BAITUSSALAM: Qurban
Tampilkan postingan dengan label Qurban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Qurban. Tampilkan semua postingan

5 Strategi Fiqih Syafi'iyah Agar Qurban أُضْحِيَّةٌ (Udhhiyah) Tidak Berubah Dari Hukum Asal Sunat Mu'akkad Menjadi Wajib Sehingga Pemilik Sekeluarga Boleh Memakan Sebagian Dagingnya

Setidaknya penulis yang faqir ilmu ini menemukan 5 strategi dalam fiqih Syafi'iyah agar qurban أُضْحِيَّةٌ (udhhiyah) tidak berubah hukumnya dari hukum asal sunat mu'akkad ke hukum baru menjadi wajib sehingga pemilik sekeluarga boleh memakan sebagian dagingnya - Semua strategi bersifat antisipatif, sehingga penting difahami bahwa penerapannya akan menjadi oke jika dilakukan sejak dini sebelum masuk ke tahapan pengumpulan dana untuk pembelian hewan qurban - Jika anda seseorang yang memiliki peranan penting dalam kepanitiaan qurban, pengetahuan tentang ini mutlak anda butuhkan. Semoga bermanfaat!

Secara asal hukum qurban udhhiyah adalah sunat muakkad, tapi dari hukum asal tersebut udhhiyah bisa berubah menjadi wajib jika mudhahhi menadzarkannya, baik nadzar haqiqi maupun nadzar hukmi :  ta'yin & ju'alah - Masalah ini cukup rumit apalagi jika kita mencoba memahaminya sebelum mengenali apa itu nadzar, apa itu ta'yin, apa itu ju'alah serta apa saja kosakata yang cenderung mengarah kepada salah satu dari ketiganya jika dirangkai pada suatu kalimat - Nah, strategi yang akan dijelaskan ini adalah sebagai langkah antisipatif agar qurban udhhiyah kita tidak menjadi masuk ke dalam kategori qurban udhhiyah al-mandzuroh yang hasil sembelihannya menjadi eksklusif 100% tidak ada yang boleh dimakan oleh mudhahhi, sedangkan di sisi lain mudhahhi juga diyakini berkeinginan ikut menikmati hasil sembelihannya. Oleh karena itu strategi sebagai solusi menjadi sangat dibutuhkan, agar semua pihak bisa sama-sama bahagia dengan bisa menikmati menu makanan special hari raya idul adha tersebut.

Secara umum, potensi masalah dimungkinkan ada pada 2 momentum :
  1. Saat melafalkan / melisankan / mentalaffudzkan / menyuarakan suara hati terhadap niat bertadhhiyah dengan suara mulut menjadi perkataan layaknya kita meنويتkan niat shalat sebelum takbirotul ihrom. Strategi yang digunakan penulis merujuk pada penjelasan Syaikh Sayid Abu Bakar dalam Kitab I'anah Ath-Thalibin Jilid 2 Halaman 331. Strategi ini akan diurutkan pada artikel ini sebagai strategi kesatu.
  2. Saat menyatakan suatu redaksi kalimat baik kalimat خبارية (pemberitahuan) maupun انشائية (serupa pernyataan) dan lain sebagainya yang merupakan pengeluaran kata-kata dari mulut. Dalam hal ini, termasuk bahasa isyarat jika dia merupakan orang yang tuna wicara. Strategi ada 4 dan merujuk pada penjelasan : Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi dalam Kitab Tsimar Al-Yani'ah fi Ar-Riyadh Al-Badi'ah & Syaikh Ali Bashabrain dalam Kitab Itsmad Al-Ainain fi Ba'dhi Ikhtilaf Asy-Syaikhain Halaman 77 untuk strategi kedua. Syaikh Abdurrohman Ba'alawi dalam Kitab Bughiyah Al-Mustarsyidin Halaman 258 untuk strategi ketiga, Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Kitab Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh Jilid 4 Halaman 2707 untuk strategi keempat, dan Syaikhul Islam Ibrohim Al-Bajuri dalam Kitab Hasyiyah Al-Bajuri Jilid 2 Halaman 296 untuk strategi kelima.
Alasan pengurutan strategi :
  • Strategi kedua, strategi ketiga dan strategi keempat ada benang merah dengan strategi kesatu. Keywordnya adalah "أُضْحِيَّةً". Suatu kata yang secara terminologi fiqih mengandung makna : "perkara yang disembelih dari yang termasuk binatang ternak dalam rangka qurban/taqorrub kepada Allah pada hari raya idul adha dan hari-hari tasyriq". Jadi kata ini merupakan kata khusus yang bahkan lebih spesifik daripada kata "قُرْبَانٌ Qurban" maupun kata "ذَبِيْحَةٌ Sembelihan".
  • Strategi kelima ada benang merah dengan strategi kedua, strategi ketiga dan strategi keempatKeywordnya adalah "خَبَرِيَّةٌ" dan "إِنْشَائِيَّةٌ". Kedua istilah ini merupakan objek pembahasan ilmu ma'ani, dan ilmu ma'ani merupakan suatu ilmu tentang makna perkataan. خَبَرِيَّةٌ merupakan suatu jenis kalimat pemberitahuan, sedangkan إِنْشَائِيَّةٌ merupakan suatu jenis kalimat yang bukan pemberitahuan dan lebih mendekati suatu pernyataan. Sederhananya begitu.
Itulah alasan penulis mengurutkan strateginya, dengan tujuan agar lebih memudahkan pembaca untuk memahami karakteristik kelimanya. 

Terus terang saja, tidak mudah memahami semua ini. Keberadaan segelas susu atau secangkir kopi mungkin akan anda butuhkan. Jika anda merasa butuh untuk mendiskusikannya lebih jauh, kolom komentar bisa anda manfaatkan.

Strategi Kesatu - Jika niat أُضْحِيَّةً  dilisankan sebelum awal proses penyembelihan, sertakan qayid مَسْنُوْنَة atau سُنَّة pada redaksi niatnya.
قوله بنية أضحية إلخ : متعلق بتضحية، أي يسن تضحية بنية أضحية، أي يشترط فيها النية عند الذبح أو قبله عند التعيين لما يضحي به. ومعلوم أنها بالقلب، وتسن باللسان، فيقول: نويت الأضحية المسنونة، أو أداء سنة التضحية. فإن اقتصر على نحو الأضحية صارت واجبة يحرم الأكل منها. وحينئذ فما يقع في ألسنة العوام كثيرا من شرائهم ما يريدون التضحية به. من أوائل السنة، وكل من سألهم عنها يقولون له هذه أضحية من جهلهم بما يترتب على ذلك من الأحكام يصير به أضحية واجبة يمتنع عليه أكله منها
Redaksi Mushannif (Syaikh Zainuddin Al-Malibari) بنية أضحية إلخ : Jar dan majrur بنية nglink ke تضحية -> disunatkan تضحية dengan niat أضحية -> disyaratkan niat pada تضحية ketika momentum penyembelihan atau sebelumnya ketika ta'yin terhadap perkara yang diتضحيةkan, dan sudah maklum bahwasanya niat adalah dengan menggunakan hati, dan disunatkan dengan pengucapan lisan, maka mudhahhi mengucapkan redaksi : 
نَوَيْتُ الْأُضْحِيَّةَ الْمَسْنُوْنَةَ
"aku telah meniatkan terhadap qurban udhhiyah yang disunatkan" atau 
نَوَيْتُ أَدَاءَ سُنَّةِ التَّضْحِيَّةِ 
"aku telah meniatkan terhadap penunaian sunat berqurban udhhiyah".
Jika dia mengiqtishar (meringkaskan penyertaan kosakata hanya) terhadap seumpama kata الْأُضْحِيَّةَ (atau التَّضْحِيَّةِ) maka أضحية menjadi wajibah yang haram memakan sebagian darinya.

Dan tatkala begitu (jika dia mengiqtishar terhadap seumpama kata الْأُضْحِيَّةَ maka أضحية menjadi wajibah), maka yang terjadi pada lisan-lisan orang awam yang banyak terjadi dari pembelian mereka terhadap perkara yang mereka kehendaki sebab perkara tersebut dari awal-awal tahun,  dan kepada setiap orang yang bertanya kepada mereka perihal hewan tersebut mereka menjawab :  
هٰذِهِ أُضْحِيَّةً
"ini (kata isyarat ini ditujukan terhadap sakadang domba garut misalnya) adalah أُضْحِيَّةً"
dari kebodohan mereka perihal perkara yang ditertibkan terhadap itu yaitu hukum-hukum, maka jadilah sebab perkataan tersebut udhhiyah wajibah yang terlarang kepadanya untuk memakan sebagian darinya.  [Syaikh Sayid Abu Bakar - I'anah Ath-Thalibin Jilid 2 Halaman 331 - Kitab Syafi'iyah]

Mafhum Penulis
Syaikh Sayid Abu Bakar menjelaskan bahwa niat termasuk salah satu syarat sah أضحية, dan waktu meniatkannya 
  • bisa sebelum proses penyembelihan (diawalkan)
  • bisa pada momentum proses penyembelihan (dibersamakan)
Sebagaimana sudah diketahui bersama, tempatnya niat adalah hati, jadi yang wajib adalah hanya pengucapan menggunakan suara hati, tidak wajib diucapkan dengan suara lisan. Tapi Syaikh Sayid Abu Bakar juga menjelaskan bahwa hukum melisankannya itu disunatkan. Oleh karena disunatkan melisankannya maka tentu dimungkinkan terjadi pengucapan secara lisan oleh mudhahhi. Yang mengkhawatirkan adalah ketika itu dilisankan sebelum proses penyembelihan dengan menggunakan redaksi yang cenderung mengarah kepada menadzarkan, sehingga menyebabkan perubahan hukum udhhiyah menjadi wajib. Jadi di sinilah potensi masalahnya.

Strategi antisipatifnya adalah selalu sertakan pada redaksi niat tersebut suatu kosakata yang secara fungsi bisa menjadi qayid penjelas bahwa yang diqurbankan adalah qurban udhhiyah sunat, alias tidak mengiqtishar / mencukupkan penyertaan الْأُضْحِيَّةَ atau التَّضْحِيَّةِ saja tanpa qayid penjelas. Sayid Abu Bakar merekomendasikan contoh rangkaian kalimat niat :
  1. "نَوَيْتُ الْأُضْحِيَّةَ الْمَسْنُوْنَةَ / Aku meniatkan terhadap qurban udhhiyah yang disunatkan"
  2. "نَوَيْتُ أَدَاءَ سُنَّةِ التَّضْحِيَّةِ / Aku meniatkan terhadap penunaian sunat berqurban udhhiyah".
Perhatikan kedua redaksi niat tersebut!
  • rangkaian redaksi niat kesatu menyertakan kosakata الْمَسْنُوْنَةَ (yang disunatkan)
  • rangkaian redaksi niat kedua menyertakan kosakata سُنَّةِ (sunat)
Keduanya memiliki fungsi sebagai qayid penjelas bahwa jenis udhhiyah yang akan ditaqorrubkan adalah udhhiyah sunat. Penjelasan yang agak mirip juga terdapat dalam Bughiyah Al-Mustarsyidin Halaman 258 yaitu penyertaan kata تَطَوُّعًا (Lihat strategi ketiga) dimana kosakata ini sangat mungkin bisa dijadikan alternatif dari kata الْمَسْنُوْنَةَ dan kata سُنَّةِ sebagai qayid penjelas pada niat.

Strategi Kedua - Maksudkan ucapan berupa rangkaian kalimat yang berisi konten أُضْحِيَّة sebagai kalimat pemberitahuan saja.
مسئلة
ما يقع من العوام من قولهم هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ جاهلين بما يترتب على ذلك وإن قصدوا الإخبار تصير به منذورة كما في حج و م ر لكن قال السيد عمر البصري محله ما لم يقصدوا الإخبار وإلا لم تتعين
perkara yang terjadi dari orang-orang awam yaitu ucapan mereka :
هٰذِهِ أُضْحِيَّة
"ini (kata isyarat ditujukan terhadap sakadang domba garut misalnya) adalah udhhiyyah"
dalam keadaan bodoh terhadap perkara yang ditertibkan atas semua itu sekalipun mereka memaksudkannya sebagai pemberitahuan maka jadilah udhhiyah sebab ucapan itu menjadi udhhiyah yang dinadzarkan sebagaimana pada penjelasan Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dan Imam Ramli. Akan tetapi telah berkata Sayid Umar Al-Bashri : "Tempat jatuhnya ucapan seseorang هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ menjadi nadzar adalah selagi mereka tidak memaksudkannya sebagai kalimat pemberitahuan, dan jika tidak begitu maka udhhiyah menjadi tidak terta'yin. [Syaikh Ali Bashabrain, Itsmad Al-Ainain fi Ba'dhi Ikhtilaf Asy-Syaikhain Halaman 77]
ولا تجب إلا بالنذر كقوله عَلَيَّ أَنْ أُضَحِيَ بِهٰذِهِ أو بِشَاةٍ أو إِنْ مَلَكْتُ شَاةً فَعَلَيَّ أَن أُضَحِيَ بِهَا وكقوله هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ ولا يحتاج في هذه القول الى نية بل لا عبرة بنية خلافه لأنه صريح ويلغو نية ذلك بلا لفظ. قال السيد عمر البصري ومحل وقوع قوله هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ نذرا ما لم يقصد الإخبار وإلا لم تتعين خلافا لابن حجر والرملي حيث قالا تصير الضحية بهذا القول منذورة وإن قصدوا الإخبار بخلاف قوله إِنْ مَلَكْتُ هٰذِهِ فَعَلَيَّ أَنْ أُضَحِيَ بِهَا فلا تصير منذورة لأن المعين لا يثبت في الذمة
Udhhiyah tidak menjadi wajib kecuali sebab nadzar, seperti ucapan seseorang :
عَلَيَّ أَنْ أُضَحِيَ بِهٰذِهِ
"mesti kepadaku تضحية dengan ini (kata isyarat ini ditujukan terhadap sakadang domba garut misalnya)"
atau
عَلَيَّ أَنْ أُضَحِيَ بِشَاةٍ
"mesti kepadaku تضحية dengan seekor domba"
atau
إِنْ مَلَكْتُ شَاةً فَعَلَيَّ أَن أُضَحِيَ بِهَا
"jika aku telah memiliki seekor domba maka mesti kepadaku تضحية dengannya"
atau seperti ucapannya :
هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ
"ini (kata isyarat ini ditujukan terhadap sakadang domba garut misalnya) adalah أُضْحِيَّةٌ"
Dan tidak dibutuhkan pada ucapan ini terhadap suatu niat, bahkan tidak ada perhitungan terhadap berbedanya niat dengan yang diucapkan, karena ucapan tersebut bersifat sharih. Dan niat yang berbeda dengan ucapan tersebut tidak berlaku niat dengan tanpa ditalaffudzkan.

Telah berkata Sayid Umar Al-Bashri : "Tempat jatuhnya ucapan seseorang هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ menjadi nadzar adalah selagi dia tidak memaksudkannya sebagai pemberitahuan, dan jika tidak begitu maka udhhiyah tidak menjadi terta'yin". Perkataan Sayid Umar Al-Bashri khilaf terhadap Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dan Imam Ramli tentang keduanya telah berkata : "udhhiyah menjadi mandzurah sebab ucapan ini sekalipun dia memaksudkannya sebagai pemberitahuan, berbeda dengan ucapan seseorang : 
إِنْ مَلَكْتُ هٰذِهِ فَعَلَيَّ أَنْ أُضَحِيَ بِهَا
jika aku telah memiliki ini (kata isyarat ini ditujukan terhadap sakadang domba saudi arabia misalnya) maka mesti kepadaku bertadhhiyah dengannya
maka udhhiyah tidak menjadi mandzuroh karena yang dita'yin tidak tetap dalam tanggungan". [Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Tsimar Al-Ya'inah fi Ar-Riyadh Al-Badi'ah Halaman 80]

مسئلة ب
ظاهر كلامهم أن من قال هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ أو هِيَ أُضْحِيَّةٌ أو هَدْيٌ تعينت وزال ملكه عنها ولا يتصرف إلا بذبحها فى الوقت وتفرقتها ولا عبرة بنيته خلاف ذلك لأنه صريح قال الأذرعي كلامهم ظاهر فى أنه إنشاء وهو بالإقرار أشبه
Dzohir perkataan para ulama adalah bahwasanya orang yang berkata :
هٰذِهِ أُضْحِيَّة 
"ini (kata isyarat ini ditujukan terhadap sakadang domba saudi arabia misalnya) adalah أُضْحِيَّة"
atau 
هِيَ أُضْحِيَّةٌ
"dia (kata ganti dia perempuan tunggal ditujukan terhadap sakadang domba saudi arabia misalnya) adalah أُضْحِيَّة" 

atau  

هٰذِهِ هَدْيٌ 
"ini (kata isyarat ini ditujukan terhadap sakadang domba saudi arabia misalnya) adalah هَدْيٌ"
atau 
هِيَ هَدْيٌ
"dia (kata ganti dia perempuan tunggal ditujukan terhadap sakadang domba saudi arabia misalnya) adalah هَدْيٌ" 
maka domba itu menjadi terta'yin, dan menjadi hilang kepemilikannya atas domba tersebut, dan tidak boleh ditasharrufkan kecuali dengan menyembelih domba tersebut pada waktunya dan memisahkan bagian-bagian tubuhnya. Dan tidak ada perhitungan terhadap niatnya yang menolakbelakangi perkataannya karena perkataannya itu bersifat sharih. Telah berkata Imam Al-Adzra'i : perkataan para ulama adalah dzohir pada bahwasanya perkataan orang tersebut adalah إنشائية dan إنشائية itu terhadap إقرار lebih menyerupai. [Sayid Abdurrohman Ba'alawi mengutip redaksi Mushannif Al-Qala'id - Bughiyah Al-Mustarsyidin Halaman 257 - Kitab Syafi'iyah]

Mafhum Penulis
Sebenarnya strategi kedua ini diikhtilafkan, dan merindingnya yang dikhilafi pendapatnya adalah pendapat 2 Guru Besar Ulama Syafi'iyah sedunia yaitu : Imam Ramli dan Imam Ibnu Hajar Al-Haitami. Sejauh yang penulis ketahui, biasanya semua pendapat ulama Syafi'iyah muta'akhkhirin akan mengerucut merujuk kepada hasil tarjih kedua atau salah satu dari kedua Imam Besar ini. Bahwa perkataan orang-orang :
هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ
"ini (kata isyarat ditujukan terhadap seekor domba saudi arabia misalnya) adalah أُضْحِيَّةٌ"
  1. Ittifaq Imam Ar-Ramli dan Imam Ibnu Hajar Al-Haitami bahwa sekalipun mereka memaksudkan perkataan itu sebagai kalam khabari (pemberitahuan) tetap saja menyebabkan objek menjadi al-mandzuroh. Jadi dalam pandangan Syaikhoni Syafi'iyah : #Jika dimaksudkan kalam khabari, ucapan هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ menghasilkan al-mandzuroh. #Jika tidak dimaksudkan kalam khabari ucapan هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ menghasilkan al-mandzurah. 
  2. Syaikh Sayid Umar Al-Bashri mengatakan : "menjadi al-mandzuroh itu adalah selagi mereka tidak memaksudkannya sebagai kalam khabari (pemberitahuan), dan jika tidak memaksudkannya sebagai pemberitahuan maka udhhiyah tidak menjadi terta'yin". Jadi dalam pandangan Syaikh Sayid Umar Al-Bashri : #Jika dimaksudkan kalam khabari, ucapan هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ tidak menghasilkan al-mandzuroh. #Jika tidak dimaksudkan kalam khabaripun ucapan هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ tidak menghasilkan al-mu'ayyanah. 
  3. Imam Al-Adzro'i mengatakan bahwa perkataan para ulama adalah dzohir pada bahwasanya perkataan orang tersebut adalah إنشائية, dan انشائية itu terhadap إقرار lebih menyerupai. Jadi dalam pandangan Imam Al-Adzro'i : #Jika dimaksudkan kalam khabari, ucapan هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ tidak menghasilkan al-mu'ayyanah. #Jika dimaksudkan kalam insya'i ucapan هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ menghasilkan al-mu'ayyanah.
Perhatikan perbedaan hasil ketiganya! Penulis tidak sedang membandingkan pendapat mana yang lebih kuat dari 3 pendapat ini, karena jelas dalam kitab-kitab fiqih madzhab Syafi'i muta'akhkhirin sering disebutkan bahwa pendapat yang paling kuat dan mewakili sikap madzhab syafi'i adalah pendapat yang disepakati Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dan Imam Ramli. Akan tetapi pendapat Syaikh Sayid Umar Al-Bishri yang ditampilkan dalam karya tulis Syaikh Muhammad Nawawi dan Syaikh Ali Bashabrain, serta penjelasan Imam Al-Adzro'i yang ditampilkan dalam karya tulis Syaikh Muhammad Ba'asyan yakin mereka maksudkan sebagai pendapat alternatif yang bisa diikuti. 

Penulis tidak menyertakan pendapat Imam Ali Asy-Syibromilsi yang لا يبعد اغتفار ذلك للعوام tentang ucapan هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ karena itu bukan pilihan, melainkan harapan terakhir alias mudah-mudahan 😁

Strategi Ketiga - Sertakan anak kalimat yang berisi murod تطوعا pada rangkaian kalimat, baik itu kalimat yang dimaksudkan sebagai kalam khabari maupun sebagai kalam insya'i.
مسئلة ب
ظاهر كلامهم أن من قال هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ أو هِيَ أُضْحِيَّةٌ أو هَدْيٌ تعينت وزال ملكه عنها ولا يتصرف إلا بذبحها فى الوقت وتفرقتها ولا عبرة بنيته خلاف ذلك لأنه صريح
قال الأذرعي كلامهم ظاهر فى أنه إنشاء وهو بالإقرار أشبه
واستحسنه فى القلائد قال ومنه يؤخذ أنه إن أراد أَنِّيْ أُرِيْدُ التَّضْحِيَةَ بِهَا تَطَوُّعًا كما هو عرف الناس المطرد فيما يأخذونه لذلك حمل على ما أراد
Dzohirnya perkataan para ulama adalah bahwasanya orang yang berkata :
هٰذِهِ أُضْحِيَّة 
"ini (kata isyarat ini ditujukan terhadap sakadang domba mina misalnya) adalah udhhiyyah"
atau 
هِيَ أُضْحِيَّةٌ
"dia (kata ganti dia perempuan tunggal ditujukan terhadap sakadang domba mina misalnya) adalah udhhiyah" 

atau  

هٰذِهِ هَدْيٌ 
"ini (kata isyarat ini ditujukan terhadap sakadang domba mina misalnya) adalah hadyu"
atau 
هِيَ هَدْيٌ
"dia (kata ganti dia perempuan tunggal ditujukan terhadap sakadang domba mina misalnya) adalah hadyu" 
maka domba itu menjadi terta'yin, dan menjadi hilang kepemilikannya atas domba tersebut, dan tidak boleh ditasharrufkan kecuali dengan menyembelih domba tersebut pada waktunya dan memisahkan bagian-bagian tubuhnya. Dan tidak ada perhitungan terhadap niatnya yang menolakbelakangi perkataannya karena perkataannya itu sharih.

Telah berkata Imam Al-Adzra'i : perkataan para ulama adalah dzohir pada bahwasanya perkataan orang tersebut adalah إنشائية dan إنشائية itu terhadap إقرار lebih menyerupai, dan mengistihsannya kitab Al-Qalaid, dia berkata : dan dapat diambil pemahaman dari itu bahwasanya jika mudhahhi memiliki murod :
أَنِّيْ أُرِيْدُ التَّضْحِيَةَ بِهَا تَطَوُّعًا
sesungguhnya aku bermaksud التَّضْحِيَةَ dengan أُضْحِيَّةَ tersebut secara تَطَوُّع
sebagaimana itu adalah kebiasaan orang-orang yang dikontinyukan pernyataan murodnya pada perkara yang mereka take on terhadap perkara tersebut, maka mu'ayyan diihtimalkan terhadap perkara yang jadi murod mudhahhi. [Sayid Abdurrohman Ba'alawi mengutip redaksi Mushannif Al-Qala'id - Bughiyah Al-Mustarsyidin Halaman 257-258 - Kitab Syafi'iyah]

Mafhum Penulis  
Ini secara kosakata, mirip dengan strategi kesatu yang menganjurkan penyertaan kata الْمَسْنُوْنَةَ atau سُنَّةِ pada serangkaian kalimat niat. Akan tetapi yang ini konteksnya bukan pada redaksi kalimat niat, melainkan adalah pada redaksi kalimat إنشائية yang terhadap الإقرار lebih menyerupai seperti dikatakan Imam Al-Adzro'i. Jadi ketika mudhahhi menyatakan :
هٰذِهِ أُضْحِيَّة
"ini (kata isyarat ini ditujukan terhadap sakadang domba garut misalnya) adalah udhhiyyah"
atau 
هِيَ أُضْحِيَّةٌ
"dia (kata ganti dia perempuan tunggal ditujukan kepada sakadang domba garut misalnya) adalah udhhiyah" 
kemudian melanjutkannya dengan rangkaian kalimat yang menyatakan murod dari أُضْحِيَّةٌnya yang diهٰذِهِkan atau diهِيَkan tersebut seperti dengan rangkaian kalimat :
أَنِّيْ أُرِيْدُ التَّضْحِيَةَ بِهَا تَطَوُّعًا
"sesungguhnya aku bermaksud التَّضْحِيَةَ dengan أُضْحِيَّةَ tersebut secara تَطَوُّع"
menjadi satu kesatuan kalimat (klausa dengan dependent clause berisi murod sebagai anak kalimatnya) :
هٰذِهِ أُضْحِيَّةٌ أَنِّيْ أُرِيْدُ التَّضْحِيَةَ بِهَا تَطَوُّعًا
ini (kata isyarat ini ditujukan terhadap sakadang domba garut misalnya) adalah udhhiyah, sesungguhnya aku bermaksud التَّضْحِيَةَ dengan أُضْحِيَّةَ tersebut secara تَطَوُّع"
atau
هِيَ أُضْحِيَّةٌ أَنِّيْ أُرِيْدُ التَّضْحِيَةَ بِهَا تَطَوُّعًا
"ini (kata ganti dia perempuan tunggal ditujukan kepada sakadang unta misalnya) adalah udhhiyah, sesungguhnya aku bermaksud التَّضْحِيَةَ dengan أُضْحِيَّةَ tersebut secara تَطَوُّع"
maka ta'yinnya pada udhhiyah diihtimalkan pada murodnya tersebut. Sehingga hukum udhhiyah tetap sunat karena ter-tathawwu-kan kalimat murod setelahnya. 

Strategi serupa bisa diterapkan pada kalam خبرية, meskipun : 
  • Syaikh Sayid Umar Al-Bashri mengatakan bahwa menjadi al-mandzuroh itu adalah selagi mereka tidak memaksudkannya sebagai kalam khabari (pemberitahuan). 
  • Imam Al-Adzro'i bahkan menyimpulkan bahwa perkataan para ulama adalah dzohir pada bahwasanya perkataan orang tersebut adalah إنشائية dan إنشائية itu terhadap إقرار lebih menyerupai.
Karena tentu saja jika strategi ini diterapkan juga pada kalam khabari, akan menjadikannya lebih aman.

Strategi ketiga dan strategi keempat hampir sama dengan strategi kesatu dalam hal tidak membiarkan kata أضحية tanpa qayid penjelas.

Strategi Keempat - Sertakan kalimat إن شاء الله pada rangkaian kalimat, baik itu kalimat yang dimaksudkan sebagai kalam khabari maupun sebagai kalam insya'i.
وقال الشافعية في الصحيح والحنابلة: إن نوى الشراء للأضحية ولم يتلفظ بذلك لاتصير به أضحية؛ لأن إزالة الملك على سبيل القربة لاتحصل بذلك، وإنما تجب الأضحية إما بالنذر، مثل لله علي، أو علي أن أضحي بهذه الشاة، أو بالتعيين بأن يقول: هذه أضحية أو جعلتها أضحية، لزوال ملكه عنها بذلك. والجعل بمعنى النذر، فتصير واجبة، ويحرم حينئذ الأكل منها، ولايقبل القول بإرادة التطوع بها. فإن قال: أضحية إن شاء الله لم تتعين ولم تجب
Telah mengatakan Syafi'iyah dalam qaul shahihnya dan Hanabilah : Jika seseorang meniatkan pembelian untuk أضحية dan dia tidak melafadzkan terhadap yang diniatkannya maka dengan itu tidak menjadikan hasil pembeliannya sebagai أضحية karena menghilangkan kepemilikan dalam rangka bertaqorrub tidaklah hasil dengan cara demikian. Hanyalah wajib أضحية dengan : 
  • sebab nadzar, seperti : "لله علي karena Allah mesti kepadaku, atau علي أن أضاحي بهذه الشاة mesti kepadaku berqurban أضحية dengan kambing ini". atau
  • sebab ta'yin (menentukan - menspesifikan), dengan mengatakan : "ini adalah أضحية". atau 
  • "aku telah menjadikannya أضحية" (sebab ju'alah)
Karena hilangnya kepemilikan dia terhadap itu.

"جعل / جعالة / menjadikan" adalah mengandung makna nadzar, maka أضحية menjadi wajib dan haram tatkala demikian memakan dari bagian أضحية. Dan tidak diterima perkataan tentang murod tathawwu dengannya. by the way,  jika seseorang mengatakan "أضحية insya Allah" maka أضحية tidak menjadi terta'yin dan tidak menjadi wajib. [Dr. Syaikh Wahbah Az-Zuhaili -  Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh Jilid 4 Hal 2707 - Kitab Perbandingan Madzhab]

Mafhum Penulis
Yang dijelaskan Syaikh Wahbah Az-Zuhaili ini berkaitan dengan perubahan hukum udhhiyah dari hukum asal ke hukum baru menurut perspektif Ulama Fiqih 2 madzhab, yaitu :
  • Madzhab Syafi'i yang beliau telusuri dari kitab-kitab para ulama Syafi'iyah (Mughni Al-Muhtaj Imam Khatib Syarbaini, Al-Muhaddab Imam Abu Ishaq Asy-Syairozy, Hasyiyah Al-Bajuri Syaikhul Islam Ibrohim Al-Baijuri)
  • Madhab Hanbali yang beliau telusuri dari kitab-kitab para ulama Hanabilah (Al-Mughni Imam Ibnu Qudamah, Kasyaf Al-Qina Ala Matn Al-Iqna Imam Manshur Al-Buhuti)
Berikut ini point-point penting dari penjelasan tersebut :
  • Pembelian terhadap hewan udhhiyah tidaklah menyebabkan perubahan dari hukum asal sunat mu'akkad menjadi wajib, ini berbeda dengan pendapat Hanafiyah.
  • Sebab perubahan hukum ada 3 : pernyataan nadzar, pernyataan ta'yin (menentukan jenis qurban terhadap qurban أضحية atau menspesifikan jenis hewan yang akan diqurbanأضحيةkan), pernyataan ju'alah (menjadikan). Ketiganya merupakan bentuk pernyataan alias suatu pengungkapan maksud yang dinyatakan secara lisan baik dibuktikan dengan adanya kata-kata maupun isyarat. Tidak seperti niat, yang ruang pengungkapannya adalah hati.
  • Jika pernyataan yang dilisankan berbeda dengan maksud hati yang sebenarnya, maka yang dijadikan objek hukum adalah apa yang terbukti dinyatakan secara lisan sekalipun tidak sesuai dengan maksud hati. Kacaletot, misalnya. Oleh karena itu beliau menjelaskan bahwa "tidak diterima perkataan tentang murod tathawwu dengannya". Kecuali jika serangkaian kalimat yang jadi murodnya tersebut disebutkan juga secara paralel mengikuti pernyataan sebelumnya sebagai dependent clause sebagaimana dijelaskan sebelumnya pada strategi ketiga.
  • Jika setelah kalimat pernyataan ta'yin (menspesifikan jenis qurban terhadap qurban أضحية) kemudian diikuti secara paralel dengan kalimat انشاء الله maka statusnya menjadi tidak terta'yin dan qurban أضحية menjadi tidak wajib
Jadi jika dalam percakapan sehari-hari seorang calon mudhahhi perlu melisankan suara hatinya perihal qurban udhhiyah sebelum proses pelaksanaan dengan ingin tetap mempertahankan pelafalan redaksi أضحية hukum tidak berubah menjadi wajib dengan penerapan strategi ketiga atau keempat ini.

Menurut hemat penulis, dalam percakapan sehari-hari yang lebih aman adalah strategi kelima yaitu penggunaan istilah yang lebih luas dari kata أضحية

Strategi Kelima - Gunakan kosakata yang maknanya lebih umum tapi mudah difahami sebagai pengganti kata ضَحِيَةٌ dhahiyah / kata أَنْ نُضَحِّيَ" dengan seumpama kata ذَبِيْحَة hewan sembelihan / kata أَنْ نَذْبَحَهَا"
قوله ولا تجب الأضحية الا بالنذر : أى حقيقة أو حكما فالأول كقوله لِلّٰهِ عَلَيَّ أَنْ أُضَحِّيَ بِهٰذِهِ والثاني كقوله جَعَلْتُ هٰذِهِ أُضْحِيَّةً فالجعل بمنزلة النذر بل متى قال هٰذِهِ أُضْحِيَّةً صارت واجبة وان جهل بذلك. فما يقع من العوام عند سؤالهم عما يريدون التضحية به من قولهم هٰذِهِ أُضْحِيَّةً تصير به واجبة ويحرم عليهم الأكل منها. ولا يقبل قولهم اَرَدْنَا التَّطَوُّعَ بِهَا خلافا لبعضهم. وقال الشبراملسي لا يبعد اغتفار ذلك للعوام، وهو قريب، لكن ضعفه مشايخنا. فالجواب المخلص من ذلك أن يقول المسئول نُرِيْدُ أَنْ نَذْبَحَهَا يَوْمَ الْعِيْدِ. نعم، لا تجب بقوله وقت ذبحها أَللّٰهُمَّ هٰذِهِ أُضْحِيَّتِيْ فَتَقَبَّلْ مِنِّي يَا كَرِيْمُ ونحو ذلك
Redaksi Imam Ibnu Qasim Al-Ghazi ولا تجب الأضحية الا بالنذر dan tidak wajib udhhiyah kecuali sebab nadzar :
Baik nadzar haqiqi ataupun nadzar hukmi.
  • Adapun yang pertama (nadzar haqiqi) adalah seperti perkataan mudhahhi : "لِلّٰهِ عَلَيَّ أَنْ أُضَحِّيَ بِهٰذِهِ karena Allah mesti kepadaku berأضحية dengan hewan ini".
  • Dan yang kedua (nadzar hukmi) adalah seperti perkataan mudhahhi : جَعَلْتُ هٰذِهِ أُضْحِيَّةً aku telah menjadikan hewan ini sebagai أُضْحِيَّةً. Maka penjadian tersebut adalah ada pada manzilah nadzar. Bahkan ketika dia berkata :  هٰذِهِ أُضْحِيَّةً ini adalah أُضْحِيَّةً", maka jadi أُضْحِيَّةً tersebut berketetapan wajibah sekalipun mudhahhi tidak tahu terhadap bahwa itu menjadi sebab berubah jadi wajib.
Selanjutnya, apa yang terjadi dari orang-orang awam ketika dipertanyakan kepada mereka perihal murod (tujuan) yang mereka berتضحية sebab itu, yaitu dari seumpama jawaban mereka "هٰذِهِ أُضْحِيَّةً ini adalah hewan أُضْحِيَّةً" maka jadilah أُضْحِيَّةً gara-gara jawaban tersebut menjadi wajib dan haram kepada mereka memakan sebagian darinya. Dan tidak diterima penjelasan mereka "اَرَدْنَا التَّطَوُّعَ بِهَا kami bertujuan untuk tathawwu dengan hewan tersebut", menyelisihi pendapat sebagian ulama. Dan telah berkata Imam Asy-Syibromilsi : "tidak jauh dimaafkannya perihal itu dari orang-orang awam", dan perkataan Imam Asy-Syibromilsi itu mendekati, akan tetapi guru-guru kita mendhaifkannya. And than, adapun jawaban yang المخلص (murni, netral) dari masalah itu (ketika dipertanyakan kepada mereka perihal tujuan yang mereka berتضحية sebab itu) adalah perkataan orang yang ditanya :
نُرِيْدُ أَنْ نَذْبَحَهَا يَوْمَ الْعِيْدِ
kami berkehendak untuk menyembelihnya pada hari raya
Yes, tidak menjadi wajib sebab perkataan mudhahhi pada waktu menyembelihnya :
أَللّٰهُمَّ هٰذِهِ أُضْحِيَّتِيْ فَتَقَبَّلْ مِنِّي يَا كَرِيْمُ
Yaa Allah, ini adalah أُضْحِيَّةًku, maka terimalah dariku, Yaa Allah Al-Kariim.
atau seumpama perkataan tersebut. [Syaikhul Islam Ibrohim Al-Bajuri Jilid 2 Halaman 296 - Kitab Syafi'iyah]

Mafhum Penulis
Awalnya temuan dalam kitab Hasyiyah Al-Bajuri ini akan penulis tempatkan diawal, mengingat strategi inilah yang menurut penulis paling aman.

Syaikhul Islam Ibrohim Al-Bajuri merekomendasikannya suatu redaksi jawaban yang aman untuk dilisankan, yaitu dengan kalimat :
نُرِيْدُ أَنْ نَذْبَحَهَا يَوْمَ الْعِيْدِ
"kami berkehendak untuk menyembelihnya pada hari raya"
Pada redaksi kalimat ini keyword penetralisir dimaksud adalah kata "أَنْ نَذْبَحَهَا". Dengan kata lain, gunakan kata أَنْ نَذْبَحَهَا atau أَنْ أَذْبَحَهَا sebagai pengganti kata أَنْ نُضَحِّيَ atau أَنْ أُضَحِّيَ. Karena secara makna, kata "أَنْ نَذْبَحَهَا" ini lebih luas ruang lingkupnya daripada kata أَنْ نُضَحِّيَ sehingga binatang ternak yang jadi objek pembahasan (ذَبِيْحَة) menjadi tidak terta'yin karena ذبيحة termasuk juga didalamnya : ضَحِيَةٌ Dhahiyah هَدْيٌ Hadyu عَقِيْقَةٌ Aqiqah فَرَعٌ Fara عَتِيْرَةٌ Atirah رَجِيْبَةٌ Rajibah.  Sekalipun dalam rangkaian kalimatnya disebutkan juga waktu penyembelihannya yaitu يوم العيد hari idul adha.

Bagaimana dengan kata "قُرْبَانٌ Qurban" ? Menurut penelusuran penulis kata "قُرْبَانٌ Qurban" bahkan lebih luas cakupan maknanya daripada kata "ذَبِيْحَة Sembelihan" [Lihat Tafsir Al-Khazin Jilid 1 Hal 327] Akan tetapi tidak dipungkiri bahwa jika kata  "قُرْبَانٌ Qurban" ini ditarik ke wilayah ذبائح, maka dari sekian banyak jenis ذبيحة yang paling kuat علاقةnya dengan "قُرْبَانٌ Qurban" adalah ذبيحة أضحية [Lihat Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah Jilid 5 Hal 74] Jadi secara makna memang lebih umum tapi secara penggunaan lebih identik. 

Semoga bermanfaat, dan Selamat Hari Raya Idul Adha!

Sumber
Tafsir Al-Khazin Jilid 1 Hal 327 (Syaikh Alauddin Ali Al-Khazin), I'anah Ath-Thalibin Jilid 2 Halaman 331 (Syaikh Sayid Abu Bakar), Itsmad Al-Ainain fi Ba'dhi Ikhtilaf Asy-Syaikhain Hal 77 (Syaikh Ali Bashabrain), Ats-Tsimar Al-Yani'ah fi Ar-Riyadh Al-Badi'ah Hal 80 (Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi), Bughiyah Al-Mustarsyidin Halaman 257-258 (Syaikh Sayid Abdurrohman Ba'alawi), Hasyiyah Al-Bajuri ala Ibni Qasim Al-Ghazi Jilid 2 Halaman 296 (Syaikhul Islam Ibrohim Al-Bajuri), Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh Jilid 4 Hal 2707 (Dr.Syaikh Wahbah Az-Zuhaili), Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah Jilid 5 Hal 74 (Majmu'ah Al-Mu'allifin Kuwait)

ذَبِيْحَةٌ Sembelihan : قُرْبَانٌ Qurban ضَحِيَةٌ Dhahiyah هَدْيٌ Hadyu عَقِيْقَةٌ Aqiqah فَرَعٌ Fara عَتِيْرَةٌ Atirah رَجِيْبَةٌ Rajibah

Menelusuri pengertian ذَبِيْحَةٌ Sembelihan : قُرْبَانٌ Qurban ضَحِيَةٌ Dhahiyah هَدْيٌ Hadyu عَقِيْقَةٌ Aqiqah فَرَعٌ Fara عَتِيْرَةٌ Atirah رَجِيْبَةٌ Rajibah dari kitab ulama berbahasa arab

قُرْبَانٌ Qurban / Kurban

والقربان كل ما يتقرب به العبد إلى الله عز وجل من أعمال البر من نسك وصدقة وذبح وكل عمل صالح، ويدل على ذلك قوله صلّى الله عليه وسلّم الصوم جنة والصلاة قربان يعني أنها مما يتقرب بها إلى الله عز وجل
قُرْبَانٌ adalah perkara yang menjadi dekat dengannya seorang hamba kepada Allah Azza Wa Jalla, yaitu dari yang termasuk amal-amal kebaikan dari seumpama nusuk, shadaqah, sembelihan dan semua amal shalih. Menjadi dalil terhadap semua itu Sabda Rasulullah SAW : "Shaum adalah جُنَّةٌ dan Shalat adalah قُرْبَانٌ", yakni bahwasanya shalat adalah dari sebagian perkara yang menjadi dekat dengannya seorang hamba kepada Allah Azza Wa Jalla. [Lihat : Tafsir Khazin Jilid 1 Hal 327]

الْقُرْبَانُ: مَا يَتَقَرَّبُ بِهِ الْعَبْدُ إِلَى رَبِّهِ، سَوَاءٌ أَكَانَ مِنَ الذَّبَائِحِ أَمْ مِنْ غَيْرِهَا. وَالْعَلاَقَةُ الْعَامَّةُ بَيْنَ الأُْضْحِيَّةِ وَسَائِرِ الْقَرَابِينِ أَنَّهَا كُلُّهَا يُتَقَرَّبُ بِهَا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، فَإِنْ كَانَتِ الْقَرَابِينُ مِنَ الذَّبَائِحِ كَانَتْ عَلاَقَةُ الأُْضْحِيَّةِ بِهَا أَشَدَّ، لأَِنَّهَا يَجْمَعُهَا كَوْنُهَا ذَبَائِحَ يُتَقَرَّبُ بِهَا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ، فَالْقُرْبَانُ أَعَمُّ مِنَ الأُْضْحِيَّةِ
قُرْبَانٌ : Perkara yang menjadi dekat dengannya seorang hamba kepada Rabb-nya, sama saja apakah keadaan perkara tersebut dari berupa sembelihan-sembelihan atau dari selainnya. Hubungan yang umum antara أُضْحِيَّةٌ dan qurban-qurban selainnya adalah bahwasanya setiap أُضْحِيَّةٌ ditaqorrubkan dengannya kepada Allah Ta'ala. Maka jika keadaan qurban-qurbannya dari sembelihan-sembelihan maka keadaan hubungan أُضْحِيَّة dengannya lebih kuat karena sesungguhnya أُضْحِيَّةٌ mengumpulkan hubungan keadaannya adalah sembelihan-sembelihan yang ditaqorrubkan dengannya kepada Allah SWT. Maka قُرْبَانٌ lebih umum daripada أُضْحِيَّةٌ [Lihat : Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah Jilid 5 Hal 74]

ضَحِيَةٌ Dhahiyah أُضْحِيَّةٌ Udhhiyah / Udhiyah

فالضحية ما يذبح من النعم تقربا الى الله تعالى من يوم العيد الى أخر أيام التشريق
ضَحِيَةٌ adalah perkara yang disembelih dari yang termasuk binatang ternak dengan maksud taqorrub kepada الله تعالى waktu penyembelihannya mulai dari hari raya id sampai akhir hari-hari tasyriq. [Tsimar Al-Yani'ah fi Ar-Riyadh Al-Badi'ah Hal 79]

اﻷﺿﺤﻴﺔ ﺑﺘﺸﺪﻳﺪ اﻟﻴﺎء ﻫﻮ ﻣﺎ ﺫﺑﺢ ﻣﻦ اﻟﻨﻌﻢ ﺗﻘﺮﺑﺎ ﺇﻟﻰ اﻟﻠﻪ ﻳﻮﻡ اﻟﻌﻴﺪ ﻭﺃﻳﺎﻡ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ
أُضْحِيَّةٌ dengan ditasydid huruf ي adalah perkara yang disembelih dari yang termasuk binatang ternak dengan maksud taqorrub kepada Allah pada hari raya dan hari-hari tasyriq. (Lihat : Kifayah Al-Akhyar Jilid 2 Hal 235)

الأضحية بضم الهمزة في الأشهر وهي اسم لما يذبح من النعم يوم عيد النحر وأيام التشريق تقربا الى الله تعالى والأضحية سنة مؤكدة
أُضْحِيَّةٌ dengan didhamahkan أnya menurut pendapat yang lebih masyhur. أُضْحِيَّةٌ adalah nama bagi perkara yang disembelih dari yang termasuk binatang ternak pada hari raya nahr dan hari-hari tasyriq dengan maksud taqorrub kepada Allah Ta'ala. Dan hukum تَضْحِيَة adalah sunat mu'akkadah. (Lihat : Fath Al-Qarib Al-Mujib Hal 62)

قوله بضم الهمزة في الأشهر : وقد تكسر الهمزة في غير الأشهر والياء فيهما مخففة أو مشددة وجمعها حينئذ أضاحي بتشديد الياء وتخفيفها. ويقال ضحية بفتح الضاد وكسرها وجمعها ضحايا كعطية وعطايا ويقال أيضا أضحاة بفتح الهمزة وكسرها وجمعها أضحي بالتنوين كإرطاة وأرطى فهذه ثمان لغات
قوله وهي : أى الأضحية
وقوله اسم لما يذبح من النعم : أى التي هي الإبل والبقر والغنم فشرط الأضحية أن تكون من النعم التي هي هذه الثلاثة لقوله تعالى ولكل أمة جعلنا منسكا ليذكروا اسم الله على ما رزقهم من بهيمة الأنعام ولأن التضحية عبادة تتعلق بالحيوان فاختصت بالنعم وعن ابن عباس أنه يكفي اراقة الدم ولو من دجاج أو أوز كما قاله الميداني وكان شيخنا رحمه الله يأمر الفقير بتقليده ويقيس على الأضحية العقيقة ويقول لمن ولد له مولود عق بالديكة على مذهب ابن عباس
وقوله يوم عيد النحر : أى بعد طلوع شمسه ومضي قدر ركعتين وخطبتين خفيفتين كما سيأتي
وقوله وأيام التشريق : أى بليالها وان كان الذبح فيها مكروها وعبارة الشيخ الخطيب من يوم العيد الى آخير أيام التشريق فدخل في عبارته الليالي
وقوله تقربا الى الله تعالى : أى على وجه التقرب الى الله تعالى وخرج بذلك ما يذبحه الشخص للأكل أو الجزار للبيع
والحاصل أن القيود ثلاثة الأول كونها من النعم الثاني كونها في يوم العيد وأيام التشريق وليالها الثالث كونها تقربا الى الله تعالى
قوله والأضحية : أى بمعنى التضحية كما في الروضة لا بمعنى العين المضحى بها كما يوهمه كلام المصنف لأنها لا يصح الإخبار عنها بأنها سنة وانما يصح الإخبار بذلك عن التضحية التي هي فعل الفاعل ولذلك قال في المنهج التضحية سنة مؤكدة وفي بعض النسخ الأضحية بإسقاط الواو التي للإستئناف ويأتي بها المصنف كثيرا
Redaksi Mushannif "بضم الهمزة في الأشهر" : Dan terkadang dikasrohkan أ pada selain pendapat yang lebih masyhur, dan huruf ي pada keduanya adalah ditakhfif atau ditasydid, dan bentuk jama'nya ketika demikian adalah أُضَاحِيٌّ dengan mentasydid ي atau mentakhfifnya. Dan dikatakan ضَحِيَةٌ dengan fatah huruf ض dan kasrohnya, bentuk jama'nya adalah ضَحَايَا seperti lafadz عَطِيَةٌ dan عَطَايَا. Dan dikatakan juga أَضْحَاةٌ dengan fatah huruf أ dan kasrohnya, bentuk jama'nya adalah أَضْحًى dengan tanwin seperti lafadz أَرْطَاةٍ dan أَرْطًى. maka ini adalah 8 lughat. 
Redaksi Mushannif "وهي" : maksudnya أُضْحِيَّةٌ
Redaksi Mushannif "اسم لما يذبح من النعم" : maksudnya yang dia adalah seekor unta seekor sapi seekor domba, maka salah satu syarat أُضْحِيَّةٌ adalah statusnya dari yang termasuk binatang ternak yang dia adalah yang 3 ini berdasarkan : 
  • Firman Allah Ta'ala
ولكل أمة جعلنا منسكا ليذكروا اسم الله على ما رزقهم من بهيمة الأنعام

 "dan bagi setiap umat (yang telah lalu sebelum kalian) telah kami jadikan sembelihan qurban supaya mereka menyebutkan asma الله terhadap perkara yang الله telah memberikan rizqi kepada mereka dari binatang ternak (ketika menyembelihnya) ..................... (Lihat : QS.Al-Hajj Ayat 34 - Tafsir Al-Jalalain Jilid 2 Hal 277)

  • Bahwasanya تَضْحِيَّةٌ adalah merupakan suatu ibadah yang berkaitan dengan hayawan. Maka diikhtishash dengan binatang ternak seperti zakat binatang ternak, maka oleh karena bahwasanya zakat binatang ternak merupakan suatu ibadah yang berkaitan dengan hayawan, maka diikhtishash zakat binatang ternak dengan binatang ternak.
Dan dari Imam Ibnu Abbas sesungguhnya mencukupkan mengalirkan darah walaupun dari seekor ayam atau itik, sebagaimana pendapat yang telah mengatakannya Syaikh Al-Maidani. Dan telah ada momentum Syaikh Al-Maidani Rahimahullah memerintahkan seorang faqir untuk mentaqlidi Imam Ibnu Abbas, dan dia mengqiyaskan عَقِيْقَةٌ terhadap أُضْحِيَّةٌ dan berkata kepada orang yang dilahirkan baginya seorang anak "beraqiqahlah dengan ayam jantan taqlid terhadap Imam Ibnu Abbas!".
Redaksi Mushannif "يوم عيد النحر" : maksudnya setelah terbit matahari hari raya nahr dan berlalu seukuran durasi shalat 2 rokaat yang ditakhfif dan 2 khutbah yang ditakhfif, sebagaimana penjelasan yang nanti akan dijelaskan.
Redaksi Mushannif "وأيام التشريق" : maksudnya dengan malam-malam hari-hari tasyriqnya, walaupun status hukum menyembelih pada malam-malamnya adalah makruh. Redaksi Syaikh Al-Khatib Syarbaini adalah "dari mulai hari raya sampai akhir hari-hari tasyriq", maka telah masuk malam-malam dalam redaksinya.
Redaksi Mushannif "تقربا الى الله تعالى" : maksudnya atas dasar taqorrub kepada Allah Ta'ala. Dan keluar dengannya perkara yang seseorang menyembelihnya karena untuk makan atau jagal karena untuk penjualan. 
Alhasil, bahwasanya qayid أُضْحِيَّةٌ ada 3 :
  1. Status أُضْحِيَّةٌnya adalah dari yang termasuk binatang ternak.
  2. Status تَضْحِيَّةٌnya adalah pada hari raya dan hari-hari tasyriq dan malam-malamnya.
  3. Status تَضْحِيَّةٌnya adalah dalam rangka taqorrub kepada Allah Ta'ala
Redaksi Mushannif "وَالْأُضْحِيَةُ" : maksudnya dengan makna تَضْحِيَّةٌ seperti redaksi yang terdapat dalam kitab Ar-Raudhah Ath-Thalibin tidak dengan makna perkara المضحى بها seperti perkara yang diasumsikan perkataan mushannif, karena sesungguhnya tidak sah pemberitahuan tentang أُضْحِيَّةٌ bahwasanya المضحى بها hukumnya sunat dan pastinya sah pemberitahuan perihal bahwasanya hukumnya sunat dari tentang تَضْحِيَّةٌ yang itu merupakan pekerjaan seorang pekerja, dan karena itulah Imam Abi Zakaria Yahya An-Nawawi telah berkata dalam kitab Minhaj Ath-Thalibin التضحية سنة مؤكدة dan pada sebagian salinan matan الأضحية dengan menggugurkan و yang fungsinya untuk استئناف. Dan mushannif banyak mendatangkannya dengan redaksi itu. (Lihat : Hasyiyah Al-Bajuri Jilid 2 Hal 295-296)

قوله تضحية : نائب فاعل يسن وعبر بالتضحية التي هي فعل الفاعل ولم يعبر كغيره بالأضحية التي هي اسم لما يتقرب به من النعم لأن الأحكام انما تتعلق بالأفعال لا بالأعيان
Redaksi Mushannif "تَضْحِيَّةٌ" : na'ibul fa'il dari kata يسن. Mushannif/Syaikh Zainuddin Al-Malibari meredaksikannya dengan تَضْحِيَّةٌ yang dia merupakan pekerjaan seorang pekerja dan tidak meredaksikan seperti selain mushannif dengan الأضحية yang dia merupakan nama bagi perkara yang dijadikan sarana taqorrub dari yang termasuk binatang ternak karena sesungguhnya hukum-hukum tentunya berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan bukan dengan benda-benda. [Lihat : I'anah Ath-Thalibin Jilid 2 Hal 331]

هَدْيٌ Hadyu هَدْيًا Hadyan

الْهَدْيُ: مَا يُذَكَّى مِنَ الأَْنْعَامِ فِي الْحَرَمِ فِي أَيَّامِ النَّحْرِ لِتَمَتُّعٍ أَوْ قِرَانٍ، أَوْ تَرْكِ وَاجِبٍ مِنْ وَاجِبَاتِ النُّسُكِ، أَوْ فِعْل مَحْظُورٍ مِنْ مَحْظُورَاتِ النُّسُكِ، حَجًّا كَانَ أَوْ عُمْرَةً، أَوْ لِمَحْضِ التَّقَرُّبِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى تَطَوُّعًا. وَيَشْتَرِكُ الْهَدْيُ مَعَ الأُْضْحِيَّةِ فِي أَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا ذَبِيحَةٌ، وَمِنَ الأَْنْعَامِ، وَتُذْبَحُ فِي أَيَّامِ النَّحْرِ، وَيُقْصَدُ بِهَا التَّقَرُّبُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى. وَيَفْتَرِقُ الْهَدْيُ ذُو السَّبَبِ عَنِ الأُْضْحِيَّةِ افْتِرَاقًا ظَاهِرًا، فَإِنَّ الأُْضْحِيَّةَ لاَ تَقَعُ عَنْ تَمَتُّعٍ وَلاَ قِرَانٍ، وَلاَ تَكُونُ كَفَّارَةً لِفِعْلٍ مَحْظُورٍ أَوْ تَرْكِ وَاجِبٍ. وَأَمَّا الْهَدْيُ الَّذِي قُصِدَ بِهِ التَّقَرُّبُ الْمَحْضُ فَإِنَّهُ
يَشْتَبِهُ بِالأُْضْحِيَّةِ اشْتِبَاهًا عَظِيمًا، لاَ سِيَّمَا أُضْحِيَّةُ الْمُقِيمِينَ بِمِنًى مِنْ أَهْلِهَا وَمِنَ الْحُجَّاجِ، فَإِنَّهَا ذَبِيحَةٌ مِنَ الأَْنْعَامِ ذُبِحَتْ فِي الْحَرَمِ فِي أَيَّامِ النَّحْرِ تَقَرُّبًا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، وَكُل هَذِهِ الصِّفَاتِ صِفَاتٌ لِلْهَدْيِ فَلاَ يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا إِلاَّ بِالنِّيَّةِ، فَمَا نُوِيَ بِهِ الْهَدْيُ كَانَ هَدْيًا، وَمَا نُوِيَ بِهِ التَّضْحِيَةُ كَانَ أُضْحِيَّةً
هدي : perkara yang disembelih dari yang termasuk binatang ternak di tanah Haram pada hari nahr bagi haji tamattu atau qiron, atau sebab meninggalkan salah satu wajib dari wajibat nusuk, atau sebab mengerjakan salah satu mahdzur dari mahdzurat nusuk, baik nusuk haji maupun nusuk umroh, atau sebab murni taqorrub kepada Allah sebagai tathawwu'.
Bersekutu هدي beserta أُضْحِيَّةً dalam bahwasanya masing-masing dari keduanya adalah :
  • sembelihan
  • dari yang termasuk binatang ternak
  • disembelih pada hari nahr
  • dimaksudkan dengannya taqorrub kepada Allah
الْهَدْيُ ذُو السَّبَبِ berbeda dari أُضْحِيَّةُ dengan perbedaan yang jelas, karena sesungguhnya أُضْحِيَّةُ :
  • tidak terjadi dari sebab haji tamattu' dan tidak terjadi dari sebab haji qiron.
  • statusnya bukan sebagai kafarot dari sebab mengerjakan mahdzur haji atau meninggalkan wajib haji.
Adapun الْهَدْيُ الَّذِي قُصِدَ بِهِ التَّقَرُّبُ الْمَحْضُ maka sesungguhnya هدي tersebut menyerupai terhadap أُضْحِيَّةُ dengan penyerupaan yang besar, terutama terhadap أُضْحِيَّةُ orang-orang yang mukim di mina baik mukimin yang berasal dari penduduk asli mina maupun mukimin yang berasal dari orang-orang yang sedang melakukan ibadah haji. karena sesungguhnya أُضْحِيَّةُ orang-orang yang mukim di mina adalah merupakan sembelihan dari yang termasuk binatang ternak pada hari nahr dengan maksud taqorrub kepada Allah Ta'ala. Dan semua sifat-sifat ini merupakan sifat-sifat الْهَدْيُ maka tidak dibedakan antara keduanya kecuali dengan niatnya, maka :
  • ذَبِيحَةٌ مِنَ الأَْنْعَامِ ذُبِحَتْ فِي الْحَرَمِ فِي أَيَّامِ النَّحْرِ تَقَرُّبًا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى yang diniatkan dengannya الْهَدْيُ, maka statusnya adalah الْهَدْيُ الَّذِي قُصِدَ بِهِ التَّقَرُّبُ الْمَحْضُ 
  • ذَبِيحَةٌ مِنَ الأَْنْعَامِ ذُبِحَتْ فِي الْحَرَمِ فِي أَيَّامِ النَّحْرِ تَقَرُّبًا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى yang diniatkan dengannya أُضْحِيَّةُ, maka statusnya adalah أُضْحِيَّةُ
[Lihat : Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah Jilid 5 Hal 74-75]

عَقِيْقَةٌ Aqiqah / Aqiqoh / Akikah

العقيقة في اللغة اسم للشعر الذي على رأس المولود وهي في الشرع اسم لما يذبح في اليوم السابع يوم حلق رأسه تسمية لها باسم ما يقارنها
عَقِيْقَةٌ menurut bahasa adalah nama bagi rambut yang ada di atas kepala al-maulud (anak yang dilahirkan). عَقِيْقَةٌ menurut syara adalah nama bagi perkara yang disembelih pada hari ketujuh yaitu hari mencukur rambut maulud ini merupakan suatu penamaan bagi ما يذبح dengan perkara yang menyertainya. [Lihat : Kifayah Al-Akhyar Jilid 2 Hal 242]

وهي في اللغة اسم للشعر الذي على رأس المولود وفي الشرع اسم لما يذبح عند حلق شعره لأن المذبح يقطع والشعر يحلق إذ ذاك
عَقِيْقَةٌ menurut bahasa adalah suatu nama bagi rambut yang tumbuh di atas kepala bayi yang baru dilahirkan. عَقِيْقَةٌ menurut syara adalah suatu nama bagi perkara yang disembelih ketika mencukur rambutnya karena sesungguhnya perkara yang disembelih dipotong dan rambut dicukur, ketika itu. [Tsimar Al-Yani'ah Fi Ar-Riyadh Al-Badi'ah Hal 82]

وهي لغة شعر رأس المولود وشرعًا ما يذبح عند حلق شعر رأسه
عَقِيْقَةٌ menurut bahasa adalah rambut kepala al-maulud. عَقِيْقَةٌ menurut syara adalah perkara yang disembelih ketika mencukur rambut kepala al-maulud. [Lihat : Minhaj Al-Qawim Hal 310]

فَصْلٌ فِي الْعَقِيقَةِ وَهِيَ لُغَةً شَعْرُ رَأْسِ الْمَوْلُودِ حِينَ وِلَادَتِهِ وَشَرْعًا مَا يُذْبَحُ عِنْدَ حَلْقِ شَعْرِهِ تَسْمِيَةً لَهَا بِاسْمِ مُقَارِنِهَا كَمَا هُوَ عَادَتُهُمْ فِي مِثْلِ ذَلِكَ
Fashl tentang عَقِيْقَةٌ - عَقِيْقَةٌ menurut bahasa adalah rambut kepala al-maulud (anak yang dilahirkan) sewaktu dilahirkannya. عَقِيْقَةٌ menurut syara adalah perkara yang disembelih ketika mencukur rambut al-maulud. ini merupakan suatu penamaan bagi ما يذبح dengan nama perkara yang menyertainya sebagaimana itu adalah kebiasaan mereka pada seumpama itu. [Lihat : Tuhfah Al-Muhtaj Jilid 9 Hal 369]

قَوْلُهُ فِي الْعَقِيقَةِ : مِنْ عَقَّ يَعِقُّ بِكَسْرِ الْعَيْنِ وَضَمِّهَا مُغْنِي وَشَوْبَرِيٌّ
قَوْلُهُ وَهِيَ لُغَةً إلَى قَوْلِهِ وَظَاهِرُ كَلَامِ الْمَتْنِ فِي النِّهَايَةِ إلَّا قَوْلَهُ وَأَنْكَرَ إلَى وَالْأَصْلُ وَقَوْلَهُ وَاسْتَبْعَدَهُ إلَى فَاللَّائِقُ وَقَوْلَهُ أَيْ إلَى بَلْ وَكَذَا فِي الْمُغْنِي إلَّا قَوْلَهُ فَاللَّائِقُ إلَى نَقَلَهُ 
قَوْلُهُ عِنْدَ حَلْقِ رَأْسِهِ : أَيْ عِنْدَ طَلَبِ حَلْقِ شَعْرِهِ وَإِنْ لَمْ يُحْلَقْ اهـ ع ش قَوْلُهُ تَسْمِيَةً إلَخْ : عِلَّةٌ لِمُقَدَّرٍ أَيْ وَإِنَّمَا سُمِيَ مَا يُذْبَحُ إلَخْ بِذَلِكَ تَسْمِيَةً إلَخْ قَوْلُهُ بِاسْمِ مُقَارِنِهَا : أَيْ مُتَعَلِّقُ مُقَارَنِهَا إذْ ذَبْحُ الْعَقِيقَةِ إنَّمَا يُقَارِنُ الْحَلْقَ الْمُتَعَلِّقَ بِالشَّعْرِ لَا بِنَفْسِ الشَّعْرِ الْمُسَمَّى بِالْعَقِيقَةِ لُغَةً 
قَوْلُهُ فِي مِثْلِ ذَلِكَ : أَيْ فِي النَّقْلِ مِنْ الْمَعْنَى اللُّغَوِيِّ إلَى الشَّرْعِيِّ
Redaksi Mushonnif "فِي الْعَقِيقَةِ" : dicetak dari عَقَّ يَعُِقُّ dengan kasroh ع dan dhamahnya, Mughni Al-Muhtaj dan Imam Asy-Syaubari.
Redaksi Mushannif "وَهِيَ لُغَةً" : sampai redaksi وَظَاهِرُ كَلَامِ الْمَتْنِ pada kitab Nihayah Al-Muhtaj, kecuali redaksinya وَأَنْكَرَ sampai وَالْأَصْلُ dan redaksinya وَاسْتَبْعَدَهُ sampai فَاللَّائِقُ dan redaksinya أَيْ sampai بَلْ demikian juga dalam kitab Mughni Al-Muhtaj kecuali redaksinya فَاللَّائِقُ sampai نَقَلَهُ
Redaksi Mushannif "عِنْدَ حَلْقِ رَأْسِهِ" : maksudnya ketika mengikhtiyarkan pencukuran rambutnya sekalipun tidak dicukuri rambutnya, selesai penjelasan Imam Ali Syibromilsi.
Redaksi Mushannif "تَسْمِيَةً إلَخْ" : sebuah illat yang diperkirakan. maksudnya adalah tentunya dinamai ما يذبح الخ dengan nama tersebut adalah تَسْمِيَةً الخ
Redaksi Mushannif "بِاسْمِ مُقَارِنِهَا" : maksudnya berkaitan dengan perkara yang menyertainya, karena sembelihan عَقِيْقَةٌ tentunya adalah yang mengiringi pencukuran yang berkaitan dengan rambut tidak terhadap sejatinya rambut yang dinamai dengan عَقِيْقَةٌ secara bahasa.
Redaksi Mushannif "فِي مِثْلِ ذَلِكَ" : maksudnya dalam hal pemindahan dari makna secara bahasa kepada makna secara syara.
[Lihat : Hasyiyah Asy-Syirwani Ala Tuhfah Al-Muhtaj Jilid 9 Hal 369]

والعقيقة: الذبيحة التي تذبح عن المولود، يوم أسبوعه. والأصل في معناها اللغوي: أنها الشعر الذي على المولود، ثم أسمت العرب الذبيحة عند حلق شعر المولود عقيقة، على عادتهم في تسمية الشيء باسم سببه، أو ما يجاوره
عَقِيْقَةٌ : sembelihan yang disembelih dari sebab al-maulud, pada hari ketujuhnya. Asal-muasal pada makna عَقِيْقَةٌ secara bahasa : sesungguhnya عَقِيْقَةٌ adalah rambut yang berada di atas kepala al-maulud, kemudian orang arab menamakan sembelihan ketika mencukur rambut almaulud dengan nama "عَقِيْقَةٌ" berdasarkan kebiasaan mereka dalam hal penamaan sesuatu menggunakan nama penyebabnya atau perkara yang menyertainya. [Lihat : Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu Jilid 4 Hal 2745]

الْعَقِيقَةُ مَا يُذَكَّى مِنَ النَّعَمِ شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ، مِنْ وِلاَدَةِ مَوْلُودٍ، ذَكَرًا كَانَ أَوْ أُنْثَى، وَلاَ شَكَّ أَنَّهَا تُخَالِفُ الأُْضْحِيَّةَ الَّتِي هِيَ شُكْرٌ عَلَى نِعْمَةِ الْحَيَاةِ، لاَ عَلَى الإِْنْعَامِ بِالْمَوْلُودِ، فَلَوْ وُلِدَ لإِِنْسَانٍ مَوْلُودٌ فِي عِيدِ الأَْضْحَى فَذَبَحَ عَنْهُ شُكْرًا عَلَى إِنْعَامِ اللَّهِ بِوِلاَدَتِهِ كَانَتِ الذَّبِيحَةُ عَقِيقَةً. وَإِنْ ذَبَحَ عَنْهُ شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى عَلَى إِنْعَامِهِ عَلَى الْمَوْلُودِ نَفْسِهِ بِالْوُجُودِ وَالْحَيَاةِ فِي هَذَا الْوَقْتِ الْخَاصِّ، كَانَتِ الذَّبِيحَةُ أُضْحِيَّةً
الْعَقِيقَةُ adalah perkara yang disembelih dari yang termasuk binatang ternak dengan maksud syukuran kepada Allah Ta'ala atas perkara yang Allah telah memberikan nikmat dengan perkara tersebut : dari kelahiran al-maulud baik laki maupun perempuan. Dan tidak diragukan bahwasanya الْعَقِيقَةُ membedai الأُْضْحِيَّةَ yang merupakan syukuran atas nikmat hidup bukan atas pemberian nikmat dengan berupa al-maulud. Maka : 
  • jika dilahirkan al-maulud bagi seorang insan pada hari idul adha kemudian dia menyembelih dari sebab al-maulud tersebut sebagai syukuran atas pemberian nikmat Allah dengan kelahirannya maka status sembelihannya adalah sembelihan الْعَقِيقَةُ
  • jika dia menyembelih dari sebab maulud tersebut sebagai syukuran kepada Allah Ta'ala atas nikmat Allah terhadap pribadi anak yang dilahirkan tersebut dengan keberadaannya (nikmat ايجاد) dan kehidupannya (nikmat حياة) pada saat yang special ini maka status sembelihannya adalah sembelihan أُضْحِيَّةً
[Lihat : Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah Jilid 5 Hal 75]

فرع Fara' / Faro' عتيرة Atirah / Atiroh رجيبة Rajibah / Rojibah

قال في التحفة العتيرة بفتح المهملة وكسر الفوقية وهي ما يذبح في العشر الأول من رجب والفرع بفتح الفاء المهملة والراء وبالعين وهو ما يذبح أول نتاج البهيمة رجاء بركتها مندوبتان لأن القصد التقرب الى الله تعالى بالتصدق بلحمها فلا يثبت لهما أحكام الأضحية كما هو ظاهر انتهى وأفتى أحمد الشهيد بافضل بأن الذبح أول رجب سنة مأثورة ونص على ندبها الشافعي وغيره ووقت ذبحها العشر الأول وتسمى الرجبية والعتيرة انتهى
Telah berkata Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab At-Tuhfah Al-Muhtaj : "العتيرة dengan fatah huruf al-muhmalah/ع dan kasroh huruf al-fauqiyah/ت adalah perkara yang disembelih pada 10 Awal dari bulan rojab. Adapun فرع dengan ف al-muhmalah dan ر dan dengan ع adalah perkara yang disembelih pada permulaan kelahiran anak binatang ternak dengan harapan kebarokahannya. Hukum keduanya adalah mandub/sunat, karena sesungguhnya yang dimaksud adalah taqorrub kepada Allah Ta'ala dengan menshadaqohkan terhadap dagingnya. Maka tidak tetap bagi keduanya hukum-hukum أُضْحِيَّةٌ sebagaimana itu dzohir penjelasannya". Dan telah berfatwa Syaikh Ahmad Syahid Bafadhal terhadap "bahwasanya penyembelihan pada awal bulan rojab adalah sunnah ma'tsuroh dan telah me-nash terhadap kemandubannya Imam Syafi'i dan yang lainnya. Waktu penyembelihannya adalah pada 10 awal, dan dinamakan الرجبية dan العتيرة". (Lihat : Bughiyah Al-Mustarsyidin Hal 258]

الْفَرْعُ بِفَتْحِ الْفَاءِ وَالرَّاءِ، وَيُقَال لَهُ الْفَرَعَةُ: أَوَّل نِتَاجِ الْبَهِيمَةِ، كَانَ أَهْل الْجَاهِلِيَّةِ يَذْبَحُونَهُ لِطَوَاغِيتِهِمْ، رَجَاءَ الْبَرَكَةِ فِي الأُْمِّ وَكَثْرَةِ نَسْلِهَا، ثُمَّ صَارَ الْمُسْلِمُونَ يَذْبَحُونَهُ لِلَّهِ تَعَالَى. وَالْعَتِيرَةُ بِفَتْحِ الْعَيْنِ: ذَبِيحَةٌ كَانَ أَهْل الْجَاهِلِيَّةِ يَذْبَحُونَهَا فِي الْعَشْرِ الأُْوَل مِنْ رَجَبٍ لآِلِهَتِهِمْ وَيُسَمُّونَهَا الْعِتْرَ (بِكَسْرٍ فَسُكُونٍ) وَالرَّجِيبَةُ أَيْضًا، ثُمَّ صَارَ الْمُسْلِمُونَ يَذْبَحُونَهَا لِلَّهِ تَعَالَى مِنْ غَيْرِ وُجُوبٍ وَلاَ تَقَيُّدٍ بِزَمَنٍ. وَعَلاَقَةُ الأُْضْحِيَّةِ بِهِمَا أَنَّهُمَا يَشْتَرِكَانِ مَعَهَا فِي أَنَّ الْجَمِيعَ ذَبَائِحُ يُتَقَرَّبُ بِهَا إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَل، وَالْفَرْقُ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُمَا ظَاهِرٌ. فَإِنَّ الْفَرَعَ يَقْصِدُ بِهِ شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى عَلَى أَوَّل نِتَاجٍ تُنْتِجُهُ النَّاقَةُ وَغَيْرُهَا وَرَجَاءَ الْبَرَكَةِ فِيهَا، وَالْعَتِيرَةُ يَقْصِدُ بِهَا شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى عَلَى نِعْمَةِ الْحَيَاةِ إِلَى وَقْتِ ذَبْحِهَا. وَالأُْضْحِيَّةُ يَقْصِدُ بِهَا شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى عَلَى نِعْمَةِ الْحَيَاةِ إِلَى حُلُول الأَْيَّامِ الْفَاضِلَةِ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ الْحَرَامِ
الْفَرْعُ dengan fatah ف dan  ر , dan dikatakan الْفَرَعَةُ adalah permulaan peranakan binatang ternak. Telah ada masyarakat jahiliyah mereka menyembelihnya bagi thagut-thagut mereka dengan harapan mendapat barokah pada sang induk dan banyak keturunannya, kemudian kaum muslimin jadi menyembelihnya karena الله تعالى
الْعَتِيرَةُ dengan fatah ع adalah sembelihan yang telah ada jahiliyah menyembelihnya pada sepuluh awal dari bulan rojab bagi tuhan-tuhan mereka dan mereka menamakannya الْعِتْرَ dengan kasroh kemudian sukun dan juga الرَّجِيبَةُ, kemudian muslimin jadi menyembelihnya karena الله تعالى tanpa hukum wajib dan tanpa qayid waktu. 
Hubungan الأُْضْحِيَّةِ dengan الْفَرْعُ dan الْعَتِيرَةُ adalah bahwasanya keduanya bersekutu beserta الأُْضْحِيَّةِ dalam hal bahwasanya ketiganya merupakan sembelihan-sembelihan yang dijadikan alat taqorrub kepada Allah 'Azza Wa Jalla.
Perbedaan antara الأُْضْحِيَّةِ dengan الْفَرْعُ dan الْعَتِيرَةُ dzahir : 
  • karena bahwasanya الْفَرْعُ dimaksudkan dengannya syukuran kepada Allah atas permulaan peranakan yang telah menganakannya seekor unta dan yang lainnya dan berharap barokah pada الْفَرْعُ. 
  • الْعَتِيرَةُ dimaksudkan dengannya syukuran kepada Allah Ta'ala atas nikmat hidup sampai waktu menyembelihnya.
  • الأُْضْحِيَّةِ dimaksudkan dengannya syukuran kepada Allah Ta'ala atas nikmat hidup sampai datangnya hari yang memiliki keutamaan dari dzulhijjah al-harom.
[Lihat : Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah Jilid 5 Hal 75]