2022 - BAITUSSALAM

Minggu, 19 Juni 2022

Daftar Juara Kelas Semester 2 & Ajang Prestasi Santri 2021-2022

Rekapitulasi Daftar Juara Kelas Semester 2 & Juara Ajang Prestasi Santri Tahun Ajaran 2021-2022

Daftar Juara Kelas Semester 2 Tahun Ajaran 2021-2022

Juara Kelas RA

Kelas A

Juara 1 : Semua murid

Kelas B

Juara 1 : Semua murid


Juara Kelas TPQ

Kelas A

Juara 1 : 8,37 Firdania Fadila Suna

Juara 2 : 8,32 Miska Aulia Herliana

Juara 3 : 8,27 Haidar Muharram

Kelas B

Juara 1 : 8,79 Muhammad Afkar Fathan

Juara 2 : 8,68 Muhammad Wizdan 

Juara 3 : 8,66 Khansa Naura Salsabila

Nilai Munaqosyah Tertinggi : 

  1. 87,13 Muhammad Afkar Fathan El Arif
  2. 87,00 Muhammad Wizdan Salimatul Akil
  3. 85,50 Khansa Naura Salsabila


Juara Kelas MDT

Kelas I

Juara 1 : 85,25 Dara Pisca Sabila

Juara 2 : 84,63 Vivian Widyadana 

Juara 3 : 84,25 Naima Azka Syakira

Kelas II

Juara 1 : 89,25 Barka Syahril Muharom

Juara 2 : 86,00 Rifdah Ramziyah

Juara 3 : 85,25 Sofia Marwah

Kelas III

Juara 1 : 88,88 Muhammad Dafi.N.H.

Juara 2 : 88,38 Syahla Sakinatunisa

Juara 3 : 86,38 Fiona Hilma

Kelas IV

Juara 1 : 91,00 Alifa Rihadatul Anfus

Juara 2 : 88,00 Silfana Sahidatul W

Juara 3 : 86,00 Sri Cahyani


Daftar Juara Ajang Prestasi Santri Tahun Ajaran 2021-2022

Bulutangkis Putra

Juara 1 : Barka Syahril Muharrom

Juara 2 : Rafa Al-Mubarok

Bulutangkis Putri

Juara 1 : Fiona Hilma Nabila

Juara 2 : Rifdah Ramziyah

Adzan TPQ

Juara 1 : 91,00 Muhammad Afkar Fathan

Juara 2 : 89,00 Muhammad Fairel Athariz

Juara 3 : 84,00 Rhama Febriansyah

Adzan MDT

Juara 1 : 98,00 Rafa Al-Mubarok

Juara 2 : 97,00 Muhammad Dafi N.H.

Juara 3 : 96,00 Apip Saepuloh

Peragaan Wudhu TPQ

Juara 1 : 83,00 Muhammad Afkar Fathan

Juara 2 : 79,00 Khansa Naura Salsabila

Juara 3 : 77,00 Yuna Nabila Putri

Peragaan Shalat MDT

Juara 1 : 92,00 Silfana Saidatul Wahidah

Juara 2 : 91,00 Alifa Rihadatul Anfus

Juara 3 : 90,00 Sri Cahyani

Tahfidz Juz 'Amma MDT

Juara 1 : 96,00 Alifa Rihadatul Anfus

Juara 2 : 95,00 Apip Saepuloh

Juara 3 : 94,00 Sri Cahyani

Rurukunan MDT

Juara 1 : 100,00 Alifa Rihadatul Anfus

Juara 2 : 99,00 Vivian Widyadana

Juara 3 : 97,00 Barka Syahril Muharrom

Nadzom & Shalawat MDT

Juara 1 : 85,00 Barka Syahril Muharrom, Rafqil Azkia Hidayat, Muhammad Rehan

Juara 2 : 75,00 Alifa Rihadatul Anfus, Tsaabitah Nuur Aqilah, Khonsa Sahidatul Mustofa

Juara 3 : 70,00 Rafa Al-Mubarok, Bayu Muhammad Fikri, Faisal Setiawan

Tartil Ayat Pilihan TPQ

Juara 1 : 160,00 Muhammad Wizdan S.A.

Juara 2 : 155,00 Khansa Naura Salsabila

Juara 3 : 150,00 Akta Lubna Latifa

Aqo'idul Iman MDT

Juara 1 : 83,00 Apip Saepuloh

Juara 2 : 80,00 Rifdah Ramziyah

Juara 3 : 79,00 Naima Azka Syakila 

Cerdas Cermat

Juara 1 : 2.100 Regu A (Alifa Rihadatul Anfus, Gilang Sya'ban Yusliman, Muhammad Akmal Salim, Khonsa Sahidatul Mustofa)

Juara 2 : 1.700 Regu H (Muhammad Dafi, Apip Saepuloh, Ghifari Jalu Pamungkas, Sofia Marwah, Vivian Widyadana)

Juara 3 : 1.300 Regu G (Muhammad Rizki Aditya, Barka Syahril Muharrom, Muhammad Haikal, Tsaabitah Nuur Aqilah, Daffa Najmi Al-Fakhri)

Gebyar Mewarnai, Menggambar & Kalighrafi

Mewarnai RA

Kelas A

Juara 1 : 89 Apriliani

Juara 2 : 87 Daffa

Kelas B

Juara 1 : 91 Siti sarah

Juara 2 : 89 Aidil

Menggambar TPQ

Juara 1 : 90 Raisha Samha Saufa

Juara 2 : 88 Ade Aufar Ibrahim

Kalighrafi MDT

Juara 1 : 95 Alifa Rihadatul Anfus

Juara 2 : 92 Rafqil Azkia Hidayat

Selamat kepada para juara

Ahad, 19 Juni 2022

Minggu, 12 Juni 2022

Syarat Wajib Udhiyah (Hanafiyah) - Syarat Sunat (Malikiyah Syafi'iyah Hanabilah)

Syarat Wajib Udhiyah (Hanafiyah) - Syarat Sunat (Malikiyah Syafi'iyah Hanabilah) yang akan dibahas ini berkaitan dengan pendapat keempat madzhab perihal hukum asalnya. 

  • Hanafiyah berpendapat bahwa hukum asal udhhiyah adalah wajib
  • Malikiyah berpendapat bahwa hukum asal udhhiyah adalah sunat
  • Syafi'iyah berpendapat bahwa hukum asal udhhiyah adalah sunat kifayah bagi tiap keluarga dan sunat ain bagi tiap pribadi seumur hidup satu kali
  • Hanabilah berpendapat bahwa hukum asal udhhiyah adalah sunat

Selengkapnya : Hukum Udhhiyah 4 Madzhab : Hanafiyah Malikiyah Syafi'iyah Hanabilah.

Keterkaitannya adalah hukum asal tersebut berlaku jika syarat ini tercapai. Berikut ini syarat wajib dan yang kami maksud :

يشترط لإيجاب الأضحية عند الحنفية، أو سنيتها عند الأئمة الآخرين: القدرة عليها، فلا تطلب من العاجز عنهافي أيام عيد الأضحى.
والمقصود بالقدرة عند الحنفية، هو اليسار أي يسار الفطرة (1)، وهو أن يكون مالكاً مئتي درهم الذي هو نصاب الزكاة، أو متاعاً يساوي هذا المقدار زائداً عن مسكنه ولباسه، أو حاجته وكفايته هو ومن تجب عليه نفقتهم.
والقادر عليها عند المالكية (2): هو الذي لا يحتاج إلى ثمنها لأمر ضروري في عامه. ولو استطاع أن يستدين استدان.
والمستطيع عليها عند الشافعية (3): هو من يملك ثمنها زائداً عن حاجته وحاجة من يعوله يوم العيد وأيام التشريق، لأن ذلك وقتها، مثل زكاة الفطر، فإنهم اشترطوا فيها أن تكون فاضلة عن حاجته مَمونة يوم العيد وليلته فقط.
والقادر عليها عند الحنابلة (4): هو الذي يمكنه الحصول على ثمنها ولو بالدين، إذا كان يقدر على وفاء دينه
______________________

(1) الدر المختار: /222، اللباب: 232/ 3، تبيين الحقائق: 3/ 6.
(2) شرح الرسالة لابن أبي زيد القيرواني: 367/ 1.
(3) حاشية الباجوري: 304/ 2.
(4) كشاف القناع: 18/ 3
Disyaratkan untuk wajibnya hukum أضحية dalam pandangan Hanafiyah atau disunatkannya dalam pandangan madzhab Imam-imam setelahnya (Malikiyah Syafi'iyah Hanabilah) : 
Adanya kemampuan terhadap أضحية. Jadi أضحية tidaklah dituntut dari seseorang yang tidak memiliki kemampuan berqurban أضحية pada hari raya idul adha.

Yang dimaksud dengan "kemampuan" dalam perspektif Hanafiyah : suatu kemudahan seperti kemudahan dalam hal zakat fitrah, yaitu keadaan seseorang yang memiliki 200 dirham yang itu adalah nishab zakat. Atau dia memiliki kekayaan berupa benda yang bisa dinilai dengan uang sejumlah ukuran itu yang statusnya sebagai kelebihan dari -> tempat tinggalnya, pakaiannya, kebutuhannya, biaya hidup dia secara pribadi dan dari orang-orang yang wajib kepadanya nafkah mereka.

"orang yang mampu" dalam perspektif Malikiyah : orang yang tidak membutuhkan terhadap uang seharga أضحية untuk urusan dharuri pada tahun tersebut. Dan jika dia bisa menjadi mampu dengan berhutang, maka dia sunat berhutang.

"orang yang mampu" dalam perspektif Syafi'iyah : orang yang memiliki uang seharga أضحية yang statusnya sebagai kelebihan dari kebutuhannya dan kebutuhan orang yang bergantung kepadanya pada momentum hari idul adha dan hari-hari tasyriq. Karena hari idul adha dan hari tasyriq merupakan hari disunatkannya melakukan أضحية, seperti pada idul fithri, karena sesungguhnya Syafi'iyah mensyaratwajibkan pada zakat fitrah bahwasanya perkara yang dizakatkan statusnya harus merupakan kelebihan dari kebutuhannya dan biaya hidup hari idul fithri dan malamnya saja.

"orang yang mampu" dalam perspektif Hanabilah : orang yang memungkinkan kepadanya menghasilkan terhadap uang seharga أضحية sekalipun dengan berhutang jika statusnya dia akan mampu membayar terhadap hutangnya.

----------------- Keterangan :

(1) Ad-Dar Al-Mukhtar Hal 222, Al-Lubab Jilid 3 Hal 232, Tabyin Al-Haqo'iq Jilid 6 Hal 3 [Kitab-kitab Hanafiyah]

(2) Syarh Ar-Risalah li Ibn Abi Zaid Al-Qairuni Jilid 1 Hal 367 [Kitab Malikiyah)

(3) Hasyiyah Al-Bajuri Jilid 2 Hal 304 [Kitab Syafi'iyah]

(4) Kisyaf Al-Qina Jilid 3 Hal 18 [Kitab Hanabilah]

[Lihat : Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh Jilid 4 Hal 2708 - Kitab perbandingan madzhab karya tulis Syaikh Wahbah Az-Zuhaili Rahimahullah]

قوله سنة مؤكدة : في حقنا وأما في حقه صلى الله عليه وسلم فهي واجبة والمخاطب بها المسلم البالغ العاقل الحر المستطيع وكذا المبعض اذا ملك مالا ببعضه الحر. والمراد بالمستطيع من يقدر عليها فاضلة عن حاجته وحاجة ممونه يوم العيد وأيام التشريق لأن ذلك وقتها ونظير ذلك زكاة الفطر فانهم اشترطوا فيها أن تكون فاضلة عن حاجته وحاجة ممونه يوم العيد وليلته لأن ذلك وقتها ويحتمل أنه يكفي أن تكون فاضلة عما يحتاجه في ليلة العيد ويومه فقط كما في صدقة التطوع لأنها نوع صدقة

Redaksi Imam Ibnu Qasim Al-Ghazi pada Kitab Fath Al-Qarib Al-Mujib Ala Matn Abi Syuja "سنة مؤكدة artinya sunat muakkad" : Maksudnya adalah di hak kita (umat Nabi Muhammad SAW). Adapun di hak Nabi Muhammad SAW maka أضحية hukumnya wajib. 

Adapun yang dikhithabtaklifi dengannya adalah :

  • المسلم Orang yang beragama Islam
  • البالغ Orang yang telah mencapai baligh
  • العاقل Orang yang berakal sehat
  • الحر Orang yang merdeka
  • المستطيع Orang yang Isti'tha'ah alias memiliki kemampuan
  • المبعض Orang yang 1/2 merdeka 1/2 abid jika memiliki harta dengan ukuran setengah harta orang merdeka
Adapun yang dimaksud dengan المستطيع (Orang yang Isti'tha'ah alias memiliki kemampuan) adalah orang yang mampu terhadap أضحية sebagai kelebihan dari kebutuhannya dan kebutuhan orang yang dibiayainya pada hari idul adha dan hari-hari tasyriq karena hari idul adha dan hari-hari tasyriq adalah merupakan waktu disunatkannya. Nadzirnya adalah zakat fithrah. karena Syafi'iyah mereka mensyaratkan pada zakat fithrah bahwasanya keadaan zakat fithrah adalah merupakan kelebihan dari kebutuhannya dan kebutuhan orang yang dibiayainya pada hari raya idul fithri dan malamnya karena hari raya idul fithri dan malamnya adalah waktu diwajibkannya. Dan ihtimal bahwasanya cukup statusnya kelebihan dari perkara yang dia membutuhkannya pada malam hari raya idul fithri dan harinya sepertihalnya pada shadaqoh tathawwu' karena zakat merupakan sejenis dari shadaqoh.

[Lihat : Hasyiyah Al-Bajuri Ala Ibni Qasim Al-Ghazi Jilid 2 Hal 296 Terbitan Toha Putra - Kitab Madzhab Syafi'i Karya Tulis Syaikhul Islam Ibrohim Al-Baijuri Rahimahullah]

Sabtu, 11 Juni 2022

Hukum Qurban أُضْحِيَةٌ (Udhiyah) - 4 Madzhab : Hanafiyah Malikiyah Syafi'iyah Hanabilah.

Hukum Qurban أُضْحِيَةٌ (Udhiyah) - 4 Madzhab : Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, Hanabilah Berdasarkan penjelasan dalam kitab perbandingan madzhab 4

Hukum Asal Qurban أُضْحِيَةٌ (Udhiyah)

اختلف الفقهاء في حكم الأضحية، هل هي واجبة أو هي سنة؟
فقال أبو حنيفة وأصحابه: إنها واجبة مرة في كل عام على المقيمين من أهل الأمصار، وذكر الطحاوي وغيره: أن على قول أبي حنيفة: واجبة، وعلى قول الصاحبين (أبي يوسف ومحمد): سنة مؤكدة. وقال غير الحنفية : إنها سنة مؤكدة غير واجبة، ويكره تركها للقادر عليها. وذلك عند المالكية على المشهور لغير الحاج بمنى. والأكمل عندهم للقادر أن يضحي عن كل شخص عنده أضحية، فإن أراد إنسان أن يضحي بنفسه عن كل من عنده ممن تجب عليه نفقته جاز في المذهب. وهي عند الشافعية سنة عين للمنفرد في العمر مرة، وسنة كفاية إن تعدد أهل البيت، فإذا فعلها واحد من أهل البيت، كفى عن الجميع. ودليل الحنفية على الوجوب: هو قوله عليه السلام: «من وجد سعة، فلم يضح، فلا يقربن مصلانا» قالوا: ومثل هذا الوعيد لا يلحق بترك غير الواجب، ولأن الأضحية قربة يضاف إليها وقتها، يقال: يوم الأضحى وذلك يؤذن بالوجوب؛ لأن الإضافة للاختصاص، والاختصاص بوجود الأضحية فيه، والوجوب هو المفضي إلى الوجود في الظاهر بالنسبة لمجموع الناس. واستدل الجمهور على السنية للقادر عليها بأحاديث: منها حديث أم سلمة: «أن رسول الله صلّى الله عليه وسلم قال: إذا رأيتم هلال ذي الحجة: وأراد أحدكم أن يضحي، فليمسك عن شعره وأظفاره» ففيه تعليق الأضحية بالإرادة، والتعليق بالإرادة ينافي الوجوب. ومنها حديث ابن عباس قال: سمعت رسول الله صلّى الله عليه وسلم يقول: «ثلاث هن علي فرائض، وهن لكم تطوع: الوتر، والنحر وصلاة الضحى» وروى الترمذي: «أمرت بالنحر وهو سنة لكم» ويؤيد ذلك أن الأضحية ذبيحة لم يجب تفريق لحمها، فلم تكن واجبة كالعقيقة. وضعف أصحاب الحديث حديث الحنفية، أو هو محمول على تأكيد الاستحباب كغسل الجمعة في حديث: «غُسل الجمعة واجب على كل محتلم» ويرشد إليه الأثر: «أن أبا بكر وعمر كانا لا يضحيان، مخافة أن ترى الناس ذلك واجباً والأصل عدم الوجوب». ودليل الشافعية على أن الأضحية سنة كفاية لكل بيت: حديث مِخْنَف بن سُلَيم قال: «كنا وقوفاً مع النبي صلّى الله عليه وسلم، فسمعته يقول: يا أيها الناس، على كل أهل بيت في كل عام أضحية .. » ولأن الصحابة كانوا يضحون في عهده صلّى الله عليه وسلم، والظاهر اطلاعه، فلا يُنكر عليهم. وقد ضحى النبي صلّى الله عليه وسلم بكبشين سمينين أقرنين أملحين، أحدهما عن أمته، والثاني عن نفسه وآله. ودليل الشافعية على أن الأضحية سنة عين للمنفرد في العمر مرة هو أن الأمر عندهم لا يقتضي التكرار
Ikhtilaf Fuqoha perihal hukum qurban أُضْحِيَةٌ (Udhiyah), apakah أُضْحِيَةٌ tersebut wajib atau sunat?
Kemudian berqaul Imam Abu Hanifah dan Ashhabnya : sesungguhnya أُضْحِيَةٌ hukumnya adalah wajib sekali pada setiap tahun kepada mukimin dari ahli kampung. Dan telah menuturkan Imam Ath-Thahawy dan lainnya : sesungguhnya pada satu qaul Imam Abu Hanifah hukumnya wajib dan pada satu qaul para sahabatnya (Imam Abi Yusuf dan Imam Muhammad) hukumnya adalah sunnat mu'akkadah. 
Dan telah berqaul selain Hanafiyah : sesungguhnya أُضْحِيَةٌ adalah sunnat mu'akkadah tidak wajib, dan dimakruhkan meninggalkannya bagi yang mampu terhadapnya. Kemakruhan tersebut di kalangan Malikiyah berdasarkan qaul masyhur adalah bagi selain orang yang berhaji di mina. Dan yang paling sempurna di kalangan Malikiyah bagi orang mampu adalah bahwasanya dia berqurban أُضْحِيَةٌ dari setiap orang yang ada di sisinya 1 أُضْحِيَةٌ, maka jika seorang insan ingin berqurban أُضْحِيَةٌ oleh dirinya sendiri dari setiap orang yang ada di sisinya dari antara orang-orang yang wajib kepadanya nafkah mereka maka itu boleh berdasarkan qaul resmi madzhab Maliki. Dan أُضْحِيَةٌ itu di kalangan Syafi'iyah hukumnya adalah sunat ain bagi seseorang seumur hidup 1 kali, dan sunat kifayah jika ahli bait jumlahnya berbilang. Maka jika telah mengerjakannya seorang dari ahli bait maka mencukupkan dari semuanya. Dalil Hanafiyah terhadap hukum wajib yaitu Sabda Rasulullah SAW :
من وجد سعة، فلم يضح، فلا يقربن مصلانا
"barangsiapa menemukan keluasan harta kemudian tidak berqurban أُضْحِيَةٌ maka jangan mendekati tempat shalat kami" (HR. Imam Ahmad dan Imam Ibnu Majah dari Abi Hurairoh RA). Hanafiyah berkata : dan semisal ancaman ini tidak di-ilhaq terhadap peninggalan selain yang berhukum wajib, dan karena sesungguhnya أُضْحِيَةٌ adalah merupakan suatu qurban yang disandarkan terhadap qurban tersebut waktunya, dikatakan "hari adha" dan itu diperkenankan bagi hukum wajib, karena idhofat/penyandaran fungsinya adalah untuk meng-ikhtishash, dan ikhtishash tersebut adalah dengan adanya أُضْحِيَةٌ pada hari adha tersebut, dan al-wujub itu adalah al-mufdhi terhadap keberadaan pada dzohirnya dengan dinisbatkan terhadap umumnya manusia.
Jumhur fuqoha beristidlal terhadap kesunahan hukum أُضْحِيَةٌ bagi orang yang mampu terhadapnya dengan Hadits-Hadits, diantaranya Hadits yang diriwayatkan Ummu Salmah :
أن رسول الله صلّى الله عليه وسلم قال: إذا رأيتم هلال ذي الحجة: وأراد أحدكم أن يضحي، فليمسك عن شعره وأظفاره
sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda : "jika kalian telah melihat hilal dzulhijjah dan salah seorang dari kalian berkehendak untuk berqurban أُضْحِيَةٌ maka hendaknya dia menahan diri dari bulu مضحى به dan dari kuku-kukunya" (HR. Al-Jama'sh kecuali Imam Al-Bukhari) Maka dalam hadits tersebut terdapat men-ta'liq-kan أُضْحِيَةٌ terhadap irodat/kehendak seseorang, dan ta'liq terhadap irodat dapat menafikan terhadap al-wujub. Dan diantaranya Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, dia berkata :
سمعت رسول الله صلّى الله عليه وسلم يقول: «ثلاث هن علي فرائض، وهن لكم تطوع: الوتر، والنحر وصلاة الضحى
aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : "3 perkara ketiganya bagiku adalah kefardhuan-kefardhuan, dan ketiganya bagi kalian adalah tathawwu : shalat witir, nahr, dan shalat dhuha" (HR.Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad, Imam Hakim dalam Al-Mustadrok, dan Imam Hakim sukut perihal Hadits ini dan terdapat pandangan dha'if yang mendhaifkannya Imam An-Nasa'i & Imam Ad-Daruquthni)
Dan Imam At-Turmudzi telah meriwayatkan Hadits :
أمرت بالنحر وهو سنة لكم
"aku telah diperintahkan untuk ber-nahr, dan itu sunat bagi kalian".
Dan menguatkan terhadap itu bahwasanya أُضْحِيَةٌ adalah merupakan suatu ذبيحة yang tidak wajib memisah-misahkannya, maka tidak terbukti أُضْحِيَةٌ itu adalah wajib seperti عقيقة. Dan para Imam Ashabul Hadits men-dha'if-kan terhadap Hadits yang dijadikan sandaran oleh Hanafiyah, atau Hadits Hanafiyah tersebut di-ihtimal-kan terhadap penguatan istihbab seperti adus jum'at pada Hadits :
غُسل الجمعة واجب على كل محتلم
"adus jum'at adalah wajib bagi setiap orang yang ihtilam (HR. As-Sab'ah : Imam Ahmad dan 6 Ashab Kutub As-Sittah). Dan menjadi petunjuk terhadap itu sebuah Atsar :
أن أبا بكر وعمر كانا لا يضحيان، مخافة أن ترى الناس ذلك واجباً
sesungguhnya Abu Bakar dan Umar keduanya pernah tidak berqurba أُضْحِيَةٌ dengan alasan takut orang-orang berpandangan bahwa berqurban أُضْحِيَةٌ itu hukumnya wajib. Dan itu petunjuk bahwa asalnya adalah tidak wajib.
Adapun dalil Syafi'iyah terhadap bahwasanya أُضْحِيَةٌ adalah sunat kifayah bagi setiap ahli bait yaitu sebuah Hadits dari Mikhnaf bin Sulaim, dia berkata :
كنا وقوفاً مع النبي صلّى الله عليه وسلم، فسمعته يقول: يا أيها الناس، على كل أهل بيت في كل عام أضحية
"telah ada kami dalam keadaan wuquf beserta Nabi SAW, kemudian aku telah mendengarnya bersabda : wahai manusia, terhadap setiap ahli bait pada setiap tahun 1 أُضْحِيَةٌ (HR.Imam Ahmad, Imam Ibnu Majah dan Imam Turmudzi. Dan dia telah berkata : Ini Hadits Hasan Gharib). Dan karena sesungguhnya shahabat mereka telah ada berqurban أُضْحِيَةٌ pada zaman Nabi SAW dan dzahir tinjauan Nabi, dan beliau tidak mengingkari shahabat (ketetapan ini berdasarkan riwayat Imam Ibnu Majah dan Imam Turmudzi, dan dia menshahihkannya. Dan berdasarkan riwayat Imam Ibnu Majah dari Asy-Sya'bi). Dan Nabi SAW telah berqurban أُضْحِيَةٌ dengan 2 domba jantan yang gemuk keduanya bertanduk keduanya putih kehitaman keduanya. Salah satu dari keduanya adalah qurban أُضْحِيَةٌ dari umatnya dan yang keduanya dari beliau sendiri dan keluarganya (HR.Imam Ibnu Majah dari Siti Aisyah dan Abi Hurairoh)
Adapun dalil Syafi'iyah terhadap bahwasanya أُضْحِيَةٌ hukumnya sunat ain bagi munfarid dalam seumur 1 kali adalah bahwasanya perintah tersebut dalam pandangan Syafi'iyah tidak menkonsekuensikan tikror/berkali-kali.
[Lihat : Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh Jilid 4 Hal 2703-2705 - Kitab Perbandingan Madzhab Karya Tulis Dr. Syaikh Wahbah Az-Zuhaili]

Perubahan Hukum Qurban أُضْحِيَةٌ (Udhiyah)

الأضحية عند الحنفية نوعان: واجبة وتطوع
أما الواجبة: فهي أولاً ـ المنذورة كأن يقول المرء: لله علي أن أضحي شاة، أو بدنة (ناقة) أو هذه الشاة، أو هذه البدنة، أو جعلت هذه الشاة ضحية أو أضحية، سواء أكان القائل غنياً أم فقيراً.
وثانياً ـ المشتراة للأضحية إذا كان المشتري فقيراً. فإن اشترى فقير شاة بنية الأضحية، صارت واجبة؛ لأن الشراء للأضحية ممن لا أضحية عليه، يجري مجرى الإيجاب، وهو النذر بالتضحية عرفاً.
وثالثاً ـ المطلوبة من الغني دون الفقير في كل عيد، من غير نذر ولا شراء للأضحية، بل شكراً لنعمة الحياة، وإحياء لميراث الخليل عليه السلام حين أمره الله تعالى بذبح الكبش في أيام العيد، فداء عن ولده، ومطية على الصراط، ومغفرة للذنوب، وتكفيراً للخطايا. وإن ولدت الأضحية ولداً يذبح ولدها مع الأم، وإن باعه يتصدق بثمنه، لأن الأم تعينت للأضحية.
وأما التطوع: فأضحية المسافر، والفقير الذي لم يوجد منه النذر بالتضحية، ولا الشراء للأضحية، لانعدام سبب الوجوب وشرطه.
وقال ابن جزي المالكي: تتعين الأضحية وتصبح واجبة بالذبح اتفاقاً
وبالنية قبله على خلاف في المذهب، وبالنذر إن عينها له اتفاقاً، فإذا قال: جعلت هذه أضحية، تعينت على أحد قولين، فإن ماتت فلا شيء عليه على كلا القولين، وإن باعها لزمه أن يشتري بثمنها كله أخرى.
لكن قال الدردير والدسوقي المالكيان: المعتمد المشهور في المذهب: أن الأضحية لاتجب إلا بالذبح فقط، ولاتجب بالنذر. وقالا أيضاً: يندب ولايجب على المعتمد ذبح ولد الأضحية الذي ولد قبل ذبح أمه؛ لأن الأضحية لاتتعين عندهم إلا بالذبح، ولاتتعين بالنذر.
وقال الشافعية في الصحيح والحنابلة: إن نوى الشراء للأضحية ولم يتلفظ بذلك لاتصير به أضحية؛ لأن إزالة الملك على سبيل القربة لاتحصل بذلك، وإنما تجب الأضحية إما بالنذر، مثل لله علي، أو علي أن أضحي بهذه الشاة، أو بالتعيين بأن يقول: هذه أضحية أو جعلتها أضحية، لزوال ملكه عنها بذلك. والجعل بمعنى النذر، فتصير واجبة، ويحرم حينئذ الأكل منها، ولايقبل القول بإرادة التطوع بها. فإن قال: أضحية إن شاء الله لم تتعين ولم تجب. وإشارة الأخرس المفهمة كنطق الناطق. ولايجوز تأخيرها للعام القابل، وتعين ذبحها وقت الأضحية. وإن ولدت الأضحية المعينة أو المنذورة، فولدها تابع لها، يذبح معها، وحكمه حكمها، سواء أكان حملاً عند التعيين أم حدث بعده. ولايشرب صاحبها من لبنها إلا الفاضل عن ولدها، فإن لم يفضل عنه شيء لم يكن له أخذه
Hukum أُضْحِيَةٌ menurut Hanafiyah ada 2 : Wajibah dan Tathawwu'.
Adapun wajibah maka adalah :
Kesatu - المنذورة Yang dinadzarkan. Seperti seseorang mengucapkan :
  • Karena Allah mesti kepadaku أُضْحِيَةٌ kambing, atau
  • Karena Allah mesti kepadaku أُضْحِيَةٌ unta, atau
  • Karena Allah mesti kepadaku أُضْحِيَةٌ kambing ini,atau
  • Karena Allah mesti kepadaku أُضْحِيَةٌ unta ini, atau
  • Aku telah menjadikan kambing ini sebagai ضَحِيَةً
  • Aku telah menjadikan kambing ini sebagai أُضْحِيَّةً
Sama saja apakah orang yang mengucapkannya seseorang yang kaya atau faqir.
Kedua - المشتراة للأضحية / Yang dibeli untuk أُضْحِيَّةً jika status orang yang membelinya adalah faqir. Jadi jika seorang faqir membeli seekor kambing dengan niat أُضْحِيَّةً, maka أُضْحِيَّةً menjadi wajibah. Karena sesungguhnya pembelian untuk أُضْحِيَّةً adalah dari orang yang tidak memiliki أُضْحِيَّةً. Berlaku pada tempat berlakunya sesuatu yang mewajibkan yaitu nadzar terhadap أُضْحِيَّةً secara urf. 
Ketiga - المطلوبة Yang dituntut dari orang kaya bukan orang faqir pada setiap hari raya tanpa qayid nadzar tanpa sebab pembelian untuk أضحية melainkan untuk sebagai syukur terhadap nikmat hidup dan dalam rangka menghidupkan terhadap warisan Al-Khalil Nabi Ibrohim Alaihissalam ketika Allah memerintahkan kepadanya terhadap penyembelihan kibasy pada hari raya sebagai tebusan dari putranya dan pengampunan terhadap dosa-dosa dan kifarat atas kesalahan-kesalahan.
Jika binatang أضحية melahirkan seekor anak, maka wajib disembelih anaknya beserta sang induk. Dan jika mudhahi menjual anaknya, maka dia wajib sedekah dengan uang seharganya. Karena sang induk sudah terta'yin untuk أضحية
Adapun tathawwu maka adalah أضحية seorang musafir dan seorang faqir yang tidak ditemukan darinya nadzar dengan أضحية dan tidak ditemukan pembelian untuk أضحية. Karena ketiadaan sebab yang mewajibkan serta syarat-syaratnya.

Telah berkata Ibnu Jazi Al-Maliki : menjadi terta'yin suatu أضحية dan menjadi wajibah 
  • sebab penyembelihan secara ittifaq. 
  • sebab niat sebelum penyembelihan berdasarkan khilaf terhadap qaul resmi madzhab maliki.
  • sebab nadzar jika dia menta'yin أضحية baginya secara ittifaq.
Maka jika seseorang berkata : "aku jadikan هذه sebagai أضحية", maka هذه menjadi terta'yin berdasarkan salah satu dari 2 qaul, jika هذه kemudian mati setelah terta'yin maka tidak wajib apapun kepadanya berdasarkan masing-masing kedua qaul, dan jika dia menjual هذه maka wajib kepadanya membeli هذه lain dengan seluruh harga هذه yang dijual tadi.
Akan tetapi telah berkata Imam Ad-Dardir dan Imam Ad-Dasuki yang keduanya Malikiyah : "Qaul al-mu'tamad al-masyhur dalam lingkungan madzhab maliki adalah bahwasanya أضحية tidak wajib kecuali sebab penyembelihan saja, dan tidak wajib sebab nadzar". Keduanya juga berkata : di-mandub-kan dan tidak wajib berdasarkan qaul al-mu'tamad menyembelih anak أضحية yang dilahirkan sebelum penyembelihan induknya karena أضحية tidak menjadi terta'yin menurut malikiyah kecuali sebab penyembelihan, dan tidak menjadi terta'yin sebab nadzar.

Telah mengatakan Syafi'iyah dalam qaul shahihnya dan Hanabilah
Jika seseorang meniatkan pembelian untuk أضحية dan dia tidak melafadzkan terhadap yang diniatkannya maka dengan itu tidak menjadikan hasil pembeliannya sebagai أضحية karena menghilangkan kepemilikan dalam rangka bertaqorrub tidaklah hasil dengan cara demikian. Hanyalah wajib أضحية dengan : 
  • sebab nadzar, seperti : لله علي karena Allah mesti kepadaku, atau علي أن أضاحي بهذه الشاة mesti kepadaku berqurban أضحية dengan kambing ini. atau
  • sebab ta'yin (menentukan - menspesifikan), dengan mengatakan : ini adalah أضحية atau aku telah menjadikannya أضحية
Karena hilangnya kepemilikan dia terhadap itu. "menjadikan" adalah mengandung makna nadzar maka أضحية adalah menjadi wajib. Haram tatkala begitu memakan dari bagian أضحية. Dan tidak diterima perkataan tentang kehendak tathawwu dengannya. Jadi jika seseorang mengatakan "أضحية insya Allah" maka tidak menjadi terta'yin dan tidak menjadi wajib. Bahasa Isyarat orang yang tuna wicara yang dapat difahami statusnya adalah seperti ucapan orang yang dapat berbicara. tidak boleh mengakhirkan pengerjaan أضحية kepada tahun depan dan jadi terta'yin penyembelihannya harus pada waktu أضحية. 
Jika أضحية yang dita'yin atau أضحية yang dinadzarkan melahirkan, maka anaknya mengikuti induknya, wajib disembelih beserta induknya, dan hukum induknya adalah berlaku menjadi hukum anaknya. Sama saja apakah statusnya lahir pada momentum induknya dita'yin maupun pada momentum baru setelah induknya dita'yin. Dan tidak boleh meminum pemilik أضحية yang dita'yin atau أضحية yang dinadzarkan dari sebagian air susunya kecuali yang berlebih dari anaknya. Jadi jika tidak berlebih dari anaknya sesuatupun maka tidak ada kebolehan bagi pemilik mengambilnya.
[Lihat : Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh Jilid 4 Hal 2706-2707 - Kitab Perbandingan Madzhab Karya Tulis Dr. Syaikh Wahbah Az-Zuhaili]

ذَبِيْحَةٌ Sembelihan : قُرْبَانٌ Qurban ضَحِيَةٌ Dhahiyah هَدْيٌ Hadyu عَقِيْقَةٌ Aqiqah فَرَعٌ Fara عَتِيْرَةٌ Atirah رَجِيْبَةٌ Rajibah

Menelusuri pengertian ذَبِيْحَةٌ Sembelihan : قُرْبَانٌ Qurban ضَحِيَةٌ Dhahiyah هَدْيٌ Hadyu عَقِيْقَةٌ Aqiqah فَرَعٌ Fara عَتِيْرَةٌ Atirah رَجِيْبَةٌ Rajibah dari kitab ulama berbahasa arab

قُرْبَانٌ Qurban / Kurban

والقربان كل ما يتقرب به العبد إلى الله عز وجل من أعمال البر من نسك وصدقة وذبح وكل عمل صالح، ويدل على ذلك قوله صلّى الله عليه وسلّم الصوم جنة والصلاة قربان يعني أنها مما يتقرب بها إلى الله عز وجل
قُرْبَانٌ adalah perkara yang menjadi dekat dengannya seorang hamba kepada Allah Azza Wa Jalla, yaitu dari yang termasuk amal-amal kebaikan dari seumpama nusuk, shadaqah, sembelihan dan semua amal shalih. Menjadi dalil terhadap semua itu Sabda Rasulullah SAW : "Shaum adalah جُنَّةٌ dan Shalat adalah قُرْبَانٌ", yakni bahwasanya shalat adalah dari sebagian perkara yang menjadi dekat dengannya seorang hamba kepada Allah Azza Wa Jalla. [Lihat : Tafsir Khazin Jilid 1 Hal 327]

الْقُرْبَانُ: مَا يَتَقَرَّبُ بِهِ الْعَبْدُ إِلَى رَبِّهِ، سَوَاءٌ أَكَانَ مِنَ الذَّبَائِحِ أَمْ مِنْ غَيْرِهَا. وَالْعَلاَقَةُ الْعَامَّةُ بَيْنَ الأُْضْحِيَّةِ وَسَائِرِ الْقَرَابِينِ أَنَّهَا كُلُّهَا يُتَقَرَّبُ بِهَا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، فَإِنْ كَانَتِ الْقَرَابِينُ مِنَ الذَّبَائِحِ كَانَتْ عَلاَقَةُ الأُْضْحِيَّةِ بِهَا أَشَدَّ، لأَِنَّهَا يَجْمَعُهَا كَوْنُهَا ذَبَائِحَ يُتَقَرَّبُ بِهَا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ، فَالْقُرْبَانُ أَعَمُّ مِنَ الأُْضْحِيَّةِ
قُرْبَانٌ : Perkara yang menjadi dekat dengannya seorang hamba kepada Rabb-nya, sama saja apakah keadaan perkara tersebut dari berupa sembelihan-sembelihan atau dari selainnya. Hubungan yang umum antara أُضْحِيَّةٌ dan qurban-qurban selainnya adalah bahwasanya setiap أُضْحِيَّةٌ ditaqorrubkan dengannya kepada Allah Ta'ala. Maka jika keadaan qurban-qurbannya dari sembelihan-sembelihan maka keadaan hubungan أُضْحِيَّة dengannya lebih kuat karena sesungguhnya أُضْحِيَّةٌ mengumpulkan hubungan keadaannya adalah sembelihan-sembelihan yang ditaqorrubkan dengannya kepada Allah SWT. Maka قُرْبَانٌ lebih umum daripada أُضْحِيَّةٌ [Lihat : Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah Jilid 5 Hal 74]

ضَحِيَةٌ Dhahiyah أُضْحِيَّةٌ Udhhiyah / Udhiyah

فالضحية ما يذبح من النعم تقربا الى الله تعالى من يوم العيد الى أخر أيام التشريق
ضَحِيَةٌ adalah perkara yang disembelih dari yang termasuk binatang ternak dengan maksud taqorrub kepada الله تعالى waktu penyembelihannya mulai dari hari raya id sampai akhir hari-hari tasyriq. [Tsimar Al-Yani'ah fi Ar-Riyadh Al-Badi'ah Hal 79]

اﻷﺿﺤﻴﺔ ﺑﺘﺸﺪﻳﺪ اﻟﻴﺎء ﻫﻮ ﻣﺎ ﺫﺑﺢ ﻣﻦ اﻟﻨﻌﻢ ﺗﻘﺮﺑﺎ ﺇﻟﻰ اﻟﻠﻪ ﻳﻮﻡ اﻟﻌﻴﺪ ﻭﺃﻳﺎﻡ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ
أُضْحِيَّةٌ dengan ditasydid huruf ي adalah perkara yang disembelih dari yang termasuk binatang ternak dengan maksud taqorrub kepada Allah pada hari raya dan hari-hari tasyriq. (Lihat : Kifayah Al-Akhyar Jilid 2 Hal 235)

الأضحية بضم الهمزة في الأشهر وهي اسم لما يذبح من النعم يوم عيد النحر وأيام التشريق تقربا الى الله تعالى والأضحية سنة مؤكدة
أُضْحِيَّةٌ dengan didhamahkan أnya menurut pendapat yang lebih masyhur. أُضْحِيَّةٌ adalah nama bagi perkara yang disembelih dari yang termasuk binatang ternak pada hari raya nahr dan hari-hari tasyriq dengan maksud taqorrub kepada Allah Ta'ala. Dan hukum تَضْحِيَة adalah sunat mu'akkadah. (Lihat : Fath Al-Qarib Al-Mujib Hal 62)

قوله بضم الهمزة في الأشهر : وقد تكسر الهمزة في غير الأشهر والياء فيهما مخففة أو مشددة وجمعها حينئذ أضاحي بتشديد الياء وتخفيفها. ويقال ضحية بفتح الضاد وكسرها وجمعها ضحايا كعطية وعطايا ويقال أيضا أضحاة بفتح الهمزة وكسرها وجمعها أضحي بالتنوين كإرطاة وأرطى فهذه ثمان لغات
قوله وهي : أى الأضحية
وقوله اسم لما يذبح من النعم : أى التي هي الإبل والبقر والغنم فشرط الأضحية أن تكون من النعم التي هي هذه الثلاثة لقوله تعالى ولكل أمة جعلنا منسكا ليذكروا اسم الله على ما رزقهم من بهيمة الأنعام ولأن التضحية عبادة تتعلق بالحيوان فاختصت بالنعم وعن ابن عباس أنه يكفي اراقة الدم ولو من دجاج أو أوز كما قاله الميداني وكان شيخنا رحمه الله يأمر الفقير بتقليده ويقيس على الأضحية العقيقة ويقول لمن ولد له مولود عق بالديكة على مذهب ابن عباس
وقوله يوم عيد النحر : أى بعد طلوع شمسه ومضي قدر ركعتين وخطبتين خفيفتين كما سيأتي
وقوله وأيام التشريق : أى بليالها وان كان الذبح فيها مكروها وعبارة الشيخ الخطيب من يوم العيد الى آخير أيام التشريق فدخل في عبارته الليالي
وقوله تقربا الى الله تعالى : أى على وجه التقرب الى الله تعالى وخرج بذلك ما يذبحه الشخص للأكل أو الجزار للبيع
والحاصل أن القيود ثلاثة الأول كونها من النعم الثاني كونها في يوم العيد وأيام التشريق وليالها الثالث كونها تقربا الى الله تعالى
قوله والأضحية : أى بمعنى التضحية كما في الروضة لا بمعنى العين المضحى بها كما يوهمه كلام المصنف لأنها لا يصح الإخبار عنها بأنها سنة وانما يصح الإخبار بذلك عن التضحية التي هي فعل الفاعل ولذلك قال في المنهج التضحية سنة مؤكدة وفي بعض النسخ الأضحية بإسقاط الواو التي للإستئناف ويأتي بها المصنف كثيرا
Redaksi Mushannif "بضم الهمزة في الأشهر" : Dan terkadang dikasrohkan أ pada selain pendapat yang lebih masyhur, dan huruf ي pada keduanya adalah ditakhfif atau ditasydid, dan bentuk jama'nya ketika demikian adalah أُضَاحِيٌّ dengan mentasydid ي atau mentakhfifnya. Dan dikatakan ضَحِيَةٌ dengan fatah huruf ض dan kasrohnya, bentuk jama'nya adalah ضَحَايَا seperti lafadz عَطِيَةٌ dan عَطَايَا. Dan dikatakan juga أَضْحَاةٌ dengan fatah huruf أ dan kasrohnya, bentuk jama'nya adalah أَضْحًى dengan tanwin seperti lafadz أَرْطَاةٍ dan أَرْطًى. maka ini adalah 8 lughat. 
Redaksi Mushannif "وهي" : maksudnya أُضْحِيَّةٌ
Redaksi Mushannif "اسم لما يذبح من النعم" : maksudnya yang dia adalah seekor unta seekor sapi seekor domba, maka salah satu syarat أُضْحِيَّةٌ adalah statusnya dari yang termasuk binatang ternak yang dia adalah yang 3 ini berdasarkan : 
  • Firman Allah Ta'ala
ولكل أمة جعلنا منسكا ليذكروا اسم الله على ما رزقهم من بهيمة الأنعام

 "dan bagi setiap umat (yang telah lalu sebelum kalian) telah kami jadikan sembelihan qurban supaya mereka menyebutkan asma الله terhadap perkara yang الله telah memberikan rizqi kepada mereka dari binatang ternak (ketika menyembelihnya) ..................... (Lihat : QS.Al-Hajj Ayat 34 - Tafsir Al-Jalalain Jilid 2 Hal 277)

  • Bahwasanya تَضْحِيَّةٌ adalah merupakan suatu ibadah yang berkaitan dengan hayawan. Maka diikhtishash dengan binatang ternak seperti zakat binatang ternak, maka oleh karena bahwasanya zakat binatang ternak merupakan suatu ibadah yang berkaitan dengan hayawan, maka diikhtishash zakat binatang ternak dengan binatang ternak.
Dan dari Imam Ibnu Abbas sesungguhnya mencukupkan mengalirkan darah walaupun dari seekor ayam atau itik, sebagaimana pendapat yang telah mengatakannya Syaikh Al-Maidani. Dan telah ada momentum Syaikh Al-Maidani Rahimahullah memerintahkan seorang faqir untuk mentaqlidi Imam Ibnu Abbas, dan dia mengqiyaskan عَقِيْقَةٌ terhadap أُضْحِيَّةٌ dan berkata kepada orang yang dilahirkan baginya seorang anak "beraqiqahlah dengan ayam jantan taqlid terhadap Imam Ibnu Abbas!".
Redaksi Mushannif "يوم عيد النحر" : maksudnya setelah terbit matahari hari raya nahr dan berlalu seukuran durasi shalat 2 rokaat yang ditakhfif dan 2 khutbah yang ditakhfif, sebagaimana penjelasan yang nanti akan dijelaskan.
Redaksi Mushannif "وأيام التشريق" : maksudnya dengan malam-malam hari-hari tasyriqnya, walaupun status hukum menyembelih pada malam-malamnya adalah makruh. Redaksi Syaikh Al-Khatib Syarbaini adalah "dari mulai hari raya sampai akhir hari-hari tasyriq", maka telah masuk malam-malam dalam redaksinya.
Redaksi Mushannif "تقربا الى الله تعالى" : maksudnya atas dasar taqorrub kepada Allah Ta'ala. Dan keluar dengannya perkara yang seseorang menyembelihnya karena untuk makan atau jagal karena untuk penjualan. 
Alhasil, bahwasanya qayid أُضْحِيَّةٌ ada 3 :
  1. Status أُضْحِيَّةٌnya adalah dari yang termasuk binatang ternak.
  2. Status تَضْحِيَّةٌnya adalah pada hari raya dan hari-hari tasyriq dan malam-malamnya.
  3. Status تَضْحِيَّةٌnya adalah dalam rangka taqorrub kepada Allah Ta'ala
Redaksi Mushannif "وَالْأُضْحِيَةُ" : maksudnya dengan makna تَضْحِيَّةٌ seperti redaksi yang terdapat dalam kitab Ar-Raudhah Ath-Thalibin tidak dengan makna perkara المضحى بها seperti perkara yang diasumsikan perkataan mushannif, karena sesungguhnya tidak sah pemberitahuan tentang أُضْحِيَّةٌ bahwasanya المضحى بها hukumnya sunat dan pastinya sah pemberitahuan perihal bahwasanya hukumnya sunat dari tentang تَضْحِيَّةٌ yang itu merupakan pekerjaan seorang pekerja, dan karena itulah Imam Abi Zakaria Yahya An-Nawawi telah berkata dalam kitab Minhaj Ath-Thalibin التضحية سنة مؤكدة dan pada sebagian salinan matan الأضحية dengan menggugurkan و yang fungsinya untuk استئناف. Dan mushannif banyak mendatangkannya dengan redaksi itu. (Lihat : Hasyiyah Al-Bajuri Jilid 2 Hal 295-296)

قوله تضحية : نائب فاعل يسن وعبر بالتضحية التي هي فعل الفاعل ولم يعبر كغيره بالأضحية التي هي اسم لما يتقرب به من النعم لأن الأحكام انما تتعلق بالأفعال لا بالأعيان
Redaksi Mushannif "تَضْحِيَّةٌ" : na'ibul fa'il dari kata يسن. Mushannif/Syaikh Zainuddin Al-Malibari meredaksikannya dengan تَضْحِيَّةٌ yang dia merupakan pekerjaan seorang pekerja dan tidak meredaksikan seperti selain mushannif dengan الأضحية yang dia merupakan nama bagi perkara yang dijadikan sarana taqorrub dari yang termasuk binatang ternak karena sesungguhnya hukum-hukum tentunya berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan bukan dengan benda-benda. [Lihat : I'anah Ath-Thalibin Jilid 2 Hal 331]

هَدْيٌ Hadyu هَدْيًا Hadyan

الْهَدْيُ: مَا يُذَكَّى مِنَ الأَْنْعَامِ فِي الْحَرَمِ فِي أَيَّامِ النَّحْرِ لِتَمَتُّعٍ أَوْ قِرَانٍ، أَوْ تَرْكِ وَاجِبٍ مِنْ وَاجِبَاتِ النُّسُكِ، أَوْ فِعْل مَحْظُورٍ مِنْ مَحْظُورَاتِ النُّسُكِ، حَجًّا كَانَ أَوْ عُمْرَةً، أَوْ لِمَحْضِ التَّقَرُّبِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى تَطَوُّعًا. وَيَشْتَرِكُ الْهَدْيُ مَعَ الأُْضْحِيَّةِ فِي أَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا ذَبِيحَةٌ، وَمِنَ الأَْنْعَامِ، وَتُذْبَحُ فِي أَيَّامِ النَّحْرِ، وَيُقْصَدُ بِهَا التَّقَرُّبُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى. وَيَفْتَرِقُ الْهَدْيُ ذُو السَّبَبِ عَنِ الأُْضْحِيَّةِ افْتِرَاقًا ظَاهِرًا، فَإِنَّ الأُْضْحِيَّةَ لاَ تَقَعُ عَنْ تَمَتُّعٍ وَلاَ قِرَانٍ، وَلاَ تَكُونُ كَفَّارَةً لِفِعْلٍ مَحْظُورٍ أَوْ تَرْكِ وَاجِبٍ. وَأَمَّا الْهَدْيُ الَّذِي قُصِدَ بِهِ التَّقَرُّبُ الْمَحْضُ فَإِنَّهُ
يَشْتَبِهُ بِالأُْضْحِيَّةِ اشْتِبَاهًا عَظِيمًا، لاَ سِيَّمَا أُضْحِيَّةُ الْمُقِيمِينَ بِمِنًى مِنْ أَهْلِهَا وَمِنَ الْحُجَّاجِ، فَإِنَّهَا ذَبِيحَةٌ مِنَ الأَْنْعَامِ ذُبِحَتْ فِي الْحَرَمِ فِي أَيَّامِ النَّحْرِ تَقَرُّبًا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، وَكُل هَذِهِ الصِّفَاتِ صِفَاتٌ لِلْهَدْيِ فَلاَ يُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا إِلاَّ بِالنِّيَّةِ، فَمَا نُوِيَ بِهِ الْهَدْيُ كَانَ هَدْيًا، وَمَا نُوِيَ بِهِ التَّضْحِيَةُ كَانَ أُضْحِيَّةً
هدي : perkara yang disembelih dari yang termasuk binatang ternak di tanah Haram pada hari nahr bagi haji tamattu atau qiron, atau sebab meninggalkan salah satu wajib dari wajibat nusuk, atau sebab mengerjakan salah satu mahdzur dari mahdzurat nusuk, baik nusuk haji maupun nusuk umroh, atau sebab murni taqorrub kepada Allah sebagai tathawwu'.
Bersekutu هدي beserta أُضْحِيَّةً dalam bahwasanya masing-masing dari keduanya adalah :
  • sembelihan
  • dari yang termasuk binatang ternak
  • disembelih pada hari nahr
  • dimaksudkan dengannya taqorrub kepada Allah
الْهَدْيُ ذُو السَّبَبِ berbeda dari أُضْحِيَّةُ dengan perbedaan yang jelas, karena sesungguhnya أُضْحِيَّةُ :
  • tidak terjadi dari sebab haji tamattu' dan tidak terjadi dari sebab haji qiron.
  • statusnya bukan sebagai kafarot dari sebab mengerjakan mahdzur haji atau meninggalkan wajib haji.
Adapun الْهَدْيُ الَّذِي قُصِدَ بِهِ التَّقَرُّبُ الْمَحْضُ maka sesungguhnya هدي tersebut menyerupai terhadap أُضْحِيَّةُ dengan penyerupaan yang besar, terutama terhadap أُضْحِيَّةُ orang-orang yang mukim di mina baik mukimin yang berasal dari penduduk asli mina maupun mukimin yang berasal dari orang-orang yang sedang melakukan ibadah haji. karena sesungguhnya أُضْحِيَّةُ orang-orang yang mukim di mina adalah merupakan sembelihan dari yang termasuk binatang ternak pada hari nahr dengan maksud taqorrub kepada Allah Ta'ala. Dan semua sifat-sifat ini merupakan sifat-sifat الْهَدْيُ maka tidak dibedakan antara keduanya kecuali dengan niatnya, maka :
  • ذَبِيحَةٌ مِنَ الأَْنْعَامِ ذُبِحَتْ فِي الْحَرَمِ فِي أَيَّامِ النَّحْرِ تَقَرُّبًا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى yang diniatkan dengannya الْهَدْيُ, maka statusnya adalah الْهَدْيُ الَّذِي قُصِدَ بِهِ التَّقَرُّبُ الْمَحْضُ 
  • ذَبِيحَةٌ مِنَ الأَْنْعَامِ ذُبِحَتْ فِي الْحَرَمِ فِي أَيَّامِ النَّحْرِ تَقَرُّبًا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى yang diniatkan dengannya أُضْحِيَّةُ, maka statusnya adalah أُضْحِيَّةُ
[Lihat : Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah Jilid 5 Hal 74-75]

عَقِيْقَةٌ Aqiqah / Aqiqoh / Akikah

العقيقة في اللغة اسم للشعر الذي على رأس المولود وهي في الشرع اسم لما يذبح في اليوم السابع يوم حلق رأسه تسمية لها باسم ما يقارنها
عَقِيْقَةٌ menurut bahasa adalah nama bagi rambut yang ada di atas kepala al-maulud (anak yang dilahirkan). عَقِيْقَةٌ menurut syara adalah nama bagi perkara yang disembelih pada hari ketujuh yaitu hari mencukur rambut maulud ini merupakan suatu penamaan bagi ما يذبح dengan perkara yang menyertainya. [Lihat : Kifayah Al-Akhyar Jilid 2 Hal 242]

وهي في اللغة اسم للشعر الذي على رأس المولود وفي الشرع اسم لما يذبح عند حلق شعره لأن المذبح يقطع والشعر يحلق إذ ذاك
عَقِيْقَةٌ menurut bahasa adalah suatu nama bagi rambut yang tumbuh di atas kepala bayi yang baru dilahirkan. عَقِيْقَةٌ menurut syara adalah suatu nama bagi perkara yang disembelih ketika mencukur rambutnya karena sesungguhnya perkara yang disembelih dipotong dan rambut dicukur, ketika itu. [Tsimar Al-Yani'ah Fi Ar-Riyadh Al-Badi'ah Hal 82]

وهي لغة شعر رأس المولود وشرعًا ما يذبح عند حلق شعر رأسه
عَقِيْقَةٌ menurut bahasa adalah rambut kepala al-maulud. عَقِيْقَةٌ menurut syara adalah perkara yang disembelih ketika mencukur rambut kepala al-maulud. [Lihat : Minhaj Al-Qawim Hal 310]

فَصْلٌ فِي الْعَقِيقَةِ وَهِيَ لُغَةً شَعْرُ رَأْسِ الْمَوْلُودِ حِينَ وِلَادَتِهِ وَشَرْعًا مَا يُذْبَحُ عِنْدَ حَلْقِ شَعْرِهِ تَسْمِيَةً لَهَا بِاسْمِ مُقَارِنِهَا كَمَا هُوَ عَادَتُهُمْ فِي مِثْلِ ذَلِكَ
Fashl tentang عَقِيْقَةٌ - عَقِيْقَةٌ menurut bahasa adalah rambut kepala al-maulud (anak yang dilahirkan) sewaktu dilahirkannya. عَقِيْقَةٌ menurut syara adalah perkara yang disembelih ketika mencukur rambut al-maulud. ini merupakan suatu penamaan bagi ما يذبح dengan nama perkara yang menyertainya sebagaimana itu adalah kebiasaan mereka pada seumpama itu. [Lihat : Tuhfah Al-Muhtaj Jilid 9 Hal 369]

قَوْلُهُ فِي الْعَقِيقَةِ : مِنْ عَقَّ يَعِقُّ بِكَسْرِ الْعَيْنِ وَضَمِّهَا مُغْنِي وَشَوْبَرِيٌّ
قَوْلُهُ وَهِيَ لُغَةً إلَى قَوْلِهِ وَظَاهِرُ كَلَامِ الْمَتْنِ فِي النِّهَايَةِ إلَّا قَوْلَهُ وَأَنْكَرَ إلَى وَالْأَصْلُ وَقَوْلَهُ وَاسْتَبْعَدَهُ إلَى فَاللَّائِقُ وَقَوْلَهُ أَيْ إلَى بَلْ وَكَذَا فِي الْمُغْنِي إلَّا قَوْلَهُ فَاللَّائِقُ إلَى نَقَلَهُ 
قَوْلُهُ عِنْدَ حَلْقِ رَأْسِهِ : أَيْ عِنْدَ طَلَبِ حَلْقِ شَعْرِهِ وَإِنْ لَمْ يُحْلَقْ اهـ ع ش قَوْلُهُ تَسْمِيَةً إلَخْ : عِلَّةٌ لِمُقَدَّرٍ أَيْ وَإِنَّمَا سُمِيَ مَا يُذْبَحُ إلَخْ بِذَلِكَ تَسْمِيَةً إلَخْ قَوْلُهُ بِاسْمِ مُقَارِنِهَا : أَيْ مُتَعَلِّقُ مُقَارَنِهَا إذْ ذَبْحُ الْعَقِيقَةِ إنَّمَا يُقَارِنُ الْحَلْقَ الْمُتَعَلِّقَ بِالشَّعْرِ لَا بِنَفْسِ الشَّعْرِ الْمُسَمَّى بِالْعَقِيقَةِ لُغَةً 
قَوْلُهُ فِي مِثْلِ ذَلِكَ : أَيْ فِي النَّقْلِ مِنْ الْمَعْنَى اللُّغَوِيِّ إلَى الشَّرْعِيِّ
Redaksi Mushonnif "فِي الْعَقِيقَةِ" : dicetak dari عَقَّ يَعُِقُّ dengan kasroh ع dan dhamahnya, Mughni Al-Muhtaj dan Imam Asy-Syaubari.
Redaksi Mushannif "وَهِيَ لُغَةً" : sampai redaksi وَظَاهِرُ كَلَامِ الْمَتْنِ pada kitab Nihayah Al-Muhtaj, kecuali redaksinya وَأَنْكَرَ sampai وَالْأَصْلُ dan redaksinya وَاسْتَبْعَدَهُ sampai فَاللَّائِقُ dan redaksinya أَيْ sampai بَلْ demikian juga dalam kitab Mughni Al-Muhtaj kecuali redaksinya فَاللَّائِقُ sampai نَقَلَهُ
Redaksi Mushannif "عِنْدَ حَلْقِ رَأْسِهِ" : maksudnya ketika mengikhtiyarkan pencukuran rambutnya sekalipun tidak dicukuri rambutnya, selesai penjelasan Imam Ali Syibromilsi.
Redaksi Mushannif "تَسْمِيَةً إلَخْ" : sebuah illat yang diperkirakan. maksudnya adalah tentunya dinamai ما يذبح الخ dengan nama tersebut adalah تَسْمِيَةً الخ
Redaksi Mushannif "بِاسْمِ مُقَارِنِهَا" : maksudnya berkaitan dengan perkara yang menyertainya, karena sembelihan عَقِيْقَةٌ tentunya adalah yang mengiringi pencukuran yang berkaitan dengan rambut tidak terhadap sejatinya rambut yang dinamai dengan عَقِيْقَةٌ secara bahasa.
Redaksi Mushannif "فِي مِثْلِ ذَلِكَ" : maksudnya dalam hal pemindahan dari makna secara bahasa kepada makna secara syara.
[Lihat : Hasyiyah Asy-Syirwani Ala Tuhfah Al-Muhtaj Jilid 9 Hal 369]

والعقيقة: الذبيحة التي تذبح عن المولود، يوم أسبوعه. والأصل في معناها اللغوي: أنها الشعر الذي على المولود، ثم أسمت العرب الذبيحة عند حلق شعر المولود عقيقة، على عادتهم في تسمية الشيء باسم سببه، أو ما يجاوره
عَقِيْقَةٌ : sembelihan yang disembelih dari sebab al-maulud, pada hari ketujuhnya. Asal-muasal pada makna عَقِيْقَةٌ secara bahasa : sesungguhnya عَقِيْقَةٌ adalah rambut yang berada di atas kepala al-maulud, kemudian orang arab menamakan sembelihan ketika mencukur rambut almaulud dengan nama "عَقِيْقَةٌ" berdasarkan kebiasaan mereka dalam hal penamaan sesuatu menggunakan nama penyebabnya atau perkara yang menyertainya. [Lihat : Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu Jilid 4 Hal 2745]

الْعَقِيقَةُ مَا يُذَكَّى مِنَ النَّعَمِ شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ، مِنْ وِلاَدَةِ مَوْلُودٍ، ذَكَرًا كَانَ أَوْ أُنْثَى، وَلاَ شَكَّ أَنَّهَا تُخَالِفُ الأُْضْحِيَّةَ الَّتِي هِيَ شُكْرٌ عَلَى نِعْمَةِ الْحَيَاةِ، لاَ عَلَى الإِْنْعَامِ بِالْمَوْلُودِ، فَلَوْ وُلِدَ لإِِنْسَانٍ مَوْلُودٌ فِي عِيدِ الأَْضْحَى فَذَبَحَ عَنْهُ شُكْرًا عَلَى إِنْعَامِ اللَّهِ بِوِلاَدَتِهِ كَانَتِ الذَّبِيحَةُ عَقِيقَةً. وَإِنْ ذَبَحَ عَنْهُ شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى عَلَى إِنْعَامِهِ عَلَى الْمَوْلُودِ نَفْسِهِ بِالْوُجُودِ وَالْحَيَاةِ فِي هَذَا الْوَقْتِ الْخَاصِّ، كَانَتِ الذَّبِيحَةُ أُضْحِيَّةً
الْعَقِيقَةُ adalah perkara yang disembelih dari yang termasuk binatang ternak dengan maksud syukuran kepada Allah Ta'ala atas perkara yang Allah telah memberikan nikmat dengan perkara tersebut : dari kelahiran al-maulud baik laki maupun perempuan. Dan tidak diragukan bahwasanya الْعَقِيقَةُ membedai الأُْضْحِيَّةَ yang merupakan syukuran atas nikmat hidup bukan atas pemberian nikmat dengan berupa al-maulud. Maka : 
  • jika dilahirkan al-maulud bagi seorang insan pada hari idul adha kemudian dia menyembelih dari sebab al-maulud tersebut sebagai syukuran atas pemberian nikmat Allah dengan kelahirannya maka status sembelihannya adalah sembelihan الْعَقِيقَةُ
  • jika dia menyembelih dari sebab maulud tersebut sebagai syukuran kepada Allah Ta'ala atas nikmat Allah terhadap pribadi anak yang dilahirkan tersebut dengan keberadaannya (nikmat ايجاد) dan kehidupannya (nikmat حياة) pada saat yang special ini maka status sembelihannya adalah sembelihan أُضْحِيَّةً
[Lihat : Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah Jilid 5 Hal 75]

فرع Fara' / Faro' عتيرة Atirah / Atiroh رجيبة Rajibah / Rojibah

قال في التحفة العتيرة بفتح المهملة وكسر الفوقية وهي ما يذبح في العشر الأول من رجب والفرع بفتح الفاء المهملة والراء وبالعين وهو ما يذبح أول نتاج البهيمة رجاء بركتها مندوبتان لأن القصد التقرب الى الله تعالى بالتصدق بلحمها فلا يثبت لهما أحكام الأضحية كما هو ظاهر انتهى وأفتى أحمد الشهيد بافضل بأن الذبح أول رجب سنة مأثورة ونص على ندبها الشافعي وغيره ووقت ذبحها العشر الأول وتسمى الرجبية والعتيرة انتهى
Telah berkata Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab At-Tuhfah Al-Muhtaj : "العتيرة dengan fatah huruf al-muhmalah/ع dan kasroh huruf al-fauqiyah/ت adalah perkara yang disembelih pada 10 Awal dari bulan rojab. Adapun فرع dengan ف al-muhmalah dan ر dan dengan ع adalah perkara yang disembelih pada permulaan kelahiran anak binatang ternak dengan harapan kebarokahannya. Hukum keduanya adalah mandub/sunat, karena sesungguhnya yang dimaksud adalah taqorrub kepada Allah Ta'ala dengan menshadaqohkan terhadap dagingnya. Maka tidak tetap bagi keduanya hukum-hukum أُضْحِيَّةٌ sebagaimana itu dzohir penjelasannya". Dan telah berfatwa Syaikh Ahmad Syahid Bafadhal terhadap "bahwasanya penyembelihan pada awal bulan rojab adalah sunnah ma'tsuroh dan telah me-nash terhadap kemandubannya Imam Syafi'i dan yang lainnya. Waktu penyembelihannya adalah pada 10 awal, dan dinamakan الرجبية dan العتيرة". (Lihat : Bughiyah Al-Mustarsyidin Hal 258]

الْفَرْعُ بِفَتْحِ الْفَاءِ وَالرَّاءِ، وَيُقَال لَهُ الْفَرَعَةُ: أَوَّل نِتَاجِ الْبَهِيمَةِ، كَانَ أَهْل الْجَاهِلِيَّةِ يَذْبَحُونَهُ لِطَوَاغِيتِهِمْ، رَجَاءَ الْبَرَكَةِ فِي الأُْمِّ وَكَثْرَةِ نَسْلِهَا، ثُمَّ صَارَ الْمُسْلِمُونَ يَذْبَحُونَهُ لِلَّهِ تَعَالَى. وَالْعَتِيرَةُ بِفَتْحِ الْعَيْنِ: ذَبِيحَةٌ كَانَ أَهْل الْجَاهِلِيَّةِ يَذْبَحُونَهَا فِي الْعَشْرِ الأُْوَل مِنْ رَجَبٍ لآِلِهَتِهِمْ وَيُسَمُّونَهَا الْعِتْرَ (بِكَسْرٍ فَسُكُونٍ) وَالرَّجِيبَةُ أَيْضًا، ثُمَّ صَارَ الْمُسْلِمُونَ يَذْبَحُونَهَا لِلَّهِ تَعَالَى مِنْ غَيْرِ وُجُوبٍ وَلاَ تَقَيُّدٍ بِزَمَنٍ. وَعَلاَقَةُ الأُْضْحِيَّةِ بِهِمَا أَنَّهُمَا يَشْتَرِكَانِ مَعَهَا فِي أَنَّ الْجَمِيعَ ذَبَائِحُ يُتَقَرَّبُ بِهَا إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَل، وَالْفَرْقُ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُمَا ظَاهِرٌ. فَإِنَّ الْفَرَعَ يَقْصِدُ بِهِ شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى عَلَى أَوَّل نِتَاجٍ تُنْتِجُهُ النَّاقَةُ وَغَيْرُهَا وَرَجَاءَ الْبَرَكَةِ فِيهَا، وَالْعَتِيرَةُ يَقْصِدُ بِهَا شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى عَلَى نِعْمَةِ الْحَيَاةِ إِلَى وَقْتِ ذَبْحِهَا. وَالأُْضْحِيَّةُ يَقْصِدُ بِهَا شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى عَلَى نِعْمَةِ الْحَيَاةِ إِلَى حُلُول الأَْيَّامِ الْفَاضِلَةِ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ الْحَرَامِ
الْفَرْعُ dengan fatah ف dan  ر , dan dikatakan الْفَرَعَةُ adalah permulaan peranakan binatang ternak. Telah ada masyarakat jahiliyah mereka menyembelihnya bagi thagut-thagut mereka dengan harapan mendapat barokah pada sang induk dan banyak keturunannya, kemudian kaum muslimin jadi menyembelihnya karena الله تعالى
الْعَتِيرَةُ dengan fatah ع adalah sembelihan yang telah ada jahiliyah menyembelihnya pada sepuluh awal dari bulan rojab bagi tuhan-tuhan mereka dan mereka menamakannya الْعِتْرَ dengan kasroh kemudian sukun dan juga الرَّجِيبَةُ, kemudian muslimin jadi menyembelihnya karena الله تعالى tanpa hukum wajib dan tanpa qayid waktu. 
Hubungan الأُْضْحِيَّةِ dengan الْفَرْعُ dan الْعَتِيرَةُ adalah bahwasanya keduanya bersekutu beserta الأُْضْحِيَّةِ dalam hal bahwasanya ketiganya merupakan sembelihan-sembelihan yang dijadikan alat taqorrub kepada Allah 'Azza Wa Jalla.
Perbedaan antara الأُْضْحِيَّةِ dengan الْفَرْعُ dan الْعَتِيرَةُ dzahir : 
  • karena bahwasanya الْفَرْعُ dimaksudkan dengannya syukuran kepada Allah atas permulaan peranakan yang telah menganakannya seekor unta dan yang lainnya dan berharap barokah pada الْفَرْعُ. 
  • الْعَتِيرَةُ dimaksudkan dengannya syukuran kepada Allah Ta'ala atas nikmat hidup sampai waktu menyembelihnya.
  • الأُْضْحِيَّةِ dimaksudkan dengannya syukuran kepada Allah Ta'ala atas nikmat hidup sampai datangnya hari yang memiliki keutamaan dari dzulhijjah al-harom.
[Lihat : Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah Jilid 5 Hal 75]

Kamis, 19 Mei 2022

Syarat Wajib & Syarat Sah Shalat - 4 Madzhab

Syarat Wajib & Syarat Sah Shalat - 4 Madzhab : Syafi'i Hanafi Maliki Hanbali

Madzhab Syafi’I

اﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ: ﻗﺴﻤﻮا ﺷﺮﻭﻁ اﻟﺼﻼﺓ ﺇﻟﻰ ﻗﺴﻤﻴﻦ ﻓﻘﻂ: ﺷﺮﻭﻁ ﻭﺟﻮﺏ، ﻭﺷﺮﻭﻁ ﺻﺤﺔ، ﺃﻣﺎ ﺷﺮﻭﻁ اﻟﻮﺟﻮﺏ ﻋﻨﺪﻫﻢ ﻓﻬﻲ ﺳﺘﺔ؛ ﺑﻠﻮﻍ ﺩﻋﻮﺓ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭاﻹﺳﻼﻡ، ﻓﺎﻟﻜﺎﻓﺮ ﻻ ﺗﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺼﻼﺓ ﻋﻨﺪ ﻟﻠﺸﺎﻓﻌﻴﺔ، ﻭﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﻓﻬﻮ ﻳﻌﺬﺏ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻋﺬاﺑﺎ ﺯاﺋﺪا ﻋﻠﻰ ﻋﺬاﺏ اﻟﻜﻔﺮ، ﻭﻣﻦ اﺭﺗﺪ ﻋﻦ اﻹﺳﻼﻡ ﻓﺈﻥ اﻟﺼﻼﺓ ﺗﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ؛ ﻷﻧﻪ ﻣﺴﻠﻢ ﺑﺎﻋﺘﺒﺎﺭ ﺣﺎﻟﺘﻪ اﻷﻭﻟﻰ، ﻭاﻟﻌﻘﻞ ﻭاﻟﺒﻠﻮﻍ، ﻭاﻟﻨﻘﺎء ﻣﻦ ﺩﻡ اﻟﺤﻴﺾ ﻭاﻟﻨﻔﺎﺱ: ﻭﺳﻼﻣﺔ اﻟﺤﻮاﺱ، ﻭﻟﻮ اﻟﺴﻤﻊ، ﺃﻭ اﻟﺒﺼﺮ ﻓﻘﻂ
Mereka membagi syarat-syarat shalat menjadi 2 bagian saja :
  1. Syarat wajib shalat
  2. Syarat sah shalat
Syarat wajib shalat menurut mereka ada 6 :
  1. Sampainya dakwah Nabi Muhammad SAW. 
  2. Islam. Maka orang kafir tidak wajib kepadanya shalat menurut Syafi'iyah. Beserta itu, maka dia akan diadzab sebab shalat dengan adzab tambahan atas adzab kekufurannya. Dan barangsiapa murtad dari islam maka sesungguhnya shalat itu wajib kepadanya karena dia itu muslim dengan memperhitungkan statusnya yang pertama.
  3. Berakal
  4. Baligh
  5. Bersih dari haidh dan nifas
  6. Selamatnya panca indera, sekalipun pendengaran saja atau penglihatan saja.
Lebih jelas > Syarat Wajib Shalat Madzhab Syafi'i
Syarat Sah Shalat :
فَصْلٌ - شُرُوْطُ الصَّلَاةِ ثَمَانِيَّةٌ طَهَارَةُ الْحَدَثَيْنِ وَالطَّهَارَةُ عَنِ النَّجَاسَةِ فِي الثَّوْبِ وَالْبَدَنِ وَالْمَكَانِ وَسَتْرُ الْعَوْرَةِ وَاسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ وَدُخُوْلُ الْوَقْتِ وَالْعِلْمُ بِفَرْضِيَّتِهَا وَأَنْ لَا يَعْتَقِدَ فَرْضًا مِنْ فُرُوْضِهَا سُنَّةً وَاجْتِنَابُ الْمُبْطِلَاتِ
Fashl - Syarat Sah Shalat Ada 8 :
  1. Suci dari hadats besar dan hadats kecil.
  2. Suci dari najis : badannya, pakaiannya dan tempat shalatnya.
  3. Menutup aurat.
  4. Menghadap qiblat.
  5. Sudah masuk waktu shalat.
  6. Mengetahui akan (hukum) kepardhuan shalat tersebut.
  7. Tidak mengi’tiqadkan sunat terhadap salah satu fardhu (rukun) dari antara fardhu-fardhunya (rukun-rukun shalatnya)
  8. Menjauhi segala sesuatu yang dapat membatalkan shalat. 
Lebih jelas > Syarat Sah Shalat Madzhab Syafi'i

Madzhab Hanafi

اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ - ﻗﺴﻤﻮا ﺷﺮﻭﻁ اﻟﺼﻼﺓ ﺇﻟﻰ ﻗﺴﻤﻴﻦ: ﺷﺮﻭﻁ ﻭﺟﻮﺏ، ﻭﺷﺮﻭﻁ ﺻﺤﺔ، ﻛﺎﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ. ﺃﻣﺎ ﺷﺮﻭﻁ اﻟﻮﺟﻮﺏ ﻋﻨﺪﻫﻢ، ﻓﻬﻲ ﺧﻤﺴﺔ: ﺑﻠﻮﻍ ﺩﻋﻮﺓ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭاﻹﺳﻼﻡ، ﻭاﻟﻌﻘﻞ ﻭاﻟﺒﻠﻮﻍ، ﻭاﻟﻨﻘﺎء ﻣﻦ اﻟﺤﻴﺾ ﻭاﻟﻨﻔﺎﺱ، ﻭﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﻟﻢ ﻳﺬﻛﺮ ﺑﻠﻮﻍ اﻟﺪﻋﻮﺓ اﻛﺘﻔﺎء ﺑﺎﺷﺘﺮاﻁ اﻹﺳﻼﻡ، ﻭﺃﻣﺎ ﺷﺮﻭﻁ اﻟﺼﺤﺔ ﻓﻬﻲ ﺳﺘﺔ: ﻃﻬﺎﺭﺓ اﻟﺒﺪﻥ ﻣﻦ اﻟﺤﺪﺙ ﻭاﻟﺨﺒﺚ، ﻭﻃﻬﺎﺭﺓ اﻟﺜﻮﺏ ﻣﻦ اﻟﺨﺒﺚ، ﻭﻃﻬﺎﺭﺓ اﻟﻤﻜﺎﻥ ﻣﻦ اﻟﺨﺒﺚ، ﻭﺳﺘﺮ اﻟﻌﻮﺭﺓ، ﻭاﻟﻨﻴﺔ، ﻭاﺳﺘﻘﺒﺎﻝ اﻟﻘﺒﻠﺔ، ﻓﺰاﺩﻭا ﻓﻲ ﺷﺮﻭﻁ اﻟﻮﺟﻮﺏ: اﻹﺳﻼﻡ ﻛﺎﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ اﻻ ﺃﻧﻬﻢ ﻗﺎﻟﻮا: ﺇﻥ اﻟﻜﺎﻓﺮ ﻻ ﻳﻌﺬﺏ ﻋﻠﻰ ﺗﺮﻛﻬﺎ ﻋﺬاﺑﺎ ﺯاﺋﺪا ﻋﻠﻰ ﻋﺬاﺏ اﻟﻜﻔﺮ ﻣﻄﻠﻘﺎ، ﻭﻳﻈﻬﺮ ﺃﻥ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﺗﻌﺬﻳﺐ اﻟﻜﺎﻓﺮ ﻋﺬاﺑﺎ ﺯاﺋﺪا ﻋﻠﻰ ﻋﺬاﺏ اﻟﻜﻔﺮ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﻧﻈﺮﻳﺔ ﻏﻴﺮ ﻋﻤﻠﻴﺔ. ﻷﻥ ﻋﺬاﺏ اﻟﻜﻔﺮ ﺃﺷﺪ ﺃﻧﻮاﻉ اﻟﻌﺬاﺏ، ﻓﻜﻞ ﻋﺬاﺏ ﻳﺘﺼﻮﺭ ﻓﻬﻮ ﺩﻭﻧﻪ، ﻓﻬﻮ ﺇﻣﺎ ﺩاﺧﻞ ﻓﻴﻪ، ﻭﺇﻣﺎ ﺃﻗﻞ ﻣﻨﻪ، ﻭﺯاﺩﻭا اﻟﻨﻴﺔ، ﻓﻼ ﺗﺼﺢ اﻟﺼﻼﺓ ﺑﻐﻴﺮ ﻧﻴﺔ، ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: "ﺇﻧﻤﺎ اﻷﻋﻤﺎﻝ ﺑﺎﻟﻨﻴﺎﺕ" ﻭﻷﻧﻪ ﺑﺎﻟﻨﻴﺔ ﺗﺘﻤﻴﺰ اﻟﻌﺒﺎﺩاﺕ ﻋﻦ اﻟﻌﺎﺩاﺕ، ﻭﺗﺘﻤﻴﺰ اﻟﻌﺒﺎﺩاﺕ ﺑﻌﻀﻬﺎ ﻋﻦ ﺑﻌﺾ؛ ﻭﻭاﻓﻖ اﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ ﻋﻠﻰ ﻋﺪﻫﺎ ﺷﺮﻃﺎ، ﻭﺟﻌﻠﻬﺎ اﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﺭﻛﻨﺎ، ﻭﻛﺬا اﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﺸﻬﻮﺭ، ﻛﻤﺎ ﻳﺄﺗﻲ ﻓﻲ "ﺃﺭﻛﺎﻥ اﻟﺼﻼﺓ" ﻭﻗﺪ ﻋﺮﻓﺖ ﻣﻤﺎ ﻗﺪﻣﻨﺎﻩ ﻟﻚ ﻓﻲ "ﻣﺒﺤﺚ اﻟﻨﻴﺔ" اﻟﻔﺮﻕ ﺑﻴﻦ اﻟﺸﺮﻁ ﻭاﻟﺮﻛﻦ ﻭﺃﻥ ﻛﻼ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻻ ﻳﺼﺢ اﻟﺸﻲء اﻻ ﺑﻪ ﻓﻼ ﺗﺼﺢ اﻟﺼﻼﺓ اﻻ ﺑﺎﻟﻨﻴﺔ ﺑﺎﺗﻔﺎﻕ اﻷﺋﻤﺔ اﻷﺭﺑﻌﺔ، ﺃﻣﺎ ﻛﻮﻥ اﻟﻨﻴﺔ ﺷﺮﻃﺎ ﺗﺘﻮﻗﻒ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺼﻼﺓ، ﻣﻊ ﻛﻮﻧﻪ ﺧﺎﺭﺟﺎ ﻋﻦ ﺣﻘﻴﻘﺘﻬﺎ، ﺃﻭ ﺭﻛﻨﺎ ﺗﺘﻮﻗﻒ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺼﻼﺓ، ﻭﻫﻮ ﺟﺰء ﻣﻦ ﺣﻘﻴﻘﺘﻬﺎ، ﻓﺘﻠﻚ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﺗﺨﺘﺺ ﺑﻄﺎﻟﺐ اﻟﻌﻠﻢ اﻟﺬﻱ ﻳﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﻳﻌﺮﻑ ﺩﻗﺎﺋﻖ اﻷﻣﻮﺭ اﻟﻨﻈﺮﻳﺔ.
ﻫﺬا، ﻭﻟﻢ ﻳﺬﻛﺮ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﺩﺧﻮﻝ اﻟﻮﻗﺖ ﻓﻲ ﺷﺮﻭﻁ اﻟﻮﺟﻮﺏ ﻭﻻ ﻓﻲ ﺷﺮﻭﻁ اﻟﺼﺤﺔ، ﻭﺫﻟﻚ ﻷﻧﻬﻢ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ: ﺇﻧﻪ ﺷﺮﻁ ﻟﺼﺤﺔ اﻷﺩاء ﻻ ﻟﻨﻔﺲ اﻟﺼﻼﺓ، ﻛﻤﺎ ﻣﺮ ﻓﻲ اﻟﺘﻴﻤﻢ، ﻭﺳﻴﺄﺗﻲ ﻓﻲ ﻣﺒﺤﺚ ﺩﺧﻮﻝ اﻟﻮﻗﺖ
Mereka membagi syarat - syarat shalat menjadi 2 bagian :
  1. Syarat wajib shalat
  2. Syarat sah shalat
Seperti Syafi'iyah.

Syarat Wajib Shalat :
  1. Sampainya dakwah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam
  2. Islam
  3. Berakal
  4. Baligh
  5. Suci dari haidh dan nifas
Banyak dari Hanafiyah yang tidak menyebutkan sampainya dakwah, karena menganggap cukup dengan disyaratkannya Islam.
Syarat Sah Shalat :
  1. Suci badan dari hadats dan khubuts
  2. Suci pakaian dari khubuts
  3. Suci tempat shalat dari khubuts
  4. Menutup aurat
  5. Niat
  6. Menghadap qiblat
Maka mereka menambahkan :
  • Pada syarat wajib shalat terhadap point islam seperti Syafi'iyah. Akan tetapi Hanafiyah berkata : sesungguhnya kafir tidak diadzab atas peninggalan shalat sebagai adzab tambahan atas adzab kekufuran secara muthlaq. Dan dzohir bahwasanya masalah diadzabnya kafir dengan adzab tambahan atas adzab kekufuran adalah merupakan masalah nadzoriyah bukan masalah amaliyah. Karena sesungguhnya adzab kekufuran adalah paling sangatnya jenis adzab. Maka setiap adzab yang bisa diimajinasikan levelnya adalah di bawahnya, bisa termasuk darinya atau yang lebih kurang darinya.
  • Niat pada syarat sah. Maka tidak shalat tanpa adanya niat. Berdasarkan Sabda Rasulullah SAW : "sesungguhnya amal-amal berdasarkan niat". Dan karena sesungguhnya dengan niat menjadi terbedakan ibadah-ibadah dari adat kebiasaan. Dan menjadi terbedakan ibadah-ibadah sebagian dari sebagian lainnya. Dan Hanabilah muwafaqah terhadap menghitungnya sebagai syarat. Dan Syafi'iyah menjadikannya rukun, begitu juga Malikiyah menurut pendapat masyhurnya sepertihalnya penjelasan yang akan datang pada rukun shalat. Dan anda telah mengetahui dari penjelasan yang kami telah mendahulukannya untuk anda pada tempat pembahasan niat terhadap perbedaan antara syarat dan rukun. Dan bahwasanya masing-masing dari keduanya tidak sah suatu perkara kecuali dengannya. Maka tidak sah shalat kecuali dengan niat berdasarkan ittifaq imam 4 madzhab. Adapun keadaan niat sebagai syarat yang menjadi tertangguhkan sebabnya shalat disertai keadaannya yang keluar dari hakikat shalat atau sebagai rukun yang menjadi tertangguhkan sebabnya shalat dalam keadaan itu bagian dari hakikat shalat. Maka itu adalah masalah yang dikhususkan terhadap penuntut ilmu yang ingin mengenali detailnya perkara nadzoriyah.
Ini, sekalipun Hanafiyah tidak menyebutkan masuk waktu shalat pada syarat wajib shalat dan tidak pada syarat sah shalat, itu adalah karena sesungguhnya Hanafiyah mereka berkata : sesungguhnya masuk waktu shalat adalah merupakan syarat untuk sahnya shalat ada'an tidak untuk sah nafs-nya shalat. Sebagaimana yang telah lewat pada tayamum. Dan akan datang pada tempat pembahasan masuk waktu shalat.

Madzhab Maliki 

اﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ﻗﺎﻟﻮا: ﺗﻨﻘﺴﻢ ﺷﺮﻭﻁ اﻟﺼﻼﺓ ﺇﻟﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻗﺴﺎﻡ: ﺷﺮﻭﻁ ﻭﺟﻮﺏ ﻓﻘﻄ ﻭﺷﺮﻭﻁ ﺻﺤﺔ ﻓﻘﻂ، ﻭﺷﺮﻭﻁ ﻭﺟﻮﺏ ﻭﺻﺤﺔ ﻣﻌﺎ، ﻓﺄﻣﺎ اﻟﻘﺴﻢ اﻷﻭﻝ، ﻭﻫﻮ ﺷﺮﻭﻁ اﻟﻮﺟﻮﺏ ﻓﻘﻂ ﻓﻬﻮ ﺃﻣﺮاﻥ، ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ: اﻟﺒﻠﻮﻍ، ﻓﻼ ﺗﺠﺐ ﻋﻠﻰ اﻟﺼﺒﻲ، ﻭﻟﻜﻦ ﻳﺆﻣﺮ ﺑﻬﺎ ﻟﺴﺒﻊ ﺳﻨﻴﻦ؛ ﻭﻳﻀﺮﺏ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻟﻌﺸﺮ ﺿﺮﺑﺎ ﺧﻔﻴﻔﺎ ﻟﻴﺘﻌﻮﺩ ﻋﻠﻴﻬﺎ؛ ﻓﺈﻥ اﻟﺘﻜﺎﻟﻴﻒ اﻟﺸﺮﻋﻴﺔ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻛﻠﻬﺎ ﻣﺒﻨﻴﺔ ﻋﻠﻰ ﺟﻠﺐ اﻟﻤﺼﺎﻟﺢ ﻭﺩﺭء اﻟﻤﻔﺎﺳﺪ، ﻭﺃﻥ اﻟﻌﻘﻼء ﻻ ﻳﺠﺪﻭﻥ ﺣﺮﺟﺎ ﻓﻲ اﻟﻘﻴﺎﻡ ﺑﻬﺎ ﺑﻌﺪ اﻟﺘﻜﻠﻴﻒ، ﻭﻟﻜﻦ اﻟﻌﺎﺩﺓ ﻟﻬﺎ ﺣﻜﻤﻬﺎ؛ ﻓﻘﺪ ﻳﻌﻠﻢ اﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﻦ ﻓﻮاﺋﺪ اﻟﺼﻼﺓ اﻟﻤﺎﺩﻳﺔ ﻭاﻷﺩﺑﻴﺔ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ اﻟﻜﻔﺎﻳﺔ ﻓﻲ ﺣﻤﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﺩاﺋﻬﺎ، ﻭﻟﻜﻦ ﻋﺪﻡ ﺗﻌﻮﺩﻩ ﻋﻠﻰ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﻳﻘﻌﺪ ﺑﻪ ﻣﻦ اﻟﻘﻴﺎﻡ ﺑﺄﺩاﺋﻬﺎ، ﺛﺎﻧﻴﻬﻤﺎ: ﻋﺪﻡ اﻹﻛﺮاﻩ ﻋﻠﻰ ﺗﺮﻛﻬﺎ، ﻛﺄﻥ ﻳﺄﻣﺮﻩ ﻇﺎﻟﻢ ﺑﺘﺮﻙ اﻟﺼﻼﺓ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺘﺮﻛﻬﺎ ﺳﺠﻨﻪ، ﺃﻭ ﺿﺮﺑﻪ، ﺃﻭ ﻗﺘﻠﻪ، ﺃﻭ ﻭﺿﻊ اﻟﻘﻴﺪ ﻓﻲ ﻳﺪﻩ، ﺃﻭ ﺻﻔﻌﻪ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻬﻪ ﺑﻤﻸ ﻣﻦ اﻟﻨﺎﺱ ﺇﺫا ﻛﺎﻥ ﻫﺬا ﻳﻨﻘﺺ ﻗﺪﺭﻩ، ﻓﻤﻦ ﺗﺮﻙ اﻟﺼﻼﺓ ﻣﻜﺮﻫﺎ ﻓﻼ ﺇﺛﻢ ﻋﻠﻴﻪ، ﺑﻞ ﻻ ﺗﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺎ ﺩاﻡ ﻣﻜﺮﻫﺎ، ﻷﻥ اﻟﻤﻜﺮﻩ ﻏﻴﺮ ﻣﻜﻠﻒ، ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: "ﺭﻓﻊ ﻋﻦ ﺃﻣﺘﻲ اﻟﺨﻄﺄ ﻭاﻟﻨﺴﻴﺎﻥ ﻭﻣﺎ اﺳﺘﻜﺮﻫﻮا ﻋﻠﻴﻪ" ﻭاﻟﺬﻱ ﻻ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﻜﺮﻩ ﻋﻨﺪﻫﻢ ﺇﻧﻤﺎ ﻫﻮ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﺑﻬﻴﺌﺘﻬﺎ اﻟﻈﺎﻫﺮﺓ، ﻭﺇﻻ ﻓﻤﺘﻰ ﺗﻤﻜﻦ ﻣﻦ اﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﻭﺟﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻌﻞ ﻣﺎ ﻳﻘﺪﺭ ﻋﻠﻴﻪ، ﻣﻦ ﻧﻴﺔ، ﻭﺇﺣﺮاﻡ ﻭﻗﺮاءﺓ، ﻭﺇﻳﻤﺎء ﻓﻬﻮ ﻛﺎﻟﻤﺮﻳﺾ اﻟﻌﺎﺟﺰ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻌﻞ ﻣﺎ ﻳﻘﺪﺭ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﻳﺴﻘﻂ ﻋﻨﻪ ﻣﺎ ﻋﺠﺰ ﻋﻦ ﻓﻌﻠﻪ.
ﻭﺃﻣﺎ اﻟﻘﺴﻢ اﻟﺜﺎﻧﻲ، ﻭﻫﻮ ﺷﺮﻁ اﻟﺼﺤﺔ ﻓﻘﻂ، ﻓﻬﻮ ﺧﻤﺴﺔ: اﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﻣﻦ اﻟﺤﺪﺙ، ﻭاﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﻣﻦ اﻟﺨﺒﺚ، ﻭاﻹﺳﻼﻡ، ﻭاﺳﺘﻘﺒﺎﻝ اﻟﻘﺒﻠﺔ، ﻭﺳﺘﺮ اﻟﻌﻮﺭﺓ.
ﻭﺃﻣﺎ اﻟﻘﺴﻢ اﻟﺜﺎﻟﺚ ﻭﻫﻮ ﺷﺮﻭﻁ اﻟﻮﺟﻮﺏ ﻭاﻟﺼﺤﺔ ﻣﻌﺎ، ﻓﻬﻮ ﺳﺘﺔ: ﺑﻠﻮﻍ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻓﻤﻦ ﻟﻢ ﺗﺒﻠﻐه اﻟﺪﻋﻮﺓ ﻻ ﺗﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺼﻼﺓ ﻭﻻ ﺗﺼﺢ ﻣﻨﻪ ﺇﺫا ﻓﺮﺽ ﻭﺻﻠﻰ، ﻭاﻟﻌﻘﻞ؛ ﻭﺩﺧﻮﻝ ﻭﻗﺖ اﻟﺼﻼﺓ، ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﻔﻘﺪ اﻟﻄﻬﻮﺭﻳﻦ؛ ﺑﺤﻴﺚ ﻻ ﻳﺠﺪ ﻣﺎء، ﻭﻻ ﺷﻴﺌﺎ ﻳﺘﻴﻤﻢ ﺑﻪ، ﻭﻋﺪﻡ اﻟﻨﻮﻡ ﻭاﻟﻐﻔﻠﺔ، ﻭاﻟﺨﻠﻮ ﻣﻦ ﺩﻡ اﻟﺤﻴﺾ ﻭاﻟﻨﻔﺎﺱ. ﻭﻳﻌﻠﻢ ﻣﻦ ﻫﺬا ﺃﻥ اﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ﺯاﺩﻭا ﻓﻲ ﺷﺮﻭﻁ اﻟﺼﺤﺔ: اﻹﺳﻼﻡ، ﻭﻟﻢ ﻳﺠﻌﻠﻮﻩ ﻣﻦ ﺷﺮﻭﻁ اﻟﻮﺟﻮﺏ، ﻓﺎﻟﻜﻔﺎﺭ ﺗﺠﺐ ﻋﻠﻴﻬﻢ اﻟﺼﻼﺓ ﻋﻨﺪﻫﻢ؛ ﻭﻟﻜﻦ ﻻ ﺗﺼﺢ اﻻ ﺑﺎﻹﺳﻼﻡ، ﺧﻼﻓﺎ ﻟﻐﻴﺮﻫﻢ، ﻓﺈﻧﻪ ﻋﺪﻭﻩ ﻓﻲ ﺷﺮﻭﻁ اﻟﻮﺟﻮﺏ، ﻭﻋﺪﻭا اﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﺷﺮﻃﻴﻦ. ﻭﻫﻤﺎ ﻃﻬﺎﺭﺓ اﻟﺤﺪﺙ، ﻭﻃﻬﺎﺭﺓ اﻟﺨﺒﺚ؛ ﻭﺯاﺩﻭا ﻓﻲ ﺷﺮﻭﻁ اﻟﻮﺟﻮﺏ ﻋﺪﻡ اﻹﻛﺮاﻩ ﻋﻠﻰ ﺗﺮﻛﻬﺎ

Malikiyah berkata : syarat-syarat shalat terbagi menjadi 3 bagian : 
  1. Syarat wajib
  2. Syarat sah
  3. Syarat wajib serta sah
Bag 1 - Syarat Wajib Shalat :
  1. Baligh. Maka tidak wajib kepada Shabiy, akan tetapi wajib diperintah shalat sebab usia 7 tahun dan dipukul sebab shalat karena usia 10 tahun dengan pukulan ringan supaya dia kembali pada melaksanakan shalat. Karena sesungguhnya taklif syar'iyah sekalipun semuanya dibangun di atas جلب المصالح ودرء المفاسد dan orang yang berakal tidak akan menemukan dosa pada penunaian terhadap shalat setelah adanya taklif, akan tetapi adat memiliki hukum : terkadang seorang insan mengetahui dari antara faedah-faedah shalat berupa materi dan adab terhadap perkara yang di dalamnya terdapat kifayah pada tanggungannya untuk menunaikannya. Dan akan tetapi kembalinya dia terhadap mengerjakannya menempati dengannya dari pendirian terhadap penunaian shalat.
  2. Tidak ada paksaan untuk meninggalkan shalat. Seperti : memerintah terhadapnya orang yang dzolim untuk meninggalkan shalat, jika dia tidak meninggalkan shalat maka sakadang dzolim tersebut akan memenjarakannya atau membunuhnya atau akan melilitkan rantai pada kakinya atau sakadang dzolim akan menerapkan praktek penamparan terhadap wajahnya oleh orang banyak. Karena tatkala ini terjadi maka mengurangi terhadap kemampuannya. Maka barangsiapa meninggalkan shalat sebagai orang yang mukroh (dipaksa), tidak ada dosa baginya. Bahkan shalat tidak wajib kepadanya selama dalam keadaan mukroh, karena orang mukroh tidak ditaklif sebagaimana Sabda Rasulullah SAW : "diangkat qolam dari umatku yang kesalahan, lupa dan selagi keadaan dipaksa menguasainya". Perkara yang menjadi wajib kepada al-mukroh menurut mereka hanya mengerjakannya dengan hai'at shalat yang dzohir, dan pada level selanjutnya tatkala memiliki thaharoh maka wajib kepadanya mengerjakan perkara yang dia mampu terhadapnya yaitu dari : niat, takbirotul ihrom, qiro'at dan isyarah. Maka dia sepertihalnya orang sakit yang tidak mampu yang wajib kepadanya mengerjakan perkara yang dia mampu terhadapnya, serta gugurlah darinya perkara yang dia tidak mampu mengerjakannya.
Bag 2 - Syarat Sah Shalat :
  1. Suci dari Hadats
  2. Suci dari Khubuts
  3. Islam
  4. Menghadap qiblat
  5. Menutup aurat
Bag 3 - Syarat Wajib serta Sah Shalat :
  1. Sampainya dakwah Nabi Muhammad SAW. Maka barangsiapa tidak sampai kepadanya dakwah Nabi SAW, tidak wajib kepadanya shalat dan tidak sah shalat darinya.
  2. Berakal
  3. Masuk waktu shalat
  4. Tidak  faqid Ath-Thahurain, sekira dia tidak menemukan air dan sesuatupun yang dapat digunakan sebagai alat tayamum.
  5. Tidak dalam keadaan tidur dan ghaflah
  6. Kosong dari darah haidh dan nifas
Dapat diketahui dari semua ini bahwasanya Malikiyah :
  • Mereka menambahkan pada syarat sah, terhadap Islam. Dan mereka tidak menjadikannya dari sebagian syarat-syarat wajib. Maka kuffar wajib kepada mereka shalat, tapi tidak sah kecuali dengan masuk islam. Ini khilaf dengan madzhab selain mereka. Karena bahwasanya mereka menghitungnya pada syarat wajib.
  • Mereka menghitung thaharoh menjadi 2 syarat, yaitu : thaharoh al-hadats dan thaharoh al-khubts.
  • Mereka menambah pada syarat wajib terhadap tidak adanya paksaan untuk meninggalkan shalat.

Madzhab Hanbali

اﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ: ﻟﻢ ﻳﻘﺴﻢ اﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ ﺷﺮﻭﻁ اﻟﺼﻼﺓ ﺇﻟﻰ ﺷﺮﻭﻁ ﻭﺟﻮﺏ، ﻭﺷﺮﻭﻁ ﺻﺤﺔ، ﻛﻐﻴﺮﻫﻢ، ﺑﻞ ﻋﺪﻭا اﻟﺸﺮﻭﻁ ﺗﺴﻌﺔ، ﻭﻫﻲ: اﻹﺳﻼﻡ، ﻭاﻟﻌﻘﻞ، ﻭاﻟﺘﻤﻴﻴﺰ، ﻭاﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﻣﻦ اﻟﺤﺪﺙ ﻣﻊ اﻟﻘﺪﺭﺓ، ﻭﺳﺘﺮ اﻟﻌﻮﺭﺓ، ﻭاﺟﺘﻨﺎﺏ اﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺑﺒﺪﻧﻪ ﻭﺛﻮﺑﻪ ﻭﺑﻘﻌﺘﻪ ﻭاﻟﻨﻴﺔ، ﻭاﺳﺘﻘﺒﺎﻝ اﻟﻘﺒﻠﺔ، ﻭﺩﺧﻮﻝ اﻟﻮﻗﺖ، ﻭﻗﺎﻟﻮا: ﺇﻧﻬﺎ ﺟﻤﻴﻌﻬﺎ ﺷﺮﻭﻁ ﻟﺼﺤﺔ اﻟﺼﻼﺓ
Hanabilah tidak membagi syarat-syarat shalat kepada syarat-syarat wajib dan syarat-syarat sah sepertihalnya selain mereka, tapi mereka menjadikan hitungan syarat-syaratnya menjadi 9 :
  1. Islam
  2. Berakal
  3. Tamyiz
  4. Suci dari hadats disertai mampu
  5. Menutup aurat
  6. Menjauhkan badan, pakaian dan tempat shalat dari najis
  7. Niat
  8. Menghadap qiblat
  9. Masuk waktu shalat
Mereka berkata bahwasanya semuanya adalah syarat sah shalat.

Sumber :
[1] Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba'ah Jilid 1 Hal 161-163
[2] Safinah An-Naja Hal 46-48

Selasa, 17 Mei 2022

Syarat Wajib Shalat - Madzhab Imam Syafi'i

Syarat Wajib Shalat - Madzhab Imam Syafi'i ada 6 (wajib shalat terhadap orang yang memiliki kriteria ini) :
  1. Islam
  2. Baligh
  3. Berakal
  4. Selamat salah satu indera penglihatan dan pendengaran
  5. Sampainya dakwah Nabi Muhammad SAW
  6. Bersih dari haidh dan nifas
Islam
Sekalipun Islamnya pada zaman yang telah lewat, seperti murtad. Oleh karena Islam menjadi salah satu syarat wajib shalat maka kafir ashli tidak wajib mengqadha shalat jika dia masuk islam, bahkan jika dia mengqadhapun shalatnya laa yan’aqid/tidak jadi. Adapun kafir murtad, maka menjadi wajib kepadanya mengqadha shalat. Bahkan termasuk yang menjadi tanggungan kewajibannya dalam hal mengqadha, zaman junun ketika dia sedang murtad. Tidak termasuk zaman haidh dan zaman nifas.

Baligh
Baik menjadi balighnya disebabkan mencapai usia 15 tahun, ihtilam maupun disebabkan haidh. Oleh karena baligh menjadi salah satu syarat wajib shalat maka qadha tidak wajib kepada shabiy/anak setelah dia mencapai baligh. Tapi yundabu/disunatkan kepadanya mengqadha shalat yang telah luput semasa setelah tamyiz s/d baligh jika dia telah mencapai baligh. Tidak disunatkan kepadanya mengqadha shalat yang telah luput semasa sebelum tamyiz, bahkan haram hukumnya dan shalat qadhanya pun tidak jadi jika dilakukan. Telah mengatakannya Imam Abdul Karim.

Berakal
Oleh karena berakal menjadi salah satu syarat wajib shalat maka qadha tidak wajib kepada orang gila/majnun jika dia sembuh, kecuali jika kegilaan tersebut terjadi pada zaman murtad. Dan tidak wajib qadha kepada orang yang mughma alaih/pingsan, kecuali ada unsure kesengajaan pada sebab mughma alaihnya. Maka jika ada unsur kesengajaan pada sebab majnun dan mughma alaih, qadha menjadi wajib kepada mereka berdua. Adapun jika tidak ada kesengajaan, maka qadha bukan wajib melainkan yustahab/disunatkan berdasarkan pendapat mu’tamad dalam madzhab Imam Syafi’i.

Selamat salah satu indera pendengaran dan penglihatan
Oleh karena selamat salah satu indera pendengaran dan penglihatan menjadi salah satu syarat wajib shalat maka shalat tidak wajib kepada orang yang sejak dilahirkan diciptakan Allah dalam kondisi tidak bisa mendengar dan tidak bisa melihat sekalipun dia bisa berbicara. Dan tidak wajib kepadanya mengqadha shalat, jika hilang mani’nya (tidak bisa mendengarnya atau tidak bisa melihatnya)

Sampainya dakwah Nabi Muhammad SAW
Oleh karena sampainya dakwah Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu syarat wajib shalat maka shalat tidak wajib kepada orang yang tidak sampai kepadanya dakwah Nabi Muhammad SAW. Tapi jika orang yang tidak sampai kepadanya dakwah Nabi Muhammad SAW tersebut masuk islam, maka wajib kepadanya qadha. Imam Asy-Syibramilsi telah mengatakan itu.

Bersih dari haidh dan nifas
Oleh karena bersih dari haidh dan nifas menjadi salah satu syarat wajib shalat maka qadha shalat tidak wajib kepada orang yang haidh dan nifas. Sekalipun kondisi haidh dan nifas tersebut dialami pada masa sedang murtad, bahkan mengqadha dalam hal ini juga tidak yundabu/disunatkan. Telah berkata Syaikh Muhammad Al-Baqri : “jika orang yang haidh dan nifas berkehendak untuk mengqadhanya maka shalatnya sah disertai hukum makruh”.

Jika hilang al-mawanii’ yang sudah disebutkan dari mereka semua dan masih tersisa waktu shalat sedurasi ukuran takbirotul ihrom, maka wajiblah shalat tersebut kepada mereka. Begitupula wajib kepada mereka shalat yang sebelumnya jika shalat sebelumnya pantas untuk menjamanya besertanya.

Sumber :
Kasyifah As-Saja fi Syarhi Safinah An-Naja Hal 49

Minggu, 15 Mei 2022

Menggunakan Qaul Dha'if Dalam Lingkungan Madzhab Yang Sudah Dita'yin & Diiltizami Lebih Utama Daripada Taqlid Terhadap Madzhab Lain

Bolehkah qaul dha'if dipergunakan sebagai dasar dari amaliyah ibadah kita? Logikanya begini, ulama menampilkan qaul-qaul tersebut dalam kitab-kitabnya bukan tanpa tujuan, yang salah satu di antaranya tentu saja sebagai alternatif yang bisa dijadikan pegangan dasar amaliyah ibadah kita. Selama kualitas kedhaifannya tidak terlalu.
وأما الأقوال الضعيفة فيجوز العمل بها في حق النفس لا في حق الغير ما لم يشتد ضعفها ولا يجوز الإفتاء ولا الحكم بها. والقول الضعيف شامل لخلاف الأصح وخلاف المعتمد وخلاف الأوجه وخلاف المتجه. وأما خلاف الصحيح فالغالب أنه يكون فاسدا لا يجوز الأخذ به. ومع هذا كله فلا يجوز للمفتي أن يفتى حتى يأخذ العلم بالتعلم من أهله المتقين له العارفين به. وأما مجرد الأخذ من الكتب من غير أخذ عمن ذكر فلا يجوز لقوله صلى الله عليه وسلم انما العلم بالتعلم ومع ذلك لابد من فهم ثاقب ورأي صائب فعلى من أراد الفتوى أن يعتنى بالتعلم غاية الإعتناء اه
Adapun qaul-qaul dha'if, maka boleh amal menggunakannya di hak diri sendiri tidak di hak orang lain. Selagi tidak kebangetan dha'ifnya. Tidak boleh berfatwa dan menetapkan hukum dengannya. Qaul dha'if mencakup terhadap :
  • Qaul khilaf al-ashahh
  • Qaul khilaf al-mu'tamad
  • Wajh khilaf al-aujuh
  • Wajh khilaf al-muttajah
Adapun qaul khilaf ash-shahih, yang ghalib adalah bahwasanya itu keadaannya fasid. Tidak boleh mengambilnya. Beserta ini semuanya, maka tidak boleh bagi seorang mufti berfatwa sehingga mengambil ilmu melalui ta'allum. Beserta itu, tidak boleh tidak dari memiliki pemahaman yang mendalam dan perspektif yang benar. Maka wajib kepada orang yang bermaksud untuk berfatwa berhati-hati dalam berta'allum sehati-hatinya.[1]

Menurut sebagian ulama, menggunakan qaul dha'if dalam lingkungan madzhab yang sudah dita'yin & diiltizami bahkan lebih utama daripada taqlid terhadap madzhab lain. Hal itu sehubungan dengan tidak mudahnya upaya pemenuhan syarat menggunakan pendapat madzhab lain.
في الفوائد المدنية للكردي أن تقليد القول أو الوجه الضعيف في المذهب بشرطه أولى من تقليد مذهب الغير لعسر اجتماع شروطه اه
Terdapat penjelasan di dalam Kitab Al-Fawa'id Al-Madaniyah milik Imam Al-Kurdi, bahwasanya taqlid terhadap القول الضعيف في المذهب atau الوجه الضعيف في المذهب dengan memenuhi syarat taqlid lebih utama daripada mentaqlidi madzhab lain dikarenakan sulitnya memenuhi syarat-syarat taqlid.[2]

Sumber :
[1] Sayid Abu Bakar Ad-Dimyathi, I'anah Ath-Thalibin Jilid 2 Hal 19.
[2] Sayid Abdurrohman Ba'alawi, Bughiyah Al-Mustarsyidin Hal 10.

Kamis, 12 Mei 2022

Perbedaan Sunat, Mandub, Mustahab, Tathawwu' - Menurut Ulama Fiqih 4 Madzhab

Perbedaan Sunat, Mandub, Mustahab, Tathawwu' - Menurut Ulama Fiqih 4 Madzhab : Syafi'iyah, Malikiyah, Hanafiyah, Hanabilah.

Menurut Syafi'iyah

Mandub, mustahab, tathawwu' dan sunnah merupakan lafadz-lafadz mutarodif. Maksudnya : nama-nama untuk makna yang satu. Dan makna yang satu itu adalah sebagaimana yang dimaklum dari had ندب :
الْفِعْلُ الْمَطْلُوْبُ طَلَبًا غَيْرَ جَزِمٍ
Pekerjaan yang dituntut dengan tuntutan yang tidak jazim.
Mengkhilafi terhadap sebagian dari ashhab kita, yaitu Al-Qadhi Husain dan yang lainnya dalam hal penafian mereka terhadap ke-taroduf-an semua itu. Sekira mereka berkata :
هذا الفعل إن واظب عليه النبي صلى الله عليه وسلم فهو السنة أو لم يواظب عليه كأن فعله مرة أو مرتين فهو المستحب أو لم يفعله وهو ما ينشئه الإنسان باختياره من الأوراد فهو التطوع ولم يتعرضوا للمندوب لعمومه للأقسام الثلاثة بلا شك
Pekerjaan ini jika Rasulullah SAW muwadzobah terhadapnya maka pekerjaan tersebut namanya adalah as-sunnah. Jika Rasulullah tidak me-muwadzobah-kan terhadapnya seperti mengerjakannya sekali atau dua kali, maka pekerjaan ini namanya adalah al-mustahab. Jika Rasulullah tidak mengerjakannya, dan seorang insan memunculkannya dengan atas pilihan Rasulullah SAW dari wirid-wirid maka pekerjaan itu namanya adalah at-tathawwu'. Mereka tidak menampilkan terhadap al-mandub karena umumnya makna al-mandub terhadap bagian-bagian yang 3 tanpa keraguan.[1]

Sunat, Mandub, Mustahab dan Tathawwu’ merupakan lafadz-lafadz mutarodifah dengan makna yang satu yaitu :
مَا يُطْلَبُ مِنَ الْمُكَلَّفِ أَنْ يَفْعَلَهُ طَلَبًا غَيْرَ جَزِمٍ فَإِذَا فَعَلَهُ يُثَابُ عَلَى فَعْلِهِ وَإِذَا تَرَكَهُ لَا يُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ
"Perkara yang dituntut dari mukallaf mengerjakannya dengan tuntutan yang tidak jazim. Maka jika dia telah mengerjakannya, akan diberi pahala atas pekerjaannya. Dan jika dia telah meninggalkannya, maka akan di'adzab atas peninggalannya"
Kemudian mereka membagi sunat kepada 2 bagian : 
1).Sunat ‘ain.
Sunat 'ain adalah  : 
مَا يُطْلَبُ فِعْلُهُ بِخُصُوْصِهِ مِنَ الْمُكَلَّفِ طَلَباً غَيْرَ جَازِمٍ وَلَا يُخْتَصُّ بِهِ اِلَّا وَاحِدٌ مِنَ الْمُكَلَّفِيْنَ دُوْنَ الْآخَرِ
Perkara yang dituntut pengerjaannya dengan kekhususannya dari seorang mukallaf dengan tuntutan yang tidak jazim dan tidak dikhususkan dengannya kecuali satu orang mukallaf dari antara semua mukallaf tidak yang lainnya.
Yang demikian itu adalah seperti sunat-sunat pada fara’idh ash-shalat. 
2).Sunat Kifayah.
Sunat kifayah adalah :
مَا يُخَاطَبَ بِهَا مَجْمُوْعُ الْمُكَلَّفِيْنَ بِحَيْثُ إِذَا أَتَى بِهَا بَعْضُهُمْ سَقَطَتْ عَنِ الْبَاقِيْنَ
Perkara yang dikhitobi dengannya keseluruhan mukallafin sekira jika mendatangkan terhadap perkara tersebut sebagian mukallafin maka menjadi jatuhlah perkara tersebut dari mukallafin sisanya.
Yang demikian itu adalah seperti sunat ketika mereka makan bersama, kemudian salah seorang di antara mereka membaca tasmiyah. Maka sunat membaca tasmiyah tersebut gugur dari selainnya, tapi dikhususkan orang yang membaca mengenai pahala pelaksanaan sunat bukan selainnya. [2]

Menurut Malikiyah

Sunat adalah :
ما طلبه الشارع، وأكد أمره، وعظم قدره وأظهره في الجماعة ولم يقم دليل على وجوبه. ويثاب فاعلها ولا يعاقب تاركها
Perkara yang Syari' menuntut perkara tersebut, kuat perintahnya, agung ukurannya, lebih dzohirnya pada jama'ah, tidak berdiri suatu dalil atas kewajibannya, akan diberi pahala orang yang mengerjakannya dan tidak akan di'adzab orang yang meninggalkannya.
Dan sunat ini ada perbedaan dengan mandub dalam madzhab mereka, karena mandub adalah :
ما طلبه الشارع ولم يؤكد طلبه وإذا فعله المكلف يثاب وإذا تركه لا يعاقب ويعبرون عن المندوب بالفضيلة
Perkara yang Syari' menuntutnya, tidak kuat tuntutannya, jika seorang mukallaf telah mengerjakannya maka akan diberi pahala dan jika seorang mukallaf meninggalkannya maka tidak akan di'adzab, dan tentang mandub mereka terkadang menyebutnya dengan fadhilah.
Mereka memberikan perumpamaan terhadap mandub dengan shalat 4 rakaat qabla dzuhur dan selainnya dari antara perkara-perkara yang anda akan mengenalinya nanti pada pembahasan “mandubat ash-shalat”. [2]

Menurut Hanafiyah

Sunat terbagi menjadi 2 bagian, yaitu : 1).Sunat Mu’akkadah
Sunat Mu’akkadah adalah dengan makna wajib menurut mereka. Karena mereka berkata :
إن الواجب أقل من الفرض
Sesungguhnya wajib lebih sedikit dari fardhu
Wajib dimaksud adalah :
ما ثبت بدليل فيه سبهة ويسمى فرضاً عملياً. بمعنى أنه يعامل معاملة الفرائض في العمل. فيأثم بتركه. ويجب فيه الترتيب والقضاء ولكن لا يجب اعتقاد أنه فرض
Perkara yang ditetapkan dengan dalil yang di dalamnya terdapat ketidakpastian, dinamakan juga fardhu amaly, dengan makna bahwasanya seorang mukallaf mengamalkan layaknya pengamalan fardhu-fardhu dalam hal pengamalan, maka menjadi berdosa sebab meninggalkannya, dan wajib pada pengamalannya tertib dan wajib qadha, akan tetapi tidak wajib mengi’tiqadkan bahwasanya itu fardhu.

Dan yang demikian itu adalah seperti shalat witir, karena bahwasanya shalat witir menurut mereka adalah fardhu mengamalkannya tidak mengi’tiqadkannya. Maka menjadi berdosa mukallaf yang meninggalkannya dan tidak jadi kufur orang yang mengingkari kefardhuannya. Hal ini berbeda dengan shalat fardhu 5 waktu, karena bahwasanya shalat fardhu 5 waktu adalah fardhu mengamalkannya dan fardhu meng’itiqadkannya. Maka menjadi berdosa orang yang meninggalkannya dan menjadi kufur orang yang mengingkari kefardhuannya, berdasarkan pendapat bahwasanya orang yang meninggalkan perkara wajib menurut ulama hanafiyah tidaklah berdosa seperti dosanya orang yang meninggalkan fardhu. Maka dia tidak di'adzab dengan neraka menurut qaul tahqiq madzhab Hanafi, akan tetapi menjadi dihalangi dari mendapatkan syafa’at Rasulullah SAW. 

Dan dengan demikian dapat diketahui bahwasanya Hanafiyah jika mereka berkata : “ini sunat mu’akkad” maka yang mereka maksudkan dengan perkataan tersebut adalah perkara wajib yang telah kami jelaskan. 

Dan dari sebagian hukum-hukumnya adalah bahwasanya sunat mu’akkadah jika ditinggalkan dalam shalat dikarenakan lupa, maka bisa ditambal dengan sujud sahwi.

2).Sunat Ghair Mu’akkadah
Mereka menyebutnya mandub dan mustahab. Sunat Ghair Mu’akkadah adalah :
ما يثاب على فعله، ولا يعاقب على تركه
Perkara yang akan diberi pahala atas pengerjaannya dan tidak akan di'adzab atas peninggalannya. [2]

Menurut Hanabilah

Sunat, Mandub dan Mustahab merupakan lafadz-lafadz mutarodifah dengan makna yang satu yaitu :
ما يثاب على فعله، ولا يعاقب على تركه
Perkara yang akan diberi pahala atas pengerjaannya dan tidak akan di'adzab atas peninggalannya. [2]
Sepertihalnya penjelasan yang Syafi’iyah telah mengatakannya. Hanya saja mereka membagi sunat kepada Muakkadah dan Ghair Mu’akkadah.

Selanjutnya, Mu’akkadah adalah seperti : shalat witir, shalat 2 rakaat fajar dan shalat tarawih. Dan hukum meninggalkannya menurut mereka adalah makruh. Adapun meninggalkan Ghair Mu’akkadah maka bukanlah makruh. [2]

Sumber :
[1] Al-Mawani Al-Jawami Syarah Al-Jam'i Al-Jawami Jilid 1 Hal 89-90
[2] Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba'ah Jilid 1 Hal 60-61

Rabu, 11 Mei 2022

Perbedaan Wajib, Fardhu, Rukun, Syarat - Madzhab Syafi'i, Hanbali, Maliki, Hanafi

Perbedaan wajib, fardhu, rukun & syarat menurut ahli fiqih madzhab Imam Syafi'i dan ahli fiqih perbandingan madzhab 4 (Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hanbali)
  • Perbedaan Wajib dan Fardhu
  • Perbedaan Fardhu dan Rukun
  • Perbedaan Rukun dan Syarat

Perbedaan Wajib & Fardhu

Fardhu dan Wajib merupakan dua nama yang mutarodif, maksudnya adalah dua nama untuk makna yang satu yaitu seperti yang sudah diketahui dari had الْإِيجَاب :
الْفِعْلُ الْمَطْلُوْبُ طَلَبًا جَازِمًا
Pekerjaan yang dituntut dengan tuntutan yang jazim
Khilaf terhadap Imam Abi Hanifah dalam hal menafikannya beliau terhadap tarodufnya fardhu dan wajib, sekira beliau berkata :
هذا الفعل ان ثبت بدليل قطعي كالقرأن فهو الفرض كقراءة القرآن في الصلاة الثابتة بقوله تعالى فاقرأوا ما تيسر من القرآن أو بدليل ظني كخبر الواحد فهو الواجب كقراءة الفاتحة في الصلاة الثابتة بحديث الصحيحين لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب فيأثم بتركها ولا تفسد به الصلاة بخلاف ترك القراءة
Pekerjaan ini jika telah ditetapkan dengan dalil qath'i seperti Al-Qur'an, maka pekerjaan ini adalah al-fardhu. Seperti Qiro'at Al-Qur'an di dalam shalat yang tetap dengan Firman Allah Ta'ala :
فَاقْرَأُوْا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنْ
Atau dengan dalil dzonny seperti hadits yang satu. Maka pekerjaan ini adalah al-wajib, seperti Qiro'at Al-Fatihah di dalam shalat yang tetap dengan Hadits Shahihain :
لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
Maka menjadi berdosa dengan meninggalkannya dan tidak rusak dengannya shalat, berbeda dengan peninggalan terhadap Qiro'at Al-Qur'an.

ولا فرق عندنا بين الواجب والفريضة * وقال أبو حنيفة رحمه الله هي واجبة وليست بفريضة

Tidak ada bedanya di kalangan ulama kita antara wajib dan faridhah * Dan telah berkata Imam Abu Hanifah Rahimahullah : Zakat fithrah hukumnya wajibah dan bukan faridhah.


Sumber : 
Al-Alamah As-Subuki, Al-Mawani Al-Jawami Syarh Al-Jam'ul Al-Jawami Jilid 1 Hal 88-89
Imam Abdul Karim Ar-Rafi'i, Fath Aziz bi Syarh Al-Wajiz Asy-Syarh Al-Kabir Jilid 6 Hal 112

Perbedaan Fardhu & Rukun

Pada bab wudhu Syaikh Salim Al-Hadhromi menggunakan redaksi “fardhu” dan pada bab shalat menggunakan redaksi “rukun” karena tatkala memisah-misahkan perbuatan shalat itu terlarang, maka keberadaan shalat adalah merupakan hakikat yang 1 yang disusun dari juz-juz. Oleh karena itu menjadi sesuai meredaksikan juz-juznya dengan redaksi “arkan/rukun-rukun”. Berbeda dengan wudhu, karena setiap perbuatan dari wudhu seperti membasuh wajah keberadaannya adalah mustaqil binafsihi, dan boleh memisah-misahkan perbuatannya, maka tidak ada ketersusunan di dalamnya.
Sumber : Kasyifah As-Sajaa fi Syarh Safinah An-Najaa Hal 17

Perbedaan Fardhu/Rukun & Syarat

Fardhu secara bahasa maknanya sama dengan “الْقَطْعُ/putus” dan “الْحِزُّ/pilah”. Contoh perkataan anda :
فَرَضْتُ الْحَبْلَ
jika anda telah memutuskan tali, dan
فَرَضْتُ الخَشْبَةَ
jika anda telah memilah kayu dan tidak sempurna pilahannya.
Adapun makna fardhu menurut syara adalah
مَا أُثِيْبَ فَاعِلُهُ وَعُوْقِبَ تَارِكُهُ
Artinya : perkara yang diberi pahala orang yang mengerjakannya dan disiksa orang yang meninggalkannya
Pada tahap selanjutnya kemudian fuqoha mengistilahkan bahwasanya fardhu adalah sama dengan rukun. Maka rukun suatu perkara dan fardhu suatu perkara adalah satu makna.
Fuqoha juga membedakan keduanya dari syarat. Karena bahwasanya fardhu atau rukun adalah sesuatu yang keberadaannya termasuk hakikat perkara, sedangkan syarat adalah sesuatu yang menjadi tertangguhkan kepadanya wujud suatu perkara dan keberadaannya tidaklah termasuk hakikat perkara. Misalnya shalat salah satu fardhu-fardhunya adalah takbirotul ihrom, ruku, sujud, dst. Dan dari yang termasuk syarat-syaratnya adalah telah masuk waktu shalat. Maka jika dia telah mengerjakan shalat sebelum waktunya, sesungguhnya dia telah mendatangkan terhadap hakikat shalat akan tetapi keberadaan shalatnya batal dari perspektif syari’at, karena salah satu syarat untuk shalat adalah masuk waktu.
Sumber : Al-fiqh Ala Madzahib Al-Arba’ah Juz 1 Hal 51

Kesimpulan
Jadi kesimpulannya perbedaan antara fardhu, rukun & syarat adalah :
  • Suatu Fardhu adalah sesuatu yang dijanjikan syara akan diberi pahala pelakunya dan diancam syara akan dihukum dengan siksaan peninggalnya. sama dengan rukun. Fardhu merupakan bagian dari hakikat suatu perkara, sama dengan rukun tapi beda dengan syarat. Fardhu suatu perkara bersifat mustaqil sehingga bisa dikerjakan secara terpisah-pisah dari fardhu-fardhu lainnya, berbeda dengan rukun.
  • Suatu Rukun adalah sesuatu yang dijanjikan syara akan diberi pahala pelakunya dan diancam syara akan dihukum dengan siksaan peninggalnya, sama dengan fardhu. Rukun merupakan bagian dari hakikat suatu perkara, sama dengan fardhu tapi beda dengan syarat. Rukun suatu perkara tidak bersifat mustaqil sehingga tidak bisa dikerjakan secara terpisah-pisah dari rukun-rukun lainnya, berbeda dengan fardhu.
  • Suatu Syarat adalah bukan merupakan bagian dari hakikat suatu perkara, ini berbeda dengan fardhu maupun rukun. Tapi keberadaan suatu perkara tersebut tertangguhkan menunggu keberadaan seluruh syarat, berbeda dengan fardhu maupun rukun. 
Oleh karena itu pada pembahasan tentang tata cara ibadah, syarat selalu konsisten dibahas. Sedangkan fardhu sering bertukar posisi dengan rukun, tapi konsisten ada salah satunya.

Daftar Pustaka
Al-Banani, Syaikh Abdurrohman. Hasyiyah Al-Banani Ala Syarh Al-Mahalli Ala Matni Jam'i Al-Jawami'. Syirkah Nur Asia.
Al-Jawi, Syaikh Nawawi. Kasyifah As-Sajaa fi Syarh Safinah An-Najaa. Al-Haromain.
Al-Jazairi, Syaikh Abdurrohman. Al-fiqh Ala Madzahib Al-Arba’ah. Maktabah Syamilah