BAITUSSALAM: Ilmu Tauhid
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Tauhid. Tampilkan semua postingan

10 Mabadi Ilmu Tauhid

Mabadi Ilmu Tauhid : Had, Maudhu, Tsamroh, Fadhlu, Nisbat, Wadhi, Ism, Istimdad, Hukum, Masalah

mabadi-ilmu-tauhid-hasyiyah-baijuri

baitussalam.web.id - Mari mengenal ilmu tauhid lebih dekat dengan mempelajari 10 mabadinya :

  1. Had (ta'rif, pengertian, definisi)
  2. Maudhu (tempat penggunaan, sasaran, ruang lingkup)
  3. Faedah (tsamroh, buah, hasil, tujuan, manfaat)
  4. Fadhlu (keunggulan, keutamaan, keistimewaan, kelebihan)
  5. Nisbat (hubungan dengan ilmu lain, link, tautan eksternal)
  6. Wadhi (peletak dasar-dasar, perintis, bapak ilmu)
  7. Ism (nama populer, sebutan, alias)
  8. Istimdad (istinbath, sumber pengambilan)
  9. Hukum Syara (hukum mempelajari, hukum menggunakan)
  10. Masalah (pembahasan, masalah, kaidah-kaidah)

1.Had Ilmu Tauhid

Menurut Syaikh Ibrahim al-Bajuri :

فَحَدُّهُ لُغَةً اَلَعِلْمُ بِأَنَّ الشَّيْءَ وَاحِدٌ وَشَرْعًا بِمَعْن اْلْفَنِّ الْمُدَوَّنِ عِلْمٌ يُبْحَثُ فِيْهِ عَنْ اِثْبَاتِ الْعَقَائِدِ الدِّيْنِيَةِ الْمُكْتَسَبِ مِنْ أَدِلَّتِهَا الْيَقِيْنِيَة

"Had Ilmu Tauhid menurut bahasa adalah : ilmu tentang bahwa sesuatu itu satu/ilmu tentang ke-esa-an. Menurut syara dalam pengertian fan yang dikodifikasikan : ilmu yang di dalamnya dibahas tentang menetapkan aqidah-aqidah diniyah yang dikasab dari dalil-dalilnya yang bersifat meyakinkan." (Hasyiyah al-Bajuri ala al-Sanusiyah Hal 9)

وَالتَّوْحِيْدُ لُغَةً اَلَعِلْمُ بِأَنَّ الشَّيْءَ وَاحِدٌ وَشَرْعًا بِمَعْن اْلْفَنِّ الْمُدَوَّنِ عِلْمٌ يُقْتَدَرُ بِهِ عَنْ اِثْبَاتِ الْعَقَائِدِ الدِّيْنِيَةِ الْمُكْتَسَبِ مِنْ أَدِلَّتِهَا الْيَقِيْنِيَة

"Tauhid menurut bahasa adalah : ilmu tentang bahwa sesuatu itu satu/ilmu tentang ke-esa-an. Menurut syara Menurut syara dalam pengertian fan yang dikodifikasikan : ilmu yang dengannya mampu memantapkan aqidah-aqidah diniyah yang dikasab dari dalil-dalilnya yang bersifat meyakinkan." (Tuhfah al-Murid ala Jauharoh al-Tauhid Hal 8)


Menurut Syaikh Ahmad al-Dardir :

عِلْمٌ يُقْتَدَرُ بِهِ عَلَى اِثْبَاتِ الْعَقَائِدِ الدِّيْنِيَةِ الْمُكْتَسَبِ مِنْ أَدِلَّتِهَا الْيَقِيْنِيَة

"Ilmu tauhid adalah : ilmu yang dengannya mampu untuk memantapkan aqidah-aqidah diniyah yang dikasab dari dalil-dalilnya yang bersifat meyakinkan." (al-Kharidah al-Bahiyah fi Aqa'id al-Diniyah. Hal 27)

2.Maudhu Ilmu Tauhid

Menurut Syaikh Ibrahim al-Bajuri :

وَمَوْضُوْعُهُ ذَاتُ اللّٰهِ وَذَاتُ رُسُلِهِ مِنْ حَيْثُ مَا يَجِبُ وَمَا يَسْتَحِيْلُ وَمَا يَجُوْزُ وَالْمُمْكِنُ مِنْ حَيْثُ اَنَّهُ يُسْتَدَلُّ بِهِ عَلى وُجُوْدِ صَانِعِهِ وَالسَّمْعِيَاتِ مِن حَيْثُ اعْتِقَادِهَا

Maudhu ilmu tauhid adalah :

  • Dzat Allah tentang sifat yang wajib, sifat yang mustahil dan sifat yang wenang.
  • Dzat Rasul-Rasul Allah tentang sifat yang wajib, sifat yang mustahil dan sifat yang wenang.
  • Mumkinat, tentang yang bisa dijadikan dalil-dalil akan keberadaan penciptanya.
  • Aqidah sam'iyat, tentang aqidah-aqidahnya.

(Hasyiyah al-Bajuri ala al-Sanusiyah Hal 9)

وَمَوْضُوْعُهُ ذَاتُ اللّٰهِ تَعَالَى مِنْ حَيْثُ مَا يَجِبُ وَمَا يَسْتَحِيْلُ وَمَا يَجُوْزُ وَذَاتُ رُسُلِ كَذٰلِكَ وَالْمُمْكِنُ مِنْ حَيْثُ اِنَّهُ يَتَوَصَّلُ بِهِ اِلى وُجُوْدِ صَانِعِهِ وَالسَّمْعِيَاتِ مِن حَيْثُ اعْتِقَادِهَا

Maudhu ilmu tauhid adalah :

  • Dzat Allah tentang sifat yang wajib, sifat yang mustahil dan sifat yang wenang.
  • Dzat Rasul-Rasul Allah tentang sifat yang wajib, sifat yang mustahil dan sifat yang wenang.
  • Mumkinat, tentang perkara yang dengannya sampai pada penciptanya.
  • Aqidah sam'iyat, tentang aqidah-aqidahnya.

(Tuhfah al-Murid ala Jauharoh al-Tauhid Hal 8)


Menurut Syaikh Ahmad al-Dardir :

وَمَوْضُوْعُهُ ذَاتُ الْإِلٰهِ تَعَالَى وَقِيْلَ الْمُمْكِنَاتِ وَقِيْلَ غَيْرَ ذَلِكَ

"Maudhu ilmu tauhid adalah Dzat Allah Ta'ala. Menurut sebuah pendapat : mumkinat. Menurut sebuah pendapat : bukan itu". (al-Kharidah al-Bahiyah fi Aqa'id al-Diniyah. Hal 27)

3.Tsamroh Ilmu Tauhid

Menurut Syaikh Ibrahim al-Bajuri :

وَثَمْرَتُهُ مَعْرِفَةُ صِفَاتِ اللّٰه وَرَسُولِهِ بِالْبَرَاهِيْنِ الْقَطْعِيَّة وَالْفَوْزِ بالسَّعَادَةِ الأَبَدِيَّةِ

"Tsamroh ilmu tauhid adalah : Jadi mengenal Allah dengan dalil-dalil yang bersifat pasti. Bahagia dengan kesenangan yang abadi di surga. (Hasyiyah al-Bajuri ala al-Sanusiyah Hal 9)

وَثَمْرَتُهُ مَعْرِفَةُ اللّٰه بِالْبَرَاهِيْنِ الْقَطْعِيَّة وَالْفَوْزِ بالسَّعَادَةِ الأَبَدِيَّةِ

"Tsamroh ilmu tauhid adalah : Jadi mengenal sifat-sifat Allah dan sifat-sifat RasulNya dengan dalil-dalil yang bersifat pasti. Bahagia dengan kesenangan yang abadi di surga. (Tuhfah al-Murid ala Jauharoh al-Tauhid Hal 9)


Menurut Syaikh Ahmad al-Dardir :

وَغَايَتُهُ مَعْرِفَةُ اللّٰه سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْفَوْزِ بالسَّعَادَةِ الأَبَدِيَّةِ

"Ghayah ilmu tauhid adalah : Jadi mengenal Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan Bahagia dengan kesenangan yang abadi di surga. (al-Kharidah al-Bahiyah fi Aqa'id al-Diniyah. Hal 28)


Menurut Syaikh Ahmad al-Shawi

وَفَائدَتُهُ مَعْرِفَةُ الْعَقَائدِ الصَّحِيْحَةِ وَالْفَاسِدَةِ

Faedahnya ilmu tauhid adalah jadi mengenal aqidah-aqidah yang shahih dan aqidah-aqidah yang fasid (Hasyiyah al-Shawi ala Kharidah al-Bahiyah Hal 27)

4.Fadhlu Ilmu Tauhid

Menurut Syaikh Ibrahim al-Bajuri :

وَفَضْلُهُ أَنَّهُ أَشْرَفُ الْعُلُوْمِ لِكَوْنِهِ مُتَعَلِّقًا بِذَاتِ اللّٰهِ تَعَالَى وَذَاتِ رُسُلِهِ وَمَا يَتْبَعُ ذٰلِكَ وَالمُتَعَلِّقُ بكسر اللام يَشْرَفُ بِشَرَفِ الْمُتَعَلَّقِ

Fadhlunya ilmu tauhid adalah bahwasanya ilmu tauhid merupakan ilmu paling mulia dikarenakan statusnya berhubungan dengan Dzat Allah Ta'ala, Rasul-Rasulnya dan hal-hal lain yang jadi sisi lain pembahasannya. Sedangkan المُتَعَلِّقُ menjadi mulia karena kemuliaan الْمُتَعَلَّقِ nya. (Hasyiyah al-Bajuri ala al-Sanusiyah Hal 9)

وَفَضْلُهُ أَنَّهُ أَشْرَفُ الْعُلُوْمِ لِكَوْنِهِ مُتَعَلِّقًا بِذَاتِ اللّٰهِ تَعَالَى وَذَاتِ رُسُلِهِ وَمَا يَتْبَعُ ذٰلِكَ وَالمُتَعَلِّقُ بكسر اللام يَشْرَفُ بِشَرَفِ الْمُتَعَلَّقِ بفتحها

Fadhlunya ilmu tauhid adalah bahwasanya ilmu tauhid merupakan ilmu paling mulia dikarenakan statusnya berhubungan dengan Dzat Allah Ta'ala, Rasul-Rasulnya dan hal-hal lain yang jadi sisi lain pembahasannya. Sedangkan المُتَعَلِّقُ menjadi mulia karena kemuliaan الْمُتَعَلَّقِ nya. (Tuhfah al-Murid ala Jauhar al-Tauhid Hal 9)

5.Nisbat Ilmu Tauhid

Menurut Syaikh Ibrahim al-Bajuri :

وَنِسْبَتُهُ أَنَّهُ أَصْلُ الْعُلُوْمِ وَمَاسِوَاهُ فَرْعْ عَنْهُ

Hubungan ilmu tauhid dengan ilmu lain adalah bahwasanya ilmu ini merupakan batang pohonnya ilmu, sementara ilmu selainnya ranting darinya. (Hasyiyah al-Bajuri ala al-Sanusiyah Hal 9)

وَنِسْبَتُهُ أَنَّهُ أَصْلُ الْعُلُوْمِ وَمَاسِوَاهُ فَرْعْ

Hubungan ilmu tauhid dengan ilmu lain adalah bahwasanya ilmu ini merupakan batang pohonnya ilmu, sementara ilmu selainnya ranting. (Tuhfah al-Murid ala Jauhar al-Tauhid Hal 9)

6.Wadhi Ilmu Tauhid

Menurut Syaikh Ibrahim al-Bajuri :

وَوَاضِعٌهُ أُبُو الحَسَنِ الأَشْعَاري وَمُتَابِعُوْهُ وُأَبُو مَنْصُورِ الْمَاتُرِيْدِي وَمُتَابِعُوْهُ

Wadhi ilmu tauhid adalah Abu Hasan Al-Asy'ari beserta pengikutnya dan Abu Manshur al-Maturidi beserta pengikutnya. (Hasyiyah al-Bajuri ala al-Sanusiyah Hal 9)

وَوَاضِعٌهُ أُبُو الحَسَنِ الأَشْعَاري وَمَنْ تَبِعَهُ وُأَبُو مَنْصُورِ الْمَاتُرِيْدِي وَمَنْ تَبِعَهُ بِمَعْنَى أَنَّهُمْ دَوَّنُوْا كُتُبَهُ وَرَدُّوْا الشُّبْهَ الَّتِيْ أَوْرَدَتْهَا الْمُعْتَزِلَةُ 

وَإلَّا  فَالتَّوْحِيْدُ جَاءَ بِهِ كُلُّ نَبِيٍّ مِنْ لَدُنِّ آدَمَ

Wadhi ilmu tauhid adalah Abu Hasan Al-Asy'ari beserta pengikutnya dan Abu Manshur al-Maturidi beserta pengikutnya. Dalam konteks bahwasanya mereka mengkodifikasikan kitab-kitabnya dan menolak pemahaman yang keliru yang didatangkan oleh mu'tazilah.

Jika yang dimaksud bukan dalam konteks itu, maka setiap Nabi dari zaman Nabi Adam telah datang membawa tauhid. (Tuhfah al-Murid ala Jauhar al-Tauhid Hal 9)

7.Ism Ilmu Tauhid

Menurut Syaikh Ibrahim al-Bajuri :

وَاِسْمُهُ عِلْمُ التَّوْحِيْدِ وَعِلْمُ الْكَلَامِ وَذَكَرَ بَعْضُهُمْ أَنَّ لَهُ ثَمَانِيَةُ أَسْمَاءٍ

"Nama populer ilmu tauhid adalah Ilmu Tauhid & Ilmu Kalam. Sebagian ulama menceritakan bahwa ilmu tauhid ini memiliki 8 nama". (Hasyiyah al-Bajuri ala al-Sanusiyah Hal 9)

وَاِسْمُهُ عِلْمُ التَّوْحِيْدِ لِأنَّ مَبْحَثَ الْوَحْدَانِيَةِ أَشْهَرُ مَبَاحِثِهِ وَيُسَمَّى أَيْضًا عِلْمُ الْكَلَامِ لِأَنَّ الْمُتَقَدِّمِيْنَ كَانُوا يَقُولُوْنَ فِي التَّرْجَمَةِ عَنْ مَبَاحِثِهِ الْكَلَامَ فِي كَذَا أَوْ لِأَنَّهُ قَدْ كَثُرَ الْإِخْتِلَافُ فِي مَسْئَلَةِ الْكَلَامِ وَذَكَرَ بَعْضُهُمْ أَنَّ لَهُ ثَمَانِيَةُ أَسْمَاءٍ

"Nama populer ilmu tauhid adalah Ilmu Tauhid, karena pembahasan tentang sifat wahdaniyat merupakan pembahasan yang paling populer. Ilmu ini juga dinamakan Ilmu Kalam, karena ulama mutaqaddimin mereka mengatakan " الْكَلَامَ فِي كَذَا "dalam menterjemahkan pembahasannya, atau karena bahwasanya telah banyak perbedaan pendapat pada permasalahan sifat kalam. Sebagian ulama menceritakan bahwa ilmu tauhid ini memiliki 8 nama". (Tuhfah al-Murid ala Jauhar al-Tauhid Hal 9)

Menurut Syaikh Ahmad al-Dardir :

وَهُوَ فَنُّ عَقَائِدِ الْإِيْمَانِ يُسَمَّى عِلْمُ التَّوْحِيْدِ وَعِلْمُ أُصُوْلِ الدِّيْنِ وَعِلْمُ الْعَقَائِدِ

Kitab ini adalah fan aqa'idul iman yang dinamakan ilmu tauhid, ilmu ushuluddin dan ilmu aqa'id. (al-Kharidah al-Bahiyah fi Aqa'id al-Diniyah. Hal 27)

8.Istimdad Ilmu Tauhid

Menurut Syaikh Ibrahim al-Bajuri :

وَاسْتِمْدَادُهُ مِنَ الْأَدِلَّةِ الْعَقْلِيَّةِ والنَّقْلِيَّةِ

"Istimdad ilmu tauhid adalah dari dalil-dalil aqliyah dan dalil-dalil naqliyah". (Hasyiyah al-Bajuri ala al-Sanusiyah Hal 9)

وَاسْتِمْدَادُهُ مِنَ الْأَدِلَّةِ الْعَقْلِيَّةِ والنَّقْلِيَّةِ

"Istimdad ilmu tauhid adalah dari dalil-dalil aqliyah dan dalil-dalil naqliyah". (Tuhfah al-Murid ala Jauhar al-Tauhid Hal 9)


Menurut Syaikh Ahmad al-Shawi :

وَاسْتِمْدَادُهُ مِنَ الكِتَاب وَالسُّنَّةِ وَالْعَقْلِ

"Istimdad ilmu tauhid adalah dari Kitab Allah, Sunnah Rasulullah dan aqli" (Hasyiyah al-Shawi ala Kharidah al-Bahiyah Hal 27)

9.Hukum Ilmu Tauhid

Menurut Syaikh Ibrahim al-Bajuri :

وَحُكْمُ الشَّارِعُ فِيْهِ  الْوُجُوْبُ الْعَيْنِيُّ عَلُى كُلِّ مُكَلَّفٍ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى

"Hukum syara pada mempelajari ilmu tauhid adalah wajib ain kepada setiap mukallaf baik laki-laki maupun perempuan". (Hasyiyah al-Bajuri ala al-Sanusiyah Hal 9)

وَحُكْمُ الشَّارِعُ فِيْهِ  الْوُجُوْبُ الْعَيْنِيُّ عَلُى كُلِّ مُكَلَّفٍ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى

"Hukum syara pada mempelajari ilmu tauhid adalah wajib ain kepada setiap mukallaf baik laki-laki maupun perempuan". (Tuhfah al-Murid ala Jauhar al-Tauhid Hal 9)

10.Masalah Ilmu Tauhid

Menurut Syaikh Ibrahim al-Bajuri :

وَمَسَائِلُهُ قَضَايُاهُ الْبَاحِثَةُ عَنِ الْوَاجِبَاتِ وَالْجَائِزَةِ وَالْمُسْتَحِيْلَاتِ

"Masalah ilmu tauhid adalah qodhiyah-qodhiyahnya yang membahas perkara wajibat, ja’izat dan mustahilat". (Hasyiyah al-Bajuri ala al-Sanusiyah Hal 9)

وَمَسَائِلُهُ قَضَايُاهُ الْبَاحِثَةُ عَنِ الْوَاجِبَاتِ وَالْجَائِزَةِ وَالْمُسْتَحِيْلَاتِ

"Masalah ilmu tauhid adalah qodhiyah-qodhiyahnya yang membahas perkara wajibat, ja’izat dan mustahilat". (Tuhfah al-Murid ala Jauhar al-Tauhid Hal 9)

Daftar Pustaka

Syaikh Ibrahim al-Bajuri. Hasyiyah al-Bajuri ala al-Sanusiyah Hal 9 & Tuhfah al-Murid ala Jauharah al-Tauhid Hal 8-9

Syaikh Ahmad al-Dardir. al-Kharidah al-Bahiyah fi Aqa'id al-Diniyah. Hal 27-28

Syaikh Ahmad al-Shawi. Hasyiyah al-Shawi ala al-Kharidah al-Bahiyah Hal 27-28

Aqo'idul Iman - Buku Mulok Yayasan Baitussalam Sukapala

ASSALAMU ALAIKUM WR WB
Redaksi Aqoidul Iman ydan Fiqih Rurukunan yang dipublikasikan di https://www.baitussalam.web.id ini dikutip dari Buku Mulok Yayasan Baitussalam Sukapala. Materi ini sebenarnya sudah menjadi hapalan wajib selama puluhan tahun, bahkan jauh sebelum Yayasan Baitussalam didirikan. Materi dengan redaksi seperti ini diajarkan kepada kami sebagai hapalan wajib oleh Guru kami tercinta Almarhum Mama Kyai Haji Muhyidin (wafat 1993 M). Kami kemudian memasukan materi ini ke dalam Buku Mulok Yayasan Baitussalam Sukapala sebagai materi hapalan yang paling diprioritaskan dari materi-materi hapalan lainnya. Redaksi artikel ini mengikuti sebagaimana redaksi aslinya yang terdapat pada Buku Mulok Yayasan Baitussalam Sukapala, tentunya dengan sedikit penyesuaian dari segi layout sebagaimana layaknya artikel pada umumnya. Tujuan utama dipublikasikannya materi ini secara online di situs ini adalah sebagai alternatif bagi santri yang tidak sedang memegang buku hapalan. Oleh karena ini bersifat alternatif, maka kami sarankan agar semua santri tetap menggunakan buku asli sebagai rujukan hapalan sehari-hari. Selamat belajar online, semoga bermanfaat. 
WASSALAMU ALAIKUM WR WB

بسم الله الرحمن الرحيم

BAB I 
HUKUM AKAL 


Wajib ka sakabeh jalma balegh sarta boga akal kudu nganyahokeun aqo’idul iman anu 50. Tapi samemeh nganyahokeun eta elmu kamistian kudu nganyahokeun heula hukum akal anu 3 : 1)Wajib akal, 2)Mustahil akal, 3)Wenang akal. 

Ari ngaran wajib akal nyaeta: 
مَا لَا يُتَصَوَّرُ فِي الْعَقْلِ عَدَمُهُ 
Hartosna : Mana-mana perkara anu henteu kaharti ku akal kana euweuhna balik kahartina teh kudu aya bae. 

Ari wajib akal eta kabagi kana 2 bagian : 

Ka-1 Wajib akal dhoruri, nyaeta mana-mana perkara anu ujug-ujug kaharti ku akal bari teu kudu difikir jeung teu kudu didalilan heula, saperti ngalap tempatna jirim satempateunana. Eta akal moal ngartieun lamun disebutkeun aya jirim henteu ngalap tempat, karana sakur-sakur jirim eta kudu ngalap tempat bae. 

Ka-2 Wajib akal nadzori, nyaeta mana-mana perkara anu henteu kaharti ku akal anging kahartina teh kudu difikir jeung kudu didalilan heula, saperti wajib qidam, wajib baqo jeung saterusna ka Allah Taala, eta akal ngartina jeung netepkeunana tawaquf kana nganadzor dali-dalilna heula. 

Ari ngaran mustahil akal nyaeta: 
مَا لَا يُتَصَوَّرُ فِي الْعَقْلِ وُجُوْدُهُ 
Hartosna : Mana-mana perkara anu henteu kaharti ku akal kana ayana balik kahartina teh kudu euweuh bae. 

Ari mustahil akal eta kabagi kana 2 bagian : 

Ka-1 Mustahil akal dhoruri, nyaeta mana-mana perkara anu ujug-ujug kaharti ku akal bari teu kudu difikir jeung teu kudu didalilan heula, saperti mustahil aya jirim henteu usik henteu cicing, kalawan bareng dina hiji waktu. 

Ka-2 Mustahil akal nadzori, nyaeta mana-mana perkara anu henteu kaharti ku akal anging kahartina teh kudu difikir jeung kudu didalilan heula, saperti mustahil Allah Ta’ala anyar atawa apes jeung bangsana, eta akal ngartina jeung netepkeunana sangges mapay dalil-dalilna heula. 

Ari ngaran wenang akal nyaeta:
 مَا يَصِحُّ فِي الْعَقْلِ وُجُوْدُهُ وَعَدَمُهُ 
Hartosna : Mana-mana perkara anu kaharti ku akal kana ayana jeung euweuhna. 

Ari wenang akal eta kabagi kana 2 bagian : 

Ka-1 Wenang akal dhoruri, nyaeta mana-mana perkara anu ujug-ujug kaharti ku akal bari teu kudu difikir jeung teu kudu didalilan heula, saperti wenang jirim usik atawa cicing. 

Ka-2 Wenang akal nadzori, nyaeta mana-mana perkara anu henteu kaharti ku akal anging kahartina teh kudu difikir jeung kudu didalilan heula, saperti wenang Allah nyiksa kanu bakti ngaganjar kanu ma’siyat. Eta akal moal ngartieun, Kajaba kudu cukup nganyahokeun dalil-dalil wahdaniyatna Allah. Sahingga nepi ka nyaho bener, yen sadaya alam eta kagungan Allah damel Allah. Henteu aya hiji perkara salian Allah anu bisa mere tapak sama sakali. Jadi lazimna tina eta kaayaan akal bisa ngarti jeung netepkeun kana yen : perkara kufur, ma’siyat, iman, thoat eta sarua bae mungguh akal ka Allah. Sarta ciri hiji-hijina beunang dijieun ciri kanu sejen-sejen. Jeung tangtu akal bisa ngarti jeung netepkeun kana yen mustahil Allah Ta’ala kasifatan dzolim masing ngadamel kumaha bae oge atawa naon bae oge, karana ari anu disebut dzolim nyaeta ngajalankeun hiji perkara lain dina hakna. Barang sakabeh makhluk eta kagungan Allah damel Allah, Jadi mustahil aya dzolim ka Allah. Jadi ceuk beubeunangan akal mah eta sah aya ganjaran atawa siksaan ka unggal-unggal jalma mu’min atawa ka saban-saban jalma kafir. Barang ganjaran surga tangtu ka jalma mu’min anu tho’at, siksa naraka tangtu ka jalma kafir jeung ka jalma mu’min anu ma’siat. Eta mah lain kalawan panetepkeun akal, balik samata-mata kurniana Allah jeung nugrahana jeung adilna, anu ditetepkeun kalawan syara’ kalawan janjina Allah jeung ancamanana. Nu kalawan nugrahana milih netepkeun ganjaran surga ka jalma mu’min anu tho’at, cara kalawan adilna milih netepkeun siksa naraka ka jalma kafir jeung ka jalma mu’min anu ma’siyat. 

BAB II
AQO’IDUL IMAN 


Ari sifat anu wajib di Allah eta aya 20, anu mustahil di Allah 20, anu wenang 1, jadi 41. Anu wajib di Rosul 4, anu mustahil di Rosul 4, anu wenang 1, jadi 9. 9 jeung 41 jadi jumlah lobana Aqo’idul Iman anu wajib dikanyahokeun kalawan tafshil eta aya 50. 

--< SIFAT ALLAH >--


Ari SIFAT ANU WAJIB DI ALLAH anu 20 teh nyaeta : 
  1. Sifat Wujud. Hartosna: Aya Allah.
  2. Sifat Qidam. Hartosna: Ayana Allah bari henteu aya mimitina.
  3. Sifat Baqo. Hartosna: Ayana Allah bari henteu aya tungtungna.
  4. Sifat Mukholafatullilhawaditsi. Hartosna: Beda Allah jeung sakabeh anu anyar.
  5. Sifat Qiyamuhu binafsihi. Hartosna: Sugih Allah henteu butuh kana dzat sareng henteu butuh kanu ngayakeun.
  6. Sifat Wahdaniyat. Hartosna: Nyalira Allah henteu bingbilangan dina dzatna, dina sifatna sareng dina padamelanana.
  7. Sifat Qudrot. Hartosna: Kawasa Allah kana ngayakeun sakabeh mumkin.
  8. Sifat Irodat. Hartosna: Keresa Allah kana ngadamel sakabeh mumkin.
  9. Sifat ‘Ilmu. Hartosna: Uninga Allah kana sagala perkara anu wajib, anu mustahil sareng anu wenang.
  10. Sifat Hayat. Hartosna: Hirup Allah kalayan sanes ku roh.
  11. Sifat Sama'. Hartosna: Ngadangu Allah kalayan sanes ku cepil.
  12. Sifat Bashor. Hartosna: Ningali Allah kalayan sanes ku soca.
  13. Sifat Kalam. Hartosna: Ngadawuh Allah kalayan sanes ku aksara sareng sanes ku suara.
  14. Sifat Kaunuhu Qodiron. Hartosna: Kaayaan Allah anu kawasa.
  15. Sifat Kaunuhu Muridan. Hartosna: Kaayaan Allah anu keresa.
  16. Sifat Kaunuhu ‘Aliman. Hartosna: Kaayaan Allah anu uninga.
  17. Sifat Kaunuhu Hayyan. Hartosna: Kaayaan Allah anu hirup.
  18. Sifat Kaunuhu Sami’an. Hartosna: Kaayaan Allah anu ngadangu.
  19. Sifat Kaunuhu Bashiron. Hartosna: Kaayaan Allah anu ningali.
  20. Sifat Kaunuhu Mutakalliman. Hartosna: Kaayaan Allah anu ngadawuh. 

Ari ieu Sifat anu 20 eta kabagi kana 4 bagian, nyaeta : 
1).Sifat Nafsiyyah.
2).Sifat Salbiyyah.
3).Sifat Ma’aniy.
4).Sifat Ma’nawiyyah.

Ari anu kaasup kana Sifat Nafsiyyah eta ngan 1 Sifat, nyaeta Sifat Wujud.
Ari sababna numatak ieu Sifat anu 1 diasupkeun kana Sifat Nafsiyyah, lantaran ta’aluqna ieu Sifat ngan kana Dzat wungkul.

Ari anu kaasup kana Sifat Salbiyyah eta aya 5 Sifat, nyaeta :
  1. Sifat Qidam.
  2. Sifat Baqo.
  3. Sifat Mukholafatullilhawaditsi.
  4. Sifat Qiyamuhu binafsihi.
  5. Sifat Wahdaniyat. 

Ari sababna numatak ieu Sifat anu 5 diasupkeun kana Sifat Salbiyyah, lantaran ma’nana ieu Sifat anu 5 bangsa ngeuweuhkeun, nyaeta :
  • Hartosna Qidam : Ayana Allah bari henteu aya mimitina.
  • Hartosna Baqo : Ayana Allah bari henteu aya tungtungna.
  • Hartosna Mukholafatullilhawaditsi : Beda Allah jeung sakabeh anu anyar.
  • Hartosna Qiyamuhu Binafsihi : Sugih Allah henteu butuh kana dzat sareng henteu butuh kanu ngayakeun.
  • Hartosna Wahdaniyat : Nyalira Allah henteu bingbilangan dina Dzatna, dina Sifatna sareng dina padamelanana. 

Ari anu asup kana Sifat Ma’aniy eta aya 7 sifat, nyaeta :
  1. Sifat Qudrot.
  2. Sifat Irodat.
  3. Sifat ‘Ilmu.
  4. Sifat Hayat.
  5. Sifat Sama’.
  6. Sifat Bashor.
  7. Sifat Kalam. 
Ari sababna numatak ieu Sifat anu 7 diasupkeun kana Sifat Ma’aniy, lantaran ma’nana ieu Sifat anu 7 bangsa aya, anu tumapel kana Dzat. Sakira-kira lamun dibuka hijab tegesna halang-halang, eta tangtu bisa nenjo panon urang kana hiji-hijina ieu Sifat anu 7 

Ari anu asup kana Sifat Ma’nawiyyah eta aya 7 Sifat, nyaeta :
  1. Sifat Kaunuhu Qodiron.
  2. Sifat Kaunuhu Muridan.
  3. Sifat Kaunuhu Aliman.
  4. Sifat Kaunuhu Hayyan.
  5. Sifat Kaunuhu Sami’an.
  6. Sifat Kaunuhu Bashiron.
  7. Sifat Kaunuhu Mutakalliman. 
Ari sababna numatak ieu Sifat anu 7 diasupkeun kana Sifat Ma’nawiyyah padahal ari lafadz Ma’nawiyyyah teh eta nisbatna lafadz Ma’aniy, lantaran antara Sifat Ma’nawiyyah jeung Sifat Ma’aniy eta patali, ari patalina kieu : 
  • Satiap-tiap dina Dzat aya Sifat Kawasa, eta tangtu dina Dzat kudu aya Sifat Anu Kawasa.
  • Satiap-tiap dina Dzat aya Sifat Keresa, eta tangtu dina Dzat kudu aya Sifat Anu Keresa.
  • Satiap-tiap dina Dzat aya Sifat Uninga, eta tangtu dina Dzat kudu aya Sifat Anu Uninga.
  • Satiap-tiap dina Dzat aya Sifat Hirup, eta tangtu dina Dzat kudu aya Sifat Anu Hirup.
  • Satiap-tiap dina Dzat aya Sifat Ngadangu, eta tangtu dina Dzat kudu aya Sifat Anu Ngadangu.
  • Satiap-tiap dina Dzat aya Sifat Ningali, eta tangtu dina Dzat kudu aya Sifat Anu Ningali.
  • Satiap-tiap dina Dzat aya Sifat Ngadawuh, eta tangtu dina Dzat kudu aya Sifat Anu Ngadawuh. 

Ari ieu Sifat anu 20 eta kabagi deui kana 2 bagian : 
  • Bagian ka-1 Istighna
  • Bagian ka-2 Iftiqor. 

Ari anu asup kana Istighna eta aya 11 Sifat, nyaeta : 
  1. Sifat Wujud.
  2. Sifat Qidam.
  3. Sifat Baqo.
  4. Sifat Mukholafatullilhawaditsi.
  5. Sifat Qiyamuhu Binafsihi.
  6. Sifat Sama’.
  7. Sifat Bashor.
  8. Sifat Kalam.
  9. Sifat Kaonuhu Sami’an.
  10. Sifat Kaonuhu Bashiron.
  11. Sifat Kaonuhu Mutakalliman. 
Ari sababna numatak ieu Sifat anu 11 diasupkeun kana Istigna, karana harti Istigna didieu: sugihna Pangeran henteu butuh kanu sejen. Jadi aya makhluk jeung euweuhna makhluk eta sarua bae henteu matak jadi untung henteu matak jadi rugi ka Pangeran. Samangsa Pangeran sugih henteu butuh ka makhluk, eta tangtu Pangeran teh :
  • Kudu Aya ulah Euweuh.
  • Kudu Tiheula ulah Anyar.
  • Kudu Langgeng ulah Ruksak.
  • Kudu Beda jeung sakabeh anu anyar ulah Nyarupaan ka sakabeh anu anyar.
  • Kudu Sugih kalawan mutlak ulah Butuh kanu sejen.
  • Kudu Ngadangu ulah Torek.
  • Kudu Ningali ulah Lolong.
  • Kudu Ngadawuh ulah Pireu.
  • Kudu Anu Ngadangu ulah Anu Torek.
  • Kudu Anu Ningali ulah Anu Lolong.
  • Kudu Anu Ngadawuh ulah Anu Pireu. 
Karana lamun euweuh salahsahijina ieu Sifat anu 11, eta tangtu Pangeran teh butuheun ka makhluk. 

Ari anu asup kana Iftiqor eta aya 9 Sifat, nyaeta :
  1. Sifat Wahdaniyat.
  2. Sifat Qudrot.
  3. Sifat Irodat.
  4. Sifat ‘Ilmu.
  5. Sifat Hayat.
  6. Sifat Kaonuhu Qodiron.
  7. Sifat Kaonuhu Muridan.
  8. Sifat Kaonuhu Aliman.
  9. Sifat Kaonuhu Hayyan. 
Ari sababna numatak ieu Sifat anu 9 diasupkeun kana Iftiqor, karana harti Iftiqor di dieu: butuhna makhluk ka Pangeran. Tegesna moal pati-pati aya makhluk lamun henteu didamel ku Pangeran. Samangsa Pangeran dipake kabutuh ku makhluk, eta tangtu Pangeran teh :
  • Kudu Hiji ulah Leuwih.
  • Kudu Kawasa ulah Apes.
  • Kudu Keresa ulah Kapaksa.
  • Kudu Uninga ulah Bodo.
  • Kudu Hirup ulah Maot.
  • Kudu Anu Kawasa ulah Anu Apes.
  • Kudu Anu Keresa ulah Anu Kapaksa.
  • Kudu Anu Uninga ulah Anu Bodo.
  • Kudu Anu Hirup ulah Anu Maot. 
Karana lamun euweuh salahsahijina ieu Sifat anu 9, eta tangtu Pangeran teh moal dipake kabutuh ku makhluk. 

Ari SIFAT ANU MUSTAHIL DI ALLAH anu 20 teh nyaeta :
  1. Euweuhna Allah.
  2. Anyarna Allah.
  3. Ruksakna Allah.
  4. Nyarupaan Allah ka sakabeh anu anyar.
  5. Butuhna Allah ka makhluk.
  6. Bingbilangan Allah.
  7. Apesna Allah.
  8. Kapaksana Allah.
  9. Bodona Allah.
  10. Maotna Allah.
  11. Torekna Allah.
  12. Lolongna Allah.
  13. Pireuna Allah.
  14. Kaayaan Allah Anu Apes.
  15. Kaayaan Allah Anu Kapaksa.
  16. Kaayaan Allah Anu Bodo.
  17. Kaayaan Allah Anu Maot.
  18. Kaayaan Allah Anu Torek.
  19. Kaayaan Allah Anu Lolong.
  20. Kaayaan Allah Anu Pireu. 

Ari SIFAT ANU WENANG DI ALLAH anu 1 teh nyaeta : 
Wenang Allah ngadamel mumkin atawa tinggal ngadamelna, sabab henteu matak jadi untung henteu matak jadi rugi ka Pangeran. Ari ngaran Mumkin nyaeta : mana-mana perkara anu sarua ayana jeung euweuhna, sok pada uga hade atawa goreng. Ari ngaran hade nyaeta : mana-mana perkara anu henteu dicacad ku syara’, saperti wajib, sunat jeung wenang. Ari ngaran goreng nyaeta : mana-mana perkara anu dicacad ku syara’, saperti haram, makruh jeung khilaful aola.

--< DALIL SIFAT ALLAH >-- 


Ari dalilna yen Allah Ta’ala wajib kasifatan ku Sifat Wujud tegesna Aya, karana aya alam. Numatak aya alam jadi dalil kana ayana Alloh Ta’ala, karana alam teh anyar. Samangsa anyar tangtu aya anu nganyarkeun, karana henteu sah anyar ku awakna sorangan. Ari anu nganyarkeun teh tangtu aya, moal kaharti euweuhna ku akal. Sareng menurut dawuhan Allah : 
اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا (السّجدة٤ 
Hartosna: Ari Allah eta Dzat anu Ngadamel langit sareng bumi sareng perkara anu aya antara langit sareng bumi (sapalihna nyaeta jalmi) 
Tina margi kitu, wajib kasakabeh jalma ulah poho-poho hatena ka Allah anu midamel manehanana. 

Ari dalilna yen Allah Ta’ala wajib kasifatan ku Sifat Qidam tegesna Tiheula bari henteu aya mimitina, karana eta ceuk akal lamun dikira-kirakeun Allah Ta’ala henteu Qidam, tangtu anyar. Samangsa anyar tangtu aya anu nganyarkeun. Kitu deui anu nganyarkeun teh karep kanu nganyarkeun deui. Jadi balukarna teh daor atawa tasalsul.
  • Ari hartina daor nyaeta muter, tegesna silih jieun. Saperti : Ki Zaed nyieun Ki Amar, Ki Amar nyieun Ki Bakar, Ki Bakar nyieun Ki Zaed.
  • Ari hartina tasalsul nyaeta rante-rante, tegesna henteu aya tungtungna. Padahal ari daor atawa tasalsul eta henteu kaharti ku akal. Sareng menurut dawuhan Allah : 
هُوَ الأَوَّلُ وَالأٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ (الحديد٣ 
Hartosna: Ari Allah eta Dzat anu Awal henteu aya mimitina, anu Akhir henteu aya tungtungna, anu Dzohir Sifat-Sifatna, anu Bathin Dzatna. 
Tina margi kitu, wajib ka sakabeh jalma kulantaran aya mimitina, samat- mata diayakeun ku Allah. Kudu syukuran ka Allah tina lantaran diayakeun. Ari syukuranana nyaeta kalawan tho’at ibadah ka Allah. 

Ari dalilna yen Allah Ta’ala wajib kasifatan ku Sifat Baqo tegesna Langgeng, karana eta ceuk akal lamun dikira-kirakeun Allah Ta’ala ruksak, tangtu moal Qidam, karana ari anu keuna ku ruksak tea eta wenang ayana lain wajib. Padahal ari anu wenang ayana teh eta anyar. Tapi henteu kaharti anyarna Allah Ta’ala, karana tadi geus dicaritakeun yen Allah Ta’ala wajib kasifatan ku Sifat Qidam tegesna Tiheula bari teu aya mimitina. Sareng menurut dawuhan Allah : 
وَيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُوالْجَلالِ وَالإِكْرَام (الرّحمن٢٧ِ 
Hartosna: Sareng Langgeng Dzatna Allah anu Agung sareng anu Mulya.(Beda deui jeung dzatna makhluk, eta mah aya tungtungna) 
Tina margi kitu, wajib ka sakabeh jalma ulah poho-poho hatena kana maot, supaya ulah lalawora kana ibadah buat bawaeun maot. 
Ari dalilna yen Allah Ta’ala wajib kasifatan ku Sifat Mukholafatullilhawaditsi tegesna Beda Allah jeung sakabeh anu anyar, karana eta ceuk akal lamun dikira-kirakeun Allah Ta’ala sarupa jeung nu anyar, tangtu anyar. Tapi henteu kaharti ku akal anyarna Allah Ta’ala, karana tadi geus dicaritakeun yen Allah Ta’ala wajib Qidam wajib Baqo. Sareng menurut dawuhan Allah :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ (الشورى١١
Hartosna: Henteu aya hiji perkara anu nyarupaan ka Allah, sareng ari Allah eta Dzat anu Ngadangu tur Dzat anu Ningali. 
Tina margi kitu, wajib ka sakabeh jalma kudu ngalobakeun tho’at ibadah ka Allah supaya meunang karidhoan jeung rohmat Allah. 

Ari dalilna yen Allah Ta’ala wajib kasifatan ku Sifat Qiyamuhu Binafsihi tegesna Sugih Allah henteu butuh kana dzat jeung henteu butuh kanu ngayakeun, karana eta ceuk akal lamun dikira-kirakeun Allah Ta’ala butuh kana dzat tangtu sifat, sedengkeun ari sifat tea eta henteu sah bersifat ku Sifat Ma’aniy jeung Sifat Ma’nawiyyah, padahal Allah mah bersifat ku Sifat Ma’aniy jeung Sifat Ma’nawiyyah. ana kitu Allah teh Dzat lain Sifat. Sareng menurut dawuhan Allah :
اِنَّ اللهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ (العنكبوت ٦
Hartosna: Saenya-enyana ari Allah eta Dzat anu Sugih henteu butuh kana sakabeh alam.(Sabalikna sakabeh alam butuheun ka Allah) 
Tina margi kitu, wajib ka sakabeh jalma kudu rumasa fakir, dh’iof, hina, kurang, sarta kudu ngalobakeun du’a ka Gusti Allah , supaya dipaparin kacukupan, kabagjaan dunya akherat. 

Ari dalilna yen Allah Ta’ala wajib kasifatan ku Sifat Wahdaniyat tegesna Nyalira Allah henteu bingbilangan dina Dzatna, dina Sifatna sareng dina padamelanana, karana eta ceuk akal lamun dikira-kirakeun Allah Ta’ala bingbilangan dua atawa tilu, tangtu moal aya alam. Padahal alam geus maojud katembong ku panon. Ana kitu Pangeran teh hiji henteu leuwih. 
Ari jalanna ceuk dikira-kirakeun aya Pangeran dua, eta henteu suwung-suwung bicarana, “ Imma Ittifaq wa imma ikhtilaf “. 
Lamun ittifaq Pangeran dua tegesna sarua pada rek ngayakeun alam, tangtu kumpul anu ngalebetan dua, lebetna ngan sahiji. Eta kitu teh henteu kaharti ku akal. 
Lamun ikhtilaf Pangeran dua tegesna pasalia, nu saurang rek ngayakeun alam, nu saurang deui moal ngayakeun alam, tangtu apes salahsahijina Pangeran dua. Padahal dikira-kirakeun geus sarua pada pangkat Pangeran, teu umum apes salah sahijina Pangeran dua. Ana kitu Pangeran teh hiji henteu leuwih. Sareng menurut dawuhan Allah :
 وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَاحِدٌ (البقرة ١٦٣
Hartosna: Ari Pangeran maraneh kabeh eta Pangeran anu Sahiji. 
Tina margi kitu, kudu eling sakabeh jalma ka Allah, dina nalika nenjo sagala perkara, sabab sakabeh makhluk eta didamel ku Allah. Henteu pisan-pisan aya anu mere tapak hiji perkara salianti Allah. 

Ari dalilna yen Allah Ta’ala wajib kasifatan ku Sifat Qudrot, Irodat, Ilmu, Hayat, karana eta ceuk akal lamun dikira-kirakeun henteu aya di Allah salah sahijina ieu sifat anu 4, maka tangtu moal aya hawadits. padahal hawadits geus bukti katembong ku panon. Ana kitu Allah teh bersifat ku ieu Sifat anu 4. 
Ari jalanna nu matak kitu, ceuk diupamakeun ka hiji jalma nu rek nyieun imah, Eta moal pati-pati rupa imah anging kudu aya kabisa, aya kabisa moal pati-pati rupa imah anging kudu aya kadaek, aya kadaek moal pati-pati rupa imah anging kudu aya kanyaho. Kabisa, kadaek, kanyaho eta geus ma’lum bijilna tinu hirup. 

Ari dalil Sifat Qudrot anu kaduana nyaeta dawuhan Allah :
 اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ (البقرة ٢٠
Hartosna: Saenyana Allah eta Dzat anu Kawasa kana sagala perkara. (Beda deui jeung sakabeh makhluk, eta mah apes kabeh lamun henteu dikawasakeun ku Allah) 
Tina margi kitu, wajib ka sakabeh jalma kudu rumasa apes jeung kudu sieun ku Allah dina sagala perkara, karana eta Dzat anu Kawasa nyiksa. 

Ari dalil Sifat Irodat anu ka duana nyaeta dawuhan Allah : 
فَعَّالٌ لِمَا يُرِيْدُ (البروج ١٦
Hartosna: Ari Allah eta Dzat anu Kawasa kana ngadamel kalawan ngabuktikeun sagala perkara anu dikersakeun ku Allah. 
Tina margi kitu, wajib ka sakabeh jalma kudu ngarep-ngarep dina sakabeh waktu kana dikersakeun hade, bagja, meunang karidhoan Allah. 

Ari dalil Sifat Ilmu anu ka duana nyaeta dawuhan Allah :
 اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ (البقرة ٢٣١
Hartosna: Saenyana Allah eta Dzat anu Uninga kana sagala perkara. 
Tina margi kitu, wajib ka sakabeh jalma kudu ati-ati bisi aya cegahan anu karumpak jeung bisi aya parentahanana anu katinggal sabab tangtu kauninga ku Allah. 

Ari dalil Sifat Hayat anu ka duana nyaeta dawuhan Allah: 
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ (الفرقان ٥٨
Hartosna: Sareng kudu pupuntangan aranjeun kabeh ka Allah, Dzat anu Hirup anu tara maot .(Beda deui jeung sakabeh makhluk, eta mah hirupna sok kakeunaan ku maot) 
Tina margi kitu, wajib ka sakabeh jalma kudu pasrah sumerah ka Allah. 

Ari dalilna yen Allah Ta’ala wajib kasifatan ku Sifat Sama, Bashor, Kalam nyaeta dawuhan Allah:
وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ (الشورى ١١
Hartosna: Sareng ari Allah eta Dzat anu Ngadangu tur Dzat anu Ningali. 
Sareng menurut dawuhan Allah :
وَكَلَّمَ اللّٰهُ مُوْسَى تَكْلِيْمًا (النساء ١٦٤
Hartosna: Ngaleungitkeun hijab Gusti Allah ti Kanjeng Nabi Musa, teras maparin ngadangu Gusti Allah ka Kanjeng Nabi Musa kana dawuhan Allah anu Qodim. 
Sareng menurut katerangan akal : lamun dikira-kirakeun henteu kasifatan Allah Ta’ala ku Ngadangu, Ningali sareng Ngadawuh, maka tangtu kasifatan Allah ku lalawananana, nyaeta Torek, Lolong sareng Pireu. Ari kasifatan ku lalawananana tea eta kurang. Ari kurang tea eta henteu kaharti ku akal 

Ari dalilna Sifat Ma’nawiyyah anu 7 eta sakumaha dalilna Sifat Ma’aniy anu 7, nyaeta : 
Ø Dalil Sifat Kaunuhu Qodiron hiji keneh jeung dalilna Sifat Qudrot 
Ø Dalil Sifat Kaunuhu Muridan hiji keneh jeung dalilna Sifat Irodat 
Ø Dalil Sifat Kaunuhu Aliman hiji keneh jeung dalilna Sifat Ilmu 
Ø Dalil Sifat Kaunuhu Hayyan hiji keneh jeung dalilna Sifat Hayat 
Ø Dalil Sifat Kaunuhu Sami’an hiji keneh jeung dalilna Sifat Sama’ 
Ø Dalil Sifat Kaunuhu Bashiron hiji keneh jeung dalilna Sifat Bashor 
Ø Dalil Sifat Kaunuhu Mutakalliman hiji keneh jeung dalilna Sifat Kalam 

Ari dalilna yen Allah Ta’ala wenang ngadamel mumkin jeung tinggalna, karana eta ceuk akal lamun dikira-kirakeun Allah Ta’ala wajib ngadamel mumkin jeung tinggalna, maka tangtu kabalik perkara wenang jadi wajib atawa jadi mustahil. Padahal ari kabalikna perkara wenang jadi wajib atawa jadi mustahil eta henteu kaharti ku akal, karana tangtu kabalik hakekatna perkara. 

--< SIFAT ROSUL >-- 


Ari Sifat anu wajib di Rosul anu 4 teh nyaeta :
  1. Sifat Shidiq, hartosna wajib Rosul bener.
  2. Sifat Amanah, hartosna wajib Rosul kariksa.
  3. Sifat Tabligh, hartosna wajib Rosul ngadatangkeun perkara anu kudu didatangkeun ka umat.
  4. Sifat Fathonah , hartosna wajib Rosul pinter. 

Ari lalawananana nyaeta :
  1. Bohong.
  2. Cidra.
  3. Salingkuh.
  4. Belet. 

Ari Sifat anu wenang di Rosul anu 1 teh nyaeta Sifat A’rodhul Basyariyyah.
Hartosna : pirang-pirang sifat kamanusaan anu henteu matak ngurangan kana pangkatna Rosul, saperti : tuang, leueut jeung kulem tapi ngan socana wungkul henteu sareng manahna. 

--< DALIL SIFAT ROSUL >-- 


Ari dalilna yen Rosul wajib Shidiq tegesna bener dina pangakuanana jadi utusan jeung sagala perkara anu didatangkeun ka umat eta rohmat ti Allah, karana eta ceu akal lamun dikira-kirakeun Rosul bohong, maka tangtu dawuhan Allah ka para Rosul eta bohong deuih. karana Gusti Allah tos ngabenerkeun ka para Rosul ku mu’jizat tegesna dipaparin rupi-rupi perkara anu nyulayaan kana biasa. Ari ngabenerkeun kanu bohong, eta bohong deuih. Tapi henteu kaharti ku akal bohongna dawuhan Allah Ta’ala. 

Ari dalilna yen Rosul wajib Amanah tegesna kariksa, nyaeta tara midamel perkara anu diharamkeun atawa anu dimakruhkeun, karana eta ceuk akal lamun dikira-kirakeun Rosul Cidra tegesna midamel perkara anu diharamkeun atawa anu dimakruhkeun, maka tangtu perkara haram atawa makruh jadi wajib ka Rosul. padahal Allah henteu miwarang midamel perkara haram atawa makruh. 

Ari dalilna yen Rosul wajib Tabligh tegesna ngadatangkeun perkara anu kudu didatangkeun ka ummat, karana eta ceuk akal lamun dikira-kirakeun Rosul Salingkuh tegesna nyumputkeun perkara anu kudu didatangkeun ka ummat, maka tangtu urang sadayana dipiwarang nyumputkeun elmu, karana urang dipiwarang kudu turut ka rosul dina patekadan ucapan sareng padamelan lian perkara anu jadi katangtuan ka Rosul. Padahal henteu meunang nyumputkeun elmu, karana saha-saha jalma anu nyumputkeun elmu eta dila’nat ku Allah. 

Ari dalilna yen Rosul wajib Fathonah tegesna pinter, karana eta ceuk akal lamun dikira-kirakeun Rosul belet, maka tangtu Rosul moal bisa ngalawan hujjah kanu maduan. padahal ari henteu bisana Rosul ngalawan hujjah kanu maduan eta henteu kaharti ku akal. karana loba tempat dina Al Quran anu nerangkeun kana hujjahna Rosul kanu maduan. 

Ari dalilna yen Rosul wenang kasifatan ku Sifat A’rodhul Basyariyyah tegesna pirang-pirang sifat kamanusaan anu henteu matak ngurangan kana pangkatna Rosul, eta dalilna dalil Musyahadah tegesna katingali kalawan nyatana ku para shahabat yen Rosul katetepan A’rodhul Basyariyyah.
Kami tidak membagikan file-nya untuk menjaga keseragaman.
Santri DTA Miftahul Anwar Yang Berhasil Menghapal Materi Ini Di Luar Kepala Insya Allah Akan Diberi Hadiah