Syarat Sah Shalat Jama Ta'khir - BAITUSSALAM

Rabu, 10 Maret 2021

Syarat Sah Shalat Jama Ta'khir

Syarat Sah Shalat Jama Ta’khir ada 2 : 
  • Niat menjama ta’khir dalam keadaan masih ada dari waktu shalat yang kesatu kesempatan yang memadai untuk mendirikan shalat
  • Dawamnya udzur tersebut sampai sempurna mendirikan shalat yang kedua
[Syaikh Salim bin Sumair Al-Hadhrami, Safinah An-Naja Hal 85]
فصل في شروط جواز جمع التأخير. شروط جمع التأخير اثنان أحدهما نية التأخير وقد بقي من وقت الصلاة الأولى ما يسعها أي تامة إن أراد إتمامها ومقصورة إن أراد قصرها كأن يقول إذا أراد تأخير الظهر إلى العصر: نويت تأخير الظهر إلى العصر لأجمع بينهما، وإذا أراد تأخير المغرب إلى العشاء فيقول: نويت تأخير المغرب إلى العشاء. و ثانيهما دوام العذر وهو السفر إلى تمام الصلاة الثانية فلو أقام قبل تمامها وقعت الأولى قضاء سواء قدمها على الثانية أو أخرها عنها لأنها تابعة للثانية في الأداء للعذر وقد زال قبل تمامها

Fasal - Perihal syarat-syarat diperbolehkannya jama ta'khir. Syarat jama ta'khir ada 2 :
  • Kesatu - Niat menjama ta’khir dalam keadaan masih ada dari waktu shalat yang kesatu kesempatan yang memadai untuk mendirikan shalat. Maksudnya shalat secara tamm (sempurna) jika diamenghendaki untuk mengitmamnya (menyempurnakan shalat kesatu), dan shalat secara maqshur (diringkas) jika dia menghendaki untuk mengqasharnya (meringkas shalat kesatu). Seperti dia mengucapkan di dalam hati :
نَوَيْتُ تَأْخِيْرَ الظُّهْرِ إِلَى الْعَصْرِ لِأَجْمَعَ بَيْنَهُمَا

Aku telah berniat untuk mengakhirkan shalat dhuhur ke waktu shalat ashar untuk aku menjama antara keduanya.

dan jika dia berkehendak untuk mengakhirkan maghrib ke isya, maka dia mengucapkan di dalam hati :
نَوَيْتُ تَأْخِيْرَ الْمَغْرِبِ إِلَى الْعِشَاءِ لِأَجْمَعَ بَيْنَهُمَا

Aku telah berniat untuk mengakhirkan shalat maghrib ke waktu shalat ashar untuk aku menjama antara keduanya.

  • Kedua - Dawamnya udhur tersebut yaitu safar  sampai sempurna mendirikan shalat yang kedua. Sehingga jika dia bermukim sebelum menyempurnakan, maka shalat kesatu jatuh statusnya menjadi shalat qadha. Sama saja dia mendahulukan pengerjaannya sebelum shalat kedua ataupun mengakhirkannya dari shalat kedua, karena sesungguhnya shalat kesatu statusnya adalah pengikut bagi shalat kedua perihal penunaian pada waktunya sebab ada udzur dan itu telah hilang sebelum sempurnanya shalat kedua.

[Syaikh Abu Abdil Mu'thi Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kasyifah al-Sajā Hal 85]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah ikut berpartisifasi
Komentar anda akan segera kami balas