Maret 2021 - BAITUSSALAM

YAYASAN BAITUSSALAM SUKAPALA

Selasa, 23 Maret 2021

Cara Menangani Jenazah Terbaru

Bismillah, Fiqih Jenazah - Berikut ini adalah Cara Menangani Jenazah Terbaru Alias Penanganan Pertama Pada Jenazah Yang Masih Hangat Sebelum Dimandikan, Dikafani, Shalat Jenazah dan Dikuburkan :
cara-menangani-jenazah-terbaru

1). Memejamkan matanya.

Jika mayit tersebut meninggal dalam kondisi mata terbuka, maka penanganan pertama adalah memejamkan matanya. sewaktu memejamkan matanya disunatkan membaca : 

بسم الله وعلى ملة رسول الله صلى الله عليه وسلم اللهم اغفر له وارفع درجته في المهديين واخلفه في عقبه الغابرين واغفر لنا وله يا رب العالمين وافسح له في قبره ونور له فيه 

"Bismillaahi wa 'alaa millati rosuulillaahi shollalloohu 'alaihi wasallama. Alloohummaghfir lahu warfa' darojatahu fil mahdiyyiina wakhlufhu fii 'aqibihil ghoobiriina, waghfir lanaa wa lahu yaa Robbal 'aalamiina, wafsah lahu fii qobrihi wa nawwir lahu fiihi" artinya : "dengan menyebut Asma Allah dan pada agama yang dibawa rosulullah shollalloohu 'alaihi wa sallam. ya Allah berikanlah maghfirohmu kepadanya dan berikanlah rahmatmu kepadanya dan angkatlah derajatnya ke dalam golongan orang-orang yang mendapat hidayahmu, dan berikanlah penggantinya pada orang-orang yang ditinggalkan setelah kematiannya, dan berikanlah maghfirohmu kepada kami dan kepadanya wahai Dzat Pengurus semua alam, dan berikanlah keluasan tempat untuknya di dalam quburnya, dan berikanlah cahaya untuknya di dalam quburnya."

2) Mengikat dagunya

Mayit diikat dagunya dengan kain yang agak lebar agar tidak mencederai, kedua ujung pengikat disimpul di atas kepalanya. Ini tujuannya agar mulut mayit tidak menganga.

3) Melunakan sendi-sendinya.

  1. Tulang hastanya ditekuk-tekukan/digerak-gerakan/dilipat/dirapat-rapatkan ke "peupeuteuyan" seperti orang hidup yang sedang olah raga mengangkat-ngangkat barble. Tujuannya agar sendi sikut menjadi lunak (loncer) tidak tegang (kaku/heuras/jagreug) sehingga memudahkan proses pemindahan tangannya pada tahapan memandikan dan mengkafaninya.
  2. Betisnya ditekuk digerak-gerakan/dilipat/dirapat-rapatkan ke pahanya. Tujuannya agar sendi lutut dan pergelangan kaki menjadi lunak (loncer) tidak tegang (kaku/heuras/jagreug) sehingga memudahkan proses pemindahan kakinya pada tahapan memandikan dan mengkafaninya.
  3. Pahanya ditekuk digerak-gerakan/dilipat/dirapat-rapatkan ke perutnya. Tujuannya agar sendi "pengpelangan" menjadi lunak (loncer) tidak tegang (kaku/heuras/jagreug) sehingga memudahkan proses pemindahan pada tahapan memandikan dan mengkafaninya.
  4. Jari-jari tangan digerak-gerak seperti ketika kita mau membateuk jari-jari tersebut. Tidak perlu dibateuk, karena bisa jadi pada kondisi tertentu dibateuk malah mengakibatkan copot. Ini tujuannya agar jari jadi tidak kaku dan "jeugang".
Proses ini hanya dimaksudkan untuk membuatnya mudah digerak-gerakan pada tahap memandikan dan mengkafaninya. Ini penting dilakukan sesegera mungkin setelah peristiwa ruh tidak lagi mengisi jasad, mumpung pada jasad mayit masih ada sisa panas tubuh. Jika tidak dilakukan sesegera mungkin maka jasad mayit kondisinya akan terus kaku sehingga tidak baik dilihat dan tidak mudah digerakan serta dikafani.

Bisa menggunakan minyak urut jika itu diperlukan.

Sebelum proses 1 2 3 ini berakhir sebaiknya mayit tidak ditinggalkan. Karena ini berkaitan dengan suhu tubuhnya yang bisa cepat berubah menjadi dingin.

4). Mengganti pakaiannya.

Apapun pakaian yang dikenakan saat peristiwa kematian, perlu diganti karena pakaian tersebut mempercepat proses pembusukan jasad. Penggantian ini bersifat sementara sebelum dimandikan dan dikafani. Jika akan langsung dimandikan, berarti proses ini (no 4 5 6) tidak perlu dilakukan.

5). Menutupi jasadnya.

Biasanya dengan samping atau sprai bersih. pemilihan samping atau sprai biasanya karena panjang dan lebar keduanya mencukupi ukuran yang dibutuhkan untuk menutupi seluruh jasad (jika mayit bukan mayit yang wafat dalam situasi sedang ihram haji, jika sedang ihram haji maka kepalanya tidak boleh ditutup, karena pelaksanaan ihram tidak batal gara-gara mati)

Kedua ujung atas kain penutup diletakan di bawah kepala mayit (ditindih kepala), sedangkan kedua ujung bawah diletakan di bawah kaki mayit (ditindih kaki) supaya tidak terbuka. Khusus ujung atas kain biasanya dibuat mudah untuk dibuka, untuk memudahkan tamu yang bermaksud melihat wajah mayit untuk yang terakhir kalinya.

6). Menghadapkannya ke arah qiblat.

Ini seperti posisi orang yang tidak mampu shalat berdiri, duduk dan idhtija, dimana diposisikan mustalqo : telentang dengan telapak kaki diarahkan menghadap qiblat dan wajah diarahkan menghadap qiblat dengan cara kepalanya dibuat terangkat sedikit seperti sedang memandang kakinya sendiri.

Posisi ini sebenarnya dianjurkan juga sejak mayit masih sekarat. 

Untuk mempraktekan semua ini secara berurutan (1 2 3 4 5 6) sebaiknya dilakukan oleh kerabat yang paling menyayangi mayit semasa hidupnya, agar lebih apik karena disertai dengan perasaan. 

7). Menunaikan hutangnya

Hal ini tentu lebih baik dilakukan saat ini, jika mungkin. Jika tidak mungkin, maka sebaiknya ahli waris setidaknya menyampaikan permohonan penghalalan atasnama mayit kepada pihak terhutang atau kesanggupan ahli waris bertanggungjawab menunaikan kewajiban mayit jika pihak terhutang tidak membebaskan/menghalalkannya. Tujuan proses ini adalah untuk meringankan beban kewajiban mayit sebelum diqubur. 

Biasanya proses ini disampaikan oleh keluarga mayit pada proses pemakaman.

8). Melaksanakan wasiat mayit

Ini juga penting dilakukan, apalagi wasiatnya terkait pengurusan jenazah barangkali mayit semasa hidupnya pernah berwasiat seperti ini : 

  • "jika saya mati, saya ingin dimandikan putra saya yang ..............."
  • "jika saya mati saya ingin dikafani oleh putra saya yang ..............."
  • "jika saya mati saya ingin dishalatkan oleh ..................."
  • "jika saya mati saya ingin diquburkan di tanah .................."
Atau wasiat lainnya berupa tirkah tertentu, yang harus ditunaikan sebelum pembagian harta warisan.

8). Menyegerakan "pemulasaraan".

"Pemulasaraan" dimaksud adalah : memandikannya, mengkafaninya, shalat jenazah dan menguburkannya (termasuk membawanya ke liang qubur) setelah benar-benar yakin bahwa mayit sudah menjadi mayit.

Sangat penting memastikan kondisi mayit sudah benar-benar menjadi mayit, karena tidak sedikit kasus di berbagai belahan dunia ternyata setelah beberapa saat masih dalam proses pemulasaraan mayit diketahui masih hidup alias mati suri. Tapi alhamdulillah di zaman teknologi seperti ini, sudah banyak peralatan medis yang bisa membantu memastikannya.

Wallaahu A'lam bish-shawab

Daftar Pustaka

Syekh Nawawi al-Bantani. Nihayah al-Zain Hal 148 & Kasyifah al Saja Hal 94-95

Syekh Abdul Wahab al-Sya'rani, Mukhtashar Tadzkirah al-Qurtuby Hal 11-12

Al-Habib Abdullah bin Husein bin Thahir, Is'ad al-Rafiiq Juz 1 Hal 105

Syekh Ibrohim Al-Baijuri, Hasyiyah Al-Bajuri Juz 1 Hal 243

Syaikhul Islam Abi Yahya Zakariya Al-Anshari, Fathul Wahab Juz 1 Hal 89-90

Syekh Jalaludin Al-Mahalli, Syarh Jalaluddin Al Mahalli ala Minhaj Al-Thalibin, Hasyiyatani Al-Qalyubi - Umairah Juz 1 Hal 321

Imam Qalyubi, Hasyiyah Qalyubi/Hasyiyatani Al-Qalyubi - Umairah Juz 1 Hal 321

Senin, 22 Maret 2021

Harta Yang Wajib Dizakati

Harta Yang Wajib Dizakati Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 101 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
اَلْأَمْوَالُ الَّتِي تَلْزَمُ فِيْهَا الزَّكَاةُ سِتَّةُ أَنْوَاعٍ النَّعَمُ وَالنَّقْدَانِ وَالْمُعَشَّرَاتِ وَأَموَالِ التِّجَارَةِ وَاجِبُهَا رُبْعُ عُشُرِ قِيْمَةِ عُرُوْضِ التِّجَارَةِ وَالرِّكَازِ وَالْمَعْدنِ
Fashl - Harta Yang Wajib Padanya Zakat (Dikeluarkan Zakatnya) Ada 6 :
  1. Binatang ternak
  2. Emas- perak
  3. Biji-bijian dan Buah-buahan
  4. Harta Perniagaan
  5. Harta Temuan Peninggalan Zaman Dahulu
  6. Harta Pertambangan

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 101
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Minggu, 21 Maret 2021

Kewajiban Menggali Lagi Mayit Dari Dalam Kubur

Kewajiban Menggali Lagi Mayit Dari Dalam Kubur Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 100 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
يُنْبَشُ الْمَيِّتُ لِأَرْبَعِ خِصَالٍ
لِلْغُسْلِ إِذَا لَمْ يَتَغَيَّرْ وَلِتَوْجِيْهِهِ إِلَى الْقِبْلَةِ وَلِلْمَالِ إِذَا دُفِنَ مَعَهُ وَلِلْمَرْأَةِ إِذَا دُفِنَ جَنِيْنُهَا مَعَهَا وَأَمْكنَتْ حَيَاتُهُ
Wajib Menggali Lagi Mayit Dari Dalam Kubur Dikarenakan 4 Hal : 
  1. Karena akan dimandikan, jika jasad mayit belum berubah.
  2. Karena akan dihadapkan ke arah qiblat.
  3. Karena ada harta yang dikubur bersama mayit.
  4. Karena mayit perempuan yang dikubur, beserta janinnya. Serta dimungkinkan janinnya masih hidup.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 100
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Sabtu, 20 Maret 2021

Cara Mengubur Mayit

Cara Mengubur Mayit Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 99 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
أَقَلُّ الْدَّفْنِ حُفْرَةٌ تَكْتُمُ رَائِحَتَهُ وَتُحْرِسُهُ مِنَ السِّبَاعِ وَأَكْمَلُهُ قَامَةٌ وَبَسْطَةٌ وَيُوْضَعُ خَدُّهُ علَى التُّرَابِ وَيَجِبُ تَوْجِيْهُهُ إِلَى الْقِبْلَةِ
Minimal Cara Mengubur Mayit adalah dengan satu galian yang bisa menyembunyikan baunya mayit dan bisa menjaganya dari binatang buas.
Adapun sempurnanya Mengubur Mayit adalah sedalam ukuran tubuh manusia normal dan acungan tangannya keatas. Dan wajib pipi mayit diletakan di atas tanah dan badannya dihadapkan ke qiblat.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 99
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Jumat, 19 Maret 2021

Rukun Shalat Jenazah

Rukun Shalat Jenazah Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 97 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
أَرْكَانُ صَلَاةِ الْجَنَازَةِ سَبْعَةٌ
اَلْأَوَّلُ النِّيَةُ اَلثَّانِي أَرْبَعُ تَكْبِيرَاتٍ اَلثَّالِثُ الْقِيَامُ عَلَى الْقَادِرِ اَلرَّابِعُ قِرَاءَةُ الْفَاتِحَةِ اَلْخَامِسُ الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الثَّانِيَةِ اَلسَّادِسُ الدُعَاءُ لِلْمَيِّتِ بَعْدَ الثَّالِثَةِ اَلسَّابِعُ السَّلَامُ
Fashl - Rukun Shalat Jenazah ada 7 :
  1. Niat
  2. Takbir 4 kali.
  3. Berdiri bagi yang mampu
  4. Membaca fatihah.
  5. Membaca sholawat kepada Nabi setelah takbir ke 2
  6. Berdoa untuk mayit setelah takbir ke 3
  7. Membaca salam setelah takbir ke 4

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 97
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Kamis, 18 Maret 2021

Cara Mengkafani Mayit

Cara Mengkafani Mayit Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 96 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
أَقَلُّ الْكَفْنِ ثَوْبٌ وَأَكْمَلُهُ لِلرَّجُلِ ثَلَاثُ لَفَائِفَ وَلِلْمَرْأَةِ قَمِيْصٌ وَخُمَارٌ وَإِزَارٌ وَلَفَائِفَتَانِ
Fashl - Minimalnya cara mengkafani mayit adalah membungkusnya dengan pakaian yang bisa menutupi seluruh badannya mayit. 
Adapun sempurnanya bagi mayit laki-laki adalah 3 lapisan yang tidak terputus, dan bagi mayit perempuan adalah baju kurung ditambah 2 lapisan yang tidak terputus.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 96
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Rabu, 17 Maret 2021

Cara Memandikan Mayit

Cara Memandikan Mayit Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 95 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
أَقَلُّ الْغُسْلِ تَعْمِيْمُ بَدَنِهِ بِالْمَاءِ وَأَكْمَلُهُ أَنْ يُغْسِلَ سَوْأَتَيْهِ وَأَنْ يُزِيْلَ الْقَدْرَ مِنْ أَنْفِهِ وَأَنْ يُوَضِّئَهُ وَأَنْ يُدْلِكَ بَدَنَهُ بِالسِّدْرِ وَأَنْ يُصَبَّ المَاءُ عَلَيْهِ ثَلَاثًا
Minimalnya cara memandikan mayit adalah meratakan seluruh badannya dengan air. Sedangkan sempurnanya adalah : 
  1. Membasuh qubul dan duburnya.
  2. Membuang kotoran dari hidungnya.
  3. Mewudhukannya.
  4. Menggosok badannya dengan sidr.
  5. Menyiraminya dengan air sebanyak 3 kali.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 95
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Selasa, 16 Maret 2021

Yang Wajib Dilakukan Terhadap Mayit

Yang Wajib Dilakukan Terhadap Mayit Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 93 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
اَلَّذِي يَلْزَمُ لِلْمَيِّتِ أَرْبَعُ خِصَالٍ
غُسْلُهُ وَتَكْفِيْنُهُ وَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ وَدَفْنُهُ
Fashl - Perkara Yang Wajib Dilakukan Orang Yang Masih Hidup Terhadap Mayit Ada 4
  1. Memandikannya.
  2. Mengkafaninya.
  3. Menshalatkannya.
  4. Menguburkannya.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 93
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Senin, 15 Maret 2021

Syarat Sah Khutbah Jum'at

Syarat Sah Khutbah Jum'at Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 91 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
شُرُوْطُ الْخُطْبَتَيْنِ عَشَرَةٌ
اَلطَّهَارَةُ عَنِ الْحَدَثَيْنِ الْأَصْغَرِ وَالْأَكْبَرِ والطَّهَارَةُ عَنِ النَجَاسَةِ فِي الثَّوْبِ وَالْبَدَنِ وَالْمَكَانِ وَسَتْرُ العَوْرَةِ وَالْقِيَامُ عَلَى الْقَادِرِ وَالْجُلُوْسُ بَيْنَهُمَا فَوْقَ طُمَأْنِيْنَةِ الصَّلَاةِ وَالْمُوَالَاةُ بَيْنَهُمَا وَالْمُوَالَاةُ بَيْنَهُمَا وَبَيْنَ الصَّلَاةِ وَأَنْ تَكُوْنَا بِالْعَرَبِيَّةِ وَأَنْ يُسْمِعَهُمَا أَرْبَعِيْنَ وَأَنْ تَكُوْنَ كُلُّهَا فِي وَقْتِ الظُّهْرِ

Fashl - Syarat Sah Khutbah Jum’at (Khutbatain) ada 10 : 
  1. Suci dari 2 hadats, yaitu hadats kecil dan hadats besar.
  2. Suci dari najis pada pakaiannya, badannya dan tempat khutbahnya.
  3. Menutup aurat.
  4. Berdiri bagi yang mampu.
  5. Duduk antara khutbah kesatu dan khutbah kedua seukuran waktu thumaninah dalam shalat.
  6. Muwalah antara khutbah kesatu dan khutbah kedua
  7. Muwalah antara khutbah jum'at (khutbatain) dan shalat jum’at.
  8. Khutbah jum’at (khutbatain) harus menggunakan bahasa arab.
  9. Memperdengarkan khutbah jum’at (khutbatain) kepada ahli jum’at yang 40 orang
  10. Seluruh rangkaian khutbah jum’at (khutbatain) harus dilaksanakan pada waktu dzuhur.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 91
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Minggu, 14 Maret 2021

Rukun Khutbah Jum'at

Rukun Khutbah Jum'at Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 90 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ 
أَرْكَانُ الْخُطْبَتَيْنِ خَمْسَةٌ
حَمْدُ اللهِ فِيْهِمَا وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْهِمَا وَالْوَصِيَّةُ بِالتَّقْوَى فِيْهِمَا وَقِرَاءَةُ أٰيَةٍ مِنَ الْقُرْأٰنِ فِي إِحْدَهُمَا وَالدُّعَاءُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فِي الْأٰخِرَةِ
Fashl - Rukun Khutbah Jum’at (Khutbatain) ada 5 :
  1. Membaca Hamdalah pada khutbah kesatu dan khutbah kedua
  2. Membaca Sholawat Kepada Nabi pada khutbah kesatu dan khutbah kedua
  3. Menyampaikan Wasiat Taqwa pada khutbah kesatu dan khutbah kedua
  4. Membaca Ayat Al-Quran pada salah satu khutbah jum'at (khutbatain)
  5. Membaca Doa untuk muslimin muslimat pada khutbah kedua

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 90
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Sabtu, 13 Maret 2021

Hukum Minta Tolong Dalam Bersuci

Hukum Minta Tolong Dalam Bersuci Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 100 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
الْإِسْتِعَانَاتُ أَرْبَعُ خِصَالٍ
مُبَاحَةٌ وَخِلَافُ الْأَوْلى وَمَكْرُوْهَةٌ وَوَاجِبَةٌ فَالْمُبَاحَةُ هِيَ تَقْرِيْبُ الْمَاء وَخِلَافُ الْأَوْلَى هِيَ صُبُّ الْمَاءِ عَلَى نَحْوِ الْمُتَوَضِّءِ وَالمَكْرُوهَةُ هِيَ لِمَنْ يَغْسِلُ أَعْضَاءَهُ وَالوَاجِبَةُ هِيَ لِلْمَرِيْضِ عِنْدَ العَجْزِ
Fashl - Hukum Minta Tolong Dalam Bersuci ada 4 : 
  1. Mubah, yaitu : minta tolong mendekatkan air.
  2. Khilaful aula, yaitu : minta tolong menuangkan air kepada seumpama orang yang berwudhu.
  3. Makruh, yaitu : minta tolong menuangkan air bagi orang yang membasuh anggota-anggota wudhunya.
  4. Wajib, yaitu : minta tolong menuangkan air bagi orang yang sakit ketika ia tidak mampu untuk melakukannya sendiri.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 100
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Jumat, 12 Maret 2021

Syarat Sah Shalat Jum'at

Syarat Sah Shalat Jum'at Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 88 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
شُرُوْطُ الْجُمْعَةِ سِتَّةٌ
أَنْ تَكُوْنَ كُلُّهَا فِي وَقْتِ الظُّهْرِ وَأَنْ تُقَامَ فِي خِطَّةِ الْبَلَدِ وَأَنْ تُصَلِّيَ جَمَاعَةً وَأَنْ يَكُوْنُوْا أَرْبَعِيْنَ أَحْرَارًا ذُكُوْرًا بَالِغِيْنَ مُسْتَوْطِنِيْنَ وَأَنْ لَا تَسْبِقَهَا وَلَا تُقَارِنَهَا جُمْعَةٌ فِي تِلْكَ الْبَلَدِ وَأَنْ يَتَقَدَّمَهَا خُطْبَتَانِ
Fashl - Syarat Sah Shalat Jum’at ada 6 :
  1. Seluruh rangkaian shalat jum’at harus didirikan pada waktu dzuhur.
  2. Shalat jum’at harus didirikan di tengah pemukiman.
  3. Shalat jum’at harus didirikan secara berjama’ah.
  4. Ahli jum’at harus terdiri dari 40 laki-laki merdeka, baligh dan berdomisili di pemukiman tersebut.
  5. Shalat jum’at tidak boleh didahului pelaksanaannya atau berbarengan dengan shalat jum’at lain yang juga didirikan di pemukiman tersebut.
  6. Shalat jum’at harus didahului dengan khutbatain (khutbah jum’at)

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 88
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Kamis, 11 Maret 2021

Syarat Sah Shalat Qashar

Syarat Sah Shalat Qashar Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 85 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
شُرُوْطُ الْقَصْرِ سَبْعَةٌ أَنْ يَكُوْنَ سَفَرُهُ مَرْحَلَتَيْنِ وَأَنْ يَكُوْنَ مُبَاحًا
وَالْعِلْمُ بِجَوَازِ الْقَصْرِ وَنِيَةُ الْقْصْرِ عِنْدَ الْإِحْرَامِ وَأَنْ تَكُوْنَ الصَّلَاةُ رُبَاعِيَّةً وَدَوَامُ السَّفَرِ إِلىَ تَمَامِهَا وَأَنْ لَا يَقْتَدِي بِمُتِمٍّ فِي جُزْءٍ مِنْ صَلَاتِهِ
Fashl - Syarat Sah Shalat Qashar ada 7 :
  1. Jarak Tempuh Perjalanannya harus mencapai 2 marhalah.
  2. Perjalanannya harus perjalanan yang diperbolehkan syara’.
  3. Harus memiliki ilmu tentang diperbolehkannya shalat qashar.
  4. Harus berniat qashar ketika takbiratul ihram.
  5. Shalat yang diqasharnya harus shalat yang 4 rakaat.
  6. Harus masih tetap udzur perjalanannya sampai sempurna mendirikan shalatnya.
  7. Tidak boleh bermakmum mengikuti imam yang shalatnya sempurna pada salah satu rangkaian shalatnya.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 85
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Rabu, 10 Maret 2021

Syarat Sah Shalat Jama Ta'khir

Syarat Sah Shalat Jama Ta'khir Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 85 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ 
شُرُوْطُ جَمْعِ التَّأْخِيْرِ إِثْنَانِ
نِيَةُ التَّأْخِيْرِ وَقَدْ بَقِيَ مِنْ وَقْتِ الْأُوْلَى مَايَسَعُهَا وَدَوَامُ الْعُذْرِ إِلَى تَمَامِ الثَانِيَةِ
Fashl - Syarat Sah Shalat Jama Ta’khir ada 2 : 
  1. Harus berniat menjama ta’khir pada waktu shalat yang kesatu selagi masih ada waktu untuk mendirikan shalat pada waktu itu.
  2. Harus masih tetap udzurnya sampai sempurna mendirikan shalat yang kedua.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 85
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Selasa, 09 Maret 2021

Syarat Sah Shalat Jama Taqdim

Syarat Sah Shalat Jama Taqdim Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 85 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
شُرُوْطُ جَمْعِ التَّقْدِيْمِ أَرْبَعَةٌ
اَلْبَدَاءَةُ بِالْأُوْلَى وَنِيَةُ الْجَمْعِ فِيْهَا وَالْمُوَالَاةُ بَيْنَهُمَا وَدَوَامُ الْعُذْرِ
Fashl - Syarat Sah Shalat Jama Taqdim ada 4 :
  1. Harus dimulai dengan shalat yang kesatu
  2. Harus berniat jama taqdim pada shalat yang kesatu
  3. Harus muwalah antara shalat yang kesatu dan shalat yang kedua
  4. Harus masih tetap udzurnya sampai takbiratul ihram shalat yang kedua

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 85
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Senin, 08 Maret 2021

Gambaran Bermakmum

Gambaran Bermakmum Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 84 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
صُوْرَةُ الْقُدْوَةِ تِسْعٌ
تَصِحُّ فِي خَمْسٍ قُدْوَةُ رَجُلٍ بِرَجُلٍ وَقُدْوَةُ امْرَأَةٍ بِرَجُلٍ وَقُدْوَةُ خُنْثَى بِرَجُلٍ وَقُدْوَةُ امْرَأَةٍ بِخُنْثَى وَقُدْوَةُ امْرَأَةٍ بِامْرَأَةٍ
وَتَبْطُلُ فِي أَرْبَعٍ قُدْوَةُ رَجُلٍ بِامْرَأَةٍ وَقُدْوَةُ رَجُلٍ بِخُنْثَى وَقُدْوَةُ خُنْثَى بِامْرَأَةٍ وَقُدْوَةُ خُنْثَى بِخُنْثَى
Fashl - Gambaran Bermakmum Mengikuti Imam Ada 9 :
Sah Pada 5 Gambaran, yaitu :
  1. Laki-laki bermakmum mengikuti imam laki-laki.
  2. Perempuan bermakmum mengikuti imam laki-laki.
  3. Khuntsa bermakmum mengikuti imam laki-laki
  4. Perempuan bermakmum mengikuti imam khuntsa
  5. Perempuan bermakmum mengikuti imam perempuan
Batal Pada 4 Gambaran, yaitu : 
  1. Laki-laki bermakmum mengikuti imam perempuan
  2. Laki-laki bermakmum mengikuti imam khuntsa
  3. Khuntsa bermakmum mengikuti imam perempuan
  4. Khuntsa bermakmum mengikuti imam khuntsa

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 84
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Minggu, 07 Maret 2021

Syarat Sah Bermakmum Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Syarat Sah Bermakmum Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

1). Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami, Safinah al-Najā Hal 79 :

فَصْلٌ
شُرُوْطُ الْقُدْوَةِ أَحَدَ عَشَرَ
أَنْ لَا يَعْلَمَ بُطْلَانَ صَلَاةِ إِمَامِهِ بِحَدَثٍ أَوْ غَيْرِهِ وَأَنْ لَا يَعْتَقِدَ وُجُوْبَ قَضَائِهَا عَلَيْهِ وَأَنْ لَا يَكُوْنَ مَأْمُوْمَا وَلَا أُمِّيًا وَأَنْ لَا يَتَقَدَّمَ عَلَيْهِ فِي الْمَوْقِفِ وَأَن يَعْلَمَ إِنْتِقَالَاتِ إِمَامِهِ وَأَنْ يَجْتَمِعَا فِي مَسْجِدٍ أَوْ فِي ثَلَاثِمِائَةِ ذِرَاعٍ تَقْرِيْبًا وَأَنْ يَنْوِيَ الْقُدْوَةَ أَوْ الْجَمَاعَةَ وَأَنْ يَتَوَافَقَ نَظْمُ صَلَاتِهِمَا وَأَنْ لَا يُخَالِفَهُ فِي سُنَّةٍ فَاحِشَةِ الْمُخَالَفَةِ وَأَنْ يُتَابِعَهُ
Fasal - Syarat Sah Bermakmum Mengikuti Imam Ada 11 :
  1. Makmum tidak boleh mengetahui status batal shalat imamnya, baik dengan sebab hadats ataupun sebab yang lainnya.
  2. Makmum tidak boleh beri’tiqad bahwa imamnya wajib mengqadha shalat tersebut.
  3. Imamnya tidak boleh bermakmum mengikuti imam yang lain.
  4. Imamnya tidak boleh ummi.
  5. Posisi makmum tidak boleh lebih depan dari posisi imamnya.
  6. Makmum harus mengetahui perpindahan pergerakan shalat imamnya.
  7. Imam dan makmum harus berkumpul di satu mesjid atau satu lingkungan seluas kurang lebih 300 hasta.
  8. Makmum harus berniat qudwah atau niat berjama’ah.
  9. Imam dan makmum harus muwafaqah rangkaian shalatnya.
  10. Makmum tidak boleh mukhalafah dari imamnya pada sesuatu sunat shalat yang buruk mukhalafahnya.
  11. Makmum harus mengikuti imamnya.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 79
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Sabtu, 06 Maret 2021

Shalat Yang Wajib Niat Jadi Imam

Shalat Yang Wajib Niat Jadi Imam Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 77 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
اَلَّذِي يَلْزَمُ فِيْهِ نِيَةُ الْإِمَامَةِ أَرْبَعٌ
اَلْجُمْعَةُ وَالْمُعَادَةُ وَالْمَنْذُوْرَةُ جَمَاعَةً وَالْمُتَقَدَّمَةُ فِي الْمَطَرِ
Fashl - Shalat Yang Wajib Niat Jadi Imam Atau Niat Jama’ah Bagi Seorang Imam ada 4 :
  1. Shalat jum’at. 
  2. Shalat mu’adah (mengulang) berjamaah.
  3. Shalat nadzar berjamaah.
  4. Shalat jama’ taqdim berjama’ah sebab hujan

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 77
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Jumat, 05 Maret 2021

Hal-Hal Yang Membatalkan Shalat

Hal-Hal Yang Membatalkan Shalat Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 69 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
تَبْطُلُ الصَّلَاةُ بِأَرْبَعَ عَشَرَةَ خِصْلَةً
بِالْحَدَثِ وَبِوُقُوْعِ النَّجَاسَةِ إِنْ لَمْ تُلْقَ حَالًا مِنْ غَيْرِ حَمْلٍ وَانْكِشَافُ الْعَوْرَةِ إِنْ لَمْ تُسْتَرْ حَلًا وَالنُّطْقُ بِحَرْفَيْنِ أَوْ بِحَرْفٍ مُفْهِمٍ عَمْدًا وَبِالْمُفْطِرِ عَمْدًا وَالْأَكْلِ الْكَثِيْرِ نَاسِيًا وَثَلَاثِ حَرَكَاتٍ مُتَوَالِيَاتٍ وَلَوْ سَهْوًا وَالْوَثْبَةِ الْفَاحِشَةِ وَالضَّرْبَةِ الْمُفْرِطَةِ وَزِيَادَةِ رُكْنٍ فَعْلِيٍّ عَمْدًا وَالتَّقَدُّمِ عَلَى إِمَامِهِ بِرُكنَيْنِ فَعْلِيَيْنِ وَالتَّخَلُّفِ بِهِمَا بِغَيْرِ عُذْرٍ وَنِيَةِ قَطْعِ الصَّلَاةِ وَتَعْلِيْقِ قَطْعِهَا بِشَيْءٍ وَالتَّرَدُّدِ فِي قَطْعِهَا
Fashl - Batal Shalat Disebabkan 14 Hal :
  1. Hadats.
  2. Terkena najis jika tidak dibuang seketika itu juga tanpa dibawa. 
  3. Terbuka aurat jika tidak ditutup seketika itu juga.
  4. Mengeluarkan kata-kata selain bacaan shalat baik 2 huruf maupun 1 huruf yang artinya bisa dipahami, secara disengaja.
  5. Melakukan sesuatu yang dapat membatalkan puasa, secara disengaja.
  6. Makan yang banyak sekalipun dilakukan dalam keadaan lupa.
  7. Tiga kali bergerak secara berturut-turut sekalipun dilakukan dalam keadaan lupa.
  8. Melompat yang keras
  9. Memukul yang keras
  10. Menambah rukun fa’ly, secara disengaja.
  11. Mendahulukan diri atau mengakhirkan diri dari imam dengan dua rukun fa’ly, dalam kondisi tidak ada udzur sama sekali.
  12. Berniat membatalkan shalat.
  13. Menggantungkan niat membatalkan shalat karena sesuatu hal.
  14. Ragu-ragu untuk membatalkan shalat.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 69
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Proposal ID Masjid

Mesjid-Baitussalam-Terdaftar-di-Simas-Kemenag

Berikut ini adalah contoh proposal permohonan penerbitan surat keterangan ID masjid :

gambar-proposal-id-masjid
Kelengkapan Proposal Permohonan Penerbitan Surat Keterangan ID Masjid :

  1. Cover : Logo ikhlas beramal, judul proposal, DKM pengaju proposal, alamat.
  2. Surat permohonan : nomor surat, perihal, ditujukan kepada kepala kementerian agama tingkat kota/kabupaten, kalimat permohonan, ditandatangani ketua dan sekretaris DKM, disetujui oleh : ketua RT, ketua RW, ketua DMI kelurahan, ketua MUI kelurahan, ketua DMI kecamatan, ketua MUI kecamatan, lurah, camat dan kepala KUA
  3. Proposal : pendahuluan, landasan hukum, kedudukan dan f.ungsi masjid, pengembangan pengelolaan masjid, penutup. Ditandatangani ketua dan sekretaris.
  4. Lampiran : Surat keterangan domisili lembaga, surat keputusan DMI kelurahan tentang pengesahan pengurus DKM, susunan pengurus masjid, profil DKM, rekomendasi dari KUA, photocopy pengurus DKM, instrumen masjid.
Jika anda membutuhkan filenya, download saja.


Kamis, 04 Maret 2021

Proposal Statistik Majelis Ta'lim

Berikut ini adalah contoh proposal permohonan penerbitan nomor statistik majelis ta'lim :

contoh-proposal-permohonan-penerbitan-nomor-statistik-majelis-talim
Kelengkapan Proposal Permohonan Penerbitan Nomor Statistik Majelis Ta'lim :
  1. Cover : Setidaknya memuat judul proposal, lembaga pengaju dan alamat lembaga.
  2. Surat Permohonan : nomor surat, perihal, ditujukan kepada kementerian agama tingkat kota/kabupaten melalui kasi bimas islam kementerian agama, kalimat yang menyatakan permohonan penerbitan statistik majelis ta'lim, ditandatangani oleh ketua dan sekretaris pengurus majelis ta'lim, disetujui oleh ketua yayasan/DKM (tergantung yang menaungi/penyelenggara kegiatan) dan ketua RW setempat, lembar pengesahan ditandatangani oleh : ketua MUI tingkat kelurahan dan kecamatan, ketua KUA dan penyuluh agama islam fungsional KUA, Lurah dan Camat.
  3. Proposal : pendahuluan, landasan hukum, kedudukan dan fungsi majelis ta'lim, waktu penyelenggaraan, kurikulum, pengembangan, keadaan jamaah, pendidik, lembaga pengelola, analisis keberadaan, penutup, ditandatangani oleh ketua dan sekretaris majelis ta'lim serta disetujui oleh ketua yayasan penyelenggara atau DKM.
  4. Lampiran : kurikulum, profil lembaga majelis ta'lim, surat keputusan pendirian majelis ta'lim dari yayasan penyelenggara atau DKM, susunan pengurus majelis ta'lim, daftar pengajar, photocopy ktp pengurus majelis ta'lim, photocopy akta notaris yayasan dan sk kemenkumham (jika di bawah naungan yayasan), surat keterangan domisili dari pemerintah kelurahan, surat rekomendasi dari KUA
Jika anda ingin mendownload file formatnya, klik download.


Sunat Ab'ad Shalat

Sunat Ab'ad Shalat Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 68 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
أَبْعَاضُ الصَّلَاةِ سَبْعَةٌ
اَلتَّشَهُّدُ الْأَوَّلُ وَقُعُوْدُهُ وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْهِ وَالصَّلَاةُ عَلَى الْأٰلِ فِي التَّشَهُّدِ الْأٰخِرِ وَالْقُنُوْتُ وَقِيَامُهُ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأٰلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْهِ
Sunat Ab’ad Shalat Ada 7 : 
  1. Tasyahud awal.
  2. Duduk pada saat tasyahud awal.
  3. Membaca Shalawat atas Nabi pada saat duduk tasyahud awal.
  4. Membaca Shalawat atas Keluarga Nabi pada saat duduk tasyahud akhir
  5. Qunut shubuh
  6. Berdiri pada saat qunut shubuh
  7. Membaca Shalawat dan Salam atas Nabi, Keluarga dan Sahabatnya pada qunut shubuh.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 68
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Rabu, 03 Maret 2021

Sebab Sunat Wujud Syahwi

Sebab Sunat Sujud Syahwi Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 67 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
أَسْبَابُ سُجُوْدِ السَّهوِ أَرْبَعَةٌ
اَلْأَوَّلُ تَرْكُ بَعْضٍ مِنْ أَبْعَاضِ الصَّلَاةِ اَلثَّانِيْ فِعْلُ مَا يُبْطِلُ عَمْدُهُ وَلَا يُبْطِلُ سَهْوُهُ إِذَا فَعَلَهُ نَاسِيًا اَلثَّالِثُ نَقْلُ رُكْنٍ قَوْلِيٍّ إِلَى غَيْرِ مَحَلِهِ اَلرّابِعُ إِيْقَاعُ رُكْنِ فَعْلِيٍّ مَعَ احْتِمَالِ الزِّيَادَةِ
Fashl - Sebab Disunatkan Sujud Sahwi Ada 4 :
  1. Sebab lupa meninggalkan salah satu sunat ab’ad shalat, atau meninggalkan sebagian dari salah satu sunat ab’ad shalat.
  2. Sebab lupa mengerjakan satu hal yang jika hal tersebut dilakukan dengan sengaja maka dapat membatalkan shalat dan jika hal tersebut dilakukan sebab lupa maka tidak membatalkannya.
  3. Sebab lupa memindahkan salah satu rukun qouly bukan pada tempatnya.
  4. Sebab lupa mengerjakan salah satu rukun fa’ly, serta ihtimal berlebih. 

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 67
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Selasa, 02 Maret 2021

Rukun Shalat Yang Wajib Thumaninah

Rukun Shalat Yang Wajib Thumaninah Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 66 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
اَلْأَرْكَانُ الَّتِي تَلْزَمُ فِيْهَا الطُّمَأْنِينَةُ أَرْبَعَةٌ
اَلرُّكُوْعُ وَالْإِعْتِدَالُ وَالسُّجُوْدُ وَالْجُلُوْسُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ اَلطُّمَأْنِيْنَةُ هِيَ سُكُونٌ بَعْدَ حَرَكَةٍ بِحَيْثُ يَسْتَقِرُّ كُلُّ عُدْوٍ مَحَلَهُ بِقَدْرِ سُبْحَانَ اللهِ
Fashl - Rukun Shalat Yang Wajib Padanya Thumaninah Ada 4 :
  1. Ruku’.
  2. I’tidal.
  3. Sujud.
  4. Duduk antara Dua Sujud. 

Tumaninah adalah diam dengan tenang setelah bergerak, sehingga tetap seluruh anggota badan pada tempatnya, yang lamanya seukuran membaca “subhanallah”

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 66
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.

Senin, 01 Maret 2021

Saktah Bacaan Shalat

Saktah Bacaan Shalat Menurut Ulama Fiqh Madzhab Imam Syafi‛i

Tinjauan Pustaka

1). Kitab Safinah al-Najā Hal 64 (Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami) & Kitab Kasyifah al-Sajā (Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani)

فَصْلٌ
سَكْتَاتُ الصَّلَاةِ سِتَّةٌ
بَيْنَ تَكْبِيْرَةِ الإِحْرَامِ وَدُعَاءِ الإِفْتِتَاحِ وَبَيْنَ دُعَاءِ الإِفْتِتَاح وَالتَّعَوُّذِ وَبَيْنَ الْفَاتِحَةِ وَالتَّعَوُّذِ
وَبَيْنَ أٰخِرِ الْفَاتِحَةِ وَأٰمِيْنَ وَبَيْنَ أٰمِيْنَ وَالسُّوْرَةِ وَبَيْنَ السُّوْرَةِ وَالرُّكُوْعِ
Fashl - Saktah Bacaan Shalat Ada 6 :
  1. antara Takbirotul Ihrom dan Do’a Iftitah.
  2. antara Do’a Iftitah dan Ta’ud
  3. antara Ta’udz dan Fatihah.
  4. antara Akhir Fatihah dan Amin.
  5. antara Amin dan Surat.
  6. antara Surat dan Ruku’.

Daftar Pustaka

al-Hadhrami, Syekh Salim bin Samir. Safinah al-Najā Hal 64
al-Bantani, Syaikh Muhammad Nawawi. Kasyifah al-Sajā.