Syarat Wajib Udhiyah (Hanafiyah) - Syarat Sunat (Malikiyah Syafi'iyah Hanabilah) - BAITUSSALAM

Minggu, 12 Juni 2022

Syarat Wajib Udhiyah (Hanafiyah) - Syarat Sunat (Malikiyah Syafi'iyah Hanabilah)

Syarat Wajib Udhiyah (Hanafiyah) - Syarat Sunat (Malikiyah Syafi'iyah Hanabilah) yang akan dibahas ini berkaitan dengan pendapat keempat madzhab perihal hukum asalnya. 

  • Hanafiyah berpendapat bahwa hukum asal udhhiyah adalah wajib
  • Malikiyah berpendapat bahwa hukum asal udhhiyah adalah sunat
  • Syafi'iyah berpendapat bahwa hukum asal udhhiyah adalah sunat kifayah bagi tiap keluarga dan sunat ain bagi tiap pribadi seumur hidup satu kali
  • Hanabilah berpendapat bahwa hukum asal udhhiyah adalah sunat

Selengkapnya : Hukum Udhhiyah 4 Madzhab : Hanafiyah Malikiyah Syafi'iyah Hanabilah.

Keterkaitannya adalah hukum asal tersebut berlaku jika syarat ini tercapai. Berikut ini syarat wajib dan yang kami maksud :

يشترط لإيجاب الأضحية عند الحنفية، أو سنيتها عند الأئمة الآخرين: القدرة عليها، فلا تطلب من العاجز عنهافي أيام عيد الأضحى.
والمقصود بالقدرة عند الحنفية، هو اليسار أي يسار الفطرة (1)، وهو أن يكون مالكاً مئتي درهم الذي هو نصاب الزكاة، أو متاعاً يساوي هذا المقدار زائداً عن مسكنه ولباسه، أو حاجته وكفايته هو ومن تجب عليه نفقتهم.
والقادر عليها عند المالكية (2): هو الذي لا يحتاج إلى ثمنها لأمر ضروري في عامه. ولو استطاع أن يستدين استدان.
والمستطيع عليها عند الشافعية (3): هو من يملك ثمنها زائداً عن حاجته وحاجة من يعوله يوم العيد وأيام التشريق، لأن ذلك وقتها، مثل زكاة الفطر، فإنهم اشترطوا فيها أن تكون فاضلة عن حاجته مَمونة يوم العيد وليلته فقط.
والقادر عليها عند الحنابلة (4): هو الذي يمكنه الحصول على ثمنها ولو بالدين، إذا كان يقدر على وفاء دينه
______________________

(1) الدر المختار: /222، اللباب: 232/ 3، تبيين الحقائق: 3/ 6.
(2) شرح الرسالة لابن أبي زيد القيرواني: 367/ 1.
(3) حاشية الباجوري: 304/ 2.
(4) كشاف القناع: 18/ 3
Disyaratkan untuk wajibnya hukum أضحية dalam pandangan Hanafiyah atau disunatkannya dalam pandangan madzhab Imam-imam setelahnya (Malikiyah Syafi'iyah Hanabilah) : 
Adanya kemampuan terhadap أضحية. Jadi أضحية tidaklah dituntut dari seseorang yang tidak memiliki kemampuan berqurban أضحية pada hari raya idul adha.

Yang dimaksud dengan "kemampuan" dalam perspektif Hanafiyah : suatu kemudahan seperti kemudahan dalam hal zakat fitrah, yaitu keadaan seseorang yang memiliki 200 dirham yang itu adalah nishab zakat. Atau dia memiliki kekayaan berupa benda yang bisa dinilai dengan uang sejumlah ukuran itu yang statusnya sebagai kelebihan dari -> tempat tinggalnya, pakaiannya, kebutuhannya, biaya hidup dia secara pribadi dan dari orang-orang yang wajib kepadanya nafkah mereka.

"orang yang mampu" dalam perspektif Malikiyah : orang yang tidak membutuhkan terhadap uang seharga أضحية untuk urusan dharuri pada tahun tersebut. Dan jika dia bisa menjadi mampu dengan berhutang, maka dia sunat berhutang.

"orang yang mampu" dalam perspektif Syafi'iyah : orang yang memiliki uang seharga أضحية yang statusnya sebagai kelebihan dari kebutuhannya dan kebutuhan orang yang bergantung kepadanya pada momentum hari idul adha dan hari-hari tasyriq. Karena hari idul adha dan hari tasyriq merupakan hari disunatkannya melakukan أضحية, seperti pada idul fithri, karena sesungguhnya Syafi'iyah mensyaratwajibkan pada zakat fitrah bahwasanya perkara yang dizakatkan statusnya harus merupakan kelebihan dari kebutuhannya dan biaya hidup hari idul fithri dan malamnya saja.

"orang yang mampu" dalam perspektif Hanabilah : orang yang memungkinkan kepadanya menghasilkan terhadap uang seharga أضحية sekalipun dengan berhutang jika statusnya dia akan mampu membayar terhadap hutangnya.

----------------- Keterangan :

(1) Ad-Dar Al-Mukhtar Hal 222, Al-Lubab Jilid 3 Hal 232, Tabyin Al-Haqo'iq Jilid 6 Hal 3 [Kitab-kitab Hanafiyah]

(2) Syarh Ar-Risalah li Ibn Abi Zaid Al-Qairuni Jilid 1 Hal 367 [Kitab Malikiyah)

(3) Hasyiyah Al-Bajuri Jilid 2 Hal 304 [Kitab Syafi'iyah]

(4) Kisyaf Al-Qina Jilid 3 Hal 18 [Kitab Hanabilah]

[Lihat : Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh Jilid 4 Hal 2708 - Kitab perbandingan madzhab karya tulis Syaikh Wahbah Az-Zuhaili Rahimahullah]

قوله سنة مؤكدة : في حقنا وأما في حقه صلى الله عليه وسلم فهي واجبة والمخاطب بها المسلم البالغ العاقل الحر المستطيع وكذا المبعض اذا ملك مالا ببعضه الحر. والمراد بالمستطيع من يقدر عليها فاضلة عن حاجته وحاجة ممونه يوم العيد وأيام التشريق لأن ذلك وقتها ونظير ذلك زكاة الفطر فانهم اشترطوا فيها أن تكون فاضلة عن حاجته وحاجة ممونه يوم العيد وليلته لأن ذلك وقتها ويحتمل أنه يكفي أن تكون فاضلة عما يحتاجه في ليلة العيد ويومه فقط كما في صدقة التطوع لأنها نوع صدقة

Redaksi Imam Ibnu Qasim Al-Ghazi pada Kitab Fath Al-Qarib Al-Mujib Ala Matn Abi Syuja "سنة مؤكدة artinya sunat muakkad" : Maksudnya adalah di hak kita (umat Nabi Muhammad SAW). Adapun di hak Nabi Muhammad SAW maka أضحية hukumnya wajib. 

Adapun yang dikhithabtaklifi dengannya adalah :

  • المسلم Orang yang beragama Islam
  • البالغ Orang yang telah mencapai baligh
  • العاقل Orang yang berakal sehat
  • الحر Orang yang merdeka
  • المستطيع Orang yang Isti'tha'ah alias memiliki kemampuan
  • المبعض Orang yang 1/2 merdeka 1/2 abid jika memiliki harta dengan ukuran setengah harta orang merdeka
Adapun yang dimaksud dengan المستطيع (Orang yang Isti'tha'ah alias memiliki kemampuan) adalah orang yang mampu terhadap أضحية sebagai kelebihan dari kebutuhannya dan kebutuhan orang yang dibiayainya pada hari idul adha dan hari-hari tasyriq karena hari idul adha dan hari-hari tasyriq adalah merupakan waktu disunatkannya. Nadzirnya adalah zakat fithrah. karena Syafi'iyah mereka mensyaratkan pada zakat fithrah bahwasanya keadaan zakat fithrah adalah merupakan kelebihan dari kebutuhannya dan kebutuhan orang yang dibiayainya pada hari raya idul fithri dan malamnya karena hari raya idul fithri dan malamnya adalah waktu diwajibkannya. Dan ihtimal bahwasanya cukup statusnya kelebihan dari perkara yang dia membutuhkannya pada malam hari raya idul fithri dan harinya sepertihalnya pada shadaqoh tathawwu' karena zakat merupakan sejenis dari shadaqoh.

[Lihat : Hasyiyah Al-Bajuri Ala Ibni Qasim Al-Ghazi Jilid 2 Hal 296 Terbitan Toha Putra - Kitab Madzhab Syafi'i Karya Tulis Syaikhul Islam Ibrohim Al-Baijuri Rahimahullah]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah ikut berpartisifasi
Komentar anda akan segera kami balas