شهيدا كما اقتضاه اطلاقهم خلافا للزركشي بعد تمام الدفن فيقعد رجل قبالة وجهه ويقول يا عبدالله ابن أمة الله اذكر العهد الذي خرجت عليه من الدنيا شهادة أن لا اله الا الله وحده لا شريك له وأن محمدا رسول الله وأن الجنة حق وأن النار حق وأن البعث حق وأن الساعة آتية لا ريب فيها وأن الله يبعث من في القبور وأنك رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا وبالقرآن اماما وبالكعبة قبلة وبالمؤمنين إخوانا ربي الله لا اله الا هو عليه توكلت وهو رب العرش العظيم وقال شيخنا ويسن تكراره ثلاتا والأولى للحاضرين الوقوف وللملقن القعود ونداءه بالأم فيه أي ان عرفت والا فبحواء لا ينافي دعاء الناس يوم القيامة بأبائهم لأن كليهما توقيف لا محل للرأي فيه والظاهر أنه يبدل العبد بالأمة في الأنثى ويؤنث الضمائر انتهى

Artinya : "dan disunatkan jemaah pengantar jenazah berdiam sesaat di dekat kuburan setelah mengubur jenazah guna meminta baginya tatsbit dan beristighfar baginya. Disunatkan mentalqin yang sudah baligh sekalipun yang matinya syahid sebagaimana itu menjadi muqtadho dari ithlaqnya para ulama, hal ini menyelisihi pendapat imam zarkasyi. Talqin tersebut dilakukan setelah sempurnanya penguburan. Maka setelah itu, jongkoklah seorang Laki-laki setentang wajah mayit dan kemudian berkata : يا عبدالله ابن أمة الله اذكر العهد الذي خرجت عليه من الدنيا شهادة أن لا اله الا الله وحده لا شريك له وأن محمدا رسول الله وأن الجنة حق وأن النار حق وأن البعث حق وأن الساعة آتية لا ريب فيها وأن الله يبعث من في القبور وأنك رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا وبالقرآن اماما وبالكعبة قبلة وبالمؤمنين إخوانا ربي الله لا اله الا هو عليه توكلت وهو رب العرش العظيم dan berkata guru kita Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami : disunatkan mengulanginya 3 kali. Dalam hal ini yang lebih utama bagi hadirin adalah berdiri dan bagi mulaqqin adalah duduk. Adapun diserunya mayit dengan dinisbatkan kepada ibunya dalam talqin adalah jika diketahui nama ibunya. Jika tidak diketahui maka dinisbatkan kepada Siti Hawa. Hal itu tidak menafikan diserunya manusia pada hari qiyamat dengan dinisbatkan kepada bapak mereka karena kedua praktek ibadah ini termasuk tauqify (sesuatu perkara agama yang datang penjelasanya dari syari) oleh karenanya tidak ruang logika. Adapun qaol dzohir adalah mengganti kalimat عبد dengan kalimat أمة pada mayit perempuan dan dimu'annatskan semua dhomirnya."

Sayid Abu Bakar Syatha Ad-Dimyati menjelaskan dalam kitab I'anah Ath-Thalibin Juz 2 Hal 139 :

وانما ندب وقوف جماعة بعد الدفن لأنه صلى الله عليه وسلم كان اذا فرغ من دفن ميت وقف عليه وقال استغفروا لأخيكم واسألوا له التثبيت فانه الآن يسئل 

"dan tentunya disunatkan jemaah berwuquf setelah penguburan karena Nabi Muhammad SAW jika telah selesai mengubur mayit wuquf di atasnya dan bersabda : beristifhfarlah kalian kepada Allah untuk saudara kalian dan memintalah kalian kepada Allah tatsbit karena saudara kalian sekarang akan ditanyai malaikat"

Sayid Abu Bakar juga menjelaskan contoh perkataan yang termasuk tatsbit :

وقوله يسألون له التثبيت كأن يقولوا اللهم ثبته

"seperti perkataan jemaah : اللهم ثبته

Yang paling menarik di kitab Sayid Abu Bakar Ad-Dimyati dalam pembahasan talqin ini adalah dicontohkannya serangkaian shighat talqin yang lebih panjang yang beliau kutip dari kitab Hasyiyah Al-Baromi. Berikut ini adalah shighatnya :

بسم الله الرحمن الرحيم كل شيء هالك الا وجهه له الحكم واليه ترجعون كل نفس ذائقة الموت وإنما توفون أجوركم يوم القيامة فمن زحزح عن النار وأدخل الجنة فقد فاز وما الحياة الدنيا الا متاع الغرور منها خلقناكم وفيها نعيدكم ومنها نخرجكم تارة أخرى منها خلقناكم للأجر والثواب وفيها نعيدكم للدود والتراب ومنها نخرجكم للعرض والحساب باسم الله وبالله ومن الله والى الله وعلى ملة رسول الله صلى الله عليه وسلم هذا ما وعد الرحمن وصدق المرسلون ان كانت الا صيحة واحدة فاذا هم جميع لدينا محضرون يا فلان يابن فلانة أو يا عبد الله يابن أمة الله يرحمك الله ذهبت عنك الدنيا وزينتها وصرت الآن في برزخ من برازخ الآخرة فلا تنس العهد الذي فارقت عليه في دار الدنيا وقدمت به الى دار الآخرة وهو شهادة أن لا إله الا الله وأن محمدا رسول الله فإذا جاءك الملكان الموكلان بك وبأمثالك من أمة محمد صلى الله عليه وسلم فلا يزعجاك ولا يرهباك واعلم أنهما خلق من خلق الله تعالى كما انت خلق من خلقه فاذا أتياك وأجلساك وسألاك وقالا لك ما ريك وما دينك وما نبيك وما اعتقادك وما الذي مت عليه فقل لهما الله ربي فإذا سألاك الثانية فقل لهما الله ربي فإذا سألاك الثالثة وهي الخاتمة الحسنى فقل لهما بلسان طلق بلا خوف ولا فزع الله ربي والإسلام ديني ومحمد نبيي والقرأن إمامي والكعبة قبلتي والصلوات فريضتي والمسلمون اخواني وإبراهيم الخليل أبي وأنا عشت ومت علي قول لا إله الا الله محمد رسول الله تمسك يا عبد الله بهذه الحجة واعلم أنك مقيم بهذا البرزخ الى يوم يبعثون فإذا قيل لك ما تقول في هذا الرجل الذي بعث فيكم وفي الخلق أجمعين فقل هو محمد صلى الله عليه وسلم جاءنا بالبينات من ربه فأتبعناه وأمنا به وصدقنا برسالته فإن تولوا فقل حسبي الله لا إله الا هو عليه توكلت وهو رب العرش العظيم واعلم يا عبد الله أن الموت حق وأن نزول القبر حق وأن سؤال منكر ونكير حق وأن البعث حق وأن الحساب حق وأن الميزان حق وأن الصراط حق وأن النار حق وأن الجنة حق وأن الساعة آتية لا ريب فيها وأن الله يبعث من في القبور ونستودعك الله اللهم يا أنيس كل وحيد ويا حاضرا ليس يغيب آنس وحدتنا ووحدته وارحم غربتنا وغربته ولقنه حجته ولا تفتنا بعده واغفرلنا وله يا رب العالمين سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين

Tata cara talqin sebenarnya tidak sulit, hanya saja pembahasan talqin ini bukan sebatas tentang tatacara, melainkan juga tentang asal-usul hukum dan shighat ma'rufah yang jelas referensinya. 

Wallahu A'lam

Daftar Pustaka

An-Nawawi, Imam Muhyiddin Abi Zakariya Yahya. Al-Adzkar. Syirkah An-Nur Asia.
Al-Malibari, Syekh Zainudin. Fathul Muin. Syirkah An-Nur Asia.
Ad-Dimsaqi, Syaikh Taqiyuddin Abi Bakar. Kifayatul Akhyar (Jilid 1). Syirkah An-Nur Asia.
Ba'alawi, Syaikh Sayid Abdurrahman. Bughiyah Al-Mustarsyidin. Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah.
Al-Qalyubi, Syaikh Syihabuddin Ahmad dan Umairoh, Syaikh Syihabuddin Ahmad. Hasyiyah Al-Qalyubi Wa Umairoh Ala Syarh Al-Mahalli Ala Al-Minhaj (Jilid 1). Dar Al-Fikr.
Al-Anshari, Syaikh Abi Yahya Zakariya. Fath Al-Wahab (Jilid 1). Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah.
Al-Bakri, Syaikh Sayid Abu Bakar Ad-Dimyati. Ianah Ath-Thalibin (Jilid 2). Syirkah An-Nur Asia.
Al-Ghazzi, Syaikh Ibnu Qasim. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Syirkah An-Nur Asia.
Al-Baijuri, Syaikh Ibrahim. Hasyiyah Al-Bajuri (Jilid 1). Toha Putra.
Al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Nihayah Az-Zain dan Kasyifah As-Saja. Toha Putra.
Asy-Sya'rani, Syaikh Abdul Wahab. Mukhtashar Tadzkirah Al-Qurtuby. Toha Putra.
Syaik Muhammad bin Salim. Is'ad Ar-Rafiiq (Jilid 1) Syirkah An-Nur Asia
Abbas, KH Siradjuddin. 40 Masalah Agama (Jilid 4) Pustaka Tarbiyah Jakarta. 2004. 

Perbedaan Cara Mengurus Jenazah : Muslim, Non Muslim, Ibu Hamil, Janin Keguguran, Bayi Kandungan 6 Bulan, Syahid, Sedang Ihrom, Sudah Mati Hidup Lagi

Perbedaan Cara Mengurus Jenazah : 
  • Jenazah Seorang Muslim Secara Umum
  • Jenazah Ibu Hamil
  • Jenazah Janin Keguguran
  • Jenazah Bayi Yang Baru Lahir Setelah Usia Kandungan 6 Bulan
  • Jenazah Orang Yang Mati Syahid
  • Jenazah Orang Yang Sedang Ihrom
  • Jenazah Orang Yang Sudah Mati Hidup Lagi Mati Lagi
  • Jenazah Non Muslim (harbi, murtad, dzimi, mu'ahad, mu'aman)

perbedaan-cara-mengurus-jenazah

Kewajiban Mengurus Jenazah Seorang Muslim/Muslimat Secara Umum

Secara asal ketika seorang muslim mati, maka tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang adanya kewajiban bagi muslim lainnya yang masih hidup untuk mengurus jenazahnya : 

  1. dimandikan
  2. dikafani
  3. shalat jenazah
  4. diquburkan. 
Hukum mengurusnya adalah fardhu kifayah berdasarkan Ijma' dan Hadits Nabi.
Sumber :
Syekh Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari dalam Fathul Muin :
فرض كفاية للإجماع والأخبار
"Hukumnya fardhu kifayah berdasarkan ijma dan Hadits Nabi"
Syaikh Taqiyuddin Abi Bakar bin Muhammad Al-Husaini Al-Hishni Ad-Dimsaqi dalam Kifayatul Akhyar Juz 1 Hal 163 :
لا خلاف أن الميت المسلم يلزم الناس القيام بأمره في هذه الأربعة والقيام بهذه الأربعة فزض كفاية بالإجماع ذكره الرافعي والنواوي وغيرهما
"Tidak ada ikhtilaf bahwasanya perihal jenazah muslim wajib kepada manusia untuk menunaikan urusannya pada empat perkara ini. Menunaikan empat perkara ini hukumnya fardhu kifayah berdasarkan ijma para ulama. Imam Rafi'i, Imam Nawawi dan yang lainnya mengatakan itu (fardhu kifayah)"
Imam Nawawi dalam Minhaj Ath-Thalibin :
وغسله وتكفينه والصلاة عليه ودفنه فروض كفاية
"Dan adapun memandikannya, mengkafaninya, shalat jenazah untuknya dan menguburnya adalah fardhu kifayah"
Syekh Jalaludin Al-Mahalli dalam Syarah Minhaj Ath-Thalibin :
وغسله وتكفينه والصلاة عليه ودفنه فروض كفاية في حق المسلم بالإجماع
"Dan adapun memandikannya, mengkafaninya, shalat jenazah untuknya dan menguburnya adalah fardhu kifayah di hak jenazah muslim berdasarkan ijma"

Mengurus jenazah seorang muslim tetap wajib sekalipun semasa hidupnya pelaku dosa fahisyah dan tarik ash-shalat selama perbuatan fahisyah dan tariknya tersebut tidak lahir dari juhdnya dia terhadap kewajiban meninggalkan maksiat dan kewajiban mendirikan shalat (logis, karena jika lahir dari juhd tentu secara hukum bukan lagi termasuk muslim melainkan kafir murtad). Hal ini sebagaimana dijelaskan Syaikh Sayid Abdurrahman Ba'alawi dalam kitabnya Bughiyah Al-Mustarsyidin Hal 92 :
مسئلة ب
يجب تجهيز كل مسلم محكوم بإسلامه وإن فحشت ذنوبه وكان تاركا للصلاة وغيرها من غير جحود ويأثم كل من علم به او في ذلك لأن لا إله الا الله وقاية له من الخلود في النار
"Masalah ب : wajib mengurus jenazah setiap muslim yang secara hukum masih legal dihukumi keislamannya sekalipun dosanya fahisyah, tarikash-shalat, dsb, selama perbuatan tersebut bukan karena juhd. Dan berdosa setiap orang yang memgetahui kematiannya tapi tidak mengurusnya atau joledar perihal tajhiz. Alasannya karena kalimat لا اله الا الله masih menjadi jimat selamat baginya dari khulud di dalam neraka."

Jadi siapapun selama masih ada لا اله الا الله di dalam i'tiqadnya, wajib diurus jenazahnya.

Bahkan disunatkan untuk ditalqin baik sebelum matinya maupun sesudah jenazah tersebut diquburkan. Ahli maksiyat bahkan lebih membutuhkan talqin daripada Ahli ibadah.

Akan tetapi ada juga kategori jenazah tertentu yang cara mengurusnya berbeda, seperti kategori-kategori yang akan dijelaskan selanjutnya.

Ibu Hamil

Ibu hamil yang mati wajib dipastikan terlebih dahulu kondisi janin yang sedang dikandungnya sebelum dimandikan, dikafani, shalat jenazah dan diquburkan.

  • Jika janinnya juga mati, maka jenazah dikuburkan dalam keadaan mengandung.
  • Jika janin diketahui hidup, maka perut ibu hamil tersebut wajib dibedah untuk mengeluarkan janin hidup yang dikandungnya.
  • Jika janin belum bisa diketahui hidup atau matinya, maka pengurusan jenazah wajib ditangguhkan beberapa saat untuk memastikan kondisi janin yang sebenarnya.
  • Jika janin diketahui masih hidup dalam kondisi jenazah ibu hamil sudah diquburkan, maka jenazah wajib digali dari quburnya untuk mengeluarkan janin hidup yang dikandungnya.
Sumber :
Syaikh Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari. Fathul Muin
ولا تدفن امرأة في بطنها جنين حتى يتحقق موته 
Syekh Nawawi Al-Bantani. Kasyifah As-Sajaa Hal 100
ورابعها للمرأة اذا دفن جنينها معها وأمكنت حياته بأن يكون له ستة أشهر فأكثر فيجب النبش تداركا للواجب لأنه يجب شق جوفها قبل الدفن فان لم يرج حياته بقول القوابل حرم الشق لكن يخرج من القبر ويؤخر الدفن حتى يموت 
Syekh Nawawi Al-Bantani. Nihayah Az-Zain Hal 155
ولو تغيرت لئلا يدفن الحمل حيا وقول التنبيه ترك عليه شيء حتى يموت ضعيف بل غلط فاحش فليحذر ومع ذلك لا ضمان فيه مطلقا بلغ ستة أشهر أولا لعدم تيقن حياته

Janin Keguguran

Istilah yang lebih ngtrend dalam dunia fiqih adalah السقط / Saqthu. Istilah ini ditujukan kepada janin yang lahir sebelum usia kandungannya mencapai 6 bulan. 
  • Jika janin tersebut lahir pada kondisi ada tanda-tanda kehidupan, seperti : bergerak, bersuara, berkedip, tersenyum dsb sekalipun tanda-tanda tersebut terjadi ketika janin masih belum lepas sepenuhnya dari liang farji ibunya. Kemudian mati. Maka jenazahnya wajib diurus sebagaimana manusia dewasa : wajib dimandikan, wajib dikafani, wajib shalat jenazah dan wajib diquburkan.
  • Jika janin tersebut lahir pada kondisi tidak ada tanda kehidupan, tapi dapat dilihat dengan jelas bahwa fisiknya sudah menjadi makhluk, sekalipun usia kandungan belum mencapai 4 bulan, maka jenazahnya : wajib dimandikan, wajib dikafani, wajib diquburkan, tidak wajib shalat jenazah.
  • Jika janin tersebut lahir pada kondisi tidak ada tanda kehidupan dan fisiknya tidak berbentuk makhluk, maka : tidak wajib dimandikan, tidak wajib dikafani, tidak wajib diqubur, bahkan haram shalat jenazah untuknya dan boleh dibuang kemana saja bahkan boleh dijadikan makanan hewan buas. Tapi sunat ditutupi kain dan sunat diquburkan.
Sumber :
Syaikh Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari. Fathul Muin
وووري سقط ودفن فان اختلج صلي عليه
Syekh Nawawi Al-Bantani. Kasyifah As-Sajaa Hal 94 dan Nihayah Az-Zain Hal 156 :
وأما السقط وهو النازل قبل تمام الأشهر ففيه تفصيل حاصله أنه ان لم تظهر حياته ولا أماراتها ولا خلقه لا تجوز الصلاة عليه ولا يجب غسله ويسن ستره بخرقة ودفنه
وان لم تظهر حياته ولا أماراتها لكن ظهر خلقه وجب ما عدا الصلاة فحينئذ ووري أى ستر بخرقة سقط موصوف بما ذكر ودفن أى وغسل وجوبا في هذه الثلاثة وحرمت الصلاة عليه
فان ظهرت حياته بصياح أو غيره أو أمارتها كأن اختلج أى اضطرب أو تحرك بعد انفصاله فهو كالكبير ولو دون أربعة أشهر ان فرض كما أفاده الشبراملسي وحينئذ كفن ودفن وغسل وجوبا قطعا وصلي عليه وجوبا على الأظهر في مسألة عدم ظهور الحياة كالبكاء مع ظهور أمارتها كالتحرك لاحتمال حياته بهذه القرينة الدالة عليها وللإحتياط

Bayi Lahir Setelah Usia Kandungan Mencapai 6 Bulan Lebih Sedikit

Ini dalam istilah fiqih termasuk kategori ولد / bukan السقط Untuk jenis ini fiqih memperlakukannya sebagaimana jenazah ولد secara umum. Sekalipun lahir dalam keadaan tidak bernyawa, sekalipun tidak diketahui sebelumnya pernah hidup di dalam kandungan, dan sekalipun tidak jelas bentuk fisiknya kemakhlukhidupannya, maka : Wajib dimandikan, wajib dikafani, wajib shalat jenazah, dan wajib diquburkan. 

Sumber :
Syekh Nawawi Al-Bantani. Kasyifah As-Sajaa Hal 94, 
Nihayah Az-Zain Hal 156
أما النازل بعد تمام الأشهر وهو ستة أشهر فكالكبير مطلقا وان نزل ميتا ولم يعلم له سبق حياة
وقال الشبراملسي وان لم يظهر فيه تخطيط ولا غيره حيث علم أنه من عدمي اذ هو خارج من تعريف السقط
وخرج بالسقط العلقة والمضغة لأنهما لا يسميان ولدا فيدفنان ندبا من غير ستر

Syahid Korban Perang

Syahid dalam hal ini adalah yang mati sebab perang, termasuk :
  • Mati sebab dibunuh musuh
  • Mati sebab terbunuh senjata kawan
  • Mati sebab terbunuh senjata milik sendiri
  • Mati sebab jatuh dari kendaraan perang
  • Mati sebab tergilas/terinjak kendaraan perang.
  • Mati sebab terbunuh senjata yang tidak jelas pemiliknya.
  • Mati saat itu juga atau kemudian tapi sebabnya adalah perang.
Jenazah jenis ini : 
  • Haram dimandikan
  • Wajib dikafani. Sunat dikafani dengan pakaian perang yang dia mati saat menggunakannya, baik berlumuran darah maupun tidak. Pakaian yang berlumuran darah lebih utama dipakaikan. Jika pakaian perang tersebut tidak cukup untuk menutupi aurat jenazahnya maka wajib ditambah dengan kain lain yang bisa menutupinya.
  • Haram shalat jenazah untuknya.
  • Wajib diquburkan.
Sumber :
Syekh Nawawi Al-Bantani. Kasyifah As-Sajaa Hal 94 :
أما الشهيد فيحرم عليه غسله والصلاة عليه ويسن دفنه في ثيابه فقط ولو من حرير بعد نزعها منه عقب موته وعودها اليه عند التكفين وأما الدفن فواجب كالتكفين سواء في ذلك ثيابه الملطخة بالدم وغيرها لكن الملطخة أولى سواء أقتله كافر أم أصابه سلاح مسلم خطأ أوعاد اليه سلاح نفسه أوسقط عن دابته أو وطئته الدواب أو أصابه سهم لا يعرف هل رمى به مسلم أم كافر وسواء وجد به أثر أم لا مات في الحال أم بقي زمانا ومات بذلك السبب قبل انقضاء الحرب أم معه أم بعده وليس فيه ال حركة مذبوح بخلاف ما لو مات بعده وفيه حياة مستقرة فليس بشهيد
Syekh Zainudin Al-Malibari dalam Fathul Muin :
وتحرم صلاة على شهيد كغسله وهو من مات في قتال كفار بسببه لا أسير قتل صبرا وكفن شهيد في ثيابه لا حرير ويندب تلقين بالغ ولو شهيدا بعد دفن

Orang Yang Dzakarnya Belum Dikhitan.

Ini bisa saja terjadi pada anak dan dewasa.
  • Dzakar jenazah haram dikhitan, sekalipun jenazah berdosa dengan tidak mengkhitan dzakarnya atau menangguhkan mengkhitannya.
  • Wajib dimandikan dan air wajib sampai pada bawah kulufnya. Bisa diganti dengan ditayamumkan jika sulit membasuh perkara yang ada dibawah kulufnya selain dengan mengkhitannya sekalipun ada najis di sana. illatnya للضرورة (menurut Imam Ibnu Hajar Al-Haitami)
  • Shalat jenazah
  • Dikuburkan
Sumber :
Syekh Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari dalam Fathul Muin :
حتى ما تحت قلفة الأقلف على الأصح صبيا كان الأقلف أو بالغا قال بعض الحنفية لا يجب غسل ما تحتها فعلى المرجح لو تعذر غسل ما تحت القلفة بأنها لا تتلقص الا بجرح يمم عما تحتها كما قاله شيخنا وأقره غيره 
Syekh Sayid Abu Bakar. Ianah Ath-Thalibin Juz 2 Hal 109 :
لو تعذر غسل ما تحت القلفة بسبب أنها لا تتلقص أي لا تنكف ولا تنفسخ الا بجرح يمم عما تحتها أي وصلى عليه وان كان ما تحتها نجسا للضرورة وهذا ما قاله ابن حجر وقال الرملي ان كان ما تحتها طاهر يمم عنه وان كان نجسا فلا يمم ويدفن بلا صلاة عليه لأن شرط التيمم ازالة النجاسة 
وينبغي تقليد الأول لأن في دفنه بلا صلاة عدم احترام الميت وعلى كل من القولين يحرم قطع قلفة الميت وان عصى بتأخيره

Orang Yang Sedang Ihram.

  • Wajib dimandikan. Air yang dipergunakan haram dicampur wewangian sebagaimana orang berihram.
  • Wajib dikafani. Badan dan kain kafan haram diwangikan dengan wewangian. Jika laki-laki : haram dikafani dengan kain yang dijahit dan haram ditutup kepalanya. Jika perempuan atau khuntsa : haram ditutup wajahnya dan 2 telapak tangannya dengan sarung tangan sebagaimana orang yang sedang ihram.
  • Wajib shalat jenazah
  • Wajib diquburkan
Perbedaannya dengan jenazah pada umumnya adalah hanya karena jenazah wajib diurus mengikuti ketentuan ihram, karena ihram tidak jadi batal karena mati. Sehingga dia dalam keadaan berihram sampai ke akhirat.

Sumber :

Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam Nihayah Az-Zain Hal 152
أما المحرم فلا يطيب لا في بدنه ولا في كفنه ولا في ماء غسله
Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam Kasyifah As-Sajaa Hal 94
وأما المحرم الذكر فلا يلبس محيطا ولا يستر رأسه والمرأة والخنثى لا يستر وجهها ولا كفاهما بقفازين ويحرم أيضا أن يقرب لهم طيب ككافور وحنوط في أبدانهم وأكفانهم وماء غسلهم لأثر الإحرام لأن النسك لا يبطل بالموت

Non Muslim

Ini jadi masuk pembahasan pengurusan jenazah hanya jika jenazah tidak diurus oleh sesama penganut agamanya, contoh kasus : di lingkungan domisili penduduk islam ada penganut agama lain yang mati tapi tidak diurus jenazahnya.
  • Kafir Dzimi : tidak wajib dimandikan, wajib dikafani, haram shalat jenazah, wajib diquburkan. illat hukum fiqihnya وفاء بذمته / dalam rangka menunaikan beban kesepakatannya
  • Kafir Muahad : tidak wajib dimandikan, wajib dikafani, haram shalat jenazah, wajib diquburkan. illat hukum fiqihnya وفاء بذمته / dalam rangka menunaikan beban kesepakatannya
  • Kafir Muamman : tidak wajib dimandikan, wajib dikafani, haram shalat jenazah, wajib diquburkan. illat hukum fiqihnya وفاء بذمته / dalam rangka menunaikan beban kesepakatannya
  • Kafir Harbi : tidak wajib dimandikan, tidak wajib dikafani, haram shalat jenazah, tidak wajib diquburkan jika baunya tidak menimbulkan madharat terhadap lingkungan. Jika menimbulkan madharat, maka wajib ditimbun di dalam tanah. illat hukum fiqihnya :  دفعا للضرر عنهم / sebagai langkah antisipatif atas kemadharatan baru (aroma tidak sedap) darinya
  • Kafir Murtad : tidak wajib dimandikan, tidak wajib dikafani, haram shalat jenazah, tidak wajib diquburkan jika baunya tidak menimbulkan madharat terhadap lingkungan. Jika menimbulkan madharat, maka wajib ditimbun di dalam tanah. illat hukum fiqihnya :  دفعا للضرر عنهم / sebagai langkah antisipatif atas kemadharatan baru (aroma tidak sedap) darinya
Kafir dzimi, kafir muahad dan muamman diperlakukan sama. Kafir harbi dan kafir murtad diperlakukan sama.

Sumber :
Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Nihayah Az-Zain Hal 149 :
أما الكافر فان كان ذميا وجب تكفينه ودفنه وفاء بذمته وعلينا مؤن تجهيزه حيث لم يكن له تركة ولا من تجب عليه نفقته وتحرم الصلاة عليه ولا يجب غسله وان كان حربيا أو مرتدا فلا يجب عليه شيء بل يجوز إغراء الكلاب على جيفته نعم ان تضرر المسلمون برائحته وجبت موارته دفعا للضرر عنهم 

Sudah Mati Hidup Lagi Mati Lagi Seorang Muslim

Kasus seperti ini sebenarnya jarang terjadi. Tapi bukan berarti tata cara mengurusnya tidak penting diketahui.
Contoh kasus : Kabayan mati. Jenazahnya sudah diurus dengan sempurna sesuai dengan tata cara pada fiqih jenazah : dimandikan, dikafani, shalat jenazah dan dikuburkan. Kemudian kabayan hidup lagi. Kemudian dia mati lagi.
Maka untuk jenazah yang seperti ini, wajib diurus untuk kedua kalinya.
Sumber :
Imam Qalyubi dalam Hasyiyatani Juz 1 Hal 322 :
قوله فروض كفاية
وان تكرر موته بعد حياة حقيقية
Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Nihayah Az-Zain Hal 149 :
 ولو مات موتا حقيقيا ثم جهز ثم أحيى حياة حقيقية ثم مات وجب تجهيز أخر
Syekh Ibrahim Al-Baejuri dalam Hasyiyah Al-Bajuri Juz 1 Hal 243 :
ولو مات موتا حقيقيا ثم جهز ثم أحيى حياة حقيقية ثم مات فالوجه الذي لا شك فيه أنه يجب تجهيزه ثانيا
Syekh Sayid Abu Bakar dalam I'anah Ath-Thalibin Juz 2 Hal 108-109 :
فرع أخر
لو مات انسان موتا حقيقيا وجهز ثم أحيى حياة حقيقية ثم مات فالوجه الذي لا شك فيه أنه يجب له تجهيز آخر خلافا لمن توهمه
Walloohu A'lam
Daftar Pustaka
An-Nawawi, Imam Muhyiddin Abi Zakariya Yahya. Al-Adzkar. Syirkah An-Nur Asia.
Al-Malibari, Syekh Zainudin. Fathul Muin. Syirkah An-Nur Asia.
Ad-Dimsaqi, Syaikh Taqiyuddin Abi Bakar. Kifayatul Akhyar (Jilid 1). Syirkah An-Nur Asia.
Ba'alawi, Syaikh Sayid Abdurrahman. Bughiyah Al-Mustarsyidin. Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah. 
Al-Qalyubi, Syaikh Syihabuddin Ahmad dan Umairoh, Syaikh Syihabuddin Ahmad. Hasyiyah Al-Qalyubi Wa Umairoh Ala Syarh Al-Mahalli Ala Al-Minhaj (Jilid 1). Dar Al-Fikr. 
Al-Anshari, Syaikh Abi Yahya Zakariya. Fath Al-Wahab (Jilid 1). Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah.
Al-Bakri, Syaikh Sayid Abu Bakar Ad-Dimyati. Ianah Ath-Thalibin (Jilid 1). Syirkah An-Nur Asia.
Al-Ghazzi, Syaikh Ibnu Qasim. Fath Al-Qarib Al-Mujib. Syirkah An-Nur Asia. 
Al-Baijuri, Syaikh Ibrahim. Hasyiyah Al-Bajuri (Jilid 1). Toha Putra.
Al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Nihayah Az-Zain dan Kasyifah As-Saja. Toha Putra.

Cara Menangani Jenazah Terbaru Sebelum Dimandikan, Dikafani, Shalat Jenazah dan Dikuburkan

Bismillah, Fiqih Jenazah - Berikut ini adalah Cara Menangani Jenazah Terbaru Alias Penanganan Pertama Pada Jenazah Yang Masih Hangat Sebelum Dimandikan, Dikafani, Shalat Jenazah dan Dikuburkan :
cara-menangani-jenazah-terbaru

1). Memejamkan matanya.

Jika mayit tersebut meninggal dalam kondisi mata terbuka, maka penanganan pertama adalah memejamkan matanya. sewaktu memejamkan matanya disunatkan membaca : 

بسم الله وعلى ملة رسول الله صلى الله عليه وسلم اللهم اغفر له وارفع درجته في المهديين واخلفه في عقبه الغابرين واغفر لنا وله يا رب العالمين وافسح له في قبره ونور له فيه 

"Bismillaahi wa 'alaa millati rosuulillaahi shollalloohu 'alaihi wasallama. Alloohummaghfir lahu warfa' darojatahu fil mahdiyyiina wakhlufhu fii 'aqibihil ghoobiriina, waghfir lanaa wa lahu yaa Robbal 'aalamiina, wafsah lahu fii qobrihi wa nawwir lahu fiihi" artinya : "dengan menyebut Asma Allah dan pada agama yang dibawa rosulullah shollalloohu 'alaihi wa sallam. ya Allah berikanlah maghfirohmu kepadanya dan berikanlah rahmatmu kepadanya dan angkatlah derajatnya ke dalam golongan orang-orang yang mendapat hidayahmu, dan berikanlah penggantinya pada orang-orang yang ditinggalkan setelah kematiannya, dan berikanlah maghfirohmu kepada kami dan kepadanya wahai Dzat Pengurus semua alam, dan berikanlah keluasan tempat untuknya di dalam quburnya, dan berikanlah cahaya untuknya di dalam quburnya."

2) Mengikat dagunya

Mayit diikat dagunya dengan kain yang agak lebar agar tidak mencederai, kedua ujung pengikat disimpul di atas kepalanya. Ini tujuannya agar mulut mayit tidak menganga.

3) Melunakan sendi-sendinya.

  1. Tulang hastanya ditekuk-tekukan/digerak-gerakan/dilipat/dirapat-rapatkan ke "peupeuteuyan" seperti orang hidup yang sedang olah raga mengangkat-ngangkat barble. Tujuannya agar sendi sikut menjadi lunak (loncer) tidak tegang (kaku/heuras/jagreug) sehingga memudahkan proses pemindahan tangannya pada tahapan memandikan dan mengkafaninya.
  2. Betisnya ditekuk digerak-gerakan/dilipat/dirapat-rapatkan ke pahanya. Tujuannya agar sendi lutut dan pergelangan kaki menjadi lunak (loncer) tidak tegang (kaku/heuras/jagreug) sehingga memudahkan proses pemindahan kakinya pada tahapan memandikan dan mengkafaninya.
  3. Pahanya ditekuk digerak-gerakan/dilipat/dirapat-rapatkan ke perutnya. Tujuannya agar sendi "pengpelangan" menjadi lunak (loncer) tidak tegang (kaku/heuras/jagreug) sehingga memudahkan proses pemindahan pada tahapan memandikan dan mengkafaninya.
  4. Jari-jari tangan digerak-gerak seperti ketika kita mau membateuk jari-jari tersebut. Tidak perlu dibateuk, karena bisa jadi pada kondisi tertentu dibateuk malah mengakibatkan copot. Ini tujuannya agar jari jadi tidak kaku dan "jeugang".
Proses ini hanya dimaksudkan untuk membuatnya mudah digerak-gerakan pada tahap memandikan dan mengkafaninya. Ini penting dilakukan sesegera mungkin setelah peristiwa ruh tidak lagi mengisi jasad, mumpung pada jasad mayit masih ada sisa panas tubuh. Jika tidak dilakukan sesegera mungkin maka jasad mayit kondisinya akan terus kaku sehingga tidak baik dilihat dan tidak mudah digerakan serta dikafani.

Bisa menggunakan minyak urut jika itu diperlukan.

Sebelum proses 1 2 3 ini berakhir sebaiknya mayit tidak ditinggalkan. Karena ini berkaitan dengan suhu tubuhnya yang bisa cepat berubah menjadi dingin.

4). Mengganti pakaiannya.

Apapun pakaian yang dikenakan saat peristiwa kematian, perlu diganti karena pakaian tersebut mempercepat proses pembusukan jasad. Penggantian ini bersifat sementara sebelum dimandikan dan dikafani. Jika akan langsung dimandikan, berarti proses ini (no 4 5 6) tidak perlu dilakukan.

5). Menutupi jasadnya.

Biasanya dengan samping atau sprai bersih. pemilihan samping atau sprai biasanya karena panjang dan lebar keduanya mencukupi ukuran yang dibutuhkan untuk menutupi seluruh jasad (jika mayit bukan mayit yang wafat dalam situasi sedang ihram haji, jika sedang ihram haji maka kepalanya tidak boleh ditutup, karena pelaksanaan ihram tidak batal gara-gara mati)

Kedua ujung atas kain penutup diletakan di bawah kepala mayit (ditindih kepala), sedangkan kedua ujung bawah diletakan di bawah kaki mayit (ditindih kaki) supaya tidak terbuka. Khusus ujung atas kain biasanya dibuat mudah untuk dibuka, untuk memudahkan tamu yang bermaksud melihat wajah mayit untuk yang terakhir kalinya.

6). Menghadapkannya ke arah qiblat.

Ini seperti posisi orang yang tidak mampu shalat berdiri, duduk dan idhtija, dimana diposisikan mustalqo : telentang dengan telapak kaki diarahkan menghadap qiblat dan wajah diarahkan menghadap qiblat dengan cara kepalanya dibuat terangkat sedikit seperti sedang memandang kakinya sendiri.

Posisi ini sebenarnya dianjurkan juga sejak mayit masih sekarat. 

Untuk mempraktekan semua ini secara berurutan (1 2 3 4 5 6) sebaiknya dilakukan oleh kerabat yang paling menyayangi mayit semasa hidupnya, agar lebih apik karena disertai dengan perasaan, tapi jenis kelamin juga harus sama. Dalam hal ini suami oleh istri atau istri oleh suami lebih utama sebagaimana penjelasan Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Tuhfah Al-Muhtaj.

7). Menunaikan hutangnya

Hal ini tentu lebih baik dilakukan saat ini, jika mungkin. Jika tidak mungkin, maka sebaiknya ahli waris setidaknya menyampaikan permohonan penghalalan atasnama mayit kepada pihak terhutang atau kesanggupan ahli waris bertanggungjawab menunaikan kewajiban mayit jika pihak terhutang tidak membebaskan/menghalalkannya. Tujuan proses ini adalah untuk meringankan beban kewajiban mayit sebelum diqubur. 

Biasanya proses ini disampaikan oleh keluarga mayit pada proses pemakaman.

8). Melaksanakan wasiat mayit

Ini juga penting dilakukan, apalagi wasiatnya terkait pengurusan jenazah barangkali mayit semasa hidupnya pernah berwasiat seperti ini : 

  • "jika saya mati, saya ingin dimandikan putra saya yang ..............."
  • "jika saya mati saya ingin dikafani oleh putra saya yang ..............."
  • "jika saya mati saya ingin dishalatkan oleh ..................."
  • "jika saya mati saya ingin diquburkan di tanah .................."
Atau wasiat lainnya berupa tirkah tertentu, yang harus ditunaikan sebelum pembagian harta warisan.

8). Menyegerakan "pemulasaraan".

"Pemulasaraan" dimaksud adalah : memandikannya, mengkafaninya, shalat jenazah dan menguburkannya (termasuk membawanya ke liang qubur) setelah benar-benar yakin bahwa mayit sudah menjadi mayit.

Sangat penting memastikan kondisi mayit sudah benar-benar menjadi mayit, karena tidak sedikit kasus di berbagai belahan dunia ternyata setelah beberapa saat masih dalam proses pemulasaraan mayit diketahui masih hidup alias mati suri. Tapi alhamdulillah di zaman teknologi seperti ini, sudah banyak peralatan medis yang bisa membantu memastikannya.

Wallaahu A'lam bish-shawab

Daftar Pustaka

Syekh Nawawi al-Bantani. Nihayah al-Zain Hal 148 & Kasyifah al Saja Hal 94-95

Syekh Abdul Wahab al-Sya'rani, Mukhtashar Tadzkirah al-Qurtuby Hal 11-12

Al-Habib Abdullah bin Husein bin Thahir, Is'ad al-Rafiiq Juz 1 Hal 105

Syekh Ibrohim Al-Baijuri, Hasyiyah Al-Bajuri Juz 1 Hal 243

Syaikhul Islam Abi Yahya Zakariya Al-Anshari, Fathul Wahab Juz 1 Hal 89-90

Syekh Jalaludin Al-Mahalli, Syarh Jalaluddin Al Mahalli ala Minhaj Al-Thalibin, Hasyiyatani Al-Qalyubi - Umairah Juz 1 Hal 321

Imam Qalyubi, Hasyiyah Qalyubi/Hasyiyatani Al-Qalyubi - Umairah Juz 1 Hal 321