BAITUSSALAM: Rurukunan
Tampilkan postingan dengan label Rurukunan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rurukunan. Tampilkan semua postingan

Rukun Shalat : 13 14 15 17 18 19 23

Ada perbedaan pendapat di kalangan Ulama Syafi'iyah perihal jumlah rukun shalat : 13 14 15 17 18 19 23 Angka-angka unik tersebut adalah merujuk pada penjelasan Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi : 
فصل في بيان أركان الصلاة أركان الصلاة سبعة عشر وهذه طريقة من جعل الطمأنينات في محالها الأربع أركاناً مستقلة كما في الروضة، وعدها بعضهم ثمانية عشر بزيادة نية الخروج من الصلاة كأبي شجاع والصحيح أنها سنة، وعدها بعضهم كذلك أيضاً لكن لا بما ذكر بل بزيادة الموالاة كما في الستين، والمعتمد أنها شرط للركن، وعدها بعضهم أربعة عشر بجعل الطمأنينات في محالها الأربع ركناً واحداً لاتحاد جنسها، وبعضهم خمسة عشر بزيادة قرن النية بالتكبير كما في التحرير والمعتمد أنها هيئة للنية، ومنهم من جعلها تسعة عشر بجعل الخشوع ركناً كالغزالي، ومنهم من جعلها عشرين بزيادة ذات المصلى، والصواب أنه لا يعد من الأركان في الصلاة لأن لها صورة في الخارج يمكن تعقلها وتصورها بدون تعقل مصلَ وفارقت نحو الصوم حيث عدوا الصائم ركناً بعدم وجود صورة محسوسة في الخارج فيه، وعد بعضهم فقد الصارف من الأركان، وعلى عد هذه الزوائد أركاناً تكون جملتها ثلاثة وعشرين، والمعتمد ما في المنهاج وغيره من جعلها ثلاثة عشر بجعل الطمأنينة هيئة تابعة للركن
“Rukun shalat ada 17. Ini adalah thariqah dengan menjadikan thumaninah-thumaninah pada tempatnya yang 4 sebagai 4 rukun yang independent, sebagaimana bilangan dalam kitab Ar-Raudhah. Sebagian Ulama Madzhab Syafi’I menjadikan bilangannya 18 dengan menambahkan Niat Al-Khuruj Min Ash-Shalat (niat keluar dari shalat), sebagaimana Imam Abi Suja Al-Ashfahani. Menurut Qaul Ash-Shahih Niat Al-Khuruj Min Ash-Shalat adalah sunat. Sebagian Ulama Madzhab Syafi’I menjadikan bilangannya seperti itu (18) juga tapi bukan dengan menambahkan Niat Al-Khuruj Min Ash-Shalat (niat keluar dari shalat) melainkan dengan menambahkan Al-Muwalah, sebagaimana bilangan dalam kitab As-Sittiin. Menurut Qaul Al-Mu’tamad sesungguhnya Al-Muwalah adalah Syarat terhadap Rukun. Sebagian Ulama Madzhab Syafi’I menjadikan bilangannya 14 dengan menjadikan thumaninah-thumaninah pada tempatnya yang 4 sebagai 1 rukun dikarenakan 1 jenisnya. Sebagian Ulama Madzhab Syafi’I menjadikan bilangannya 15 dengan menambahkan Qarn An-niyat bi At-takbir (Muqaranah niat dengan takbir), sebagaimana pada kitab At-Tahrir. Menurut Qaul Al-Mu’tamad sesungguhnya Qarn An-niyat bi At-takbir adalah hai’at untuk rukun niat. Sebagian Ulama Madzhab Syafi’I ada Ulama menjadikan bilangannya 19 dengan menjadikan Al-Khusyu’ sebagai 1 rikun, seperti Imam Al-Ghazali. Sebagian Ulama Madzhab Syafi’I ada Ulama yang menjadikan bilangannya 20 dengan menambahkan dzat Al-Mushalli (orang yang shalat). Menurut Qaul Ash-Shawwab sesungguhnya dzat Al-Mushalli adalah tidak dihitung sebagai rukun dalam shalat, karena untuk shalat ada Shurah fi Al-Kharij yang memungkinkan ta’aqqulnya dan tashawwurnya dengan tanpa menta’aqqulkan keberadaan dzat Al-Mushalli. Perihal shalat ini tidak menyamai perihal seumpama Shaum dalam hal para ulama menghitung Ash-Sha’im sebagai 1 rukun dengan ketiadaan wujud shurah al-mahsusah fi Al-Kharij dalam permasalan shaum. Sebagian Ulama Madzhab Syafi’I menghitung Faqd Ash-Sharif termasuk Rukun Shalat. Dengan menghitung semua tambahan sebagai rukun-rukun, maka jumlahnya menjadi 23. Qaul Al-Mu’tamad tentang jumlah rukun shalat adalah bilangan yang terdapat dalam kitab Al-Minhaj Ath-Thalibin dan lainnya yaitu menjadikan bilangannya 13 dengan menjadikan thumaninah sebagai hai’at tabi’at li ar-rukn.” [1]
Dari penjelasan Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi ini dapat difahami bahwa selain 17 rukun yang dicantumkan oleh Syaikh Salim Al-Hadhromi, ada 6 lagi yang statusnya diikhtilafkan oleh sesama Ulama Syafi'iyah, yaitu :
  1. Khusyu’ (Kitab Imam Ghazali)
  2. Qarn An-Niyat Bi At-takbiri (Kitab At-Tahrir) Menurut Qaul Al-Mu’tamad yang ini bukanlah rukun, melainkan Hai’at Li An-Niyat / perilaku bagi niat.
  3. Niat khuruj dari shalat (Kitab Matn Abu Suja) Menurut Qaul Ash-Shahih yang ini bukanlah rukun melainkan sunat
  4. Muwalah (Kitab As-Sittiin) Menurut Qaul Mu’tamad yang ini bukanlah rukun melainkan syart li ar-rukn / syarat bagi rukun.
  5. Mushalli. Menurut Qaul Ash-Shawab yang ini bukanlah rukun pada shalat, karena shalat memiliki shurah fil kharij yang memungkinkan kita dapat memikirkannya dan mentashawwurkannya tanpa memikirkan keberadaan mushalli di dalamnya
  6. Faqda Ash-Sharif an al-arkan (tidak adanya yang membelokan dari rukun-rukun)
Berdasarkan penjelasan Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi tersebut juga dapat difahami bahwa perbedaan angka yang terdapat dalam madzhab Imam Asy-Syafi’I mengerucut ke angka 13, 14 dan 17. Dengan perbedaan sebagai berikut :
  • Jika menyebutnya 13 rukun. Semua thumaninah diposisikan sebagai hai’at li ar-rukn (perilaku rukun) yang 4 yaitu : ruku’, I’tidal, sujud 2 dan duduk antara sujud 2. Tapi sekalipun tidak diposisikan sebagai rukun-rukun yang independent, thumaninah-thumaninah tersebut tetap wajib dilakukan sebagai hai’at penyempurna rukun-rukun tersebut. Jadi tidak ada yang namanya rukun thumaninah. Kitab fiqih syafi’iyah yang menghitungnya menjadi 13 rukun antara lain : Minhaj Ath-Thalibin milik Imam Muhyiddin Abi Zakaria Yahya An-Nawawi dan Al-Muharror milik Imam Abu Al-Qasim Abd Al-Karim Ar’Rafi’I.
  • Jika menyebutnya 14 rukun. Semua thumaninah pada 4 rukun dimerger menjadi 1 rukun gabungan yang independent karena jenisnya sama sekalipun tempatnya berbeda, yaitu pada masing-masing dari 4 rukun tersebut. Jadi thumaninah ruku + thumaninah I’tidal + thumaninah sujud 2 + thumaninah duduk antara sujud 2 = rukun thumaninah pada ruku, I’tidal, sujud 2 dan duduk antara sujud 2. Salah satu kitab fiqih syafi’iyah popular yang menghitungnya menjadi 14 rukun adalah kitab Qurrah Al-‘Ain milik Syaikh Zainuddin Al-Malibari.
  • Jika menyebutnya 17 rukun. Semua thumaninah pada 4 rukun dijadikan rukun yang independent pada tempatnya masing-masing, bahkan diposisikan sebagai jati diri yang terpisah dari tempatnya masing-masing tersebut : Rukunya 1 rukun, thumaninah rukunya 1 rukun. I’tidalnya 1 rukun, thumaninah I’tidalnya 1 rukun. Sujud 2 dihitung 1 rukun, thumaninah sujud 2 nya dihitung 1 rukun. Duduk antara sujud 2 nya 1 rukun, thumaninah duduknya dihitung 1 rukun. Kitab fiqih syafi’iyah yang menghitungnya 17 rukun antara lain : Ar-Raudhah milik Imam Muhyiddin Abi Zakaria An-Nawawi dan Safinah An-Naja milik Syaikh Salim Al-Hadhrami.
Dari 3 jalan cara menghitung rukun shalat tersebut, yang paling popular adalah yang 13 dan 17. Tapi baik 13 maupun 17 keduanya merujuk pada 2 kitab rujukan utama dalam Madzhab Imam Syafi’I dengan pengarang yang sama, yaitu :
  • 17 merujuk ke Kitab Ar-Raudhah Milik Imam Muhyiddin Abi Zakariya Yahya An-Nawawi : 
فَالْأَرْكَانُ الْمُتَّفَقُ عَلَيْهَا، سَبْعَةَ عَشَرَ : النِّيَّةُ، وَالتَّكْبِيرُ، وَالْقِيَامُ، وَالْقِرَاءَةُ، وَالرُّكُوعُ، وَالطُّمَأْنِينَةُ فِيهِ، وَالِاعْتِدَالُ، وَالطُّمَأْنِينَةُ فِيهِ، وَالسُّجُودُ، وَالطَّمَأْنِينَةُ فِيهِ، وَالْجُلُوسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ وَالطُّمَأْنِينَةُ فِيهِ، وَالْقُعُودُ فِي آخِرِ الصَّلَاةِ، وَالتَّشَهُّدُ فِيهِ، وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ وَالسَّلَامُ، وَتَرْتِيبُهَا هَكَذَا
“Maka adapun rukun-rukun yang disepakati adalah 17 : Niat, takbir (ihrom), berdiri (bagi yang mampu), qiro'at (Al-Fatihah), ruku, thumaninah pada ruku, i'tidal, thumaninah pada i'tidal, sujud, thumaninah pada sujud, duduk antara 2 sujud, thumaninah pada duduk antara 2 sujud, duduk pada akhir shalat, tasyahhud pada duduk akhir shalat, shalawat kepada Nabi SAW pada duduk akhir shalat, salam, tertib seperti ini” [2]
  • 13 merujuk ke Kitab Minhaj Ath-Thalibin Wa Umdah Al-Muftin Milik Imam Muhyiddin Abi Zakariya Yahya An-Nawawi : 

 ﺃﺭﻛﺎﻧﻬﺎ ﺛﻼﺛﺔ ﻋﺸﺮ: اﻟﻨﻴﺔ الخ اﻟﺜﺎﻧﻲ: ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ اﻹﺣﺮاﻡ الخ اﻟﺜﺎﻟﺚ: اﻟﻘﻴﺎﻡ ﻓﻲ ﻓﺮﺽ اﻟﻘﺎﺩﺭ الخ اﻟﺮاﺑﻊ: اﻟﻘﺮاءﺓ الخ اﻟﺨﺎﻣﺲ: اﻟﺮﻛﻮﻉ ﻭﺃﻗﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﻨﺤﻨﻲ ﻗﺪﺭ ﺑﻠﻮﻍ ﺭاﺣﺘﻴﻪ ﺭﻛﺒﺘﻴﻪ ﺑﻄﻤﺄﻧﻴﻨﺔ الخ اﻟﺴﺎﺩﺱ: اﻻﻋﺘﺪاﻝ ﻗﺎﺋﻤﺎ ﻣﻄﻤﺌﻨﺎ الخ اﻟﺴﺎﺑﻊ: اﻟﺴﺠﻮﺩ الخ ﻭﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﻳﻄﻤﺌﻦ الخ اﻟﺜﺎﻣﻦ: اﻟﺠﻠﻮﺱ ﺑﻴﻦ ﺳﺠﺪﺗﻴﻪ ﻣﻄﻤﺌﻨﺎ الخ اﻟﺘﺎﺳﻊ ﻭاﻟﻌﺎﺷﺮ ﻭاﻟﺤﺎﺩﻱ ﻋﺸﺮ: اﻟﺘﺸﻬﺪ ﻭﻗﻌﻮﺩﻩ ﻭاﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ الخ اﻟﺜﺎﻧﻲ ﻋﺸﺮ: اﻟﺴﻼﻡ الخ اﻟﺜﺎﻟﺚ ﻋﺸﺮ: ﺗﺮﺗﻴﺐ اﻷﺭﻛﺎﻥ ﻛﻤﺎ ﺫﻛﺮﻧﺎ الخ

“Rukun shalat adalah 13 : Niat dst.., 2) Takbirotul ihrom dst..., 3) Berdiri pada shalat fardhu bagi yang mampu dst..., 4) Qiro'at Fatihah dst..., 5) Ruku. Minimalnya dia membungkuk seukuran sampainya dua telapak tangannya terhadap 2 lututnya dengan thumaninah dst..., 6) I'tidal dalam keadaan berdiri dan berthumaninah dst..., 7) Sujud dst..., dan dia wajib berthumaninah dst..., 8) Duduk antara dua sujudnya dalam keadaan berthumaninah dst..., 9) 10) 11) Tasyahud akhir, Duduk tasyahud akhir dan Shalawat kepada Nabi SAW dst..., 12) Salam pertama dst..., 13) Menertibkan rukun-rukun sebagaiman yang telah kami sebutkan dst...,” [3]
Kok bisa begitu yah? Usut punya usut, ternyata maksudnya secara hukum sama saja, hanya beda cara penyampaiannya. Sehingga mempengaruhi jumlah hitungan kumulatif. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami : 

أَرْكَانُهَا ثَلَاثَةَ عَشَرَ بِنَاءً عَلَى أَنَّ الطُّمَأْنِينَةَ فِي مَحَالِّهَا الْأَرْبَعَةِ صِفَةٌ تَابِعَةٌ لِلرُّكْنِ وَيُؤَيِّدُهُ مَا يَأْتِي فِي بَحْثِ التَّقَدُّمِ وَالتَّأَخُّرِ عَلَى الْإِمَامِ وَفِي الرَّوْضَةِ سَبْعَةَ عَشَرَ بِنَاءً عَلَى أَنَّهَا رُكْنٌ مُسْتَقِلٌّ أَيْ بِالنِّسْبَةِ لِلْعَدِّ لَا لِلْحُكْمِ فِي نَحْوِ التَّقَدُّمِ الْمَذْكُورِ

“Rukun shalat adalah 13 dengan memposisikan berdasarkan bahwasanya thumaninah pada tempatnya yang 4 sebagai sifat tabi’at lil ar-rukn, dan menguatkan pada penempatan posisi ini hukum yang datang pada permasalahan taqaddum & ta’akhkhur terhadap imam. Dan dalam kitab Ar-Raudhah adalah 17 dengan memposisikan bahwasanya thumaninah adalah rukun yang mustaqil, maksudnya dengan dinisbatkan pada hitungan bukan dinisbatkan terhadap hukum pada seumpama permasalahan taqaddum yang telah disebutkan [4]
Sebagaimana juga penjelasan Syaikh Jalaluddin Al-Mahalli : 

أَرْكَانُهَا ثَلَاثَةَ عَشَرَ وَفِي الرَّوْضَةِ سَبْعَةَ عَشَرَ عُدَّ مِنْهَا الطُّمَأْنِينَةُ فِي مَحَالِّهَا الْأَرْبَعَةِ مِنْ الرُّكُوعِ وَمَا بَعْدَهُ أَرْكَانًا وَجَعَلَهَا هُنَا كَالْجُزْءِ مِنْ ذَلِكَ، وَهُوَ اخْتِلَافٌ فِي اللَّفْظِ دُونَ الْمَعْنَى

"Rukun Shalat jumlahnya adalah 13. Dan dalam kitab Ar-Raudhah jumlahnya adalah 17, thumaninah pada tempatnya yang 4 yaitu ruku dsb dihitung sebagai rukun-rukun. Dan Imam Muhyiddin An-Nawawi menjadikan thumaninah pada kitab Minhaj ini bagaikan sebuah juz dari rukun. Dan itu merupakan ikhtilaf pada lafadz bukan pada makna.” [5] 
Imam Syihabuddin Al-Qalyubi mempertegas penjelasan Syaikh Jalaluddin Al-Mahalli tentang redaksi "bagaikan 1 juz" : 

قَوْلُهُ: (كَالْجُزْءِ) أَيْ بِدَلِيلِ عَدَمِ اعْتِبَارِهَا رُكْنًا فِي التَّقَدُّمِ وَالتَّأَخُّرِ

"Redaksi Syaikh Jalaluddin Al-Mahalli bagaikan satu juz : dengan dalil tidak dihitungnya thumaninah sebagai rukun pada permasalahan taqaddum & ta’akhkhur.” [6] 
Tapi yang menjadi Qaul Mu’tamad dalam Madzhab Syafi’I adalah yang 13, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi : 
والمعتمد ما في المنهاج وغيره من جعلها ثلاثة عشر بجعل الطمأنينة هيئة تابعة للركن
“Qaul Al-Mu’tamad tentang jumlah rukun shalat adalah bilangan yang terdapat dalam kitab Al-Minhaj Ath-Thalibin dan lainnya yaitu menjadikan bilangannya 13 dengan menjadikan thumaninah sebagai hai’at tabi’at li ar-rukn.”[1] 
Sumber : 
[1] Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kasyifah As-Saja fi Syarh Safinah An-Naja Halaman 50 [2] Imam Muhyiddin Abi Zakaria Yahya An-Nawawi, Ar-Raudhah Jilid 1 Halaman 223 [3] Imam Muhyiddin Abi Zakariya Yahya An-Nawawi, Minhaj Ath-Thalibin Halaman 25-29 [4] Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfah Al-Muhtaj fi Syarh Minhaj Ath-Thalibin Juz 2 Hal 3 [5] Syaikh Jalaluddin Al-Mahalli, Syarh Al-Mahalli Ala Al-Minhaj / Hasyiyah Al-Qalyubi wa Umairah Ala Syarh Al-Mahalli Ala Al-Minhaj Juz 1 Hal 139. [6] Imam Syihabuddin Al-Qalyubi, Hasyiyah Al-Qalyubi wa Umairah Juz 1 Hal 140

Fiqih Rurukunan - Buku Mulok Yayasan Baitussalam Sukapala

ASSALAMU ALAIKUM WR WB
Redaksi Aqoidul Iman dan Fiqih Rurukunan yang dipublikasikan di https://www.baitussalam.web.id ini dikutip dari Buku Mulok Yayasan Baitussalam Sukapala. Materi ini sebenarnya sudah menjadi hapalan wajib selama puluhan tahun, bahkan jauh sebelum Yayasan Baitussalam didirikan. Materi dengan redaksi seperti ini diajarkan kepada kami sebagai hapalan wajib oleh Guru kami tercinta Almarhum Mama Kyai Haji Muhyidin (wafat 1993 M). Kami kemudian memasukan materi ini ke dalam Buku Mulok Yayasan Baitussalam Sukapala sebagai materi hapalan yang paling diprioritaskan dari materi-materi hapalan lainnya. Redaksi artikel ini mengikuti sebagaimana redaksi aslinya yang terdapat pada Buku Mulok Yayasan Baitussalam Sukapala, tentunya dengan sedikit penyesuaian dari segi layout sebagaimana layaknya artikel pada umumnya. Tujuan utama dipublikasikannya materi ini secara online di situs ini adalah sebagai alternatif bagi santri yang tidak sedang memegang buku hapalan. Oleh karena ini bersifat alternatif, maka kami sarankan agar semua santri tetap menggunakan buku asli sebagai rujukan hapalan sehari-hari. Selamat belajar online, semoga bermanfaat. 
WASSALAMU ALAIKUM WR WB

بسم الله الرحمن الرحيم

Ari Rukun Islam eta aya 5 :

  1. Ngucapkeun 2 kalimat syahadat, ari pokna syahadat nyaeta :
    Hartosna : Nyaksian sim abdi kana yen saleresna henteu aya deui pangeran anu wajib di ibadahan kalawan haq anging Gusti Allah wungkul. Sareng nyaksian sim abdi kana yen saleresna Kanjeng Nabi Muhammad eta janten Utusan Allah.
  2. Ngalakonan shalat anu 5 waktu dina saban-saban sapoe sapeuting.
  3. Mayar zakat ka mustahiqna anu 8.
  4. Puasa dina bulan romdhon anu lamina sabulan.
  5. Munggah haji ka Baitullah, namung upami kawasa. tegesna boga bekel pikeun maju jeung balikna jeung keur mukimna di Mekah. 


Ari Mustahiq Zakat eta aya 8 : 

  1. Faqir.
  2. Miskin.
  3. Ghorim.
  4. Abid mukatab.
  5. Mu’allaf.
  6. Ibnu sabil.
  7. Sabilillah.
  8. Amilin. 


Ari Rukun Iman eta aya 6 : 

  1. Iman ka Allah.
  2. Iman ka Malaikatna Allah.
  3. Iman kana Kitab-Kitabna Allah.
  4. Iman ka Rosul-Rosulna Allah.
  5. Iman kana poe Qiyamah.
  6. Iman kana papasten, Papasten hade sareng awon eta sami ti Gusti Allah. 


Ari Malaikat anu wajib dikanyahokeun eta aya 10 : 

  1. Malaikat Jibril, Padamelanana ngadugikeun wahyu ka Nabi-Nabi.
  2. Malaikat Mika’il, Padamelanana ngalungsurkeun hujan sareng ngabagi-bagi rizki.
  3. Malaikat Isrofil, Padamelanana niup song-song alam.
  4. Malaikat Izro’il, Padamelanana nyabut nyawa sakabeh makhluk.
  5. Malaikat Munkar,
  6. Malaikat Nakir, Padamelanana mariksa mayit dijero kubur.
  7. Malaikat Roqib, Padamelanana nuliskeun amal hade ayana di beulah katuhu.
  8. Malaikat Atid, Padamelanana nuliskeun amal goreng ayana di beulah kenca.
  9. Malaikat Malik, Padamelanana ngajaga lawang naraka.
  10. Malaikat Ridwan, Padamelanana ngajaga lawang surga. 


Ari Kitab anu wajib di kanyahokeun eta 4 : 

  1. Kitab Taurot, dilungsurkeunana ka kanjeng Nabi Musa AS.
  2. Kitab Zabur, dilungsurkeunana ka kanjeng Nabi Dawud AS.
  3. Kitab Injil, dilungsurkeunana ka kanjeng Nabi Isa AS.
  4. Kitab Al-Quran, dilungsurkeunana ka kanjeng Nabi Muhammad SAW. 


Ari Nabi anu wajib dikanyahokeun eta aya 25 : 

  1. Nabi Adam AS.
  2. Nabi Idris AS.
  3. Nabi Nuh AS.
  4. Nabi Hud AS.
  5. Nabi Shaleh AS.
  6. Nabi Ibrohim AS.
  7. Nabi Luth AS.
  8. Nabi Isma’il AS.
  9. Nabi Ishaq AS.
  10. Nabi Ya’qub AS.
  11. Nabi Yusuf AS.
  12. Nabi Ayyub AS.
  13. Nabi Syu’aib AS.
  14. Nabi Harun AS.
  15. Nabi Musa AS.
  16. Nabi Yasa’ AS.
  17. Nabi Dzulkifli AS.
  18. Nabi Dawud AS.
  19. Nabi Sulaiman AS.
  20. Nabi Ilyas AS.
  21. Nabi Yunus AS.
  22. Nabi Zakariyya AS.
  23. Nabi Yahya AS.
  24. Nabi Isa AS.
  25. Nabi Muhammad SAW. 


Ari Putrana Kanjeng Nabi Muhammad SAW eta aya 7 : 

  1. Sayid Qosim.
  2. Siti Zainab.
  3. Siti Ruqoyah.
  4. Siti Fatimah.
  5. Siti Umi Kultsum.
  6. Sayid Abdullah.
  7. Sayid Ibrohim. 


Ari Ciri-Cirina Balegh eta aya 3 : 

  1. Ku sabab geus sampurna umur 15 tahun, dihakna lalaki jeung dihakna awewe.
  2. Ku sabab bijil mani dihakna lalaki jeung dihakna awewe bari geus umur 9 tahun.
  3. Ku sabab hed dihakna awewe wungkul bari geus umur 9 tahun. 


Ari Babagian Cai eta aya 2 : 

  1. Cai saeutik, nyaeta cai anu kurang ti 2 kulah.
  2. Cai loba, nyaeta cai anu aya 2 kulah jeung saterusna leuwih loba ti nimbang 2 kulah. 


Ari Babagian Hadats eta aya 2 : 

  1. Hadats leutik, nyaeta hadats anu matak ngabatalkeun kana wudhu.
  2. Hadats gede, nyaeta hadats anu matak ngawajibkeun kana adus. 


Ari Farduna Wudhu eta aya 6 : 

  1. Niat dina ati dibarengkeun jeung datangna cai kana beungeut.
  2. Ngumbah beungeut.
  3. Ngumbah leungeun dua nepi kana sikuna duanana.
  4. Ngusap sirah.
  5. Ngumbah suku dua nepi kana mumuncanganana duanana.
  6. Tartib. 


Ari Perkara anu matak ngabatalkeun kana Wudhu eta aya 4 : 

  1. Ku sabab aya anu kaluar salianti mani tina salah sahijina palawangan dua.
  2. Hilang akal ku sabab sare atawa liana sare.
  3. Paantel kulit lalaki jeung kulit awewe anu pada gede duanana, lain mahramna bari teu aya halang-halang.
  4. Nyabak qubul atawa dubur anak Adam,nyabakna ku dampal leungeun atawa ku dampal ramo. 


Ari Farduna Adus eta aya 2 :

  1. Niat dina ati dibarengkeun jeung datangna cai kana kulit.
  2. Ngawalatraan sakabeh dhohirna badan ku cai. 


Ari Perkara anu matak ngawajibkeun kana Adus eta aya 6 :

  1. Ngasupkeun hasafah kana farji.
  2. Bijil mani, anu bijil bareng mimiti.
  3. Palangan ( hed )
  4. Nifas.
  5. Ngajuru.
  6. Maot. 


Ari Perkara anu diharamkeun ka jalma anu teu boga Wudhu eta aya 4 :

  1. Haram sholat.
  2. Haram thowaf. 
  3. Haram nyabak Qur’an.
  4. Haram mawana Qur’an. 


Ari Perkara anu diharamkeun ka jalma anu Junub eta aya 6 :

  1. Haram sholat.
  2. Haram thowaf.
  3. Haram nyabak Qur’an.
  4. Haram mawana Qur’an.
  5. Haram cicing di masjid.
  6. Haram macana Qur’an. 


Ari Perkara anu diharamkeun ka jalma anu Hed jeung Nifas eta aya 10 : 

  1. Haram sholat.
  2. Haram thowaf.
  3. Haram nyabak Qur’an.
  4. Haram mawana Qur’an.
  5. Haram cicing di masjid.
  6. Haram macana Qur’an.
  7. Haram puasa.
  8. Haram di tolaq.
  9. Haram ngaliwat ka jero masjid.
  10. Haram di alap suka. 

Ari saeutik-saeutikna zaman hed eta sapoe sapeuting. 
Ari galib-galibna zaman hed eta 6 poe 6 peuting atawa 7 poe 7 peuting. 
Ari lila-lilana zaman hed eta 15 poe 15 peuting. 
Ari saeutik-saeutikna zaman nifas eta saciduhan. 
Ari galib-galibna zaman nifas eta 40 poe 40 peuting. 
Ari lila-lilana zaman nifas eta 60 poe 60 peuting. 
Ari saeutik-saeutikna zaman suci antara palangan dua eta 15 poe 15 peuting. 
Ari galib-galibna zaman suci eta 24 poe 24 peuting atawa 23 poe 23 peuting. 
Sareng henteu aya batasanana pikeun lila-lilana zaman suci. 


Ari Syarat Sahna Wudhu jeung Adus eta aya 10 : 

  1. Islam.
  2. Hideng.
  3. Beresih tina hed jeung tina nifas.
  4. Beresih tina rupa-rupa perkara anu matak ngahalangan kana bisa tepina cai kana kulit.
  5. Dina anggota wudhu jeung adus ulah aya perkara anu anu matak ngabarobahkeun kana cai.
  6. Kudu nyaho kana kafardhuanana wudhu jeung adus.
  7. Ulah nekadkeun sunat kana hiji fardhu anu tetep tina sawarehna fardhu wudhu sareng adus.
  8. Caina kudu anu suci tur anu nyucikeun.
  9. Kudu geus manjing waktu.
  10. Tuluy-tuluy.manjing waktu jeung tuluy-tuluy eta pikeun jalma anu langgeng hadats. 


Ari Syarat Cukupna Susuci Ku Batu eta aya 8 : 

  1. Susucina kudu ku 3 batu atawa ku 1 batu anu berguna pikeun 3 kali ngusapkeun.
  2. Patempatan najis kudu nepi ka pangkat beresih.
  3. Najisna ulah geus garing.
  4. Najisna ulah geus pindah tina tempat asal bijilna.
  5. Najisna ulah geus kadatangan ku najis anu sejen.
  6. Najisna ulah geus urat-aret kana hasafahna atawa kana gigir-gigir duburna anu sok adek nalika nangtung.
  7. Patempatan najis ulah geus kakeunaan ku cai anu teu matak nyucikeun.
  8. Batuna kudu anu suci tur anu nyucikeun. 


Ari Persababan anu matak ngameunangkeun kana Tayamum eta aya 3 : 

  1. Ku sabab euweuh cai.
  2. Ku sabab gering anu teu meunang make cai.
  3. Ku sabab butuh kana cai, karana kahausanana hayawan anu dimuliakeun ku syara’. 


Ari Hayawan anu teu dimuliakeun ku syara’ eta aya 6 :

  1. Jalma tinggal sholat.
  2. Jalma zina muhshon.
  3. Jalma murtad.
  4. Kafir musuh.
  5. Anjing galak.
  6. Bagong. 


Ari Syarat Sahna Tayamum eta aya 10 : 

  1. Tayamumna kudu ku taneuh.
  2. Taneuhna kudu anu suci tur anu nyucikeun.
  3. Taneuhna ulah urut make.
  4. Taneuhna ulah geus kacampuran ku tipung atawa bangsana tipung.
  5. Ngamaksud mindahkeun taneuh tina tempatna taneuh kana anggota anu di usap.
  6. Kudu ngusap kana beungeutna jeung kana leungeun duana kalawan dua cokotan.
  7. Kudu ngaleungitkeun najis dina bareng mimiti.
  8. Samemeh tayamum kudu ati-ati dina nganyahokeun qiblat.
  9. Kudu geus manjing waktu.
  10. Tayamumna si jalma pikeun ngalakonan saban-saban fardhu aen. 


Ari Fardhuna Tayamum eta aya 5 : 

  1. Mindahkeun taneuh tina tempatna taneuh kana anggota anu di usap.
  2. Niat.
  3. Ngusap beungeut.
  4. Ngusap leungeun dua nepi kana sikuna duanana.
  5. Tartib antara usapan dua. 


Ari Perkara anu matak ngabatalkeun kana Tayamum eta aya 3 : 

  1. Ku sabab aya perkara anu matak ngabatalkeun kana wudhu.
  2. Ku sabab murtad.
  3. Ku sabab nyangka kana ayana cai, lamun tea mah tayamumna si jalma kulantaran euweuh cai. 


Ari Babagian Najis eta aya 3 bagian : 

  1. Najis mugholadzoh. Hartosna: najis anu dibeuratkeun hukumanana, nyaeta najis anjing sareng bagong.
  2. Najis mukhoffafah. Hartosna: najis anu dihampangkeun hukumanana, nyaeta ci kiihna budak lalaki anu umurna can 2 tahun bari can ngadahar kana salianti cai susu indungna.
  3. Najis mutawassitoh. Hartosna: najis anu pertengahan hukumanana, nyaeta sakantuna najis mugholadzoh sareng najis mukhoffafah. 

Ari patempatan anu kanajisan ku najis mugholadzoh eta bisa disucikeun ku 7 kali kumbahan,sarta salahsahijina kumbahan anu 7 eta kudu make taneuh.
Ari patempatan anu kanajisan ku najis mukhoffafah eta bisa disucikeun ku ngocorkeun cai anu bisa ngalindih tur bisa ngaleungitkeun kana jentulna najis.
Ari najis mutawassitoh eta kabagi kana 2 bagian : 
  1. Najis mutawassitoh bangsa aen, nyaeta najis mutawassitoh anu aya rupaan, aya ambeuan jeung aya rasaan. Ari nyucikeunana nyaeta ku kumbahan anu bisa ngaleungitkeun kana rupana, kana ambeuna jeung kana rasana najis mutawassithoh bangsa aen.
  2. Najis mutawassitoh bangsa hukum, nyaeta najis mutawassitoh anu henteu aya rupaan, teu aya ambeuan jeung teu aya rasaan. Ari nyucikeunana nyaeta cukup ku ngocorkeun cai kana patempatan anu kanajisan ku najis mutawassitoh bangsa hukum. 


Ari Perkara najis anu bisa jadi suci eta aya 3 :

  1. Arak dimana geus jadi cuka ku awakna sorangan.
  2. Kulit bugang dimana geus disamak.
  3. Perkara anu robah jadi hayawan. 


Ari Syarat Sahna Sholat eta aya 8 : 

  1. Kudu suci tina hadats dua.
  2. Kudu suci tina warnaan najis dina pakeanana, dina badana jeung dina tempat sholatna.
  3. Kudu nutupan orat.
  4. Kudu nyanghareup ka qiblat.
  5. Kudu geus manjing waktu.
  6. Kudu nyaho kana kafardhuanana sholat.
  7. Ulah nekadkeun sunat kana hiji fardhu anu tetep tina sawarehna fardhuna sholat.
  8. Kudu ngajauhan perkara anu matak ngabatalkeun kana sholat. 


Ari Babagian Orat eta aya 4 : 

  1. Orat lalaki kalawan mutlaq. Nyaeta : antara bujal sareng tuur.
  2. Orat awewe amat dina keur sholat wungkul. Nyaeta : antara bujal sareng tuur.
  3. Orat awewe merdeka dina keur sholat wungkul. Nyaeta : sakabeh badana, anging beungeut sareng dampal leungeun dua.
  4. Orat awewe merdeka jeung awewe amat nalika sandingeun lalaki anu lain mahramna. Nyaeta : sakabeh badana. Sareng nalika sandingeun lalaki mahramna atawa sandingeun awewe deui. Nyaeta : antara bujal sareng tuur. 


Ari Waktuna Sholat Fardhu eta aya 5 : 

  1. Waktuna sholat dhuhur. Nyaeta : ti mimiti lingsirna panon poe nepika kalangkang hiji perkara geus sarua panjangna jeung eta perkara.
  2. Waktuna sholat ashar. Nyaeta : ti mimiti panjang kalangkang hiji perkara geus leuwih saeutik tina eta perkara nepi ka surupna panon poe.
  3. Waktuna sholat maghrib. Nyaeta : ti mimiti surupna panon poe nepi ka surupna mega beureum. 
  4. Waktuna sholat isya. Nyaeta : ti mimiti surupna mega beureum nepika bijilna fajar shidiq.
  5. Waktuna sholat shubuh. Nyaeta : ti mimiti bijilna fajar shidiq nepika bijilna panon poe. 


Ari Rukun Sholat eta aya 17 : 

  1. Niat dina ati dibarengkeun jeung takbirotul ihrom.
  2. Takbirotul ihrom.
  3. Nangtung ka jalma anu bisa kana nangtung.
  4. Maca fatihah.
  5. Ruku’.
  6. Thumaninah dina ruku’.
  7. I’tidal.
  8. Thumaninah dina i’tidal.
  9. Sujud dua.
  10. Thumaninah dina sujud dua.
  11. Diuk dina antara sujud dua.
  12. Thumaninah dina diuk antara sujud dua.
  13. Tahiyat akhir.
  14. Diuk dina tahiyat akhir.
  15. Maca sholawat ka Kanjeng Nabi dina diuk tahiyat akhir.
  16. Uluk salam ka beulah katuhu.
  17. Tartib. 


Ari Perkara anu matak ngabatalkeun kana Sholat eta aya 14 : 

  1. Ku sabab hadats.
  2. Ku sabab kadatangan najis lamun teu dipiceun pada harita.
  3. Kabuka orat lamun teu di tutupan pada harita.
  4. Ngomong anu aya hartian bari ngahaja.
  5. Ku sabab aya perkara anu matak ngabatalkeun kana puasa.
  6. Barang dahar anu loba sanajan bari poho.
  7. Usik 3 usikan anu tuluy-tuluy sanajan bari poho.
  8. Loncat anu tarik.
  9. Neunggeul anu tarik.
  10. Nambahan rukun anu bangsa pagawean bari ngahaja.
  11. Miheulaan atawa mandeurikeun maneh ti imam ku 2 rukun anu bangsa pagawean bari teu aya pauduran.
  12. Niat megatkeun sholat.
  13. Nyantelkeun niat megatkeun sholat kana hiji perkara.
  14. Ragu-ragu dina megatkeun sholat. 

Ari Niat mungguh syara nyaeta maksud migawe hiji perkara bari dibarengkeun jeung prak migawena eta perkara. 
Ari patempatan niat nyaeta ati. 
Ari ngucapkeunana kana eta niat eta disunatkeun. 
Ari waktuna niat dina wudhu nyaeta nalika ngumbah kawitan juz ti antara anu kasebut beungeut. 

Ari Niat dina Sholat eta aya 3 pangkat :
  1. Lamun sholatna sholat fardhu, maka wajib kumpul dina eta niat 3 perkara: 1)Maksud migawe 2)Nangtukeun sholat anu dipigawe 3)Nekadkeun kafardhuan.
  2. Lamun sholatna sholat sunat anu diwaktu-waktu sacara sholat sunat rowatib atawa sholat sunat anu ngabogaan sabab, maka wajib kumpul dina eta niat 2 perkara : 1)Maksud migawe 2)Nangtukeun sholat anu dipigawe.
  3. Lamun sholatna sholat sunat mutlaq, maka misti dina eta niat 1 perkara : nyaeta maksud migawe. 
Ari maksud migawe nyaeta ucapan jalma anu sholat nyebut “ Usholli”. 
Ari nangtukeun sholat anu dipigawe nyaeta ucapan jalma anu sholat nyebut “Dhuhur” atawa “Ashar”. 
Ari nekadkeun kafardhuan nyaeta ucapan jalma anu sholat nyebut “Fardhu”. 

Ari Syarat Sahna Takbirotul Ihrom eta 16 :
  1. Dina sholat fardhu, takbirotul ihrom kudu tumiba dina tingkah nangtung.
  2. Kudu ku bahasa arab.
  3. Kudu ku lafadz الله 
  4. Kudu ku lafadz أكبر 
  5. Kudu nartibkeun kana lafadz الله jeung lafadz أكبر 
  6. Ulah manjangkeun kana أ lafadz الله 
  7. Ulah manjangkeun kana ب na lafadz أكبر 
  8. Ulah nasdidan kana ب na lafadz أكبر 
  9. Dina antara lafadz الله jeung lafadz أكبر ulah ditambahan ku و anu disukunkeun.
  10. Ulah ditambahan ku و dina samemeh lafadz الله 
  11. Dina antara lafadz الله jeung lafadz أكبر ulah eureun sanajan sakeudeung.
  12. Lafadz الله jeung lafadz أكبر kudu kadenge kunu macana.
  13. Kudu geus manjing waktu dina sholat anu di waktu-waktu.
  14. Ngalaksanakeun takbirotul ihrom kudu bari nyanghareup ka qiblat.
  15. Ulah ngaruksak kana hiji haraf tina haraf-harafna takbirotul ihrom.
  16. Kudu mandeurikeun takbirotul ihromna ma’mum tina takbirotul ihromna imam. 

Ari Syarat Sahna maca Fatihah eta aya 10 : 
  1. Tartib.
  2. Tuluy-tuluy.
  3. Kudu ngaraksa kana sakabeh harafna fatihah.
  4. Kudu ngaraksa kana sakabeh tasdidna fatihah.
  5. Ulah eureun sanajan sakeudeung anu matak megatkeun kana bacaan fatihah.
  6. Kudu maca kana sakabeh ayatna fatihah.
  7. Ulah cacadelan anu matak ngaruksak kana hartina fatihah.
  8. Dina sholat fardhu,bacaan fatihah kudu tumiba dina tingkah nangtung.
  9. Bacaan fatihah kudu kadenge kunu macana.
  10. Ulah aya bacaan sejen anu nyela-nyela kana bacaan fatihah. 

Ari Euruen-eureunan dina Sholat eta aya 6 : 
  1. Dina antara takbirotul ihrom jeung du’a iftitah.
  2. Dina antara du’a iftitah jeung ta’udz.
  3. Dina antara ta’udz jeung fatihah.
  4. Dina antara akhirna fatihah jeung amin.
  5. Dina antara amin jeung surat.
  6. Dina antara surat jeung ruku’. 

Ari Rukun Sholat anu wajib make Thumaninah eta aya 4 : 
  1. Ruku’.
  2. I’tidal.
  3. Sujud.
  4. Diuk dina antara sujud dua. 
Ari Ngaran Thumaninah nyaeta cicing saba’da usik sakira-kira tetep sakabeh anggota dina tempatna anu lilana sakira-kira aya sazamaneun maca سُبْحَانَ اللهِ 

Ari Syarat Sahna Sujud eta aya 7 : 
  1. Kudu napakeun kana anggota sujud anu 7
  2. Tarangna kudu dibukakeun.
  3. Kudu neu’eulkeun kana sabeurat sirahna.
  4. Ulah muru kana salianti sujud.
  5. Ulah sujud kana perkara anu sok usik dimana usik manehanana.
  6. Bobokongna kudu leuwih luhur tibatan sirahna.
  7. Kudu thumaninah dina sujud. 

Ari Anggota Sujud eta aya 7 : 
1. Tarang. 
2-3.Dampal leungeun dua. 
4-5.Tuur dua. 
6-7.Dampal ramo suku dua. 

Ari Persababan anu matak nibakeun kana Sunatna Sujud Sahwi eta aya 4 : 
  1. Ku sabab ninggalkeun hiji sunat anu tetep tina sawarehna sunat ab’adna sholat, atawa ninggalkeun sawareh tina hiji sunat ab’adna sholat.
  2. Ku sabab poho migawe hiji perkara anu matak ngabatalkeun kana sholat dimana dipigawe bari ngahaja.
  3. Ku sabab mindahkeun rukun anu bangsa ucapan kana lain tempatna.
  4. Ku sabab poho nibakeun rukun anu bangsa pagawean, sarta leuwih gede sangkaan kana leuwihna. 

Ari Sunat Ab’adna Sholat eta aya 7 : 
  1. Tasyahud awal.
  2. Diuk dina tasyahud awal.
  3. Maca sholawat ka Kangjeng Nabi dina diuk tasyahud awal.
  4. Maca sholawat ka kulawargina Kangjeng Nabi dina diuk tasyahud akhir.
  5. Qunut shubuh.
  6. Nangtung dina qunut shubuh.
  7. Maca sholawat sareng salam ka Kangjeng Nabi, ka kulawargina, sareng ka para sohabatna dina qunut shubuh. 

Ari Pauduran Sholat eta aya 2 :
  1. Ku sabab sare.
  2. Ku sabab poho. 

Ari Syarat Sahna Anut Ma’mum ka Imam eta aya 11 : 
  1. Ma’mum ulah nyaho kana batal sholat imamna.
  2. Ma’mum ulah nekadkeun kana wajib ngodhoana imam kana eta sholat.
  3. Imamna ulah anu ma’mum kanu sejen.
  4. Imamna ulah anu bodo.
  5. Cicingna ma’mum ulah leuwih hareup ti batan imamna.
  6. Ma’mum kudu nyaho kana pipindahan sholat imamna.
  7. Kudu kumpul imam jeung ma’mum dina hiji masjid atawa dina hiji wewengkon 300 siku.
  8. Ma’mum kudu niat ngama’mum atawa niat berjama’ah.
  9. Kudu ngakuran runtuyan sholatna ma’mum kana runtuyan sholat imamna.
  10. Ma’mum ulah nyulayaan ka imam dina hiji sunat anu goreng nyulayaanana.
  11. Ma’mum kudu anut ka imamna. 

Ari Gambaran Anut Ma’mum ka Imam eta aya 9 : Anu 5 di meunangkeun, Anu 4 teu di meunangkeun. 
Ari anu 5 anu dimeunangkeun nyaeta :
  1. Ma’mumna lalaki ka lalaki.
  2. Ma’mumna awewe ka lalaki.
  3. Ma’mumna banci ka lalaki.
  4. Ma’mumna awewe ka banci.
  5. Ma’mumna awewe ka awewe deui. 
Ari anu 4 anu teu di meunangkeun nyaeta : 
  1. Ma’mumna lalaki ka awewe.
  2. Ma’mumna lalaki ka banci.
  3. Ma’mumna banci ka awewe.
  4. Ma’mumna banci ka banci deui. 

Ari Syarat Sahna Jama Taqdim eta aya 4 : 
  1. Ngawitan ku sholat anu kahiji.
  2. Niat ngajama dina sholat anu kahiji.
  3. Tuluy-tuluy antara sholat anu kahiji jeung sholat anu kadua.
  4. Langgeng pauduran. 

Ari Syarat Sahna Jama Ta’khir eta aya 2 : 
  1. Niat ngajama ta’khir nalika masih keneh aya waktu migawe sholat anu kahiji.
  2. Langgeng pauduran nepika paragatna migawe sholat anu kadua. 

Ari Syarat Sahna Sholat Qoshor eta aya 7 : 
  1. Leuleumpanganana kudu aya 2 pamondokan (±81 KM).
  2. Leuleumpanganana kudu anu di meunangkeun.
  3. Kudu nyaho kana meunangna ngoshor.
  4. Niat ngoshor nalika takbirotul ihrom.
  5. Sholatna kudu anu bangsa 4 rokaat.
  6. Langgeng leuleumpangana nepika paragat sholatna.
  7. Ulah anut ka jalma anu sholatna sampurna (mutimm). 

Ari Syarat Sahna Sholat Jum’ah eta aya 6 : 
  1. Sakabehna sholat jum’ah kudu tumiba dina waktu dzuhur.
  2. Kudu di adegkeun di tengah-tengah lembur.
  3. Kudu di berjama’ahkeun.
  4. Ahli jum’ah kudu aya 40 lalaki anu merdeka,anu baleg, anu mukim kabehanana.
  5. Ulah kapiheulaan atawa kabarengan ku sholat jum’ah anu sejen anu aya di lembur eta keneh.
  6. Kudu dipiheulaan ku khutbah 2 

Ari Syarat Sahna Khutbah 2 eta aya 10 : 
  1. Kudu beresih tina hadats 2
  2. Kudu beresih tina warnaan najis, dina pakeanana, dina badana, jeung dina tempat khutbahna.
  3. Nutupan orat.
  4. Nangtung ka jalma anu bisa kana nangtung.
  5. Diuk dina antara khutbah 2 kalawan sazamaneun thumaninah dina sholat.
  6. Tuluy-tuluy antara khutbah anu ka 1 jeung khutbah anu ka 2
  7. Tuluy-tuluy antara khutbah anu ka 2 jeung sholat.
  8. Khutbah 2 kudu ku bahasa arab.
  9. Khutbah 2 kudu kadenge ku ahli jum’ah anu 40
  10. Sakabehna khutbah 2 kudu tumiba dina waktu dzuhur. 

Ari Rukun Khutbah eta aya 5 :
  1. Maca hamdalah dina khutbah anu ka 1 jeung anu ka 2
  2. Maca sholawat ka Kangjeng Nabi dina khutbah anu ka 1 jeung anu ka 2
  3. Wasiat kalawan taqwa dina khutbah anu ka 1 jeung khutbah anu ka 2
  4. Maca ayat al-quran dina salahsahijina khutbah 2
  5. Ngaduakeun muslimin lalaki jeung muslimin awewe dina khutbah anu ka 2 

Ari Perkara anu wajib dipigawe kunu hirup manfaat keur Mayit eta aya 4 :
  1. Ngadusan mayit.
  2. Mungkusan mayit.
  3. Nyolatan mayit.
  4. Ngubur mayit. 

Ari saeutik-eutikna Ngadusan Mayit nyaeta : ngumbah kana sakabeh dzohir badana mayit 
Ari sampurna-sampurnana ngadusan mayit nyaeta : 
  1. Ngumbah kana gogoreng duana mayit.
  2. Ngaleungitkeun kana kokotor tina irungna mayit.
  3. Ngaruruan kana badana mayit bari make sabun.
  4. Ngocorkeun cai kana badana mayit kalawan 3 balikan. 

Ari saeutik-eutikna Mungkusan Mayit nyaeta: pakean anu bisa nutupan kana sakabeh badana mayit. 
Ari sampurna-sampurnana mungkusan mayit lalaki nyaeta 3 lapisan anu tuluy-tuluy. 
Ari sampurna-sampurnana mungkusan mayit awewe nyaeta 2 lapisan anu tuluy-tuluy ditambah ku gaganti samping, baju jeung tiung. 

Ari Rukun Nyolatan Mayit eta aya 7 : 
  1. Niat, dibarengkeun jeung takbirotul ihrom.
  2. Maca 4 kali takbiran.
  3. Nangtung ka jalma anu bisa kana nangtung.
  4. Maca fatihah.
  5. Maca sholawat ka kangjeng nabi saba’da takbir anu ka 2
  6. Ngaduakeun ka mayit saba’da takbir anu ka 3
  7. Uluk salam ka beulah katuhu saba’da takbir anu ka 4 

Ari saeutik-eutikna Ngubur Mayit nyaeta : sakedukan anu bisa nyumputkeun kana bauna mayit jeung bisa ngajaga ka mayit tina ancaman sato galak. 
Ari sampurna-sampurnana ngubur mayit nyaeta : satangtung jeung sabeber leungeun jalma anu meujeuhna. Pipina mayit kudu sina antel kana taneuh. Badana mayit kudu sina madep ka qiblat.

Ari Persababan anu matak ngawajibkeun kana Ngalina Mayit ti jero Kubur eta aya 4 : 
  1. Ku sabab rek diadusan lamun mayitna can barobah.
  2. Ku sabab rek disanghareupkeun ka qiblat lamun mayitna can barobah.
  3. Kusabab rek nyokot barang anu dikubur sartana mayit.
  4. Ku sabab reuneuhan mayit awewe anu pantes kana hirupna eta reuneuhan. 


Ari Warnaan Nulungan eta aya 4 :

  1. Nulungan anu dimeunangkeun, nyaeta : ngadekeutkeun cai ka bangsana jalma anu wudhu.
  2. Nulungan anu nyulayaan kana kautamaan, nyaeta : ngocorkeun cai ka bangsana jalma anu wudhu.
  3. Nulungan anu dimakruhkeun, nyaeta : ngocorkeun cai ka jalma anu ngumbah kana anggota wudhunana.
  4. Nulungan anu diwajibkeun, nyaeta : nulungan ka jalma anu gering nalika apes. 


Ari Harta banda anu wajib dikaluarkeun zakatna eta aya 6 :

  1. Ingon-ingon tegesna sato piaraan anu 3 rupa, nyaeta : Sapi / munding, Domba / embe, Onta.
  2. Emas- perak.
  3. Barang perpuluhan nyaeta tatanduran jeung bubuahan.
  4. Barang dagangan.
  5. Rikaz, tegesna emas – perak sisimpenan jalma zaman jahiliyah.
  6. Ma’din, tegesna emas-perak tina pangalaanana. 


Ari Syarat wajib ngaluarkeun zakat Ingon-Ingon eta aya 6 : 

  1. Islam.
  2. Merdeka (lain abid lain amat)
  3. Milik pribadi.
  4. Geus cukup nishob.
  5. Tepung tahun.
  6. Sato aburan. 


Ari Syarat wajib ngaluarkeun zakat Barang Dagangan jeung Emas-Perak eta aya 5 : 

  1. Islam.
  2. Merdeka.
  3. Milik pribadi.
  4. Geus cukup nishob.
  5. Tepung tahun. 


Ari Syarat wajib ngaluarkeun zakat Tatanduran jeung Bubuahan eta aya 4 : 

  1. Islam.
  2. Merdeka ( lain abid lain amat )
  3. Milik pribadi.
  4. Geus cukup nishob. 

Ari mimiti nishobna onta nyaeta 5 onta. 
Ari mimiti nishobna sapi atawa munding nyaeta 30 sapi atawa munding. 
Ari mimiti nishobna domba atawa embe nyaeta 40 domba atawa embe. 
Ari mimiti nishobna emas nyaeta 20 mitsqol. Zakatna 2,5% . 
Ari mimiti nishobna perak nyaeta 200 dirham.Zakatna 2,5 % . 
Ari mimiti nishobna barang perpuluhan – tatanduran saperti pare atawa bangsal eta 5 wasaq. 
  • Upama panyeboranana nganggo biaya zakatna 5%.
  • Upama panyeboranana teu nganggo biaya, zakatna 10%. 
Ari mimiti nishobna barang dagangan eta diukurkeun kana nishobna emas-perak. 

Ari Syarat Sahna Puasa eta aya 4 :
  1. Islam
  2. Boga akal
  3. Beresih tina hed jeung tina nifas.
  4. Nyaho kana kaayaan waktu anu narima dipuasaan. 

Ari Syarat Wajibna Puasa eta aya 5: 
  1. Islam.
  2. Baleg sarta boga akal.
  3. Kuat kana ngalakonan puasa.
  4. Cageur.
  5. Muqim. 

Ari Rukun Puasa eta aya 3 : 
  1. Niat ti peuting dina puasa fardhu.
  2. Ninggalkeun perkara anu matak ngabatalkeun kana puasa.
  3. Jalma anu puasana. 

Ari Perkara anu matak ngabatalkeun kana Puasa eta aya 10 : 
  1. Murtad.
  2. Gelo sanajan sagerebegan.
  3. Hed.
  4. Nifas.
  5. Ngabijilkeun mani.
  6. Ngawati.
  7. Ngahaja-haja utah.
  8. Ngubaran anu diasupkeun kana palawangan dua.
  9. Aya perkara anu asup kana popolongoan badan.
  10. Aya perkara anu asup kana jero beuteung. 

Ari Perkara anu asup kana jero beuteung bari teu matak ngabatalkeun kana puasa eta aya 7 : 
  1. Ku sabab poho.
  2. Ku sabab teu nyaho
  3. Ku sabab dipaksa
  4. Ku sabab aya ceuhil anu kabawa ku ciduh bari hese miceuna.
  5. Kekebul jalan.
  6. Kekebul tipung.
  7. Laleur atawa bangsana laleur anu hiber. 

Ari Hukum buka ti beurang dina bulan romadhon eta aya 4 : 
  1. Buka anu diwajibkeun, saperti bukana jalma anu hed jeung anu nifas.
  2. Buka anu diwenangkeun, saperti bukana jalma anu keur nyanyabaan atawa anu gering.
  3. Buka anu teu diwajibkeun jeung teu diwenangkeun , saperti bukana jalma anu gelo.
  4. Buka anu diharamkeun, saperti bukana jalma anu ngakhirkeun ngodhoan puasa bulan romadhon karana kedul, sahingga euweuh deui waktu pikeun ngodhoan. 

Ari Warnaan buka dina bulan romadhon eta aya 4 : 
  1. Buka anu wajib qodho wajib fidyah, nyaeta bukana jalma anu mikasieun timbulna kamadharatan anyar ka makhluk anu sejen lamun diteruskeun puasana jeung bukana jalma anu ngakhirkeun ngodhoan puasa bulan romadhon karana kedul, sahingga datang bulan romadhon anu sejen.
  2. Buka anu wajib qodho teu wajib fidyah, eta mah loba pisan. Saperti bukana jalma anu sakalor.
  3. Buka anu wajib fidyah teu wajib qodho, nyaeta bukana jalma anu lantaran banget kolotna sahingga geus teu aya kamampuan deui pikeun ngalakonan puasa jeung bukana jalma gering anu geus teu aya harapan cageur deuina.
  4. Buka anu teu wajib qodho teu wajib fidyah, nyaeta bukana jalma gelo anu sabab gelona lain ngahaja. 

Ari Persababan anu matak ngawajibkeun kana Puasa Romadhon eta aya 5: 
  1. Ku sabab geus sampurna bulan sya’ban 30 poe.
  2. Ku sabab ningali kana bulan pananggalan romadhon keur jalma anu ningalina.
  3. Ku sabab tetepna paningali kana bulan pananggalan romadhon kalawan persaksian jalma anu adil dina persaksianana keur jalma anu henteu ningali kana bulan pananggalan romadhon.
  4. Ku sabab aya berita asupna bulan pananggalan romadhon ti jalma anu bisa dipercaya atawa ti jalma anu kurang bisa dipercaya ngan pedah dina hate jalma nu narima berita leuwih gede sangkaan kana benerna eta berita.
  5. Ku sabab kuatna sangkaan kana asupna bulan romadhon kalawan hasil ijtihad keur jalma anu saliru asupna bulan romadhon.