BAITUSSALAM: Istiadzah
Tampilkan postingan dengan label Istiadzah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Istiadzah. Tampilkan semua postingan

4 Cara Membaca Isti'adzah + Basmalah + Awal Surat

Berikut ini 4 Cara Membaca Isti'adzah + Basmalah + Awal Surat yang benar sebagaimana dijelaskan oleh para ulama ahli ilmu tajwid, antara lain dalam kitab Hidayah al-Mustafid :
hukum-membaca-istiadzah-basmalah
س : اِذَا اَتَى الْقَارِئُ بِالْإِسْتِعَاذَةِ وَالْبَسْمَلَةِ وَالسُّوْرَةِ فَكَمْ وَجْهًا فِيْهَا؟
ج : فِيهَا اَرْبَعَةُ اَوْجُهٍ قَطْعُ الْجَمْعِ وَوَصْلُ الْبَسْمَلَةِ بِالسُّوْرَةِ فَقَطْ وَوَصْلُ الْإِسْتِعَاذَةِ وَالْبَسْمَلَةِ فَقَطْ وَوَصْلُ الْجَمْعِ
  1. قَطْعُ الْجَمْعِ (memutuskan semuanya) : jika anda menggunakan cara ini maka anda jadi mewaqofkan (berhenti dan mengambil nafas baru) setelah membaca isti'adzah, kemudian memulai bacaan basmalah dengan bermodalkan nafas baru serta mewaqofkannya lagi, kemudian mulai membaca awal surat Al-Kahfi dengan bermodalkan nafas baru. 
  2. وَصْلُ الْبَسْمَلَةِ بِالسُّوْرَةِ فَقَطْ (mewashalkan basmalah terhadap surat saja) : Jika anda menggunakan cara ini, maka anda membaca isti'adzah serta mewaqofkannya, kemudian anda mulai membaca basmalah bermodalkan nafas baru serta mewashalkannya dengan tidak mensukunkan harkat akhir lafadz الرَّحِيْمِ serta menyambungkan pengucapannya terhadap huruf awal surat Al-Kahfi yaitu ال lafadz الحمد kemudian melanjutkan membaca awal surat Al-Kahfi tersebut
  3. وَصْلُ الإِسْتِعَاذَةِ وَالْبَسْمَلَةِ فَقَطْ (mewashalkan isti'adzah + basmalah saja) : Jika menggunakan cara ini,  anda jadi menyambungkan bacaan isti'adzah terhadap bacaan basmalah tanpa mensukunkan lafadz الرَّجِيْمِ dan langsung dilanjutkan dengan pengucapan huruf ب lafadz بِسْمِ kemudian membaca basmalah dan mensukunkan huruf م lafadz الرَّحِيْمِ kemudian berhenti dan mengambil nafas baru sebelum membaca awal surat Al-Kahfi
  4. وَصْلُ الْجَمْعِ (mewashalkan semuanya) : Jika melakukan cara ini, maka dengan satu kali pengambilan nafas anda jadi membaca isti'adzah + basmalah + awal surat Al-Kahfi tanpa berhenti terlebih dahulu.
Kita bisa menggunakan cara yang mana saja, karena 4 cara ini diperbolehkan. Yang paling penting adalah menyesuaikan dengan situasi.

Khusus dalam proses pengajaran membaca Al-Qur'an untuk pemula (seperti di : RA, TKA dan TPA) biasanya yang pertama kali diterapkan adalah cara nomor 1 yaitu قَطْعُ الْجَمْعِ karena umumnya guru mempertimbangkan nafas peserta didik dengan memprioritaskan kebenaran bacaan terlebih dahulu sekalipun dalam kondisi terbata-bata/putus-putus. Kemudian cara nomor 2 --> cara nomor 3 --> cara nomor 4.

Kewajiban mengajarkan membaca Al-Qur'an sesuai dengan kaidah ilmu tajwid memang menjadi salah satu tanggungjawab guru di sekolah, tapi penting juga dibantu penerapannya dengan pembiasaan membaca bersama orang tua di rumah dengan pola tajwid seperti itu. 

Sumber :

Abu Rimah, Syaikh Muhammad al-Mahmud. Hidayah al-Mustafidz fi Ahkam at-Tajwid. Hal 5

3 Lafadz Isti'adzah Menurut Para Ulama Mujtahid Muthlaq

Ada 3 lafadz isti'adzah yang biasa dipergunakan atau dilafalkan oleh umat islam. Hal itu merujuk pada pendapat para ulama mujtahid muthlaq yang sangat ahli dan banyak diikuti.

Lafadz ke 1

أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Lafadz ini merupakan lafadz isti'adzah yang paling populer dan dipilih oleh Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi'i. Landasannya adalah Q.S. an-Nahl Ayat 98
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Lafadz ke 2

أَعُوْذُ بِاللّٰهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa lafadz yang inilah lafadz isti'adzah yang lebih utama. Beliau berpegangan pada Q.S. an-Nahl Ayat 98 tadi dan Q.S. Fushshilat Ayat 36

 وَاِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذ بِاللّٰهِ إنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Ayat lain yang mirip, Q.S al-A'raf Ayat 200

 وَاِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ إنَّهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Lafadz ke 3

أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ إنَّ اللّٰهَ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Imam Sufyan ats-Tsauri dan Imam al-Auzai berpendapat lafadz ini merupakan lafadz isti'adzah yang paling utama.

(Lihat : Hasyiyah al-Alamah ash-Shawi ala Tafsir al-Jalalain Juz 1 Hal 5)

3-Lafadz-Isti'adzah-Menurut-Para-Ulama-Mujtahid-Muthlaq

Khusus untuk lafadz yang ke-3, sangat jarang dipergunakan. Karena sekalipun Imam Supyan ats-Tsauri dan Imam al-Auza'i juga termasuk mujtahid muthlaq, menurut para ulama madzhabnya bukan madzhab yang sah ditaqlidi umat islam secara berkelanjutan. Bukan karena pemahaman mereka dianggap keliru, melainkan karena kurangnya ulama yang menjadi penjelas dan penerus eksistensi madzhabnya sehingga berpotensi tidak terjamin dari tahrif dan tabdil (Lihat : Bughiyah Al-Mustarsyidin Hal 8 & Majmu'ah Sab'ah Kutubin Mufidah Hal 59)

Nah, itu pula lah alasan para Ulama & Asatidz pengikut Madzhab Syafi'i biasa mengajarkan kepada kita untuk beristi'adzah dengan :

أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Karena lafadz ini yang menjadi pilihan Imam Syafi'i beserta ashabnya, dalam rangka iltizam & istiqomah dalam bermadzhab.

Wallaahu A'lamu bi ash-Shawwaab


Sumber :

Syaikh Ahmad ash-Shawi. Hasyiyah al-'Alamah ash-Shawi ala Tafsir al-Jalalain Juz 1 Hal 5

Syaikh Sayid Alawi as-Saqafi. Majmu'ah Sab'ah Kutubin Mufidah Hal 59

Syaikh Sayid Abdurrahman Ba'alawi al-Hadhrami. Bughiyah al-Mustarsyidin Hal 8

Hikmah Membaca Ta'udz

hikmah-membaca-taudz
فحكمة الإستعاذة تطهير القلب من كل شيئ يشغل عن الله تعالى فإن في التعوذ بالله إقرارا بالعجز والضعف واعترافا بقدرة الباري وأنه الغنى القادر على دفع المضرات وأن الشياطين عدو مبين

Hikmah membaca ta'udz adalah mensucikan hati dari segala sesuatu yang menyibukan sehingga menjauhkan diri dari Allah Ta'ala, karena di dalam berta'awwudznya seorang hamba kepada Allah terdapat :

  • ikrar akan ketidakkuasaan dan kelemahan hamba
  • pengakuan tentang bahwasanya Allah bersifat qudrat
  • pengakuan bahwasanya Allah adalah Dzat yang maha tidak membutuhkan makhluk (sifat qiyamuhu binafsihi)
  • pengakuan bahwasanya Allah maha kuasa untuk menolak mudharat
  • pengakuan bahwa sesungguhnya syaithan adalah musuh yang nyata.
[Syaikh Ahmad Ash-Shawi, Hasyiyah Ash-Shawi Ala Tafsir Al-Jalalain Jilid 1 Halaman 5 - Diterjemahkan oleh : Cucu Anwar Mubarok]