Hukum 2 Makmum Masbuq Mundur 1 Membentuk Jama'ah Baru Dengan Yang 1 Lagi Dijadikan Imamnya - BAITUSSALAM

Senin, 07 Desember 2020

Hukum 2 Makmum Masbuq Mundur 1 Membentuk Jama'ah Baru Dengan Yang 1 Lagi Dijadikan Imamnya

Contoh Kasus 2 Makmum Masbuq Mundur 1 Membentuk Jama'ah Baru

Ustadz Zaid shalat dhuhur berjamaah dengan pak umar, ketika sedang pada rakaat kedua pak bakri datang ikut bermakmum (masbuq 1) kepada Ustadz Zaid, kemudian ketika sedang rakaat ketiga pak otong datang dan ikut bermakmum (masbuq 2) juga kepada Ustadz Zaid.

Pada rakaat keempat Ustadz Zaid dan Pak Umar mengakhiri shalat, sementara Pak Bakri dan Pak Otong berdiri untuk melanjutkan shalat.

Pak Bakri masbuq ke-1 dan Pak Otong masbuq ke-2

Pak Otong mundur dan bermakmum kepada Pak Bakri.

Praktek ini menjadikan Pak Bakri dan Pak Otong membuat pola shalat berjamaah lagi. 

Bagaimana Hukumnya?

Sah, tapi makruh dan menggugurkan fadhilah shalat berjamaah pertama yang dijalani secara masbuq oleh Pak Bakri dan Pak Otong bersama Ustadz Zaid. 

Sah tersebut itu jika terjadi pada shalat berjamaah selain pada shalat jum'at.

Adapun jika itu terjadi pada berjamaah shalat jum'at, maka tidak sah.

Hal ini menurut penjelasan para Ulama Fiqih Madzhab Imam Syafi'i, antara lain :

1).Syaikh Sayid Abdurrahman Ba'alawi al-Hadhrami. Bughiyah al-Mustarsyidin Hal 72

مسئلة ج

سلم الإمام فقام مسبوق فاقتدى به أخر أو مسبوقون فاقتدى بعضهم ببعض صح في غير الجمعة مع الكراهة المفوّتة لفضيلة الجماعة كما في النهاية الخ

Seorang imam shalat melakukan salam, pada tahap selanjutnya :

  1. Seorang makmum masbuq berdiri, kemudian yang lain (makmum baru) bermakmum kepadanya. (Ini adalah cara bermakmum kepada mantan masbuq gambaran kesatu)
  2. Sejumlah makmum masbuq berdiri, kemudian sebagian dari mereka bermakmum kepada sebagian lagi. Sah shalatnya pada selain berjamaah shalat jum'at, sah disertai hukum makruh yang menghilangkan terhadap keutamaan shalat berjamaah. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Nihayah. (ini adalah cara bermakmum kepada mantan masbuq gambaran kedua)

2).Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari. Fath al-Mu'in bi Syarh Qurrah al-Ain Hal 38

2-makmum-masbuq-yang-1-mundur

اَوْ قَامَ مَسْبُوْقُوْنَ فَاقْتَدَى بَعْضُهُمْ بِبَعْضٍ صَحَّتْ أَيْضًا عَلَى الْمُعْتَمَدِ لَكِنْ مَعَ الْكَرَاهَةِ

"atau berdiri para makmum yang masbuq, kemudian sebagian di antara mereka bermakmum kepada sebagian lagi. SAH juga Shalatnya berdasarkan Qaul Mu'tamad, tapi disertai hukum makruh." 

.3).Sayid Abu Bakar Syatha al-Dimyati. I'anah al-Thalibin Juz 2 Hal 42

قوله صحت

محل الصحة في هذه الصورة وفي الثانية التي بعدها في غير الجمعة

Kedudukan sah pada gambaran ini (kesatu) dan pada gambaran kedua yang dibahas setelahnya adalah pada selain berjamaah shalat jum'at.

أما فيها فلا تصح القدوة في الصورتين عند الجمال الرملي وفي الصورة الثانية عند ابن حجر اما في الصورة الأولى فتصح عنده لكن مع الكراهة افاده الكردي

Adapun pada berjamaah shalat jum'at maka

  • kedua gambaran qudwah tidak sah, menurut pendapat Imam Jamal Romli.
  • Dan tidak sah pada gambaran kedua, menurut Imam Ibnu Hajar. Adapun pada gambaran pertama, maka sah tapi disertai hukum makruh. (Imam al-Kurdi menjadikannya فائدة pada kitabnya)

قوله لكن مع الكراهة

 والكراهة خروجا من خلاف من أبطلها

Illat makruhnya : خروجا من خلاف من ابطلها

Wallaahu A'lam Bi Al-Shawwaab

Daftar Pustaka

Al-Hadhrami, Syaikh Sayid Abdurrahman Ba'alawi. Bughiyah al-Mustarsyidin.
Al-Malibari, Syaikh Zainuddin.Fath al-Mu'in bi Syarh Qurrah al-Ain.
Ad-Dimyati, Sayid Abu Bakar. I'anah al-Thalibin.

Comments

Terima kasih telah ikut berpartisifasi
Komentar anda akan segera kami balas

EmoticonEmoticon