Makmum Mufaroqoh Atau Intidzor Jika Imam Lupa Berdiri Lagi Pada Rokaat Terakhir - BAITUSSALAM

Senin, 28 Maret 2022

Makmum Mufaroqoh Atau Intidzor Jika Imam Lupa Berdiri Lagi Pada Rokaat Terakhir

Imam juga manusia, sangat wajar jika lupa. Ada 2 pilihan, yaitu : makmum mufaroqoh atau intidzor jika imam lupa berdiri lagi pada rokaat terakhir. Tidak boleh itba/mengikuti jika makmum tau bahwa imam berdiri untuk rokaat +plus.
  1. Mufaroqah, yaitu berniat di dalam hati : "memutuskan hubungan berjamaah dari imam". Sikap mufaroqoh inilah yang paling utama dari kedua pilihan ini. Setelah memutuskan hubungan keikutsertaan dari imam, kemudian makmum melanjutkan shalatnya sendiri sampai akhir yaitu salam.
  2. Intidzorul Imam, yaitu menunggu imam pada posisi duduk tasyahhud akhir. Makmum yang menunggu ini nantinya akan bersama-sama lagi dengan imam sampai akhir. Bagi makmum yang menunggu ini tidak perlu berniat menunggu, tinggal duduk saja santai pada posisi tasyahhud.
Pada tahap selanjutnya bagi makmum yang tadi intidzor dan telah together lagi dengan imam : 
Jika imam kemudian melakukan sujud sahwi, maka semua makmum wajib ikut bersujud sahwi. Jika tidak ikut shalat makmum batal.
Berikut ini kutipan-kutipan penjelasan para ulama ahli fiqih madzhab Imam Syafi'i :
كاشفة السجا للشيخ محمد نووي الجاوي ص ٦٨
قال عبد الكريم أما لو قام إمامه لخامسة ساهيا فإنه يمتنع على المأموم متابعته ولو كان مسبوقا وهو مخير بين مفارقته ليسلم وحده وانتظاره ليسلم معه
Telah berkata Syaikh Abdul Karim : Adapun jika berdiri imamnya untuk rokaat ke-5 dalam keadaan lupa, maka sesungguhnya terlarang kepada makmum mengikutinya sekalipun makmum statusnya makmum masbuq. Dan dia boleh memilih antara memufaroqohi imam untuk kemudian salam sendiri dan menunggu imam untuk kemudian salam bersamanya. (Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kasyifah As-Saja Hal 68)

فتح المعين للشيخ زين الدين المليباري ص ٣٨
فرع - لو قام إمامه لزيادة كخامسة ولو سهوا لم يجز له متابعته ولو مسبوقا أو شاكا فى ركعة بل يفارقه ويسلم أو ينتظره على المعتمد
إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين للشيخ السيد أبي بكر الدمياطي ج ٢ ص ٤٢
ﻗﻮﻟﻪ ﻟﻮ ﻗﺎﻡ ﺇﻣﺎﻣﻪ ﻟﺰﻳﺎﺩﺓ : ﺃﻱ ﻋﻠﻰ ﺻﻼﺗﻪ
Jika imamnya berdiri untuk menambah : Maksudnya terhadap shalat imam
ﻗﻮﻟﻪ ﻛﺨﺎﻣﺴﺔ : ﺗﻤﺜﻴﻞ ﻟﻠﺰﻳﺎﺩﺓ
Seperti rokaat kelima : Merupakan sebuah contoh untuk tambahan
ﻗﻮﻟﻪ ﻭﻟﻮ ﺳﻬﻮا : ﺃﻱ ﻭﻟﻮ ﻗﺎﻡ ﺣﺎﻝ ﻛﻮﻧﻪ ﺳﺎﻫﻴﺎ ﺑﺄﻥ ﺻﻼﺗﻪ ﻗﺪ ﻛﻤﻠﺖ
Walaupun lupa : Maksudnya walaupun dia berdiri pada situasi keadaannya sebagai orang yang lupa tentang bahwa shalatnya telah sempurna
ﻗﻮﻟﻪ ﻟﻢ ﻳﺠﺰ ﻟﻪ ﻣﺘﺎﺑﻌﺘﻪ : ﺃﻱ ﻟﻢ ﻳﺠﺰ ﻟﻠﻤﺄﻣﻮﻡ ﺃﻥ ﻳﺘﺎﺑﻌﻪ ﻓﻲ اﻟﺮﻛﻌﺔ اﻟﺰاﺋﺪﺓ، ﻓﺈﻥ ﺗﺎﺑﻌﻪ ﺑﻄﻠﺖ ﺻﻼﺗﻪ ﻟﺘﻼﻋﺒﻪ، ﻭﻣﺤﻠﻪ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ اﻟﻤﺄﻣﻮﻡ ﻋﺎﻟﻤﺎ ﺑﺎﻟﺰﻳﺎﺩﺓ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺟﺎﻫﻼ ﺑﻬﺎ ﻭﺗﺎﺑﻌﻪ ﻓﻴﻬﺎ ﻟﻢ ﺗﺒﻄﻞ ﺻﻼﺗﻪ، ﻭﺣﺴﺒﺖ ﻟﻪ ﺗﻠﻚ اﻟﺮﻛﻌﺔ ﺇﺫا ﻛﺎﻥ ﻣﺴﺒﻮﻗﺎ ﻟﻌﺬﺭﻩ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﺤﺴﺐ للإمام
Maka tidak boleh bagi makmum mengikutinya : Maksudnya tidak boleh bagi makmum mengikutinya pada rokaat tambahan. Kemudian jika dia mengikutinya, maka batal shalatnya dikarenakan main-mainnya. Tempatnya batal adalah jika keadaan makmum mengetahui tentang statusnya tambahan. Maka jika keadaannya bodoh terhadap status tambahan dan mengikutinya pada rokaat tambahan tersebut, maka tidak batal shalatnya. Dan dihitung baginya rokaat itu jika keadaannya masbuq, dikarenakan ada udzurkebodohannya. Sekalipun rokaat tersebut tidak dihitung bagi imam.
ﻗﻮﻟﻪ ﻭﻟﻮ ﻣﺴﺒﻮﻗﺎ ﺃﻭ ﺷﺎﻛﺎ : ﻏﺎﻳﺔ ﻓﻲ ﻋﺪﻡ ﺟﻮاﺯ اﻟﻤﺘﺎﺑﻌﺔ ﻟﻪ، ﺃﻱ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ اﻟﻤﺄﻣﻮﻡ ﻣﺴﺒﻮﻗﺎ ﺃﻭ ﺷﺎﻛﺎ ﻓﻲ ﺭﻛﻌﺔ، ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﺗﺠﻮﺯ ﻟﻪ اﻟﻤﺘﺎﺑﻌﺔ
Sekalipun makmum masbuq atau makmum yang ragu jumlah rokaat : Merupakan kalimat penghabisan /saking perihal ketidakbolehan ikut serta bagi makmum, sekalipun keadaan makmum adalah makmum masbuq atau makmum yang ragu perihal rokaat. Maka sesungguhnya makmum tidak boleh baginya ikut serta.
ﻗﻮﻟﻪ ﺑﻞ ﻳﻔﺎﺭﻗﻪ : ﺃﻱ ﻳﻨﻮﻱ اﻟﻤﻔﺎﺭﻗﺔ
Melainkan makmum memufaroqohi imam : Maksudnya makmum berniat mufaroqoh.
ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻭﻳﺴﻠﻢ : ﺃﻱ ﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﻳﺘﺸﻬﺪ. ﻭﻣﺤﻞ ﻫﺬا ﺇﺫا ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﺴﺒﻮﻗﺎ. ﺃﻭ ﺷﺎﻛﺎ ﻓﻲ ﺭﻛﻌﺔ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻛﺬﻟﻚ: ﻗﺎﻡ ﺑﻌﺪ ﻧﻴﺘﻪ اﻟﻤﻔﺎﺭﻗﺔ ﻟﻹﺗﻴﺎﻥ ﺑﻤﺎ ﻋﻠﻴﻪ، ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﻇﺎﻫﺮ
Dan mengucapkan salam : Maksudnya setelah makmum bertasyahhud. Tempatnya mengucapkan salam ini adalah jika status makmum bukan masbuq atau makmum yang ragu perihal jumlah rokaat. Jika statusnya begitu, maka dia harus berdiri setelah niatnya bermufaroqoh untuk mendatangkan terhadap rokaat yang wajib kepadanya, sebagaimana pengetahuan yang sudah dzohir tentang itu.
ﻗﻮﻟﻪ ﺃﻭ ﻳﻨﺘﻈﺮﻩ : ﺃﻱ ﺃﻭ ﻳﻨﺘﻈﺮ اﻹﻣﺎﻡ ﻓﻲ اﻟﺘﺸﻬﺪ
Atau makmum menunggu imam : Maksudnya atau makmum menunggu imam pada tasyahhud.
ﻗﻮﻟﻪ: ﻋﻠﻰ اﻟﻤﻌﺘﻤﺪ ﻣﺘﻌﻠﻖ ﺑﻴﻨﺘﻈﺮ. ﻭﻣﻘﺎﺑﻠﻪ ﻳﻘﻮﻝ: ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻪ اﻻﻧﺘﻈﺎﺭ، ﻛﻤﺎ ﻧﺺ ﻋﻠﻴﻪ اﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﻓﻲ ﻓﺘﺎﻭﻳﻪ. ﻭﻋﺒﺎﺭﺗﻬﺎ ﺑﻌﺪ ﻛﻼﻡ: ﻗﺎﻝ اﻟﺰﺭﻛﺸﻲ ﻛﺎﻷﺳﻨﻮﻱ ﻧﻘﻼ ﻋﻦ اﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﻓﻲ اﻟﺠﻨﺎﺋﺰ: ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻪ اﻧﺘﻈﺎﺭﻩ، ﺑﻞ ﻳﺴﻠﻢ، ﻓﺈﻧﻪ ﻓﻲ اﻧﺘﻈﺎﺭﻩ ﻣﻘﻴﻢ ﻋﻠﻰ ﻣﺘﺎﺑﻌﺘﻪ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻌﺘﻘﺪﻩ ﻣﺨﻄﺌﺎ ﻓﻴﻪ. ﻭاﻟﻤﻌﺘﻤﺪ ﺧﻼﻑ ﻣﺎ ﻗﺎﻟﻪ اﻟﺦ اﻩ
Berdasarkan Qaul Al-Mu'tamad : jar على  dan majrur المعتمد bermuta'alliq terhadap fi'il mudhari lafadz ينتظر. Qaul saingan al-mu'tamad adalah qaul : لا يجوز له الإنتظار sebagaimana Imam Ibnu Hajar telah me-nash pada kitab fatawi-nya. Dan redaksinya itu adalah setelah kalam : "telah berkata Imam Az-Zarkasyi seperti Imam Al-Asnawi hasil mengutip dari Al-Majmu' pada الجنائز : dan tidak boleh bagi makmum menunggu imam, melainkan salam makmum, karena sesungguhnya pada penungguannya tersirat mendirikan terhadap mengikuti imam pada perkara yang makmum mengi'tiqadkan imam telah melakukan kesalahan pada perkara itu. Dan qaul al-mu'tamad adalah menykhilafi perkataan yang telah dia katakan...............dst." -intaha Fatawi Imam Ibnu Hajar.
(Syaikh Sayid Abu Bakar Ad-Dimyathi, I'anah Ath-Thalibin Jilid 2 Hal 42)
 بغية المسترشدين للشيخ السيد عبد الرحمن باعلوى ص٥٧-٥٨
مسئلة ج قام الإمام لخامسة لم يجز للمأموم متابعته ولو مسبوقا ولا إنتظاره بل تجب مفارقته نعم فى الموافق تردد فى جواز الإنتظار اه . قلت وعبارة التحفة ولو قام إمامه لزائدة كخامسة سهوا لم تجز متابعته ولو مسبوقا أو شاكا فى فعل ركعة ولا نظر لاحتمال أنه ترك ركنا من ركعة لأن الفرض أنه علم الحال أو ظنه بل يفارقه وهو أولى أو ينتظره على المعتمد ثم إن فارقه بعد بلوغ الراكع سجد للسهو إه
Masalah ج : Telah berdiri imam untuk rokaat ke-lima. Tidak boleh bagi makmum mengikutinya, walaupun makmumnya makmum masbuq, dan tidak boleh menunggunya, melainkan wajib memutusnya, betul begitu. Pada makmum muwafiq terdapat ketidakpastian perihal diperbolehkannya menunggu. intaha Al-Ja'fary - Ini perkataanku (Syaikh Ba'alawi) -> Ibarot kitab At-Tuhfah adalah : Jika imamnya berdiri untuk rokaat plus seperti untuk rokaat ke-5 karena lupa, maka tidak boleh mengikutinya walaupun status makmumnya makmum masbuq atau makmum yang meragukan jumlah rokaat, dan tidak dijadikan bahan tinjauan alasan ihtimal bahwasanya dia telah meninggalkan salah satu rukun dari suatu rokaat, karena sesungguhnya kefardhuan adalah bahwasanya dia mengetahui terhadap situasinya atau prasangkanya, bahkan memufaroqohinya adalah pilihan yang lebih utama atau makmum menungguinya berdasarkan pendapat al-mu'tamad. Kemudian jika makmum memufaroqahi setelah sampai pada batasan orang yang ruku maka makmum sunat sujud sahwi. -intaha At-Tuhfah- (Syaikh Abdurrahman Ba'alawi, Bughiyah Al-Mustarsyidin Hal 58)
نهاية الزين للشيخ محمد نووي الجاوي ص ٧٥
فإن سجد الإمام للسهو في آخر صلاته وجب على المأموم متابعته وان لم يعلم منه خلالا حملا على أنه لا يفعل السجود الا لمقتضيه. فلو ترك المأموم المتابعة عمدا بطلت صلاته ان لم يكن نوى المفارقة قبل السجود للمخالفة حال القدوة
Jika imam sujud sahwi di akhir shalat, maka wajib kepada makmum mengikuti imam walaupun makmum tidak tahu adanya kesalahan dari imam. Percaya terhadap bahwasanya imam tidak akan melakukan sujud sahwi kecuali ada muqtadhinya. Kemudian jika makmum meninggalkan keikutsertaan secara sengaja, maka batal shalatnya jika tidak terbukti makmum telah berniat mufaroqoh sebelum sujud sahwi karena mukhalafah pada haliyah qudwah. (Syaikh Muhammad Nawawi, Nihayah Az-Zain Hal 75)
حاشية الباجوري للشيخ الإسلام إبراهيم البيجوري ج ١ ص ١٨٩
قوله وسجود السهو سنة أى الا في حق المأموم اذا فعله إمام فإنه يجب عليه
Dan hukum sujud sahwi adalah sunat : Maksudnya kecuali di hak makmum jika imam melakukannya. Maka sesungguhnya sujud sahwi pada situasi itu wajib kepada makmum (Syaikhul Islam Ibrohim Al-Baijuri, Hasyiyah Al-Bajuri Jilid 1 Hal 189)

Daftar Pustaka
Al-Malibari, Syaikh Zainuddin. Fath Al-Mu'in. Pustaka Al-Alawiyah.
Ad-Dimyati, Syaikh Sayid Abu Bakar. I'anah Ath-Thalibin. Toha Putra.
Ba'alawi, Syaikh Abdurrohman. Bughiyah Al-Mustarsyidin. Syirkah An-Nur Asia.
Al-Jawi, Syaikh Muhammad Nawawi. Nihayah Az-Zain. Toha Putra. Kasyifah As-Saja. Al-Haromain
Al-Baijuri, Syaikhul Islam Ibrohim. Hasyiyah Al-Baijuri. Toha Putra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah ikut berpartisifasi
Komentar anda akan segera kami balas