BAITUSSALAM: Ilmu Tajwid
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Tajwid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Tajwid. Tampilkan semua postingan

وَلَا الضَّآلِّيْنَ Berapa Harkat?

Ilmu Tajwid - Kalimat وَلَا الضَّآلِّيْنَ Berapa harkat? Ada 2 tempat mad pada kalimat tersebut, yaitu : ضَّالِّ Mad lazim kilmiy Mutsaqqol dan لِّيْنَ Mad 'Arid Li Sukun jika diwaqof menjadi لِّيْنْ dan jika diwashal tetap dibaca لِّيْنَ adalah Mad Ashli/Thabi'i

ضَّالِّ Mad Lazim Kilmi Mutsaqqol

ضَّالِّ hukum mad-nya Mad lazim kilmiy/kalimy Mutsaqqol, karena Mad Thabi'i bertemu dengan haraf yang ditasydid. Jangan-jangan pembaca sedang menelusuri barangkali diperbolehkan 2 Alif atau 1 ½ Alif atau bahkan 1 Alif. Silahkan dibaca :
س : ما هو المد اللازم المثقل الكلمي
ج : هو أن يكون بعد حرف المد حرف مشدد في كلمة واحدة نحو  وَلَا الضَّآلِّيْنَ والصَّآخَّةِ وَالطَّآمَّةِ وما أشبه ذلك
س : ما مقدار مده
ج : مقدار مده ثلاث ألفات بست حركات
Soal : Apakah itu Mad Lazim Mutsaqqol Kilmy/Kalimy? Jawab : Yaitu keadaan setelah haraf mad ada haraf musyaddad pada satu kalimat seumpama وَلَا الضَّآلِّيْنَ والصَّآخَّةِ وَالطَّآمَّةِ dan sebagainya.
Soal : Apa ukuran panjangnya? Jawab : Ukuran panjangnya adalah 3 Alif dengan 6 harkat.
(Syaikh Abi Rimah, Hidayah Al-Mustafid fi Ahkam At-Tajwid Hal 15)
ﻣﻘﺪاﺭ ﻣﺪﻩ: ﺳﺖ ﺣﺮﻛﺎﺕ ﻟﺠﻤﻴﻊ اﻟﻘﺮاء ﻓﻰ اﻟﻮﺻﻞ ﻭاﻟﻮﻗﻒ
Ukuran panjangnya : 6 harkat bagi semua Ahli Qiro'at pada kondisi washal dan waqof (Syaikh Aliyullah Abu Al-Wafa, Al-Qaul As-Sadid fi Ilmi At-Tajwid Jilid 1 Hal 109)
حكمه: وجوب مده عند جميع القراء (6 حركات) من غير زيادة، ولا نقصان

Hukumnya : wajib memanjangkannya menurut semua Ahli Qiro'at 6 harkat tanpa penambahan dan tanpa pengurangan (Syaikh Firyal Zakaria Al-Abidi, Al-Mizan fi Ahkam At-Tajwid Hal 181)

ﻭﻳﻤﺪ اﻟﻤﺪ اﻟﻻﺯﻡ اﻟﻜﻠﻤﻲ ﺑﻔﺮﻋﻴﻪ، ﺃﻭ اﻟﺤﺮﻓﻲ ﺑﻨﻮﻋﻴﻪ، ﺑﻤﻘﺪاﺭ ﺳﺖ ﺣﺮﻛﺎﺕ ﻟﺰﻭﻣﺎ
Dipanjangkan Mad Lazim Kilmi dengan 2 cabangnya dan Mad Lazim Harfi dengan 2 warnanya menggunakan ukuran 6 harkat secara lazim (Al-Mukhtashar Al-Mufid fi Ahkam At-Tajwid Jilid 1 Hal 621)

لِّيْنَ Mad 'Arid Li Sukun

Itu jika diwaqofkan. Tapi jika diwasholkan ke kalimat lain statusnya menjadi comeback again menjadi mad ashli/thabi'i lagi. Umumnya bacaan diwaqofkan, sehingga itulah yang ditanyakan. لِّيْنَ (liina) diwaqof menjadi dibaca لِّيْنْ (liin 2 harkat atau liiiin 4 harkat atau liiiiiin 6 harkat), tergantung model bacaannya : qashar atau tawassuth atau thuul.
س : ما هو المد العارض للسكون وما قدر مده
ج : هو الوقف على آخر الكلمة وكان قبل الحرف الموقوف عليه أحد حروف المد الطابعي التي هي الألف والواو والياء كالعقاب وخالدون وخبير ويجوز في مده ثلاثة أوجه الطول وهو ست حركات والتوسط وهو أربع حركات والقصر وهو حركتان والأفضال فيه الستة وهو التام
س : لما سمي مدا عارضا للسكون
ج : لأنه عرض عليه السكون في حالة الوقف وإذا لم يوقف عليه كان مدا طبيعيا
Soal : Apa itu Mad 'Aridh Lis-Sukun? Jawab : Mad Aridh Lis-Sukun adalah waqaf pada akhir kalimat dan sebelum haraf yang diwaqafkan terdapat salah satu huruf Mad Thabi'i yaitu ا (alif) و (wawu) dan ي (ya) seperti kalimat الْعِقَابِ dan خَلِدُوْنَ dan خَبِيْرٌ Dan boleh pada panjangnya 3 wajh, yaitu : 
  • طولPanjang yaitu 6 harkat
  • توسطPertengahan yaitu 4 harkat
  • قصرPendek yaitu 2 harkat
Yang lebih utama pada Mad Aridh Li Sukun adalah 6 harkat, dan itu تامSempurna.
Soal : Kenapa dinamakan Mad 'Arid Lis-Sukun? Jawab : Karena baru datang kepadanya sukun pada situasi waqaf, dan jika tidak diwaqofkan padanya maka statusnya menjadi Mad Thabi'i
(Syaikh Abi Rimah, Hidayah Al-Mustafid fi Ahkam At-Tajwid Hal 14-15)

والله أعلم بالصواب Semoga bermanfaat.

Ilmu Tajwid : Hakikat, Tujuan, Hukum Mempelajari.

Ilmu Tajwid : Hakikat, Tujuan, Hukum Mempelajari. Mengetahui Pengantar (Mabadi) Ilmu Tajwid sangat penting sebelum kita mempelajari lebih jauh tentang masalah-masalah ilmu tajwid.

Hal itu juga berlaku untuk semua fan (bidang studi) ilmu lain, sebagai persiapan agar nanti ketika kita mempelajarinya bisa fokus dan tidak keluar dari ruang lingkup pembahasan yang sebenarnya.

Tinjauan Pustaka

1. Kitab Hidayah al-Mustafidz fi Ahkam al-Tajwid (Abi Rimah, Syaikh Muhammad al-Mahmud al-Najjar)

س #  ما حقيقة التجويد لغة واصطلاحا

ج #  االتجويد لغة الإتيان بالجيد واصطلاحا علم يعرف به اعطاء كل حرف حقه ومستحقه من الصفات والمدود وغيرذلك كالترقيق والتفخيم ونحوهما

س # ما غاية علم التجويد

ج # غايته بلوغ النهاية في اتقان لفظ القرأن على ما تلقي من الحضرة النبوية الأفصحية وقيل غايته صون اللسان عن الخطاء في كتاب الله

س # ما حكم الشارع في علم التجويد

ج # التجويد لا خلاف في انه فرض كفاية والعمل به فرض عين على كل مسلم ومسلمة من المكلفين

S : Apakah hakikat ilmu tajwid menurut etimologi dan terminologi?

J : Tajwid menurut etimologi adalah al-ityanu bi al-jayyidi (mendatangkan dengan bagus), dan menurut terminologi adalah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui cara memberikan haq dan mustahaq setiap huruf : sifat-sifatnya, dipanjangkannya dan lainnya seperti tarqiq dan tafkhim dan yang semisal keduanya.

S : Apakah ghayah ilmu tajwid?

J : Ghayahnya adalah sampainya tujuan dalam meyakinkan lafadz al-Qur'an pada hal yang ditimpakan dari hadhrat kenabiannya dan kefasihannya. Menurut sebuah pendapat ghayahnya adalah menjaga lisan dari kesalahan dalam membaca Kitab Allah.

S : Apakah hukum syar‛i dalam mempelajari ilmu tajwid?

J : Hukum mempelajari ilmu tajwid adalah tidak ada ikhtilaf dalam hal bahwasanya itu fardhu kifayah, dan mengamalkannya adalah fardhu ‛ain kepada setiap muslim dan muslimat mukallafin.

Daftar Pustaka

Abu Rimah, Syaikh Muhammad al-Mahmud. Hidayah al-Mustafidz fi Ahkam al-Tajwid.

Cara Membaca Akhir Surat + Basmalah + Awal Surat

Setiap akhir dan awal surat dalam Al-Qur'an sunat dipisah dengan bacaan basmalah (kecuali surat Al-Taubah, yang hukumnya haram menurut pendapat Imam Ibnu Hajar)

4 Cara Membaca Akhir Surat + Basmalah + Awal Surat

Ada 3 cara membaca akhir surat + basmalah + awal surat yang diperbolehkan menurut ilmu tajwid, dan ada 1 cara yang tidak diperbolehkan.

1 cara yang tidak diperbolehkan adalah akhir surat pertama (contoh : al-ikhlas) diwashalkan kepada basmalah, kemudian akhir basmalah diwaqofkan (berhenti dan mengambil nafas baru) kemudian ibtida membaca awal surat kedua (contoh : al-falaq). Kenapa cara ini tidak diperbolehkan? karena dengan ini jadi seolah memperlakukan basmalah sebagai salah satu ayat (ayat terakhir) dari surat yang pertama (contoh : al-ikhlas) padahal bukan. Berikut ini penjelasannya dalam kitab Hidayah al-Mustafidz

Cara-Membaca-Akhir-Surat-Basmalah-Awal Surat

Adapun 3 cara yang diperbolehkan adalah sebagai berikut :

  1. قَطْعُ الْكُلِّ (mewaqofkan / memutuskan semuanya) : ini berarti anda jadi berhenti di akhir surat pertama (contoh : al-ikhlas) dan mengambil nafas baru, Kemudian membaca basmalah dan berhenti lagi untuk mengambil nafas baru lagi, kemudian mulai membaca awal surat yang kedua (contoh : al-falaq)
  2. وَصْلُ الْبَسْمَلَةِ فِي أَوَّلِ السُّوْرَةِ (mewashalkan basmalah terhadap awal surat yang kedua) ini berarti washal terjadi hanya untuk mewashalkan basmalah kepada awal surat kedua (contoh : al-falaq), sedangkan akhir surat pertama (contoh : al-ikhlas) diwaqofkan dan bacaan basmalah menggunakan nafas baru
  3. وَصْلُ الْكُلِّ (mewashalkan semuanya) Jika yang digunakan adalah cara yang ini berarti nafas yang diambil oleh anda sebelum membaca ayat terakhir surat pertama (contoh : al-ikhlas) tidak boleh diperbaharui sampai akhir ayat awal surat kedua (contoh : al-falaq)
Ketiga cara ini diperbolehkan, jadi kita bebas memilih. Mayoritas pembaca menggunakan cara nomor 2, tapi yang lebih baik adalah cara yang nomor 1 karena dengannya sekaligus menegaskan bahwa basmalah bukan bagian dari surat kesatu maupun surat kedua.

Daftar Pustaka

Abu Rimah, Syaikh Muhammad al-Mahmud. Hidayah al-Mustafidz fi Ahkam al-Tajwid. Maktabah Roja Murah Pekalongan

4 Cara Membaca Isti'adzah + Basmalah + Awal Surat

Berikut ini 4 Cara Membaca Isti'adzah + Basmalah + Awal Surat yang benar sebagaimana dijelaskan oleh para ulama ahli ilmu tajwid, antara lain dalam kitab Hidayah al-Mustafid :
hukum-membaca-istiadzah-basmalah
س : اِذَا اَتَى الْقَارِئُ بِالْإِسْتِعَاذَةِ وَالْبَسْمَلَةِ وَالسُّوْرَةِ فَكَمْ وَجْهًا فِيْهَا؟
ج : فِيهَا اَرْبَعَةُ اَوْجُهٍ قَطْعُ الْجَمْعِ وَوَصْلُ الْبَسْمَلَةِ بِالسُّوْرَةِ فَقَطْ وَوَصْلُ الْإِسْتِعَاذَةِ وَالْبَسْمَلَةِ فَقَطْ وَوَصْلُ الْجَمْعِ
  1. قَطْعُ الْجَمْعِ (memutuskan semuanya) : jika anda menggunakan cara ini maka anda jadi mewaqofkan (berhenti dan mengambil nafas baru) setelah membaca isti'adzah, kemudian memulai bacaan basmalah dengan bermodalkan nafas baru serta mewaqofkannya lagi, kemudian mulai membaca awal surat Al-Kahfi dengan bermodalkan nafas baru. 
  2. وَصْلُ الْبَسْمَلَةِ بِالسُّوْرَةِ فَقَطْ (mewashalkan basmalah terhadap surat saja) : Jika anda menggunakan cara ini, maka anda membaca isti'adzah serta mewaqofkannya, kemudian anda mulai membaca basmalah bermodalkan nafas baru serta mewashalkannya dengan tidak mensukunkan harkat akhir lafadz الرَّحِيْمِ serta menyambungkan pengucapannya terhadap huruf awal surat Al-Kahfi yaitu ال lafadz الحمد kemudian melanjutkan membaca awal surat Al-Kahfi tersebut
  3. وَصْلُ الإِسْتِعَاذَةِ وَالْبَسْمَلَةِ فَقَطْ (mewashalkan isti'adzah + basmalah saja) : Jika menggunakan cara ini,  anda jadi menyambungkan bacaan isti'adzah terhadap bacaan basmalah tanpa mensukunkan lafadz الرَّجِيْمِ dan langsung dilanjutkan dengan pengucapan huruf ب lafadz بِسْمِ kemudian membaca basmalah dan mensukunkan huruf م lafadz الرَّحِيْمِ kemudian berhenti dan mengambil nafas baru sebelum membaca awal surat Al-Kahfi
  4. وَصْلُ الْجَمْعِ (mewashalkan semuanya) : Jika melakukan cara ini, maka dengan satu kali pengambilan nafas anda jadi membaca isti'adzah + basmalah + awal surat Al-Kahfi tanpa berhenti terlebih dahulu.
Kita bisa menggunakan cara yang mana saja, karena 4 cara ini diperbolehkan. Yang paling penting adalah menyesuaikan dengan situasi.

Khusus dalam proses pengajaran membaca Al-Qur'an untuk pemula (seperti di : RA, TKA dan TPA) biasanya yang pertama kali diterapkan adalah cara nomor 1 yaitu قَطْعُ الْجَمْعِ karena umumnya guru mempertimbangkan nafas peserta didik dengan memprioritaskan kebenaran bacaan terlebih dahulu sekalipun dalam kondisi terbata-bata/putus-putus. Kemudian cara nomor 2 --> cara nomor 3 --> cara nomor 4.

Kewajiban mengajarkan membaca Al-Qur'an sesuai dengan kaidah ilmu tajwid memang menjadi salah satu tanggungjawab guru di sekolah, tapi penting juga dibantu penerapannya dengan pembiasaan membaca bersama orang tua di rumah dengan pola tajwid seperti itu. 

Sumber :

Abu Rimah, Syaikh Muhammad al-Mahmud. Hidayah al-Mustafidz fi Ahkam at-Tajwid. Hal 5